Friday, 20 September 2013

INI BUKAN TERORIS, IDIOT! (2)

Setelah munculnya postingan pertama "INI BUKAN TERORIS, IDIOT!", saya pun melihat berita tentang Polri yang mengajak kerjasama BIN untuk membongkar aksi-aksi terorisme terhadap aparat kepolisian.

Itu semua hanyalah "lips service" belaka karena semuanya adalah by design. Sebagaimana saya pernah menantang polisi untuk membongkar kasus pencurian ratusan dinamit beberapa waktu lalu yang hingga sekarang tidak pernah bisa dibongkar, kali ini pun saya menantang polisi untuk mengungkap pelaku dan dalangnya serta motif di balik penembakan-penembakan polisi di keramaian Jakarta. 

Akhir-akhir ini warga Kota Medan kembali dibuat resah dengan aksi pemadaman listrik sesuka hati oleh PLN, tanpa pernah ada penjelasan dari PLN apalagi ganti rugi kepada masyarakat (meski PLN menerapkan kebijakan denda yang ketat untuk setiap keterlambatan pembayaran listrik). Tindakan PLN ini jelas telah menimbulkan dampak negatif yang luar biasa besar. Namun meski sudah terlalu sering terjadi, tidak pernah ada sanksi apapun terhadap para pejabat PLN. Dirut PLN masih bisa "cengengesan" di hadapan media massa, dan mantan dirutnya yang tidak pernah bisa mempertanggungjawabkan "inefisiensi" (istilah halus dari dugaan penggelapan atau korupsi) PLN senilai puluhan triliun rupiah, bisa melenggang menjadi kandidat presiden. Ruar wiasa!

Jika negara ini benar-benar masih memiliki tatanan hukum, sosial dan politik serta masih memiliki pemerintahan yang berfungsi melindungi kepentingan rakyat, tindakan PLN seperti ini tentu tidak akan terjadi. Di negara-negara barat, aksi pemadaman listrik seperti ini akan dianggap sebagai ketidak profesionalan perusahaan penyedia listrik dan para eskutif perusahaan tersebut pasti sudah dipecat dengan tidak hormat, atau dipaksa mengundurkan diri. Sedang di negara-negara totaliter seperti China, para pejabat perusahaan itu pasti sudah dihukum penjara karena dianggap melakukan tindakan subversif.

Maka tidak ada alasan lagi bagi aparat penegak hukum Indonesia untuk membiarkan para pejabat PLN seenak perutnya mematikan aliran listrik tanpa sanksi apapun. Polisi harus menangkap mereka. Kalau pun polisi menolak, TNI wajib untuk "mengamankan" mereka karena apa yang mereka lakukan sudah menimbulkan keresahan sosial dan kerugian ekonomi yang luar biasa besar.

Monday, 16 September 2013

KONFLIK MILITER AMERIKA-RUSIA TELAH TERJADI

IRAN PASTIKAN DAPATKAN RUDAL S-300 RUSIA


"Menghantam Damaskus sama dengan menghantam Moskow, dan kami telah menghilangkan kalimat "telah menembak jatuh 2 rudal" dalam pernyataan resmi kami demi menjaga hubungan bilateral dan menghentikan eskalasi. Maka dari itu, Anda harus segera mempertimbangkan kembali kebijakan-kebijakan, pendekatan-pendekatan dan kehendak-kehendak Anda terkait krisis Syria sebagaimana Anda harus percaya bahwa Anda tidak bisa mengabaikan keberadaan kami di kawasan Laut Tengah."

Demikianlah ancaman yang disampaikan kepala dinas inteligen Rusia kepada mitranya di Amerika perihal ditembak jatuhnya 2 rudal balistik Amerika oleh sistem pertahanan udara Rusia beberapa waktu lalu. Perkataan itu lah yang sebenarnya menjadi dasar "mundur"-nya Amerika dan sekutu-sekutunya dari rencana menyerang Syria, setelah menyadari bahwa Rusia telah siap mati membela sekutunya itu.

Sebagaimana telah ditulis di blog ini pada tgl 3 September lalu (lihat di sini) telah terjadi insiden peluncuran 2 rudal ballistik di Laut Mediterania yang mengarah ke Syria. Namun sampai saat itu masih simpang siur, siapa sebenarnya yang telah menembakkan rudal-rudal itu dan untuk tujuan apa, serta bagaimana "nasib" kedua rudal itu. Blog ini menyebutkan rudal-rudal itu ditembakkan oleh kapal selam Israel dengan maksud untuk memancing intervensi militer Amerika terhadap Syria. Namun informasi yang lebih valid menyebutkan hal yang berbeda. Israel tidak tahu-menahu mengenai rudal-rudal itu, yang ternyata ditembakkan dari pangkalan NATO di Spanyol. Radar-radar canggih Rusia segera berhasil melacak rudal-rudal itu dan rudal-rudal pencegat S-300 atau Alexander yang ditempatkan di Syria atau di kapal-kapal perangnya di Laut Mediterania, menembaknya di udara sebelum mencapai sasaran. Selanjutnya Rusia menggunakan insiden itu untuk menekan Amerika hingga membatalkan rencana serangan militer terhadap Syria.

Dan seperti terlihat kemudian, satu demi satu pemimpin barat mengundurkan diri dari rencana serangan terhadap Syria. Demi menyelamatkan muka Amerika, Rusia pun mengajukan proposal penyerahan senjata kimia Syria yang langsung disetujui Amerika dan semua negara barat. Hanya para pemberontak Syria, Turki dan negara-negara Arab badui saja yang masih sempat berteriak-teriak: "serang Syria!", namun segera diam setelah Liga Arab pun akhirnya menyetujui usulan Rusia.

Bagi Rusia, "kesalahan berujung kekalahan Amerika" itu dipergunakan untuk memperkuat posisinya di Timur Tengah. Selain penambahan armada kapal perang di Laut Mediterania, Rusia juga dipastikan mempercepat pengiriman rudal-rudal S-300 ke Syria dan melanjutkan kembali pengiriman rudal yang sama ke Iran yang sempat dibatalkan.

Friday, 13 September 2013

INI BUKAN TERORIS, IDIOT!

Apa hubungan aktor terkenal Hollywood Harrison Ford dengan terorisme?

Dahulu saya termasuk penggemar berat Horrison Ford. Sejak menyaksikan film pertama sekual "Indiana Jones", "Raiders of the Lost Ark" saya langsung menjadi penggemar setia film-filmnya. Sejak itu hampir semua film Ford tidak pernah saya tinggalkan: "The Temple of Doom", "Last Crusade", "Witness", "Fugitive", dan tentu saja "Clear and Present Danger".

Film terakhir itu sangat berarti bagi saya karena darinyalah timbul inspirasi untuk menulis sebuah opini, yang tanpa saya duga ternyata dimuat di harian Kompas. Padahal saat itu, tahun 1995 dan saya masih seorang mahasiswa, itulah tulisan pertama saya yang saya coba kirimkan ke media massa, dan menulis opini di Kompas dianggap sebagai salah satu capaian tertinggi intelektualisme di Indonesia.

Namun seiring berjalannya waktu dan saya kemudian menjadi terobsesi dengan "teori konspirasi", Harrison Ford saya masukkan ke dalam daftar tokoh-tokoh zionis yahudi. Yang pertama mengingatkan saya tentang hal ini adalah Philip Marlow, pengelola blog "Incogman.net" yang cukup dikenal di kalangan para "pencari kebenaran" di dunia maya. Saya pun menemukan kaitan sebagian besar film-film Harrison Ford dengan zionisme dan jehudaisme. Lihat saja film-film "Indiana Jones" yang selalu berkaitan dengan sejarah yahudi, mulai dari "tabut Nabi Sulaeman" hingga "perahu Nabi Nuh", selain propaganda legenda "holocoust". Dan tentu saja fakta bahwa Harrison Ford adalah salah seorang "anak emas Hollywood" yang sepenuhnya dikuasai orang-orang yahudi. Dalam satu film, untuk menunjukkan re-generasi "anak emas Hollywood", Harrison Ford dipasangkan dengan penggantinya, Bratt Pitt, sebagaimana dulu ia mewarisi gelar itu dari Sean Connery saat bermain bersama dalam film "The Last Crusade".

Maka ketika saya mendengar Harrison Ford bertingkah polah tidak sopan di kantor Menteri Kehutanan baru-baru ini, saya sangat sangat sangat tidak heran. Saya justru heran jika ada seorang zionis yang sopan, santun dan rendah hati. Dan ketika orang-orang "idiot" mencoba memperbaiki nama baik Harrison Ford dengan mengatakan: "Harrison Ford bermaksud memperbaiki AC yang mati di ruang tunggu Menteri Kehutanan," saya hanya tersenyum geli. Sejak kapan Harrison Ford menjadi tukang servis AC?

Mohon ma'af sebelumnya kalau ada yang menganggap saya seorang "rasis". Saya bukan anti-yahudi, namun saya anti zionisme dan anti terhadap kharakter watak orang-orang yahudi yang cenderung jahat. Saya menyadari sepenuhnya tidak semua orang yahudi jahat. Ada orang-orang seperti Gilad Atzmon yang pembela hak-hak Palestina, ada orang-orang yahudi Arab dan yahudi Persia (Iran) yang menolak pindah kewarganegaraan ke Israel dan memilih Arab dan Iran sebagai negerinya sendiri. Bahkan Nabi Muhammad S.A.W sendiri memperistri seorang wanita yahudi dan seorang nasrani.

IRAN: ANCAMAN IRAN DI BALIK MUNDURNYA AMERIKA DARI SYRIA

Seorang politisi Iran mengklaim bahwa mundurnya Amerika dari rencana intervensi atas Syria disebabkan oleh ancaman Iran terhadap Amerika.

"Ketika para komandan militer Iran menyatakan Syria sebagai "garis merah" (yang tidak boleh dilangkahi) serta sikap tegas Ayatollah Seyyed Ali Khamenei terhadap perkembangan Syria, Amerika langsung menyadari bahwa Iran adalah negara superpower di kawasan yang bisa melukai Amerika, dan tidak ada kekuatan yang bisa mengabaikan peringatan Iran," kata anggota Komisi Luar Negeri Parlemen Iran Javad Karimi Qoddousi, kepada media massa Iran, Rabu (11/9).

Menurut Qoddousi, menanggapi sikap tegas Iran itu para pejabat Amerika akhirnya bersikap realistis dengan memilih untuk tidak menanggung resiko kekalahan militer menyakitkan yang takkan terlupakan sejarah yang bisa menghancurkan karier politik mereka.

Qoddousi menegaska bahwa Syria dianggap sebagai jantung semangat perlawanan anti Israel, dan negara-negara pendukungnya telah bertekad untuk mendukungnya menghadapi Amerika. Qoddousi menambahkan, kemungkinan reaksi keras dari Hezbollah dan Syria juga menjadi pertimbangan Amerika untuk mundur.

“Amerika menyadari bahwa jika mereka menyerang Syria, kapal-kapal perang mereka di Laut Mediterania akan dihantam oleh rudal-rudal,” kata Karimi Qoddousi.

Ancaman serangan Amerika terhadap Syria yang menjadi kekhawatiran utama masyarakat dunia berpangkal dari tuduhan Amerika bahwa pemerintah Syria sebagai pelaku serangan senjata kimia di luar kota Damaskus tgl 21 Agustus lalu, yang menewaskan ratusan warga sipil. Sejak awal tuduhan tersebut dibantah oleh Syria, Rusia dan Iran yang justru balik menuduh para pemberontak dukungan Amerika-lah yang telah melakukan serangan tersebut. Media-media massa "utama" global cenderung mendukung tuduhan Amerika, namun media-media independen mendukung klaim pemerintah Syria.

Wednesday, 11 September 2013

MANTAN TAWANAN UNGKAPKAN TENTANG PELAKU SERANGAN SENJATA KIMIA


Akhirnya ketegangan konflik Syria mereda untuk sementara setelah negara-negara yang terlibat dalam konflik -- kecuali negara-negara Arab badui, setuju dengan proposal Rusia untuk menyerahkan senjata kimia pemerintah Syria kepada PBB. Namun seiring dengan itu satu demi satu bukti terkuak, bahwa pelaku serangan senjata kimia di Syria adalah pemberontak.

Kali ini dua orang mantan tawanan pemberontak Syria yang mengungkapkan fakta tentang konspirasi zionis internasional untuk memojokkan Syria dengan isu senjata kimia. Kedua tawanan tersebut, jurnalis Italia Domenico Quirico dan peneliti Belgia Pierre Piccinin, mengaku telah mendengar percakapan para pemberontak tentang keterlibatan mereka dalam serangan senjata kimia yang menewaskan lebih dari seribu warga sipil di berbagai wilayah di luar Damaskus bulan Agustus lalu. Pengakuan tersebut dikatakan keduanya setelah keduanya mendarat di bandara Roma Italia tgl 9 September lalu, mengakhiri penawanan mereka oleh pemberontak Syria yang berlangsung selama 5 bulan lebih.

"Ini adalah kewajiban moral untuk mengatakannya. Pemerintah Bashar al-Assad tidak menggunakan senjata gas sarin atau senjata kimia lainnya di sekitar Damascus,” kata Piccinin dalam wawancara dengan stasion radio "Belgian RTL".

Menurut pengakuan Piccinin, mereka berdua mendengar percakapan antara 3 orang yang berbahasa Inggris menggunakan media "Skype". Ia mendengar salah seorang pemberontak itu mengatakan, "serangan kimia di 2 kawasan di luar Damascus dilakukan oleh pemberontak sebagai provokasi barat untuk melakukan intervensi militer.”

Keduanya mengecam berbagai ancaman yang dikeluarkan Amerika terhadap Syria terkait isu serangan senjata kimia tersebut. Penurut pengakuan Quirico, mereka berdua telah mengalami berbagai penyiksaan selama menjalani penahanan, dipukuli setiap hari dan 2 kali mengalami eksekusi palsu. Keduanya masuk ke Syria dari Lebanon pada tgl 6 April. Pada tgl 9 April keduanya ditangkap pemberontak saat keduanya tengah dalam perjalanan menuju Homs.

Tuesday, 10 September 2013

KUINGIN MENCIUM KAKIMU

Saya baru membaca 2 tulisan "menyeramkan" karya Yukon Jack dan Gordon Duff dari "Veterans Today" tentang prospek perang nuklir sebagai dampak dari konflik Syria yang kini menjadi "liar" dan tak terkendalikan, setelah Presiden Amerika Barack Obama (ber-ibu seorang wanita yahudi, dan karenanya secara otomatis dianggap sebagai orang yahudi juga. Kepada orang-orang seperti ini secara otomatis Isreal menganggapnya sebagai warganegaranya juga, bahkan mungkin sudah menyiapkan passport untuknya) berkukuh untuk melakukan serangan militer terhadap Syria. Namun demi tulisan ini, saya sangaja menunda dulu pembahasan tentang analisa dan "ramalan" Jack dan Duff tersebut di atas.

Sebagai penggemar lagu-lagunya Yanni, Flim and The BB's atau Dewa Budjana, saya tentu merasa geli mendengar lagu-lagu yang dibawakan oleh Julia ini. Bagi saya mendengar lagu-lagu itu seperti mendengar lagu-lagu yang dibawakan (mohon ma'af) para penyanyi Malaysia, kalah jauh dibandingkan kualitas lagu-lagu yang dibuat oleh para musisi Indonesia. Namun setelah menyimak lirik-liriknya, hati saya terguncang dan tanpa sadar mata saya pun menitikkan air mata.

Di tengah-tengah dunia modern yang dipenuhi dengan kebohongan dan kemunafikan, apa yang diungkapkan pada lirik-lirik itu adalah suatu kejujuran yang langka. Apalagi jika kejujuran itu tentang sesuatu yang inspiratif, sangat beralasan kalau saya menjadi terkesima karenanya.

Meski Julia Boutros adalah seorang penyanyi populer Lebanon yang beragama Kristen, lagu-lagunya dipenuhi dengan lirik-lirik pujian kepada Hizbollah. Dan yang mengguncangkan saya adalah semua penggemar yang mencerminkan keseluruhan warga Lebanon, ternyata menyukai dan hafal dengan lagu-lagu itu. Padahal sebagaimana Julia, sebagian besar mereka adalah orang-orang elit Kristen, atau sekuler, terlihat dari sedikitnya mereka yang mengenakan jilbab atau identitas Islam lainnya. Sebaliknya sebagian besar mereka justru mengenakan jas dan dasi, dan para wanitanya mengenakan gaun pesta.

Julia yang lahir di Beirut 1 April 1968 di tengah keluarga penganut Kristen Orthodox Yunani yang taat, sekolah di Rosary Sisters Schools dimana ia mulai menyanyi di paduan suara sekolahnya. Pada umur 12 tahun ia mulai rekaman dengan lagu pertamanya berjudul "A Maman". Selain lagu-lagu berbahasa Arab, ia juga mengeluarkan beberapa lagu berbahasa Perancis seperti "C'est la Vie" dan "Viens dans Ma Vie". Pada bulan Oktober 2006, Julia merilis single berjudul "Ahibaii" (My loved ones). Liriknya berasal dari surat yang dikirim pemimpin Hizbollah Hassan Nasrallah kepada para pejuang Hizbollah yang tengah berperang melawan Israel di Lebanon Selatan tahun 2006. Hasil penjualan album itu yang mencapai $3 juta semuanya disumbangkan untuk para pejuang dan korban perang.

Dan inilah sebagian dari lirik lagu yang dibawakan Julia.

Saturday, 7 September 2013

BILA OBAMA - PUTIN SALING EJEK

(DUKUNGAN PUBLIK UNTUK RENCANA SERANGAN SYRIA YANG RENDAH)


"Apakah saya harus takut pada orang kurus itu?"

Demikian kata Presiden Rusia Vladimir Putin menyindir Presiden Amerika Barack Obama dalam acara konperensi pers bersama di akhir pertemuan puncak negara-negara maju G-20 di St. Petersburg, Rusia, Jumat kemarin (6/9).

Perkataan Putin tersebut disampaikan sebagai tanggapan atas kecaman bernada kasar yang disampaikan Obama terhadap Putin sehubungan dengan konflik Syria di mana Amerika dan Rusia berada pada dua kubu yang saling bermusuhan. Di antara kecaman tersebut adalah sebutan yang diberikan Obama kepada Putin, yaitu jackass alias "bodoh".

“Semua orang disini menganggap Anda sebagai seorang jackass," kata Obama dalam konperensi pers tersebut, menunjuk pada Putin yang berdiri di sebelahnya.

Tidak hanya Putin yang terkesima, para awak media pun berdiri mematung mendengar perkataan bernada kasar yang disampaikan dalam keterangan pers yang berlangsung selama 10 menit tersebut. Putin yang bertindak sebagai tuan rumah hanya menyipitkan matanya mendengar ocehan Obama tersebut.

Tidak hanya tentang Syria, atau kasus mata-mata Amerika Snowden yang membelot ke Rusia, Obama juga mengejek Putin dengan kebijakan-kebijakan internal Rusia.

“Perhatikan, saya tidak hanya berbicara tentang Snowden dan Syria. Bagaimana dengan Pussy Riot? Bagaimana dengan undang-undang anti-homoseksual? Tindakan-tindakan yang bodoh, kawan!"

Sebagaimana diketahui, Rusia baru saja mensahkan UU anti-homoseksual yang di negara-negara barat justru berkebalikan, memberikan perlindungan kebebasan kepada para homoseksual, termasuk hak menikah sesama jenis. Sementara Pussy Riot adalah sekelompok wanita anarkis yang misinya menghancurkan nilai-nilai tradisional Rusia, terutama terkait dengan masalah agama di mana Rusia secara tradisi termasuk negara yang konservatif dengan mayoritas rakyatnya adalah pengikut Katholik yang ta'at. Beberapa aksi kontroversi Pussy Riot adalah melecehkan gereja-gereja dan mengadakan "pertunjukan seni" seks di dalam museum. Akibat aksi-aksinya tersebut beberapa personil Pussy Riot harus menjalani hukuman penjara.

“Jika Anda berfikir hanya saya yang berfikir demikian, Anda bergurau," kata Obama sembari menunjukkan jarinya ke arah Putin.

"Tanyakan pada Angela Merkel. Tanyakan pada David Cameron. Tanyakan pada orang Turki itu (Erdogan). Mereka semua berfikir bahwa Anda adalah orang bodoh (menggunakna istilah "dick", alat kelamin laki-laki)!"

Perang Suriah dan Nalar Kemanusiaan

Dina Y. Sulaeman*


"Pemerintahan Assad cukup buruk sehingga mungkin saja menggunakan senjata kimia, tetapi apakah mereka cukup gila untuk melakukannya? Untuk melancarkan serangan senjata kimia di Damaskus tepat pada hari yang sama ketika Inspektur Senjata Kimia PBB datang ke Damaskus? Ini pasti definisi baru dari kegilaan. Dan bila Assad sedemikian buruk dan gilanya, bagaimana mungkin dulu PM Tony Blair mengundangnya ke London, bahkan diterima Ratu di Istana Buckhingham?"

(George Galloway, anggota parlemen Inggris)


Common sense alias akal sehat adalah frasa yang diulang-ulang oleh beberapa tokoh dunia dalam menyikapi serangan senjata kimia di Suriah yang terjadi di Ghouta, pinggiran Damaskus, tanggal 21 Agustus lalu. Vladimir Putin, Presiden Rusia, di Vladivostock(30/8) mengatakan, "Kita harus bersandar pada akal sehat. Tentara Suriah sedang dalam posisi ofensif dan tengah mengepung para pemberontak di beberapa wilayah. Dalam kondisi seperti ini, amat konyol bila menyerahkan kartu truf kepada mereka yang selama ini selalu menyerukan intervensi militer asing, apalagi dilakukan tepat ketika datangnya misi inspeksi PBB."

Tentu saja, Assad pun mengatakan hal senada, "Adakah negara yang menggunakan senjata kimia atau senjata pemusnah massal di sebuah tempat dimana pasukannya sendiri terkonsentrasi disana? Hal ini jelas bertentangan dengan akal sehat!"

George Galloway, dengan berapi-api mengingatkan anggota Parlemen Inggris agar menggunakan logikanya, "Pemerintahan Assad cukup buruk sehingga mungkin saja menggunakan senjata kimia, tetapi apakah mereka cukup gila untuk melakukannya? Untuk melancarkan serangan senjata kimia di Damaskus tepat pada hari yang sama ketika Inspektur Senjata Kimia PBB datang ke Damaskus? Ini pasti definisi baru dari kegilaan. Dan bila Assad sedemikian buruk dan gilanya, bagaimana mungkin dulu PM Tony Blair mengundangnya ke London, bahkan diterima Ratu di Istana Buckhingham?"

Ya, pada tahun 2002, Bashar Assad dan istrinya, Asma, melakukan kunjungan kenegaraan ke Inggris. Selain bertemu dengan Ratu Elizabeth, Blair pun menjamunya makan siang. Bahkan, baru-baru ini, media Inggris mengungkap bahwa Blair pun saat itu mengupayakan agar Assad diberi gelar ksatria kehormatan oleh Ratu. Namun hal ini batal dilakukan. Agaknya karena Assad tetap menolak menghentikan konfrontasinya dengan Israel. Bahkan dalam jumpa pers bersama Blair, Assad dengan tegas menolak tuduhan bahwa pihaknya melindungi organisasi teroris. Menurutnya, kantor Hamas dan Jihad Islam yang berada di Damaskus adalah "kantor juru bicara rakyat Palestina", bukan kantor teroris.

Ketika akhirnya Parlemen Inggris menolak keinginan PM Cameron untuk bergabung dengan AS menyerang Suriah, Putin berkomentar, "Ini tidak disangka-sangka, tapi menunjukkan akal sehat."

Ya, akal sehat. Nalar. Inilah yang agaknya sulit ditemukan dalam analisis konflik Suriah yang disampaikan oleh pihak-pihak pro-pemberontak. Tanpa menunggu bukti penyelidikan dari PBB, Obama dan rekannya Cameron bersuara keras menuduh Assad sebagai pelakunya. Dari Israel, hanya beberapa jam setelah kejadian, Menteri Perang Israel, Moshe Yaalon, mengklaim bahwa pihaknya sudah mengetahui siapa pelaku serangan senjata kimia yang menewaskan ratusan rakyat sipil itu. Tak lain, tentara Assad, kata Yaalon. Dan seperti biasa, media massa mainstream, yang (anehnya) bekerja sama dengan media-media berlabel Islam, dengan segera menyebarluaskan foto-foto dan video korban senjata kimia, yang memicu keprihatinan luas publik dunia.

Seperti biasa pula, para facebooker dan blogger –lah yang segera berjuang melawan hegemoni media "mainstream" dengan cara memberikan pengimbangan berita. Dengan cepat mereka menyebarluaskan ‘penemuan' mereka. Ternyata, foto korban senjata kimia Suriah yang disebarluaskan oleh Al Jazeera dan Reuters sudah diunggah sehari sebelum kejadian. Bahkan mereka menemukan video yang memperlihatkan beberapa aktor sedang berakting terkena gas kimia. Juga, mereka mendeteksi keanehan video yang disebarluaskan, antara lain, bila dalam rekaman tersebut benar korban gas sarin, mengapa tim penolong yang datang tidak mengenakan masker? (Gas sarin sangat mudah menyebar dari tubuh-tubuh yang terkena, termasuk yang sudah menjadi mayat; blogger)

SERANG SYRIA, AMERIKA AKAN GUNAKAN PEMBOM STRATEGIS

(RUSIA KIRIM LEBIH BANYAK KAPAL PERANG)

 Amerika dikabarkan bakal menggunakan kekuatan penuh untuk menghancurkan kekuatan militer Syria, di antaranya dengan pesawat-pesawat pembom strategis B-52 dan B-2 yang diterbangkan langsung dari Amerika. Pembom-pembom itu akan dilengkapi dengan rudal-rudal "udara ke darat" yang mempu menghancurkan target-target tetap maupun yang bergerak.

Demikian informasi yang disampaikan beberapa pejabat militer Amerika kepada media Amerika ABC News dan CNN baru-baru ini.

"Tim keamanan nasional yang dibentuk Presiden Barack Obama tengah mempersiapkan sebuah operasi militer yang "serangan militer yang lebih besar dari yang pernah diantisipasi," lapor ABC News mengutip pejabat tersebut.

Menurut pejabat tersebut, dampak serangan yang bakal dilakukan selama 2 hari diperkirakan akan jauh lebih hebat daripada yang telah dilakukan pemberontak selama 2 tahun lebih.

“Serangan udara yang diperkirakan akan berlangsung setidaknya selama 2 hari akan menggunakan rudal-rudal dan bom-bom jarak jauh yang ditembakkan dari pembom-pembom B-2 dan B-52 yang terbang dari Amerika," tambah laporan tersebut.

Serangan tersebut bakal dikombinasikan dengan serangan rudal-rudal jelajah Tomahawk yang diluncurkan dari kapal-kapal perang Amerika di kawasan Timur Laut Mediterania. Kapal-kapal tersebut dilengkapi dengan hampir 200 rudal Tomahawk.

Sementara itu dalam wawancara dengan televisi CNN, seorang pejabat militer Amerika lainnya memperkuat pernyataan sebelumnya dengan menyebutnya sebagai salah satu pilihan.

"Kita dapat menembakkan senjata-senjata dari pesawat semudah kapal perang atau kapal selam. Asset-asset udara bisa digunakan untuk menyerang dari jarak jauh," kata pejabat tersebut.

Laporan-laporan lain mengindikasikan bahwa Amerika tengah mempersiapkan kekuatannya untuk menyerang sasaran-sasaran bergerak.

“Pilihan-pilihan baru yang tengah dibahas adalah termasuk penggunaan bomber-bomber sebagai tambahan bagi kapal-kapal perang di Mediterania,” tulis The Wall Street Journal baru-baru ini.

Friday, 6 September 2013

RUSIA PUNYA "RENCANA KHUSUS" UNTUK SYRIA DAN IRAN

“Kami punya pandangan tentang apa yang akan kami lakukan dan bagaimana kita akan melakukannya terkait situasi yang berkembang di Syria yang mengarah pada penggunaan kekuasan senjata. Kami telah memiliki rencana," kata Presiden Rusia Vladimir Putin kepada awak media Associated Press dan televisi pemerintah Rusia Channel 1 , di kediaman Putin di Mowkow, Rabu (4/9).

Putin tidak menyebutkan "rencana" yang akan dilakukan Rusia terkait perkembangan di Syria, namun besar kemungkinan adalah pengerahan bantuan senjata-senjata canggih besar-besaran yang akan berpengaruh signifikan terhadap keseimbangan kekuatan antara Syria dan sekutu-sekutunya dengan lawan-lawan mereka.

Wawancara yang diadakan menjelang pertemuan G-20 di St. Petersburg Rusia ini menunjukkan bahwa Rusia tidak pernah bergeser sedikit pun dari sikap teguhnya untuk mendukung regim Syria di hadapan Amerika dan sekutu-sekutunya.

Selama konflik Syria yang telah berlangsung lebih dari 2 tahun terakhir, publik dunia memang sering mendengar berbagai jenis senjata canggih buatan Rusia yang dikirim ke Syria. Sebut saja misalnya rudal anti kapal "Yakhount" dan rudal anti serangan udara "S-300". Senjata terakhir ini sangat ditakuti Amerika dan sekutu-sekutunya karena kemampuannya mendeteksi dan menembak dengan tepat berbagai sasaran secara simultan dari jarak jauh, serta daya tahannya terhadap serangan berbagai jenis senjata elektronik. Demikian takutnya Amerika dengan senjata itu hingga memaksa mereka melobi ketat PBB dan pemerintah Rusia untuk membatalkan pengiriman senjata itu ke Iran dan Syria.

Akibat tekanan PBB Rusia membatalkan pengiriman S-300 ke Iran, meski kedua negara telah meneken kontrak jual-beli beberapa unit sistem S-300. Sampai saat ini pun Rusia secara resmi membantah telah mengirim rudal-rudal S-300 ke Syria. Namun para analis militer percaya secara diam-diam Rusia telah mengirim rudal-rudal itu ke Syria, khususnya setelah ancaman serangan Amerika ke Syria semakin meningkat. Selain itu diketahui juga bahwa Syria telah memiliki beberapa unit sistem (seperangkat senjata yang meliputi radar, peluncur dan rudalnya) S-300 yang didapatkan di pasar gelap. Presiden Bashar al Assad sendiri pada bulan Mei lalu telah mengatakan secara terbuka bahwa Syria telah memiliki senjata ini.