Monday, 5 March 2012

JENASAH WARTAWAN YANG TERJEBAK DI HOMS DITEMUKAN


Jenasah tiga wartawan asing yang terjebak di tengah pertempuran di distrik Baba Amr, Homs, berhasil ditemukan dan kini tengah dalam persiapan untuk diserahkan kepada pemerintah masing-masing. Demikian laporan kantor berita Syria SANA, Juma't (2/3). Pencarian terhadap ketiga jenasah dilakukan palang merah internasional dan bulan sabit merah Syria, setelah pasukan pemerintah melakukan pembersihan terhadap kawasan tersebut dari kantong-kantong perlawanan pemberontak.

Ketiga wartawan asing tersebut adalah wartawati senior Amerika Marie Colvin, fotograper Perancis Remi Ochlik, dan wartawan Spanyol Javier Espinosa. Sebelumnya dikabarkan bahwa Espinosa berhasil meloloskan diri ke Lebanon, namun ternyata laporan tersebut tidak benar.

Menurut keterangan kementrian luar negeri Syria sebagaimana dikutip SANA, ketiga jenasah sebenarnya telah siap untuk dievakuasi oleh tim pencari dari palang merah internasional dan bulan sabit merah Syria beberapa hari sebelumnya, namun ditolak oleh para pemberontak. Penolakan tersebut, menurut SANA, dilakukan untuk mendramatisir kondisi di Homs demi kepentingan politik.

Ketiga jenasah kini tengah menjalani pemeriksaan DNA di rumah sakit Damaskus sebelum diserahkan kepada perwakilan tiga negara tempat wartawan-wartawan tersebut berasal. Colvin akan diserahkan kepada perwakilan kedubes Polandia yang mewakili pemerintah Amerika, karena Amerika telah menarik semua staff kedubesnya dari Syria sebagai bentuk tekanan terhadap pemerintahan Syria.

Pemerintah Syria telah menyampaikan pernyataan dukacita terhadap keluarga ketiga wartawan disertai seruan kepada para wartawan asing untuk menjauhkan diri dari upaya penyusupan ke wilayah-wilayah konflik yang terlarang di Syria atau ke tempat-tempat keberadaan para pemberontak.

Espinosa sebenarnya hampir selamat setelah sebuah operasi penyelamatan oleh aktifis kemanusiaan Syria berhasil mengeluarkannya bersama dua wartawan Perancis William Daniels dan Edith Bouvier dari Homas, Rabu (29/2). Namun di tengah perjalanan menuju perbatasan Lebanon, konvoi yang membawa mereka mendapat serangan hingga memaksa mereka kembali ke Homs. Saat ini belum diketahui nasib kedua wartawan Perancis tersebut. Upaya penyelamatan itu sendiri menelan nyawa 13 aktifis kemanusiaan Syria meski berhasil menyelamatkan 47 warga sipil yang terperangkap.

Pada saat upaya penyelamatan Edith Bouvier dalam kondisi terluka akibat serangan militer Syria yang telah menewaskan Marie Colvin dan Remi Ochlik minggu lalu.

Terlepas dari "kepahlawanan" para wartawan tersebut (tidak sebanding dengan para relawan yang berusaha menyelamatkan mereka), terdapat suatu kontradiksi. Mereka tidak berada di Gaza saat diserang dengan brutal oleh Israel, karena para bos mereka memenuhi perintah Israel untuk menutupi kejahatan Israel di sana. Sebaliknya mereka tidak memenuhi permintaan Syria untuk menjauhi wilayah konflik, yaitu agar "kejahatan" pemerintah Syria di Homs terbuka ke publik. Para wartawan itu juga tidak memberitakan korban di kawasan pendukung pemerintah di distrik Az-Zahra, Homs, yang juga mengalami kehancuran akibat serangan artileri para pemberontak, termasuk korban 80 personil keamanan Syria yang diculik dan jenasahnya dimutilasi oleh para pemberontak.



Catatan:
Berita terakhir: jenasah ketiga wartawan telah kembali ke tanah air masing-masing.

Friday, 2 March 2012

IRAN SIAP DENGAN SENJATA "RAHASIA"


Iran menyatakan telah menyiapkan senjata rahasia yang akan digunakannya pada saat yang tepat, yaitu jika diserang. Senjata rahasia tersebut menurut Iran akan membuat musuh terkejut saat digunakan.

"Republik Islam Iran memiliki banyak kemampuan tersembunyi yang akan digunakan pada saat yang tepat. Kami belum menampakkan semua kemampuan kami," kata menteri pertahanan Iran Jenderal Ahmad Vahidi kepada media Iran "FNA", Selasa lalu (28/2).

Pernyataan tersebut dikeluarkan sebagai tanggapan atas peningkatan militer Amerika dan sekutu-sekutunya di sekitar Iran sebagai persiapan serangan terhadap Iran.

"Saat ini Amerika sangat takut bahwa sebuah insiden akan terjadi dan mereka ternyata tidak sanggup melawan Iran," tambah Vahidi.

Iran telah berulangkali memberikan peringatan kepada Amerika dan Israel bahwa Iran telah siap menghadapi serangan dan akan membalas setiap aksi militer terhadapnya dengan balasan yang lebih keras.

"Iran bukan negara yang tetap tinggal diam dan hanya mengamati semua ancaman dari "kekuatan-kekuatan materialis rapuh yang digerogoti cacing di dalam tubuhnya"," kata pemimpin tertinggi Iran Ayotollah Sayyed Khamenei di hadapan para taruna militer Iran November tahun lalu.

"Siapapun yang berfikir untuk menyerang Iran, atau bahkan sekedar terlintas pikiran untuk menyerang Iran, harus siap-siap mendapat balasan lebih keras dari tangan besi militer Iran, Tentara Pengawal Republik Iran, serta milisi Basij yang didukung oleh seluruh rakyat Iran," tambah Khamenei saat itu.


Rudal S-300

Pernyataan menhan Iran di atas secara tidak langsung mengklarifikasi dugaan kepemilikan sistem pertahanan udara S-300 oleh Iran meski Rusia telah membatalkan penjualan sistem persenjataana tersebut tahun lalu karena larangan PBB.

Sumber-sumber inteligen internasional menyebutkan bahwa setelah Rusia membatalkan penjualan tersebut, Iran berhasil mendapatkan 4 set S-300, 2 dari Belarusia dan 2 lagi dari sumber yang masih belum diketahui. Meski Rusia dan Iran membantah laporan-laporan tersebut, sudah menjadi pengetahuan umum di kalangan diplomat bahwa teknisi-teknisi Iran telah mendapatkan pelatihan penanganan sistem persenjataan canggih tersebut di Rusia.

Dugaan kepemilikan senjata yang ditakuti Amerika dan Israel tersebut semakin kuat dengan kedatangan dua kapal perang Iran ke Syria bulan lalu menyusul kedatangan flotilla kapal perang Rusia ke Syria akhir tahun lalu. Laporan-laporan inteligen menyebutkan Rusia diam-diam telah memasok S-300 kepada Syria dan Iran. Kedatangan kapal-kapal perang Iran tersebut untuk menjemput senjata-senjata tersebut.

S-300 sebenarnya bukan sistem pertahanan udara paling canggih yang dibuat Rusia karena Rusia telah mengembangkan sistem persenjataan yang lebih baru, yaitu S-400. Namun demikian sampai saat ini S-300 masih dianggap sebagai salah satu sistem pertahanan udara paling canggih yang bisa menetralisir keunggulan angkatan udara Amerika dan Israel atas Iran serta menggagalkan skenario serangan udara Amerika dan Israel atas sarana-sarana nuklir Iran. S-300 mampu mendeteksi secara simultan 100 target sekaligus dan menembak jatuh 12 rudal dan pesawat musuh sekaligus.

Saudi Siap untuk Di-"Mesir"-kan


Berdasarkan kondisi internal yang ada, Saudi Arabia siap untuk menuai revolusi. Demikian tulis surat kabar besar Inggris, "Guardian", Senin (27/2).

Menurut tulisan tersebut, beberapa kondisi internal yang bisa menjadi indikasi telah "matang"-nya sebuah gerakan revolusi di antaranya adalah tingginya tahanan politik yang angkanya mencapai puluhan ribu orang, sebagian besar dari mereka tidak pernah diadili sama sekali. Kondisi lainnya adalah tingginya angka pengangguran, tingginya tingkat kesenjangan sosial-ekonomi, serta berbagai tindakan keluarga kerajaan yang tidak populer di mata rakyat. Semua kondisi tersebut terjadi di negara-negara Arab yang telah dilanda revolusi.

Penulis Arab Saudi yang menulis di "Guardian", Saad Al-Faqih, mengatakan dengan berkembangnya sarana komunikasi modern saat ini telah menghancurkan tembok penghalang yang mengelilingi regim penguasa yang berdiri di atas dasar "kerahasiaan" dan "penipuan". Al Faqih menunjuk pada satu akun "twitter", @mujtahidd, yang mampu menarik 220,000 pengikut karena keahliannya membuka praktik-praktik korupsi penguasa secara mendetil dan akurat. Bahkan setelah pemerintah Saudi memblok akun ini, @mujtahidd masih terus mendapatkan banyak pengikut.

Al Faqih juga menekankan bahwa telah muncul kesadaran untuk melakukan reformasi di antara sebagian kelas menengah dan kelas atas di Saudi, meski ia menyayangkan hal ini tidak mendapat perhatian media massa barat yang justru lebih menaruh perhatian pada isu "kesetaraan gender" dan "revolusi Shiah".

Al Faqih mengakui bahwa gerakan revolusi Shiah cukup aktif bekerja saat ini, namun Shiah adalah minoritas di Saudi (sekitar 15%). Selain itu karena "image" gerakan Shiah Saudi mendapatkan dukungan Iran, maka regim kerajaan Saudi memiliki alasan untuk melakukan tindakan represif. Regim bahkan menggunakan sentimen anti-Shiah untuk memperkuat kekuatannya.

Sebagai kesimpulan Al Faqih menyebutkan bahwa penguasa kerajaan lebih peduli pada upaya untuk menunjukkan diri kepada barat sebagai penguasa yang stabil dan kukuh daripada sebagai penguasa yang demokratis. Mereka percaya bahwa kondisi sosial politik yang tidak stabil akan dapat membuat barat kehilangan kepercayaan pada regim.

PEMBERONTAK MENARIK DIRI DARI HOMS


Saya (blogger) mengakui bahwa dalam tulisan-tulisan tentang Iran, Lebanon maupun Syria, saya cenderung terbawa oleh emosi membela mereka dari "serangan" Amerika-Israel dan sekutu-sekutunya. Namun saya tidak pernah meninggalkan rasionalitas dalam analisis-analisis saya sebagaimana analisis saya tentang perang Gaza tahun 2008-2009.

Ketika Israel menyerang Gaza samua orang menyangka HAMAS akan takluk dengan mudah oleh serangan Israel yang memiliki kekuatan militer hebat. Apalagi Israel kala itu tidak hanya didukung Amerika, tapi juga oleh pengkhianatan negara-negara Arab yang tidak lain adalah "saudara" bangsa Palestina sendiri. Selain aksi tutup mata terhadap kebiadapan Israel, Mesir bahkan aktif mendukung aksi blokade atas Gaza, para ulama Salafi justru meminta rakyat Palestina untuk menyerah dan menfatwakan haram berperang melawan Israel. Kala itu saya dengan yakin 100% menulis bahwa Israel akan "keok". Dan saya benar.

Analisis saya sederhana saja, yaitu bahwa Israel tidak memiliki semangat jihad sebagaimana bangsa Palestina. Saya sudah membacanya dari kelalahan Israel melawan Hizbollah tahun 2000 dan 2006. Apalagi setelah membaca berita tentang para serdadu infantri Israel yang mengenakan "pampers" karena takut ditembak sniper HAMAS kala buang air kecil, saya yakin Israel tidak akan tahan berperang lebih dari 1 bulan kecuali melawan rakyat sipil tak bersenjata.

Dalam konflik Syria pun demikian. Saya yakin 100% pemerintah Bashar al Assad akan bertahan karena ia mendapat dukungan tidak saja dari rakyatnya yang sadar betul negaranya tengah mendapat serangan dari zionis dan salafis-wahabis, namun juga dukungan dari Iran, Lebanon, Irak, Palestina, Rusia dan Cina. Dan analisis saya terbukti dengan kabar telah direbutnya kembali basis perlawanan pemberontak Syria di Homs oleh pasukan pemerintah. Kemenangan ini melengkapi kemenangan Bashar al Assad sebelumnya yang mana referendum yang digelarnya hari Minggu (26/2) mendapat dukungan mayoritas rakyat Syria.

Sebagaimana dikabarkan situs online BBC, tgl 1 Maret lalu, para pemberontak telah meninggalkan Homs yang selama ini menjadi basis utama perlawanan mereka melawan regim Bashar. Mereka tidak tahan menghadapi gempuran tentara loyalis Bashar yang selama sebulan terakhir mengepung kota ini dan menghujani basis mereka di distrik Baba Amr dengan artileri dan mortir.

Sekedar informasi tidak seluruh kota Homs menjadi basis pemberontak karena di kota ini juga terdapat kawasan yang dihuni oleh orang-orang Alawi dan Kristen pendukung Bashar. Kawasan mereka lah yang selama ini menjadi sasaran serangan pemberontak.

Barat sebenarnya telah berupaya menghambat kejatuhan Homs dengan mengirimkan utusan kemanusiaan PBB Valerie Amos ke Homs untuk memantau kondisi setempat. Namun kedatangannya ditolak Syria. Selain itu drama peperangan di Homs juga diwarnai peristiwa tragis dan heroik yang dialami para wartawan yang meliput peristiwa ini.

Dalam operasi penyelamatan berbahaya yang berlangsung selama 3 hari, reporter Spanyol Javier Espinosa, salah satu dari 4 wartawan asing yang terperangkap di Baba Amr selama seminggu berhasil melintasi perbatasan Lebanon, Rabu (29/2), menyusul penyelamatan fotograper Inggris yang terluka Paul Conroy sehari sebelumnya. Menurut keterangan seorang aktifis kemanusiaan yang turut dalam aksi penyelamatan tersebut, sebanyak 13 aktifis kemanusiaan turut tewas dalam operasi tersebut, namun sebanyak 47 warga sipil yang terluka berhasil diselamatkan.

Sebelumnya, hari Minggu (26/2), Espinosa sebenarnya telah meninggalkan Baba Amr dengan iringan konvoi bersama 2 wartawan Perancis William Daniels dan Edith Bouvier, namun mereka terpisah dari rombongan dan terpaksa kembali ke Baba Amr. Hingga kini dua wartawan Perancis tersebut belum diketahui nasibnya. Menurut keterangan para aktifis Bouvier menolak dievakuasi lagi tanpa kehadiran dubes Perancis sebagai bentuk solidaritas atas warga yang terluka.

Bouvier terluka akibat serangan bom tgl 22 Februari lalu yang menewaskan wartawati Sunday Times Marie Colvin dan fotograper Perancis Remi Ochlik. Mayat mereka masih berada di Baba Amr.

Tentara dikabarkan juga melakukan pembersihan di kota Rastan, 20 km utara Homs. Selain itu tentara dan milisi pendukung Bashar juga menyerang Helfaya, benteng pasukan oposisi di dekat kota Hama.



PASUKAN ELIT AL ASSAD
Kaburnya para pemberontak dari Homs terjadi setelah pasukan elit Syria dari Divisi IV lapis baja mulai melakukan pembersihan terhadap kantong-kantong pemberontak, Rabu (29/2). Pasukan ini dipimpin oleh adik terkecil Bashar, yaitu Maher al Assad. Di masa lalu pasukan ini juga berperan krusial dalam aksi penumpasan pemberontakan Ikhwanul Muslimin di Hama tahun 1982.

Penumpasan pemberontakan tahun 1982 menjadi aib bagi penguasa Syria kala itu yang tidak lain adalah ayah Bashar, yaitu Hafez al Assad. Namun pemberontakannya menjadi aib bagi Ikhwanul Muslimin, organisasi yang didirikan dengan misi membebaskan Palestina dari penjajahan Israel. Padahal kala itu Syria justru tengah berperang melawan Israel di Lebanon. Dan kini pemberontakan yang sama dilakukan Ikhwanul Muslimin terhadap Bashar al Assad, pemimpin Arab satu-satunya yang masih teguh melawan Israel.

Tuesday, 28 February 2012

BAGAIMANA BANK "MERAMPOK" ANDA? (2)


Indonesian Free Press -- Banyak orang yang menyangka bahwa Bank Indonesia sebagai bank sentral pencetak uang adalah lembaga pemerintah. Tidak sama sekali. Meski para pimpinannya diangkat oleh parlemen dan pemerintah dan keberadaannya diatur oleh undang-undang, namun justru undang-undang itu menciptakan Bank Indonesia sebagai lembaga super di luar pemerintah. Pemerintah tidak memiliki hak sama sekali untuk mendikte kebijakan Bank Indonesia di bidang moneter. Bank Indonesia juga tidak berkewajiban memberikan laporan keuangan kepada siapa pun. Tidak ada audit dan tidak ada laporan pertanggungjawaban kepada publik.

Padahal sebagai bank-nya bank, keuntungan yang diperoleh Bank Indonesia sangatlah besar. Tidak ada satu lembaga, organisasi atau perusahaan pun yang seberuntung Bank Indonesia. Jika ada orang yang diberi kekuasaan untuk mengubah selembar kertas menjadi uang yang berharga, maka tidak ada yang bisa mengalahkan kekayaannya. Maka tidak perlu kaget jika Bank Indonesia memiliki kantor yang paling megah di di antara kantor-kantor lain di seluruh Indonesia dan para eksekutifnya bergaji lebih besar dibanding menteri dan presiden sekalipun. Dan itu belum seberapa dibanding mekanisme yang diciptakan bank sentral dalam perekonomian.

Kepada semua bank Bank Indonesia mewajibkan untuk menyerahkan modal mereka dan dikembalikan sebagiannya sebagai "modal kerja". Namun meski notabene uang itu adalah milik bank sendiri, mereka harus membayar bunga untuk setiap sen modal kerja yang diserahkan Bank Indonesia. Pun kepada para karyawannya yang meminjam uang untuk suatu keperluan, Bank Indonesia masih membebankan bunga.

Jika jumlah "modal kerja" seluruh bank di Indonesia adalah Rp 1.000 triliun dan bunga yang harus dibayarkan kepada Bank Indonesia adalah 5%, maka pendapatan Bank Indonesia dari bunga "modal kerja" seluruh bank di Indonesia adalah Rp 50 triliun, jumlah yang bagi perusahaan-perusahaan raksasa sektor riel hanya adalah dalam impian. Bahkan itu pun belum semuanya karena bank sentral masih mendapatkan pendapatan lain yang tidak kalah besarnya, yaitu biaya "kliring" antar bank yang merupakan transaksi sehari-hari perbankan. Dengan pertumbuhan sektor perbankan yang stabil dan mantap, pendapatan Bank Indonesia tentu juga ikut "stabil dan mantap".

Namun bank-bank juga mendapatkan keuntungan sendiri yang tidak kalah menggiurkan. Jika bank menerima "modal kerja" senilai Rp 10 triliun dan tingkat suku bunga deposita tahunan adalah 6.5% dan menejemen bank lagi "malas bekerja", mereka cukup menitipkan uangnya di bank lain dalam bentuk deposito. Maka setiap tahun ia akan mendapatkan pendapatan bunga senilai Rp 650 miliar. Memang ia harus menyetor ke Bank Indonesia sebesar Rp 500 miliar, ia masih mendapat keuntungan senilai Rp 150 miliar. Bankan dengan tiduran pun para eksekutif dan pemilik bank masih bisa mendapatkan keuntungan melimpah.

Namun tentu saja bank tidak akan sebodoh itu karena dengan menggelontorkan "modal kerja"-nya sebagai kredit pihak ketiga, ia akan mendapatkan bunga 12% sehingga setiap tahunnya ia akan mendapatkan pendapatan bunga senilai Rp 1,2 triliun. Memang dari kredit-kredit yang diberikannya itu ada sebagian yang macet, namun tentu saja nilainya tidak signifikan dibanding keuntungannya.

Dan keuntungan itu belum seberapa karena dengan permainannya, bank-bank bisa memberikan kredit yang jauh lebih besar dari "modal kerja"nya. Kepada debitor yang meminjam modal kepada bank, bank pasti mewajibkannya menyimpannya dalam tabugan atau giro bank bersangkutan. Dengan kata lain, kredit yang diberikan otomatis masuk kembali ke dalam pembukuan bank dan dianggap sebagai modal. Maka modal kerja bank tidak berkurang meski telah memberikan kredit. Kemudian bank memberi kredit lagi kepada nasabah lain dan mewajibkannya menyimpan kembali di bank. Dan seterusnya sehingga bank bisa memberikan kredit tanpa batas dan tentu saja pendapatan bunganya menjadi tidak terhingga.

Okey, tentu saja itu berlebihan karena ada banyak kendala yang tidak memungkinkan bank memberikan kredit tanpa batas dalam jangka waktu tertentu. Namun katakanlah bank bisa memberikan kredit 10 x "modal kerja"-nya dalam waktu 1 tahun, maka pendapatan bunga bank tersebut dalam 1 tahun adalah Rp 12 triliun, masih menjadi angka impian perusahaan-perusahaan sektor riel yang bekerja membanting tulang. Dan bankan angka itu pun masih belum semuanya karena bank juga mengutip biaya adminstrasi yang nilainya juga menggiurkan. Jika sebuah bank memiliki 500 ribu nasabah dan setiap bulan kepada mereka dikutip biaya administrasi Rp 1.000, maka dari ini saja bank mendapat pendapatan Rp 500 juta per-bulan. Nilai sebenarnya tentu jauh lebih besar lagi dan para nasabah pun jarang peduli dengan biaya-biaya ini.

Dan karena bunga adalah penghasilan yang mengalir bagai air sungai yang dinikmati para ekskutif, pegawai dan pemilik bank-bank, tentu saja mereka sangat keberatan untuk menurunkan tingkat suku bunga meski para pelaku usaha dan pemerintah teriak-teriak meminta suku bunga diturunkan agar perekonomian atau sektor riel bisa lebih lancar bergerak.

(bersambung)

CUKUP 2 TEMBAKAN, AMERIKA PUN HENGKANG


Hizbollah hanya memerlukan 2 ledakan bom untuk mengusir tentara Amerika dan Perancis dari Lebanon tahun 1983. Dan kini Taliban hanya memerlukan 2 tembakan untuk menyingkirkan Amerika dari Afghanistan.

Hari Sabtu lalu (25/2), 2 orang penasihat militer senior Amerika yang tengah bekerja di gedung Kementrian Dalam Negeri Afghanistan di Kabul, ditembak kepalanya hingga tewas oleh beberapa pelaku yang diduga anggota Taliban. Kejadian ini begitu memukul Amerika dan sekutu-sekutunya yang tergabung dalam pasukan koalisi di Afghanistan hingga memaksa mereka menarik semua staff-nya dari kantor-kantor pemerintahan dan mempercepat panarikan pasukan dari Afghanistan.

Penembakan gaya eksekusi jarak dekat tersebut membuat kaget para pejabat Amerika dan sekutunya di Afghanistan, terutama karena dilakukan di kantor pemerintah yang dianggap paling ketat penjagaannya. Amerika memang sudah lama menyadari bahwa Taliban telah menginfiltrasi aparat keamanan Afghanistan, terbukti dengan sering terjadinya serangan di ibukota Kabul yang dikelilingi oleh berlapis-lapis penjaga keamanan. Namun insiden hari Sabtu tersebut terasa sangat mengguncangkan.

Sampai kini aparat keamanan Afghanistan dan NATO serta Amerika masih mencari tersangka penembakan yang telah teridentifikasi identitasnya. Taliban sendiri telah menyatakan bertanggungjawab atas insiden ini dan mengaku pelaku adalah anggotanya. Tindakan tersebut, klaim Taliban, sebagai aksi balasan atas insiden pembakaran Al Qur'an oleh tentara Amerika.

Dua penasihat keamanan Amerika itu, seorang letnan kolonel dan seorang mayor, ditembak di mejanya saat sedang bekerja. Diduga pelaku adalah orang yang memiliki akses ke dalam gedung tersebut. Dalam waktu beberapa jam saja setelah kejadian tersebut komandan Amerika dan NATO di Afghanistan, Jendral John Allen, langsung memerintahkan penarikan semua staff dan pejabat yang ditempatkan di kantor-kantor pemerintahan Afhanistan.

Sementara itu Taliban mengumumkan bahwa pelaku penembakan adalah simpatisannya yang bernama Abdul Rahman. Menurut Taliban, Abdul Rahman berhasil masuk ke gedung kementrian dalam negeri berkat bantuan seorang pegawai di kantor tersebut.

Aparat keamanan juga mengejar seorang anggota intel kepolisian Afghanistan bernama Abdul Saboor yang diduga turut terlibat dalam aksi penembakan. Yang bersangkutan langsung menghilang setelah kejadian tersebut. Namun masih belum jelas apakah ia hanya membantu aksi penembakan atau pelaku langsung.

Dilaporkan telah 30 lebih nyawa melayang, termasuk 2 penasihat militer Amerika itu, terkait insiden pembakaran Al Qur'an yang dilakukan aparat keamanan Amerika di pangkalan udara Bagram, Utara Kabul. Insiden tersebut memicu terjadinya aksi demonstrasi besar-besaran di berbagai wilayah Afghanistan menentang Amerika dan sekutu-sekutunya.

Insiden pembakaran Al Qur'an dan penembakan 2 penasihat keamanan Amerika telah memaksa kepala negara Amerika dan Afgahnistan untuk saling meminta ma'af, namun bagaimana pun kedua insiden ini membuat hubungan kedua negara semakin tidak harmonis.

"Tidak pernah seburuk saat ini dan hal ini bisa menjadi titik balik bagi misi perang barat di Afghanistan yang telah berjalan 10 tahun," kata Martine van Bijlert, analis politik dari Afghanistan Analysts' Network, New York.



Ref:
"U.S. Advisors Killed in “Execution-Style” Shooting"; News Brief – February 26, 2012 dalam thetruthseeker.co.uk, 26 Februari 2012


"Two US Troops Shot Dead, NATO Pulls Staff, Karzai Calls for Calm"; almanar.com.lb; 26 Februari 2012

PRES. LEBANON: ISRAEL MASIH MENDERITA KARENA KEKALAHAN DI LEBANON


Perang pernyataan terjadi baru-baru ini antara dua pemimpin negara yang bermusuhan, Israel dan Lebanon. Pada hari Rabu (22/2) PM Israel Benjamin Netanyahu mengancam akan menyerang Lebanon seraya mengejek Lebanon sebagai negara yang tidak terdapat dalam map dunia. Pernyataan itu mendapat tanggapan keras dari Presiden Lebanon Michel Suleiman dengan menyebut Israel masih menderita karena kekalahan yang dideritanya dari Lebanon.

"Meskipun Lebanon tidak mendapatkan dukungan militer dan finansial sebagaimana Israel, Lebanon adalah satu-satunya negara yang telah mengalahkan Israel secara militer, dan Israel masih menderita karena kekalahan itu hingga sekarang," kata Suleiman kepada para wartawan di Istana Kepresidenan, Kamis (23/2). Ia merujuk pada perang Lebanon II tahun 2006 dimana Israel mengalami kekalahan hebat melawan milisi Hizbollah dan terpaksa menarik pasukannya dari Lebanon.

Suleiman mengecam pernyataan Netanyahu yang disebutkannya sebagai tidak berdasar. "Lebanon adalah negara yang telah berusia ribuan tahun. Ia berakar kuat dalam sejarah dan pernyataan tersebut tidak berpengaruh atas keberadaan Lebanon," tambah Suleiman.

Menambah ejekannya pada Israel lebih jauh Suleiman membandingkan keberadaan kedua negara. "Lebanon dengan keberagaman dan pluralismenya sangat berlawanan dengan Israel yang rasis," kata Suleiman.

Suleiman juga mengingatkan bahwa Lebanon adalah salah satu negara pendiri PBB dan penandatangan Deklarasi HAM PBB, sementara Israel sebagaimana ditunjukkan oleh pernyataan Netanyahu, dianggap sebagai pelanggar HAM.



NASRALLAH: KAMI TIDAK PERNAH TAKUT ISRAEL

Sementara itu pemimpin Hizbollah Sayyed Hassan Nasrallah turut berkomentar keras atas pernyataan bernada ancaman yang dilakukan Netanyahu. Dalam peringatan Hari Syuhada, JUmat (24/2), Nasrallah menyebut pernyataan tersebut sebagai "cerminan mental bangsa Israel yang berdasar pada pembunuhan, penyebaran teror serta pelanggaran nilai-nilai kesucian, sejak berdiri hingga saat ini".

Nasrallah juga menuduh Israel berada di balik segala tindak kerusuhan dan kekerasan yang terjadi di Timur Tengah sembari merujuk pada kasus pembakaran Al Qur'an di Afghanistan serta aksi-aksi pemboman yang terus terjadi di Irak.

"Kita harus waspada dengan peran Israel atas aksi-aksi pelanggaran kesucian di berbagai dunia, seperti yang terjadi di Amerika dan Afghanistan. Rencana zionisme adalah mengubah konflik menjadi permusuhan Muslim-Kristen dan kita sebagai Muslim harus berhati-hati, saat membela nabi kita tidak boleh menghina nabi-nabi umat lain, dan kita harus menyadari peranan Israel di balik berbagai kerusuhan di kawasan ini," kata Nasrallah melalui video yang disiarkan langsung dalam peringatan Hari Syuhada yang diadakan di Nabi Sheeth, Lembah Bekaa.

Nasrallah juga merujuk aksi pemboman di Baghdad baru-baru ini yang menewaskan puluhan orang dimana bom-bom mobil diledakkan di pagi hari saat orang tengah dalam kesibukan. "Itu adalah aksi pembunuhan keji dan itu bukan kejadian baru. Jika kita menghitung jumlah korban yang tewas karena aksi-aksi pemboman, jumlahnya mencapai ratusan ribu jiwa, di luar mereka yang tewas karena aksi pendudukan pasukan asing."

"Mengapa darah rakyat Iran menjadi korban? Siapa yang menginginkan Irak hancur? Saya ingin mengingatkan pernyataan saya dari awal pendudukan asing di Irak bahwa Israel ingin menghancurkan Irak karena jika bangsa Irak pulih dan bangkit ia akan menjadi bangsa yang kuat dengan potensi yang dimilikinya. Kami semua tahu bahwa rakyat Irak adalah orang-orang terdidik dan karenanya mereka akan menjadi pelopor model baru sebuah negara. Israel tidak menginginkan Irak semacam itu dengan latar belakang agamanya dan harapan-harapannya, karena Israel sadar bahwa angin perubahan akan bertiup dari timur (Iran, Irak, dan Palestina). Maka Israel ingin Irak dihancurkan dan tetap berkubang dalam konflik-konflik internal. Kita harus mengetahui bahwa inteligen Israel dan Amerika telah menginfiltrasi kelompok-kelompok "tafkiri" yang bertanggungjawab atas berbagai pembunuhan di Somalia, Pakistan dan beberapa negara Arab."

Mengenai ancaman Israel terhadap Lebanon, Nasrallah menyatakan, "Baik Netanyahu, Barak maupun Olmert tidak akan membuat kita takut. Biarkan mereka mengatakan sesukanya, mengancam dan sebagainya. Di masa lalu dimana orang mengatakan Israel tidak bisa dikalahkan, mereka tidak bisa menakuti kita, apalagi sekarang. Di masa lalu ketika jumlah kita sedikit dan bersenjata seadanya, sementara mereka memiliki jendral-jendral legendaris Sharon dan Rabin, mereka tidak bisa menakuti kita, apalagi sekarang ketika kita memiliki puluhan ribu milisi yang siap untuk mati syahid."

Saturday, 25 February 2012

BAGAIMANA IRAN MENGALAHKAN AL AMERIKA (2)


“Kapal-kapal terbesar Amerika, kapal-kapal induk yang megah, saat ini telah menjadi jebakan terapung yang mematikan. Di Teluk Parsia yang dangkal dan sempit, manuver-manuver ekstrem sulit dilakukan dan melarikan diri tidak akan mungkin. Teluk Parsia akan berwarna merah oleh darah pelaut-pelaut Amerika.” (Mark Gaffney, military specialist)



Ketegangan merasuki ribuan awak kapal induk USS Abraham Lincoln dan 2 kapal pengiringnya, ketika melintasi Selat Hormuz, 14 Februari lalu. Dan ketegangan itu semakin memuncak ketika di kejauhan tampak satu titik hitam yang tidak lama kemudian berhasil diidentifikasi sebagai sebuah kapal cepat AL Iran. Halikopter-helikopter pun diperintahkan memberi peringatan kepada kapal cepat itu untuk menjauh. Dan pesawat-pesawat tempur siap-siaga untuk langsung mengudara begitu diberikan komando. Akhirnya kapal cepat itu pun bergerak menjauh dan ketegangan pun berangsur-angsur mereda.

Mengkhawatirkan satu kapal cepat bertonase hanya beberapa puluh ton dibandingkan kapal USS Abraham Lincoln yang berbobot sekitar 80 ribu ton, pasti dianggap berlebihan. Kapal cepat itu pasti bahkan masih kalah berat dibandingkan jangkar kapal USS Abraham Lincoln. Namun mengkhawatirkan kapal cepat Iran yang lebih mirip kapal superboat yang digunakan untuk lomba perahu cepat itu adalah tindakan bijaksana, karena kapal "liliput" itu bisa menenggelamkan raksasa seperti USS Abraham Lincoln.

Ya, benar. Dengan inovasi yang dilakukan Iran berhasil mengembangkan kapal-kapal patroli cepat yang dilengkapi dengan rudal-rudal jelajah anti-kapal canggih. Sebut saja rudal "Sunburn" buatan Rusia.

"Sunburn" mungkin adalah rudal anti-kapal paling canggih di dunia saat ini dan Iran diyakini telah memiliki ratusan rudal ini. Terbang rendah 3 meter di atas permukaan laut dengan kecepatan 2,5 x kecepatan suara serta manuver yang mampu mengecoh sistem pertahanan udara tercanggih lawan, rudal ini bisa membuat lubang sebesar ruangan di lambung kapal yang cukup untuk menenggelamkan kapal induk sekalipun. Dan dengan tenggelamnya sebuah kapal induk, dipastikan ribuan awaknya akan ikut tenggelam. Rata-rata tiap kapal induk Amerika diawaki oleh setidaknya 6.000 personil atau hampir satu divisi tentara darat.

Selain murah, dibanding kerugian yang ditimbulkannya pada pihak musuh, rudal ini juga mudah digunakan. Bisa ditembakkan dari segala kendaraan peluncur roket, termasuk truk dan kapal cepat yang didisain Iran. Rudal ini mampu menjangkau sasaran hingga sejauh 160 km, lebih dari cukup untuk menjangkau seluruh kawasan Selat Hormuz yang lebar terpendeknya hanya 60 km.

Dibandingkan rudal anti kapal "Exocet" yang terkenal selama Perang Malvinas dan Perang Iran-Irak tahun 1980-an, "Sunburn" jauh lebih canggih: lebih cepat, lebih akurat dan lebih jauh daya jangkaunya. "Sunburn" memang dirancang untuk menembus sistem pertahanan laut Amerika "Aegis" yang terpasang di seluruh armada laut Amerika. "Aegis" bahkan bisa ditembus oleh "Exocet" yang terbang di bawah kecepatan suara sebagaimana terjadi pada kapal USS Stark yang tertembak rudal "Exocet" dalam Perang Iran-Irak.

Dalam sebuah demonstrasi keakurasian yang dilakukan Cina, rudal ini berhasil tepat menembak tanda "X" yang ditempatkan pada sebuah kapal sasaran.

Tidak mengherankan jika Mark Gaffney, seorang pakar militer pada tahun 2004 menulis sebuah artikel: "Kapal-kapal perang Amerika berada dalam jangkauan rudal "Sunburn" dan juga rudal yang lebih canggih lainnya SS-NX-26 "Yakhont" (juga buatan Rusia, lebih cepat dan lebih jauh daya jangkaunya), yang digelar Iran di sepanjang pantai Teluk Parsia. Setiap kapal Amerika menjadi terbuka dan riskan. Saat Iran menjatuhkan jebakan, seluruh kawasan laut akan menjadi ladang pembantaian."

"Anda tidak perlu menjadi Hannibal yang menghadapi Perang Cannae," tulis ahli militer Russ Winter tentang kondisi Selat Hormuz yang akan menjadi "kuburan" para pelaut Amerika.

Benar, dengan ratusan pulau-pulau kecil, puluhan pelabuhan-pelabuhan dan perkampungan nelayan, Selat Hormuz menjadi tempat yang ideal untuk melakukan perang gerilya laut bagi kapal-kapal cepat Iran yang mematikan. Dan Iran masih memiliki senjata-senjata anti-kapal yang mematikan lainnya: artileri yang dikendalikan laser, ranjau laut, kapal-kapal selam, pesawat torpedo dan rudal-rudal jelajah anti-kapal lainnya yang tidak kalah canggih dari "Sunburn" dan "Yakhont" seperti "Silworm" dan "Dong Feng" buatan Cina, "Onyx", serta "Zafar" buatan Iran sendiri.

"Dong Feng" adalah rudal anti-kapal yang paling ditakuti Amerika, bukan saja karena keakurasian dan kecepatannya, melainkan daya jelajahnya yang mencapai 1.000 km hingga tidak ada satu tempat pun di Teluk Persia dan Laut Oman yang aman dari rudal ini. Sementara "Zafar" diklaim Iran sebagai rudal jelajah tercepat di dunia dan karenanya paling sulit dideteksi sistem pertahanan musuh. Kecepatan yang tinggi ini dimungkinkan karena rudal ini tidak memerlukan sirip sebagai alat kendali.

"Zafar adalah rudal yang dikendalikan radar, rudal jelajah anti kapal yang mampu menghancurkan kepal-kapal ukuran kecil hingga menengah dengan keakurasian tinggi," kata Menhan Iran Brigadier General Ahmad Vahidi saat mengumumkan dimulainya produksi massal rudal "Zafar" awal Februari lalu.

Selain memiliki sifat mobil, karena mudah dipindah-pindahkan ke berbagai alat peluncur termasuk kapal-kapal cepat, rudal ini dirancang mampu mengatasi perang elektronik.

Pada tahun 2002 lalu Amerika mengadakan simulasi perang laut melawan Iran di Teluk Parsia dengan sandi "New Millenium Challenge". Dengan menggunakan parameter-paramater yang sesuai kekuatan Iran kala itu, simulasi tersebut memberikan hasil yang mengagetkan para ahli militer Amerika. Diperkirakan 16 kapal perang Amerika, termasuk 1 kapal induknya, tenggelam pada hari pertama perang besar-besaran melawan Iran. Korban tewas di pihak Amerika diperkirakan mencapai 20.000 personil. Maka Amerika buru-buru mengganti paramater-parameternya untuk memberi kemenangan bagi mereka dan sedikit menghibur mereka.

Dengan kemajuan militer Iran yang mengesankan beberapa tahun terakhir, mimpi buruk Amerika tentang tewasnya ribuan personil militernya dalam pertempuran laut di Teluk Persia, sangat boleh jadi akan menjadi kenyataan.

PENGKHIANATAN PARA PEMIMPIN POLANDIA


Menanggapi kecaman masyarakat atas kebijakan-kebijakannya yang tidak pro-rakyat, Presiden SBY melalui seorang pembantu dekatnya pernah mengatakan: tidak mungkin seorang presiden sengaja menyengsarakan rakyatnya sendiri.

Saya katakan, sejarah dipenuhi oleh para pemimpin yang mengkhianati rakyatnya sendiri. Bahkan dalam beberapa waktu terakhir kita disuguhi berbagai berita tentang ulah para pemimpin yang suka mengumbar kesenangan pribadi tanpa peduli dengan masyarakat: PM Italia Selvio Berlusconi yang suka mengadakan pesta seks, Presiden Perancis Sarkozy yang menghabiskan ribuan euro setiap harinya hanya untuk makan dan Direktur IMF Strauss Kahn yang suka memperkosa wanita-wanita cantik yang berada di dekatnya. Dan kebijakan SBY membeli pesawat kepresidenan menyusul pesta pernikahan anaknya yang menelan biaya belasan miliar rupiah bisa digolongkan dalam kelompok pemimpin seperti itu.

Dan kasus di Polandia memberikan gambaran bagaimana sebuah negara dengan jutaan rakyatnya "dirampok" oleh para pemimpinnya sendiri yang ternyata bekerja untuk kepentingan asing yang tidak lain dan lagi-lagi adalah yahudi. Setelah membaca artikel ini silakan pembaca membandingkannya dengan tulisan berseri saya "Sang Terpilih" dan kemudian membandingkannya dengan Indonesia.

Agenda besar yahudi internasional atas Polandia adalah 2 hal yaitu: mengontrol dan menguasai pemerintahan, serta mengembalikan dana senilai $40 miliar kepada orang-orang yahudi, yaitu dana yang diklaim sebagai harta benda yang dirampas regim NAZI dari orang-orang yahudi di Polandia yang kemudian jatuh ke tangan pemerintah Polandia paska Perang Dunia II.

Untuk mengembalikan harta benda itu, maka sebuah konspirasi dilakukan terhadap Polandia. Pertama adalah menerapkan kebijakan fiskal yang bertujuan untuk menghancurkan perusahaan-perusahaan milik pemerintah dan koperasi-koperasi milik masyarakat untuk akhirnya dibeli orang-orang yahudi dengan harga 1/10 lebih murah. Untuk merealisasikan kebijakan ini dipilihlah agen-agen kepercayaan yahudi internasional untuk menjalankan pemerintahan, yaitu Mazowiecki dan Bielecki sebgai perdana-perdana menteri paska runtuhnya komunisme, serta Balcerowicz sebagai deputi perdana menteri. Sebagai penasihat ekonomi mereka dipilihlah seorang ekonom zionis Geoffrey Sachs dari Bank Dunia. Dengan tim ini pemerintah sengaja menghancurkan ekonomi Polandia melalui paket-paket "kebijakan" kredit ketat (LDR 80%), obral deviden hingga 32%, Super-normative wages tax hingga 500%, serta denda bunga pinjaman yang terlambat dibayarkan hingga mencapai 150%.

Langkah kedua, mengkampanyekan gerakan "pasar bebas", membanjiri Polandia dengan produk-produk "sampah" dari Eropa Barat yang menyedot keuangan negara hingga $6 miliar.

Ketiga, mengimpor BBM bersubsidi yang didistribusikan kepada pengguna kendaraan bermotor terutama sarana transportasi barang dengan tujuan mematikan transportasi kereta api yang sebenarnya lebih efisien. Akibatnya konsumsi BBM membengkak dan menguras keuangan negara hingga $5 miliar. (Kasus ini sama dengan di Indonesia dimana pemerintah mengeluarkan kereta api dari daftar alat transportasi yang berhak mendapatkan subsidi BBM. Beberapa waktu lalu para pegawai PT KAI melakukan aksi demonstrasi menuntut pemerintah memberlakukan angkutan kereta dengan kendaraan bermotor dalam hal konsumsi BBM).

Keempat, menghancurkan industri tambang batubara. Selain dampak masalah transportasi kereta api penghancuran ini dilakukan dengan pemberlakukan pembatasan ekspor hingga senilai $3 miliar. Penghentian ini mengakibatkan pendapatan angkutan kereta api semakin merosot hingga $500 juta.

Kosnpirasi penghancuran Polandia ini dilakukan oleh para zionis dan agen-agen Mossad, dibiayai oleh CIA, dan didukung sepenuhnya oleh kalangan kelas menengah yang "liberal idiot" serta para kapitalis yang mendapat keuntungan dari konspirasi ini.

Dalam periode pertama pemerintahan paska komunis yang dipimpin oleh Tadeusz Mazowiecki dan Bielecki, kapitalis-kapitalis yahudi Polandia seperti Grobelny, Baksik, Gasiorowski dan Bogatin, mentransferkan miliaran dolar uang dari Polandia ke Israel, Swiss, Jerman dan Austria. Itu semua dengan sepengetahuan pemerintah. Di Israel, para yahudi ini mendapat perlakuan istimewa sebagaimana pahlawan.



Ref:
"Polish Jew Exposed Zionist Subversion"; Marek Finkelstein-Dobrowolski; henrymakov.com; 4 Februari 2012.

Wednesday, 22 February 2012

KAPAL-KAPAL PERANG IRAN MERAPAT DI SYRIA


(RUSIA, CINA, LEBANON BOIKOT PERTEMUAN "FRIENDS OF SYRIA")


Sebagai bentuk dukungan kepada pemerintah Syria yang tengah mendapat tekanan zionisme internasional dan pendukung-pendukungnya, Iran mengirimkan dua kapal perangnya ke Syria. Kapal-kapal tersebut, sebuah destroyer dan kapal pengangkut, mendarat di pangkalan AL di Tarsus (220 km sebelah barat laut Damaskus), Sabtu (18/2).

Menhan Iran Jendral Ahmad Vahidi mengatakan hari Minggu malam (19/2) bahwa kehadiran kapal-kapal perang Iran di perairan internasional menunjukkan kekuatan Iran. Vahidi juga mengatakan kehadiran kapal-kapal tersebut merupakan hak Iran untuk meningkatkan kemampuan dan kesiapan angkatan laut Iran menghadapi segala situasi politik regional.

Ini adalah misi kedua AL Iran melintasi perairan internasional sejak Revolusi Islam Iran tahun 1979. Misi pertama, akhir tahun lalu, juga berupa pengiriman kapal-kapal perang ke Syria. Misi-misi tersebut selalu mendapat perhatian serius para pengamat dan diplomat internasional karena dianggap menunjukkan pengaruh politik Iran di kawasan tersebut.

Sehari sebelum merapat di Tarsus kapal-kapal tersebut melintasi lepas pantai wilayah Israel di Laut Merah dan tak urung membuat Israel kepanasan. "Jika kapal-kapal itu lebih dekat lagi ke wilayah kami, kami akan memonitor mereka dengan lebih serius," kata jubir kemenlu Israel, Yigal Palmor, Minggu (19/2).


Rusia, Cina, Lebanon Boikot Konperensi "Friend of Syria"

Rusia, Cina dan Lebanon, hari Selasa (21/2) menyatakan tidak akan berpartisipasi dalam konperensi internasional tentang Syria "Friends of Syria" yang akan digelar di Tunisia, Jumat (24/2).

Dalam pernyataannya menlu Rusia Sergei Lavrov menyebut pertemuan tersebut sebagai, "mendukung satu kelompok untuk melawan kelompok yang lain dalam satu konflik internal." Menunjuk pada tidak diundangnya pihak pemerintah Syria sementara semua kelompok pemberontak diundang, Lavrov mengatakan hal itu tidak membawa dampak positif bagi perkembangan politik Syria.

"Ini berarti aspirasi mayoritas rakyat Syria yang mendukung pemerintah, tidak terwakili," tambah Lavrov.

Di sisi lain dubes Rusia di PBB, Vitaly Churkin mengatakan kepada televisi pemerintah Rusia bahwa "jika skenario ini terus dilakukan maka akan terjadi lebih banyak pertumpahan darah di Syria dan terpecah belahnya Syria dengan membawa dampak yang membahayakan seluruh kawasan."

Cina, pada hari yang sama juga menolak mengkonfirmasi kehadirannya dalam pertemuan tersebut. Dengan bahasa yang lebis diplomatis kemenlu Cina mengatakan, "akan mempelajari terlebih dahulu" rencana pertemuan tersebut".

Sementara itu menlu Lebanon Adnan Mansour juga memastikan tidak akan menghadiri pertemuan tersebut dengan alasan tidak ingin campur turut tangan masalah internal Syria. Menyebut pihaknya telah mendapat undangan dari menlu Tunisia Rafiq Abdul Salam, Mansour justru mendesak kepada "pihak-pihak yang ingin campur tangan masalah Syria" untuk "menyatakan dengan tegas keinginan mereka".

Mansour secara tersirat menyampaikan aspirasinya atas masalah Syria yang ingin Lebanon lebih tegas memberikan dukungan pada Syria sebagai sekutu dekat trasisionalnya, terutama dalam konflik Lebanon-Israel. Beberapa waktu lalu Mansour secara terbuka menyatakan keinginannya agar pemerintah Lebanon menentukan sikap yang tegas atas krisis Syria.

"Kebijakan ini bukanlah kebijakan pribadi saya melainkan kebijakan pemerintah Lebanon demi kepentingan Lebanon yang lebih luas," katanya.

Di sisi lain menlu Amerika Hillary Clinton, dalam sebuah acara di Mexico tidak menampik tujuan pertemuan "Friends of Syria", yaitu untuk "memberikan pesan yang jelas kepada Russia, China dan lain-lainnya atas pilihan mereka yang keliru".

Sebagai catatan tambahan, konperensi "Friends of Syria" diadakan hanya 2 hari sebelum pelaksanaan referendum konstitusi baru yang dilaksanakan pemerintah Syria tgl 26 Februari. Referendum ini merupakan salah satu upaya paling serius regim Presiden Bashar al Assad selain berbagai langkah reformasi lainnya yang telah dilaksanakan sebelumnya. Namun semua upaya itu seolah tidak ada artinya bagi Israel, Amerika dan sekutu-sekutunya.



Sumber:
"Iranian Ships Reach Syria, Israel Worried"; almanar.com.lb; 20 Februari 2012

"Lebanon will not Participate in “Friends of Syria” Conference"; almanar.com.lb; 20 Februari 2012