Sunday, 1 January 2017

Tahun Baru, lelucon Baru

By: Canny Watae

Indonesian Free Press -- Sehari dua hari ini, saya membaca kabar di medsos bahwa Jokowi dinobatkan menjadi pemimpin kawasan Asia Pasifik terbaik untuk tahun 2016.
Benarkah?

Saya buka situs Bloomberg, media yang dikatakan para penyebar kabar sebagai sumber informasi. Lalu saya googling judul pemberitaan yang terkait. Hasilnya?

Ternyata, sama dan senada dengan para pekabar medsos, sejumlah situs berbahasa Indonesia (termasuk dari sebuah media Nasional yang sudah tidak saya baca lagi) menulis bunyi serupa: Terbaik.

Ada semacam koor satu irama bahwa "Bloomberg menobatkan Jokowi" sebagai "yang terbaik" tahun 2016 di kawasan Asia Pasifik.

Padahal, sumber informasi awal, yaitu Bloomberg, bukan berbicara soal siapa yang "Terbaik" dalam artikel yang di-publish dalam Bahasa Inggris itu. Judulnya saja berbunyi: "Who's Had the Worst Year?". Dalam bahasa kita sehari-hari artinya adalah: Siapakah yang mengalami tahun terburuk kali ini? Judul bernada "sial" ini diperkuat dengan anak kalimat "How Asian Leaders Fared in 2016" yang berarti "Gambaran nasib para pemimpin Asia tahun 2016". Pula, pada bagian kickers (kaki judul) editor Bloomberg mencantumkan:

"And some of the headaches they face in 2017", alias: "Dan sejumlah 'sakit kepala' yang dihadapi tahun 2017".

Jadi, sama sekali tidak ada nobat-nobatan bersubyek "Terbaik" pada artikel itu. Atau, sebagai hadiah hiburan belaka, dapat saja dikatakan "Siapa yang Terbaik di antara yang Terburuk".

Nampaknya, dalam amatan saya, terjadi semacam pembelokan makna yang dilakukan para pekabar medsos, dan sejumlah media (baik yang media berbadan hukum maupun "media" garapan personal).

Khusus bagi para pekabar personal, kelihatan sekali bagai mendapat setitik air di tengah kegersangan catatan pemenuhan janji-janji kampanye Joko Widodo. Di tengah kabar pembangunan pembangkit listrik 35 ribu MW yang mulai menjauh dari harapan, Tol Laut yang mulai kehilangan semangat, Harga BBM di Papua yang ternyata masih belum sama sepenuhnya dengan di kawasan barat, nilai tukar Rupiah yang masih berkutat di level 13 ribuan, Kartu Ajaib yang masih jauh dari keajaiban, dll, dll.... Dan artikel Bloomberg pun jadi pelipur lara.

Agar lebih fair, mari lihat indikator yang digunakan Bloomberg (dalam rangka membandingkan para pemimpin Asia-Pasifik, bukan dalam rangka menunjukkan adanya perubahan yang dilakukan pemimpin bersangkutan di negaranya masing-masing):

1. Rupiah menguat 2,41℅.
Sekilas, ini tampak sebagai indikator "Positif". Menjadi makin bercitra positif saat dibandingkan dengan mata uang beberapa negara pembanding yang mengalami penurunan. Namun, penguatan 2,41℅ itu belum bisa menutupi penurunan nilai tukar Rupiah (terhadap Dollar AS) yang terjadi sejak Joko Widodo menjadi presiden. Saat ia dilantik, Rupiah berada pada level 12.100 per Dollar. Saat ini, pertanggal 30 Desember 2016, Rupiah berada dievel 13.475. Artinya, Rupiah mengalami depresiasi (penurunan) lebih dari 10℅. Penguatan 2,41℅ di atas masih terhitung "tekor". Pula, data 2,41℅ itu rancu karena hanya mencakup jendela data Juli sampai Oktober 2016. Sementara data nilai tukar negara pembanding lainnya seperti China, Jepang, dan Korea mencakup jendela data yang lebih lebar. China mencakup keseluruhan tahun (Jan-Des), Korea Januari hingga November, Jepang Januari hingga Oktober. Jadi, pembandingan data menjadi sangat rancu. Mengapa untuk Rupiah hanya mencakup Juli-Oktober? Sekedar info, Rupiah sempat menyentuh nilai tukar 12.900-an (nilai terkuatnya selama 2016) pada awal Oktober). Mengapa hanya pada jendela waktu singkat dan pada saat ada strong point seperti itu? Mungkin jawabannya ada pada Saiful Mujani Research & Consulting yang menjadi sumber Bloomberg.

2. Pertumbuhan Ekonomi 5,02℅.
Ini berarti pertumbuhan datar datar saja karena berkisar pada angka pertumbuhan yang sama dengan tahun sebelumnya. Angka ini jika dibandingkan dengan apa yang sudah dilakukan rezim sebelumnya, yaitu rezim SBY, masih belum ada apa-apanya. SBY pernah membawa Indonesia ke angka pertumbuhan 6℅.

3. Approval Rating 69℅.
Silahkan dinikmati. Dengan sumber SMRC, saya rasa ini merupakan hadiah hiburan bagi kita semua.
Sebagai catatan: angka 69℅ bukanlah yang terbaik. Ada Presiden Filipina dan Presiden India yang memiliki approval di atas 80℅.

So... Benarkah Jokowi pemimpin Terbaik versi Bloomberg?
Saya rasa... Itu adalah lelucon. Lelucon tahun baru. ***


Repost: Riewand R Thalib

 


4 comments:

Cahaya Rasul said...

https://www.bloomberg.com/news/articles/2016-12-28/who-s-had-the-worst-year-how-asian-leaders-fared-in-2016

Momi Darisman said...

Apakah indonesian free press terdaftar di dewan pers?

Riki Nurmansyah said...

Ho..ho..ho..si mumi lagi maling teriak maling.

Anonymous said...

bismillahirrahmanirrahim,
assalamu'alaikum wr wb,
buat saudara2ku muslim syiah di seluruh indonesia,
saya sebagai muslim sunni yang meyakini bahwa syiah adalah bagian dari islam dan saya tidak mudah percaya dengan fitnah keji dan murahan dari wahabi terhadap syiah, dan saya adalah pribadi yang sangat mendambakan persatuan muslim sunni dan muslim syiah..
dengan ini menyatakan pengharapan yang sebesar2nya kepada seluruh muslim syiah di seluruh indonesia agar turut serta dalam barisan muslim sunni indonesia yang telah melakukan aksi bela islam 1 s/d 3 dan sekaligus berhenti mendukung ahok/jokowi yg saat ini sedang tidak disukai oleh muslim sunni indonesia pada umumnya..
mudah2an dengan dukungan muslim syiah terhadap gerakan aksi bela islam yg telah dilakukan oleh muslim sunni, akan mengubah citra negatif muslim sunni indonesia terhadap muslim syiah berbalik menjadi citra positif dan di kemudian hari tercipta hubungan harmonis dan saling menghormati antara muslim sunni dan muslim syiah di indonesia..dan harus dibuat deklarasi untuk menyatakan dukungan ini yg dilakukan oleh tokoh2 muslim syiah indonesia dan disebarkan seluas2nya ke banyak media dan medsos..
dukungan muslim syiah terhadap ahok/jokowi sungguh membuat citra muslim syiah semakin buruk dan terpuruk dan syiah semakin tidak dianggap sebagai bagian dari islam khususnya oleh mereka yg selama ini anti-syiah..dukungan syiah terhadap ahok/jokowi ini adalah satu kemenangan besar bagi wahabi pembuat/penyebar fitnah dan musuh2 islam yg selama ini selalu berusaha memecah-belah muslim sunni dan muslim syiah..wahai muslim syiah indonesia, jangan pernah mau membuat wahabi pembuat/penebar fitnah dan musuh2 islam senang!!!..buatlah mereka tak henti menangis menyesali fitnah2nya!!!..
terusterang, dukungan muslim syiah terhadap ahok/jokowi juga telah sangat menyakiti dan mengecewakan kami yang selama ini sering mengcounter fitnah2 keji wahabi terhadap muslim syiah..dan karenanya, kami menjadi kehilangan semangat untuk membela saudara2 muslim syiah dari fitnah2 tsb..tolong disebarkan surat ini seluas2nya kepada seluruh muslim syiah di indonesia, terimakasih, salam ukhuwah..
dari saudaramu, muslim sunni indonesia