Tuesday, 30 September 2008

KRISIS KEUANGAN AMERIKA


Ketika tulisan ini dibuat lembaga legislatif Amerika baru saja menolak permintaan pemerintah untuk mengeluarkan dana talangan (bailout) bagi sektor keuangan Amerika yang tengah mengalami krisis senilai $700 miliar. Terlepas dari efektif tidaknya program talangan sektor keuangan, (sebelumnya pemerintah AS telah mengeluarkan talangan sekitar $300 miliar) jumlah yang sangat besar tersebut mencerminkan betapa seriusnya masalah sektor keuangan yang dihadapi Amerika yang dampaknya mengancam seluruh dunia.

Beberapa pakar ekonomi sudah sering memperingatkan bahaya sistem ekonomi global saat ini yang disebut bubble economic (ekonomi busa), yaitu perekonomian yang tidak mencerminkan kondisi riel sebenarnya. Perekonomian ini tercipta karena penciptaan
uang kertas (uang kertas cetakan bank sentral, deposito, giro/chek, devisa, saham, obligasi, sertifikat dan surat berharga lain yang merupakan derivasi atau turunan dari asset riel) yang tidak terkontrol dan transaksi-transaksi derivatif bermotif spekulasi. Akibatnya perdagangan sektor keuangan jauh lebih tinggi nilainya dari produksi barang dan jasa sehingga setiap saat perekonomian terancam oleh krisis. Saat itu terjadi saat sebagian pelaku transaksi derivatif bosan dengan angka-angka keuntungan yang diperolehnya dan bermaksud menukarkan uang kertas yang dimilikinya dengan barang jasa, atau saat kewajiban pembayaran kewajiban sebagian pelaku transaksi derivatif telah jatuh tempo sementara neraca pembayaran sebagian besar perusahaan dalam keadaan negatif.

Sekedar informasi nilai produksi riel barang dan jasa global saat ini adalah sekitar $40-50 triliun sementara nilai perdagangan derivatif mencapai ratusan triliun dollar, perbandingan yang sangat timpang.

Hal ini pula yang yang terjadi di Amerika. Sebagian besar pelaku pasar uang mengalami kerugian (meski sebagian lainnya mengalami keuntungan berlipat ganda) yang mengancam likuiditas perusahaan sehingga membutuhkan campur tangan pemerintah melalui bantuan likuiditas atau dana talangan. Pilihan lainnya seperti Lehman Brothers adalah mempailitkan diri untuk menghindari kewajiban pembayaran kepada pihak ketiga.
Pemerintah berdalih melakukan campur tangan (bertentangan dengan prinsip ekonomi bebas yang didengung-dengungkan selama ini) demi menjaga stabilitas ekonomi dan melindungi hak-hak warganegaranya yang terancam kerugian akibat krisi. Hal itu terlepas dari anggapan negatif dipandang dari aspek keadilan sosial yang menganggap pemerintah tidak seharusnya menanggung kerugian perusahaan multifinansial senilai ratusan miliar dolar sementara program sosial untuk masyarakat seperti kesehatan dan pendidikan, terabaikan. Apalagi mengingat bahwa beban talangan pemerintah tersebut pada akhirnya harus ditanggung seluruh rakyat melalui pajak.

Hutang pemerintah Amerika sendiri telah mencapai $9 triliun lebih. Ditambah defisit belanja pemerintah tahun ini yang mencapai $400 miliar dan defisit neraca pembayaran yang mencapai $700 miliar yang harus dibiayai pemerintah melalui dana pinjaman, plus dana talangan sektor keuangan yang ditanggung pemerintah maka hutang pemerintah yang otomatis juga hutang seluruh rakyat Amerika, semakin melambung saja.
Ingat bahwa dana talangan yang dikeluarkan pemerintah sebenarnya bukan keluar dari kantong pemerintah melainkan didapat dari penjualan obligasi (surat hutang) karena pemerintah tidak lagi mempunyai uang.

Sebenarnya berapa parah krisis sektor keuangan Amerika dan berapa besar dana talangan yang diperlukan untuk menyelamatkannya? Hal in masih menjadi kontroversi. Namun menarik melihat sebuah analisis dari Marc Faber, seorang pakar dan praktisi pasar uang asal Swiss sebagaimana dikutip televisi pasar uang terkenal Bloomberg menanggapi krisis keuangan Amerika baru-baru ini. Menurut Faber, dana talangan yang dibutuhkan mencapai $5 triliun, beberapa kali lipat dana talangan yang diajukan pemerintah Amerika.

“$700 miliar (dana talangan yang diajukan pemerintah ke legislatif) tidak ada artinya. Pemerintah asal tebak saja, padahal sesungguhnya dana yang dibutuhkan mencapai $5 triliun,” kata Faber dalam wawancaranya dengan Bloomberg.
Sampai saat ini rakyat Amerika masih bisa bernafas karena pemerintah masih bisa mendapatkan dana pinjaman luar negeri untuk menjalankan roda pemerintahan: membayar gaji pegawai, membayar pemeliharaan infrastuktur, membayar biaya kesehatan dan pendidikan, membayar biaya riset, membayar hutang dll. Namun sampai kapan investor asing percaya dana pinjaman yang mereka berikan akan kembali? Pada saat ketidakpercayaan muncul, apalagi mengingat dolar semakin menurun nilainya dibanding mata uang lain, maka ambruklah Amerika dimulai dengan ambruknya ekonominya.
Sementara itu ekonom Nouriel Roubini dalam blog-nya mengeluhkan tidak adanya ekonom profesional independen yang dilibatkan pemerintah maupun lembaga legislatif dalam pembahasan krisis keuangan Amerika.

"Kebijakan pemerintah sangat menyedihkan, menalangi para bankir, pemilik modal, dan investor yang menimbulkan dampak kecil bagi masyarakat, mengurangi kesempatan kepemilikan rumah, dan pada akhirnya membebani masyarakat pembayar pajak. Sementara kebijakan itu sendiri tidak berarti apa-apa untuk mengatasi krisis ekonomi yang mendekati keruntuhan,” kata Roubini.

Roubini benar. Keadilan macam apa dimana rakyat miskin harus memberi subsidi orang-orang kaya pemilik modal seperti rakyat Indonesia yang harus mensubsidi para pengemplang dana BLBI yang cicilannya mencapai 30 triliun setahun. Padahal dana itu bisa mengentaskan jutaan rakyat Indonesia dari kemiskinan yang tengah melanda negeri ini.

Puluhan ekonomi sebagaimana ribuan rakyat Amerika telah menyatakan penentangannya atas rencana pemberian talangan oleh pemerintah. Mungkin itu menjadi faktor penolakan Congress (lembag legislatif Amerika) terhadap rencana bailout tersebut.

Kudeta Para Bankir
Lalu apa sebenarnya di balik rencana pemberian talangan tersebut? Perlu diketahui bahwa kebijakan bailout tersebut dirancang oleh Menteri Keuangan Paulson dan Gubernur Bank Sentral (The Fed) Bernanke. Keduanya adalah anak didik para banker dilihat dari track record mereka yang mengawali karier sebagai pegawai bank swasta.

Kebijakan tersebut sudah direncanakan matang-matang oleh para bankir yang dibantu para birokrat binaan mereka seperti Paulson dan Bernanke. Dimulai dengan menguras dana likuiditas bank untuk menghentikan kredit sehingga memicu kepanikan pasar saham. Dengan kondisi ini mereka percaya Congress tanpa banyak pertanyaan akan menyetujui bailout yang diajukan pemerintah. Ini semacam pemerasan.
“Saya curiga fenomena kredit macet merupakan strategi para pemain pasar uang untuk mendapatkan keutungan gratis dari bailout,” kata David K. Levine, ekonom dari Washington University.

Kecurigaan adanya rekayasa untuk pemerasan dikuatkan oleh analisis seorang pakar pasar uang Karl Denninger yang mengatakan: ”Ini adalah krisis yang oleh sengaja diciptakan oleh Bank Sentral, Menteri Keuangant dan lembaga pemerintahan lain.”
Bagi mereka yang konsern dengan teori konspirasi tidak heran dengan fenomena ini. Ekonomi dunia memang sengaja dirancang berdasarkan motif spekulasi sehingga kekayaan global dapat dipermainkan untuk tetap menjadi milik para pemilik modal. Tanpa spekulasi maka seluruh sektor ekonomi akan tumbuh dan masyarakat dunia dapat menikmati kesejahtaraan melalui kekayaan yang terkumpul dari pertumbuhan ekonomi. Namun para konspirator tidak menghendaki hal ini. Mereka menginginkan semua kekayaan menjadi milik mereka.

Semua itu tertulis jelas di dokumen Protocol Zion yang terkenal selain bebeapa pelajaran pahit yang terjadi di masa lalu berkaitan denagn krisis ekonomi global, seperti peristiwa Depresi Besar tahun 1929-1930-an. Namun entah mengapa masyarakat dunia tidak mau belajar.

Keterangan foto: Menteri Keuangan Paulson (kiri) dan Gubernur Bank Sentral Bernanke (kanan)

Monday, 29 September 2008

HOMONISASI



Kenal Musdah Mulia? Wanita yang mengaku penganut paham Islam Liberal itu? Banyak hal kontroversial yang pernah ia ungkapkan, di antaranya menyusun hukum Islam baru yang menentang dalil-dalil Al Qur’an. Sosok yang gencar menyuarakan penolakan atas RUU anti pornografi itu pernah membuat pernyataan kontroversial yaitu bahwa homoseksual adalah sesuatu yang wajar dan “diridhoi Allah” (masya Allah!!!).

Tunggu dulu, ia hanyalah frontliner, alias tukang omong yang dibayar murah (tidak sesuai dengan harkat martabat kemanusiaan yang dimilikinya) oleh sebuah gerakan global homonisasi, yaitu gerakan yang menganjurkan manusia untuk menerima homoseksual sebagai sebuah kewajaran yang tidak perlu dipersoalkan. Gerakan itu merupakan sebuah bagian kecil dari gerakan yang lebih besar lagi yang tujuannya menghancurkan tata dunia global: (sosial, ekonomi, politik, budaya, agama) untuk digantikan tata dunia baru (New World Order) dimana sekelompok kecil etnis (Yahudi) menjadi pimpinannya, dan yang lain menjadi pelayan.

Gerakan itu kini berusaha menghancurkan nilai-nilai Islam, setelah nilai-nilai agama lainnya, termasuk Kristen, berhasil dihancurkan. Penghancuran nilai-nilai Islam kini menjadi misi terakhir Yahudi sebelum berhasil mencapai misi akhirnya.
Tulisan ini menyingkap satu aspek dari gerakan homonisasi yang terjadi di Amerika berdasarkan tulisan pendeta Red Pike “ADL Expands Pro-Gay Education For Teachers” di blog INCOGMAN Agustus lalu. Tulisan tersebut adalah mengenai program ADL mensosialisasikan homoseksual di kalangan pelajar.

Anti Demafation League adalah organisasi orang-orang Yahudi yang memperjuangkan nilai-nilai Yahudi dan penghancuran nilai-nilai non-Yahudi di Amerika. Organisasi ini berhasil menghapuskan ritual doa bersama secara Kristen di sekolah-sekolah Amerika, menetapkan hari Sabath (Sabtu, hari suci kaum Yahudi) sebagai libur nasional, melarang simbol-simbol Kristen di sekolah-sekolah dan kantor-kantor pemerintah, dan melarang Presiden Amerika disumpah dengan kitab Injil Perjanjian Baru karena Yahudi tidak mengakuinya sebagai kitab suci. Namun di sisi lain secara kontroversi ADL berhasil memaksa pemerintah Amerika menerima pembangunan menorah (simbol agama Yahudi) raksasa di depan Gedung Putih. Organisasi ini juga berhasil memaksakan Hate Crimes Law, yaitu UU yang melarang orang mengekspresikan ketidak senangannya kepada Yahudi dan homoseksual dengan ancaman hukuman badan bari pelanggarnya).

ADL kini tengah menggencarkan gerakan homonisasi di sekolah-sekolah Amerika melalui program bernama “World of Difference”. Melalui program ini sampai saat ini ada 375.000 guru sekolah dan 12 juta siswa sekolah yang menerima indoktrinasi tentang kewajaran homoseksual. Program-program sejenis yang dilakukan ADL adalah “Making Diversity Count” dan “No Place for Hate”. Program terakhir adalah mengkampanyekan homoseksual di rumah-rumah dengan menganjurkan orang tua untuk menerima anaknya yang cenderung homo, menganjurkan orang tua menerima orang homo bertamu di rumah.

Akibat kampanye homonisasi dan Hate Crimes Law itu kini pelan tapi pasti Amerika berubah menjadi seperti Sodom dan Gomorroh. Setidaknya di sebuah sudut kota San Francisco setiap tahun diadakan sebuah festival homo dimana ribuan kaum homo berkumpul untuk berpesta dan melakukan aktivitas seksualnya secara terbuka di siang hari. Aktivitas seperti ini mulai merambah ke kota-kota lain di Amerika. Dengan didukung para pendidik terkenal program “Making Diversity Count” memberikan kursus 15 jam bagi para guru untuk menerima homoseksualitas di lingkungan sekolah.

Tragisnya tidak ada penolakan sedikit pun di kalangan guru di Amerika terhadap gerakan itu karena kuatnya pengaruh indoktrinasi istilah anti-semit di Amerika dimana seseorang yang mendapat predikat anti-semit (anti Yahudi) akan mendapatkan masalah besar berkepanjangan dalam karier dan kehidupan sosialnya.

Sementara itu gerakan homonisasi di Indonesia selain dilakukan oleh orang-orang seperti Musdah Mulia (saat ini) juga dilakukan oleh televisi-televisi swasta, terutama Trans TV dan Trans 7 yang sering menampilkan homo sebagai bintang acara seperti Dorce, Olga, Ruben, dll.

Keterangan gambar: Suasana festival homo di Kota San Francisco Amerika yang dilaksanakan setiap tgl 23 Juli. Anda mungkin tidak percaya sebagian dari orang-orang galam gambar di atas tengah melakukan aktivitas seks secara terbuka di tengah keramaian di siang bolong. (Mohon ma'af gambar di atas sebenarnya kurang baik. Namun demi penyadaran masyarakat gambar itu sengaja kami tampilkan)

Saturday, 27 September 2008

Pemimpin Sempurna Negeri Penjahat


Bulan ini negara Israel mempunyai pemimpin baru, Perdana Menteri Tzipi Livni. Meski berjenis kelamin wanita, namun tidak ada seorangpun di Israel yang meragukan peluangnya menduduki kursi perdana menteri. Ia adalah orang yang paling memenuhi syarat untuk menjadi pemimpin pemerintahan Israel: sebagaimana para pendahulunya, tangan Livni berlepotan darah korban aksi-aksi teroris dan spionase yang dilakukannya. Dalam urusan ini Livni bahkan lebih legitimate dibandingkan para pendahulunya karena ia adalah keturunan sepasang perintis terorisme Israel: Eitan Livni (pimpinan operasi organisasi teroris Irgun yang banyak membunuhi warga Inggris dan Arab menjelang dan setelah berdirinya negara Israel) dan Sarah Rosenberg (anggota Irgun yang pernah merampok dan meledakkan kereta api).

Eitan bersama Menachim Begin (kemudian menjadi Perdana Menteri) terlibat dalam peristiwa peledakan King David Hotel di Jerusalem, markas pasukan Inggris di Palestina, yang menyebabkan 100 tentara dan pegawai sipil Inggris plus beberapa penduduk Arab tewas. Akibat aksinya itu Eitan ditangkap dan dihukum penjara selama 15 tahun, tapi kemudian berhasil lari.

Eitan dan organisasinya juga bertanggungjawab atas peristiwa pembantaian Deir Yassin tahun 1948. Dalam peristiwa itu 250 warga Palestina, termasuk wanita dan anak-anak, tewas dibantai meski sebelumnya penduduk Deir Yassin sudah mendapat jaminan keamanan dari Israel.

Eitan dan Sarah menikah tahun 1948, tahun yang sama dengan berdirinya negara Israel. Di makam Eitan masih terdapat lambang organisasi Irgun berupa tangan memegang senapan dan peta “Erez Ysrael”, Israel Raya, yang meliputi wilayah Palestina dan Yordania.
Zippy Livni sendiri benar-benar mewarisi darah kedua orang tuanya dengan menjadi agen Mossad. Salah satu aksinya adalah meracun Abdul Rasul, seorang ilmuwan Irak yang tengah belajar teknologi nuklir di Perancis pada tahun 1983.

"Ia tergabung dalam group elit Mossad,” kata Ephraim Halevy, mantan Direktur Mossad suatu ketika tentang kiprah Livni di Mossad tahun 1980 and 1984.
Simak baik-baik, Livni dan teman-teman se-negaranya tidak memiliki moralitas sedikitpun dengan membunuh seseorang di negara asing yang berdaulat seperti Perancis, apalagi “hanya” membunuhi warga Palestina.

Tahun lalu, selaku Menteri Luar Negeri, Livni meminta agar sekitar 7.400 pengungsi Yahudi Sudan diusir dari Israel dan menyebut mereka sebagai penyusup. Livni juga bertanggung jawab atas kebijakan Israel memblokade Gaza, satu wilayah Palestina yang dikelilingi Israel dan lautan. “Kesalahan” warga Palestina yang mengakibatkan blokade tersebut hanya karena mereka memilih Hamas sebagai pemimpin mereka. Tidak peduli proses pemilu Palestina berlangsung secara demokratis dan diawasi oleh masyarakat dunia.

Friday, 26 September 2008

Pelayaran Heroik Para Pembela Palestina


Suatu hari di akhir bulan Agustus 2008. Dua buah perahu kayu memulai pelayaran bersejarah yang heroik dari pelabuhan Cyprus menuju Gaza, wilayah Palestina yang tengah diblokade oleh Israel.

Pelayaran tersebut sangat bersejarah karena beberapa faktor sekaligus: bahaya yang mengancam para penumpangnya, muatan yang tidak terhingga nilainya di mata rakyat Palestina yang tengah menderita karena blokade Israel, serta dampak politik yang ditimbulkan oleh misi pelayaran tersebut bila berhasil menembus blokade Israel.
Dua perahu kayu itu memuat bantuan kemanusiaan untuk rakyat Palestina di Gaza. Kedua perahu masing-masing bernama SS Free Gaza dan SS Liberty (perahu terakhir diberi nama sesuai nama kapal perang Amerika yang diserang Israel dalam konflik Perang Enam Hari antara Israel dan Arab). Perahu dan isinya dibeli oleh sekelompok individu dari 46 negara yang peduli dengan penderitaan rakyat Palestina. Mereka menamakan kelompok mereka Free Gaza Movement.

Khawatir dengan dampak misi pelayaran tersebut Israel berupaya keras untuk mencegah kedua kapal tersebut melaksanakan misinya. Yang pertama dilakukan adalah dengan ancaman untuk menenggelamkan kedua pakal bersama penumpang dan isinya. Namun dengan pertimbangan Israel tidak mungkin berani menenggelamkan kapal sipil di tengah-tengah perhatian publik (para awak merekam setiap kejadian secara riel time dan menyiarkannya ke seluruh dunia melalui satelit), para awak kapal dan penumpangnya nekad meneruskan misinya.
Upaya kedua yang dilakukan Israel adalah dengan mengacaukan sistem komunikasi kapal di tengah-tengah pelayarannya. Namun upaya inipun gagal. Para awak kapal bahkan sempat mengadakan upacara penghormatan terhadap 34 pelaut Amerika yang tewas saat kapal USS Liberty diserang Israel tahun 1967.

Akhirnya pada tanggal 23 Agustus kedua perahu berhasil mencapai pantai Gaza dengan sambutan meriah ribuan penduduk Gaza. Menurut salah seorang penumpang, Greta Berlin, sebagaimana ditulis Pat Shannan dalam situs American Free Press 8 September lalu, sebanyak 50 perahu Palestina menyambut mereka, plus 200-ribuan penduduk Palestina yang menunggu di pantai.

Setelah membongkar muatan dan tinggal beberapa hari di Gaza, perahu kembali ke Cyprus dengan membawa 10 pelajar Palestina yang mendapat beasiswa di luar negeri namun terganjal oleh blokade Israel. Akhirnya kedua kapal berhasil kembali dengan selamat ke Cyprus tanggal 29 Agustus 2008.

Aksi heroik tesebut tentu saja sangat menyentuh hati, terutama di tengah-tengah ketidakpedulian masyarakat dunia terhadap nasib 1,4 juta warga Palestina di Gaza. Bahkan Mesir, negeri para ulama yang berbatasan dengan Gaza pun ikut memblokade Gaza karena tekanan Amerika dan Israel. Dan karena pengaruh lobby Yahudi yang menguasai media massa dunia pula maka peristiwa ini luput dari pemberitaan.

Namun keberhasilan Free Gaza Movement mendobrak blokade Gaza merupakan sebuah pertanda kemenangan dari kebenaran atas kedzaliman.

Wednesday, 24 September 2008

ISLAM ABANGAN MODEL KRATON


Di tengah-tengah maraknya kontroversi rencana penetapan Undang-Undang Pornografi dan Pornoaksi (UUPP) oleh DPR bulan September 2008 ini saya dikejutkan dengan aksi penentangan UUPP oleh GKR Hemas, permaisuri Sultan Hamengkubuwono XII.

Keterkejutan saya disebabkan karena saya terlanjur menganggap beliau sebagai seorang sosok yang santun, berkepribadian dan berakhlak mulia sebagaimana sering digambarkan oleh media-media massa. Mestinya beliau menyadari bahwa aksinya tersebut sangat melukai perasaan umat Islam Indonesia khususnya khususnya umat Islam Yogya yang sangat gigih memperjuangkan ditetapkannya UUPP sebagai filter untuk mencegah aksi-aksi pornografi dan pornoaksi yang mengancam akhlak dan moral manusia Indonesia. Apalagi kalau dilihat dalam konteks politik dimana sang suami tengah mencari jalan (meski masih malu-malu) untuk tampil menjadi presiden Indonesia pada Pemilu 2009, langkah GKR Hemas dapat menghambat langkah sang suami.

Namun keterkejutanku tidak berlangsung lama mengingat bahwa Kraton sebagai pusat kekuasaan dan budaya Jawa telah tercatat lama sebagai pusat kekuatan anti perkembangan Islam sehingga Islam di tanah Jawa, khususnya di daerah-daerah dimana Kraton masih memegang kekuasaan spiritual seperti sekitar Solo-Yogya, pesisir selatan dan Jawa bagian tengah, Islam hanya tumbuh maksimal sebagai agama budaya bernuansa Hindu yang dikenal sebagai Islam Abangan.

Hal ini tampak jelas pada literatur-literatur dan karya-karya sastra Kraton yang sangat jauh dari nilai-nilai Islam dan hanya menampilkan Islam sebagai sebuah ritual budaya tanpa makna. Di sana-sini dalam literatur-literatur dan karya sastra Jawa kuno dipenuhi dengan pornografi. Mungkin Anda masih ingat cerita kasus publikasi buku sasta Jawa Darmogandhul Gatoloco tahun 1960-an yang menghebohkan Indonesia. Buku sastra Jawa berbalut pornografi yang menghinakan Islam itu diprotes keras umat Islam Indonesia hingga kemudian dilarang pemerintah. Namun tahun 2000-an lalu saya melihat buku ini diterbitkan kembali di Toko Buku Gramedia dan tidak ada protes masyarakat sama-sekali.

Buku sastra Jawa kuno lainnya yang pernah saya baca adalah Babad Sultan Agung. Dalam buku itu digambarkan bahkan seorang Sultan Agung yang dikenal sebagai raja yang paling Islami, yang menunaikan ibadah Haji dan selalu mengenakan peci, ternyata adalah penganut paham seks bebas. Kegiatannya selain bersemedi dan terbang melayang-layang keliling dunia, adalah bercengkerama dengan kekasih gelapnya, Roro Kidul.

Dalam kadar yang lebih rendah dari Darmogandhul, Babad Sultan Agung dipenuhi dengan pelecehan terhadap simbol-simbol Islam. Diceritakan dalam Babad Sultan Agung suatu hari Sultan Agung terbang ke Mekkah untuk beribadah di depan Ka’bah. Saat tiba ternyata ia tertinggal oleh jema’ah lain sehingga hanya mendapat tempat di bagian belakang. Di deretan paling depan ditempati para wali dan empat Imam: Hanafi, Syafi’i, Maliki, Hambali. Karena berada di belakang, Sultan Agung berdo’a dalam keadaan marah. Akibatnya Ka’bah terangkat ke atas. Melihat itu para wali dan Imam terheran-heran dan mencari tahu ada apa gerangan. Setelah tahu keberadaan Sultan Agung, mereka meminta ma’af kepadanya dan memintanya untuk duduk di depan. Baru kemudian Ka’bah bisa turun kembali ke bumi.

Dalam episode lain diceritakan Sultan Agung sengaja membunuh pembantu perempuannya yang lalai. Oleh hakim agama ia dijatuhi hukuman qhisos yang eksekusinya dilakukan sendiri oleh hakim agama. Ternyata eksekusi tidak dilaksanakan meski berkali-kali dicoba. Akhirnya justru hakim agama yang harus meminta ma’af kepada raja.

Kerajaan Mataram juga mencatat sejarah hitam sebagai penghancur kebudayaan Islam Jawa yang telah dirintis oleh kerajaan Demak. Alih-alih mempertahankan Jawa sebagai kerajaan maritim Islam yang disegani, Mataram lari ke pedalaman dan memilih menjadi negara agraris berselubung mistis. Untuk menutupi kelemahannya dalam aspek kemaritiman, penguasa dan sastrawan Mataram mengarang cerita "Roro Kidul Penguasa Laut Selatan". Raja-raja Mataram juga membenci Islam sebagai kekuatan sosial politik. Mereka menyerang Giri dan Tembayat, pusat-pusat pertumbuhan Islam. Raja Amangkurat I juga membantai para ulama karena takut wibawanya tersaingi oleh para ulama.

Babad Sultan Agung juga dipenuhi dengan cerita-cerita porno yang dilakukan kerabat istana, terutama sang putra mahkota. Diceritakan menjelang pernikahan putra mahkota, Sultan Agung memerintahkan dilakukan suwuk, alias pelatihan kehidupan rumah tangga, termasuk persetubuhan, selama beberapa hari dengan pelatih seorang pelacur profesional. Kemudian di tengah-tengah pesta pernikahan sang putra mahkota berselingkuh dengan ibu mertuanya sendiri sebelum meniduri istri barunya. Dalam satu malam putra mahkota meniduri dua perempuan anak beranak.

Kehidupan kotor istana Kraton juga tertulis gamblang dalam novel Trilogi Roro Mendhut karya YB Mangun. Disebutkan dalam novel tersebut bahwa raja Mataram Amangkurat I yang tidak lain adalah anak kandung Sultan Agung hidup dalam istana khusus di tengah-tengah ribuan wanita, tanpa seorangpun saingan laki-laki. Para pengawal pribadi raja adalah sepasukan wanita muda perawan berjumlah 30 orang yang disebut Trinisat Kenya (30 orang perawan) yang siap dipetik keperawanannya kapan saja dan dimana saja oleh raja sebelum dipersembahkan sebagai hadiah untuk bawahannya yang setia.

Semua urusan pribadi raja, termasuk mandi, dilayani oleh para pelayan wanita, selir dan permaisuri. Setiap sore para selir diperintahkan mandi di kolam sementara raja mengintip dari bilik khusus untuk menentukan selir mana yang akan menemaninya tidur, satu, dua, tiga atau bahkan sepuluh orang sekaligus. Para selir yang tidak pernah disentuh raja akan mencari pelampiasan sendiri, menjadi lesbian, atau selingkuh dengan siapa saja yang bisa didapat.

Ini adalah satu cerita terkenal di jaman raja kedua Mataram Sultan Hanyokrowati: Suatu malam seorang badut istana yang berperawakan cebol menyelinap ke istana raja yang sedang berburu di luar istana. Sang badut mengenakan jubah raja dan di tengah kegelapan menggilir satu per-satu para selir termasuk permaisuri. Kejadian ini terjadi berhari-hari sampai akhirnya ketahuan orang yang menggilir para wanita istana adalah badut istana (atau selama itu para wanita itu pura-pura tidak mengetahui siapa yang “mengerjai” mereka). Bukannya dihukum mati, sang raja yang takut dengan kesaktian sang badut membiarkannya hidup bebas hingga sang raja sendiri meninggal terlebih dahulu di tengah kehinaan harga dirinya, dengan cara yang tidak kalah hina, yaitu diseruduk banteng buruannya sendiri.

Jadi kalau kemudian GKR Hemas, seorang bangsawan tinggi Jawa, melakukan aksi penentangan pelarangan pornografi dan pornoaksi, ia hanya meneruskan tradisi leluhurnya.

Keterangan gambar: GKR Hemas dalam ritual perkawinan putrinya.

Sunday, 21 September 2008

Remembering The Sabra & Shatilla Massacre


By Mahmoud El-Yousseph
davidduke.com

Sabra and Shatilla are two Palestinian refugee camps in Beirut, Lebanon where over two thousand Palestinians were massacred during three days in September 1982 by hundreds of Lebanese Phalange and Haddad militiamen with the aid and support of the Israeli Defense Forces.

During the 1982 Israeli invasion into Lebanon and siege of Beirut, U.S. Envoy Phillip Habib managed to have a written agreement whereby Palestinian fighters would leave Lebanon, providing a U.S. guarantee to the safety of Palestinian refugees left behind in the camps.

After Palestinian fighters evacuated Lebanon, the Israeli army sealed off Sabra and Shatilla refugee camps and established a command post at the Kuwaiti embassy, a seven-story building over looking both camps.

Present at the command post were the primary architects of the atrocity: Israeli Defense Minister Ariel Sharon and Chief of Lebanese Forces Intelligence Elie Hobeika, along with high-ranking Israeli army officials.

In the early morning of September 16th, the Israeli army allowed bloodthirsty armed militiamen to enter the camps, provided with weapons, bulldozers, and communication equipment. They were also given hashish and heroin to help them maintain “courage.” For 48 hours, the militia participated in wholesale slaughter and rape. Women and children were not spared. The Israeli army lit the skies over the camps by firing flares during the nights, and also prevented residents of the camp from escaping . A group of refugees who reached the one of the Israeli checkpoints were ordered by soldiers to return back into the camp – even though they told soldiers that people are being slaughtered inside. This encounter was documented by a Scandinavian news crew.

Ellen Siegel was an American nurse from Baltimore who volunteered at Gaza hospital in Sabra camp. She was rounded up with 20 other foreign medical personal. Upon hearing the radio communications that the butchers inside the camp were ready to execute all of them, an army officer stopped the order and ran back to the camp to rescue Miss Siegel and another female nurse from Holland. The rest were lined up against the wall and executed. Miss Siegel was among 3 Americans who testified in the Kahane Commission, the Israeli official inquiry into the massacre.

No adjectives exist to describe this heinous atrocity. This crime was beyond all human and moral comprehension. However, an American journalist and researcher, Janet Stevens was among the first people to visit both camps the day after this ugly crime. She wrote the following testimony to her American friend Franklin Lamb:

“I saw dead women in their houses with their skirts up to their waists and their legs spread apart; dozens of young men shot after being lined up against an alley wall; children with their throats slit, a pregnant woman with her stomach chopped open, her eyes still wide open, her blackened face silently screaming in horror; countless babies and toddlers who had been stabbed or ripped apart and who had been thrown into garbage piles.”

As the news and images of the massacre were broadcast worldwide, shockwaves, anger, and resentment were felt everywhere. I do remember exactly having the same feeling during the 9/11 terrorist attacks. In fact there were a lot similarities: The number of casualties almost the same, in both cases the victims were innocent civilians, and the perpetrators of both crimes were ruthless and did not value human life.

In Israel , 400,000 protesters took part in a peace rally in Tel Aviv demanding the resignation of Ariel Sharon and demanded he should be tried for war crimes.

An Israeli commentator denounced Sharon ’s complicity into the massacre in a commentary which said in part, “…you can’t toss a snake into a cradle, then act surprise when the baby gets bitten.”

Meanwhile the Kahane Commission in Israel turned out to be a “kangaroo court” where the outcome was essentially predetermined, and the process was compromised. Several high-ranking military officers were found negligent, got a slap on the hand and later promoted. Sharon was forced to resign as the defense minister, and was barred for life from holding public office. Despite all of this, Israelis elected him in 2001 as their prime minister. In 2005, President Bush called this certified war criminal as “a man of peace”. “The butcher of Beirut” would have been more accurate title to describe Ariel Sharon.

Eluding Justice: What happened to the victims and those responsible for the massacre 25 years later is mind-boggling.

* On June 18, 2001, several victims and other relatives sued Ariel Sharon for war crimes in a Belgium Court. But under pressure from U.S. and Israeli governments, Belgium dropped the case as inadmissible. According to Franklin Lamb, Belgium scrapped the case after US Secretary of Defense then, Donald Rumsfeld, told Belgium: “It is your goddamned Sharon Trail or NATO Headquarter, you choose!”

* All militiamen who took part in the killing received amnesty from the Lebanese government.

* Elie Hobeika was killed in a car bomb in Beirut 20 years after the massacre. His killing took place days after he gave an interview threatening to turn more damning evidence against Ariel Sharon in the Belgium Court.

* Two of Hobeika’s top lieutenants were assassinated in a separate incidents

*Ariel Sharon suffered massive stroke in 2006 that ended his political career. Later, Israel ’s cabinet declared Sharon officially “permanently incapacitated” until this day.

Finally, remember the 3 Americans who testified in the Kahane Commission?

Janet Stevens was killed during the 1983 bombing of the US Embassy in Beirut. She was pregnant with her first child, a baby boy. Mrs. Stevens went into the Embassy to seek more aid for the Lebanese people in the south and Palestinians in Beirut who were affected by the Israeli invasion and by the massacre. Mrs. Stevens’ best friend, Franklin Lamb is a prominent researcher and author, frequently writing about the Middle East. Their work and sacrifices for human rights represent America ’s pretty face.

Ellen Siegel continues to write letters, make calls, and write op ed. pieces to bring justice for the victims of the Sabra and Shatilla massacres and to promote genuine peace between Palestinians and Israelis. I had the privilege of meeting her in 1985 in a Washington, D.C. hotel lobby.. She has returned to Lebanon several times. She is currently in Lebanon for the 26th anniversary of the massacre to stand in solidarity with the Palestinians. To honor the and pay tribute the victims and their loved ones, she will be placing roses on the soil of the mass grave of the victims, and intend to silently recite Kaddish, the Hebrew prayer for the dead.

Mahmoud El-Yousseph
USAF Retired Veteran
Readers feedback: elyousseph6@yahoo.com

“If you think you are too small to be effective, you have never been in bed with a mosquito.” Italian Peot - Dante [1265-1321]

MUSTAFA KEMAL “ATTATURK”



Pada waktu saya duduk di bangku SMP dan mulai menaruh perhatian kepada pelajaran sejarah dunia, Mustafa Kemal adalah salah satu figur pemimpin dunia yang penulis kagumi sebagaimana nama-nama lain seperti Ratu Elizabeth I dari Inggris, George Washington dari Amerika, ataupun Peter the Great dari Rusia. Buku-buku sejarah yang penulis baca semuanya secara seragam menulis Mustafa Kemal sebagai “Bapak Turki” yang berhasil mengubah negara Turki dari negara terbelakang menjadi negara modern. Dalam hal ini aku tidak berlebihan karena bahkan Presiden Soekarno secara terbuka menyatakan kekagumannya pada Attaturk ini.

Namun seiring pertumbuhan nalar dan rasio saya plus semakin banyaknya iinformasi yang bisa didapat, pendapat tersebut telah saya buang jauh-jauh. Istilah “Bapak Turki” atau “Ataturk” yang dialamatkan kepada Mustafa Kemal saya anggap justru menjadi aib dalam sejarah manusia yang dibuat oleh sejarahwan kotor dan dilemparkan ke wajah rakyat Turki. Alasan penulis sederhana saja: seorang yang telah merubah bangsa dan negaranya yang kuat dan dihormati menjadi bangsa dan negara kelas dua, maka orang tersebut adalah pengkhianat yang layak dihukum gantung. Dan itu ada pada diri Mustafa Kemal.

Sebelum menjadi negara “modern” Turki adalah negara superpower. Luas negaranya tak tertandingi, tentaranya ditakuti dan disegani negara lain, ilmu pengetahuannya sangat tinggi, dan rakyatnya makmur. Ini semua adalah fakta yang tidak bisa dibantah siapapun. Namun setelah menjadi negara “modern” di bawah kepemimpinan Kemal, Turki turun kelas menjadi “negara dunia ketiga”, alias negara yang baru berkembang. Di mata sesama negara Eropa pun sampai saat ini Turki dianggap sebagai “negara kelas dua”, sehingga upayanya untuk bisa diterima menjadi anggota Uni Eropa pun terkatung-katung.

Namun bukannya dihukum gantung, Kemal justru mendapat penghormatan yang luar biasa yang tidak diterima oleh siapapun dan dimanapun hingga di setiap kota di Turki tidak ada satupun yang tidak ditemukan patung orang ini. Ajarannya tentang sekularisme dianggap para pendukungnya sebagai dogma yang tidak bisa ditawar-tawar lagi hingga ketika seorang muslim muncul sebagai pimpinan setelah melalui proses pemilu yang demokratis, mereka tidak malu untuk melakukan kudeta.

Mustafa Kemal adalah figur yang kontroversial. Tidak hanya karena tindakan politiknya yang menghancurkan Islam sebagai sendi-sendi dan tulang punggung bangsa Turki selama seribu tahun lebih, namun juga karena asal-usulnya yang diduga kuat sebagai Yahudi. Para penulis sejarah seperti sengaja menyembunyikan fakta siapa sebenarnya Kemal. Namun sebuah ensiklopedi Israel, Israeli Entsiklopedya ha-Ivrit, sedikit menguak sisi gelap Kemal. Menurut ensiklopedi tersebut Kemal adalah:

Seorang jendral dan negarawan dan pendiri negara Turki modern. Lahir dari keluarga pegawai rendahan bea cukai Salonika (sebuah kota di Turki yang terletak di benua Eropa) dan ditinggalkan bapaknya saat ia berusia sangat muda. Ada kepercayaan di antara sebagian orang Yahudi dan Muslim di Turki bahwa keluarganya berasal dari pengikut sekte Doenme.

Sekte Doenme adalah sebuah sekte rahasia etnis Sabbetaian, yaitu etnis Yahudi Turki yang menggunakan nama muslim dan melakukan ritual-ritual Islam, namun diam-diam percaya pada Sabbetai Zevi, seorang nabi palsu Yahudi abad 17, dan melakukan ritual-ritual sesat yang ditetapkan Sabbetai seperti pesta seks (orgie) pada hari-hari tertentu. Anak yang lahir dari upacara itu dianggap sebagai anak suci.

Lord Kinross yang buku biografinya "Ataturk" diterbitkan tahun 1964 hanya mengungkapkan sedikit latar belakang keluarga Attaturk yang misterius. Di antaranya disebutkan Attaturk lahir di Selonika, Semenanjung Balkan yang berbatasan dengan Albania. Wilayah ini merupakan pusat komunitas Yahudi Turki.

Namun rahasia terbesar diungkapkan oleh penulis dan jurnalis terkenal Itamar Ben-Avi, anak laki-laki Eliezer Ben-Yehuda, tokoh Yahudi Palestina abad 19. Ben Avi bercerita suatu hari di tahun 1911 bertemu dengan Attaturk di Kamenitz Hotel, Jerussalem. Saat itu, papar Ben Ali, Attaturk yang merupakan seorang perwira muda Turki, tengah menenggak arak. Dalam pertemuan tersebut Kemal mengaku sebagai keturunan Sabbetai, seorang nabi palsu yang kenabiannya ditolak oleh sebagian besar orang Yahudi.

Attaturk wajar saja menyembunyikan latar belakang keluarganya karena kontroversi sekte Doenme yang oleh orang Yahudi kebanyakan saja dimusuhi, apalagi oleh orang Islam yang merupakan penduduk mayoritas Turki.
Menjelang Perang Dunia I komunitas ini berjumlah sekitar 15.000 di Selonika. Mereka hanya menikah dengan sesama anggota sekte. Menurut Yitzchak Ben-Zvi, presiden kedua Israel, dalam bukunya tentang sekte-sekte Yahudi yang terasing “The Exiled and the Redeemed” bab “Keturunan Suci” mengungkapkan:

Setahun sekali dalam hari suci Sheep holiday , lilin-lilin dinyalakan dan upacara orgie dimulai. Upacara itu dilaksanakan pada malam ulang tahun kelahiran Sabbetai Zevi. Dipercaya anak-anak yang lahir dari upacara itu dianggap sebagai anak suci.

Ben Zvi percaya upacara seperti itu sampai sekarang masih dilakukan sembunyi-sembunyi oleh komunitas Deonme di Turki. Komunitas ini berbondong-bondong meninggalkan Selonika semasa Perang Turki-Yunani tahun 1920-1921, dan keturunannya, sebagian menjadi pengusaha besar, politisi dan jendral Turki. Mereka-lah pengusung paham sekularisme yang saat ini tengah bergulat melawan Perdana Menteri Reccep Erdogan yang hendak mengembalikan daulah Islam di Turki.

Tuesday, 16 September 2008

ARUS BALIK ISREAL


“Cita-cita mewujudkan negara Israel Raya kini tidak relavan lagi. Siapa saja yang masih memimpikannya hanyalah menipu diri sendiri.”
(Perdana Menteri Israel Ehud Olmert dalam sidang kabinet awal September 2008)



Jerman sebelum Perang Stalingrad dalam Perang Dunia II, adalah kekuatan yang tak terkalahkan. Setelah menganeksasi Austria, mencaplok Chekoslovakia dan menginvasi Polandia, Jerman semakin tak terbendung dengan menguasai Skandinavia, Baltik, Belgia, Belanda, Luxemburg dan Perancis, negara-negara Balkan hingga Yunani, serta Afrika Utara. Dengan kemenangan-kemenangan yang relatif mudah itu Jerman semakin percaya diri untuk menyerang Uni Sovyet.

Serangan Jerman yang diberi sandi “Operasi Barbarossa” ini dimulai bulan Juni 1941 dengan tujuan menghancurkan kekuatan militer Sovyet melalui taktik serangan kilat blitzkrieg. Diharapkan dengan kehancuran tersebut Sovyet tidak mempunyai kekuatan lagi untuk melawan Jerman dan bersedia memberikan konsesi yang menguntungkan Jerman.

Pada mulanya pasukan Jerman dan sekutunya yang berkekuatan 190 divisi tentara dan tank serta didukung 5.000 pesawat tempur, memperoleh kemenangan yang gilang gemilang. Hanya dalam waktu 20 hari Jerman berhasil menerobos perbatasan Sovyet sejauh 400-600 km sepanjang front yang membentang dari Laut Hitam di selatan hingga Laut Baltik di utara. Dalam waktu kurang dari satu bulan kota Leningrad terkepung dan Moskow pun terancam, namun musim dingin menyelamatkan kedua kota penting Sovyet itu.
Pada musim panas bulan Juni tahun berikutnya Jerman melancarkan strategi baru, sembari meneruskan tekanan terhadap Leningrad dan Moskow, Jerman menyerbu ke selatan Sovyet untuk menguasai kawasan Kaukasus yang kaya minyak, serta kawasan delta Sungai Don dan Sungai Volga yang subur dan menjadi sumber pangan utama Sovyet. Strategi menguasai wilayah selatan Sovyet ini semakin penting mengingat di wilayah ini juga terdapat kota industri sekaligus pusat komunikasi dan transportasi Sovyet, Stalingrad.

Untuk melaksanakan strategi itu Jerman dan sekutunya mengerahkan hingga 266 divisi tentara. Separoh dari kekuatan itu diarahkan ke Kaukasus dan sisanya ke kawasan Sungai Don dan Sungai Volga dimana terdapat kota Stalingrad. Pada bulan Agustus dua pasukan besar Jerman, 6th Army dan 4th Panzer Army serta beberapa unit pasukan Italia dan Rumania, memasuki dan mengepung Stalingrad. Setelah melalui pertempuran sengit, pasukan berkekuatan 330.000 tentara dan ratusan tank itu berhasil menguasai 90% wilayah Stalingrad, namun gagal menguasai sisanya karena kegigihan perlawanan tentara dan rakyat Uni Sovyet.

Kemudian pada bulan November 1942 Sovyet melakukan counter offensive dan pada tanggal 23 berhasil mengepung pasukan Jerman yang sedang mengepung kota. Berbagai upaya dilakukan Jerman untuk menyelamatkan pasukan mereka, termasuk mengirimkan pasukan pembebas, namun gagal. Akhirnya setelah dua bulan terkepung oleh musuh serta hantaman musim dingin yang membekukan, sisa pasukan Jerman sebesar 90.000 tentara yang dipimpin panglimanya Field Marshal Von Paulus, menyerah.

Kekalahan di Stalingrad menjadi titik balik dari kejayaan Jerman. Kekalahan itu membuat moral pasukan Jerman runtuh. Sebaliknya moral pasukan Sovyet semakin tinggi sehingga secara pelan namun pasti Sovyet berhasil membalikkan keadaan dan mengusir pasukan Jerman dan menghancurkan pasukan itu di negerinya sendiri.

Tentara Israel sebelum Perang Israel vs Hezbollah bulan Juli hingga Agustus 2006 lalu adalah tentara yang tak terkalahkan oleh tentara Arab. Dalam lima kali perang antara Israel melawan bangsa-bangsa Arab, Israel tidak terkalahkan, sebaliknya mereka hampir selalu menang secara gemilang. Tahun 1948 Israel berhasil mematahkan ofensif pasukan negara-negara Arab dan mengusir bangsa Palestina dari tanah airnya. Pada perang tahun 1967 hanya dalam enam hari Israel berhasil menghancurkan angkatan udara Mesir, Siria dan Yordania dan merebut sebagian besar wilayah ketiga negara tersebut: Sinai dan Gaza milik Mesir, Dataran Tinggi Golan milik Siria, dan Tepi Barat Sungai Yordan termasuk Kota Jerussalem yang disucikan oleh ummat Islam yang sebelumnya dikuasai Yordania. Dalam perang Yom Kippur tahun 1973 Israel mematahkan ofensif Mesir dan Siria yang didukung negara-negara Arab lainnya sekaligus mengancam ibukota Siria, Damaskus dan ibukota Mesir, Kairo. Pada tahun 1982, hanya dalam waktu satu minggu serbuan ke Lebanon, Israel berhasil mencapai ibukota Beirut dan mengepungnya selama berhari-hari. Ofensif tersebut berhasil meraih tujuan yang diharapkan, yaitu mengusir para pejuang Palestina dari Lebanon.

Namun dalam perang melawan Hezbollah, satu kelompok pejuang “swasta” yang berkekuatan hanya 5.000 –an tentara, Israel mengalami kekalahan yang memalukan. Setelah satu bulan lebih menyerbu dengan lebih dari 30.000 pasukan dan ratusan tank, Israel hanya berhasil memasuki Lebanon beberapa ratus meter saja dari perbatasan. Sementara mereka harus kehilangan 123 tentara, 124 tank, 4 helikopter Apache, satu kapal patroli, satu kapal perang dan puluhan kendaraan perang.

Memang secara kuantitatif kekalahan itu tidak memberikan dampak berarti bagi kemampuan militer Israel yang mendapat dukungan tanpa batas dari Amerika. Namun hal itu cukup untuk meruntuhkan moral mereka. Sebaliknya bagi Arab, kemenangan itu sungguh sebagai suatu yang sangat berharga yang mampu membangkitkan kembali rasa percaya diri mereka dalam menghadapi konflik berikutnya melawan Israel. Berbagai komentar pun muncul di media massa Arab.

“Ini adalah pertama kalinya bangsa Arab bertempur dengan benar dan gigih dan menang sekaligus memberikan kekalahan kepada Israel, secara militer, ekonomi, moral dan politik. Kekalahan Israel di Lebanon ini sangatlah besar dampaknya. Dan Hizbullah… akan tetap menjadi bagian dari pemerintahan Lebanon dan sekarang telah menjadi pahlawan bagi dunia Arab, ” kata kolumnis Badrya Darwish dalam editorial Kuwait Times.

Para pengamat politik dan ahli strategi memandang kekalahan Israel ini sebagai sebuah momentum yang sangat penting yang akan memberikan inspirasi kepada kebangkitan bangsa Arab khususnya dan ummat Islam umumnya. Hampir dapat dipastikan dalam waktu tidak lama lagi akan terjadi perubahan peta politik di negara-negara Arab. Regim-regim “moderat” yang pro-Israel/Amerika seperti Arab Saudi, Mesir, Yordania, dan negara-negara teluk mau tidak mau harus merubah orientasi politiknya menjadi lebih keras kepada Israel dan Amerika atau mereka akan ditinggalkan rakyatnya sendiri.
Selain kekalahan perang, tanda-tanda kekalahan Israel tampak pula dalam konteks hubungan internasional. Venezuela, sebagai protes atas kekejaman Israel di Lebanon, menarik pulang perwakilannya di Israel. Sementara itu langkah lebih keras ditunjukkan oleh Costa Rica dan El Salvador, dua negara terakhir yang masih menempatkan kedutaan besarnya di Kota Jerussalem, kota pendudukan Israel yang diklaim Palestina dan diakui PBB sebagai bagian dari Palestina. Costa Rica dan El Salvador telah memindahkan kedutaan besarnya dari Jerussalem ke Tel Aviv tidak lama setelah Perang Lebanon pecah.

Namun kekalahan telak Israel di Lebanon terjadi dua tahun kemudian setelah rejim penguasa Lebanon yang didukungnya, tumbang di tangan Hizbullah dan diganti regin baru yang pro-Hizbullah dan pro-Syria, musuh utama Israel di Timur Tengah selain Iran.

Setiap bangsa, mempunyai umur. Setelah lahir, tumbuh, dan berjaya, bangsa tersebut akan mengalami titik balik sebelum runtuh. Hal itu terjadi di mana-mana sepanjang sejarah. Bangsa Babilonia, Mesir, Yunani, Romawi, Persia, Arab, Franka, Inggris, Ottoman, Nazi Jerman telah mengalaminya. Kini tampaknya gilirannya Israel dan Amerika.

Keterangan foto: Tentara Israel sering meledek tentara Arab sebagai "pengecut yang berlarian bila mendengar suara gemuruh tank". Namun dalam Perang Lebanon II tahun 2006 tentara Hizbullah berhasil menghancurkan puluhan tank Merkava Israel yang terkenal tangguh.

Monday, 15 September 2008

LANGKAH MUNDUR BERKELANJUTAN PAMAN SAM


(Refleksi 7 th Tragedi WTC)

Peristiwa tragedi WTC secara telanjang dipenuhi oleh berbagai rekayasa. Misalnya tidak adanya reruntuhan pesawat di gedung Pentagon yang menurut keterangan pemerintah Amerika dihantam pesawat jet berbadan besar, serta model keruntuhan gedung WTC yang hanya mungkin disebabkan ledakan bom penghancur bangunan tinggi. Fakta misterius lainnya adalah lumpuhnya sistem pertahanan udara Amerika terutama di sekitar kota-kota penting Amerika yang hanya bisa dilakukan oleh otoritas pertahanan tertinggi Amerika sendiri. Hal tersebut masih ditambah dengan fakta bahwa Kongres sebagai lembaga legislatif Amerika tidak pernah membentuk tim penyidik independen sebagaimana dilakukan pada peristiwa-peristiwa besar lainnya, serta dirahasiakannya isi kotak hitam yang merekam data-data penerbangan pesawat-pesawat yang menabrak gedung WTC. Semuanya memperkuat analisis bahwa Amerika merancang tragedi itu untuk melegitimasi kebijakan politiknya: perang melawan terorisme dalam rangka memperkuat hegemoni Amerika di dunia.
Tragedi WTC memberi momentum tak ternilai bagi Amerika untuk “menguasai” dunia. Dengan alasan “perang melawan terorisme” dan “menegakkan demokrasi” Amerika sukses menduduki negara-negara yang dianggap membahayakan kepentingannya seperti Afghanistan dan Irak. Amerika sukses merancang gerakan revolusi di beberapa negara untuk mendudukkan pemerintahan bonekanya: Revolusi Cedar di Lebanon, Revolusi Mawar di Georgia, dan Revolusi Orange di Ukraina (dua revolusi terakhir berhasil menghilangkan pengaruh Rusia di dua negara bekas Uni Sovyet, Georgia dan Ukrainia).
Amerika juga sukses menabuh genderang isu flu burung, SARS, dan kampanye anti barang-barang produk Cina -- bersama Rusia, Cina adalah dua negara besar yang berpotensi menghalangi hegemoni Amerika -- untuk mengurangi kekuatan ekonomi Cina
Amerika berhasil memaksa Presiden Pakistan Pervez Musharraf melakukan kebijakan keras terhadap komponen bangsanya sendiri yang menganut garis politik Islam. Selain itu Amerika berhasil menggiring dunia untuk memusuhi Iran atas hakya mendapatkan teknologi nuklir.
Di Indonesia selain berhasil memaksa pemerintah Megawati dan SBY ikut-ikutan menabuh genderang perang anti terorisme, Amerika berhasil memaksa Indonesia ikut memusuhi Cina melalui kampanye anti produk obat-obatan Cina. Menyadari pemerintah Indonesia sudah dijinakkan bak kerbau dicocok hidungnya, Amerika berani melanggar kedaulatan wilayah Indonesia secara provokatif dan mempermainkan Presiden Yudhoyono saat Presiden Bush membatalkan kunjungan ke Istana Bogor sementara Yudhoyono dengan susah payah dan menahan malu telah menyediakan landasan helikopter berharga mahal di Istana Bogor. Amerika juga sukses memaksakan aspirasinya dalam beberapa produk hukum Indonesia (termasuk UU Migas) hingga memaksakan penahanan Ketua MMI Ustadz Ba’asyir dan Ketua FPI Rizhieq Shihab. Pendek kata, Amerika merajalela di mana-mana.
Namun apalah artinya manusia di banding hukum Tuhan? Meski didukung dengan kekuatan militer yang superkuat, Amerika, pelan namun pasti mengalami langkah mundur dalam konstelasi politik dunia. Satu demi satu regim bonekanya bertumbangan: Regim Blok 14 Februari di Lebanon yang pro-Israel/Amerika, anti Hizbullah dan anti Syria diganti pemerintahan baru yang pro Hizbullah, pro Syria dan anti-Israel/Amerika, Pervez Musharraf tumbang dari jabatan presiden secara memalukan, regim boneka Nur Maliki di Irak berbalik menentang Amerika dan berani memaksa Amerika menjadwalkan penarikan mundur pasukannya.
Musuh-musuh potensialnya Amerika juga bangkit dari kelemahan (Rusia dan Cina yang membangun aliansi anti Amerika berhasil tumbuh menjadi kekuatan militer dan ekonomi yang kuat. Rusia bahkan secara de facto berhasil memukul regim pro Amerika di Georgia), dan di beberapa bagian dunia muncul pemerintah-pemerintah baru yang anti-Amerika: Bolivia, Ekuador, dan Venezuela (Pemerintah Bolivia dan Venezuela minggu ini dengan berani mengusir dubes Amerika karena tuduhan melakukan konspirasi menentang negara).
Amerika rupanya tidak mau belajar dari sejarah bahwa kekuasaan sebesar apapun, yang tidak digunakan untuk kebaikan, akan berakhir dengan tragis. Tragedi badai Katrina telah menjadi peringatan Tuhan. Hutang pemerintah yang semakin besar seiring semakin besarnya defisit belanja pemerintah dan defisit neraca perdagangan serta terus merosotnya nilai dollar juga menjadi peringatan lain. Rakyat Amerika pun mulai terobsesi dengan kehancuran negerinya -- buktinya banyak sekali muncul film-film dan novel-novel fiksi tentang kehancuran Amerika -- . Kita tunggu saja apakah kita akan beruntung bisa menjadi saksi sejarah keruntuhan sebuah imperium besar?

Keterangan foto: Gedung Pentagon yang hancur dalam peristiwa Tragedi WTC. Pemerintah Amerika menyatakan gedung tersebut dihantam oleh pesawat jet berbadan besar yang terlebih dahulu jatuh di halaman gedung, namun tidak ada reruntuhan pesawat yang terlihat. Rumput halaman gedung pun tampak tidak ada kerusakan sama sekali.

Thursday, 11 September 2008

Kebohongan Jurnalisme yang Terbongkar


Dua tahun lalu media massa di seluruh dunia, termasuk media massa Indonesia yang hanya mengcopy-paste media barat, gempar dengan pernyataan Presiden Iran Ahmadinejad yang akan “menghapus Israel dari muka bumi”. Menyusul ramai-ramai tuduhan media massa itu para pemimpin politik negara-negara barat mengecam pedas Ahmadinejad. Tidak hanya kecaman, kebijakan politik baratpun pun semakin keras kepada Iran.

Beberapa pihak yang lebih bijaksana mengkritik berita tersebut sebagai tidak berdasar. Hal ini berdasarkan karena kenyataan bahwa di Iran sendiri pemerintah melindungi hak-hak warga Yahudi yang minoritas. Di Iran terdapat sekitar 25.000 warga keturunan Yahudi yang hidup aman tenteram. Bahkan mereka mendapat hak perwakilan di parlemen Iran.

Banyak saksi mata yang hadir dalam acara konperensi pers Ahmadinejad –waktu membuat pernyataan tentang “penghapusan Israel”-- juga membantah berita-berita media massa tersebut. Menurut mereka Ahmadinejad hanya mengatakan bahwa ia percaya “seiring berjalannya waktu Israel akan berakhir sebagaimana Uni Sovyet”.
Dan kini terbuka sudah kebohongan berita-berita tentang pernyataan Presiden Iran tersebut setelah stasiun televisi C-Span menyiarkan secara utuh copy acara 60 Minutes yang aslinya disiarkan stasiun televisi CBS Amerika dua tahun lalu. Acara paling populer di Amerika itu ternyata melakukan penipuan publik dengan menghapus penjelasan Ahmadinejad tentang kontroversi pernyataannya tersebut. Akibat penghapusan tersebut publik Amerika mendapatkan persepsi bahwa Ahmadinejad benar-benar membuat pernyataan “penghapusan Israel”.

Wawancara itu sendiri sebenarnya sangat menarik karena sangat jelas bahwa Ahmadinejad merasa diintimidasi oleh pembawa acara 60 Minutes, Mike Wallace. “Saya merasa Anda marah kepada saya,” kata Ahmadinejad kepada Wallace dalam wawancara tersebut. Dalam kesempatan lain Ahmadinejad mengatakan, “Anda bebas mengajukan pertanyaan apa saja kepada saya, maka berikanlah saya kebebasan untuk menjelaskan menurut apa yang ada di pikiran saya.”

Potongan translasi wawancara tersebut lengkapnya adalah sbb:
WALLACE: …. Anda masih belum menjawab pertanyaan saya. Israel harus dihapuskan dari muka bumi. Mengapa?
AHMADINEJAD: Jangan terburu-buru. Saya akan sampai pada penjelasan itu.
WALLACE: Saya tidak terburu-buru.
AHMADINEJAD: Menurut saya pemerintah Israel adalah pemerintahan palsu. Mungkin Anda menginginkan saya mengatakan apa yang Anda inginkan saya untuk mengatakan?
WALLACE: Tidak.
AHMADINEJAD: Kalau memang demikian, saya harap Anda bersabar.
WALLACE: Saya katakan, saya akan bersabar.
AHMADINEJAD: Mungkin kata-kata ini tidak mengenakkan Anda tuan Wallace.
WALLACE: Mengapa? Kata-kata apa yang tidak ingin saya dengarkan?
AHMADINEJAD: Karena saya merasa Anda marah kepada saya.
WALLACE: Tidak, saya tidak bisa lebih senang bisa duduk bersama Presiden Iran.
AHMADINEJAD: Menurut saya pemerintah Israel adalah pemerintahan yang palsu …
(selanjutnya perkataan Ahmadinejad dihapuskan dalam siaran. Perkataan itu adalah:)
.… dan saya sudah mengatakan solusinya. Solusinya adalah demokrasi. Kami pernah mengatakan: biarkan rakyat Palestina mengadakan referendum untuk menentukan masa depan mereka. Apa yang kami katakan adalah demi perdamaian yang berkelanjutan. Kami menginginkan perdamaian di dunia. Perdamaian yang berkelanjutan hanya bisa tercapai jika keinginan rakyat terpenuhi. Jadi kami menganggap biarkan rakyat Palestina melakukan referendum untuk menentukan pemerintah yang diinginkan, dan tentu saja, perang juga akan berhenti. Mengapa Israel menolak proses ini berlangsung? Bahkan pemerintahan yang dipilih sendiri oleh rakyat Palestina (secara demokrasi) diserang setiap hari, dan para pejabatnya dibunuh dan ditangkapi. Kemarin ketua parlemen yang dipilih oleh rakyat Palestina ditangkap. Tidakkah Anda keberatan? Sampai kapan hal ini akan berlangsung?
(Pernyataan selanjutnya kembali disiarkan:)

Kami yakin masalah ini harus dipecahkan secara mendasar. Saya percaya pemerintah Amerika secara membabi buta telah mendukung pemerintahan penjajah (Israel). Amerika harus mengakhiri dukungan itu, membiarkan rakyat Palestina menentukan pemerintahnya sendiri. Siapapun yang terpilih, biarkan saja. Maka hasilnya adalah apa yang Anda katakan tadi.
WALLACE: Saya maksud saling menghargai. Mari kita sepakat. Saya akan mendengarkan jawaban Anda secara lengkap jika Anda mau menjawab semua pertanyaan saya. Namun saya khawatir kita akan kehabisan waktu.
AHMADINEJAD: Baik, Anda bebas bebas mengajukan pertanyaan apa saja kepada saya, selama saya diberi kebebasan untuk menjelaskan menurut apa yang ada di pikiran saya.”

Jutaan rakyat Amerika dan dunia yang menyaksikan siaran ini menyangka telah melihat wawancara keseluruhan, namun ternyata tidak. Ahmadinejad, jauh dari sangkaan orang tidak pernah mengancam Israel dengan senjata. Ia justru mengusulkan demokrasi sebagai solusi masalah Palestina-Israel. Perhatikan juga bahwa Wallace berjanji kepada Ahmadinejad untuk menyiarkan seluruh pernyataannya sementara kenyataannya justru menghapus pernyataan Ahmadinejad yang paling penting.

Inilah yang terjadi setiap hari atas rakyat Amerika. Mereka tidak pernah mendapat informasi yang sebenarnya karena seluruh media massa dikendalikan oleh sekelompok orang yang mendapatkan keuntungan dari konflik-konflik yang ada di seluruh dunia. Sekelompok orang itu pulalah yang telah mendorong Amerika melakukan perang ilegal di Afghanistan dan Irak hingga menguras pundi-pundi keuangan pemerintah dan rakyat Amerika dan mengorbankan nyawa ribuan pemuda Amerika. Sementara sekelompok orang itu mendapatkan keuntungan tidak terhingga dengan menjadi penyuplai kebutuhan perang Amerika.

Dunia sebenarnya telah memiliki pengalaman sangat banyak tentang peran media massa sebagai provokator perang. Mereka telah menjadi provokator semua peperangan di dunia seperti Perang Krim, Perang Dunia I, Perang Dunia II, dan Perang Terorisme. Kinipun mereka tengah memprovokasi Amerika dan barat untuk berperang melawan Rusia dan Iran.