Thursday, 5 September 2013

SYRIA TEMBAK JATUH F-22 DAN TOMAHAWK AMERIKA

Sebuah pesawat F-22 Raptor Amerika yang dianggap sebagai pesawat tempur paling canggih Amerika, dikabarkan jatuh di Utara Yordania karena tembakan sistem pertahanan udara Syria. Jika laporan ini benar maka hal itu mengkonfirmasi keberadaan sistem pertahanan udara S-300 buatan Rusia, atau bahkan yang lebih canggih lagi yaitu S-400, di Syria.

Menurut koran Oklahoman Post, mengutip sumber militer Amerika yang tidak disebutkan namanya, pesawat tersebut jatuh di Utara Yordania di dekat perbatasan Syria.

Analis militer John Blu Reed mengatakan kepada koran tersebut bahwa kemungkinan besar pesawat tersebut ditembak oleh rudal-rudal S-300 atau S-400 buatan Rusia. Meski secara resmi Rusia tidak pernah mengumumkan pengiriman rudal-rudal tersebut namun para analis telah lama memperkirakan keberadaan rudal-rudal tersebut, terutama setelah terjadinya konflik di Syria. Presiden Syria Bashar al Assad sendiri pada Mei lalu mengatakan bahwa Syria telah memiliki rudal-rudal S-300 yang sampai saat ini dianggap sebagai sistem pertahanan udara paling canggih di dunia.

Di sisi lain juga dikabarkan oleh Los Angeles Times bahwa Syria telah menembak jatuh 4 rudal jelajah Tomhawk Amerika dengan menggunakan sistem pertahan udara Bentsr 1. Rudal-rudal tersebut ditembakkan untuk menguji keampuhan pertahanan udara Syria.

IRAN: BENCANA MENUNGGU AGRESOR SYRIA

Belum pernah demonstrasi kesiapan Iran menghadapi konflik bersenjata di Syria disampaikan sejelas ini. Komandan Pasukan Pengawal Revolusi Hossein Salami berdiri di atas podium yang disetting seperti tempat perlindungan di medan perang yang dibuat dari tumpukan karung pasir. Selanjutnya ia pun berpidato dengan suara tegas,

"Kita berada di ambang pintu titik balik strategis yang terkait dengan masa depan kawasan ini dan lebih umum lagi masa depan dunia Islam. Apa yang kita saksikan saat ini adalah hasil dari kekalahan berulangkali yang telah dialami Amerika dan sekutu-sekutunya di kawasan ini .... selama lebih dari 3 dekade. Kekalahan-kekalahan itu membuat Amerika untuk mencoba memasuki pusat dari perlawanan Islam, yaitu Syria," kata Jendral Salami dengan suara bergetar dalam pidatonya yang disampaikan hari Selasa (3/9).

Salami menegaskan bahwa perang di Syria akan menjadi "permainan yang sangat berbahaya" dan meyakinkan bahwa tidak akan ada solusi militer dalam konflik Syria dan Isreal harus mempertimbangkan kembali strategi keamanannya.

Menggambarkan Timur Tengah sebagai "dunianya domino politik", Salami mengatakan, "jika adi daya dunia (Amerika) berbicara tentang konsep perang terbatas, maka itu adalah kesalahan sejarah yang terbesar."

Salami menyebutkan bahwa saat untuk melakukan "coba-coba" telah berakhir bagi Amerika, menambahkan bahwa melancarkan serangan terhadap Syria akan menjerumuskan Amerika ke dalam "jebakan waktu dan tempat".

"Siapa yang bisa menjamin bahwa jika mereka campur tangan di Syria sebagai bagian dari rencana strategis mereka, dampaknya tidak akan membahayakan keamanan nasional mereka? ... Bisakan sebuah rencana di atas kertas menghentikan kebakaran di gudang senjata?”

“Syria adalah negeri yang menjadi pilar utama perlawanan (anti-Israel), yang telah menjadi sasaran serangan keamanan, politik dan militer, meski perlawanan dari rakyat, tentara dan pemerintahnya selama 3 tahun adalah sangat membanggakan."

Memuji Syria sebagai negara yang berani menghadapi Israel selama lebih dari 5 dekade, Salami mengingatkan Amerika dan sekutu-sekutunya untuk tidak melakukan aksi militer terhadap Syria.

INSIDEN SERANGAN "FALSE FLAG" ISRAEL YANG GAGAL

(RUSIA KIRIM LAGI 2 KAPAL PERANG)

Maju mundurnya Amerika untuk menyerang Syria rupanya membuat Israel jengkel. Dalam kegalauannya itu Israel pun meluncurkan 2 rudal jelajah atau ballistik (berita running text TVOne menyebutkan sebagai rudal ballistik, yaitu rudal yang ditembakkan ke angkasa dan jatuh ke sasaran dengan gaya gravitasi. Adapun rudal jelajah adalah rudal yang sejak ditembakkan hingga mencapai saaran digerakkan dengan mesin roket atau jet dan terbang dalam ketinggian rendah dan kecepatan di bawah kecepatan suara) dengan maksud untuk memicu peperangan. Namun rudal-rudal tersebut ditembak jatuh oleh Amerika.

Satu-satunya berita yang saya dapat dari media-media Indonesia adalah running text di TVOne, hari Selasa (3/9) sebagaimana tersebut di atas. Lebih jelasnya berita tersebut berbunyi sbb: "Syria mendeteksi peluncuran 2 rudal ballistik di Laut Mediterania."

Tidak ada penjelasan tentang siapa yang meluncurkan rudal-rudal tersebut dan dalam rangka apa? Hanya diketahui kemudian Israel mengaku telah meluncurkan rudal pertahanan udara "Sparrow" sebagai bagian dari program latihan militer bersama dengan Amerika.

Klaim Israel tersebut sangat aneh. Pertama, tidak ada pengumuman sebelumnya tentang adanya latihan militer Israel-Amerika di Laut Mediterania. Kedua, peluncuran rudal "Sparrow" sama sekali bertentangan dengan spesifikasi rudal yang dideteksi oleh radar Syria dan Rusia. "Sparrow" diluncurkan oleh kapal di permukaan laut dan berdaya-jangkau jarak pendek, sementara saat itu tidak ada satupun kapal Israel berada di sekitar lokasi penembakan. Jadi jika Israel mengaku telah meluncurkan rudalnya, maka satu-satunya kemungkinan adalah peluncuran rudal balistik atau jelajah dari kapal selam "Dolphin" buatan Jerman yang dimiliki Israel.

Amerika sendiri awalnya diam seribu bahasa tentang insiden tersebut meski dipastikan dengan keberadaan kapal-kapal perangnya di kawasan itu Amerika juga mengetahui peluncuran tersebut. Amerika awalnya bahkan menolak klaim Israel tentang program latihan militer bersama, meski kemudian mendukung klaim tersebut. Namun Rusia memberikan komentar keras atas insiden tersebut meski tidak secara tegas menuduh Israel.

“Saya sangat tidak mengerti bagaimana seseorang bisa bermain-main dengan senjata dan rudal-rudal di kawasan ini, saat ini," kata wakil menhan Rusia  Anatoly Antonov kepada media massa, Selasa (3/9), merujuk pada ketegangan antara Syria-Rusia dengan Amerika di Laut Mediterania (Laut Tengah).

"Saya ingatkan bahwa Laut Mediterania berdekatan dengan perbatasan Rusia," tambah Antonov.

Saat ini di kawasan Laut Mediterania Amerika telah menempatkan 5 kapal perusak, 3 kapal selam nuklir, 4 frigat, 1 kapal angkut ampibi, dan beberapa kapal pendukung. Sementara Rusia memiliki 1 kapal jelajah berat, beberapa kapal pendukung, 2 kapal selam nuklir dan 1 kapal pengintai. Dalam waktu dekat beberapa kapal perang Amerika dan Rusia juga bakal berkumpul di kawasan itu, termasuk kapal induk USS Nimitz milik Amerika.

Wednesday, 4 September 2013

DAJJAL AMERIKA YANG TIDAK LAGI BERTANDUK

Kini saya tahu mengapa dalam sebuah nubuat Nabi Muhammad S.A.W tentang akhir jaman disebutkan bahwa Dajjal (atau anti-Christ dalam nubuat Yesus Kristus, yaitu mahluk penjelmaan iblis) melelah tubuhnya seperti lilin yang terbakar ketika bertemu dengan Nabi Isa (Yesus Kristus). Dajjal itu adalah Amerika saat ini dan Nabi Isa itu adalah Rusia.

Robert Fisk, wartawan senior Inggris, baru saja menulis artikel di harian The Independent berjudul "Once Washington made the Middle East tremble – now no one there takes it seriously". Persis seperti Dajjal yang meleleh tubuhnya, Fisk menggambarkan bagaimana Amerika telah kehilangan kekuatannya untuk mempengaruhi dunia setelah rencana serangan militer terhadap Syria yang digalangnya mendapat penolakan dari sebagian besar masyarakat dunia kecuali pemimpin Turki Tayip Erdogan, Raja Saudi, dan Sheikh Yusuf "Pentagon" Qardhawi (sebutan yang diberikan oleh ulama senior Al Azhar) dan pengikut-pengikut idiot mereka.

"Kita melihat dengan takjub betapa rendahnya wibawa yang dimiliki Amerika saat ini. Anda tahu, kita telah melihat serangkaian operasi "false flag" untuk menggulingkan pemerintahan berbagai negara. Dan publik kini mengetahuinya, kita telah berada pada titik balik karena siapapun yang menjadi penasihat Obama tidak akan mempedulikan bahwa hanya 10% rakyat yang mendukung serangan. Semua orang mengetahui semua peristiwa dimana mereka telah dibohongi. Mereka tidak lagi percaya pada laporan-laporan inteligen. Orang-orang inteligen telah kehilangan kredibilitasnya sekarang. Dan mereka pada dasarnya tidak lagi percaya pada apa yang dikatakan pemerintah kecuali mereka bisa menferifikasinya secara independen, karena mereka melihat adanya agenda tersembunyi," kata Jim W. Dean, editor senior media online independen Veterans Today dalam satu wawancara dengan televisi Iran Press TV baru-baru ini.

Amerika boleh saja mengerahkan kekuatan militernya ke sekitar Syria, namun hal itu sama sekali tidak menggentarkan Syria dan sekutu-sekutunya. Tidak mau kalah gertak, Rusia pun telah mengirim 3 kapal perang dan 1 kapal selamnya ke Laut Tengah untuk membela Syria. Jumlah kapal-kapal itu memang tidak sebanyak kapal-kapal perang yang dikerahkan Amerika. Namun jangan pernah meremehkan kapal-kapal perang yang dilengkapi rudal-rudal paling canggih di dunia seperti "Yakhount", "S-300" atau "Alexander". Rudal "Yakhount" yang paling kecil saja bisa dilengkapi hulu ledak nuklir yang mampu menenggelamkan kapal induk Amerika sekalipun. Kekuatan itu belum termasuk ribuan personil militer Rusia yang telah berada di Syria (sebagian besar menyamar sebagai konsultan teknik, penasihat militer dengan persenjataan-persenjataan canggihnya). Juga belum termasuk kekuatan Iran dan Hizbollah.

MENGAPA OBAMA "MENGKERET"?

Setelah berkoar-koar tentang kepastian serangan militer terhadap Syria, Presiden Amerika Barack Obama tiba-tiba saja "mengkeret" dengan mengatakan bahwa keputusan menyerang Syria harus mendapat persetujuan terlebih dahulu dari badan legislatif (Congress).

Apa yang sebenarnya terjadi? Bukankah dahulu Amerika tidak memerlukan dukungan Congress untuk menyerang Afghanistan, Irak dan Libya? Bahkan persetujuan DK PBB pun tidak diperlukannya. Jawabannya tidak lain adalah keteguhan sikap sekutu-sekutu Syria Hizbollah, Iran dan Rusia untuk membela Syria mati-matian.

Ceritanya terjadi sebelum peristiwa serangan senjata kimia di pinggiran Damaskus tgl 21 Agustus lalu yang diduga kuat dilakukan oleh agen-agen Israel dan Saudi, atau setelah kemenangan beruntun pasukan regim Syria di Qusayr, Homs dan Latakia dan tengah dalam posisi offensif terhadap posisi-posisi pemberontak di sekitar Damaskus.

Melihat ancaman kekalahan total pemberontak yang sudah di depan mata, para diplomat Amerika, Eropa dan Saudi pun sibuk melakukan pendekatan kepada Rusia dan Iran untuk membujuk mereka menghentikan dukungannya kepada pemerintah Syria. Kepada Rusia, kepala inteligen Saudi Pangeran Bandar menawarkan konsesi ekonomi yang menggiurkan ditambah ancaman pengerahan teroris untuk mengacaukan keamanan domestik Rusia. Sementara kepada Iran, Jeffrey Feltman, mantan diplomat senior Amerika yang bekerja untuk PBB menawarkan penghentian sanksi ekonomi dan imunitas bagi program nuklir Iran.

Kepada Rusia juga ditawarkan untuk menentukan sendiri pengganti Bashar al Assad sebagai presiden jika yang bersangkutan berhasil digulingkan. Namun bujukan-bujukan yang disertai ancaman itu tidak menggoyahkan sikap Rusia dan Iran. Maka Amerika dan sekutu-sekutunya beralih ke rencana alternatif, yaitu serangan militer.

Untuk memberi jalan bagi pilihan tersebut, dilakukanlah operasi inteligen yang oleh senator Amerika Ron Paul, disebut operasi "false flag", berupa serangan senjata kimia di Ghouta dan beberapa kawasan lain di luar kota Damaskus. Hanya satu jam setelah serangan itu, media-media massa barat sudah mengekspos insiden tersebut disertai tuduhan regim Syria sebagai pelaku serangan disusul kemudian oleh kecaman bertubi-tubi oleh para pejabat barat kepada regim Syria, ketika penyelidikan bahkan belum dimulai.

Pada saat yang sama Amerika pun kembali mengirimkan diplomat-diplomatnya untuk membujuk Rusia dan Iran sebelum rudal-rudal ditembakkan. Namun lagi-lagi gertakan itu gagal menggoyahkan keduanya. Bahkan meski Amerika meningkatkan gertakannya dengan mengirim kapal-kapal perangnya mendekati Syria. Rusia justru membalas dengan mengirim 3 kapal perangnya ke Syria. Sementara Hizbollah dan Iran tidak berhenti mengingatkan keseriusan mereka membela Syria. Syria sendiri meyakinkan sekutu-sekutunya bahwa mereka siap mempertahankan dirinya mati-matian.

BAHKAN POLITISI AMERIKA ANGGAP TUDUHAN SENJATA KIMIA SYRIA "PALSU"

(LAPORAN INTELIGEN BERASAL DARI ISRAEL)

Politisi "oposan" terkenal dan mantan anggota legislatif yang pernah menjadi capres Amerika, Ron Paul, menganggap tuduhan penggunaan senjata kimia oleh pemerintah Syria sebagai kepalsuan. Ia menyebut serangan senjata kimia di Syria sebagai operasi "false flag" yang dilakukan pemberontak dukungan Amerika untuk menyudutkan pemerintah Syria.

"Kita tidak begitu yakin tentang siapa yang meledakkan gas-gas itu. Kelompok yang kemungkinan paling diuntungkan dari kejadian itu adalah Al Qaida. Merekalah yang meledakkan gas-gas, banyak orang tewas dan kemudian menyalahkannya pada Assad," kata Ron Paul yang terkenal sebagai tokoh gerakan "oposisi" Amerika yang menamakan diri sebagai "Tea Party".

Paul mengatakan bahwa rencana intervensi militer terhadap Syria mengikuti skenario yang telah terjadi menjelang invasi atas Irak tahun 2003 ketika pemerintah Amerika menuduh regim Saddam Hussein memiliki sejumlah besar senjata pemusnah massal. Tuduhan tersebut kemudian terbukti palsu.

“Lihatlah berapa banyak kebohongan yang dikatakan kepada kita tentang Saddam Hussein. Banyak propaganda. Ini terjadi sepanjang waktu," tambah Paul.

Senada dengan pernyataan Paul, koran terkenal Amerika Wall Street Journal minggu lalu mengungkapkan bahwa tuduhan penggunaan senjata kimia oleh pemerintah Syria adalah hasil rekayasa yang dilakukan inteligen-inteligen barat.

Menurut Wall Street Journal informasi-informasi yang mendasari tindakan politik Amerika di Syria diperoleh dari dinas inteligen Israel, Mossad, yang diberikan kepada dinas inteligen Amerika CIA. Hal seperti ini juga terjadi dalam kasus Perang Irak dan Perang Libya. Dalam artikel berjudul “U.S., Allies Prepare to Act as Syria Intelligence Mounts” itu, Wall Street Journal menyebutkan:

Monday, 2 September 2013

IRAN: ISRAEL AKAN TERBAKAR JIKA SYRIA DISERANG

Para komandan militer tertinggi Iran mengingatkan bahwa setiap serangan militer terhadap Syria akan menghancurkan Israel dan negara-negara penyerang, serta membawa kerusakan hebat bagi umat manusia.

"Setiap aksi militer terhadap Syria akan menyeret negara zionis ke dalam api," kata kepala staff gabungan AB Iran Mayjend Hassan Firouzabadi kepada wartawan di Teheran, Kamis (29/8).

Menurutnya Amerika dan sekutu-sekutunya akan mengalami kerugian besar dengan mengerahkan kekuatan militernya di kawasan dan Syria selain kerusakan hebat yang bakal dialami seluruh umat manusia.

Sebaliknya Firouzabadi memuji semangat perlawanan rakyat Syria yang selama lebih dari 2 tahun mampu bertahan dari serangan kekuatan asing. Semangat itu, katanya, akan mengantarkan kepada kemenangan.

Menurut Firouzabadi, yang juga menjadi anggota Dewan Pertahanan Nasional, aksi-aksi perang yang dilancarkan Amerika terhadap berbagai negara di dunia telah menimbulkan dampak buruk bagi rakyat Amerika berupa kemiskinan dan kesengsaraan. Untuk itu ia menyerukan pada rakyat Amerika, terutama kalangan elitnya sebagaimana juga masyarakat internasional, untuk mencari cara menghentikan masalah-masalah besar yang telah ditimbulkan oleh para pemimpin Amerika terhadap masyarakat dunia.

Sementara itu peringatan lebih keras juga dikeluarkan oleh komandan Brigade Al Quds, pasukan paling elit di jajaran kemiliteran Iran. Pasukan ini merupakan kekuatan inti dari Tentara Pengawal Revolusi yang terpisah komandonya dari tentara reguler Iran dan dianggap memiliki kekuatan yang lebih besar.

Dalam sebuah rapat tertutup yang digelar minggu lalu namun bocorannya muncul di media-media massa Iran komandan Brigade Al Quds Mayjend Qassem Suleimani, meyakinkan bahwa negeri Levant (Syria, Lebanon, Palestina) merupakan landasan ke surga dan sekaligus sebagai pemakaman tentara-tentara Amerika.

BILA PUTRA BASHAR AL ASSAD "MENGEJEK" AMERIKA

Putra tertua Presiden Syria yang masih anak-anak, Hafez Bashar al-Assad, menuliskan di akun "Facebook" miliknya kalimat-kalimat yang bernada ejekan pada Amerika Serikat yang tengah merencanakan serangan militer terhadap Syria.

“Saya sangat menginginkan mereka untuk menyerang, karena saya ingin membuat mereka membuat kesalahan besar dari satu hal yang mereka tidak mengetahui bagaimana mengakhirinya," tulis Hafez sebagaimana dilaporkan media-media massa Inggris hari Jumat (30/8).

"Sama seperti Hizbollah yang berhasil mengalahkan Israel dan NATO... dan hal yang samalah yang bakal terjadi pada Amerika jika memilih invasi terhadap Syria karena mereka tidak mengenal negeri kami sebagaimana kami," tambahnya.

"Apa yang dimiliki Hezbollah kala itu? Beberapa pejuang jalanan dan sejumlah roket-roket kecil dan gudang-gudang senjata, namun mereka memiliki semangat dan kepercayaan terhadap negerinya."

Remaja berusia 11 tahun itu juga menyebut para tentara Amerika sebagai "para pengecut dengan senjata modern yang mengklaim diri sebagai pembebas yang takkan mampu menghancurkan sisa-sisa pejuang yang tinggal sedikit sekalipun".

"Inilah kami, kami yang terlahir untuk bertempur dan melawan," tambahnya.

Menurut Hafez tidak menjadi masalah bagi mereka yang mengklaim sebagai "oposisi pemerintah" karena demokrasi. Yang masalah adalah mereka yang mengklaim memiliki bendera Syria yang lain yang berwarna hijau yang disebutnya sebagai "penghinaan" terhadap negara Syria. Bendera oposisi yang berwarna hijau merupakan bendera Syria semasa penjajahan Perancis.

"Yang terburuk adalah mereka yang mengklaim tentara membunuhi mereka, semenara yang sebenarnya tentara adalah orang-orang yang mempertaruhkan nyawanya untuk melindungi kami. Jika orang-orang itu mengatakan bahwa tentara akan hancur oleh serangan Amerika, saya katakan bahwa Amerika menyerang seluruh rakyat Syria."

KEBOHONGAN CNN YANG LAGI-LAGI TERBONGKAR

Kantor berita asal Amerika, CNN, telah terkenal dengan tipu dayanya yang dilakukan untuk mengibuli pemirsanya. Paling vulgar, menurut saya, adalah kasus reporter Charles Jaco yang berpura-pura memberikan laporan "live" tentang serangan rudal Scud Irak terhadap Saudi dalam Perang Teluk I tahun 1991. Adegan dan seting lokasi yang dikemas sangat tidak profesional itu sebenarnya akan membuat pemirsa yang kritis akan mempertanyakan laporan tersebut, namun tidak bagi sebagian besar rakyat Amerika dan terlebih lagi masyarakat dunia yang kala itu masih menjadi para idiot di mata para kru CNN.

Yang paling mencolok mata dalam adegan siaran langsung itu adalah kamera yang tidak pernah bergeser sedikit pun untuk memberi gambaran kehancuran yang terjadi akibat serangan tersebut. Benar-benar aksi penipuan yang sangat kasar, meski Jaco berusaha memolesnya dengan berakting mengenakan masker anti-senjata kimia di sela-sela laporan.

"Uh, saya menyukai negeri ini, sangat menyukai," kata Jaco dalam rekaman sesi latihan laporan pandangan mata itu yang dilakukan beberapa saat sebelumnya. Tidak diketahui dimana sekarang keberadaan Jaco setelah aksi tipu-tipu yang dilakukannya terbuka gamblang.

Kebohongan lainnya yang terkenal adalah siaran kesaksian gadis Kuwait bernama Nariyah di hadapan komisi Senat Amerika Serikat sebelum dimulainya serangan Amerika dan sekutu-sekutunya terhadap Irak tahun 1990. Di-"setting" untuk memberi alasan serangan militer, Nariyah pun memberian kesaksian yang menghebohkan publik Amerika. Dikatakannya bahwa dirinya adalah seorang perawat di sebuah rumah sakit di ibukota Kuwait. Dengan terisak-isak ia menyebutkan bahwa tentara Irak telah membunuhi bayi-bayi yang tengah dirawatnya dengan mengeluarkan mereka dari kotak-kotak inkubator dan melemparkannya begitu saja ke lantai.

Beberapa waktu kemudian terbongkar fakta bahwa Nariyah tidak lain adalah putri kandung duta besar Kuwait di Irak yang dibayar mahal oleh pemerintah Amerika untuk memberikan kesaksian palsu. Namun kesaksian Nariyah berhasil menipu seluruh rakyat Amerika dan dunia untuk mendukung invasi biadab Amerika dan sekutu-sekutunya yang menelan korban ribuan rakyat Irak yang tidak bersalah.

Kini CNN kembali tertangkap tangan melakukan penipuan dalam pemberitaan tentang konflik Syria, sebagaimana BBC INggris yang juga tertangkap tangan memberikan laporan palsu pembantaian Houla di Syria tahun lalu.

Kepalsuan laporan CNN terjadi pada penyiaran video siaran langsung seorang "akfitis" Syria bernama "Danny" yang menyerukan dilakukannya aksi militer oleh Amerika yang diketahui kemudian sebagai aktor bayaran. Salah satu hal yang membuat aksi tipuan tersebut terbongkar adalah perintahnya pada kru film untuk menghidupkan suara-suara pertempuran buatan beberapa saat sebelum siaran, yang ternyata tersiarkan secara tidak sengaja.

Sunday, 1 September 2013

SISI KE-YAHUDIAN-AN IKHWANUL MUSLIMIN (3)

Gambar: Huma Abedin dan suaminya Senator Weiner.


Apakah Ikhwanul Muslimin yang menginfiltrasi zionis Amerika, atau sebaliknya zionisme Amerika yang menginfiltrasi Ikhwnaul Muslimin, hal itu sangat sulit untuk dibuktikan karena keterpaduan yang begitu kuat antara keduanya. Keterpaduan itu bahkan sampai pada tingkat perkawinan antar tokoh-tokoh kedua kelompok itu.

Ketika setahun yang lalu 5 anggota legislatif Amerika di bawah pimpinan Michelle Bachmann mempertanyakan kinerja lembaga-lembaga pengawas internal pada beberapa departemen di Amerika, terutama kementrian luar negeri karena dugaan adanya "infiltrasi" kelompok Ikhwanul Muslimin, mereka langsung mendapat serangan bertubi-tubi dari para zionis Amerika, dari senator dan mantan capres John McCain hingga organisasi ultra zionis Anti Defamation League (ADL).

Kekhawatiran Bachmann dan kawan-kawan tentu saja sangat beralasan karena keberadaan Huma Abedin sebagai deputi kepala staff kemenlu Amerika yang kala itu dipimpin oleh mantan ibu negara dan senator Hillary Clinton. Huma Abedin adalah putri kandung dari Saleha Abedin, pemimpin gerakan wanita Ikhwanul Muslimin. Namun yang menarik lagi adalah fakta bahwa Huma Abedin merupakan istri dari Anthony Weiner, seorang anggota senat Amerika berdarah yahudi. Ya, mereka berdua merupakan tanda ikatan dari hubungan antara Ikhwnul Muslimin dengan zionisme. Pernikahan Huma Abedindan Anthony Weiner kala itu yang dilakukan secara barat atau bahkan secara yahudi bahkan dihadiri oleh Presiden Bill Clinton.

Keterkaitan keluarga Abedin dalam gerakan Ikhwanul Muslimin tidak pernah diungkap oleh media-media Amerika meski hal itu sudah menjadi pengetahuan luas di kalangan intelektual Arab.

Jaringan Al-Liwa Al-Arabi milik kalangan liberal Mesir yang beroposisi dengan pemeritahan Presiden Mohammad Moersi pernah merilis laporan yang sebagian di antaranya dipublikasikan oleh Al Jazeera, tentang sosok Saleha Abedin dan keanggotaannya dalam organisasi "rahasia" Ikhwanul Muslimin, tepatnya sebagai anggota dewan pemimpin International Women's Organization (IWO), sayap perempuan Ikhwanul Muslimin (Moslem Sisterhood). Kelompok ini terdiri dari 63 orang anggota lintas negara, termasuk istri Mohammad Moersi.

Menurut laporan tersebut salah satu anggota keluarga Abedin bernama Hassan Abedin, yang tidak lain adalah saudara laki-laki Huma Abedin, menjadi pejabat universitas paling berpengaruh di Amerika, Oxford, tepatnya di Oxford Centre for Islamic Studies (OCIS). Di organisasi ini juga duduk beberapa aktifis Ikhwanul Muslimin lainnya seperti Omar Naseef dan Sheikh Yusuf Qaradawi yang duduk dalam Dewan Penyantun. Omar Naseef bahkan menjabat sebagai ketua Dewan Penyantun meski diketahui memiliki hubungan dengan Al Qaida yang ditetapkan sebagai kelompok teroris oleh Amerika. Satu lagi nama besar yang duduk di Dewan Penyantun OCIS adalah Abdullah Gul, presiden Turki yang juga seorang tokoh Ikwanul Muslimin Turki.

OCIS secara rutin memberikan penghargaan bagi intelektual-intelektual muslim dari seluruh dunia. Salah satunya adalah Sheikh Abd Al-Fattah Abu Gudda yang memiliki hubungan historis dengan pendiri Ikhwanul Muslimin Hasan al-Banna.