Tuesday 20 December 2011

Tunisia Dukung Rakyat, Kutuk Penguasa Bahrain


Seolah hujan turun tanpa diawali mendung. presiden baru Tunsia, Moncef Marzouki membuat pernyataan mengejutkan mengutuk pemerintah Bahrain atas tindakan brutalnya terhadap para demonstran yang menutut perbaikan negeri awal tahun ini. Sebaliknya Marzouki menyatakan dukungan kepada rakyat Bahrain.

"Rakyat Bahrain merdeka merdeka! Khalifa (penguasa Bahrain) enyah enyah!" kata Marzouki dalam pernyataan dukungannya pada perjuangan rakyat Bahrain yang menentang kekuasaan regim Hamad al Khalifa, penguasa tiran Sunni di tengah-tengah masyarakat Bahrain yang mayoritas beragama Shiah.

Dalam pernyataan dukungan tersebut Marzouki mengatakan bahwa perjuangan rakyat Bahrain merupakan bentuk aksi masyrakat Arab menentang regim diktator yang kejam terlepas dari masalah-masalah agama maupun ras.

"Rakyat Bahrain menderita karena korupsi, ketidakadilan dan penindasan sebagaimana dialami rakyat Tunisia beberapa waktu lalu," katanya seraya menambahkan bahwa perjuangan rakyat Bahrain merupakan bagian dari perjuangan rakyat Tunisia.

"Kami katakan kepada saudara-saudara kita di Bahrain, bahwa kami rakyat Tunisia mendukung mereka sebagai sesama saudara ARab dan juga karena persoalan yang mereka hadapi seperti korupsi, ketidak adilan dan penindasan adalah sama dengan persoalan yang kami hadapi."

Marzouki menuduh regim penguasa Bahrain berupaya "memainkan kartu" sektarianisme Sunni-Shiah, hal yang tidak terjadi di Tunisia.

"Ini adalah perang antara rakyat melawan penguasa tiran dan tidak ada kaitannya dengan agama dan sekte. Kami katakan kepada saudara-saudara kami di Bahrain: Kami berdiri di samping Anda, kami merasakan sakit yang Anda rasakan, dan kami menganggap peperangan yang Anda lakukan adalah bagian dari peperangan kami," kata Marzouki.

Perlu ditambahkan pernyataan Marzouki ini sangat mengejutkan mengingat selama ini para pemimpin Arab diam seribu bahasa melihat penindasan keras penguasa Bahrai terhadap rakyatnya, sementara mereka tidak pernah berhenti mengecam presiden Syria yang tengah menghadapi pemberontakan.

Organisasi-organisasi internasional termasuk Amnesty International, Human Rights Watch dan PBB telah berulangkali mengecam tindakan regim Bahrain terhadap rakyatnya seperti tindakan penyiksaan, pengadilan yang tidak adil, penggunaan kekuatan yang berlebihan dan praktik-praktik kekerasan lainnya. Wartawan senior Inggris, Robert Fisk pernah menuliskan laporannya di media massa Inggris perihal penindasan yang dialami para dokter dan paramedis yang tengah merawat demonstran yang terluka serta tuduhan makar yang dialami mereka hingga harus menjalani proses pengadilan yang berakhir di dalam sel penjara. Padahal justru aparat keamanan lah yang telah melakukan pelanggaran HAM berat dengan menyerang rumah sakit tempat korban aksi demonstrasi dirawat.

Pada bulan November lalu komisi penyidik yang dibentuk regim Khalifa menyimpulkan bahwa aparat keamanan telah melakukan "tindakan berlebihan" dan "penyiksaan". Pemerintah Bahrain mengaku korban tewas akibat aksi penindasan berjumlah 24 orang meski oposisi menyebut angka yang lebih tinggi.

Pada bulan Maret, puncak dari aksi represif regim penguasa Bahrain terhadap aksi damai rakyat Bahrain di Lapangan Mutiara, Manama, aparat keamanan yang dibantu oleh ribuan tentara Saudi Wahabiah dan negara-negara Teluk lainnya menyerbu para demonstran, menyerang rumah sakit, dan membakar masjid-masjid kaum Shiah dalam upaya menghentikan aksi demonstrasi damai yang digelar rakyat Bahrain.

Terinspirasi oleh Revolusi Tunisia dan Mesir, rakyat Bahrain yang mengalami diskriminasi agama oleh regim penguasa Sunni-Wahabi, melakukan aksi-aksi demonstrasi damai menuntut perbaikan sistem politik. Namun penguasa, juga regim-regim Sunni-Wahabi lainnya di Arab Saudi dan negara-negara Teluk yang khawatir kekuasaannya runtuh, menumpas dengan keras. Dukungan aksi penindasan juga diberikan Amerika mengingat di Bahrain-lah pangkalan Armada VI Amerika berada. Aksi brutal penguasa terjadi hanya sehari setelah menlu Amerika berkunjung ke Bahrain.



Sumber:

"Tunisia: "Bahrain Free Free, Khalifa Out Out”"; Eslam al-Rihani; almanar.com.lb; 15 Desember 2011

No comments: