Thursday, 5 October 2017

Tentang Jendral Sudirman, Dari Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo

“Tahukah Saudara siapa Jenderal Soedirman? Beliau adalah santri. Lalu beliau bekerja menjadi guru dan kemudian menjadi kepala sekolah. Maka tak heran kalau sebagian orang memanggil beliau Pak Dir, sebagian lainnya memanggil beliau Kiai. Kiai Soedirman.
Beliau sangat sholeh. Ketika beliau bergerilya ke hutan, beliau tidak pernah berhenti dari dzikir. Ketika ada tentara Belanda memburu beliau, salah seorang pengkhianat menunjukkan keberadaan Jenderal Soedirman, tapi si Belanda tidak percaya, ‘Tidak mungkin Soedirman seperti ini. Soedirman yang aku cari bukan seperti ini,’ kata tentara Belanda itu. Sering sekali kejadian seperti itu menimpa Jenderal Soedirman.
Sampai kemudian salah seorang pengikut beliau bertanya. ‘Pak kiai (Jenderal Soedirman).. Pak Kiai itu pake jimat apa kok selalu lolos dari sergapan Belanda. Ketika diberondong peluru Pak Kiai juga selamat.

ANTARA KEBANGKITAN PKI, MASA DEPAN UMMAT ISLAM DAN KEDAULATAN BANGSA INDONESIA


Oleh Suripto SH (Pengamat Intelijen, Pertahanan dan Keamanan)

1. Pada tahun 1972 saya bersama Prof Fuad Hasan dan Jenderal Soemitro Pangkopkamtib datang ke Pulau Buru. Kesimpulan saya adalah 90% tapol tidak paham politik. Mereka terbawa suasana dan menjadi ‘korban’ perseteruan elit politik era Perang Dingin. Yang sadar ideologi hanya 10% saja.
2. Perhitungan saya waktu itu dari 7 juta anggota PKI ada sekitar 200.000 anak keturunannya yang masih berusia di bawah 12 tahun, 20 tahun ke depan seberapa besar mereka ini menjadi ancaman? Sehingga saya terus berusaha mancari tahu di mana saja dan oleh siapa saja mereka ini dibina. Sehingga saya usulkan agar ada program untuk melakukan penelusuran secara mendalam terhadap mereka.

Bukan Isu Politik, Pengusaha Sebut Daya Beli Memang Lesu

detikFinance, 4 Oktober 2017

Jakarta - Presiden Joko Widodo (Jokowi) melempar pernyataan yang menyebut bahwa daya beli masyarakat Indonesia masih cukup baik. Bahkan, isu penurunan daya beli disebutnya lebih karena faktor politis menjelang 2019.

Ketua Tim Ahli Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Sutrisno Iwantono, menjelaskan secara makro memang bisa dibilang ekonomi Indonesia baik-baik saja, namun secara riil ada indikasi yang mengarah pada pelemahan daya beli.

"Daya beli enggak menguat. Orang ritel pada turun dan tidak menguat. Indikator makro enggak bisa cerminkan data mikro yang riil di lapangan. Orang enggan investasi kalau perusahaan, kalau rumah tangga enggan belanja," kata Sutrisno ditemui di Menara Permata, Jakarta, Rabu (4/10/2017).

Terorisme dan Media Mainstream

Joserizal Jurnalis 
Luar biasa media nasional !
Pengen banget pelaku serangan di Las Vegas terkait dg Islam dan ISIS...
Belakangan ada koreksi...tapi jejak digital tidak bisa hapus.
PENGEN GORENG ISU "TERORIS" LAGI?
SUPAYA DAPAT PROYEK PROGRAM WAR ON TERROR LAGI?

LAWAN POLITIK PRESIDEN JOKOWI, SIAPA?

Oleh : Ferdinand Hutahean -- Rumah Amanah Rakyat

Kemarin dalam sebuah acara bersama Kamar Dagang dan Industri atau KADIN Indonesia, Presiden Republik Indonesia Joko Widodo kembali melontarkan pernyataan-pernyataan yang *mengandung makna dan membawa pesan kegelisahan dan mungkin bernilai sebuah kemarahan dari Presiden.* Sebuah ketidak senangan bila tak layak disebut kemarahan, namun yang pasti Presiden tampak tidak suka dan tidak senang dengan berita tentang penurunan daya beli masyarakat.
Yang kedua, pernyataan Presiden tentang terorist justru dari kita. Presiden seolah menjustifikasi dan memberikan stigma bahwa Bangsa ini adalah Bangsa penghasil terorist. *Hanya untuk membenarkan visa bebas kebijakan politiknya, Presiden tanpa rasa kuatir membenarkan bangsa ini bangsa terorist dengan menyebut Justru terorist kan dari kita.* Menyedihkan, karena pernyataan presiden ini akan mengamini tudingan asing yang menuduh Indonesia negara radikal dan penghasil terorist.

Iran, Turki dan Irak Kirim Pasukan ke Perbatasan Kurdistan Irak

Indonesian Free Press -- Iran, Iraq dan Turki mengirim pasukan ke perbatasan Kurdistan-Irak dalam satu langkah yang disebut Kurdi sebagai 'eskalasi berbahaya'

Belasan tank yang diperkuat dengan senjata-senjata artileri Iran dilaporkan telah berada di wilayah Parviz Khan dan bisa dilihat dari wilayah Kurdistan-Irak. Pasukan tersebut merupakan bagian dari latihan militer gabungan Irak-Iran yang berlangsung hari Minggu (1 Oktober). Demikian kantor berita Reuters melaporkan, Selasa (3 Oktober).

Media Iran Mehr News Agency menyebut dengan jelas bahwa keberadaan militer Iran tersebut merupakan respons atas referendum kemerdekaan Kurdistan-Irak yang berlangsung pekan lalu.

Tuesday, 3 October 2017

5000 Senjata Bisa untuk Merebut dan Kuasai Jakarta

*Dari status Facebook Zulkifli S Ekomei

Indonesian Free Press -- Mantan Komandan Korps Marinir (1996-1999) Letjend TNI Marinir (Purn) Suharto angkat bicara terkait pernyataan Panglima TNI di acara Silaturahmi Nasional 2017 yang lalu tentang 5000 senjata. Bahwa apa yang disampaikan oleh Panglima TNI adalah sejalan dengan pemikirannya selama ini. Karena perkembangan akhir-akhir ini telah membuatnya sebagai Tentara dan mantan tentara harus bercuriga dengan hal itu.

“Apalagi kalau dikaitkan dengan pernyataan saya dahulu tentang Grand Design Pelemahan NKRI dan bagaimana hubungan TNI – POLRI, adalah kini menjadi kenyataan, bahwa POLRI sudah menjadi tirani baru,” katanya pada Portal Infokom (27 September).

Dan kalau kata pak Wiranto (Menkopolhukam-red) mengatakan bahwasanya BIN yang pesan senjata 517 pucuk. Maka itu menimbulkan pertanyaan bagi mantan Komandan Detasemen Mabes ABRI ini.

“Ada apa BIN pesan 517 senjata laras panjang, BIN khan pengumpul data, bukan satuan tempur, untuk apa?" tanyanya heran.

Karena menurutnya senjata utama BIN adalah otaknya dan kalau senjata di luar itu yang dibutuhkan adalah senjata untuk bela diri saja. Maka timbul pertanyaan apa maksud dan tujuan pemesanan senjata itu.

DULU MEREKA TUKANG SAPU, SEKARANG KAMI YANG MEREKA SAPU


(Pelajaran Untuk Indonesia)

By: Neno Warisman.

-hilangnya sebuah negara-

Bus terakhir mulai berjalan membawa para mahasiswa menuju kampus. Aku duduk santai di kursi paling depan, memangku sebuah ransel coklat kesayangan. Tetiba saja aku merasa ada yang kurang, ooh aku sadar ternyata aku lupa membawa tugas kampus yang sudah ku tulis tadi malam hingga jam dua subuh.