Tuesday, 27 December 2011

Pidato Zainab al Qubro di Hadapan Yazid bin Muawiyah


Celakalah orang-orang yang begitu dengki kepada Ahlul Bait (keluarga Rosul) dan membenci para pengikut Ahlul Bait.

Beberapa waktu lalu saya kaget bukan kepalang ketika anak perempuan saya, Nur Fathimah Az-Zahra, mengadu kepada saya bahwa teman sepermainannya, seorang putri anggota jema'ah Salafi, mengejek namanya dengan menyebutkan nama tersebut adalah nama seorang wanita jahat. Padahal Fathimah Az-Zahra adalah putri kesayangan Rosulullah, satu dari empat orang wanita yang disebut Rosulullah sebagai wanita-wanita paling mulia di surga.

Jauh hari sebelumnya saya juga kaget ketika tetangga saya, juga seorang anggota jema'ah Salafi, menamai anak laki-lakinya yang baru lahir, dengan nama Yazid. Padahal nama Yazid bin Muawiyah dalam sejarah Islam tertulis dengan tinta hitam kelam. Selain ahli maksiat, ia adalah pembunuh cucunda Rosulullah, perusak Ka'bah, dan penumpah darah umat Islam. Dalam peristiwa Hurrah, yaitu huru-hara di kota Madinah dan Makkah, ia memerintahkan pasukannya untuk membunuhi warga kota dan memperkosa para wanitanya hingga setahun kemudian di kota Madinah, kota suci kaum muslim, lahir 1.000 bayi hasil perkosaan pasukan Yazid.

Namun tidak ada kebencian pada diri saya pada para anggota jama'ah Salafi itu. Mereka hanyalah orang-orang yang "kurang pengetahuan".

Terkait dengan judul artikel ini ingin saya paparkan sedikit kisah mengenaskan yang menimpa keluarga Rosulullah (ahlul bait) yang tersisa setelah pembantaian Karbala oleh pasukan Yazid bin Mu'awiyah dan menjadi tawanan. Mereka semua adalah para wanita suci kerabat Rosulullah yang oleh Allah umat Islam diperintahkan untuk menyisihkan 1/5 dari semua penghasilannya (khumus), 1/5 dari pampasan perang (ghanimah), dan 1/5 dari upeti kaum non-muslim (fa'i) untuk mereka, dan orang-orang yang diharamkan menerima sedekah dan zakat. Hanya seorang laki-laki bersama mereka, Zainal Abidin sang cicit Rosulullah yang masih kecil dan tengah menderita sakit.

Oleh pasukan Yazid, manusia-manusia suci itu direndahkan begitu rupa. Selain dirampas hartanya, mereka juga dilecehkan kehormatannya. Pakaian mereka direnggutkan dan disobek-sobek. Selanjutnya mereka dirantai tangan dan kakinya dan diarak berjalan menuju Damaskus, Syria, memasuki desa-desa dan kota-kota, sejauh ratusan kilometer.

Kata-kata laknat tidak akan pernah cukup untuk membalas penghinaan yang dilakukan Yazid bin Mu'awiyah, jika kita mengetahui.

Berikut adalah pidato Zainab al Qubro, cicit Rosulullah yang menjadi tawanan, di hadapan Yazid bin Muawiyah:

“Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta Alam. Shalawat serta salam semoga dilimpahkan dilimpahkan kepada Rasulullah dan seluruh keluarganya. Mahabenar Allah yang berfirman, “Kemudian akibat orang-orang yang mengerjakan kejahatan adalah (azab) yang lebih buruk, karena mereka mendustakan ayat-ayat Allah, dan mereka selalu memperolok-olokkannya.”

“Apakah engkau mengira, wahai Yazid, saat engkau mengejar-ngejar kami di muka bumi sehingga kami digiring seperti budak-budak, bahwa yang demikian itu karena kami hina dan bahwa engkau mulia di hadapan Allah? Apakah engkau mengira bahwa karena besarnya kedudukanmu di sisi-Nya, sehingga hidungmu menjadi berkembang dan engkau memandang kami dengan sebelah mata, dan engkau bersuka cita karena melihat kekayaan dunia ini terkumpul di sisimu dan segala urusan menjadi mudah bagimu, dan ketika engkau merampas harta dan kekuasaan kami? Celaka, celaka engkau! Engkau telah melupakan firman Allah yang berbunyi, “Dan janganlah sekali-kali orang-orang kafir mengira bahwa pemberian tangguh Kami kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka, dan bagi mereka azab yang menginakan."

“Apakah adil, wahai anak thulaqa (orang-orang tawanan yang dibebaskan oleh Rosulullah dalam peristiwa penaklukan Mekkah), caramu menakut-nakuti orang-orang yang telah memberimu kebebasan, dan engkau giring puteri-puteri Rasulullah sebagai tawanan? Engkau telah merobek-robek pakaian mereka, dan memperlihatkan wajah mereka dari satu negeri ke negeri lain, engkau seret mereka di tengah kaum lelaki dan para pejalan kaki, sehingga mereka menjadi tontonan orang dari jauh dan dari dekat, tanpa ada seorang pun yang melindungi mereka. Lalu apa yang bisa diharapkan dari orang yang mulutnya mengunyah-ngunyah hati-hati orang-orang suci (nenek Yazid, Hindun, yang membunuh paman Rosulullah, Hamzah, dan kemudian memakan hatinya), dan yang dagingnya tumbuh dari darah para syuhada ? (Al-Majalis Al-Saniyyah, halaman 146).

“Cukuplah bagimu Allah sebagai Hakim, Rasulullah sebagai lawan, dan Jibril sebagai musuh, kelak akan diketahui bagaimana penindasan yang muncul dari kedudukanmu. Sungguh buruk balasan bagi oang-orang yang zalim. Alangkah buruknya tepat kedudukanmu, dan alangkah sesatnya tindakanmu. Anggapan rendahku terhadap nilai dirimu dan kejahatanmu yang aku besar-besarkan, bukanlah kumaksudkan sekedar tuduhan kosong terhadapmu, sesudah engkau biarkan mata kaum muslimin bengkak karena tangis, dan dada mereka sesak ketika mengingatnya…. teruskan tipu dayamu, dan kerahkan seluruh kemampuanmu. Demi Allah yang telah memuliakan kami dengan wahyu, Al-kitab, kenabian, dan pemilihan diri kami, sungguh engkau tidak akan memahami ketinggian kami, tak mungkin bisa mencapai tujuan kami, dan tak mungkin bisa membungkam zikir kami. Pengotoranmu terhadapnya tak mungkin bisa dibersihkan dari dirimu. Sungguh pandanganmu tak lebih dari sekedar kesesatan, hari-harimu tak lain adalah hitungan, dan kekayaan yang engkau kumpulkan tak lebih hanyalah kesia-siaan, ketika kelak ada seorang yang mengumumkan bahwa laknat Allah itu diperuntukkan bagi orang zalim yang melanggar ketentuan Allah…!"

4 comments:

elfizonanwar said...

APAKAH ADA KETURUNAN AHLUL BAIT?

Dlm Al Quran yang menyebut 'ahlulbait', rasanya ada 3 (tiga) ayat dan 3 surat.

1. QS. 11:73: Para Malaikat itu berkata: "Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai ahlulbait. Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah".

Ayat ini jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya, maka makna 'ahlulbait' adalah terdiri dari isteri dari Nabi Ibrahim.

2. QS. 28:12: Dan Kami cegah Musa dari menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusukan(nya) sebelum itu; maka berkatalah Saudara Musa: 'Maukahkamu aku tunjukkan kepadamu 'ahlulbait' yang akan memeliharanya untukmu, dan mereka dapat berlaku baik kepadanya?

Ayat ini jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya, maka makna 'ahlulbait' adalah meliputi Ibu kandung Nabi Musa As. atau ya Saudara kandung Nabi Musa As.

3. QS. 33:33: "...Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu 'ahlulbait' dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya".

Ayat ini jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya QS. 33: 28, 30 dan 32, maka makna para ahlulbait adalah para isteri Nabi Muhammad SAW.

Sedangkan ditinjau dari sesudah ayat 33 yakni QS. 33:34, 37 dan 40 maka penggambaran ahlulbaitnya mencakup keluarga besar Nabi Muhammad SAW. para isteri dan anak-anak beliau.

Jika kita kaitkan dengan makna ketiga ayat di atas dan bukan hanya QS. 33:33, maka lingkup ahlul bait tersebut sifatnya menjadi universal terdiri dari:

1. Kedua orang tua Saidina Muhammad SAW, sayangnya kedua orang tua beliau ini disaat Saidina Muhammad SAW diangkat sbg 'nabi' dan rasul sudah meninggal terlebih dahulu.

2. Saudara kandung Saidina Muhammad SAW, tapi sayangnya saudara kandung beliau ini, tak ada karena beliau 'anak tunggal' dari Bapak Abdullah dengan Ibu Aminah.

3. Isteri-isteri beliau.

4. Anak-anak beliau baik perempuan maupun laki-laki. Khusus anak lelaki beliau yang berhak menurunkan 'nasab'-nya, sayangnya tak ada yang hidup sampai anaknya dewasa, sehingga anak lelakinya tak meninggalkan keturunan.

Bagaimana tentang pewaris tahta 'ahlul bait' dari Bunda Fatimah?. Ya jika merujuk pada QS. 33:4-5, jelas sekali bahwa Islam tidaklah mengambil garis nasab dari perempuan kecuali bagi Nabi Isa Al Masih yakni bin Maryam.

Lalu, apakah anak-anak dari Bunda Fatimah dengan Saidina Ali boleh kita anggap bernasabkan kepada nasabnya Bunda Fatimah?. ya jika merujuk pada Al Quran maka anak Bunda Fatimah dengan Saidina Ali tidaklah bisa mewariskan nasab Saidina Muhammad SAW.

Bagaimana Saidina Ali bin Abi Thalib, anak paman Saidina Muhammad SAW, ya jika merujuk pada ayat-ayat ahlul bait pastilah beliau bukan termasuk kelompok ahlul bait. Jadi, anak Saidina Ali bin Abi Thalib baik anak lelakinya mapun perempuan, otomatis tidaklah dapat mewarisi tahta 'ahlul bait'.

Arjuno19 said...

Mendingan baca lagi om,,
rasanya keturunan ''ahlul bait'' msh ada setelah itu. sangat benar kalau ayat yg turun pertama kali berbunyi ''IKRO' (bacalah) jadi kita sbg umat islam diwajibkan membaca(belajar) demi mencari suatu kebenaran.
kalau pernyataan didampingi dg sebuah alergi/kebencian,maka pernyataan tsb tdk mustahil menambah kebodohan kita krn benci adalah sifatnya setan.

cahyono adi said...

TO ELFIZON DAN ARJUNO
Surat al Azhab 33 berdasar hadits-hadits paling shahih merujuk pada Muhammad, Ali, Fathimah, Hasan dan Hussein. Kalau ada penafsiran lain, silakan saja tapi tak sekuat nash di atas berdasar standar ilmiah Islam.

Ttg nasab keturunan Fathimah-Ali, Rosulullah berkali-kali menyatakan bahwa nasab adalah Rosulullah langsung. Lihat tafsir ttg ayat "muhaballah", Rosul menyebutkan "anak-anak kami" pada Hasan dan Hussein.

Apa Rosulullah tidak boleh lebih istimewa dibandingkan Nabi Isa dalam hal nasab, sementara Nabi Isa dalam Injil Barnabas mengatakan beliau merasa terhormat jika bisa membasuh terombah Rosul.

ari laso said...

Syiah is the best