Sunday, 4 January 2009

QUO VADIS BARACK OBAMA?


“Saya ingin presiden terpilih, Barack Obama, mengatakan sesuatu atas krisis kemanusiaan yang saat ini tengah berlangsung di Gaza,” ungkap Cathy McKinney, mantan anggota Kongres Amerika dalam siaran televisi CNN 30 Desember 2008 lalu usai kapal misi kemanusiaan yang ditumpanginya, USS Dignity, yang berusaha menerobos blokade Israel demi membantu rakyat Palestina di Gaza, ditabrak dan ditembaki kapal perang Israel hingga harus balik haluan ke Lebanon.

Harapan itu juga menjadi harapan jutaan rakyat di seluruh dunia yang mencintai perdamaian, yang disematkan kepada Barack Obama, yang dalam kampanyenya mengusung slogan “Perubahan”. Namun Obama diam seribu bahasa dan lebih memilih berlibur di Hawai pada saat ratusan nyawa rakyat Palestina melayang dibom pesawat tempur Israel.

Amerika adalah negara terbesar dan paling berpengaruh di dunia. Setiap kebijakan ekonomi maupun politik yang dilakukan Amerika dipastikan akan berpengaruh besar terhadap konstelasi ekonomi politik global. Amerika yang menjadi patron Israel juga dipastikan dapat menghentikan setiap tindakan biadab Israel atas rakyat Palestina. Tidak mengherankan bila masyarakat dunia kini menaruh harapan pada Barack Obama untuk melakukan kebijakan politik internasional yang pro-perdamaian.

Dalam artikel terdahulu “Jangan Berharap Banyak pada Obama”, penulis telah mencoba menganalisa prospek ekonomi Amerika dan dunia di bawah kepemimpinan Obama. Dan dalam artikel ini penulis akan mencoba menganalisa prospek keamanan dunia dengan Obama sebagai presiden Amerika.

Dalam tulisan terdahulu penulis telah sedikit menyinggung prospek perdamaian Timur Tengah yang suram dengan dipilihnya Rahm Emmanuel, seorang zionis sejati yang berperangai kasar sebagai Kepala Staff Gedung Putih. Kini prospek perdamaian itu bahkan semakin suram dengan terpilihnya beberapa orang yang dikenal sebagai militeris imperalis pro-Israel sebagai pembantu-pembantunya: Hillary Clinton (Menlu), James Jones (Penasehat Keamanan Nasional), dan Robert Gates (Menhan). Hal inilah yang mungkin menyebabkan Barack Obama memilih diam seribu bahasa atas krisis kemanusiaan yang terjadi di Gaza.

Pemilihan “the three musketeers” tersebut di atas, plus super-zionis Dennis Ross sebagai pejabat kabinet Barack Obama, menjadi sinyal kuat bahwa Obama bakal meneruskan mainstream kebijakan politik luar-negeri Amerika yang militeris-imperialis pro-zionis yang telah dirintis para pendahulu Obama. Jauh dari gembar-gembor media massa utama Amerika yang menyebut mereka sebagai “berpengalaman” dan “kompeten”.

“Amerika memerlukan upaya baru untuk mengukuhkan diri di atas dunia (a new effort to renew America’s standing in the world)” kata Hillary Clinton usai penunjukan dirinya sebagai menlu oleh Obama, mengindikasikan kebijakan politik luar negeri Amerika yang akan dilaksanakannya, yaitu dominasi (imperalisme) Amerika atas dunia. Sama seperti saat sebagai anggota Senat ia mendukung suaminya, Presiden Bill Clinton, memerintahkan penyerbuan Amerika atas Yugoslavia dan Kosovo di tahun 1990-an, mendukung Presiden George W Bush atas penyerbuan Amerika ke Irak tahun 2003, mendukung penyerbuan Israel ke Lebanon tahun 2006, serta mengancam akan menghancurkan Iran.

Hillary adalah “penasihat spiritual” suaminya Bill Clinton, presiden yang terkenal sangat pro-zionis Yahudi. Pada masa kepemimpinan sang suami pemerintahan Amerika dikuasai oleh zionis Yahudi dimana lebih dari separoh anggota kabinet Bill Clinton berdarah Yahudi. Bill Clinton juga pernah membuat “kebijakan” yang sangat kontroversial: memberi kewarganegaraan (naturalisasi) kepada Martin Indyk, seorang zionis Yahudi asal Inggris di hari pertama pemerintahannya. Selanjutnya Indyk diangkat sebagai pejabat Dewan Keamanan Nasional dan terakhir menjadi seorang duta besar Amerika di Israel (Michael Collins Piper dalam bukunya High Priest of War).

Jendral James Jones yang dipilih Obama sebagai Penasihat Keamanan Nasional dikenal sebagai perancang dan operator “pembinaan” tawanan perang di Abu Ghraib dan Guantanamo yang sangat tidak manusiawi. Ia pendukung kuat kebijakan ekspansi militer “troop surge” di Irak, mengkampanyekan penggelembungan anggaran pertahanan, dan mendukung kebijakan militerisme domestik Amerika. Ia juga dikenal sebagai jendral bisnis karena hubungan dekatnya dengan para industrialis senjata Amerika.

Adapun Robert Gates yang dipilih Obama untuk meneruskan posnya sebagai Menteri Pertahanan yang dipegang sejak pemerintahan George “si gila perang” W. Bush, adalah pendukung kuat kebijakan militer unilateral (tanpa kompromi), dan perang global tak terbatas (unlimited and universal imperial warfare). Meski satu demi satu negara pendukung penyerbuan Amerika atas Irak manarik pasukannya di Irak hingga hanya tinggal lima negara saja (dari awalnya 35 negara), meski sebagian besar rakyat Amerika menentang Perang Irak, dan bahkan setelah perjanjian keamanan Amerika-Irak memerintahkan Amerika hengkang dari Irak pada tahun 2012, Gates adalah seorang pejabat yang bersikeras untuk mempertahankan pasukan Amerika secara permanen di Irak.

Isu tentang “pengalaman” yang dihembuskan media massa Amerika atas pemilihan para pejabat keamanan Amerika itu menimbulkan dua pertanyaan: pertama pengalaman terkait dengan kebijakan pilitik apa di masa lalu dan kedua pengalaman terkait dengan kebijakan politik apa yang akan dilaksanakan di masa depan. Semua pengalaman para pejabat itu terkait dengan kebijakan politik perang imperalisme Amerika dan zionisme Israel dan itu akan terulang saat mereka menjalankan pemerintahan Amerika setelah pelantikan Barack Obama.

Isu tentang “kompetensi” menimbulkan pertanyaan: kompetensi di bidang apa? Kenyataannya ketiga pejabat telah menunjukkan ketidakmampuannya dengan menyeret Amerika ke dalam kebijakan perang imperalis yang sangat mahal dan kini tengah menuju ke jurang kekalahan menyakitkan: harus hengkang dari Irak setelah kehilangan 4.000 lebih tentara dan menghabiskan $3 triliun, kehilangan sekutu kuat di Lebanon, Somalia dan Pakistan, kalah melawan Rusia dalam kasus petualangan Georgia di Ossetia, kehilangan pengaruh nyaris total di Amerika Latin, serta harus berkubang darah di Afghanistan.

Di sisi lain semangat anti-Amerika justru mengalami momentum: Rusia, Iran, Venezuela, dan Korea Utara muncul sebagai kekuatan yang mampu menggerogoti pengaruh Amerika. Rusia bahkan berani unjuk lengan terhadap Amerika. Setelah menggulung pasukan Georgia (yang didukung Israel dan Amerika) di Ossetia, Rusia mengirimkan kapal perang dan pesawat pembom strategis ke Venezuela. Rusia juga dikabarkan tengah menggelar sistem pertahanan udara canggih di Iran.

Dipandang dari segi strategi geo-politik, ketiga pejabat tersebut di atas juga telah melakukan kebodohan yang sangat mendasar: mendukung secara membabi buta negeri kecil Israel dan meninggalkan 1,5 miliar umat Islam yang menguasai sebagian besar sumber alam dan mineral dunia. Mereka, di masa lalu dan juga akan dilakukan di masa mendatang, terus menerus mengobarkan perang terhadap umat Islam sebagaimana pernah dan tengah terjadi di Bosnia, Chencnya, Palestina, Afghanistan, Irak, Somalia, Lebanon, Filipina, Thailand Selatan. Peperangan-peperangan itu, sebagaimana sejarah membuktikan, tidak akan pernah dapat dimenangkan oleh Amerika.

Boleh jadi saat ini 1,5 miliar umat Islam di seluruh dunia dapat dibodohi oleh Amerika melalui para rejim korup antek Amerika. Namun tidak di masa depan saat umat Islam tidak lagi dikuasai ilusi yang ditebarkan para bintang Hollywood dan Bollywood, Britney Spears, David Beckham, Olga “Bencong” Syahputra, Ahmad Dhani dan Cinta Laura Kiehl.

Bungkamnya Barack Obama sebenarnya menjadi tanda nyata bahwa kampanye “Perubahan” yang diusungnya adalah kebohongan besar, sama dengan kebohongan besar yang telah dilakukan pendahulunya George W. Bush yang menuduh Irak memiliki senjata pemushan massal. Bungkamnya Barack Obama juga menjadi tanda yang tidak dapat dibantah bahwa siapapun presiden Amerika, ia tidak lain hanyalah seorang “operator” dari agenda besar terselubung dari segolongan manusia yang selama ratusan tahun mengendalikan dunia untuk kepentingan sendiri di atas penderitaan rakyat dunia.

ISRAEL RAYA


Pemimpin Hizbullah Sheikh Hassan Nasrallah, ketika pasukannya sedang berusaha menahan gempuran Israel, menyerukan para pemimpin negara-negara Arab dan muslim yang menjadi sahabat Amerika itu untuk berani menentang Israel dan Amerika. “Tidak ada tempat lagi bagi Anda dalam Tatanan Dunia Baru yang akan dibentuk Amerika dan Israel. Jadilah laki-laki walau hanya sehari saja,” katanya.

Pernyataan Nasrallah sangat tepat. Gerakan zionis Israel dengan dukungan kalangan neo-konservatif Amerika, telah menargetkan untuk menguasai Timur Tengah sepenuhnya, dan Irak adalah langkah pertama untuk mencapai target itu. Teritorial “Israel Raya”, wilayah yang diperuntukkan bagi negara Israel sebagaimana ditargetkan itu meliputi Palestina, Suriah, dan Lebanon. Masih kurang, teritorial itu juga meliputi wilayah negara-negara yang telah tunduk menjadi sahabat Amerika: Arab Saudi, Mesir, dan Yordania.

(Tiga negara tersebut telah mengecam Hizbullah sebagai pemicu Perang Lebanon, sementara ulama-ulama “bayaran” Arab Saudi yang telah menghalalkan pasukan Amerika bercokol di tanah haram, justru mengeluarkan fatwa haram untuk membantu Hizbullah dalam perangnya melawan Israel. Para pemimpin Arab antek Amerika itu, termasuk Mesir, Arab Saudi dan negara-negara Teluk Parsi, plus para ulama Sunni Arab kini diam seribu bahasa tentang penyerbuan biadab Israel atas Gaza).

American Free Press (AFP), kantor berita independen yang bebas dari pengaruh Yahudi, pernah mengeluarkan sebuah ulasan tentang hubungan pemerintahan Presiden George W Bush dengan Israel dan dampak yang ditimbulkannya, jauh sebelum media massa lain mengulasnya. AFP mengatakan bahwa kalangan neo-konservatif dengan bekerjasama dengan para kapitalis minyak memiliki ambisi yang sama untuk menguasai kawasan Timur Tengah yang kaya minyak dengan menyingkirkan para penguasa negara-negara di kawasan itu. Di sisi lain kalangan Kristen dan Yahudi fanatik, demi melihat ambisi tersebut di atas, melihat peluang mewujudkan negara Israel Raya yang diimpikan sebagai syarat terjadinya Armagedon.

Negara Israel Raya yang diimpikan tersebut membentang dari Sungai Nil di Mesir hingga Sungai Eufrat di Irak. “Petualangan di Irak” hanyalah tahap awal dari program menguasai Timur Tengah dan mewujudkan Israel Raya. Lebanon adalah langkah selanjutnya. Dengan menguasai Lebanon, maka kekuatan oposisi terhadap persekutuan Israel-Amerika tinggal Syria dan Iran. Namun skenario itu terganjal sementara setelah kekalahan Israel atas gerilyawan Hezbollah.

Skenario menguasai Timur Tengah demi kepentingan Israel bahkan telah cukup lama diungkapkan secara terbuka oleh orang-orang neo-konservatif. Michael Leeden, mantan pejabat inteligen Amerika pro-Israel menulis sebuah artikel berjudul “The War Against the Terror Masters” dimana ia mengusulkan sebuah ide yang disebutnya sebagai “penghancuran yang kreatif”. Ia menulis:

Kita meninggalkan tatanan lama setiap hari, baik di bidang bisnis, sains, sastra, kesenian, arsitektur, film, politik dan hukum.
Musuh-musuh kita selalu membenci kemajuan energi dan kreatifitas ini yang telah mengungguli tradisi mereka dan mempermalukan mereka atas kegagalan mereka menyaingi kemajuan kita. Melihat Amerika tidak lagi setara dengan masyarakat tradisional, mereka takut pada kita karena tidak ingin ditinggalkan.

Mereka tidak lagi merasa aman selama kita berada di sana (Timur Tengah, pen.), karena keberadaan kita, bukan kebijakan politik kita, mengancam legitimasi mereka. Mereka harus menyerang kita agar tetap hidup, sama seperti kita harus menghancurkan mereka untuk melanjutkan missi sejarah kita. Presiden harus berani menyingkirkan para pejabat yang gagal memimpin institusinya secara efektif, bersama dengan mereka yang kurang mendukung kebijakan perang terhadap para teroris. Para pejabat inteligen perlu diganti, dan para komandan militer yang mengatakan kepada presiden bahwa perang tidak bisa di atau karena mereka sekedar tidak siap, juga perlu diganti, seperti halnya pejabat-pejabat di jajaran keamanan yang ngotot menyelesaikan konflik Arab-Israel dengan perundingan.

Sementara itu sekelompok neo-konservatif juga telah menyusun sebuah skenario yang diberi nama “Rogue States Rollback” atau penggulingan regim negara-negara yang berpotensi menentang kekuasaan Israel. Negara-negara tersebut adalah Iran, Irak, Libya, Syria, Sudan, dan Afganistan. Tidak hanya itu, bahkan pemimpin negara se-moderat Arab Saudi pun dianggap berpotenti menjadi musuh yang harus disingkirkan.

Politisi pengusung rencana “Rogue States Rollback” adalah sanator John McCain, kandidat presiden pemilu 2008 yang sebagaimana telah disebutkan sebelumnya adalah seorang senator yang berhutang jasa pada orang-orang Yahudi. Dalam kampanye kepresidenan tahun 2000 dimana ia menjadi salah seorang calon nominator, ia menyatakan dengan lantang akan melancarkan perang habis-habisan melawan negara-negara teror. Yang tidak diungkapkan McCain adalah rencana perang habis-habisan itu telah disusun jauh sebelumnya.

Pada bulan Mei 1993 Martin Indyk, seorang pejabat di Dewan Keamanan Nasional, sebuah lembaga penasihat presiden di bidang keamanan, mengungkapkan di depan para aktivis LSM pro-Israel Washington Institute on Near East Affair (WINEA), pemerintah tengah menargetkan untuk menyerang Irak dan Iran. (Indyk adalah Yahudi Israel kelahiran Inggris. Ia menjadi warga negara Amerika melalui proses istimewa, yaitu langsung ditetapkan oleh Presiden Bill Clinton hanya beberapa jam setelah ia dilantik sebagai presiden pada bulan Januari 1993. Dan seolah masih kurang dengan menduduki jabatan strategis, warga negara istimewa itu selanjutnya diangkat sebagai seorang duta besar).

Pada bulan awal tahun 1994 Associated Press dan The Washington Post mengulas sebuah artikel yang diterbitkan di jurnal berpengaruh Foreign Affairs tentang sebuah rencana yang disusun oleh Anthony Lake, Penasihat Keamanan Nasional Presiden Clinton. Rencana tersebut adalah perang terbatas terhadap Irak dan Iran, dua negara yang oleh Lake disebut sebagai “outlaw” dan “backlash”.

Pada bulan November 1998 Henry Kissinger, tokoh Yahudi yang menjadi arsitek kebijakan politik Amerika di era 70-an dalam artikelnya “Bring Saddam Down” yang dimuat Washington Post memprovokasi Presiden Clinton untuk menyerang Irak. Sementara itu kolumnis Washington Post Jim Hagland pada bulan Maret 2000 menjelang pemilu kepresidenan, menulis, bahwa kebijakan politik di Teluk Persia merupakan isu paling penting bagi para kandidat Presiden. Kandidat paling tepat, menurutnya adalah mereka yang mampu membuat kebijakan politik dan strategi militer yang tepat terhadap Irak dan Iran, juga negara-negara Arab Timur Tengah lainnya, sehingga “demokrasi Amerika” dapat diterima dengan baik.

Bill Clinton memang tidak sempat menyerang Irak. McCain pun gagal menjadi presiden. Namun sejawat McCain dari Partai Republik, George W Bush, berhasil melaksanakan missi itu tahun 2003, menyerang Irak dan menumbangkan Saddam Hussein, namun gagal membawa Irak sebagai negara “demokrasi ala Amerika”.

Dan kini missi tersebut disandang oleh Barack Obama, presiden kulit hitam yang tidak jelas asal-usulnya (sampai saat ini tidak pernah menunjukkan tanda bukti kelahirannya yang otentik meskipun konstitusi Amerika menyebutkan jelas bahwa Presiden Amerika adalah warga negara Amerika yang lahir di Amerika), dan membangun karier atas dukungan zionis tulen Rahm Emmanuel dkk.

Sunday, 28 December 2008

(FAKTA, BUKAN TEORI) KONSPIRASI INDUSTRI OTOMOTIF


Teknologi internal combustion (pembakaran dalam) yang digunakan sebagian besar mesin kendaraan bermotor saat ini telah berumur seratus tahun lebih. Semestinya saat ini teknologi ini telah mencapai tahap paling maju: menghasilkan mesin bertenaga besar yang irit bahan bakar dan ramah lingkungan (tidak bising dan sedikit berasap).

Namun faktanya adalah, teknologi ini tidak banyak beranjak dari permulaan teknologi ini digunakan. Kalau pun kendaraan sekarang telah lebih canggih, ini hanya menyangkut aspek kenyamanan dan keamanan saja, tidak banyak menyentuh aspek efisiensi mesin.
Hal ini saja sudah bisa menimbulkan kecurigaan. Mengapa teknologi mesin otomotif tidak banyak berkembang? Mengapa industri otomotif kurang serius menciptakan mesin idaman yang efisien dan ramah lingkungan? Mengapa pemerintah negara-negara maju produsen otomotif kurang serius mendorong industri otomotif (dengan paksaan kalau perlu, karena memang menjadi hak mereka) menciptakan mesin idaman?

Jawabnya adalah dikarenakan perusahaan-perusahaan otomotif merupakan bagian dari konglomerasi kapitalis global yang menguasai sektor minyak dunia. Bila industri otomotif menerapkan mesin idaman, maka konsumsi minyak dunia akan berkurang dan mengancam bisnis mereka.

Blog ini telah mengungkapkan adanya konspirasi industri minyak untuk membuat dunia tergantung pada minyak bumi dengan menggusur teknologi batere sebagai energi penggerak moda transportasi. Dan artikel di bawah ini merupakan salah satu bukti penguat fenomena tersebut.

Keterangan gambar: trem di kota San Francisco, Amerika. Sebelum digusur oleh bus-bus berbahan bakar bensin, alat transportasi massal di kota-kota besar di dunia termasuk kota-kota besar Indonesia adalah trem yang berpenggerak listrik. Bayangkan bila alat transportasi ini masih banyak digunakan, kota-kota besar dijamin lebih nyaman karena polusi udara dan kebisingan yang lebih rendah.

---------------
Counterpunch
Weekend Edition
December 26-28, 2008

An Open Letter to Barack Obama on the Future of the Auto Industry
Fuel Efficiency is Easy--Just Don't Let Detroit Tell You How to Do It
By BRIAN T. KETCHAM

Dear President-elect Obama:

For much of the 1970’s I was engaged with the U.S. auto industry, countering their endless claims that they could not meet federal vehicle emissions standards. I went to work for Mayor John Lindsay in 1969 as an engineer in the then Department of Air Resources. My job was to figure out what New York City might do to tackle auto pollution. We secured a million dollar grant from the EPA and set about establishing a new agency to design a comprehensive plan and build an emissions test facility. Old timers told me this project would take five years to get underway. I did it in nine months. I built a new building housing an advanced test facility, outfitted it, hired and trained personnel and got underway. The objective was to learn about auto pollution by doing testing cars and trucks.

The first thing we did is to install catalytic converters on a dozen city cars including Mayor Lindsay’s limousine. We installed catalysts on sanitation trucks. We tested various alternative engines and emissions controls. The point here is that we got our hands dirty. We got to know what auto makers knew. And, we did it five years before auto makers were forced to do it.

On the side, when I wasn’t working for the city, my friend and colleague Dr. William Balgard and I built a low emissions vehicle using catalytic converters and drove it 50,000 miles. Auto industry complaints at the time were that catalysts would not last. We took this information to the Congress and they, in turn, turned to auto industry executives and said, “If two young engineers can do this with their own money, then surely the auto industry with billions of dollars can do even better.”
Then the 1973 energy crisis hit America. Auto executives reported to Congress that they could not meet federal emissions standards without suffering fuel economy losses. So, Bill Balgard and I purchased a 1974 Ford Pinto, equipped it with advanced emissions controls and demonstrated a 10% improvement in gas mileage. Again, Congress looked at our results and at the auto industry and said, “Why can’t you do this?”

The point here – and there are many other examples – is that auto makers can do what you are now asking: improve fuel economy, dramatically. In fact, Ford and General Motors have done so – overseas. What is missing from the debate is what U.S. auto makers are producing in Europe, Australia and Asia: small attractive vehicles producing 40, 50 even 60 miles per gallon. Why is no one asking them to bring these cars into the U.S.? Are you folks not aware that Europe has enjoyed this gas mileage for nearly two decades (or longer)? Most of these European cars are powered by small turbocharged diesel engines. And, they are clean.

In 1975 Bill Balgard and I got a tiny National Science Foundation grant to investigate the health consequences of diesel exhaust. We were the first to demonstrate that diesel exhaust in auto and truck engines contained cancer causing materials. We took this information to the EPA, and overnight the Carter Administration pulled the plug on diesels. They also instituted a National Academy of Sciences study to test our conclusions. After three years of work with hundreds of separate consultants, they did, in fact, confirm our results. Unfortunately, this had the further consequence of squashing research on clean diesels in the U.S.
In Europe, however, eight-dollar-a-gallon gasoline and the potential for doubling fuel economy, did focus their attention on diesels and, today, we have the luxury of adopting this technology to achieve what I believe you are shooting at—attractive fuel efficient automobiles and trucks that are acceptable to Americans. Just as a side bar, I rented a 3-series diesel BMW in Italy this past summer that got an average of 38 miles per gallon. And, now, BMW has brought a diesel powered 3-series to the U.S.

In conclusion, I think you are going in the right direction. Only, we don’t need to wait for hybrids (I know they are coming). Europe has the hardware right now to accomplish your goals. Indeed, Ford will be bringing one of their Euro cars to America in 2009 that more than meets you expectations. And, it is gasoline powered. Europe gets the diesel powered version with even better fuel mileage.
My experience many years ago is that auto makers can do the right thing. But you have to keep their feet to the fire. Otherwise, maximizing profits gets in the way of doing what is right for America.

Finally, you must be wondering how we accomplished what I have described (and a very great deal more that is not mentioned). We paid for it all ourselves not to make money but to make the country a better place to live. Also, I am not looking for a job. My wife and I are very comfortably retired.
Good luck with the auto makers. And, don’t forget; don’t let them say “we can’t.” Yes they can.

Brian T. Ketcham is a Brooklyn-based transportation engineer and city planner with over 40 years of experience. He can be reached btk@konheimketcham.com

Sunday, 21 December 2008

ASAL-USUL BANK DAN KEKUASAAN UANG


Indonesian free press -- Pada suatu acara talkshow di stasiun televisi TVOne tanggal 9 November lalu bertema: Jihad Milik Siapa? Profesor Komaruddin Hidayat, Rektor UIN Jakarta yang dikenal sebagai seorang tokoh Islam liberal membuat pernyataan yang menurut saya menarik untuk dikaji. Pertama beliau mengatakan bahwa jihad adalah semangat yang besar untuk berbuat kebaikan kepada sesama. Kemudian dalam konteks yang sama beliau mangatakan bahwa kaum Yahudi dengan sistem perbankan yang dibangunnya merupakan satu hal yang inspiring. Dan inilah sesuatu yang oleh Profesor Komaruddin disebut inspiring itu.

Jaman dahulu, pada saat emas dan perak menjadi alat tukar-menukar barang dan alat pengukur nilai barang dan jasa, banyak orang Yahudi yang menjadi penjual jasa penyimpanan emas yang lebih terkenal dengan istilah goldsmith (gold adalah emas, dan smith adalah semit atau Yahudi). Ini karena di sebagian besar Eropa orang-orang Yahudi dilarang memiliki tanah yang membuat mereka tidak bisa menjadi petani dan menjadikan profesi sebagai goldsmith sebagai alternatif pekerjaan yang prospektif. Meski dipandang sebagai pekerjaan kurang terhormat, orang-orang kaya yang memiliki banyak emas lebih menyukai menyimpan emasnya di goldsmith karena jaminan keamanan yang diberikannya. Mereka hanya cukup memberi imbalan sejumlah emas tertentu atas jasa penyimpanan yang diberikan goldsmith.

Untuk setiap emas yang disimpan, goldsmith mengeluarkan secarik kertas (sertifikat) berisi keterangan tentang kepemilikan emas sejumlah tertentu pada goldsmith. Setiap saat bila pemilik emas ingin mengambil simpanannya, ia tinggal menunjukkan sertifikat tersebut.

Seiring berjalannya waktu, semakin tingginya tingkat kepercayaan masyarakat pada goldsmith dan juga karena sifat sertifikat yang likuid (mudah ditukarkan dengan emas kapan saja), masyarakat mulai menerima sertifikat tersebut sebagai alat tukar-menukar barang dan jasa. Pada saat inilah sertifikat tersebut menjadi uang kertas dan merupakan uang kertas pertama di dunia.

Seiring berjalannya waktu, semakin banyak emas yang disimpan di brankasnya, goldsmith melihat bahwa sebagian besar emas tersebut teronggok begitu saja di brankas untuk jangka waktu yang lama, karena kebutuhan likuiditas sudah terpenuhi dengan uang kertas. Ia mulai berfikir: bagaimana kalau sebagian daripada emas itu dipinjamkan ke orang yang membutuhkan (debitor) untuk dikembalikan setelah jangka waktu tertentu dengan imbalan bunga?

Kemudian goldsmith mulai menjadi rentenir dengan meminjamkan sebagian emas milik nasabahnya kepada debitor yang membutuhkan. Setelah waktu yang ditentukan emas yang dipinjam debitor dikembalikan dan goldsmith mendapat keuntungan berupa bunga. Semakin sering dan semakin banyak goldsmith memberikan pinjaman, semakin besar pula keuntungan yang didapatnya.

Selanjutnya goldsmith mendapatkan ide lain. Mengapa harus memberikan pinjaman berupa emas? Bukankah uang kertas yang dikeluarkannya telah diterima sebagai alat tukar-menukar dan jual beli? Maka kemudian untuk setiap pinjaman yang ia berikan, ia hanya cukup mengeluarkan uang kertas. Dan setelah jangka waktu tertentu, debitor mengembalikan hutangnya berupa emas kepada goldsmith plus bunganya. Pada saat ini goldsmith melihat keajaiban yang menjadi nyata. Hanya dengan selembar kertas, ia mendapatkan sebongkah emas.

Saat itu sebenarnya goldsmith telah melakukan penipuan. Orang menyangka emas yang dijaminkan benar-benar milik goldsmith sendiri, padahal sebenarnya milik nasabah yang menitipkan emas. Selain penipuan ia juga melakukan pemerasan dengan membebankan bunga atas pinjaman yang ia berikan.

Belajar dari kesuksesannya menipu nasabah (yang tidak mengetahui emas yang dititipkan dijadikan jaminan kredit) dan debitor sekaligus, kemudian goldsmith mendapatkan ide lagi. Bagaimana kalau dibuat beberapa lembar uang kertas sekaligus untuk beberapa debitor? Maka dibuatkan beberapa uang kertas sekaligus untuk beberapa debitor. Dan setelah jangka waktu tertentu para debitor mengembalikan hutangnya berupa emas plus bunga. Keajaiban itu semakin menakjubkan. Dengan modal beberapa lembar kertas, ia mendapatkan sejumlah besar emas. Maka ia pun mengeluarkan uang kertas sebanyak-banyaknya untuk mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya. Keuntungannya ..… hanya dibatasi oleh kemampuan mencetak uang kertas. Tidak ada bisnis sepanjang sejarah umat manusia yang lebih menguntungkan daripada bisnis yang dijalani goldsmith.

Seiring berjalannya waktu semakin banyaknya orang yang menjadi debitor. Mereka rela antri duduk di bangku panjang untuk mendapatkan pinjaman dari goldsmith. Bangku panjang (banque) tempat duduk para calon debitor itu kemudian menjadi awal istilah bank. Dalam waktu tidak terlalu lama, para goldsmith menjadi orang-orang terkaya di dunia.

Para bangsawan dan para raja yang serakah membutuhkan dana untuk membiaya tentara, dan belanja pegawainya. Mereka pun tidak bisa menghindar untuk menjadi mangsa para goldsmith yang kemudian berganti istilah menjadi banker (pemilik bangku). Sekali meminjam, nilainya jutaan kali pinjaman yang diterima individu-individu, dan begitu juga keuntungan yang didapatkan banker.

Para banker itu senang denggan sifat serakah para raja dan bangsawan yang suka berperang memperebutkan kekuasaan. Semakin serakah mereka, semakin banyak perang yang dijalaninya dan itu berarti semakin banyak pinjaman yang bisa diberikan para banker. Dalam banyak kasus, ketika perdamaian terjadi, para banker justru menjadi provokator politik untuk memicu peperangan. Mereka membiayai Oliver Cromwell untuk memberontak kepada Raja Charles di Inggris. Mereka membiayai William Orange merebut tahta raja Inggris dari Charles II. Mereka merekayasa Revolusi Perancis, membiayai petualangan Napoleon, memprovokasi kemudian membiayai pihak-pihak yang terlibat dalam Perang Sipil Amerika, merancang Perang Krim, Perang Dunia I, Perang Dunia II, Perang Dingin, Vietnam, Teluk, dan perang-perang yang lain. Setelah perang, para pemimpin dan sekaligus juga rakyat negara-negara yang terlibat perang menjadi sapi perahan para bankir atas hutang yang mereka tanggung.

Selanjutnya, setelah mendapatkan keuntungan materi yang tiada tara, banker juga mendapatkan keuntungan politik yang besar. Mereka dapat dengan mudah mengangkat seseorang menjadi penguasa semudah mereka menjatuhkannya dari kukuasaan. Dan semakin besar kekuasaan politik mereka, semakin besar pula keuntungan ekonomi mereka. Politik dan uang, dua sisi mata uang yang sama, semuanya telah dimiliki para banker.

Pada awal abad 20 setelah ditemukannya minyak bumi, para banker itu melihat peluang bisnis besar lain. Jika manusia bisa dibuat tergantung hidupnya pada minyak, maka keuntungan mereka akan semakin besar, meski dibandingkan keuntungan yang diberikan oleh bisnis keuangan masih kalah jauh. Maka mereka membayar Henry Ford (seorang ahli mesin internal combustion berbahan bakar minyak) untuk memproduksi mobil berbahan bakar minyak secara massal sehingga production cost-nya lebih kecil dan bisa dijual dengan harga relatif murah. Di sisi lain mereka membujuk Thomas Alva Edison untuk menghentikan ambisinya memproduksi mobil berenergi batere (karena akan mengancam bisnis baru mereka) dengan tawaran menjadi bos perusahaan General Electric. Sedangkan untuk urusan produksi minyaknya, mereka mempercayakan pada Rockefeller.

Perusahaan-perusahaan transportasi massal dengan moda transportasi berenergi listrik seperti trem mereka beli untuk mereka gantikan moda-nya menjadi bus-bus berbahan bakar minyak. Bila ada perusahaan yang melawan, mereka mengerahkan pasukan mafia, pengacara, atau aparat pemerintah yang sudah disuap. Tidak lupa pembunuhan kharakter melalui media massa akan dialami para penentang banker.

Ketika Stanley Meyer, seorang ilmuwan Amerika menemukan alat pengubah air menjadi bahan bakar hidrogen yang murah dan portabel, ia ditangkap, diadili dan terakhir dibunuh. Sama dengan apa yang telah dilakukan terhadap Ezra Pound, sastrawan besar penentang dominasi banker kapitalis internasional. Setelah tidak memiliki alasan mengadili Ezra karena pemikirannya, Ezra dijebloskan ke klinik perawatan penyakit jiwa (sastrawan besar yang beberapa muridnya meraih Nobel Sastra dianggap gila?) hingga meninggal dalam tahanan. Hal yang sama juga menimpa Joko, penemu blue energy dari Indonesia. Dianggap membahayakan kepentingan para kapitalis penguasa bisnis minyak, ia diculik, dibunuh kharakternya melalui media massa dan sekarang harus menghadapi proses pengadilan.

Dan inilah sedikit gambaran keuntungan bisnis para bankir kapitalis di bidang perminyakan. Saat ini konsumsi minyak dunia sekitar 100 juta barrel sehari. Biaya produksi minyak rata-rata katakan saja $20 per-barrel meski sebenarnya lebih kecil. Jika harga minyak dunia, katakan $50 per-barrel, maka produsen minyak mendapat keuntungan $30 per-barrel. Berarti keuntungan produksi minyak global sehari adalah $30 x 100 juta = $3 miliar atau Rp30 triliun lebih dengan kurs dollar sekarang. Dalam setahun keuntungannya adalah Rp30 triliun x 365 = Rp11.000 triliun. Katakan 50% total keuntungan itu jatuh ke tangan perusahaan-perusahaan minyak dunia milik para banker, maka keuntungan para banker dari produksi minyak adalah Rp5.500 triliun setahun.

Diperlukan ribuan orang Syech Puji (kiai nyentrik yang suka pamer kekayaan dan memperistri anak kecil) untuk menandingi keuntungan para banker itu, dari bisnis minyak saja. Ingat dari bisnis minyak saja, belum bisnis terkait seperti mobil, transportasi, apalagi bisnis pokok mereka.

Sistem perbankan yang berlaku saat ini adalah sistem yang sama dengan sistem perbankan goldsmith, dengan kualitas dan kuantitas yang jauh lebih besar. Contohnya bank kini bahkan tidak perlu lagi mengeluarkan uang kertas atau sertifikat untuk memberikan pinjaman. Cukup dengan sebuah entry di komputer alias dengan udara kosong (abab istilah Jawanya) maka kredit sudah diberikan. Dan kemudian, para debitor harus membayar dengan darah dan keringat atas abab yang diberikan banker. Jika gagal membayar, harta bendanya disita oleh bankir sebagaimana dialami jutaan debitor sub-prime mortgage di Amerika akhir-akhir ini.

Para bankir internasional saat ini adalah keturunan para goldsmith jaman dahulu. Sebagian besar bank di dunia, termasuk Indonesia, adalah milik para bankir internasional itu.

Pada suatu saat para banker itu bosan dengan tumpukan uang kertas yang menumpuk di gudang mereka setelah sebelumnya persediaan emas dunia kering tersedot ke brankas mereka kecuali sebagian kecil yang dipakai masyarakat sebagai perhiasan. Mereka ingin pembayaran riel: properti, tanah, emas, asset-asset perusahaan dan sebagainya. Maka mereka menghentikan suplai uang kertas dan menarik yang sudah beredar. Istilahnya kebijakan tight money. Dunia pun mengalami krisis finansial yang merembet ke seluruh sektor ekonomi. Perusahaan-perusahaan bangkrut, debitor-debitor tidak dapat membayar hutangnya, saham perusahaan-perusahaan anjlok.

Saat inilah para bankir itu menjalankan rencananya: memborong perusahaan-perusahaan yang bangkrut, saham-saham perusahaan yang anjlok, dan menyita harta benda debitor yang gagal bayar. Maka dalam waktu singkat terjadi pemindahan kekayaan besar-besaran dari masyarakat ke kas para banker. Dan setelah kehancuran itu mereka, dengan bersembunyi di balik jubah IMF dan Bank Dunia, datang menawarkan “bantuan” yang sebenarnya berupa kredit berbunga ganda yang mencekik leher dan hanya membuat manusia semakin jatuh dalam cengkeraman kekuasaan mereka.

Hal inilah yang terjadi pada fenomena Depresi Besar tahun 1930-an, Krisis Moneter tahun 1997 dan Krisis Finansial Global saat ini. Namun hanya sebagian kecil saja manusia yang menyadari. Sebagian besar lainnya terbuai ilusi yang ditebarkan para banker melalui artis-artis Hollywood dan Bollywood, Madonna, David Beckham, Manchester United, Indonesian Idol, Cinta Laura, Ta’aruf, Inul Daratista dll. Bahkan anak-anak kecil pun sudah diajari orang tuanya untuk terbuai ilusi Idola Cilik, hingga mengabaikan nasib jutaan rakyat Palestina yang tengah kelaparan karena diblokade Israel atau ribuan rakyat miskin tetangganya yang menderita gizi buruk.

Saturday, 20 December 2008

DILEMA BULAN DESEMBER


“Kita tidak boleh membiarkan Yahudi mendiktekan hari libur nasional kita,” ungkap pendeta Ted Pike dengan nada geram dalam sebuah artikelnya di situs Truthtellers baru-baru ini.

Apa yang membuat geram Ted Pike adalah, sebagai agama mayoritas, Kristen kini telah kehilangan pengaruhnya di masyarakat karena upaya sistematis yang dilakukan orang-orang minoritas Yahudi. Setelah adanya larangan menampilkan simbol-simbol Kristen di tempat-tempat dan fasilitas-fasilitas umum, kantor-kantor pemerintah dan sekolah-sekolah umum dan juga adanya larangan ritual berdo’a secara Kristen di sekolah-sekolah umum, kini orang-orang Kristen bahkan mulai dibatasi untuk merayakan hari libur paling suci mereka: Hari Natal.

Dan ironisnya, sementara simbol-simbol kristen lenyap di hadapan publik, simbol-simbol Yahudi berupa menorah muncul di tempat-tempat publik, termasuk di Gedung Putih. Menurut pernyataan Chabad Lubavitch, sebuah organisasi Yahudi ekstrim, saat ini terdapat sekitar 10.000 menorah didirikan di tempat-tempat umum di seluruh dunia. Tidak hanya di Amerika dan Eropa, namun juga di kota-kota besar di Asia seperti Beijing dan Mumbai.

Ted Pike mengecam upaya sistematis yang dilakukan Anti Defamation League (ADL), sebuah organisasi Yahudi berpengaruh di Amerika dan Eropa, untuk men-desakralisasi hari Natal dengan melemparkan wacana “Dilema Bulan Desember” (December Dilemma). Wacana tersebut menggambarkan seolah-oleh warga Amerika menghadapi dilema seputar perayaan Natal dan menawarkan alternatif bentuk perayaan Natal baru yang “tidak menyinggung agama lain”.

Menurut Ted Pike, mengingat mayoritas warga Amerika beragama Kristen yang tentunya tidak pernah mengalami dilema dengan perayaan Natal, maka yang mengalami dilema sebenarnya adalah Yahudi sendiri. “Karena mereka mempunyai tujuan tersembunyi, yaitu menjauhkan Kristen dari tradisi budaya Amerika,” papar Ted Pike.

Salah satu upaya ADL dalam kampanye anti Kristen di Amerika sekaligus mempromosikan faham sekularisme adalah dengan memutarbalikkan pemahaman atas konstitusi Amerika. Amandemen Pertama konstitusi Amerika menyebutkan: “Kongres dilarang membuat hukum untuk (kepentingan) agama tertentu atau melarang kegiatan ibadah agama tertentu”. Oleh ADL undang-undang dasar tersebut diselewengkan penafsirannya menjadi: “Kongres dilarang untuk membuat kebijakan publik berkaitan dengan agama tertentu serta dilarang untuk melarang ibadah agama tertentu.”

Dengan mempromosikan menorah (simbol Yahudi berupa tempat lilin bercabang enam) daripada pohon natal atau salib, ADL mengkampanyekan hari Natal sebagai hari suci semua orang, sekaligus mengasingkan orang Kristen dari tradisi dan keimanannya yang telah bertahan 2.000 tahun.

Salah satu insiden terjadi tgl 14 Desember 2008 lalu di kota Armonk, New York. Walikota terpilih, seorang Yahudi bernama Reese Berman, memerintahkan pemasangan lambang Islam bulan sabit dan bintang yang ditempelkan di menorah sebagai simbol Natal menggantikan pohon cemara. Media massa (yang sebagian besar dikendalikan Yahudi) menyebutnya sebagai bentuk toleransi dan inklusifisme agama dan budaya.

Insiden lain terjadi 2 Desember 2008 lalu saat pengacara ACLU (organisasi Yahudi lainnya yang berpengaruh di Amerika) Katie Schwartzman mengancam akan menuntut pemerintah kota Ponchatoula, Louisiana, untuk menurunkan atau mengganti dengan menorah pohon natal yang setiap Natal menghiasi pusat kota. Walikota Bob Zabbia mengatakan pihaknya pada prinsipnya menolak tuntutan tersebut, namun terpaksa harus menuruti tuntutan ACLU untuk menghindari proses pengadilan yang mahal dan tidak mungkin dapat dimenangkannya.

Kesimpulan:

Yahudi, dalam upayanya menjadi penguasa dunia, secara sistematis berupaya menghancurkan semua agama, bangsa, etnis, dan segala identitas yang berpotensi menggalang kekuatan untuk menandingi Yahudi. Itulah sebabnya dimana-mana mereka mempromosikan hak-hak minoritas (untuk melemahkan agama dan etnis yang kuat) dan mengkampanyekan demokrasi (yang tujuannya membuat tidak ada satu negara pun yang tumbuh menjadi kuat).

Mereka membantu aliran-aliran sesat untuk menghancurkan agama-agama besar dan LSM-LSM untuk melemahkan negara-negara kuat. Mengkampanyekan free-sex dan homoseksual untuk menghancurkan struktur sosial masyarakat, dan menyebarluaskan narkoba untuk melemahkan generasi muda. Mereka mengadu-domba antar negara dan antar etnis: India dengan Pakistan, Jerman dengan Inggris-Perancis dan negara-negara Balkan serta Eropa Timur, India dengan Sri Lanka, Irak dengan Iran, Irak dengan Kuwait, Cina dengan Vietnam, suku Hutu dengan suku Tutsi di Afrika.

Tidak ada satu peristiwa besar pun di dunia, dahulu hingga sekarang, yang tidak melibatkan Yahudi. Tidak ada satu gerakan politik dan sosial besar yang tidak melibatkan Yahudi. Dan tidak ada aliran-aliran agama dan aliran-aliran politik yang “menyimpang” tanpa ada orang Yahudi di belakangnya. Revolusi Inggris, Revolusi Perancis, Perang Sipil Amerika, Perang Krim, Perang Dunia I dan II, Perang Teluk I dan II, Perang Melawan Terorisme, Depresi Besar (Malaishe), Krisis Moneter, dan Krisis Keuangan Global, semuanya adalah peristiwa-peristiwa yang direkayasa oleh Yahudi. Aliran Ahmadiyah, Ordo Jesuit, plularisme, sekularisme, emansipasi, kapitalisme, merkantilisme, sosialisme, komunisme, neo-liberalisme, adalah gerakan-gerakan yang direkayasa Yahudi.

Semua itu tertuang dalam Protocol of Learned Elders of Zion: Kekuatan gabungan dunia dapat mengimbangi kita (Yahudi) untuk sementara. Namun kita akan mengalahkan mereka dengan menanamkan perpecahan dan kebencian di antara mereka.
Mengapa Yahudi bisa melakukan itu semua? Baca posting saya selanjutnya berjudul: Kekuasaan Uang.

Wednesday, 17 December 2008

Nasib Palestina yang Terlupakan


Enam puluh tahun lalu, tepatnya tgl. 11 Desember 1948 Majelis Umum PBB mengeluarkan resolusi penting tentang Palestina dan Israel. Resolusi nomor 194 tersebut menetapkan pembentukan dua negara di tanah Palestina, yaitu Palestina dan Israel. Resolusi tersebut juga menetapkan pembentukan sebuah Komisi Konsiliasi untuk
mengimplementasikan resolusi tersebut serta kewajiban repatriasi (hak kembali) rakyat Palestina yang terusir oleh Israel.

Bagi rakyat Palestina, membagi tanah airnya dengan pendatang baru yang dengan paksa menduduki wilayahnya, merupakan sebuah pengorbanan yang luar biasa besar. Namun pengorbanan tersebut bahkan masih kurang banyak di mata Israel dan dunia, rakyat Palestina masih belum memiliki negara sendiri yang berdaulat. Jutaan rakyatnya masih berserak di negara-negara lain sebagai pengungsi, 1 1/2 juta penduduknya diblokade secara total oleh Israel di Jalur Gaza, dan sisanya yang tinggal di Tepi Barat terus menerus dihantui oleh serangan bersenjata Israel.

Jauh dari implementasi, resolusi tersebut saat ini justru dinilai sebagai “tidak realistik” atau bahkan “menghalangi perdamaian”. Dan bukannya diimplementasikan, resolusi ini justru menjadi alat politik oleh pihak-pihak yang terlibat langsung, Palestina dan Israel, maupun pihak lain yang paling sering melibatkan diri, Amerika. Terkadang resolusi tersebut digunakan sebagai senjata politik untuk “menyerang”, dilain waktu untuk “bertahan”. Lebih sering lagi untuk “tawar-menawar”.

Dalam hal permainan politik, Palestina dan juga negara-negara Arab pendukungnya, selalu saja berada di pihak yang kalah di hadapan Israel yang didukung secara total oleh Amerika. Pelan namun pasti mereka rela melepaskan hak-haknya hanya demi mencari perdamaian dengan Israel. Kekalahan terakhir mereka tampak jelas dalam Rencana Perdamaian Liga Arab menyangkut hubungan Palestina-Israel yang ditetapkan tahun 2002 di Lebanon.

Dalam rencana tersebut Israel dituntut menarik diri ke perbatasannya sebelum tahun 1967 ---tahun dimana Israel melancarkan Perang Enam Hari atas Arab yang memperluas wilayah Israel hingga Jalur Gaza, Tepi Barat Sungai Jordan, Jerussalem dan Dataran Tinggi Golan Syria. Itu berarti seruan tersebut berarti juga melegitimasi ekspansi Israel selama tahun 1948-1966. Negara-negara Arab juga menuntut pendirian negara Palestina, dan penetapan Jerussalem sebagai ibukota Palestina dan Israel. Rencana tersebut juga menyerukan pengembalian pengungsi Palestina, namun masih tidak jelas dalam tuntutan itu apakah pengungsi Palestina harus dikembalikan ke wilayah pendudukan Israel atau ke negara Palestina yang akan dideklarasikan. Di samping itu juga tidak disebutkan dengan jelas mekanisme pengembalian pengungsi Palestina.

Saat Israel dideklarasikan Mei 1948, negara-negara barat memandangnya sebagai sebuah solusi yang baik atas masalah Yahudi (Jewish Question) di Eropa, terutama setelah penindasan Hitler. Dalam beberapa jam saja setelah deklarasi, Amerika dan Sovyet mengakui kemerdekaan Israel, diikuti negara-negara Eropa beberapa hari kemudian. Setahun kemudian PBB bahkan mengakui Israel sebagai anggota.

Namun kebalikan dengan nasib orang-orang Yahudi, rakyat Palestina justru mengalami kejahatan kemanusiaan yang tidak terkira. Pada tahun 1948 sebanyak 750 ribu rakyat Palestina, atau 90% dari populasi rakyat Palestina saat itu, telah diusir dari rumah dan tanahnya dan menjadi pengungsi di negara-negara tetangga Arab. Sebanyak 250 ribu di antara mereka bahkan telah diusir oleh orang-orang Yahudi sebelum tahun 1948. Rakyat Palestina menyebut peristiwa pengusiran itu sebagai “Nakba”, dan memperingatinya setiap tahun dengan penuh kepahitan.

Secara hukum, Israel wajib menerima kembali rakyat Palestina yang terusir atau setidaknya mengganti kerugian. Hal itu pun menjadi syarat keanggotaan Israel di PBB tahun 1949. Namun Israel menolak, bahkan untuk sekedar mengakui kesalahan. Ketika Utusan Khusus PBB di Palestina, Count Bernadotte, terus mendesak Israel menerima kembali rakyat Palestina yang terusir, organisasi teroris Israel Irgun pimpinan Menachen Begin (kemudian menjadi Perdana Menteri Israel) membunuhnya.

Saat ini ada sekitar 5 juta rakyat Palestina yang menjadi pengungsi di Jordan, Lebanon, Syria, Tepi Barat dan Jalur Gaza. Israel melarang mereka kembali ke tanah airnya yang diduduki Israel. “Kita harus melakukan segala hal untuk menjamin mereka kembali. Mereka yang sudah tua akan segera mati. Yang muda akan segera lupa,” kata David Ben-Gurion, Perdana Menteri Israel pertama pada tahun 1948. Untuk memenuhi tekad tersebut Israel menerapkan tindakan tembak di tempat atas rakyat Palestina yang berani kembali ke tanah airnya yang diduduki. Ribuan rakyat Palestina meninggal karena “kebijakan” itu.

Namun ramalan Ben-Gurion meleset jauh. Rakyat Palestina, tua-muda, pria-wanita, dewasa-anak-anak, tidak pernah melupakan “Nakba”. Setiap anak-anak Palestina masih mengingat dengan jelas tempat dimana leluhurnya pernah tinggal di Palestina, dan mereka semua bertekad untuk kembali suatu saat.

Semua rencana penyelesaian masalah Palestina-Israel selalu berakhir mengambang terkait dengan masalah pengungsi ini. Dan kini orang-orang Palestina itu, para penyandang status pengungsi terlama di dunia, masih harus menatap masa depannya yang serba tidak jelas. Padahal para pengungsi di tempat lain, termasuk Kosovo, telah kembali ke tanah airnya.

Kengototan Israel menolak hak kembali pengungsi Palestina membuat masa depan Timur Tengah terus-menerus dinaungi awan mendung. Negara-negara barat pernah berupaya mencari solusi lain seperti pemberian kompensasi, naturalisasi oleh negara-negara penampung pengungsi serta emigasi ke negara-negara barat. Namun rakyat Palestina menolak tegas samua upaya mengalihkan rakyat Palestina atas haknya.

Hanya dengan implementasi Resolusi PBB nomor 194 perdamaian di kawasan Timur Tengah dapat terwujud. Di ulang tahunnya yang ke 60, kini adalah saatnya mengimplementasikan resolusi tersebut melalui resolusi PBB baru yang sejiwa dengan semangat hak kembali rakyat Palestina. Bukan mengabaikan resolusi itu sebagaimana dilakukan Israel.
Namun harapan itu mungkin tinggal harapan. Israel tidak pernah tulus menunjukkan niat untuk berdamai. Sebaliknya tindakan keji Israel semakin menjadi-jadi, bahkan di era modern seperti sekarang, seperti memblokade wilayah Jalur Gaza yang membuat rakyat Palestina semakin menderita.

Serba Langkah Mundur Amerika


Pada tanggal 27 November lalu parlemen Irak menyetujui pakta keamanan Amerika-Irak yang diusulkan Amerika untuk memberi legitimasi kehadiran pasukan Amerika di Irak paska berakhirnya mandat PBB.

Berdasarkan pakta tersebut pasukan Amerika diharuskan meninggalkan kota-kota dan desa-desa di seluruh Irak dan hanya boleh tinggal di pangkalan-pangkalan militer pada bulan Juni 2009. Kemudian pada akhir tahun 2011 seluruh pasukan Amerika harus sudah meninggalkan Irak. Pakta tersebut juga memerintahkan pasukan Amerika segera menyerahkan kontrol keamanan di ibukota Baghdad, termasuk daerah Green Zone, area tertutup tempat tinggal para pejabat tinggi sipil dan militer Irak, Amerika dan para diplomat asing. Di samping itu pakta tersebut melarang digunakannya Irak sebagai basis operasi militer terhadap negara tetangga serta dihapuskannya kekebalan hukum para anggota tentara bayaran Amerika yang seringkali melakukan kekerasan terhadap warga Irak.

Meski sebagian warga Irak, terutama warga Shiah pimpinan Muqtada al-Sadr, menentang perjanjian itu karena dianggap membenarkan pendudukan Amerika atas Irak, tidak dapat dibantah perjanjian itu merupakan bentuk kekalahan total Amerika di Irak. Hengkang dari Irak setelah kehilangan 4 ribu lebih prajurit serta menghabiskan $3 triliun, tentunya sama sekali tidak pernah dibayangkan oleh Presiden George W Bush saat memulai perang Irak tahun 2003. Namun realitasnya menghendaki demikian, rakyat Irak, termasuk pemerintahan boneka Nouri Al-Maliki yang dibentuk Amerika sendiri menghendaki hengkangnya pasukan Amerika, tidak peduli Amerika berjuang keras selama delapan bulan untuk menghasilkan pakta yang menguntungkannya. Terima kasih kepada Muqtada al-Sadr yang penentangannya secara total terhadap Amerika membuat pemerintah dan anggota Parlemen “tidak berani” memberikan konsesi banyak kepada Amerika kecuali memberi waktu penarikan pasukan Amerika sampai tahun 2011.

Bahkan Iran, musuh Amerika yang awalnya menentang pakta keamanan Amerika-Irak karena curiga dapat menjadi alat legitimasi kehadiran permanen pasukan Amerika di Irak, menyetujui pakta tersebut. Hal ini tidak lain karena Iran melihat jelas bahwa pakta tersebut merupakan bentuk kekalahan Amerika.

Namun untungnya Presiden Bush, meski keok di Irak, perhatian masyarakat Amerika tertuju pada krisis ekonomi serta pemilu yang baru lalu. Sementara masyarakat dunia pun tengah terkejut dengan peristiwa Teror Mumbai, sehingga mengabaikan kabar kekalahan Amerika di Irak. Baru setelah peristiwa pelemparan sepatu oleh seorang wartawan terhadap Bush, perhatian terhadap Irak dan apa yang telah dilakukan Presiden Bush di sana, menguat kembali.

Saat draft proposal pakta tersebut diusulkan Amerika bulan Maret lalu tidak banyak perbedaan dari pengukuhan pendudukan permanen Amerika atas Irak. Dengan harapan dukungan penuh dari Nour Al-Maliki yang telah didukungnya “menyingkirkan” saingan-saingannya baik Muqtada maupun para pejuang Sunni Amerika menyusun proposal pakta pertahanan yang menguntungkan pihaknya. Namun di sisi lain Nour Maliki melihat kelemahan Amerika: tidak memiliki sekutu di Irak setelah semua kekejian yang telah dilakukan, kecuali dirinya. Nur Maliki pun berani melakukan tawar-menawar. Tidak ingin dicap sebagai antek Amerika terutama menjelang pemilihan umum tahun depan, Nur Maliki memaksa Amerika menerima pakta yang menjadi simbol kekalahan telak Amerika.

Kekalahan di Irak merupakan tahap kesekian dari beberapa kemunduran Amerika di panggung politik dunia paska kebijakan “Perang Melawan Terorisme” Amerika tahun 2001. Pertama adalah kekalahan Amerika di panggung politik Palestina dengan terpilihnya HAMAS sebagai pemerintah Palestina mengalahkan sekutu Amerika FATAH. Kedua adalah kekalahan dalam panggung politik Lebanon dengan keberhasilan HEZBOLLAH memaksakan pembentukan pemerintahan yang anti-Israel dan pro-Syria, dan ketiga adalah tersingkirnya sekutu kuat, Pervez Musharraf, dari kekuasaan di Pakistan. Kekalahan terakhir Amerika sebelum Irak adalah gagalnya petualangan sekutu Amerika, Georgia, di Ossetia Selatan. Dan tentu saja petualangan Amerika di Afghanistan, diyakini kuat akan semakin menjerumuskan Amerika dalam kehancuran.

Di sisi lain lawan-lawan Amerika semakin kuat saja.

Sunday, 7 December 2008

Afghanistan, Tempat Perang Armageddon Dimulai



Dalam beberapa tahun terakhir, Taliban, rejim yang tersingkir dari kekuasaan di Afghanistan, mulai bangkit kembali dan telah berhasil merebut sebagian besar wilayah Afghanistan dari pasukan koalisi barat pimpinan Amerika. Wilayah yang berhasil mereka rebut termasuk kota Ghazni yang hanya berjarak 100 km dari ibukota Kabul.

Mengapa Taliban bangkit dan berhasil mengusir pasukan koalisi barat yang dilengkapi persenjataan super canggih?

Banyak sumber menyebutkan kebangkitan Taliban bersumber dari adanya keyakinan di kalangan sebagian ummat Islam bahwa di Afghanistan-lah awal perang akhir jaman yang diramalkan Rosulullah akan dimulai. Tidak heran jika ribuan gerilyawan muslim dari berbagai penjuru dunia berbondong-bondong menuju Afghanistan untuk syahid. Tidak terkecuali gerakan militan Islam yang selama ini berjuang memperjuangkan kemerdekaan Kashmir dari pendudukan India, telah memindahkan medan jihadnya di Afghanistan.

Berikut ini adalah sebuah laporan dari medan perang paling keras di dunia, Afghanistan.

============

In the Lair of the Taliban
Nic Rosen � Times Online December 7, 2008

The highway that leads south out of Kabul passes through a craggy range of arid, sand-coloured mountains with sharp, stony peaks. Nomadic Kuchi women tend to camels as small boys herd sheep. There is nothing to indicate that the terrain we are about to enter is one of the world�s deadliest war zones.

On the outskirts of the capital we are stopped at a checkpoint manned by the Afghan National Army. The soldiers are suspicious of my foreign accent. My Afghan companions, Shafiq and Ibrahim, convince them that I am only a journalist. As we drive away, Ibrahim laughs. The soldiers thought I was a suicide bomber. Ibrahim did not tell them that he and Shafiq are mid-level Taliban commanders escorting me deep into Ghazni.

Until recently, Ghazni, like much of central Afghanistan, was considered reasonably safe. But now the province, 100 miles south of Kabul, has fallen to the Taliban. Foreigners who venture there often wind up kidnapped or killed. In defiance of the central government, the Taliban governor in the province issues separate ID cards and passports for the Taliban regime, or the Islamic Emirate of Afghanistan.

Farmers increasingly turn to the Taliban, not the American-backed authorities, for adjudication of land disputes.

By the time we reach the town of Salar, only 50 miles south of Kabul, we have already passed five tractor-trailers from military convoys that have been destroyed by the Taliban. The highway, newly rebuilt courtesy of $250m largely from US taxpayers, is pocked by immense craters, most caused by roadside bombs planted by Taliban fighters. As in Iraq, these improvised explosive devices (IEDs) are a key part of the haphazard but lethal campaign against coalition troops and the long, snaking convoys that provide logistical support.

We drive by a tractor-trailer still smouldering from an attack the day before, and the charred, skeletal remains of a truck from an attack a month earlier. At a petrol station, a crowd of Afghans has gathered. Smoke rises from the road several hundred yards ahead. �War,� says Ibrahim. �The Americans are fighting the Taliban.�

Shafiq and Ibrahim use their mobile phones to call their friends in the Taliban, hoping to find out what is going on. Suddenly, the chatter of machinegun fire erupts, followed by the thud of mortar fire and several loud explosions that shake the car. I flinch and duck in the back seat, cursing as Shafiq and Ibrahim laugh at me. �Tawakkal al Allah,� Shafiq lectures me. �Depend on God.�

As we wait at the petrol station, Shafiq and Ibrahim display no indignation; to them, a military battle is a routine inconvenience. They buy a syrupy fizzy drink called Energy. Two green armoured personnel carriers from Nato zip by, racing towards Kabul. Shafiq and Ibrahim laugh: it looks like the coalition forces are fleeing the battle.

After an hour, the fighting ends and we get back in the car. A few minutes later, we pass the broken remains of a British supply convoy. Dozens of trucks � some smouldering, others still ablaze � line the side of the road, which is strewn with huge chunks of blasted asphalt. Finally, as night falls, after another checkpoint, we reach Ghazni province.

�From now on, it�s all Taliban territory,� Ibrahim says. �The Americans and police don�t come here at night.�

Shafiq laughs: �The Russians were stronger than the Americans. More fierce. We will put the Americans in their graves.�

To see at first hand how the Taliban operate, I had contacted a well-connected Afghan friend in Kabul and asked him to make the introductions. He knew many groups of fighters in Afghanistan, but said he would only trust my security if those I accompanied knew that they and their families would be killed if anything happened to me. Through a respected dignitary I was connected with Mullah Ibrahim, who commands 500 men in the Dih Yak district of Ghazni. (To protect Ibrahim�s identity, I agreed to change his name.)

Now in his forties, Ibrahim has been fighting with the Taliban since the 1990s. He walks with a limp: he lost his right leg below the knee in the civil war, and he had undergone surgery the week before to repair nerve damage suffered in a recent firefight. At first he told me his wounds were from an American bullet, but I later learnt he had been injured in a clash with a rival Taliban commander.

Before setting off, I had bought several sets of salwar kameez. I had grown my beard to pass as an Afghan, and had supplemented my Arabic and basic Farsi with a week of Berlitz classes in Pashtu, the language spoken by the ethnic group that dominates the Taliban. The book Berlitz gave me was clearly designed for military purposes. It offered a helpful list of weapons, and provided the Pashtu translation for a host of important phrases: �Show me your ID card.� �Let the vehicle pass.� �You are a prisoner.� �Hands up.� �Surrender.� The book did not include the phrase I needed most: �Ze Talibano milmayam.� �I am a guest of the Taliban.�

On a Saturday afternoon, Ibrahim picks me up in a white Toyota Corolla, its dashboard covered in fake fur. His friend Shafiq is behind the wheel, wearing a cap embroidered with rhinestones. Afghan culture places a premium on courtesy, and Shafiq is unfailingly polite. Almost casually, he says he has personally executed about 200 spies, usually beheading them. �First I warn people to stop,� he says, emphasising his fair-mindedness. �If they continue, I kill them.�

Shafiq, who fought the Soviets with the mujaheddin, now commands Taliban fighters in the Andar district of Ghazni. �Andar is a very bad place,� an intelligence officer in Kabul tells me. �The Taliban show a lot of confidence and freedom of movement there.� While coalition forces have focused on driving the insurgents from the south, they failed to maintain a buffer in central regions like Ghazni, where the Taliban now routinely pull people off buses and execute them.
In the darkness, we roll into the village of Nughi. We no longer have mobile-phone reception: the Taliban shut down the phone towers after sunset to prevent US surveillance from pinpointing their position. Shafiq manoeuvres the car on the bumpy dirt road between mud houses. We are led to a house where a group of young Taliban fighters emerges, several carrying weapons. We greet the traditional way, each man placing his right hand on the other�s heart, leaning in but not fully embracing, inquiring about the other�s health and family. Ibrahim, who has promised to protect me on the trip, decides to go home.

With the moon lighting our path, Shafiq and I follow the Taliban to another house, entering through a low door into a guest room with a red carpet on the floor and wooden beams on the ceiling. A dim bulb barely illuminates the room. A PKM belt-fed machinegun and a rocket-propelled grenade (RPG) launcher lean against a wall, next to several rockets. We are joined by Mullah Yusuf, Ibrahim�s nephew, who serves as a senior commander in Andar.

Yusuf has dark reddish skin and a handsome face. He wears a black turban with thin gold stripes and carries an AK-47. A boy brings a pitcher and basin, and we rinse our hands. We drink green tea and eat a soup of mushy bread called shurwa with our hands, followed by meat and grapes.

Yusuf became a commander last year, when the Americans killed his superior officer. He sleeps in a different house every night to avoid detection. A year and a half ago, he was injured in his thigh by a US helicopter strike. He joined the Taliban in 2003 after studying at a religious school in North Waziristan, the region bordering Pakistan. He took up jihad, he tells me, because foreigners have come to Afghanistan and are fighting Afghans and poor people. �The Americans are not good. They go into houses and put people in jail. Fifteen days ago the Americans bombed here and killed a civilian.�

According to the United Nations, 577 Afghan civilians were killed by coalition forces up till August, two-thirds of them in air strikes.

Once the foreigners leave, insists Yusuf, the Taliban will negotiate peace with the Afghan army and police: �They are brothers, Muslims.� What�s more, he says, girls will be allowed to go to school, and women will be allowed to work. It is a stance I will hear echoed by many Taliban leaders. In recent years, recognising that their harsher strictures alienated the population, the Taliban have grown more tolerant. They have even been forced to adopt technologies they once banned: computers, television, films, the internet.

After we finish eating, Shafiq opens a shed to reveal another white Toyota Corolla. The men load the rocket-propelled grenade launcher and four rockets into the car, along with the PKM machinegun. We drive on dirt paths to the village of Kharkhasha. Arriving at Shafiq�s house, we enter the guest room in darkness and sit on thin mattresses. A small gas lamp is brought out, as well as grapes and green tea. Shafiq joined the Taliban in 1994, he says, because they wanted peace and Islam. Shafiq has met Osama Bin Laden twice. He was impressed by Bin Laden�s knowledge of Pashtu. He has also met Mullah Muhammad Omar, the self-styled �commander of the faithful� who is now in hiding across the border in Pakistan, where he rebuilt the Taliban with the help and protection of Pakistani intelligence. Shafiq hopes Mullah Omar will return to lead the country, but other Taliban leaders no longer view him as the only option.
The next morning, we get back into the Corolla, loading the PKM, the RPG launcher and four rockets into the trunk. Shafiq and the machinegun are in the front passenger seat. Yusuf drives, his AK-47 beside him. Another Taliban fighter rides a Honda motorcycle alongside, an AK-47 strapped to his shoulder. They have promised to take me to see the Taliban in action. Yusuf points to a police checkpoint. The police know him, he says, but do nothing to stop him. �Every night I go on patrol, and they don�t fight me,� he says. �They don�t have guns; they are afraid.� Shafiq recently bought two Jeeps from the police, who told the Interior Ministry that the vehicles were destroyed in an attack. �The police are highly corrupt,� a senior UN official in Kabul tells me.

In the village of Khodzai, we visit a commander at a mosque where eight men and two boys sit on the floor, drinking tea. When they aren�t attacking checkpoints or ambushing convoys, the Taliban spend most of their time praying or listening to religious lectures. The men ambushed the Afghan army two days earlier in a nearby village, killing 20 Afghan soldiers. �The Americans do not come here,� their commander says proudly. �We control this area. The Taliban is the government here.�

Suddenly a coalition military helicopter swoops low overhead. Throughout the war, the US has compensated for its lack of troops by relying on aerial shows of force: it�s possible to go for days in Ghazni without seeing a single coalition soldier. I clench my fists in terror, waiting for the helicopter to fire at us, but the men ignore it and laugh at me. My fear may be comic but it�s not misplaced: a month after I leave, an air strike in Andar will kill seven suspected Taliban fighters. To my relief, the helicopter flies off.

The men leave on their motorcycles to patrol the countryside. As the Taliban have adopted the tactics of Iraqi insurgents, they have become far more brutal than they were when they ruled Afghanistan. To sow insecurity, they enter villages and bypass traditional tribal mechanisms, waging a campaign of social terror. Shafiq tells me of the trials that the Taliban hold to prosecute collaborators. Suspects are given a hearing by a qazi, or judge, who orders those convicted to be beheaded.

With the targeting of civilians now sanctioned by the Taliban, top commanders compete for prize catches, stopping cars in broad daylight and checking mobiles to determine if they are worthwhile captives. As we drive deeper into Ghazni, we enter territory where such rivalry is now as lethal as the rocket launcher in the Corolla�s boot. As the Taliban insurgency spreads, it has fallen victim to the tribal rivalries and violent infighting endemic to Afghanistan. �The leadership is totally fragmented,� a senior UN official says.

In the middle of a sandstorm we head to a local shop, pulling up with the PKM in plain view and Taliban chants blaring from the car�s speakers. The people in the shop greet Yusuf warmly. He buys shoulder straps for AK-47s. Then, as we pass through a nearby village, we are stopped by a bearded man on a motorcycle. An AK-47 is slung over his shoulder, his face partially concealed by a scarf. He demands to know who I am. Shafiq tells him I am a guest. The man asks me if I am Pashtun. �Pukhtu Nayam,� I say, drawing on my Berlitz lessons. �I am not Pashtun.� He glares at me and rides off.

Arriving at another mosque, we find a dozen men inside. A large shoulder-fired missile is on the floor, an anti-armour weapon. Shafiq tells me we are waiting to meet the commander who will approve my trip. This is news to me.

I thought my trip had already been approved. Suddenly the angry man on the motorcycle bursts in holding a walkie-talkie. He barks at the fighter to stop talking to me until the men�s commander shows up. A judge, he says, will decide what will happen to me. On hearing the Pashtu word qazi, I start to panic. As Shafiq made clear earlier, a meeting with a judge could end with decapitation.

I am ordered to get into a car with the angry man and the other strangers, who will take me to the judge. To my alarm, Shafiq says he will join Yusuf, who is praying in the mosque, and catch up with us later. He seems to be washing his hands of me. I have been held by militias in both Iraq and Lebanon, but in those situations I could speak the language and talk my way out of trouble. Now I am in one of the most desolate places I have ever seen, far from any help and unable to speak more than a few garbled words of Pashtu. Trying to contain my mounting sense of helplessness, I tell Shafiq that I am not leaving him � I am his guest. Once I am out of his control, I will be at the mercy of men who kill almost as routinely as they pray. Brandishing their rifles, the men shout at me to get into their car.

Yusuf comes out and tells me to get into our Corolla. He won�t leave me, he says. He puts another man with an AK-47 in the car to guard me. As I wait, a standoff ensues. Frantic, I send text messages to contacts in Kabul to tell them I�m in trouble. In the tense silence, my guard�s mobile phone goes off abruptly: the ringtone is machinegun fire, accompanied by a song about the Taliban being born for martyrdom.

My mouth goes dry from fear; I feel as though I have lost my voice. My friend in Kabul who helped arrange the trip gets through to Shafiq. He tells him he should not leave me, that I am Shafiq�s responsibility and he will hold him personally responsible if anything happens to me.

We sit in the car for more than an hour, windows up. The sandstorm is still raging, and it�s impossible to see more than a few yards ahead. Men with guns flicker into view, only to vanish in the blinding haze. Finally, Shafiq tells me I can get out. The angry man and his companions depart, taking the rocket launcher with them. Thinking it is over, I put my hand on my heart as they leave, to indicate no ill will. Then Shafiq tells me there has been a change of plan. He has been ordered to escort me to visit a rival commander, a man called Dr Khalil, who will determine what will happen to me.

I later learn that I have been caught in the midst of the bitter and often violent infighting that divides the Taliban. Ibrahim�s recent injury, it turns out, was the result of a clash between his forces and a group of foreign fighters under the command of Dr Khalil. The foreigners wanted to close down a girls� school, sparking a battle. Two Arabs and 11 Pakistanis commanded by Dr Khalil had been killed by Ibrahim�s men.

As we leave to meet Dr Khalil, the car jolts forward in the sandstorm, rocking back and forth on the stony path. Yusuf tells me not to worry � if Dr Khalil tries to take me, he will fight them. It is the only reassurance I have. I struggle to find a signal for my phone, cursing as the bars appear and disappear. I reach another of my contacts. �I spoke to Dr Khalil,� he says. �If they behave bad with you, don�t worry � they just want to punish you.�

Shafiq also tells me not to worry, that he will die defending me if necessary. My only hope, I realise, is Pashtunwali, the Pashtun code of hospitality � the same tradition that forbade the Taliban from handing over Osama Bin Laden to the Bush administration after September 11. Unfortunately, young Taliban fighters are substituting their own authority for tribal customs. �All the old rules have broken down,� an aid official who has spent two decades in Afghanistan tells me.

Our car crawls through the empty desert. I ask Shafiq if Dr Khalil is a good guy. �He�s like you,� Shafiq answers. �No Muslim is a bad man.� His faith in the brotherhood of Islam does little to reassure me. �Don�t worry,� Shafiq says. �The Doctor has a gun, and I have a gun.�

Ibrahim calls to say that he has reached a Taliban leader in Pakistan, as well as someone in the United Arab Emirates, and they have promised to call the Doctor and tell him not to harm me. �The Doctor will fight with me, not with you,� says Shafiq, seeming to warm to the idea of bloodshed. My contact in Kabul calls again. �They might slap you, but they won�t kill you,� he tells me. �It�s just to punish you for coming without permission. They might keep you overnight as a guest. You are lucky you called me.�

Later he tells me that the Doctor had assured him that he would not �do anything that isn�t sharia�, or Islamic law. This is little consolation, even after the fact, since the Taliban�s interpretation of sharia includes beheading. �I�m a martyr, I�m a star,� the car�s tape deck chants. �I will testify on behalf of my mother on Judgment Day��

We finally arrive at a mosque somewhere between the villages of Gabari and Sher Kala. The Doctor, I am told, is waiting for us inside. As I enter, I inadvertently step on a pair of Prada sunglasses � just as the Doctor walks in. A burly man with light skin and a dark brown beard, he picks up the bent glasses and examines them sombrely. His hands are thick, enormous. He wears a white cap with palm trees and suns embroidered in white thread. He straightens the glasses and puts them on. My heart sinks.

After everyone prays, the Doctor orders the others to leave the room except for Yusuf. His voice is low and gruff. We sit on the floor. I apologise for entering his territory without permission. He accuses me of being a spy for the Afghan army. He asks how I got a visa to Afghanistan. I tell him I am here to write about the mujaheddin and tell their story. If I like them so much, he sneers, why don�t I join them?

The Doctor asks about my contact. I say he fought with the mujaheddin from Jamiat-i Islami. The Doctor scoffs, saying the man never fought the Soviets. Then he gets to his feet and announces that he is going to make calls to Pakistan to inves-tigate me. We will have to spend the night in the mosque; he will return in the morning. As I try to protest, he stalks out.

I sit glumly on the floor in the guest room. A few minutes later, Shafiq sticks his head in and says �Yallah� � Arabic for �Come on.� I jump up, relieved to get out of there. The Talib fighters sitting with us insist that we drink the tea they have made. I hurriedly gulp it down and step out into the darkness, eager to get away from the mosque. But Shafiq has more bad news: we will have to return in the morning. My mind flashes to the videos I have seen on the internet of victims being decapitated by jihadists in Iraq and Afghanistan.

We get in the car and Shafiq drives slowly along nearly invisible paths, the moonlight obscured by dust. When we reach his house, he carries a television into the guest room and turns on the generator. We watch coverage of the attacks we drove by the day before on Al-Jazeera, then an Indian soap opera on an Afghan channel. The women are dressed in revealing western attire. I am amazed that Shafiq would watch something so anathema to the Taliban. It�s okay, he tells me: �It�s a drama about a family.�

I wait impatiently for the phone network to go back up. When it does, one of my contacts in Kabul tells me that he has spoken to senior Taliban officials who told the Doctor not to harm me, but the Doctor continues to insist I am a spy. He thinks the Doctor is trying to assert his independence and exchange me for a ransom. He tells me that Mullah Nasir, a one-armed Kandahari who serves as Taliban governor for Ghazni, is also trying to secure my release. I try to get Shafiq to drive me to Ghazni�s capital, but he says that if he doesn�t return me to Dr Khalil, he will be arrested.

In the end, I am saved by the same official who authorised my trip. According to my contact, the Taliban minister of defence called Dr Khalil and ordered him to release me, warning the Doctor that he would be �f***ed� if anything happened to me. My contact says I will be let go this afternoon, but that once we are on the road we should take the batteries out of our phones to prevent anyone from tracking us: �This Doctor, he is a very nasty guy. He might send somebody to kidnap you on the way, and then I can do nothing for you.�

As we wait for the Doctor to arrive, Shafiq has other problems to deal with. His nephew has been arrested by a Taliban patrol after being spotted walking with a girl. Shafiq secures his release, then other Talib fighters call to complain that they heard music coming from his house the night before. Exasperated, Shafiq protests that it was only Al Jazeera. He doesn�t mention the Iranian singer.

A few hours later, Dr Khalil finally shows up. He examines my passport and leafs through my notebooks, asking me to show him the photos I took. �Zaibullah Mujahed said I should hit you,� he says, referring to the chief Taliban spokesman. �But I will not.� Rifling through my bags, he seems particularly fascinated by my toothbrush. Puzzled, he riffles the bristles with his finger, trying to deduce their purpose.

For a man who has spent much of the past 24 hours contemplating whether I was worth more to him dead or alive, the Doctor is now surprisingly friendly. �What can I do for you?� he asks, a model of courtesy. I cautiously ask him a few questions. He tells me that he studied at an Islamic school in Pakistan before entering medical school in Afghanistan. He says he is fighting to restore a government of Islamic law. God willing, he adds, it will take no more than 30 years to rid Afghanistan of foreigners.

We pile into the Corolla and drive off to meet Ibrahim, loading an RPG into the trunk just in case. Dr Khalil gets behind the wheel, with Shafiq beside him holding the PKM. As we drive through the Doctor�s village, he points to its outer limits. �This is the border between the Taliban and the government,� he says, now jocular and relaxed.

At the edge of town, close to the main road, the Doctor gets out of the car, followed by Shafiq, holding his PKM. The locals appear stunned. They stare, immobilised, their daily routine interrupted by the sudden appearance of two heavily armed Taliban commanders escorting a large foreign man in an ill-fitting salwar kameez. The Doctor stops a pick-up truck and orders the driver to take us to the bazaar. We part warmly.

Arriving at the bazaar, we find a tense, apologetic Ibrahim waiting for us. Like my contact, he was worried that the Doctor had set up an ambush for me on the road. �I should not have left you,� Ibrahim says. �I was lazy. That was my mistake.�

On the way back to Kabul, we dodge more craters in the highway. The military trucks I saw burning two days earlier are still smouldering by the road. Children play on the blackened vehicles, removing pieces for salvage.

Back in Kabul, we all have lunch together at the office of my friend where I first met Ibrahim. My friend teases me for sending him so many text messages � more than a dozen � and reads some of them aloud. Everyone laughs, relieved that the ordeal is over. I look at Ibrahim, wondering if he would have taken me hostage himself under different circumstances.

To return to Kabul from a feudal province like Ghazni is to experience a form of time travel. The city is thoroughly modern, for those who can afford it: five-star hotels, shiny new shopping malls and well-guarded restaurants where foreigners eat meals that cost as much as most Afghans make in a month, cooked with ingredients imported from abroad. If you can avoid falling into the sewage canals at every pedestrian crossing, and evade the suicide bombers who occasionally rock the city, you can enjoy the safety of Afghanistan�s version of the Green Zone.

But the barbarians are at the gate, and serious attacks are getting closer and closer to the city each day. On my return to Kabul, I discover that the Taliban have fired rockets at the airport andat the Nato base; the UN has been on a four-day curfew; and President Karzai has cancelled his public appearances. The city is being slowly but systematically severed from the rest of the country.

�The road from Kabul to Ghazni is gone,� an intelligence officer tells me, �and most of the rest of the roads are going. The ambushes are routine now, which tells you that the Taliban have a routine capability.� Parwan province, bordering Kabul to the north, has also become dangerous. �All of a sudden we see IEDs on the main road in Parwan and attacks on police checkpoints,� he says. �It�s the last remaining key arterial route connecting Kabul to the rest of the country.�

The Bush administration is placing its hopes on presidential elections in Afghanistan next year, but everyone I speak to in Kabul agrees that the elections will be a joke. In Pashtun areas controlled by the Taliban, registration would be virtually impossible, and voting would invoke a death sentence � effectively disenfranchising the country�s dominant ethnic group. Real elections would require the co-operation of the Taliban � and that, in turn, would require negotiations

with the Taliban. The war, in effect, is already lost.The Bush administration believes it can stop the Taliban by throwing money into clinics and schools. But even humanitarian officials scoff at the idea. One says: �Two years ago you could build a road or a bridge in a village and say, �Please don�t let the Taliban come in.� But now the hearts-and-minds business doesn�t work.�

It is foolhardy to believe that the Americans can prevail where the Russians failed. And it is too late for Bush�s �quiet surge�, or even for Barack Obama�s plan for more robust reinforcements in Afghanistan. More soldiers on the ground will only lead to more contact with the enemy, and more air strikes will only lead to more civilian casualties that will alienate even more Afghans. Sooner or later, the Americans will be forced to negotiate, just as the Soviets were before them.

Bush vowed that he would never allow the Taliban to return to power in Afghanistan. But they have already returned, and they appear to be winning. As a high-ranking Taliban leader said recently, �You westerners have your watches. But we Taliban have time.�

Menguak Dalang Teror Mumbai


Masyarakat dunia baru saja menyaksikan sebuah drama kekerasan politik yang sangat drastis yang hanya dapat dikalahkan oleh peristiwa “serangan WTC 11 September 2001” dan “penyanderaan Olympiade Munich 1972”, yaitu “Teror Mumbai”. Drama teror ini menelan korban jiwa hingga 188 orang dan ratusan korban lainnya menderita luka-luka.
Tragedi ini membawa konsekwensi politik yang sangat serius. Hubungan antara India dan Pakistan, dua negara bertetangga yang memiliki kekuatan nuklir di Asia Selatan, menegang. Perang antar kedua negara yang sudah beberapa kali terjadi, kembali mengancam. Hal ini tidak lain karena tuduhan beberapa pejabat India yang disebar luaskan media massa barat dan digaungkan oleh media massa negara berkembang, bahwa pelaku teror adalah ekstremis Islam asal Pakistan.

Namun fakta sebenarnya (mungkin saja) jauh dari pandangan umum masyarakat global yang terbentuk oleh opini publik yang dikembangkan media massa. Pelaku teror adalah ekstremis Hindu bekerjasama dengan unsur-unsur ultra nasionalis sekuler India dan mendapat dukungan dari dinas inteligen Israel Mossad. Opini altelrnatif ini banyak beredar di dunia internet, media-media massa independen dan sudah pasti media massa Pakistan.

“With a traumatized nation and a paralyzed government, a core group of secular ideologues and Hindu nationalists are executing a ‘soft coup’ in New Delhi to bring to power hawks who want to pursue America’s agenda of grooming India as a regional policeman, sort out Pakistan and confront China”.(www.daily.pk, 30 November 2008). “In fact all the evidence so far point to homegrown Indian terrorists”.(www.truthseeker.com, 1 November 2008).

Program televisi Pakistan “I Differ” yang menampilkan seorang pakar intelegen Pakistan mengatakan bahwa para pelaku berasal dari India, dilihat dari logat bahasa yang berhasil direkam. Koran terbesar Pakistan, The Pakistan Daily Times membantah pengakuan seorang pelaku yang tertangkap yang mengaku berasal dari Pakistan sebagai tidak bisa dijadikan bukti dalam situasi tersebut. Di sisi lain President Pakistan Asif Ali Zardari menuduh aksi teror tersebut sengaja dibuat untuk mengalihkan perhatian dari peperangan yang dilakukan pemerintah Pakistan terhadap teroris. Sedangkan penasihat menteri keamanan Rehman Malik menuduh teror Mumbai dibuat untuk memindahkan konsentrasi pasukan Pakistan dari perbatasan Afghanistan ke India sehingga perbatasan Afghanistan lebih mudah diinfiltrasi.

Terlepas dari berbagai opini yang berkembang, banyak bukti justru menunjukkan keterlibatan internal India sendiri, jauh dari tuduhan ektremis Islam sebagaimana dituduhkan. Misalnya dari gambar rekaman kamera CCTV yang ditemukan dan beredar luas di internet (penulis kirimkan salah satu gambar ke Redaksi) terlihat jelas salah seorang pelaku mengenakan gelang warna merah-kuning yang di lengan kanannya, tanpa sorban dan tanpa selembar jenggot pun. Tanda seperti itu hanya menunjukkan pelaku berasal dari kalangan ekstremis Hindu.

Laporan-laporan saksi lainnya menyatakan beberapa pelaku bahkan bukan berasal dari Asia, melainkan orang-orang kulit putih, minum bir dan menggunakan obat-obatan perangsang yang dilarang dalam Islam. “Seorang polisi yang menyerbu ke perkampungan Yahudi mengatakan kepada Guardian bahwa para penyerang adalah orang-orang kulit putih.”(Guardian). “Penduduk setempat mengatakan pembunuhan massal itu dimulai di sini. Tiga orang berjalan ke dalam kafe, minum bir, membayar bill dan berjalan keluar. Mereka tidak seperti orang India, mereka seperti orang asing. Salah seorang saya kira bahkan berambut pirang. ………," kata Mr Amir.(BBC)

Beberapa media independen menuduh dinas rahasia Israel (Mossad) terlibat dalam aksi tersebut berdasarkan laporan bahwa para penyerang menginap di pemukiman Yahudi di Bombai sejak beberapa hari sebelum aksi penyerangan selain laporan tidak adanya warga Yahudi yang menjadi korban. Namun sangat menarik untuk membaca analisa www.daily.pk tgl 30 November lalu. Menurut analisa tersebut aksi terror tersebut dirancang dan dilakukan oleh kalangan nasionalis sekuler dan ekstremis Hindu India dalam rangka meningkatkan kekuatan politik internal mereka sekaligus memenuhi agenda Amerika untuk menyeret India ke dalam pengaruh Amerika dalam menyaingi Cina. Dengan menempatkan ekstremis Islam sebagai tertuduh, aksi tersebut diharapkan juga akan menyeret India ke dalam agenda “perang melawan Teroris (Islam)” yang digelar Amerika. Aksi tersebut sekaligus juga akan menempatkan Pakistan dalam posisi tersudut untuk lebih keras memerangi militan Islam yang terus meningkat aktivitasnya di perbatasan Pakistan-Afghanistan.

Analisa tersebut berdasarkan pada fakta tewasnya Hemant Karkare, kepala dinas intelegen polisi anti-teror India secara misterius di awal aksi. Karkare diduga sengaja dibunuh untuk menutupi bukti-bukti keterlibatan kelompok nasional sekuler dan Hindu. Karkare telah lama terlibat dalam penyidikan aktivitas kelompok-kelompok tersebut dan diduga kuat ia telah menemukan bukti-bukti kuat untuk menghentikan aktivitas mereka sebelum akhirnya terbunuh dalam sebuah insiden yang teroganisir sangat rapi, Teror Mumbai.

Dalam penyidikannya Karkare telah menahan tiga pejabat intelegen India karena keterlibatan aksi-aksi teroris di India yang kemudian dituduhkan kepada kelompok militan Islam. Salah satu aksi tersebut adalah pengeboman 29 September lalu di Malegaon, kota kecil berpenduduk mayoritas muslim di dekat Mumbai. Pada saat terbunuh Karkare berada pada posisi dimana ia hampir dapat membongkar jaringan teror yang melibatkan unsur-unsur militer dan ekstremis Hindu yang memiliki pusat-pusat pelatihan militer di berbagai tempat di India. Tidaklah mengherankan jika rekaman kamera CCTV menunjukkan seorang pelaku teror di stasiun kereta api menunjukkan identitas sebagai seorang ekstremis Hindu.

Partai militan Hindu Bharatiya Janata Party (BJP) nampak sekali diuntungkan oleh aksi tersebut. Sehari setelah aksi tersebut BJP membuat iklan besar-besaran di beberapa surat kabar India dengan judul tebal menyolok: “Brutal Terror Strikes At Will!! Fight Terror. Vote B.J.P.”.

Secara terpisah reporter New York Times Somini Sengupta melaporkan tgl 30 November: “Pemerintah PM Singh telah “melabrak” BJP berdasar bukti-bukti bahwa para pendukung BJP terindikasi terlibat dalam serangan-serangan teroris. Sungguh secara mengejutkan, Hemant Karkare yang terbunuh dalam serangan Mumbai, tengah berada di tengah penyidikan tingkat tinggi terhadap unsur-unsur ekstremis Hindu. Karkare telah menjaring beberapa tersangka kasus pengeboman bulan September di daerah mayoritas muslim, Malegaon, sebuah kota kecil dekat Mumbai.”

Kalimat penutup dalam laporan www.daily.pk menyebutkan: “India saat ini berada di jalur yang sama dengan Amerika setelah Serangan WTC 9/11 2001. Namun saat ini para patriot India memiliki keuntungan dari bukti-bukti yang nampak. Rakyat India harus menghentikan orang-orang nasionalis sekuler gila perang dan ekstremis Hindu dari upaya pembajakan terhadap negeri ini. Masa depan wilayah ini (Asia Selatan) tergantung pada mereka.”