Sabtu, 03 Desember 2011

150.000 Rudal Iran untuk Israel


Menhan Iran, Brigjen Ahmad Vahidi, baru-baru ini mengeluarkan pernyataan menyakitkan bagi Israel. Menurutnya Iran akan memberi pelajaran penting bari Israel jika negeri yahudi ini berani menyerang Iran.

"Mereka harus menjawab pertanyaan ini sebelum menyerang Iran. Untuk berapa lama perang yang sesungguhnya sanggup mereka lakukan, berapa kapal perang mereka siap kehilangan?" kata Vahidi.

Menurut Vahidi Israel tidak akan memiliki kesempatan untuk bertahan hidup setelah berperang melawan Iran karena Iran telah mempersiapkan ribuan rudal untuk Israel.

"Mengapa regim zionis berulangkali mengancam Iran? Berapa rudal mereka sanggup tahan 10.000? 20.000? 50.000? 100.000? 150.000 atau lebih?" tanya Vahidi kepada pers Iran baru-baru ini.

Vahidi menyarankan Amerika dan sekutu-sekutunya untuk menyadari "kemampuan tempur Iran" dan mengetahui bahwa jika terjadi perang, Iran akan mengajari Amerika perang yang sesungguhnya dan seperti apa prajurit yang sebenarnya.

Telah berulangkali para pejabat Israel dan Amerika mengeluarkan ancaman serangan militer terhadap Iran terkait masalah nuklir Iran dimana Amerika dan sekutunya menuduh Iran tengah mengembangkan senjata nuklir. Iran menolak tuduhan tersebut dan menyebutkan program nuklirnya adalah untuk tujuan damai.

Sementara dunia seakan mengalami penyakit pikun perihal persenjataan nuklir Israel. Berbeda dengan Iran yang menjadi anggota organisasi nuklir internasional, IAEA, Israel menolak menjadi anggota.

Baru-baru ini Israel melakukan ujicoba rudal jarak jauh Jericho-3 yang mampu membawa 750 kilo hululedak dan mampu menjangkau sasaran berjarak 10.000 km. Israel adalah negara nuklir yang mampu menembakkan rudal nuklirnya ke sebagian besar tempat di dunia, namun sama sekali tidak dianggap sebagai ancaman perdamaian.



IRAN KEMBANGKAN SISTEM PERTAHANAN UDARA BARU

Pertahanan udara yang canggih adalah kunci kemenangan dalam suatu pertempuran modern. Seperti terjadi di Afghanistan, Libya atau Irak, tiga negara Islam yang secara militer cukup kuat namun tidak memiliki sistem pertahanan udara yang canggih, sehingga dengan mudah ditundukkan Amerika dan sekutunya.

Iran pun menyadari hal ini sehingga sejauh ini terus berupaya meningkatkan kecanggihan sistem pertahanan udaranya untuk menghadapi ancaman serangan Amerika dan sekutu-sekutunya. Sebagaimana diberitakan berbagai media massa, Iran baru saja mengumumkan keberhasilan pengembangan sistem pertahanan udara baru yang diberi nama “Bavar 373” yang merupakan tiruan dari sistem pertahanan udara S-300 buatan Rusia.

S-300 adalah sistem pertahanan udara yang telah dipesan Iran kepada Rusia namun batal direalisasikan pengirimannya karena "tekanan" Amerika kepada Rusia. Sebagai gantinya Iran mengembangkan sendiri sistem pertahanan udara sejenis, dengan bantuan diam-diam dari Rusia tentunya, yang kemudian diberi nama "Bavar 373". Senjata ini terutama ditujukan untuk melindungi fasilitas-fasilitas nuklir Iran dari ancaman serangan udara Amerika-Israel dan sekutunya.

Pada hari Selasa (22/11) lalu media semi-pemerintah Iran, Student News, melaporkan pernyataan komandan pertahanan udara Khatamol al-Anbiya Air Defense Base, Brigjen Farzad Esmaili bahwa Iran telah berhasil mengembangkan sistem pertahanan udara "Bavar 373" yang diklaimnya lebih canggih dari S-300.

“Secara intuitif, sangat sulit mempercayai senjata itu sama canggihnya dengan S-300 buatan Rusia,” kata Uzi Rubin, pakar persenjataan Israel kepada "Jerussalem Post" baru-baru ini.

"Membuat missil adalah mudah. Masalahnya adalah menciptakan sistem radar dan komponen lainnya yang kompleks. Efektifitas sistem persenjataan itu tergandung pada kecanggihan radarnya. Iran memang memiliki keahlian di bidang ini, namun perlu waktu bertahun-tahun untuk melatihnya. Sangat sulit dipercaya Iran bisa melakukannya dalam waktu satu generasi," tambah Rubin yang seolah sulit percaya dengan kemampuan Iran.

Namun demikian Rubin percaya Iran telah melampaui kemampuan tersebut karena dukungan ahli luar negeri seperti Korea Utara yang telah lebih dahulu mengembangkan persenjataan serupa.

Awal bulan ini media Korea Selatan, "Yonhap" melaporkan bocoran inteligen yang menyebutkan "ratusan ahli peluru kendali Korea Utara telah bekerjasama dengan mitranya dari Iran di lebih dari 100 lokasi strategis di seluruh Iran, termasuk instalasi nuklir di Natanz and Qom”.

Menurut para ahli senjata, S-300 merupakan salah satu sistem pertahanan udara paling canggih di dunia. Mampu melacak lebih dari 100 target sekaligus serta menembak 12 sasaran sekaligus pada jarak 144 km dan ketinggian 27,4 km.

Sementara itu kantor berita Amerika "Associated Press" tgl 18 November lalu melansir berita tentang sistem persenjataan canggih Iran. Mengutip pernyataan Jendral Hamid Arjangi "Associated Press" menyebutkan Iran telah berahsil melakukan ujicoba dua sistem pertahanan udara buatan lokal, Mersad dan Shahin.

"Sistem pertahanan udara ini bisa mengidentifikasi dan menembak jatuh pesawat tempur modern pada ketinggian rendah dan menengah," kata Arjangi kepada kantor berita Iran, IRNA. Menurut Arjangi senjata-senjata canggih itu adalah turunan dari sistem pertahanan udara buatan Rusia, S-300 yang diklaimnya memiliki kemampuan setara S-300.



Ref:
"150,000 Iran missiles awaiting Israel"; Press TV; 27 November 2011
"Iran developing advanced missile defense system"; Yaakov Lapin; Jerusalem Post; 23 November 2011

Tidak ada komentar: