Friday, 14 June 2013

HIKMAH KEHIDUPAN (2)

Semua orang, dengan berbagai tingkatan, pasti pernah mengalami masa-masa menegangkan dalam hidupnya. Misalnya saja, seorang anak yang bermusuhan dengan teman sepermainannya, pasti akan dihinggapi rasa takut setiap saat untuk bertemu musuhnya itu. Namun yang saya rasakan ini jauh lebih dari itu meski mungkin tidak sebesar perasaan rakyat Syria yang berada di tengah-tengah pemberontak teroris.

Masa hidup paling menegangkan saya terjadi ketika saya masih kuliah di sebuah PTN di Yogyakarta di tahun 1990-an. Saat itu saya tinggal di asrama koperasi mahasiswa (Kopma) di daerah Karanggayam, Sleman. Selama bertahun-tahun kehidupan di asrama sangat harmonis. Iklim sosial dan budaya Yogya yang "ayem tentrem" sangat mempengaruhi kehidupan di dalam asrama. Sedemikian "nyaman" kehidupan di asrama hingga ada beberapa mahasiswa yang terlena dan "lupa diri" dengan tugasnya, menjadi mahasiswa abadi hingga 10 tahun lebih.

Namun suasana harmonis itu berubah 180 derajat setelah adanya beberapa penghuni baru yang berasal dari luar Jawa, sebagian besar dari Indonesia Timur dan sebagian lagi dari Sumatera Utara. Saya bukannya anti terhadap orang-orang luar Jawa karena saya sendiri pun kini tinggal di luar Jawa dan menikmatinya, namun keberadaan mereka saat itu benar-benar telah membuat suasana menjadi menegangkan. Selain kebiasaan hura-hura di malam hari, mereka juga sering memancing perselisihan dengan para penghuni lama.

Yang paling menonjol di antara mereka adalah 2 orang, seorang berasal dari Sumbawa yang terkenal dengan peringainya yang kasar dan pemarah. Beberapa penghuni lama telah menjadi korban keganasannya dan babak belur dibuatnya, termasuk seorang mahasiswa senior yang telah lulus dan masih menumpang di asrama. Saya menduga karena wajahnya yang buruk rupa serta latar belakang sosial ekonomi yang kurang membuatnya merasa harus mengkompensasi kekurangannya dengan kelebihan fisik.

Suatu hari "gorila Sumbawa" ini (ia lebih sering bertelanjang dada menunjukkan otot-ototnya yang menonjol dan kulitnya yang legam daripada berpakaian rapi) memancing perselisihan dengan saya saat kami bermain bola plastik di lapangan mini di pekarangan asrama. Setelah berpura-pura tidak sengaja menendang tubuh saya, saya melihatnya tersenyum mengejek saya. Terpancing, saya pun membalas dengan menggarukkan tangan saya ke punggungnya dalam satu perebutan bola. Ternyata ototnya tidak sekuat yang dikira orang. Dengan mudah kuku saya mengelupaskan kulitnya dan merobek sebagian ototnya. Darah pun mengucur dari punggungnya. Sejak itu ia tidak lagi berani memandang wajah saya.

Namun yang paling berbahaya daripada "gerombolan si Berat" itu (mengambil nama gang penjahat dalam komik Donald Bebek) adalah pemimpinnya yang berasal dari Ambon. Selain keberaniannya berkelahi, ia juga diberi kelebihan kepemimpinan yang kuat, dan cukup intelek. Tidak heran jika ia menjadi pemimpin aktifis mahasiswa di kampusnya. Ia aktif dalam organisasi SMID, organisasi mahasiswa berfaham sosialis-komunis yang kini saya tahu merupakan turunan dari proyek "Open Society"-nya George Soros yang hendak mendemokratisasi dan mereformasi Indonesia.

Suatu hari pemimpin "gerombolan di Berat" itu melakukan tindakan penganiayaan berat terhadap seorang penghuni asrama senior hingga harus menjalani perawatan medis. Aksi tersebut sangat membuat syok seluruh penghuni asrama dan terutama pada korban penganiayaan, sedemikian rupa sehingga, meski anggota senior Resimen Mahasiswa, korban tidak berani memperkarakannya ke polisi.

Dari penuturan korban, diketahui bahwa pemimpin "gerombolan si Berat" itu, sebut saja inisialnya "A", melakukan penganiayaan karena marah setelah tindakannya menghamili teman kuliahnya bocor ke "publik". Korban mengaku melihat "tersangka" bersama teman wanitanya berada di klinik aborsi yang biasa melayani mahasiswi yang hamil di luar nikah. Saya bukan tipe orang yang suka menggosip. Namun kebersamaan yang terlalu intim antara sepasang remaja, selama berjam-jam setiap hari di dalam kamar asrama, tentu sangat beralasan untuk mempercayai gossip itu.

Tak tersentuh hukum, membuat "gerombolan si Berat" semakin menjadi-jadi. Teriakan-teriakan mereka di malam hari dengan ditemani minuman keras, semakin lantang saja. Tidak hanya itu, sesekali mereka juga melakukan pengrusakan terhadap fasilitas asrama.

Wednesday, 12 June 2013

IRAN, PEMENANG SEBENARNYA DALAM KONFLIK SYRIA

PENGANTAR:

Saya (blogger) sebenarnya tertarik untuk lebih banyak menulis tentang kondisi politik di Indonesia yang diwarnai dengan fenomena semakin menguatnya pengaruh zionis internasional di negeri ini: "kriminalisasi" PKS oleh KPK, kenaikan harga BBM, kunjungan politisi Golkar ke parlemen Israel, larangan Polwan berjilbab, pembunuhan para "teroris" tanpa proses pengadilan, pengaturan bunyi adzan di masjid-masjid, dll. Namun saya lebih tertarik lagi untuk mengamati fenomena dimana zionis internasional mulai "patah kakinya", yaitu di Syria.


***

Lagi-lagi Iran berhasil mempecundangi zionis internasional. Setelah Irak, yang dahulunya adalah musuh Iran, jatuh ke dalam pengaruh Iran paska penarikan pasukan Amerika, kini pengaruh Iran semakin kuat di Syria dan seluruh kawasan setelah regim Syria semakin menunjukkan tanda-tanda kemenangan.

Ketika milisi-milisi Hizbollah berhasil memainkan perannya sebagai "pengubah permainan" di medan perang Syria, negara patronnya, Iran, muncul sebagai pemenang terbesar dalam persaingan regional memperebutkan pengaruh antara Iran dan blok perlawanan anti-zionis melawan musuh-musuhnya.

“Ini merupakan kemenangan bagi kelompok Iran, Syria, Irak dan Hezbollah atas kelompok yang didukung Amerika.” Demikian pernyataan Mohammad Obaid, analis politik Lebanon, mengomentari kemenangan pasukan Syria di medan perang.

Sedangkan Mustafa Alani, Direktur lembaga kajian yang berpusat di Dubai, Gulf Research Council, menganggap saat ini medan perang di Syria telah berubah menjadi medan perangnya Iran. Bila Iran menang di Syria, maka ia juga bakal memenangkan peperangan yang lebih luas, yaitu perebutan pengaruh di kawasan Timur Tengah melawan Amerika dan sekutu-sekutu regionalnya.

“Ini adalah tentang hegemoni kekuasaan di kawasan," kata Alani.

Menurut Obaid, kemenangan Iran di Syria yang ditandai dengan tetap bertahannya regim Bashar al Assad akan menjamin kontrol Iran atas kawasan yang luas yang mencakup Lebanon, Syria, Irak dan Iran yang menjadi ancaman serius bagi eksistensi negara Israel.

ERDOGAN SEGERA MENYUSUL MUBARAK? (2)

Gambar: Erdogan (kanan) dan Fethullah Gulen.



Faktor penting lainnya yang menjadi penyebab terjadinya aksi-aksi demonstrasi menuntut pengunduran diri Erdogan adalah aksi represif regim Tayyep Erdogan terhadap para jurnalis dan aktifis HAM. Turki merupakan negara terbesar dalam hal pemenjaraan para jurnalis. Ratusan jurnalis kini mendekam dalam penjara dan ribuan lainnya harus menghadapi ancaman penangkapan aparat keamanan dengan berbagai tuduhan termasuk "mendukung terorisme" dan tuduhan-tuduhan lainnya yang tidak jelas.

Setiap aktifitas jurnalisme yang mengkritisi kinerja pemerintah, terlebih lagi skandal para pejabat pemerintah, akan menghadapi tindakan represif aparat keamanan. Sejumlah besar jurnalis harus kehilangan pekerjaannya akibat tekanan pemerintah pada surat-surat kabar kritis. Salah seorang jurnalis Turki terkenal, Ertugrul Mavioglu, pernah berkata: "Anda boleh menulis apapun, namun dengan ancaman pemecatan, denda, penangkapan atau bahkan lebih buruk lagi."

Nafsu berkuasa Erdogan yang tidak terkendali juga membuatnya menjadi mata gelap saat melakukan tindakan-tindakan tidak terpuji tidak saja pada rakyat Turki sendiri maupun pada rakyat Syria. Meski mengklaim apa yang dilakukannya di Syria adalah untuk melindungi rakyat Syria, maksud sebenarnya atas Syria tidak lagi menjadi rahasia. Turki adalah salah satu pemain utama dari konspirasi jahat zionis internasional atas bangsa Syria.

Turki telah menjadi pendukung utama pemberontakan Syria dengan menyediakan kamp-kamp latihan militer, basis dukungan logistik, serta jalur keluar masuk pemberontak teroris Syria. Lebih jauh Turki bahkan menjadi tuan rumah bagi kelompok-kelompok pemberontak serta pertemuan-pertemuan internasional pendukung pemberontak.

Sikap Turki atas Syria ini telah mendapat respons negatif dari sebagian besar rakyat Turki. Menurut sebuah jajak pendapat sebanyak 70,8 % menganggap sikap Erdogan atas Syria adalah keliru.

Awalnya, Syekh Buthi Membuat “Gerah” Salafi-Wahabi

KH HASYIM MUZADI*



Awalnya, Syekh Buthi Membuat “Gerah” Salafi-Salafi Wahabi aknatullah'Alaih Syekh Said Ramadhan Al-Buthi adalah tokoh utama kelas dunia dari kalangan Sunni atau Ahlussunnah wal Jama’ah. Beliau tidak hanya dikenal sebagai seorang sufi, namun juga ahli syariat sekaligus ahli hakikat, dan argumentator Sunni terhadap serangan-serangan non-Sunni. Ini diakui baik di Suriah maupun di dunia Muslim lainnya.

Salah satu dari kehebatan Syekh Buthi adalah kemampuannya berargumentasi terhadap serangan-serangan kelompok takfiriyah yang suka mengkafirkan kelompok Asy’ari (Sunni), juga suka mengkafirkan amalan-amalan fadhilah dan lain sebagainya. Syekh Buthi ini paling gigih dan paling jitu untuk melawan mereka.

Ada dua karya Syekh Buthi yang membuat “gerah” kelompok Wahabi dan Salafi yang ada di Suriah dan di dunia muslim pada umumnya. Pertama bukunya yang berjudul "al-La Mazhabiyyah: Akhtoru Bid'atin Tuhaddidus Syariah Islamiyyah", yang artinya bahwa pemikiran non madzhab adalah bid’ah baru yang dapat merusak pemikiran syari'ah. Ringkasnya, buku itu menjelaskan bahwa orang memahami Islam itu harus dengan pola berfikir. Nah pola berfikir itu dengan metodologi ijtihad yang tidak bisa hanya diserahkan orang-perorang yang tidak memenuhi syarat untuk itu. Menurut Syekh Buthi, bagi mereka yang melakukan itu samalah artinya dia merusak Islam karena dia akan memelencengkan makna yang sesungguhnya dari Islam itu sendiri. Buku ini sangat terkenal dan jitu sekali untuk melawan Wahabiyah dan kelompok takfiriyah tadi.

Kedua, buku Syekh Buthi yang berisi uraian tentang Salafi yakni "As-Salafiyyah". Bahwa menurutnya, Salafi ini bukan madzab tapi suasana keagamaan pada zaman "as-salafus salih". Jadi Salafi bukan merupakan pola pemikiran tapi fakta kehidupan "darussalam" itu yang damai.

Dua buku itu betul-betul membikin kelompok Wahabi dan Salafi kelabakan, sehingga sudah lama sebenarnya ada pertentangan sektarian antara Wahabi-Salafi dengan Syekh Buthi.

 
Penasihat Presiden

Bersamaan dengan itu Syekh Buthi menjadi penasihat Presiden. Dalam keadaan normal ia memberikan nasihat di bidang agama. Namun karena adanya konflik yang membelah pemerintah dan masyarakat pemberontak, dalam hal ini juga dikompori oleh luar negeri, maka terjadi kolaborasi antara faktor agama dan konflik politik.

Sementara itu di pemerintahan sendiri banyak unsur Syiah Alawiyahnya yang tidak disukai oleh jamaah-jamaah takfiriyah yang dimotori oleh Salafi-Wahabi, meskipun Syekh Buthi sendiri bukan orang Syiah. Syekh Buthi sendiri sebenarnya berada di pemerintahan dengan maksud ingin mencari keseimbangan antara Sunni dengan Syiah Alawiyah itu.

Konflik Suriah memang terus berlanjut. Faktor yang lebih dominan sebenarnya adalah politik. Pertama sebenarnya karena Israel itu ingin menghancurkan Suriah karena dia negara yang paling depan berhadapan dengan mereka. Di sana dihuni kekuatan-kekuatan militan yang melawan Israel. Seperti kekuatan Syiah yang dikendalikan oleh Iran, lalu kekuatan Hamas yang dikendalikan oleh Khalid Massal dan beberapa kekuatan Syiah sebagai bagian dari Hezbollah yang dipimpin oleh Hasan Nasrollah. Tiga kekuatan ini yang membuat Suriah menjadi musuh utama Israel ditambah bahwa pemerintahan Basyar sendiri cenderung ke Syiah Alawiyah.

Karena faktor politik ini, tentu sebagaimana juga penyerangan terhadap negara Islam yang lain pasti Amerika ikut campur. Dan dapat diduga bahwa dia pasti membantu pemberontak, pertama karena tidak suka dengan pemerintahan, kedua Salafi-Wahabi itu selalu pro Saudi-Amerika, termasuk di dalamnya jamaah takfiriyah.

Sementara negara-negara yang "sudah direformasi” seperti Mesir, Libya dan sebagainya yang diam-diam berpihak kepada Amerika, dan di sini mereka berpihak pada pemberontak. Nah karena itu maka Iran menyeret Cina dan Rusia untuk masuk dalam pertempuran ini karena faktor perlawanan terhadap Amerika, sebenarnya bukan karena faktor agama, namun untuk menjaga keseimbangan Barat dan Timur.

Monday, 10 June 2013

OPERASI PEMBEBASAN ALEPPO DIMULAI

Sumber-sumber terpercaya militer Syria memberitahukan kepada kantor berita miliki kelompok Hizbollah Lebanon, Almanar, bahwa operasi militer untuk membebaskan Aleppo telah dimulai pada hari Minggu pagi (9/6). Operasi militer yang diberi kode "Badai Utara" itu ditujukan untuk membebaskan seluruh kota Aleppo dan sekitarnya dari pendudukan pemberontak.

Menurut informasi tersebut militer Syria berhasil meraih kemenangan gemilang di berbagai tempat dimana terdapat kantong-kantong pertahanan pemberontak seperti di Kafar Hamra, Haryatan, Andan, Hayyan, Sheikh Maqsood Syria, Bustan Al-Basha, Bustan Al-Qasr, dan Al-Ameriya. Informasi tersebut juga menyertakan gambar iring-iringan tank militer Syria yang tengah bergerak ke Aleppo.

Setelah keberhasilan merebut wilayah Al Qusayr, perhatian militer Syria kini tertuju ke Aleppo, kota terbesar Syria yang selama ini menjadi basis perlawanan pemberontak. Selama setahun lebih kota ini relatif terbelah menjadi 2 bagian yang masing-masing dikuasai pemberontak dan tentara pemerintah. Dipercaya, pertempuran di kota ini akan berlangsung lebih seru dibandingkan pertempuran-pertempuran di tempat lain dan pemberontak akan mempertahankan kota ini mati-matian atau mereka tidak lagi memiliki pijakan berarti dan terusir dari Syria.

ERDOGAN SEGERA MENYUSUL MUBARAK?

Sampai tahun 2009, bagi Recep Tayyip Erdogan sang perdana menteri Turki, dunia seakan adalah miliknya. Namanya harum semerbak mewangi, tidak saja di negerinya sendiri, namun juga di seluruh negara Islam bahkan dunia. Ia berhasil mengubah Turki yang relatif terbelakang, menjadi kekuatan ekonomi baru di Timur Tengah dengan pertumbuhan ekonomi mencapai 9%. Dan saat ekonomi telah berhasil diraih, ia dengan gemilang berhasil mendapatkan popularitas politik internasional dengan sikapnya yang elegan mengecam keras Presiden Israel Shimon Peres atas agresi Israel di Gaza, pada pertemuan Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss. Namanya dielu-elukan di seluruh negara Islam dari Arab Maghribi hingga Indonesia sebagai pembela utama umat Islam terhadap penindasan Israel.

Namun setahun kemudian, Israel mempermalukannya dengan membunuh secara keji 9 warga Turki di atas kapal Mavi Marmara tanpa ia sanggup untuk membelanya. Butuh waktu satu tahun baginya sebelum akhirnya, setelah berkali-kali gagal membujuk Israel untuk meminta ma'af, melakukan "tindakan tegas" terhadap Israel: menghentikan kerjasama keamanan dan ekonomi serta menurunkan tingkat hubungan diplomatik kedua negara, namun tidak sampai memutuskannya. "Tindakan tegas" itupun sebenarnya hanya sandiwara belaka karena diam-diam ternyata hubungan ekonomi dan keamanan kedua negara tetap berjalan normal.

Dan setelah aksi kurang ajar Israel itu, sedikit demi sedikit nama baik dan kharisme Erdogan pun memudar hingga kini ia harus menghadapi situasi yang tidak pernah dibayangkannya. Belum lama setelah gagal membujuk Presiden Amerika Barack Obama untuk mentuntaskan konflik Syria yang menghabiskan energinya serta kegagalan membujuk Uni Eropa untuk menerima Turki sebagai anggota tetap sehingga bisa mendongkrak kembali namanya, kini rakyat Turki bangkit melawan dirinya. Dan seakan seperti istilah "sudah jatuh tertimpa tangga", ia ditinggalkan oleh sekutu-sekutu utamanya: Presiden Abdullah Gul, Deputi Perdana Menteri Bulent Arinc, dan tokoh berpengaruh di balik munculnya partai penguasa AKP yang dikenal sebagai agen kesayangan CIA, Fethullah Gulen.

Perpecahan antara Erdogan dan para elit penguasa pendukungnya bisa dibaca jelas ketika Bulent Arinc pada tgl 4 Juni lalu membuat pernyataan yang bertolak belakang dengan sikap Erdogan. Hanya beberapa saat setelah Erdogan, di sela-sela kunjungan ke negara-negara Maghribi (Afrika Barat-laut) mengecam para demonstran di negerinya, Arinc justru meminta ma'af kepada mereka.

Bulent Arinc, dan Abdullah Gul adalah para pendukung setia Fethullah Gulen yang kini tinggal di Amerika. Mereka biasa disebut sebagai Gulenis. Para pengamat politik Timur Tengah telah melihat bahwa hubungan mereka dengan Erdogan kini tengah berada di titik terendah setelah menganggap Erdogan sudah tidak bisa dikendalikan lagi dan telah menjadi "one man show".

Dengan serikat pekerja dan partai-partai oposisi serta masyarakat umum yang turun ke jalan menuntut pengunduran dirinya, ditambah elit yang meninggalkannya serta birokrat sipil, militer dan kehakiman yang secara tradisional bermusuhan dengan partai Islam, serta sekutu-sekutu luar negerinya yang mengecamnya atas kerusuhan yang terjadi, Erdogan praktis hanya bisa mengandalkan para pendukung AKP serta berharap agar kepolisian tetap loyal pada tugas profesinya.

PROPAGANDA MURAHAN MELAWAN KETANGGUHAN HIZBOLLAH

Kemenangan telak Hizbollah dan tentara Syria di medan perang Al Qusayr benar-benar membuat para zionis internasional tergoncang. Mereka sudah membayangkan hasil akhir dari konflik Syria paska kejatuhan Al Qusayr, yaitu kekalahan memalukan negara-negara "zionist occupied goverment" (ZOG) alias "penjilat pantat zionis" di Syria.

Maka dalam kegoncangan itu berbagai tingkah polah tidak rasional pun bermunculan. Sementara para teroris pemberontak tetap melakukan aksi biadabnya bahkan saat melarikan diri dari al Qusayr (pembantaian terhadap penduduk perkampungan Kristen Al Duvair), menlu Perancis dan Inggris berkoar-koar tentang penggunaan senjata kimia oleh tentara Syria dan "mendesak masyarakat dunia untuk menyerang Syria". Media-media massa barat dan Arab juga berusaha "mengecilkan" kemenangan Hizbollah dengan menyebut-nyebut adanya sejumlah besar personil Hizbollah yang ditawan pemberontak Syria. Bahkan di Indonesia pun media-media pro-pemberontak (dan berarti juga pro-zionis) ikut-ikutan mengecilkan kemenangan Hizbollah dengan menyebut angka 50 ribu personil Hizbollah di Syria.

Tentang isu keberadaan 50 ribu personil Hizbollah di Syria, saya (blogger) akan memberikan sanggahan pribadi yang rasional. Tuduhan tersebut memberikan pemikiran bahwa Hizbollah setidaknya mempunyai 100 ribu anggota militer terlatih. Hal ini dengan asumsi bahwa Hizbollah hanya mengirim setengah anggota terlatihnya ke Syria karena masih harus meninggalkan separoh lainnya untuk menangani masalah keamanan internal (Lebanon) terutama menjaga wilayah perbatasan dengan Israel.

Angka sebesar itu tentu saja sangat tidak rasional. Lebanon adalah negeri kecil dengan jumlah penduduk tidak sampai 5 juta orang sementara jumlah penduduk Shiah-nya kurang dari 25% atau 1 jutaan jiwa. Bahkan di antara penduduk Shiah Lebanon terdapat satu kelompok milisi militer lain yang lebih dahulu eksis daripada Hizbollah, yaitu "Gerakan Amal". Ide membangun kelompok milisi bersenjata profesional sebesar 10% dari populasi tentu adalah suatu kemustahilan yang keterlaluan. Dengan ide itu maka Amerika harusnya memiliki 30 juta tentara dan Cina 150 juta, sementara Indonesia harusnya mempunyai 25 juta tentara. Faktanya tidak ada negara yang jumlah personil militernya mencapai 1% dari populasi. Namun hal yang tidak masuk akal inilah yang didengung-dengungkan oleh media "Arrahman.com" yang pada tgl 9 Juni lalu merilis berita dengan judul "Milisi Syiah Hizbullah kerahkan 50 ribu anggotanya di seluruh Suriah"

PERANG DUA ULAMA SIDON

Seiring berlangsungnya pertempuran di al Qusayr, Syria, di kota Sidon Lebanon berlangsung juga pertempuran yang cukup seru antara pihak-pihak yang mendukung pemberontak Syria melawan pihak-pihak yang mendukunng pemerintah Syria. Sampai saat ini diperkirakan jumlah korban tewas dalam pertikaian di Sidon ini setidaknya telah merenggut nyawa 25 orang. Namun di balik "pertempuran" di Sidon ini terdapat "pertempuran" lain lagi, yaitu "perang pengaruh" antara 2 orang ulama: Imam Masjid al-Quds dan tokoh Sunni Sheikh Maher Hammoud melawan pemimpin gerakan salafi-wahabi Ahmad al-Asir.

Perselisihan antara keduanya merupakan salah satu faktor yang membuat perselisihan di Sidon semakin "menarik". Sheikh Maher Hammoud merupakan pendukung gerakan "Perlawanan" Hizbollah meski beliau adalah seorang pemuka Sunni. Sementara al-Asir merupakan pendukung utama pemberontak Syria bahkan dikabarkan terlibat langsung di medan perang al Qusayr.

Saat ini perselisihan antara kedua ulama tersebut kembali menjadi perhatian publik setelah adanya upaya pembunuhan terhadap Sheikh Hammoud pada hari Senin (3/6). Meski belum ada bukti kuat, publik pun mengarahkan pandangan pada lawan Sheikh Hammoud, yaitu al-Asir.

Pada hari Sabtu lalu (8/6) Sheikh Hammoud mengadakan wawancara eksklusif dengan media milik Hizbollah Almanar, mengungkapkan pemikiran dan pendapat-pendapatnya tentang berbagai isu politik yang berkembang di kawasan. Ia berpendapat bahwa apa yang terjadi di Lebanon, Syria dan kawasan merupakan perpecahan, namun saat kebaikan dan keburukan saling terkait seseorang harus mengambil sikap yang menguntungkan negara dan agama. Tentang upaya pembunuhan terhadap dirinya ia menunjuk pada kelompok "takfiri" (orang-orang yang suka mengkafirkan) yang secara tidak langsung ia menunjuk pada al-Asir.

“Saya rasa dalam beberapa hari mendatang banyak hal (tentang upaya pembunuhan) akan terkuak," katanya.

Dalam wawancara tersebut secara umum Sheikh Hammoud mengingatkan tentang bahaya berkembangnya faham "takfiri" di antara umat Islam Lebanon, yang dengan gampang melakukan pembunuhan terhadap orang Islam yang berbeda pandangan dengan mereka.

Sunday, 9 June 2013

PERTEMPURAN BERIKUTNYA, GOLAN

"Israel kini berhadapan dengan kenyataan baru: kekuatan Hizbollah yang mengalir dari Lebanon menuju Dataran Golan dan perbatasan Syria.... untuk pertama kali berhadapan muka dengan unit-unit Hizbollah yang dilengkapi dengan senjata persenjataan berat dan rudal-rudal..."

Demikian tulis media Israel Debka baru-baru ini menyusul kemenangan milisi Hizbollah dan tentara Syria dalam pertempuran di al Qusayr. Debka dengan tepat menggambarkan kekhawatiran yang kini dihadapi oleh Israel, yaitu kembali bertempur melawan kelompok yang telah berkali-kali mengalahkan mereka dan yang paling ditakuti mereka, yaitu Hizbollah.

Tentang konflik yang kini terjadi di di Syria, Debka bahkan memastikan telah berakhir setelah jatuhnya al Qusayr dan hancurnya kekuatan pemberontak di sekitar Damaskus. Dan kini pemberontak hanya bisa menunggu kejatuhan kekuatan besar mereka di Aleppo saat milisi-milisi Hizbollah dan tentara Syria memperkuat kekuatan mereka untuk pertempuran terakhir.

"Perang Damaskus telah berakhir setelah tentara Syria menguasai kota tersebut melalui kemenangan gemilang. Sementara pemberontak hanya bisa melakukan tembakan-tembakan sporadis tanpa bisa melakukan serangan, atau sekedar memberikan ancaman bagi kota tersebut, bandara internasionalnya, atau pangkalan udara besar di dekat kota. Setelah berbulan-bulan berada dalam kepungan pemberontak, pesawat-pesawat Rusia dan Iran kini leluasa mendarat di Bandara Damaskus mengirimkan bantuannya untuk menjaga kekuatan tempur tentara Syria," tulis Debka.

Debka menekankan bahwa Israel kini harus menghadapi "ancaman" baru, yaitu Dataran Golan.

"Adalah tepat untuk menyimpulkan bahwa alih-alih menjadi lemah, Hizbollah kini memberikan ancaman baru berupa fron perang yang harus dihadapi Israel yaitu di Dataran Golan," tulis Debka.

Apa yang baru-baru ini dikatakan oleh pemimpin Hizbollah dan Iran tentang pembebasan Dataran Golan, wilayah Arab Syria yang dicaplok Israel tahun 1967, kini menghantui rakyat dan para pemimpin Israel.


KETEGANGAN DI GOLAN

Setelah kejatuhan al Qusayr ke tangan pemerintah hari Rabu (5/6), sebagian pemberontak melarikan diri ke Dataran Golan yang diduduki Isreal untuk mendapatkan pertolongan. Hal inilah yang memicu ketegangan baru di Dataran Golan setelah pasukan Syria menyerang pemberontak di Golan dan memaksa pemerintah Austria mengumumkan penarikan kontingen pasukan penjaga perdamaian mereka dari Golan. Pemerintah Filipina pun mengumumkan akan mempertimbangkan kembali keberadaan pasukannya di Golan setelah seorang prajuritnya tewas dalam pertempuran hebat yang terjadi hari Kamis (6/6).

Pertempuran terjadi setelah pemberontak menyerang dan merebut pos penjagaan Syria di perbatasan Golan, namun direbut kembali oleh tentara Syria beberapa jam kemudian.

Sembari mengecam keputusan Austria, Israel pun meningkatkan kewaspadaan militernya di Golan dan menambah kekuatan tank dan tentaranya di sana.

Jubir militer Israel Kapten Arye Shalicar mengatakan kepada kantor berita Perancis AFP hari Kamis (6/5) bahwa militer Israel menaruh perhatian serius dengan perkembangan di Golan.

Krisis Suriah: Sarang Laba-Laba Takfiri


ANDAI MAU berpikir sejenak, kita segera bisa menemukan kesamaan mengejutkan antara kaum takfiri di satu sisi dan, di sisi lain, zionis. Mereka setali tiga uang dalam pola pikir dan modus operandi teror. Ini menyedihkan, sebenarnya. Sebab sekuat apapun kita mencoba untuk memisahkannya, hanya ada tembok tebal yang menghadang. Begini: tiap kali dua kelompok ini berada di atas angin, maka mereka akan gembar-gembor menantang seluruh dunia, bernafsu menaklukkan siapa saja, meremehkan semua yang hendak melawannya dan sama-sama mendapat mandat dari Sang Pencipta langsung untuk berkuasa terhadap siapa saja. Ambisi yang demikian besar ini sesungguhnya lahir dari ketidakpercayaan yang sangat terhadap tujuan mereka sendiri dan juga lahir dari kekufuran yang mengerikan akan adanya kekuasaan Ilahi di balik pengaturan segala sesuatu. Nyaris kita tidak menemukan sedikit kerendahan hati pada mereka.

Namun demikian, menghadapi sedikit saja kekalahan atau perlawanan yang serius dari pihak yang berseberangan, mereka bakal mendadak sontak menjadi sekerdil-kerdilnya pengecut yang bisa dibayangkan manusia. Mereka akan melontarkan berbagai tuduhan kekejaman pada lawan, mencari simpati dengan segala cara, dan menginginkan semua dunia ikut menanggung getirnya kekalahan yang akan mereka derita.

Begitulah perilaku zionis Israel saat mereka menyerang basis Hizbullah di Lebanon Selatan dan Dahia tahun 2006 silam. Di hari-hari pertama, nafsu menghabisi Hizbullah begitu membuncah di dada Ehud Olmert dan pimpinan militer rezim zionis kala itu. Seruan dunia untuk menghentikan serangan tak mereka gubris. Mereka seolah mendapat mandat langsung dari langit ketujuh untuk memusnahkan musuhnya, tanpa kenal ampun sama sekali. Namun, memasuki pekan kedua dari perang yang berlangsung 33 hari itu, Israel mulai menemukan sebuah perlawanan sengit pejuang Hizbullah, maka keadaan mendadak berbalik. Wakil-wakil rezim Zionis ini kasak-kusuk melobi kemana-mana, menjaring simpati dan menggedor hati dunia untuk berbelas-kasih pada nasib mereka dan sama-sama mengecam aksi-aksi "teror" Hizbullah. Publik dunia terus mereka ingatkan pada derita Holocaust, kisah yang timbul-tenggelam tiap kali zionis berulah. Padahal, dalam kenyataannya, aksi-aksi Hizbullah saat itu hanya sebatas mempertahankan diri. Tidak lebih.

Seperti gerombolan hina yang terpukul oleh kegesitan perlawanan singa, mereka berteriak-teriak meminta perlindungan AS dan Dewan Keamanan PBB. Tak segan-segan rezim zionis ini menyuruh sekutu-sekutu Arabnya yang bersembunyi dan malu-malu kucing untuk keluar dari sarang dan membantu mereka dengan terang-terangan. Tak kurang dari PM Lebanon ketika itu, Fouad Seniora, keluar dari sarang dan menekan Hizbullah untuk meneken persetujuan untuk menghentikan peperangan dengan rezim Zionis. Menlu Saudi, Saud Al-Faisal, menyatakan bahwa Hizbullah telah bersikap avonturer. Dan sebagainya.

Belakangan ini perilaku yang sama terlihat jelas dari kelompok teroris takfiri di Suriah, khususnya yang bergerombol di Al-Qusair. Selama dua tahun mereka menguasai wilayah ini, ambisi menghabisi seluruh kelompok yang berbeda seperti tumpah-tumpah dari dada mereka. Tak henti-hentinya mereka mengancam-ancam, mengusir, membantai, dan menggagahi warga yang tinggal di wilayah tersebut. Ribuan orang tunggang langgang melarikan diri dari rumah-rumah mereka akibat prahara yang ditebar oleh kelompok takfiri yang bernaung di bawah Jabhat Al-Nusra tersebut. Yang tak kalah pentingnya ialah aksi kanibalisme Abu Saqar yang merupakan salah satu teroris yang selama dua tahun terakhir berkeliaran di Qusair.