Sunday, 19 July 2009

Antara Serdadu Israel dan Hitler


"Aku harus segera pulang. Ibuku sedang menungguku. Ia pasti khawatir kalau aku tidak segera pulang," kata Mona, gadis Palestina 9 tahun sembari mendekap perutnya yang berlubang dan mengucurkan darah segar akibat ditembak tentara Israel. Di tangan yang satunya masih tergenggam permen coklat yang baru dibelinya di kedai di ujung kampung.

Seorang tenaga medis yang kemudian datang menggendongnya tahu persis apa yang tengah di hadapi Mona, yaitu maut yang tidak mungkin lagi dielakkan. Bahkan bagi seorang laki-laki dewasa yang sehat, tertembak di bagian perut oleh tembakan jarak dekat, kecuali segera mendapat pertolongan intensif, akan membawa kepada kematian. Bukan kematian yang biasa karena kematian yang dihadapi adalah kematian yang diiringi dengan rasa sakit yang sangat hebat.

Namun Mona, dengan kepolosannya, masih dapat memikirkan ibunya, yang mungkin akan marah jika melihat baju barunya kotor karena rembesan darah yang mengucur deras dari lukanya.

"Aku harus segera pulang. Ibuku pasti khawatir karena aku tidak segera pulang." Tidak lama kemudian Mona, gadis kecil yang tidak berdosa itu pun menghembuskan nafasnya yang terakhir dengan tangan masih menggenggam permen coklat.

Di sudut lain tidak jauh dari tempat Mona menghembuskan nafasnya, seorang tentara Israel yang telah menembak Mona, memandang dingin drama kemanusiaan yang menyayat hati itu. Ia, satu di antara sebagian besar orang Israel yang memandang nyawa orang-orang Palestina tidak lebih berharga daripada seekor lalat.

Di tempat lain, di waktu lain di Gaza Palestina, tepatnya pada tgl 15 Oktober 1994, Iman Darweesh Al Hams, gadis Palestina berumur 13 tahun tengah tergeletak di tanah dengan wajah tertelungkup. Ia menderita luka-luka karena tembakan patroli pasukan Israel yang memergokinya. Kemudian datanglah seorang perwira Israel berpangkat kapten. Dengan dingin ditembaknya Iman dari jarak dekat. Selanjutnya dengan tenang sang kapten memberikan perintah kepada pasukannya melalui radio, "Ini komandan. Setiap benda yang bergerak di dalam zona pengawasan, bahkan jika benda itu adalah seorang anak kecil berumur tiga tahun, harus dibunuh."

Seorang serdadu yang masih mempunyai hati nurani melaporkan tindakan sang kapten ke mahkamah militer. Sang kapten pun harus menjalani tiga persidangan militer dalam jangka waktu 2 tahun sejak kejadian penembakan. Dan tebak apa yang didapatkan oleh sang kapten kemudian? : Promosi menjadi Mayor dan ganti rugi senilai 83.000 shekel.

Saya ingat dengan kisah tentang Profesor Roger Garraudy, seorang muallaf asal Perancis saat masih muda. Ketika itu, ketika terjadi perang kemerdekaan Aljazair, Garraudy muda yang kala itu menjadi kader komunis, turut membantu pejuang Aljazair melawan tentara kolonial Perancis. Suatu saat ia tertangkap pasukan kolonial dan langsung dijatuhi hukuman mati.

Komandan pasukan kolonial memerintahkan para serdadu lokal untuk mengeksekusi Garraudy. Serdadu-serdadu lokal itu, yang beragama Islam, menolak dengan alasan orang Islam tidak membunuh orang yang sudah menyerah dan tidak bersenjata. Akhirnya, Garraudy pun urung dihukum mati. Dan karena terkesan dengan sikap para serdadu lokal Aljazair, Garraudy tertarik untuk mempelajari Islam. Roger Garraudy kemudian dikenal sebagai pembela rakyat Palestina yang tangguh.

Saya juga ingat dengan Hitler yang telah memerintahkan pasukannya untuk tidak "menghabisi" pasukan ekspedisi Inggris dan sisa-sisa pasukan Perancis yang terkepung di kota pantai Dunkirk di masa awal Perang Dunia II. Akibatnya ratusan ribu pasukan Inggris dan Perancis itu berhasil menyelamatkan diri dengan berlayar ke Inggris dan kembali berperang melawan Jerman.

Boleh jadi Hitler berusaha membujuk Inggris dan Perancis untuk tidak melibatkan diri dengan masalah yang sedang dihadapi Jerman dengan Polandia dan Uni Sovyet yang menurut Hitler telah menjadi "jew occupied nations" atau negara-negara yang jatuh dalam kekuasaan keji kaum yahudi dan karenanya harus dibebaskan. Namun yang pasti, Hitler masih lebih manusiawi dibanding sang kapten tentara Israel. Setidaknya Hitler tidak menembak mati seorang gadis berumur 13 tahun yang tengah terluka dan tergeletak di tanah dengan wajah tertelungkup.


Catatan:

Dalam rangka membujuk Inggris untuk tidak melibatkan diri dalam perang, Hitler mengutus wakilnya, Rudolf Hess untuk bernegosiasi dengan pemerintah Inggris. Namun bukannya menyambut Hess sebagai tamu negara pembawa perdamaian, Hess justru ditahan bak seorang kriminal dan kemudian dibunuh secara diam-diam di dalam tahanannya.

Hitler membunuh 6 juta orang yahudi? Anda pasti bercanda. Pada tahun 1990 lalu pemerintah Polandia telah merevisi jumlah korban holocoust di Polandia dari 4,5 juta menjadi 1,5 juta. Dan Anda masih berteriak-teriak 6 juta orang? Selain itu para pemuja holocoust tidak pernah bisa membuktikan satu orang pun, hanya satu orang saja di antara jutaan yang dituduhkan, yang meninggal karena gas beracun Jerman. Dan Anda masih berteriak-teriak 6 juta orang?

Keterangan gambar: Jenazah Mona dan ibunya.

Friday, 17 July 2009

Bersiap-siaplah Menghadapi Situasi Paling Buruk


"Dalam masa enam bulan pertama pemerintahannya, Barack Obama akan menghadapi ujian yang berat sebagaimana dialami Presiden Kennedy, sebuah peristiwa besar yang sengaja diciptakan" (Kandidat Wapres Joe Biden dalam satu kampanye tahun 2008).



Pada hari ini, Jum'at 17 Juli 2009, Indonesia kembali mengalami bencana nasional berupa peristiwa pengeboman yang terjadi di dua tempat sekaligus, yaitu Hotel Ritz Carlton dan JW Marriot Jakarta.

Berbeda dengan beberapa peristiwa pemboman yang pernah terjadi di tanah air selama ini, saya merasa peristiwa ini akan membawa pada suatu konsekwensi yang berat bagi bangsa Indonesia. Perasaan itu timbul setelah saya menyimak pernyataan Presiden SBY beberapa jam setelah terjadinya ledakan bom yang menurut saya membawa ancaman yang sangat serius. Kalau selama ini tuduhan terhadap pelaku aksi-aksi serupa biasanya dilekatkan pada kelompok-kelompok "ekstremis Islam" jaringan internasional, pada peristiwa ini saya merasa SBY menunjuk pada unsur-unsur nasionalis: tokoh-tokoh politik yang kecewa dengan hasil pemilu dan orang-orang (mantan pejabat militer) yang terlibat dalam peristiwa penculikan dan pembunuhan politik di masa lalu.

Peringatan keras SBY yang akan menindak keras para pelaku, yang notabene adalah orang-orang yang memiliki kekuatan politik domestik akan membawa konsekwensi serius. Bolah jadi akan segera terjadi aksi penangkapan besar-besaran terhadap beberapa tokoh oposisi nasional.

Dan di antara para tokoh nasional yang menurut saya paling mungkin terjerat dalam aksi ini adalah Prabowo Subianto. Ia termasuk dalam kategori orang yang terlibat dalam kasus penculikan di masa lalu sebagaimana disinggung presiden SBY. Namun alasan paling kuat yang menjadikan Prabowo sebagai sasaran tembak adalah karena platform politik ekonominya yang anti-neoliberalisme.

Tidak secara diam-diam sebagaimana Jusuf Kalla, Prabowo secara vokal menyatakan pandangan-pandangan politiknya yang sangat anti kapitalis asing. Ia bahkan pernah menyatakan akan melakukan "rescheduling" hutang luar negeri jika terpilih menjadi presiden Indonesia. Sebuah langkah radikal yang hanya dilakukan oleh pemimpin-pemimpin progresif atau para pemimpin sosialis. Satu langkah yang oleh para penganut neo-liberal seperti Boediono sebagai "tidak realistis". Bagi para kapitalis dan neo-liberalis, membiarkan Prabowo melenggang sebagai tokoh nasional sama saja membiarkan anak macan tumbuh di dalam rumah. Terutama berkaitan dengan pilpres 2014 mendatang.

Terlepas dari kondisi politik nasional, saya ingin mengingatkan para pembaca tentang seriusnya kondisi sosial-politik-ekonomi yang bakal terjadi karena konstelasi politik luar negeri yang menjadikan kondisi tanah air tidak lebih sebagai riak-riaknya saja. Israel tengah dalam persiapan sangat serius untuk menyerang Iran. Selain beberapa latihan pemboman jarak jauh, beberapa kapal perang Israel telah melintasi terusan Suez menuju Teluk Persia. Aksi Israel ini selain mendapat dukungan Mesir yang mengijinkan lewatnya kapal-kapal perang tersebut, juga Arab Saudi yang telah mengijinkan wilayah udaranya dilewati pesawat-pesawat tempur Israel jika serangan tersebut terjadi.

Beberapa pejabat Amerika, termasuk Presiden Obama dan Kastaf Gabungan Laksamana Muellen memang pernah menyatakan penolakan terhadap rencana aksi tersebut. Tapi dilihat dari beberapa pernyataan politik beberapa waktu terakhir, terutama setelah terjadinya aksi-aksi kekerasan menolak hasil pemilu di Iran, Presiden Obama tampaknya tidak bisa lagi menahan desakan lobbi Israel dan para pejabatnya yang pro-Israel seperti Wapres Joe Biden dan Menlu Hillary Clinton, untuk menyerang Iran. Adapun Laksamana Muellen, sebagai bawahan langsung presiden, tidak akan lagi menjadi batu sandungan begitu Presiden Obama menyetujui rencana serangan terhadap Iran.

Jika terjadi perang antara Israel-Amerika melawan Iran, berdasarkan analisis para ahli, akan menyulut perang regional di kawasan timur tengah. Setidaknya Lebanon, Palestina dan Irak akan menjadi medan perang karena pengaruh Iran di negara-negara itu yang kuat. Tidak hanya itu konflik tersebut kemungkinan juga menyeret negara-negara lainnya seperti Syria, Afghanistan, Pakistan, Turki, hingga Cina dan Rusia. Dan bila skenario ini yang terjadi, maka dunia akan mengalami depresi ekonomi yang sangat parah yang berimbas pada kondisi sosial politik global.

Dan kalaupun Israel tidak jadi menyerang Iran, skenario lain akan diciptakan. Tata Dunia Global korup yang selama ini dikendalikan para kapitalis yahudi dan kroni-kroninya telah terbongkar di sana-sini karena arus informasi yang tidak dapat dicegah berkat adanya internet. Pertemuan pemimpin-pemimpin negara maju selalu mengundang aksi demonstrasi besar-besaran masyarakat anti kapitalisme. Di Amerika mulai muncul tuntutan politik untuk mengaudit Federal Reserve, lumbung uang para kapitalis yang selama ini bekerja tanpa pengawasan publik.

Para analis bahkan berani meramalkan Amerika akan terpecah menjadi beberapa negara setelah dilanda kerusuhan sosial sebagai dampak krisis keuangan global. Belum lagi sentimen anti Yahudi yang kembali muncul di masyarakat barat.

Kondisi seperti ini mirip dengan kondisi pra-Perang Dunia II: depresi ekonomi dan sentimen anti-yahudi yang kuat. Untuk itu para kapitalis yahudi akan mencari pengalih perhatian massa, suatu peristiwa besar berskala global. Perang Israel-Amerika melawan Amerika boleh jadi adalah peristiwa yang dimaksud, namun tidak tertutup kemungkinan adalah peristiwa lain yang sengaja "diciptakan" yang boleh jadi dimulai di Indonesia.

Dan bila ini yang terjadi, ketahuilah saudara-saudaraku, Tuhan kembali memberikan kehormatan kepada bangsa kita sebagaimana Ia telah memberikan kehormatan kepada bangsa kita di masa lalu. Hanya kitalah bangsa yang pernah mengalahkan beberapa kekuatan jahat kemanusiaan sekaligus: imperalisme Mongol, kolonialisme (Belanda), fasisme Jepang, dan komunisme (PKI). Kekuatan jahat berikutnya yang akan kita kalahkan adalah neo-liberal/imperalisme yahudi Amerika.

Thursday, 16 July 2009

Arafat Dibunuh oleh Orang-orangnya Sendiri?


Kontroversi kematian pemimpin Palestina, Yasser Arafat, telah disadari orang sejak lama. Kini kontroversi ini semakin kuat, terutama di kalangan rakyat Palestina sendiri menyusul munculnya tuduhan oleh Sekjend Partai Fatah Farouq al-Qadoumi baru-baru ini bahwa kematian Arafat adalah akibat pembunuhan konspirasi yang dilakukan oleh Mahmoud Abbas (pemimpin Fatah dan Presiden Palestina pengganti Arafat) dan Mohammad Dahlan (mantan menteri keamanan Palestina).

Menurut Qadoumi Abbas dan Dahlan terlibat langsung dalam pembunuhan Arafat. Tuduhan tersebut didasarkan pada adanya pertemuan rahasia antara Abbas dan Dahlan dengan PM Israel Ariel Sharon, Menhan Israel Shaul Mofaz dan satu delegasi Amerika yang dipimpin oleh William Burns. Pertemuan tersebut diadakan awal Maret 2004 (Arafat meninggal tgl 11 November 2004).

Dalam pertemuan tersebut disepakati untuk dilakukan pembunuhan politik terhadap beberapa tokoh Palestina baik dari kelompok Hamas maupun Islamic Jihad, dua kelompok yang menjadi oposisi Fatah, partai pemerintah Otoritas Palestina yang dipimpin oleh Arafat dan Abbas sebagai tangan kanannya.

Menurut Qadoumi, Arafat secara langsung telah menunjukkan notulen pertemuan tersebut kepadanya. Qadoumi juga menambahkan bahwa Arafat memutuskan untuk melawan konspirasi tersebut dan memberitahukan rencana pembunuhan tersebut kepada para pemimpin Hamas dan Islamic Jihad. Dan karena itulah Arafat kemudian dibunuh.

KEMATIAN ARAFAT

Kematian Arafat sangatlah mencurigakan. Selain mendadak, otoritas yang berwenang memberikan keterangan medis tentang kematian Arafat juga menolak memberikan keterangan resmi penyebab kematian Arafat.

Pada tgl 25 Oktober 2004 Arafat terkena penyakit flu yang diawali dengan muntah-muntah saat mengikuti sebuah rapat. Meski telah mendapat perawatan medis kepresidenan ditambah beberapa tim medis dari Mesir, Yordania dan Tunisia, kondisi Arafat semakin memburuk hingga harus menjalani perawatan intensif di RS militer Perancis di Clamart, Paris. Namun demikian kondisi Arafat tidak juga membaik dan sebaliknya semakin memburuk hingga pada tgl 3 November mengalami coma hingga dinyatakan meninggal pada tgl 11 November 2004.

Berbagai informasi beredar beredar secara simpang siur mengenai penyakit yang menyebabkan Arafat meninggal. Beberapa media barat dan Israel, demi mendeskreditkan Arafat, mengembangkan isu Arafat terkena AIDS atau penyakit lever akibat alkohol, meski kemudian tidak terbukti. Kontroversi juga terjadi saat Suha, istri Arafat menolak kedatangan rombongan pejabat Palestina termasuk Abbas dan Dahlan yang ingin menjenguk Arafat. Suha menuduh para pejabat Palestina tersebut bermaksud "mengubur Arafat hidup-hidup". Sebaliknya para pejabat Palestina justru menuduh Suha menutup-nutupi kondisi Arafat yang sebenarnya.

Hukum Perancis melarang tenaga medis memberikan keterangan seputar kesehatan pasiennya kecuali kepada kerabat terdekat sang pasien. Dalam hal ini adalah Suha Arafat dan Nasser al-Qudwa (keponakan Arafat yang menjadi dubes Palestina di PBB). Hingga kini tidak ada keterangan resmi mengenai penyebab kematian Arafat, kecuali desas-desus belaka.

Media massa barat mengembangkan opini panyakit AIDS dan komplikasi lever karena kecanduan alkohol. Media massa Arab seia sekata menuduh Arafat korban pembunuhan. Koran terbesar Amerika, New York Times menolak kedua pendapat tersebut. Namun koran terbesar Israel, Haaretz dalam satu artikelnya menyatakan dengan "jujur" bahwa kematian Arafat adalah "kasus peracunan yang sangat klasik". Namun secara umum kecurigaan Arafat meninggal karena diracun adalah pendapat yang paling dominan.

Koran Arab Al-Kurdi menuduh Suha Arafat (seorang kristen Palestina, sebagian orang menuduhnya agen Israel yang disusupkan) sengaja menyembunyikan penyebab kematian Arafat dengan menolak autopsi terhadap jenazah Arafat. Al Kurdi menyerukan dibentuknya komisi independen untuk menyidiki kematian Arafat seraya menulis, "Setiap dokter yang menangani panyakit Arafat akan mengatakan kematiannya menunjukkan tanda-tanda keracunan," tulis Al Kurdi.


MASA-MASA AKHIR ARAFAT

Setelah bertahun-tahun memperjuangkan kemerdekaan Palestina dari penjajahan Israel dengan senjata, Arafat akhirnya merasa letih dan menerima alternatif perjuangan melalui perundingan. Perundingan pertama Palestina-Israel berlangsung di Oslo tahun 1993 yang menghasilkan "Perjanjian Oslo" dimana disepakati: secara gradual Palestina diberi hak pemerintahan sendiri di sebagian wilayah Jalur Gaza dan Tepi Barat dalam waktu 5 tahun. Sebagai konsekwensinya Palestina mengakui negara Israel, suatu langkah besar namun sulit yang dilakukan Arafat.

Perundingan kedua berlangsung di Wye River, Amerika, tahun 1988 yang menghasilkan Memorandum Wye River dimana disepakati tahap-tahap proses perdamaian oleh kedua negara.

Pada tahun 2000 diadakan perjanjian di Camp David yang gagal mencapai kesepakatan terutama dalam status kota Yerussalem, meski PM Israel Ehud Barak bersedia memberikan beberapa konsesi untuk Palestina.

Pada bulan Januari 2001 juga diadakan pertemuan antara Arafat dan Ehud Barak atas inisiatif Presiden Bill Clinton, bertempat di Taba. Namun pertemuan ini juga gagal menghasilkan kemajuan karena Barak harus menarik diri dari meja perundingan karena urusan kampanye.

Setelah itu hubungan Israel-Palestina yang membaik berkat upaya diplomasi yang gigih oleh Presiden Bill Clinton sejak Perjanjian Oslo tahun 1993 mulai memburuk setelah Amerika dipimpin oleh George W Bush. Keadaan semakin parah karena Israel kemudian dipimpin oleh tokoh konservatif Ariel Sharon. Puncak dari pertikaian itu adalah ditahannya Arafat di kantornya di Ramallah oleh tentara Israel yang mengepungnya selama berbulan-bulan. Dalam situasi ini George W Bush berdiri di belakang Sharon dengan membuat pernyataan yang menyudutkan Arafat sebagai "penghambat perdamaian".

Namun penyebab memburuknya hubungan Israel-Palestina juga disebabkan oleh kebijakan politik Arafat yang membiarkan faksi-faksi Palestina, termasuk partai pimpinannya, Fatah, melakukan serangan-serangan terhadap Israel. Hal ini disebabkan dua faktor. Pertama karena Arafat merasa kecewa kepada Israel yang terus-menerus menunda-nunda implementasi perjanjian perdamaian yang telah disepakati. Kedua adalah karena Arafat merasa terancam kepopulerannya oleh kekuatan radikal Palestina yang anti-Israel, yaitu Hamas dan Jihad Islam.

Pada tahap ini pemerintahan Israel di bawah pimpinan Ariel Sharon serta patronnya, George W Bush memutuskan untuk mengganti Arafat dengan pemimpin Palestina lain yang lebih moderat dan mudah dikendalikan. Dan Mahmoud Abbas adalah pilihan yang tepat.

Monday, 13 July 2009

Rahasia di Balik Kematian Michael Jakson


Meski diabaikan oleh media massa, fakta bahwa Michael Jackson terlibat dalam masalah anti-semitisme tidak dapat disembunyikan. Simak saja lagu They Dont't Care About Us yang ditembangkannya tahun 1995. Dengan gamblang Michael menunjukkan kebenciannya terhadap yahudi: “Beat me / hate me /You can never break me /Will me / thrill me / you can never kill me / Jew me, sue me / Everybody do me / Kick me, kike me / Don’t you black or white me.”

Dalam lirik lagu di atas tampak jelas kata jew dan kike yang tidak lain adalah yahudi. Bahkan kata kike merupakan istilah yang mengandung konotasi negatif: yahudi hitam jelek.

Dalam sebuah acara Good Morning America yang disiarkan stasiun televisi ABC tgl 22 November 2005 disiarkan isi rekaman suara Michael Jackson yang tengah mengeluh tentang perlakuan orang-orang yahudi terhadapnya yang disampaikannya kepada mantan manajernya, Marc Schaffel. " Mereka menghisap saya seperti lintah. Saya sangat lelah menghadapinya. Saya adalah orang paling populer di dunia, menghasilkan banyak uang, mobil mewah, dan segalanya, dan berakhir sebagai oran yang tidak punya apapun. Ini semua adalah konspirasi. Semuanya ini dilakukan oleh orang-orang yahudi."

Tidak lama kemudian direktur ADL, LSM yahudi paling berpengaruh dalam mengendalikan kehidupan sosial politik di Amerika memberikan responnya. "Michael Jackson memiliki sentimen kuat anti yahudi. Dan sepertinya hal ini menjadi masalah setiap waktu dalam hidupnya. Ia selalu menyalahkan yahudi. Adalah menyedihkan bahwa Michael Jackson terinfeksi oleh pandangan-pandangan lama yang negatif tentang yahudi sebagai penguasa segalanya, pencuri uang dan manipulatif."

ADL bahkan secara resmi telah menyatakan Michael Jackson sebagai anti-semit. Dan karena tekanan-tekanan yang dialami Michael Jackson maka saudaranya, Jeremy Jackson mengajak Michael untuk bergabung dengan organisasi Nation of Islam sekaligus pindah agama ke Islam. Pada tgl 18 Desember 2003 New York Post melaporkan bahwa Michael Jackson telah resmi bergabung dengan Nation of Islam, organisasi orang-orang Islam kulit hitam Amerika. Selanjutnya pada tgl 24 Februari 2007, San Francisco Chronicle melaporkan, "Raja Pop Michael Jackson telah memberikan konfirmasi tentang kepindahan agamanya ke Islam, demikian beberapa laporan dari Timur Tengah. Koran Arab-Israeli Panorama mengklaim Jackson telah mengumumkan kepindahan agama tersebut dan dan rencananya untuk tinggal di Bahrain.”

Mantan pembantu rumah tangga Jackson, Grace Rwaramba mengungkapkan bahwa kepindahan Michael Jackson tersebut disebabkan ia terlalu sering diganggu oleh orang-orang di sekelilingnya. Selain konspirasi yahudi yang telah menggerogoti keuangannya untuk mengatasi berbagai tuduhan pedhofilia serta perkara kontraknya dengan Sony Music, orang-orang dekatnya sendiri sering memanfaatkannya, termasuk orang-orang dari Nation of Islam. Ia mencontohkan orang-orang Nation of Islam telah menyewa property mahal dan membebankannya kepada Michael. Mereka juga mengeruk keuntungan sendiri dari sebuah panampilan Michael di Jepang.

Figur paling menyolok dari Nation of Islam yang terlibat dalam memanfaatkan Michael adalah Leonard Muhammad, anak menantu dari Louis Farrakhan, sang pemimpin tertinggi Nation of Islam.

Roger Friedman dari Fox News dalam laporannya tgl 14 Januari 2004 mengatakan, “Kepala staff Nation of Islam, Leonard Muhammad saat ini telah menjalankan manajemen Michael Jackson. Ia duduk di kursi utama dalam pertemuan yang dihadiri para pengacara dan akuntan Michael Jackson."

Dengan Leonard sebagai manajer, Friedman menyatakan Nation of Islam telah mempengaruhi kehidupan pribadi Michael, termasuk anak-anak Michael yang akhirnya menimbulkan perselisihan dengan ibu anak-anak Michael, Debbie Rowe, yang menurut Friedman adalah seorang wanita yahudi yang dengan demkian anak-anak Michael menurut budaya yahudi otomatis dianggap sebagai orang yahudi.

Individu lain yang terlibat dalam kehidupan Michael adalah Dr. Tohme R. Tohme yang menjadi juru bicara resmi Michael. Ia adalah pebisnis asal Lebanon yang mengaku memiliki jaringan bisnis besar di Senegal. Padahal kenyataannya, menurut Friedman, Dr. Tohme tidak memiliki sertifikat dokter dan pemerintah Senegal juga membantah keberadaan bisnisnya di Senegal.

Tohme dan mitra bisnisnya, James Weller yang juga orang berpengaruh di Nation of Islam pernah mengeluarkan ancaman terhadap dua orang kreditor Michael yang bermaksud menjual memoribilia Michael. Sebaliknya kedua kreditor tersebut kemudian menuntut Michael Jackson.

Orang lain yang dekat dengan Michael, bahkan menjadi orang terakhir berada di dekat Michael saat sakratul maut, adalah Dr Conrad Murray. Ia adalah dokter pribadi Michael yang tinggal satu rumah dengannya. Ia orang yang dinyatakan menangani Michael saat menderita gagal jantung di rumahnya, beberapa saat sebelum dinyatakan meninggal. Ternyata ia juga dokter palsu yang tidak mempunyai sertifikat sebagai tenaga medis ataupun kardiologi. Pada tahun 1992 ia adalah pebisnis yang bangkrut.

Dengan kondisi fisik Michael yang tidak memungkinkan, Dr Tohme telah bersekongkol dengan AEG Live untuk mengadakan konser keliling dunia di 50 tempat. Bos AEG Live adalah Phillip Anschutz, seorang yahudi yang pernah dijuluki majalah Fortune sebagai eksekutif paling rakus di Amerika tahun 2002.

Setelah kontrak ditandatangani AEG membayar $10 juta untuk manajemen Michael. AEG juga menunjuk Conrad Murray sebagai dokter pribadi Michael. Alih-alih membaik, Michael justru semakin menderita akibat dicekoki dengan berbagai obat seperti Demerol, Dilaudid, Vicodin, Soma, Xanax, Zoloft, Paxil dan Prilosec. Pada titik ini Michael terjatuh dalam jeratan konspirasi jahat sebagaimana Elvis Presley yang juga meninggal karena obat-obatan.

Sunday, 12 July 2009

"London Bombing" Terbukti "Falseflag"


Foto yang dirilis di media massa barat menyambut ulang tahun tragedi "London Bombing" (LB), yaitu peristiwa pengeboman di kereta api yang menewaskan 52 penumpang di London tgl 7 Juli 2005, membuktikan klaim pemerintah bahwa penyebab ledakan adalah aksi bom bunuh diri adalah salah. Foto tersebut justru membuktikan bahwa ledakan disebabkan oleh bahan peledak yang diletakkan di bawah kabin kereta alias bom waktu yang sengaja ditempatkan di bawah kereta.

Foto tersebut sesuai dengan kesaksian para saksi mata yang mengatakan bahwa ledakan terjadi dari bawah kabin kereta dan tidak melihat adanya pelaku bom bunuh diri.

Namun upaya sistematis terus dilakukan untuk menutup-nutupi bukti ini. Reporter Guardian, Mark Honigsbaum saat mewawancarai seorang sakti mata mendapat jawaban bahwa, "lantai kereta api tiba-tiba terangkat,“ yang menunjukkan bahwa ledakan disebabkan oleh bom yang berada di bawah kabin kereta api. Namun kemudian Honigsbaum mengedit keterangan itu dengan pendapatnya sendiri bahwa jawaban tersebut "di luar kontek".

Namun pernyataan Bruce Lait, salah seorang korban selamat dalam kejadian tersebut yang berada hanya beberapa meter dari ledakan, tentunya tidaklah "di luar konteks".

Dalam keterangannya kepada Cambridge Evening News, Lait mengatakan dirinya dan beberapa orang temannya duduk di dekat sumber ledakan saat kejadian itu. "Kami berada di sana selama kira-kira satu menit dan kemudian sesuatu terjadi. Ini seperti hantaman listrik yang sangat keras yang menghantam kami dan memekakkan pendengaran kami. Saya masih bisa mendengar ledakan itu hingga kini," katanya.

Saat ia dan teman-temannya mendapat pertolongan, seorang polisi mengawasi lubang dimana diduga menjadi tempat sumber ledakan. Lait ingat polisi itu berkata, "lihat lubang itu, hati-hati, di situlah bom itu meledak." Lait kemudian melihat lubang yang dimaksudkan. Tampak di matanya besi baja menganga ke dalam kabin yang menunjukkan bahwa ledakan berasal dari bawah kabin.

"Polisi lain mengatakan bom berada di dalam tas ransel, namun saya tidak ingat ada seseorang dengan tas ransel," tambah Lait.

Dalam kesaksiannya itu Lait menyampaikan empat hal: Pertama tidak ada pembom bunuh diri. Kedua tidak ada tas ransel atau tas apapun yang digunakan untuk menyimpan bom. Ketiga tidak ada orang yang berada di pusat ledakan. Dan keempat adalah ledakan berasal dari bawah kabin kereta.

Meski foto yang beredar tersebut telah dipotong pada titik terjadinya ledakan, namun orang bisa mengetahui lubang tersebut berada di bagian bawah kabin kereta, menunjukkan bagian tersebut yang paling hebat mengalami hantaman ledakan bom. Dan pernyataan Lait bahwa tidak ada seorang pun pembom bunuh diri konsisten dengan bukti-bukti lainnya.

Bukti lain dimaksud di antaranya adalah ditemukannya ID card yang dikatakan polisi sebagai milik pengebom bunuh diri. Anehnya ID card itu masih dalam keadaan baik sehingga menimbulkan keraguan dari pernyataan polisi tersebut.

Bukti lainnya adalah gambar CCTV yang menunjukkan tingkah laku orang yang dituduh sebagai pelaku bom bunuh diri. Dalam rekaman itu sang pelaku tampak tidak menunjukkan tanda-tanda orang yang akan menghadapi misi berat yang akan merengut nyawanya. Sang palaku tampak berdialog dengan seorang kasir, berjalan keluar masuk toko-toko dan bergurau dengan orang-orang di sekitarnya.

"Saya telah mempelajari rekaman CCTV para tertuduh pelaku ledakan. Mereka tampak tidak mencurigakan sebagai pelaku tindak kriminal apapun," kata mantan jubir London Metropolitan Police.

"Tiket-tiket perjalanan, bukti pembayaran yang menunjukkan salah satu dari tertuduh pelaku menghabiskan banyak uang memperbaiki mobilnya, dan fakta banyak salah satu tertuduh lainnya mempunyai keluarga dan menjadi guru sekolah luarbiasa menunjukkan lemahnya tuduhan kepada para pelaku," kata Paul Beaver, seorang pakar kepolisian di London. "Jika Anda telah terikat dengan komitmen seperti itu, bagaimana Anda akan mengorbankan hidup Anda. Memang hal seperti ini terjadi di Palestina, namun orang-orang itu tinggal di Inggris," tambah Paul.

Namun fakta lain yang paling kuat yang mengindikasikan adanya sebuah operasi falseflag (operasi inteligen untuk menimbulkan alasan politik tertentu) adalah adanya latihan keamanan pada pagi hari, hari yang sama
dengan aksi pengeboman 7 Juli 2005. Adanya latihan itu memungkinkan dilakukannya peletakan bom di tempat yang direncanakan tanpa ketahuan publik karena selama latihan tersebut hanya aparat keamanan yang boleh berada di lokasi latihan.

Sementara itu, melihat banyaknya kontroversi seputar bencana tersebut beberapa keluarga korban pernah menyampaikan tuntutan kepada pemerintah untuk dibentuknya penyidikan independen. Mantan kepala seksi anti terorisme kepolisian Inggris, Andy Hayman yang pernah menjadi Asisten Komisioner Operasi Khusus pada saat terjadinya bencana juga pernah menyampaikan tuntutan terbuka dibentuknya tim penyidik independen. Namun pemerintah menolak semua tuntutan itu.

"Atas insiden-insiden "less gravity" -- kecelakaan kereta api, kematian dalam tahanan dan serangan-serangan teroris -- biasanya memungkinkan dibentuknya penyidikan independen. Bagaimana mungkin untuk kasus kecelakaan dalam sistem transportasi kota London yang menewaskan 52 orang tidak dibentuk penyidik independen?" tanya Hayman.

Sebaliknya pemerintah justru terkesan sangat ketat menutupi kasus ini. Pemerintah bahkan menindak keras pihak-pihak yang dianggap menyebarkan versi yang berbeda dengan keterangan pemerintah. Misalnya saja, beberapa waktu yang lalu polisi menangkap seseorang yang mengirimkan DVD dokumen penyidikannya tentang serangan bom London kepada juri yang mengadili perkara tersebut. Selain itu media massa (yang mayoritas milik para kapitalis mapan terus-menerus mendeskreditkan pembuat film dokumenter 7/7: Ripple Effect, Anthony John Hill.

Wednesday, 8 July 2009

Surat dari Penjara Israel


Pengantar:
Apa yang akan dilakukan Amerika (pemerintah, rakyat dan persnya) jika seorang warganegaranya yang terhormat, seorang mantan anggota Congress, dirampok dan ditahan oleh satu negara kecil? Dimulai dengan sumpah serapah pers, dan terakhir pasukan Amerika akan menghancurkan negara itu. Tapi tidak jika negara kecil itu adalah negara yahudi Israel. Dan benarlah apa yang dikatakan Ariel Sharon: "Kita, yahudi menguasai Amerika."

Sudah hampir seminggu Cynthia McKinney, mantan anggota Congress yang menjadi aktifis kemanusiaan, ditahan oleh tentara Israel. Ia ditahan setelah berusaha menerobos blokade Israel menuju Gaza untuk memberikan bantuan kemanusiaan di sana. Sebelumnya kapal yang mengangkutnya besarta rombongannya dibajak tentara Israel di perairan internasional sebelum dibawa ke Israel dan selanjutnya ditahan di penjara di kota Ramle.

Aksi penerobosan ini adalah yang kedua dilakukan Cynthia setelah aksi pertama akhir tahun lalu yang gagal setelah kapalnya diserang oleh angkatan laut Israel dan terpaksa balik haluan ke Lebanon.

Berikut adalah pengakuan Cyntia yang dimuat di situs truthseeker.co.uk tgl 3 Juli 2009:

Ini adalah Cynthia McKinney dan saya sedang berbicara dari dalam penjara Israel di Ramle. Saya adalah bagian dari Free Gaza 21, kelompok aktivis kemanusiaan yang sekarang ditahan Israel karena bermaksud memberikan bantuan kesehatan, termasuk memberikan crayon untuk anak-anak Palestina di Gaza. Saya membawa satu tas penuh dengan crayon.

Saat kami sedang dalam perjalanan ke Gaza, pasukan Israel mengancam akan menembak kapal kami, namun kami tidak peduli dan terus berlayar. Kemudian pasukan Israel membajak kapal dan menangkap kami karena kami akan membagikan crayon untuk anak-anak Palestina di Gaza. Kami ditahan dan kami ingin masyarakat dunia melihat bagaimana kami diperlakukan karena berniat memberikan bantuan kemanusiaan untuk rakyat Gaza.

Pada masa awal operasi militer Israel di Gaza bulan Desember 2008, kami berlayar ke Gaza dengan kapal untuk mencoba, sebagai wakil Amerika untuk satu delegasi internasional, mengirimkan 3 ton perlengkapan kesehatan untuk rakyat Gaza yang terkepung dan hancur.

Selama operasi militer itu Amerika menyuplai pesawat F-16 yang menembakkan rudal hellfire ke orang-orang yang terperangkap. Pembersihan etnis menjadi genosida skala penuh. Amerika menyuplai bom phosporus, depleted uranium, teknologi robot, senjata DIME dan bom cluster yang menimbulkan luka yang tidak pernah dijumpai para ahli medis sebelumnya. Saya telah diberitahu oleh para dokter yang berada di Gaza bahwa Israel telah melakukan uji senjata terhadap penduduk Gaza.

Dunia telah menyaksikan kekejian Israel melalui Al Jazeera dan Press TV yang disiarkan dalam bahasa Inggris. Saya menyaksikan siaran itu setiap saat, tidak di Amerika tapi di Lebanon dimana upaya kami yang pertama untuk memasuki Gaza harus berakhir setelah militer Israel menabrak kapal kami saat kami berada di perairan internasional. Adalah suatu keajaiban bahwa saya berada di sini menuliskan pertemuan kedua saya dengan militer Israel, lagi, sebuah misi kemanusiaan telah digagalkan oleh Israel.

Penguasa Israel telah mencoba membuat kami mengaku telah melakukan kejahatan. Saya sekarang berada di penjara Israel dengan nomor 88794. Bagaimana mungkin saya dipenjara karena akan memberi crayon kepada anak-anak?

Zionisme pasti telah kehilangan legitimasi terakhirnya karena telah memperlakukan demikian kepada orang-orang yang sangat percaya pada hak-hak manusia, yang telah memberikan sepenuh hidupnya untuk anak-anak orang lain. Jika Israel merasa terancam karena anak-anak Gaza memiliki crayon maka Israel tidak hanya kehilangan legitimasi terakhirnya, namun juga harus dinyataan sebagai sebuah negara yang gagal.

Saya tengah menghadapi ancaman deportasi dari negara yang telah membawa saya dengan todongan senjata setelah merampas kapal kami. Saya dibawa ke Israel dengan paksa. Saya berada di penjara ini karena mempunyai impian bahwa anak-anak Gaza bisa menggambar dan mewarnai, bahwa penduduk Gaza yang terluka dapat terobati, dan bahwa rumah-rumah penduduk Gaza yang hancur karena bom dapat diperbaiki kembali.

Namun saya telah belajar banyak hal di dalam penjara ini. Pertama adalah bahwa penjara ini dipenuhi oleh orang-orang kulit hitam: kebanyakan orang-orang dari Ethiopia (yahudi Falasha) yang juga mempunyai impian... seperti teman satu sel saya yang tengah mengandung. Mereka semua masih berumur 20-an. Mereka menyangka telah datang ke tanah suci. Mereka berharap hidup mereka akan lebih baik.... Mereka bangsa yang dahulu jaya, Ethiopia yang tidak pernah dijajah oleh bangsa manapun, telah dilemparkan ke lubang hitam Amerika, yang menjadi tempat penyiksaan dan pendudukan. Rakyat Ethiopia harus membebaskan negerinya karena politik negara superpower telah menjadi jauh lebih penting daripada hak asasi manusia dan kemerdekaan.

Teman satu sel saya datang ke tanah suci untuk membebaskan diri dari kekejian politik negara superpower di negerinya (Ethiopia terlibat pertempuran yang meletihkan di Somalia karena memenuhi permintaan Amerika yang tidak ingin Somalia dikuasai oleh orang-orang Islam yang ta'at). Mereka datang ke Israel karena mengira Israel akan memenuhi janji mereka. Perjalanan mereka melalui Sudan dan Mesir sangatlah sulit yang hanya bisa yang bayangkan kesulitannya. Kebanyakan dari mereka merupakan wakil terbaik dari keluarganya. Mereka bermaksud mendapatkan status pengungsi dengan mendatangi kantor UNHCR. Mereka ingin mendapatkan status pengungsi untuk mendapatkan perlindungan dari tragedi. Namun saat tiba di Israel mereka hanya mendapat jawaban, "tidak ada kantor UNHCR di Israel."

Polisi Israel diberi kewenangan untuk menangkap dan menjebloskan mereka ke dalam lubang hitam permainan sistem hukum. Wanita-wanita cantik dan penuh harga diri ini mewakili harapan keluarga mereka. Ide tentang Israel yang aman dan damai telah menjebak mereka semua. Melalui kampanye dan propaganda Israel membanggakan diri sebagai tempat aman bagi para pengungsi yahudi maupun kristen. Saya pun mulanya percaya dengan propaganda ini.

Kenyataannya Israel telah berbohong kepada dunia. Israel telah berbohong kepada keluarga dari para wanita ini. Israel berbohong kepada para wanita yang kini terkungkung dalam penjara di Ramle. Dan apa yang terjadi pada kami? Hari ini seorang teman wanita satu sel saya menangis histeris. Ia telah berada di dalam penjara selama 6 bulan. Sebagai warga Amerika, menangis bersama mereka tidaklah cukup. Kebijakan pemerintah Amerika harus lebih baik lagi, dan sementara kita melihat Presiden Obama menghamburkan $12,6 triliun dana talangan kepada para pelaku bisnis pasar uang hal ini menjelaskan bahwa "harapan", "perubahan" dan "ya kita bisa" sangatlah kuat mencerminkan "digniti" dan "self-fulfilment" secara indufidual maupun nasional, yang melingkupi seluruh manusia yang mempercai slogan-slogan itu.

Namun itu tidak lebih dari kampanye marketing yang ditebarkan kepada seluruh penduduk Amerika sebagaimana Israel mengkampanyekan diri kepada dunia. Itu semua menjerat kita, dan lebih tragis lagi menjerat para wanita itu.

Tanyakan kepada rakyat Palestina. Tanyakan kepada orang-orang hitam dan Asia yang tengah meringkuk di penjara di Ramle. Tanyakan kepada para wanita teman satu sel saya. Dan tanyakan kepada diri anda: apa yang akan anda lakukan?

Mari lakukan perubahan pada dunia bersama-sama dan menuntut apa yang kita butuhkan sebagai manusia: harga diri. Saya menyerukan kepada PBB untuk membebaskan para wanita tahanan di Ramle ini. Saya menuntut kepada menlu Amerika untuk memasukkan pelanggaran terhadap para wanita yang ditahan di Israel sebagai salah satu laporan tahunan HAM. Saya juga meminta sekali lagi kepada Presiden Obama untuk berkunjung ke Gaza, kirimkan utusan khusus Anda George Mitchell ke Gaza dan menjalin komunikasi dengan HAMAS yang telah menjadi pilihan rakyat Palestina.

Saya mempersembahkan tulisan ini untuk mereka yang berjuang untuk membebaskan Palestina, dan juga untuk para wanita yang saya temui di Ramle. Ini dari Cynthia McKinney, 2 Juli 2009, juga dikenal dengan sebutan tahanan Ramle nomor 88794.

Monday, 6 July 2009

Iran, Batu Sandungan Agenda Besar Amerika


Beberapa minggu setelah terjadinya Tragedi WTC tgl 11 September 2001, kolumnis Washington Post dan salah satu dedengkot aliran neo-konservatif, Charles Krauthammer, membuka rahasia agenda politik Amerika di Timur Tengah. Agenda tersebut adalah penggantian regim penguasa di enam negara timur tengah yang dianggap mengancam kepentingan Amerika dan keamanan Israel. Negara-negara itu adalah Afghanistan, Iraq, Iran, Syria, Libya, dan Palestina.

Kita telah melihat agenda tersebut telah dilaksanakan secara gamblang di Afghanistan dan Irak. Pelestina juga telah mengalami pergantian kekuasaan dengan meninggalnya Yasser Arafat melalui sebuah konspirasi politik yang keji. -- Sebelumnya Arafat dikepung di kantornya selama berbulan-bulan oleh tentara Israel. Kemudian dalam kondisi sakit karena racun yang diberikan Israel, Arafat diterbangkan ke Perancis hanya untuk menjemput maut.

Selanjutnya pemimpin Libya Moammar Khadaffi yang melihat bahaya mengancam menyusul , melakukan negosiasi dengan Amerika-Inggris. Pada bulan Januari 2004 ia menyetujui persyaratan yang diajukan Amerika untuk menghindari serbuan Amerika: mengganti kerugian peristiwa insiden pemboman pesawat di Lockerbie senilai $3 miliar, menandatangani pakta pelarangan senjata kimia, menghentikan program pengembangan senjata pemusnah massalnya serta menyerahkan peralatan senjata pemusnah massalnya ke Amerika.

Sementara itu Syria, paska terusir dari Lebanon tahun 2005, terus mengalami tekanan politik dan ekonomi serta ancaman perang dari Amerika dan Israel, termasuk serangan kilat Israel terhadap instalasi penelitian nuklirnya, akhir tahun lalu. Bersama Iran, Syria adalah negara yang belum mengalami pergantian kekuasaan.

Namun Iran adalah sasaran yang paling sulit untuk ditaklukkan. Dan ironisnya di bawah tekanan Amerika yang semakin membesar, pengaruh Iran justru semakin kuat di kawasan timur tengah. Sejak tahun 2004 misalnya, Iran berhasil menanamkan pengaruh kuat pada regim penguasa Irak dan kubu oposisi sekaligus (milisi Muqtada Sadr. Iran mampu meyakinkan Muqtada Sadr untuk menghentikan perlawanan bersenjata terhadap pemerintah Irak), justru pada saat pasukan Amerika dan sekutunya masih bercokol di negeri itu. Keberhasilan Hizbollah menahan serangan Israel dalam Perang Lebanon 2006 juga membuat pengaruh Iran yang merupakan patron dari Hizbollah, semakin kuat saja.

Setelah pelantikan George W Bush untuk periode pemerintahan kedua bulan Januari 2005, Dewan Kemanan Nasional Amerika terlibat dalam perdebatan internal yang intensif mengenai bagaimana Iran akan diperlakukan. Pilihannya hanya dua, yaitu cara persuasif (diplomasi dan inteligen) atau cara kekerasan (serangan militer). Wapres Dick Cheney dan Menhan Donald Rumsfeld adalah pihak yang menyerukan tindakan keras. Sementara menlu Condoleezza Rice yang didukung oleh perdana menteri Inggris Tony Blair menyerukan cara doplomasi. Sementara para jenderal angkatan perang Amerika berpihak kepada Condoliza Rice dengan alasan serangan terhadap Iran akan mengancam posisi militer Amerika di Irak yang saat itu belum dapat dikendalikan sepenuhnya.

Selama pemerintahan George W Bush, Congress Amerika menyetujui anggaran senilai $400 lebih untuk melakukan operasi inteligen di Iran yang ditujukan untuk melemahkan regim garis keras Iran dan memungkinkan munculnya penguasa baru yang lebih pro-Amerika. Program tersebut meliputi pemberian dukungan inteligen dan militer kepada kelompok-kelompok pemberontak Iran. Namun pada tahun 2008 program itu juga meliputi pengembangan software untuk mengacak-acak situs-situs pemerintah Iran dan software anti-sensor untuk melumpuhkan sensor terhadap situs-situ anti pemerintah Iran.

Pada tgl 24 Mei 2007, Brian Ross, seorang wartawan investigatif ABC News membocorkan cerita tentang program-program sofware yang digunakan CIA atas seijin Presiden Bush untuk melumpuhkan pemerintah Iran. "Beberapa pejabat dan mantan pejabat CIA mengaku kepada kami bahwa CIA telah mendapat persetujuan rahasia dari presiden untuk melancarkan propaganda dan operasi inteligen untuk meruntuhkan regim Iran, dan operasi ini masih berlangsung." kata Ross seraya menambahkan bahwa operasi rahasia tersebut juga meliputi penulisan artikel-artikel negatif tentang Iran di media-media massa serta mempermainkan mata uang Iran untuk melemahkan sendi ekonomi Iran.

Sementara itu pada tgl 27 Mei lalu koran Inggris Daily Telegraph menulis tentang operasi inteligen CIA untuk mendestabilisasikan Iran. Rencana yang mendapat ijin presiden Bush itu juga meliputi perekrutan dan penggalangan data inteligen dari komunitas keturunan Iran yang tinggal di Amerika, tindakan yang selama ini hanya boleh dilakukan oleh kepolisian federal FBI. Dalam artikel Daily Telegraph tersebut seorang pejabat CIA mengatakan, "Warga keturunan Iran yang tinggal di Amerika masih memiliki hubungan dengan keluarga mereka di Iran, dan mereka merupakan sumber informasi dua arah yang menguntungkan."

Salah satu bagian dari program CIA tersebut adalah menyuplai dana dan persenjataan kepada kelompok-kelompok pemberontak Sunni Iran seperti Jundullah yang sering melakukan aksi serangan melalui basis mereka di Pakistan.

Sejak tahun 2007 pemerintah Iran telah menangkap belasan anggota kelompok pemberontak ini. Namun menjelang pemilu tgl 12 Juni lalu mereka secara intensif melakukan berbagai aksi kekerasan, termasuk pemboman yang menewaskan 20 orang dua minggu sebelum pemilu, juga aksi pemboman terhadap markas kampanye presiden Ahmadinejad.

Selain Jundullah, kelompok pemberontak lain yang mendapatkan bantuan CIA adalah Mujahidin Khalq yang oleh Amerika mendapat "perlindungan" di Irak meski ironisnya organisasi ini masuk dalam daftar organisasi teroris versi Amerika sejak tahun 1997. Artikel tersebut juga mengutip pernyataan mantan pejabat deplu Amerika yang sekarang bekerja untuk lembaga kajian Inggris, International Institute for Strategic Studies, yang mengatakan bahwa sabotase adalah pilihan strategis untuk menghambat program nuklir Iran. "Tanpa aksi militer, tanpa jejak terlihat."

Daily Telegraph juga mengutip pernyataan pejabat tersebut yang mengatakan bahwa CIA juga menyediakan perlengkapan komunikasi canggih yang mampu mengorganisir kelompok-kelompok oposisi Iran sekaligus mengatasi program sensor internet yang dilakukan pemerintah. Perlu dicatat bahwa program inteligen CIA ini di luar anggaran kementrian luar negeri yang khusus ditujukan untuk menangani masalah di Iran yang mencapai $400 juta tahun ini. Sejak tahun 2006 program destabilisasi Iran mencapai $1 miliar lebih.

Selama dasawarsa 1980-an pemerintah Amerika dan CIA sangat aktif terlibat dalam gerakan "demokrasi" di Eropa timur yang berujung pada penggulingan pemerintah untuk digantikan dengan pemerintahan baru yang pro-Amerika. Fenomena ini telah banyak ditulis dalam berbagai buku kajian politik maupun biografi tokoh-tokoh politik yang terlibat. Mantan penasihat keamanan Amerika, Dr. Zbigniew Brzezinski, dalam sebuah wawancara dengan televisi CNN tahun 2009 mengakui tentang keterlibatan Amerika dalam gerakan "Solidarity" yang dipimpin oleh Lech Wallesa di Polandia. "I was up to my ears in dealing with it and trying to steer it and manipulate it," katanya tentang hal itu. Mengenai keterlibatan Amerika di Iran, Brzezinski mengatakan bahwa Amerika menginginkan perubahan rejim di Iran karena hal itu akan memberikan keuntungan bagi Amerika. Namun untuk itu diperlukan "manipulasi inteligen".

Pada tgl 28 Juni lalu, CNN mewawancarai mantan pejabat senior CIA Bob Baer tentang keterlibatan Amerika dalam konflik di Iran. Bob mengatakan, "Sudah tentu (Amerika terlibat). Ada program inteligen di Iran yang tengah berjalan, yang dilakukan dari Iran dan Afghanistan."

Melalui LSM-LSM bentukan pemerintah Amerika seperti National Endowment for Democracy (NED) ataupun USAID, Amerika terlibat aktif sebagai tulang punggung gerakan "demokrasi" di Eropa timur dan Asia yang berhasil menggulingkan beberapa pemerintahan melalui beberapa revolusi: Revolusi Oranye (Ukraine), Revolusi Mawar (Georgia), Revolusi Tulip (Kyrgyzstan), dan Revolusi Cedar (Lebanon). Amerika juga menggerakkan Revolusi Saffron (Burma) sebagaimana juga Revolusi Hijau di Iran yang keduanya mengalami kegagalan.

Media massa Inggris the Guardian menyebutkan keterlibatan USAID, National Endowment for Democracy (NED), International Republican Institute (IRI), National Democratic Institute for International Affairs, dan Freedom House terlibat langsung dalam revolusi-ravolusi ini. Media massa utama Amerika seperti Washington Post dan New York Times juga menyebutkan hal yang sama.

Menurut pengakuan Saeed Behbahani, tokoh opososan Iran yang tinggal Amerika dan pendiri televisi Mihan TV di Washington D.C. pemerintah Amerika menjalin komunikasi intensif dengan kandidat presiden dari kubu oposisi yang pro-Amerika, Mir Hossein Mousavi awal Juni lalu. Menurut pengakuannya menjelang pemilu Iran, seorang utusan menlu Hillary Clinton telah bertemu dengan tim sukses Mousavi, Mehdi Khazali di Dubai. Sehari kemudian Khazali mendapatkan sesi wawancara di Voice of America yang mengklaim dilihat oleh 15 juta pemirsa di seluruh Iran.

Campur tangan media massa dalam politik Iran terutama menjelang dan setelah pemilu tgl 12 Juni lalu sangatlah gamblang. Di sisi lain mereka juga secara gamblang telah melakukan standar ganda dalam peliputannya. Mereka diam seribu bahasa melihat kecurangan dalam pemilu di Mesir, misalnya, yang sangat jauh dari demokratis. Sebaliknya mereka gencar menuduh pemilu di Iran, negara paling demokratis di timur tengah, berlangsung curang.

Pada bulan November 2005 lalu Mesir menyelenggarakan pemilu setelah puluhan tahun negeri ini dipimpin oleh seorang diktator Hosni Mubarak. Ketika kubu oposisi yang dimotori oleh partai Gerakan Kefaya (cukup) dan Ihwanul Muslimin memenangkan tahap pertama pemilu (di Mesir pemilu dilakukan tiga tahap untuk memungkinkan pemerintah leluasa mengatur hasilnya), pemerintah melakukan aksi penangkapan besar-besaran terhadap para kandidat oposisi. Ribuan rakyat turun ke jalan memprotes aksi-aksi barbar pemerintah dan pemerintah menumpasnya dengan keras, dan media massa barat diam seribu bahasa.

Lebih jauh lagi ketika Israel melakukan aksi biadabnya selama penyerbuan ke Gaza yang menelan nyawa 1.400 rakyat sipil dan melukai 5.000 lainnya (sepertiganya adalah anak-anak) hingga memicu aksi demonstrasi besar-besaran di seluruh dunia, media massa barat tidak begitu antusias memberitakannya sebagaimana mereka memberitakan aksi-aksi demonstrasi kubu oposisi di Iran.

Salah satu bias pemberitaan media massa barat atas pemilu di Iran adalah masalah tingkat pemilih yang lebih tinggi dari jumlah penduduk di beberapa wilayah. Kubu oposisi mengklaim hal itu menunjukkan adanya penambahan suara yang sengaja dilakukan pemerintah untuk memenangkan diri. Namun sebenarnya tidak demikian yang terjadi. Tidak seperti di negara lain yang menganut sistem distrik, di Iran seseorang tidak diwajibkan melakukan pemilihan di tempat tertentu. Mereka berhak melakukan pemilihan di mana saja di seluruh wilayah Iran dengan menggunakan kartu pemilihan yang diberikan panitia pemilu. Setelah memilih buku pemilihan distempel dan dicap jempol untuk mencegah adanya pemilihan dobel. Di daerah-daerah tertentu di mana banyak terdapat pendatang yang melakukan kegiatan bisnis, atau wisatawan yang berlibur di musim panas, angka peserta pemilu jelas lebih tinggi dari jumlah penduduknya.

Sebenarnya masalah ini telah dijelaskan dengan gamblang pada tgl 22 Juni oleh Abbas Kadkhodaei, juru bicara Guardian Council (GC), lembaga yang menangani masalah pertikaian pemilu di Iran. Namun media massa barat mengabaikan penjelasan tersebut dan tetap menyebut-nyebut kecurangan pemilu.

Kadkhodaei juga telah menjelaskan kelemahan klaim Mousavi yang menyebutkan terjadi kesalahan penghitungan di 170 kota dengan jumlah yang cukup signifikan untuk mengubah hasil akhir dan memenangkan pihaknya atas kubu Ahmadinejad. Menurut Kadkhodaei "kesalahan" hanya terjadi di 50 kota dengan jumlah suara hanya 3 juta suara yang tidak cukup signifikan untuk mengubah hasil akhir dimana Ahmadinejad memenangkan 63% suara dan Mousavi hanya 37%. Masih menurut Kadkhodaei jumlah 3 juta suara itu adalah milik para pemilih yang tidak memilih di tempat tinggal atau distriknya.

Apa yang kemudian dilaporkan oleh media massa barat dari penjelasan tersebut di atas? German News Agency diikuti Reuters dalam hitungan menit langsung mengabarkan bahwa Guardian Council mengakui adanya kesalahan penghitungan di 50 kota sehingga menimbulkan kesan bahwa pemilu di Iran memang berlangsung penuh kecurangan. Sehari kemudian semua koran di barat memberitakan hal sama dengan Reuters.

Kelompok oposisi dengan dukungan barat membanjiri yahoo messanger, Facebook, Twitter, YouTube, dan blog-blog politik dengan pesan-pesan tentang "kecurangan pemilu Iran". Menlu Amerika Hillary Clinton pun menelepon administrator Twitter untuk mengubah waktu peng-up date-an situsnya demi menyesuaikan dengan waktu Iran dan kalangan oposisi dapat memanfaatkannya secara maksimal.

Namun hal yang paling menyolok yang menunjukkan peranan barat dalam aksi aksi demonstrasi di Iran adalah: sebagian besar spanduk yang dibawa para demonstran adalah berbahasa Inggris: "Where is my vote?". Mungkin bahkan spanduk itu dicetak di Amerika dan dibagi-bagikan untuk para demonstran.

Menurut studi yang dilakukan situs www.chartingstocks.net, dalam masa tiga hari setelah pemilu, mayoritas pengguna Tweeter (lebih dari 30.000), adalah berasal dari barat mencapai 99,4% (Amerika mencapai 44%), dan pengguna dari Iran sendiri hanya 0,6%.

Dalam satu wawancara dengan BBC tgl 19 Juni, mantan menlu AS yang aktif dalam lembaga-lembaga LSM "demokrasi", Henry Kissinger, mengungkapkan peranan mendalam para politisi Amerika atas Iran. Ia mengatakan, "If it turns out that it is not possible for a government to emerge in Iran that can deal with itself as a nation rather than as a cause, then we have a different situation." Dapat diterjemahkan sebagai, "Jika kandidat yang kita sukai tidak muncul sebagai pemenang setelah kita dukung dengan kekuatan lunak kita, maka kita mungkin harus mengupayakan pergantian regim Iran dengan menggunakan kekuatan militer."

Kemudian ia menambahan, "Namun saya tahu presiden kita dengan baik. Beliau tidak menginginkan keterlibatan kita tampak nyata."

Sunday, 5 July 2009

Ravolusi Amerika Jilid II?


“The inability of Colonists to get power to issue their own money permanently out of the hands of George III and the international bankers was the prime reason for the Revolutionary War.” (Benjamin Franklin)


Saya adalah penyuka ilmu sejarah. Sejak kecil, di sela-sela kegiatan bermain, saya suka membaca buku-buku sejarah milik kakak-kakak saya yang kebetulan terdapat di rumah saya (saya punyak 7 orang kakak yang semuanya bersekolah). Dan karena kebiasaan itu saya mendapat nilai tinggi dalam pelaran sejarah sejak SMP hingga SMA. Bahkan semasa SMP saya mendapat julukan "anak'e Tayani" alias anaknya Bapak Tayani guru sejarah. Ini karena setiap kali Pak Tayani mengajukan pertanyaan, saya yang selalu mengacungkan jari untuk menjawab.

Dan di antara pelajaran sejarah, saya paling suka dengan sejarah Amerika. Amerika memang negeri yang paling banyak menarik minat dan perhatian saya. Saya masih ingat kalau dulu saya hafal luar kepala nama-nama negara bagian Amerika dan ibukotanya serta letaknya di dalam peta. Jangan tanya sejarahnya.

Namun sekitar tiga tahun lalu saya heran melihat banyaknya fakta sejarah Amerika yang dipaparkan oleh Michael Collins Piper dalam buku "The New Jerussalem" dan "High Priest of War" yang tidak saya ketahui. Salah satunya adalah pembakaran Gedung Putih oleh tentara Inggris tahun 1814. Saya berusaha mencari referensi tentang peristiwa itu, meski tidak terlalu ngotot, namun tidak saya temukan. Hingga akhirnya sekitar seminggu lalu saya mendapatkannya di YouTube.

Dari informasi yang saya dapatkan saya baru mengetahui bahwa pada tahun 1812 Inggris menyerbu Amerika. Namun yang lebih mengejutkan lagi adalah latar belakang peristiwa tersebut adalah ambisi keluarga Rothschild untuk menguasai penciptaan dan peredaran uang Amerika yang gagal karena tidak disetujuinya perpanjangan masa kerja First Bank of America (bank sentral pertama Amerika yang dikuasai oleh keluarga Rothschild) hingga Nathan Rothschild berteriak lantang: "Kita kembalikan Amerika ke era kolonial."

Kini saya tahu, pelajaran sejarah yang saya terima di bangku sekolah dan juga dari buku-buku sejarah yang banyak beredar di toko-toko ternyata masih jauh dari cukup untuk memahami sejarah yang sebenarnya.

Akibat serbuan Inggris maka Presiden Madison dan Congress Amerika akhirnya menyetujui dibentuknya bank sentral Amerika yang baru bernama Second Bank of America tahun 1916 dengan masa kerja hingga tahun 1836.

Pada tahun 1836 Amerika dipimpin oleh Presiden Andrew Jackson, seorang religius sekaligus penjelajah legendaris yang namanya tidak kalah berkibar dibanding James "Pisau" Bowie dan Sam Houston "sang pembebas Texas". Dengan gagah berani, ia menolak memperpanjang masa kerja Second Bank of America meski menerima puluhan ancaman pembunuhan dan satu percobaan pembunuhan yang gagal. Kepada delegasi bankir yang menghadapnya untuk melobi perpanjangan masa kerja Second Bank of America, ia mengatakan:

"Tuan-tuan. Saya mempunyai orang-orang yang telah lama mengawasi Anda. Anda menggunakan dana masyarakat untuk mempermainkan harga barang-barang kebutuhan masyarakat. Jika untung Anda membaginya di antara Anda sendiri. Tapi jika rugi Anda membebankannya kepada masyarakat. Anda berkata, jika bank sentral tidak diperpanjang maka 50.000 keluarga Amerika akan menderita karenanya. Tapi itu adalah salah Anda. Namun sebaliknya jika Saya menyetujui usul Anda (memperpanjang bank sentral) maka 500.000 keluarga Amerika akan menderita, dan itu menjadi dosa saya. Anda adalah ular berbisa dan pencuri. Saya katakan kepada Anda, saya akan menghancurkan Anda. Dengan rahmat Tuhan, saya akan menghancurkan Anda."

Selama 77 tahun sejak Presiden Andrew Jackson menolak memberikan kekuasaan penciptaan uang kepada bank sentral swasta, para pemimpin Amerika terus-menerus mengalami tekanan untuk menyerahkan kekuasaan tersebut kepada para bankir yahudi dengan ancaman pembunuhan. Tercatat lima orang Presiden Amerika meninggal karena pembunuhan sepanjang waktu itu. Mereka adalah William Henry Harrison (diracun tahun 1841), Zachary Taylor (diracun tahun 1850), Abraham Lincoln (ditembak tahun 1865), James Garfield (ditembak tahun 1881), dan William McKinley Jr. (ditembak tahun 1901). Presiden James Buchanan juga mengalami percobaan pembunuhan dengan racun tahun 1857, namun gagal.

Namun akhirnya keteguhan para pemimpin Amerika dalam mempertahankan konstitusinya (kekuasaan penciptaan uang hanya pada Congress) hancur juga dengan kepemimpinan Woodrow Wilson, presiden petualang cinta yang lemah integritasnya. Karena terdesak dengan ancaman terbongkarnya skandal cinta yang dilakukannya, Woodrow Wilson menyetujui Federal Reserve Act tahun 1913 yang memberikan kekuasaan penciptaan uang kepada bank sentral swasta.

Kini setelah rakyat Amerika menyerahkan nasibnya kepada Federal Reserve, hutang yang ditanggung negara mencapai 11 triliun dollar dan semakin bertambah setiap tahun dengan bunga yang harus dibayar mencapai ratusan miliar dolar setahun atau beberapa kali lipat APBN Indonesia. Dan meski rakyat Amerika harus berkorban sebesar itu (membayar bunga hutang melalui pajak yang mereka bayar), kondisi ekonomi Amerika justru semakin memburuk. Pabrik-pabrik ditutup atau pindah ke luar negeri, jutaan rakyat menganggur dan kehilangan rumah akibat krisis finansial.

Namun mimpi buruk sebenarnya justru baru dimulai dengan mengalirnya jutaan imigran dari Mexico, Asia dan Karibia. Mereka turut menggerogoti APBN dan membebani ekonomi Amerika mengakibatkan mundurnya kualitas pelayanan sosial dan memerosotkan Amerika ke tingkat negara berkembang.

Meski sebagaimana pendapat Michael Moore dalam bukunya "Stupid White Men", puluhan juta rakyat Amerika masih buta hurup dan sekitar 30% dari populasinya tidak pernah membaca koran atau majalah, sebagian dari mereka sudah menyadari hal ini dan tangah mempersiapkan diri untuk melakukan revolusi. Dan bila itu terjadi, ini adalah pengulangan sejarah karena rakyat Amerika juga pernah melakukan revolusi yang mengantarkan mereka ke pintu kemerdekaan tahun 1774. Saat itu pun motifnya sama, yaitu membebaskan diri dari cengkeraman para kapitalis yahudi.

Friday, 3 July 2009

Cerita yang Tidak Diungkap Hollywood


Baru-baru ini "Defiance", film terbaru Hollywood yang bertema perang dunia II, dirilis di Amerika dan diputar serentak di 1.800 bioskop di sana. Sebagaimana film-film Hollywood yang bertema sama, film ini menggambarkan pengorbanan dan kepahlawanan orang-orang yahudi sebagaimana belasan film-film sejenis seperti Sophie's Choice, Shindler's List, The Pianist dll.

Namun di Polandia, sejak tahun 2008 beredar luas film bertema perang dunia II dari sudut pandang sangat jauh berbeda. Film tersebut berjudul "Katyn", menceritakan tentang pembunuhan massal 20.000 perwira tentara Polandia oleh tentara komunis yahudi Uni Sovyet di hutan Katyn pada tahun 1940. Para korban pembunuhan massal tersebut merupakan tulang punggung bangsa Polandia yang mayoritas beragama katholik, sebelum diduduki regim komunisme.

Dan mengapa Hollywood "melupakan" fakta sejarah seperti ini? Tidak lain karena Hollywood dikendalikan oleh keturunan yang sama dengan keturunan para pembantai di hutan Katyn tahun 1940. Bagi mereka film merupakan senjata efektif untuk menghancurkan identitas kristen sebagai pemersatu bangsa kulit putih untuk digantikan dengan agama baru, "holocoust".

Film "Katyn" disutradarai oleh sutradara terkenal Andrej Wajda (82 tahun) yang ayahnya menjadi salah satu korban pembantaian massal di hutan Katyn. Film ini mendapat sambutan luas di Polandia dan dianggap memiliki keunggulan artistik sehingga mendapat nominasi Oscar untuk ketegori film asing terbaik tahun lalu. Namun pemenangnya justru film "The Counterfeiters", film propaganda kacangan bertema holocoust dari Jerman.



TRAGEDI KATYN

Paparan berikut ini diambil dari Wikipedia. Bahkan media yang oleh sebagian kalangan dianggap pro-yahudi sehingga dijuluki Kikepedia (kike adalah julukan bagi yahudi "hitam") ini masih dapat menggambarkan motif di belakang peristiwa pembantaian di hutan Katyn:

Pada awal perang, Sovyet menduduki Polandia timur dan Jerman menduduki Polandia barat. Dan karena sistem mobilisasi Polandia mewajibkan semua sarjana menjadi perwira, maka Sovyet mendapatkan kemudahan untuk menawan semua kalangan berpendidikan yang menjadi korban utama pembantaian di hutan Katyn. Di antara mereka yang meninggal terdapat seorang laksamana, dua jendral, 24 kolonel, 79 letkol, 258 mayor, 654 kapten, 17 kapten kapal, 3,420 perwira staff, 7 pendeta, 3 tuan tanah, 1 bangsawan tinggi, 43 pegawai pemerintah, 85 prajurit, dan 131 pengungsi. Selain itu para korban meliputi 20 profesor, 300 ilmuwan, beberapa ratu ahli hukum, insinyur, pilot serta penulis dan jurnalis. Secara keseluruhan Sovyet membunuh hampir separoh dari jumlah perwira di Polandia.

Pada tahun 1945, Maurice Shainberg adalah asisten Kolonel Grigory Zaitzev yang menjadi komandan Sovyet di kamp tawanan Katyn. Dalam bukunya yang berjudul "Breaking from the KGB" (1986) Shainberg, orang Polandia, menceritakan bagaimana ia menemukan buku harian sang kolonel yang membuka tabir peristiwa pembantaian di hutan Katyn yang sebelumnya dituduhkan Sovyet dilakukan oleh tentara Nazi Jerman.

Dalam diari tersebut tertulis bagaimana Sovyet mencoba mendindoktrinasi dan mengintimidasi para tawanan (yang dilihat dari status dan jumlahnya, merupakan tulang punggung bangsa Polandia) untuk melupakan sejarah dan budaya bangsanya dan menjadi bangsa baru yang pro-komunis Sovyet. Para tawanan menolak dan itu menjadi penyebab mereka dibantai.


DIARI KOLONEL ZAITZEV

Saat diangkat sebagai komandan kamp tawanan Katyn, Zaitzev diingatkan rekan-rekannya bahwa rakyat Polandia adalah para panganut katholik yang fanatik serta patriotis. Namun ia percaya diri bahwa semua itu bisa diatasinya dan mengubah mereka menjadi para kader komunis yang tangguh.

Para tawanan Polandia biasanya bekerja antara jam 6 pagi hingga 6 sore. Di malam hari mereka mendapatkan sesi indoktrinasi komunisme. Namun sebagian besar dari mereka menolak sesi ini meski mendapat ancaman keras. Seorang perwira berteriak lantang: "Sebagai rakyat Polandia, kami memahami negeri kami. Tidak ada satupun di antara kami yang ingin mendiktekan aspirasi kami kepada bangsa lain, dan kami juga tidak ingin bangsa lain mendiktekan aspirasinya kepada kami. Kami bukan fasis namun juga bukan komunis. Kami adalah orang-orang katholik yang ta'at."

Suatu saat seorang pendeta tentara bernama Jozwiak mengangkat salib yang membelenggunya sembari menyanyikan lagu-lagu rokhani yang diikuti oleh seluruh tawanan. Malam harinya ia ditahan di ruang interogari untuk "menjinakkannya". Namun berbagai methode penyiksaan, termasuk melukai tubuhnya dan memasukkannya ke dalam kandang berisi tikus-tikus besar yang kelaparan, tidak mampu menjinakkannya sehingga akhirnya ia dieksekusi mati.

Tentara Sovyet mengira hukuman yang diberikan kepada Jozwiak akan membuat para tawanan jera, namun mereka kaliru. Para tawanan justru semakin beringas untuk memberontak. Untuk melemahkan para tawanan, Soyvet mengurangi secara drastis ransum makanan disusul aksi eksekusi-eksekusi terbuka terhadap para tawanan yang kelalahan dan tidak bisa bekerja. Para tawanan melawan dengan kampak dan tongkat hingga sebanyak 192 tawanan tewas tertembak dalam satu aksi kerusuhan.

Bahkan dalam kondisi putus asa dan tanpa harapan untuk selamat, para tawanan masih tetap mempertahankan keyakinan agamanya. Mereka sering berdoa bersama-sama: "Kami prajurit Polandia dan tawanan pasukan Sovyet telah disingkirkan di tempat asing. Kami memohon kepadamu Tuhan, agar menyelamatkan negeri kami. Selamatkan kami dari penjara Jerman dan Sovyet. Kami menawarkan diri kami sebagai pengorbanan untuk kemerdekaan negeri kami."

"Tugas kami sangatlah mustahil untuk dilaksanakan," tulis Zaitzev. "Orang yang tidak pernah bertemu orang Polandia tidak akan pernah mengerti bagaimana sulitnya merubah pandangan hidup mereka terhadap kami. Tidak ada siksaan apapun yang dapat menghentikan mereka menyanyi (lagu-lagu rokhani). Mereka orang-orang yang keras dan memiliki harga diri. Setiap hari mereka semakin lemah fisiknya, namun kemarahan dan kebencian mereka semakin besar."

Untuk mengenang tragedi hutan Katyn pemerintah Polandia telah menetapkan tanggal 13 April sebagai hari libur nasional. Sebuah komisi bersama Polandia-Rusia juga telah dibentuk untuk menyatukan pandangan antara kedua negara atas tragedi tersebut. Namun banyak hal yang masih belum terpecahkan karena Rusia khawatir pengakuan adanya kejahatan kemanusiaan akan membuat mereka harus membayar kompensasi mahal sebagaimana dialami Jerman.



PROPAGANDA YAHUDI

Tujuan yahudi penyembah setan (masih ada sebagian kecil yahudi yang berpegang pada ajaran agama Ibrahim dan Musa dan percaya pada kita Taurat, sebagian besar lainnya lebih percaya pada para rabi dan kita Talmud) dan para kompradornya adalah mengubah dunia menjadi satu tatanan dunia baru dimana mereka menjadi penguasa dan seluruh penduduk dunia sebagai pelayan mereka. Untuk mencapai hal itu mereka berupaya menghancurkan empat pilar utama kebudayaan manusia: ras, agama, bangsa dan keluarga.

Komunisme adalah alat propaganda mereka yang cukup efektif menghancurkan empat pilar kebudayaan manusia tersebut. Setelah mengeksekusi seluruh bangsawan, rokhaniawan, dan kalangan intelektual Rusia, Polandia adalah sasaran berikutnya (pola serupa juga dilakukan di tempat-tempat di mana komunisme berkuasa: Cina, Kamboja, Vietnam, Kuba dll. Indonesia pun nyaris mengalami pembantaian serupa seandainya PKI tidak ditumpas terlebih dahulu oleh TNI dan ormas-ormas Islam).

Yahudi penyembah setan bermaksud merubah agama-agama di dunia dengan agama baru penyembah setan dan berhala. Selain menumpas secara fisik kalangan elit intelektual dan agamawan, mereka mengkampanyekan nilai-nilai moral baru yang bertentangan dengan nilai-nilai sosial masyarakat: homoseksualisme, single parent, feminisme, demokrasi, dlsb. Mereka juga menciptakan aliran-aliran politik hingga agama baru yang memecah belah sistem sosial masyarakat.

Anda boleh menganggap ini semua "terlalu mengada-ada". Namun saya katakan, semua ini telah teridentifikasi oleh orang-orang cerdik pandai sejak ribuan tahun lalu. Kitab-kitab kuno agama-agama wahyu seperti injil dan Qur'an juga telah menyebut-nyebut persekongkolan mereka dan akibat yang ditimbulkannya. Al Qur'an menyebutkan bahwa kerusakan yang ditimbulkan mereka sangat hebat hingga gunung pun hancur oleh karenanya. Qur'an juga menyebutkan salah satu ciri mereka yaitu mereka sering berkoar-koar mengadakan "perbaikan" meski sebaliknya mereka berbuat kerusakan. Hukuman bagi mereka, menurut Qur'an adalah dipotong tangan dan kakinya secara menyilang dan diusir dari negerinya.

Anda mungkin pernah berpartisipasi dengan program-program seperti Millenium Development Goal, Figh Hunger dan sebagainya. Percayalah itu semua adalah program-program "perbaikan" omong kosong mereka. Seandainya mereka serius mengadakan perbaikan, maka dalam satu bulan dunia ini tidak akan ada lagi kelaparan dan peperangan-peperangan.

Israel Bantai Binatang-binatang Bonbin Gaza


Ini adalah fakta yang tidak pernah diungkap oleh sebagia besar media massa: tentara Israel membantai binatang-binatang yang menghuni kebun binantang Gaza dalam aksi penyerbuan ke Gaza awal tahun ini.

Tentara Israel yang menurut klaim pemerintah Israel merupakan "tentara paling bermoral di dunia" itu menembaki binatang-binatang tersebut dalam jarak dekat di dalam kandangnya. Selain membunuhi binatang, tentara Israel juga menghancurkan gedung-gedung yang ada di area tersebut.

Berita tentang kebiadaban ini sebenarnya telah muncul di Gulf News, media massa yang terbit di Abu Dhabi tgl 25 Januari lalu, namun diabaikan oleh media massa barat. Mesin pencari Google pun (yang dimiliki oleh milioner pendukung Israel) setali tiga uang, menyembunyikan fakta ini dari peredaran dunia maya.

Ketika ditanya mengapa tentara Israel menyerang kebun binatangnya, seorang penjaga menjawab, "Saya tidak tahu. Anda harus menanyakan sendiri kepada mereka. Ini adalah tempat yang aman tempat orang-orang tak bersalah menghibur diri."

Ketika ditanya klaim Israel bahwa pejuang Palestina menembakkan senapan dari tempat tersebut, sang penjaga membantah. "Kami semua kecuali binatang-bintang telah melarikan diri sebelum tentara Israel datang ke sini."

Selama empat tahun berdirinya kebun binatang Gaza merupakan tempat favorit penduduk terutama anak-anak Gaza, muslim maupun kristen, yang langka sarana hiburan. Dan karena itu Israel menghancurkannya.