Dina Y. Sulaeman*
"Pemerintahan Assad cukup buruk sehingga mungkin saja menggunakan senjata kimia, tetapi apakah mereka cukup gila untuk melakukannya? Untuk melancarkan serangan senjata kimia di Damaskus tepat pada hari yang sama ketika Inspektur Senjata Kimia PBB datang ke Damaskus? Ini pasti definisi baru dari kegilaan. Dan bila Assad sedemikian buruk dan gilanya, bagaimana mungkin dulu PM Tony Blair mengundangnya ke London, bahkan diterima Ratu di Istana Buckhingham?"
(George Galloway, anggota parlemen Inggris)
Common sense alias akal sehat adalah frasa yang diulang-ulang oleh beberapa tokoh dunia dalam menyikapi serangan senjata kimia di Suriah yang terjadi di Ghouta, pinggiran Damaskus, tanggal 21 Agustus lalu. Vladimir Putin, Presiden Rusia, di Vladivostock(30/8) mengatakan, "Kita harus bersandar pada akal sehat. Tentara Suriah sedang dalam posisi ofensif dan tengah mengepung para pemberontak di beberapa wilayah. Dalam kondisi seperti ini, amat konyol bila menyerahkan kartu truf kepada mereka yang selama ini selalu menyerukan intervensi militer asing, apalagi dilakukan tepat ketika datangnya misi inspeksi PBB."
Tentu saja, Assad pun mengatakan hal senada, "Adakah negara yang menggunakan senjata kimia atau senjata pemusnah massal di sebuah tempat dimana pasukannya sendiri terkonsentrasi disana? Hal ini jelas bertentangan dengan akal sehat!"
George Galloway, dengan berapi-api mengingatkan anggota Parlemen Inggris agar menggunakan logikanya, "Pemerintahan Assad cukup buruk sehingga mungkin saja menggunakan senjata kimia, tetapi apakah mereka cukup gila untuk melakukannya? Untuk melancarkan serangan senjata kimia di Damaskus tepat pada hari yang sama ketika Inspektur Senjata Kimia PBB datang ke Damaskus? Ini pasti definisi baru dari kegilaan. Dan bila Assad sedemikian buruk dan gilanya, bagaimana mungkin dulu PM Tony Blair mengundangnya ke London, bahkan diterima Ratu di Istana Buckhingham?"
Ya, pada tahun 2002, Bashar Assad dan istrinya, Asma, melakukan kunjungan kenegaraan ke Inggris. Selain bertemu dengan Ratu Elizabeth, Blair pun menjamunya makan siang. Bahkan, baru-baru ini, media Inggris mengungkap bahwa Blair pun saat itu mengupayakan agar Assad diberi gelar ksatria kehormatan oleh Ratu. Namun hal ini batal dilakukan. Agaknya karena Assad tetap menolak menghentikan konfrontasinya dengan Israel. Bahkan dalam jumpa pers bersama Blair, Assad dengan tegas menolak tuduhan bahwa pihaknya melindungi organisasi teroris. Menurutnya, kantor Hamas dan Jihad Islam yang berada di Damaskus adalah "kantor juru bicara rakyat Palestina", bukan kantor teroris.
Ketika akhirnya Parlemen Inggris menolak keinginan PM Cameron untuk bergabung dengan AS menyerang Suriah, Putin berkomentar, "Ini tidak disangka-sangka, tapi menunjukkan akal sehat."
Ya, akal sehat. Nalar. Inilah yang agaknya sulit ditemukan dalam analisis konflik Suriah yang disampaikan oleh pihak-pihak pro-pemberontak. Tanpa menunggu bukti penyelidikan dari PBB, Obama dan rekannya Cameron bersuara keras menuduh Assad sebagai pelakunya. Dari Israel, hanya beberapa jam setelah kejadian, Menteri Perang Israel, Moshe Yaalon, mengklaim bahwa pihaknya sudah mengetahui siapa pelaku serangan senjata kimia yang menewaskan ratusan rakyat sipil itu. Tak lain, tentara Assad, kata Yaalon. Dan seperti biasa, media massa
mainstream, yang (anehnya) bekerja sama dengan media-media berlabel Islam, dengan segera menyebarluaskan foto-foto dan video korban senjata kimia, yang memicu keprihatinan luas publik dunia.
Seperti biasa pula, para
facebooker dan
blogger –lah yang segera berjuang melawan hegemoni media "mainstream" dengan cara memberikan pengimbangan berita. Dengan cepat mereka menyebarluaskan ‘penemuan' mereka. Ternyata, foto korban senjata kimia Suriah yang disebarluaskan oleh
Al Jazeera dan
Reuters sudah diunggah sehari sebelum kejadian. Bahkan mereka menemukan video yang memperlihatkan beberapa aktor sedang berakting terkena gas kimia. Juga, mereka mendeteksi keanehan video yang disebarluaskan, antara lain, bila dalam rekaman tersebut benar korban gas sarin, mengapa tim penolong yang datang tidak mengenakan masker? (Gas sarin sangat mudah menyebar dari tubuh-tubuh yang terkena, termasuk yang sudah menjadi mayat;
blogger)