Indonesian Free Press -- Mitos tentara Israel sebagai tentara yang tidak terkalahkan telah lama terpatahkan oleh para pejuang Hizbollah dan Hamas.
Secara berurutan tentara Israel 'keok' oleh milisi-milisi sederhana namun profesional dari Lebanon dan Palestina itu: Tahun 2000 dan 2006 di Lebanon, serta tahun 2009 dan 2014 di Gaza.
Kini Israel menghadapi kekalahan berikutnya, propaganda. Padahal selama Israel menikmati keunggulan hampir mutlak dalam hal propaganda, berkat media-media massa dan industri hiburan dan per-film-an yang dikuasai para zionis. Namun kemajuan teknologi informasi, termasuk smartphone yang memungkinkan warga Palestina meng-upload kekejaman Isreal ke dunia maya dalam hitungan detik, semakin membuat mesin propaganda Israel 'kedodoran'.
Hal ini telah membuat pemerintah Israel ketakutan. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sampai mengingatkan bahwa Israel harus cepat 'membuat citra baru' yang lebih baik untuk mencegahnya ditinggalkan oleh masyarakat internasional.
Kini, warga Israel biasa bahkan telah dilatih untuk menjadi 'agen pencitraan' Israel di luar negeri.
Dalam perkembangan terbaru Kementrian Pendidikan Isreal telah melancarkan program 'kursus hasbara' wajib bagi mahasiswa-mahasiswa Israel yang belajar ke luar negeri. Para pelajar itu diharuskan belajar tentang cara-cara berargumentasi untuk membenarkan tindakan Israel di wilayah pendudukan.
Wednesday, 15 July 2015
Sunday, 12 July 2015
Kekacauan Dunia dalam Sebulan Terakhir
Indonesian Free Press -- Sudah lama blog ini menginformasikan bahwa saat ini dunia, tepatnya pada penguasa kegelapan di dunia, tengah mencari keseimbangan baru setelah konspirasi kejahatan mereka mulai diketahui publik berkat kemajuan teknologi informasi seperti internet.
Saya ingin memberi gambaran tentang perlunya sebuah keseimbangan baru yang menguntungkan para penguasa kegelapan.
Pada menjelang pergantian abad 19 ke abad 20, sentimen anti-yahudi sangat kuat terjadi di Eropa setelah munculnya kesadaran publik Eropa akan kejahatan ekonomi, sosial dan politik orang-orang yahudi yang secara de facto menjadi penguasa dunia. Sentimen anti-yahudi itu sebenarnya sudah terpupuk lama selama beratus-ratus tahun, namun tidak pernah muncul ke permukaan.
Karya sastra seperti 'Saudagar Venesia' karya Shakespearre merupakan salah satu bentuk sentimen anti-yahudi yang terekspresikan 'keluar'. Namun umumnya publik menyimpan sentimen itu di dalam hati, karena saat itu tidak ada saluran politik yang memungkinkan kecuali sudah dikuasai sepenuhnya oleh yahudi.
Sejak menjelang pergantian abad, sentimen itu sudah tidak bisa disembunyikan lagi. Ekspresi kebencian kepada yahudi sudah disampaikan secara terbuka tanpa bisa dibendung. Jika tidak dikendalikan, kemarahan publik itu akan menghancurkan tatanan dunia yang sudah dikuasai para kapitalis yahudi, sekaligus menghancurkan eksistensi mereka.
Maka dirancanglah sejumlah peristiwa yang diharapkan bisa mengubur sentimen anti-yahudi itu kembali. Terjadilah sejumlah perang besar seperti Perang Krim, Perang Dunia I dan puncaknya Perang Dunia II. Hasil dari ketiga peristiwa itu adalah 'Holocoust Industry', yaitu suatu fenomena dimana sentimen anti-yahudi berubah menjadi ketakutan kepada yahudi, karena setiap ekspresi anti-yahudi akan dicap sebagai anti-semit dan dipastikan akan membuat seseorang masuk penjara dan kehilangan hidupnya. Di sisi lain, orang-orang yahudi justru mendapatkan previlege luar biasa. Selain berdirinya negara Israel, kekuasaan yahudi juga diformalkan melalui PBB dan organisasi-organisasi internasional seperti IMF, Bank Dunia.
Saya ingin memberi gambaran tentang perlunya sebuah keseimbangan baru yang menguntungkan para penguasa kegelapan.
Pada menjelang pergantian abad 19 ke abad 20, sentimen anti-yahudi sangat kuat terjadi di Eropa setelah munculnya kesadaran publik Eropa akan kejahatan ekonomi, sosial dan politik orang-orang yahudi yang secara de facto menjadi penguasa dunia. Sentimen anti-yahudi itu sebenarnya sudah terpupuk lama selama beratus-ratus tahun, namun tidak pernah muncul ke permukaan.
Karya sastra seperti 'Saudagar Venesia' karya Shakespearre merupakan salah satu bentuk sentimen anti-yahudi yang terekspresikan 'keluar'. Namun umumnya publik menyimpan sentimen itu di dalam hati, karena saat itu tidak ada saluran politik yang memungkinkan kecuali sudah dikuasai sepenuhnya oleh yahudi.
Sejak menjelang pergantian abad, sentimen itu sudah tidak bisa disembunyikan lagi. Ekspresi kebencian kepada yahudi sudah disampaikan secara terbuka tanpa bisa dibendung. Jika tidak dikendalikan, kemarahan publik itu akan menghancurkan tatanan dunia yang sudah dikuasai para kapitalis yahudi, sekaligus menghancurkan eksistensi mereka.
Maka dirancanglah sejumlah peristiwa yang diharapkan bisa mengubur sentimen anti-yahudi itu kembali. Terjadilah sejumlah perang besar seperti Perang Krim, Perang Dunia I dan puncaknya Perang Dunia II. Hasil dari ketiga peristiwa itu adalah 'Holocoust Industry', yaitu suatu fenomena dimana sentimen anti-yahudi berubah menjadi ketakutan kepada yahudi, karena setiap ekspresi anti-yahudi akan dicap sebagai anti-semit dan dipastikan akan membuat seseorang masuk penjara dan kehilangan hidupnya. Di sisi lain, orang-orang yahudi justru mendapatkan previlege luar biasa. Selain berdirinya negara Israel, kekuasaan yahudi juga diformalkan melalui PBB dan organisasi-organisasi internasional seperti IMF, Bank Dunia.
Senjata Terbaru Rusia: Melumpuhkan Senjata-Senjata Elektronik
Indonesian Free Press -- Hampir semua senjata modern digerakkan dan dikendalikan oleh peralatan elektronik: rudal, peluru kendali dan missil, tank, pesawat tempur, kapal perang dan lain sebagainya.
Lalu bagaimana jika ada sebuah alat atau senjata yang bisa mematikan semua peralatan elektronik? Tentu saja pemilik senjata itu akan menjadi pemenang dalam peperangan modern. Dan Rusia adalah pemilik senjata semacam itu.
Telah cukup lama Rusia dikabarkan telah mengembangkan senjata itu, dan hal itu seolah dikonfirmasi oleh pernyataan wakil presiden Radio-Electronic Technologies Group (KRET), Yuri Mayevsky baru-baru ini:
"Senjata ini akan menargetkan pesawat-pesawat tempur strategis lawan, peralatan-peralatan elektronik dan menghentikan peralatan elektronik satelit-satelit militer lawan.”
Senjata tersebut, menurut Yuri, "menghentikan sepenuhnya peralatan komunikasi dan navigasi, lokasi target serta senjata-senjata presisi tinggi. Senjata itu akan digunakan terhadap rudal-rudal jelajah dan akan menghentikan sistem-sistem penjejak berbasis radio satelit. Ini sebenarnya akan mematikan senjata-senjata lawan.”
Yuri menambahkan bahwa senjata baru itu tidak akan ditempatkan di satelit karena hal itu melanggar perjanjian internasional. Demikian seperti dilaporkan 'Daily Mirror' baru-baru ini. Sebaliknya, senjata itu bisa ditempatkan di atas kendaraan pengangkut, pesawat tempur ataupun kapal perang.
Lalu bagaimana jika ada sebuah alat atau senjata yang bisa mematikan semua peralatan elektronik? Tentu saja pemilik senjata itu akan menjadi pemenang dalam peperangan modern. Dan Rusia adalah pemilik senjata semacam itu.
Telah cukup lama Rusia dikabarkan telah mengembangkan senjata itu, dan hal itu seolah dikonfirmasi oleh pernyataan wakil presiden Radio-Electronic Technologies Group (KRET), Yuri Mayevsky baru-baru ini:
"Senjata ini akan menargetkan pesawat-pesawat tempur strategis lawan, peralatan-peralatan elektronik dan menghentikan peralatan elektronik satelit-satelit militer lawan.”
Senjata tersebut, menurut Yuri, "menghentikan sepenuhnya peralatan komunikasi dan navigasi, lokasi target serta senjata-senjata presisi tinggi. Senjata itu akan digunakan terhadap rudal-rudal jelajah dan akan menghentikan sistem-sistem penjejak berbasis radio satelit. Ini sebenarnya akan mematikan senjata-senjata lawan.”
Yuri menambahkan bahwa senjata baru itu tidak akan ditempatkan di satelit karena hal itu melanggar perjanjian internasional. Demikian seperti dilaporkan 'Daily Mirror' baru-baru ini. Sebaliknya, senjata itu bisa ditempatkan di atas kendaraan pengangkut, pesawat tempur ataupun kapal perang.
Tuesday, 7 July 2015
Putin Kembali Pecundangi Obama
Indonesian Free Press -- Hanya dua hari sebelum kedatangan Menhan Amerika Ashton Carter di Jerman bulan lalu, perusahaan migas Rusia Gazprom mengumumkan kesepakatan pengiriman gas Rusia ke Jerman melalui pipa gas Nord Stream II, yang akan membuat jumlah gas Rusia yang mengalir ke Jerman menjadi 2 kali lipat.
Kesepakatan itu berarti Jerman, dan juga seluruh negara-negara Eropa barat tidak perlu lagi tergantung pada gas yang mengalir melalui Ukraina, Polandia, Rumania, Belarusia, Hungaria atau Slovakia.
Dengan kata lain, upaya Amerika untuk mengisolir Rusia dengan memelihara konflik di Ukraina dan Eropa timur, kandas seketika.
Ahli olahraga yudo sekaligus ahli strategi Vladimir Putin kembali mempecundangi Amerika. Ia menunggu waktu yang tepat untuk memberikan pukulan mematikan kepada lawan. Dan kini, ia menikmati ketika para pejabat Amerika kebingungan menghadapi situasi yang tidak mereka perhitungkan.
Jerman memang tidak memiliki sumber gas, tapi dengan bantuan Rusia bisa menjadi penjual gas terbesar di Eropa. Dengan gas Rusia yang melimpah, Jerman mengalirkannya ke Belanda, Belgia, Perancis dan Inggris. Dengan cara ini sekaligus Jerman telah membuat 'daya tawar' Rusia tidak terlawan.
Harus diingat bahwa Jerman dan Rusia telah memiliki preseden membuat perjanjian rahasia, meski di permukaan tampak keduanya seperti bermusuhan. Ingat, perjanjian rahasia Jerman-Rusia sebelum Perang Dunia II yang membagi Polandia menjadi wilayah Rusia dan Jerman.
Kesepakatan itu berarti Jerman, dan juga seluruh negara-negara Eropa barat tidak perlu lagi tergantung pada gas yang mengalir melalui Ukraina, Polandia, Rumania, Belarusia, Hungaria atau Slovakia.
Dengan kata lain, upaya Amerika untuk mengisolir Rusia dengan memelihara konflik di Ukraina dan Eropa timur, kandas seketika.
Ahli olahraga yudo sekaligus ahli strategi Vladimir Putin kembali mempecundangi Amerika. Ia menunggu waktu yang tepat untuk memberikan pukulan mematikan kepada lawan. Dan kini, ia menikmati ketika para pejabat Amerika kebingungan menghadapi situasi yang tidak mereka perhitungkan.
Jerman memang tidak memiliki sumber gas, tapi dengan bantuan Rusia bisa menjadi penjual gas terbesar di Eropa. Dengan gas Rusia yang melimpah, Jerman mengalirkannya ke Belanda, Belgia, Perancis dan Inggris. Dengan cara ini sekaligus Jerman telah membuat 'daya tawar' Rusia tidak terlawan.
Harus diingat bahwa Jerman dan Rusia telah memiliki preseden membuat perjanjian rahasia, meski di permukaan tampak keduanya seperti bermusuhan. Ingat, perjanjian rahasia Jerman-Rusia sebelum Perang Dunia II yang membagi Polandia menjadi wilayah Rusia dan Jerman.
Serangan-Serangan Ramadhan Amerika
Indonesian Free Press -- Selama bulan Ramadhan ini dunia menyaksikan beberapa serangan teroris yang keji terjadi di beberapa negara, dengan jumlah korban yang sangat besar. Di Perancis, Tunisia, Saudi, Kuwait, Afghanistan hingga di Xinjiang, Cina.
Hanya ada sedikit negara yang memiliki kemampuan untuk melakukan operasi skala luas seperti itu, yang pasti membutuhkan peralatan komunikasi dan militer canggih serta jaringan inteligen luas. Katakanlah Amerika, Rusia, Inggris atau Cina. Namun hanya ada negara yang memiliki motifnya, yaitu Amerika.
Jangan katakan ISIS, Al Qaida, atau kelompok-kelompok teroris 'fiktif' lainnya seperti 'Bader Meinhoff' Jerman, 'Brigade Merah' Italia ataupun kelompok teroris 'Carlos the Jackal', karena pada dasarnya mereka hanyalah kepanjangan tangan inteligen Amerika dan Israel.
Di Tunisia hampir 40 orang, kebanyakan turis Inggris, tewas oleh serangan teroris. Tunisia, negara awal terjadinya gerakan 'Arab Springs' yang dirancang Amerika untuk mengganti regim-regim totaliter Arab dengan regim baru yang pro-Amerika, menunjukkan kembalinya kekuatan regim lama Zine El Abidine Ben Ali. Maka, ISIS pun bertindak.
Tidak lama setelah serangan ini, Inggris pun menyerukan dilakukannya intervensi NATO ke Suriah, mengembalikan wacana lama yang gagal direalisasikan karena terbukti adanya sejumlah kebohongan. Serangan-serangan senjata kimia di Suriah yang menjadi dasar tuntutan intervensi asing di Suriah oleh Amerika dan sekutu-sekutunya dua tahun lalu, misalnya, ternyata dilakukan oleh teroris-teroris dukungan Amerika.
Tunisia adalah negara yang bersebelahan dengan Libya, negara yang dihancurkan oleh intervensi NATO tahun 2011. Sejak itu Libya berubah menjadi negara sarang teroris yang terus-menerus menimbulkan kekacauan tidak saja di Libya sendiri, namun hingga ke Suriah. Di Libya teroris-teroris yang dilatih CIA dan senjata-senjata NATO dan AS dikirim ke Suriah melalui Turki.
Hanya ada sedikit negara yang memiliki kemampuan untuk melakukan operasi skala luas seperti itu, yang pasti membutuhkan peralatan komunikasi dan militer canggih serta jaringan inteligen luas. Katakanlah Amerika, Rusia, Inggris atau Cina. Namun hanya ada negara yang memiliki motifnya, yaitu Amerika.
Jangan katakan ISIS, Al Qaida, atau kelompok-kelompok teroris 'fiktif' lainnya seperti 'Bader Meinhoff' Jerman, 'Brigade Merah' Italia ataupun kelompok teroris 'Carlos the Jackal', karena pada dasarnya mereka hanyalah kepanjangan tangan inteligen Amerika dan Israel.
Di Tunisia hampir 40 orang, kebanyakan turis Inggris, tewas oleh serangan teroris. Tunisia, negara awal terjadinya gerakan 'Arab Springs' yang dirancang Amerika untuk mengganti regim-regim totaliter Arab dengan regim baru yang pro-Amerika, menunjukkan kembalinya kekuatan regim lama Zine El Abidine Ben Ali. Maka, ISIS pun bertindak.
Tidak lama setelah serangan ini, Inggris pun menyerukan dilakukannya intervensi NATO ke Suriah, mengembalikan wacana lama yang gagal direalisasikan karena terbukti adanya sejumlah kebohongan. Serangan-serangan senjata kimia di Suriah yang menjadi dasar tuntutan intervensi asing di Suriah oleh Amerika dan sekutu-sekutunya dua tahun lalu, misalnya, ternyata dilakukan oleh teroris-teroris dukungan Amerika.
Tunisia adalah negara yang bersebelahan dengan Libya, negara yang dihancurkan oleh intervensi NATO tahun 2011. Sejak itu Libya berubah menjadi negara sarang teroris yang terus-menerus menimbulkan kekacauan tidak saja di Libya sendiri, namun hingga ke Suriah. Di Libya teroris-teroris yang dilatih CIA dan senjata-senjata NATO dan AS dikirim ke Suriah melalui Turki.
Saturday, 4 July 2015
Jendral Israel Tewas, Rencana Serangan Gabungan Israel-Turki ke Suriah Berantakan
Indonesian Free Press -- Dua serangan udara pemerintah Suriah terhadap pangkalan militer asing di negara itu, Jumat (26 Juni) menewaskan seorang jendral Israel, perwira-perwira penghubung Saudi, Qatar dan menghancurkan sepasukan Chenchya yang baru mendapat latihan di Yordania.
Serangan itu sekaligus menghancurkan rencana operasi militer 'Operation Southern Storm' yang dirancang Israel bersama Turki, Amerika dan kekuatan-kekuatan asing lain yang bertujuan menggulingkan regim Bashar al Assad untuk digantikan pemerintahan baru yang pro-Israel.
Dalam operasi itu pasukan gabungan asing akan menyerang Suriah dari selatan (Yordania), sementara pasukan Turki yang dibantu kelompok-kelompok militan teroris menyerang dari utara. Pada saat yang sama, Israel menyerang Lebanon, untuk menarik pasukan Hizbollah yang saat ini bertempur di Suriah.
Operasi ini direncanakan akan dieksekusi pada tanggal 8 Juli, namun berantakan karena serangan udara itu. Demikian laporan Nahed Al Husaini dan Gordon Duff di situs independen Veterans Today tanggal 3 Juli lalu berjudul "Israeli General, Chechnyans Killed in Syrian Air Strike".
Kedua pangkalan militer asing tersebut berada di bawah perlindungan sistem pertahanan udara Iron Dome Israel, meski berada di wilayah Provinsi Daara, Suriah selatan. Sementara markas operasi 'Southern Storm' berada di kota Al-Karak, Yordania.
Menurut keterangan inteligen Suriah, jendral Israel yang tewas itu adalah komandan operasi yang bertugas memimpin 3 serangan operasi terpisah namun terkoordinasi terhadap kota Daraa yang dalam beberapa waktu terakhir mendapat serangan mortir dan roket Grad.
Al Karak adalah kota kecil berpenghuni 20.000 di sebelah timur Laut Mati di Yordania. Kota ini mudah dicapai dengan helikopter dari Israel tanpa diketahui.
Menurut laporan itu markas operasi (Military Operation Center) di Al Karak dibangun oleh Israel dan memiliki fasilitas komunikasi dan inteligen canggih. Fasilitas ini terhubung dengan 4 pusat pelatihan yang dioperasikan CIA di Yordania serta komplek kedubes Saudi di Amman yang baru dibangun.
Dari Al Karak, jendral Israel dan pasukan Chenchya masuk ke Suriah melalui Nassib, pintu perlintasan perbatasan yang dikuasai kelompok ISIS di selatan kota Daraa.
Serangan itu sekaligus menghancurkan rencana operasi militer 'Operation Southern Storm' yang dirancang Israel bersama Turki, Amerika dan kekuatan-kekuatan asing lain yang bertujuan menggulingkan regim Bashar al Assad untuk digantikan pemerintahan baru yang pro-Israel.
Dalam operasi itu pasukan gabungan asing akan menyerang Suriah dari selatan (Yordania), sementara pasukan Turki yang dibantu kelompok-kelompok militan teroris menyerang dari utara. Pada saat yang sama, Israel menyerang Lebanon, untuk menarik pasukan Hizbollah yang saat ini bertempur di Suriah.
Operasi ini direncanakan akan dieksekusi pada tanggal 8 Juli, namun berantakan karena serangan udara itu. Demikian laporan Nahed Al Husaini dan Gordon Duff di situs independen Veterans Today tanggal 3 Juli lalu berjudul "Israeli General, Chechnyans Killed in Syrian Air Strike".
Kedua pangkalan militer asing tersebut berada di bawah perlindungan sistem pertahanan udara Iron Dome Israel, meski berada di wilayah Provinsi Daara, Suriah selatan. Sementara markas operasi 'Southern Storm' berada di kota Al-Karak, Yordania.
Menurut keterangan inteligen Suriah, jendral Israel yang tewas itu adalah komandan operasi yang bertugas memimpin 3 serangan operasi terpisah namun terkoordinasi terhadap kota Daraa yang dalam beberapa waktu terakhir mendapat serangan mortir dan roket Grad.
Al Karak adalah kota kecil berpenghuni 20.000 di sebelah timur Laut Mati di Yordania. Kota ini mudah dicapai dengan helikopter dari Israel tanpa diketahui.
Menurut laporan itu markas operasi (Military Operation Center) di Al Karak dibangun oleh Israel dan memiliki fasilitas komunikasi dan inteligen canggih. Fasilitas ini terhubung dengan 4 pusat pelatihan yang dioperasikan CIA di Yordania serta komplek kedubes Saudi di Amman yang baru dibangun.
Dari Al Karak, jendral Israel dan pasukan Chenchya masuk ke Suriah melalui Nassib, pintu perlintasan perbatasan yang dikuasai kelompok ISIS di selatan kota Daraa.
Friday, 3 July 2015
Koflik Suriah Makin Berbahaya, Turki Siapkan Intervensi
Indonesian Free Press -- Seperti telah ditulis dalam artikel terdahulu ('Pertempuran yang Sebenarnya di Suriah Baru akan Dimulai'), bahwa ada kemungkinan Turki mengerahkan militernya ke Suriah setelah melihat milisi-milisi Shiah Iran dan Irak serta personil militer Iran masuk ke Suriah untuk membantu regim Bashar al Assad, hal ini kini telah mendekati kenyataan.
Sebagaimana dilaporkan kantor berita Turki Anadolu dan dikutip Hurriyet, dalam siaran persnya pada Minggu (28/6) Menlu Turki Mevlut Cavusoglu mengatakan Turki tengah mempertimbangkan untuk mengirimkan pasukan ke Suriah.
Ia membenarkan bahwa Dewan Keamanan Nasional Turki (MGK) telah membahas soal kemungkinan intervensi militer Turki di Suriah.
“Kami ada rapat MGK besok, kami akan membuat pengumuman yang diperlukan setelah itu,” katanya kepada para wartawan.
Hal ini dia nyatakan sebagai tanggapan atas laporan berbagai media Turki bahwa Turki tengah merencanakan operasi militer di wilayah Suriah, menyusul pidato Presiden Recep Tayyip Erdogan hari Jumat (26/6) yang mengungkapkan rencananya untuk melakukan intervensi militer di Suriah demi mencegah warga Kurdi membentuk negara baru di perbatasan Turki.
Kekhawatiran Erdogan itu muncul setelah milisi-milisi Kurdi berhasil memukul mundur pasukan ISIS dan Al Nusra dari posisi-posisi strategisnya dan mengepung 'ibukota' ISIS di Raqqa, Suriah.
“Saya mengatakan ini kepada dunia bahwa kita tidak akan membiarkan pembentukan sebuah negara baru (Kurdi) di utara Suriah. Kita akan terus berperang untuk itu, bagaimana pun besarnya biaya yang harus dikeluarkan,” kata Erdogan.
Sebagaimana dilaporkan kantor berita Turki Anadolu dan dikutip Hurriyet, dalam siaran persnya pada Minggu (28/6) Menlu Turki Mevlut Cavusoglu mengatakan Turki tengah mempertimbangkan untuk mengirimkan pasukan ke Suriah.
Ia membenarkan bahwa Dewan Keamanan Nasional Turki (MGK) telah membahas soal kemungkinan intervensi militer Turki di Suriah.
“Kami ada rapat MGK besok, kami akan membuat pengumuman yang diperlukan setelah itu,” katanya kepada para wartawan.
Hal ini dia nyatakan sebagai tanggapan atas laporan berbagai media Turki bahwa Turki tengah merencanakan operasi militer di wilayah Suriah, menyusul pidato Presiden Recep Tayyip Erdogan hari Jumat (26/6) yang mengungkapkan rencananya untuk melakukan intervensi militer di Suriah demi mencegah warga Kurdi membentuk negara baru di perbatasan Turki.
Kekhawatiran Erdogan itu muncul setelah milisi-milisi Kurdi berhasil memukul mundur pasukan ISIS dan Al Nusra dari posisi-posisi strategisnya dan mengepung 'ibukota' ISIS di Raqqa, Suriah.
“Saya mengatakan ini kepada dunia bahwa kita tidak akan membiarkan pembentukan sebuah negara baru (Kurdi) di utara Suriah. Kita akan terus berperang untuk itu, bagaimana pun besarnya biaya yang harus dikeluarkan,” kata Erdogan.
Monday, 29 June 2015
Zionis, Jangan Remehkan Perlawanan Kaum Druze
Indonesian Free Press -- Politisi Druze Lebanon ketua Partai Tauhid, Wiam Wahhab, dengan berani menerobos blokade yang diterapkan gerombolan teroris Jabat Nusra dan ISIS terhadap desa Hadar di Gunung Hermon, Suriah.
Di tengah warga desa yang mayoritas adalah orang-orang Druze, Wahhab pun berpidato dengan penuh semangat.
"Biarkan semua sponsor terorisme di kawasan ini mengetahui bahwa setiap agresi terhadap Desa Hadar akan meledakkan seluruh Lebanon, Suriah dan Palestina. Setiap serangan terhadap Hadar akan menjadi serangan terhadap Rashaya, Hasbayya, Golan, Lebanon, Suriah dan Palestina."
Wahhab pun memuji warga Druze di Majdal Shams, Golan, yang dengan berani menyerang ambulan Israel yang membawa anggota-anggota Jabat Nusra yang terluka, membunuh seorang anggota Jabat Nusra dan melukai sejumlah tentara Israel yang melindunginya.
Menurut Wahhab semangat Arabisme dan dukungan kepada Presiden Bashar al Assad adalah solusi satu-satunya bagi warga Druze di Golan dan Suriah. Sementara setiap penindasan Israel terhadap warga Druze akan dihadapi dengan perlawanan rakyat. Demikian kata Wahhab.
Ini merupakan perkembangan terbaru dari konflik Suriah yang kini semakin meluas dengan melibatkan warga Druze, yang selama ini terkesan menghindar dari konflik demi keselamatan mereka. Namun, penindasan yang terus mereka alami dari kelompok-kelompok teroris Jabat Nusra dan ISIS yang didukung Israel, negara-negara barat dan sejumlah negara Arab, memaksa mereka untuk mengangkat senjata.
Selama konflik di Suriah, puluhan warga Druze telah dibunuh oleh kelompok-kelompok teroris, sementara ratusan lainnya dipaksa pindah keyakinan.
Pidato Wahhab dan aksi sporadis orang-orang Druze di Golan menyerang ambulan-ambulan Israel pengangkut teroris Jabat Nusra minggu ini, merupakan penanda kemunculan kembali perlawanan orang-orang Druze.
Di tengah warga desa yang mayoritas adalah orang-orang Druze, Wahhab pun berpidato dengan penuh semangat.
"Biarkan semua sponsor terorisme di kawasan ini mengetahui bahwa setiap agresi terhadap Desa Hadar akan meledakkan seluruh Lebanon, Suriah dan Palestina. Setiap serangan terhadap Hadar akan menjadi serangan terhadap Rashaya, Hasbayya, Golan, Lebanon, Suriah dan Palestina."
Wahhab pun memuji warga Druze di Majdal Shams, Golan, yang dengan berani menyerang ambulan Israel yang membawa anggota-anggota Jabat Nusra yang terluka, membunuh seorang anggota Jabat Nusra dan melukai sejumlah tentara Israel yang melindunginya.
Menurut Wahhab semangat Arabisme dan dukungan kepada Presiden Bashar al Assad adalah solusi satu-satunya bagi warga Druze di Golan dan Suriah. Sementara setiap penindasan Israel terhadap warga Druze akan dihadapi dengan perlawanan rakyat. Demikian kata Wahhab.
Ini merupakan perkembangan terbaru dari konflik Suriah yang kini semakin meluas dengan melibatkan warga Druze, yang selama ini terkesan menghindar dari konflik demi keselamatan mereka. Namun, penindasan yang terus mereka alami dari kelompok-kelompok teroris Jabat Nusra dan ISIS yang didukung Israel, negara-negara barat dan sejumlah negara Arab, memaksa mereka untuk mengangkat senjata.
Selama konflik di Suriah, puluhan warga Druze telah dibunuh oleh kelompok-kelompok teroris, sementara ratusan lainnya dipaksa pindah keyakinan.
Pidato Wahhab dan aksi sporadis orang-orang Druze di Golan menyerang ambulan-ambulan Israel pengangkut teroris Jabat Nusra minggu ini, merupakan penanda kemunculan kembali perlawanan orang-orang Druze.
Saturday, 27 June 2015
INDONESIA adalah ANGOLA BERIKUTNYA?
Dari status Facebook Rudi Rosidi
Ada puluhan ribu pekerja konstruksi asal Cina di Angola. Ditempat pembangunan sebuah mall saja ada lebih dari 600 orang. Para pekerja Cina dianggap sebagai pekerja keras. Sementara ada ribuan proyek di Angola yang dikerjakan Cina.
Hampir seluruh pekerja proyek didatangkan dari Cina. Alasannya adalah untuk kecepatan kerja dan efisiensi. Gaji pekerja Cina Rp 400.000 sehari dan merupakan sebuah nilai yang besar untuk ukuran para pekerja pribumi Angola. Tapi seluruh gaji pekerja dikirimkan kembali ke Cina.
Banyaknya proyek Cina membuat Luwanda sebagai kota yang maju. Tapi tingkat pengangguran penduduk setempat sangat tinggi.
Mari kita renungkan dan bandingkan dengan keadaan yang terjadi sekarang di Indonesia sejak Jokowi berkuasa. Apakah ada kesamaan? Sepertinya iya. Sebab Jokowi sudah membuat kebijakan yang sangat memberikan ruang pada Cina untuk:
1. Menjadi investor proyek infrstruktur
2. Menjadikan pekerja Cina sebagai pelaksana proyek infrastruktur tersebut
3. Memberikan hak asing untuk memmiliki properti di Indonesia
Ada puluhan ribu pekerja konstruksi asal Cina di Angola. Ditempat pembangunan sebuah mall saja ada lebih dari 600 orang. Para pekerja Cina dianggap sebagai pekerja keras. Sementara ada ribuan proyek di Angola yang dikerjakan Cina.
Hampir seluruh pekerja proyek didatangkan dari Cina. Alasannya adalah untuk kecepatan kerja dan efisiensi. Gaji pekerja Cina Rp 400.000 sehari dan merupakan sebuah nilai yang besar untuk ukuran para pekerja pribumi Angola. Tapi seluruh gaji pekerja dikirimkan kembali ke Cina.
Banyaknya proyek Cina membuat Luwanda sebagai kota yang maju. Tapi tingkat pengangguran penduduk setempat sangat tinggi.
Mari kita renungkan dan bandingkan dengan keadaan yang terjadi sekarang di Indonesia sejak Jokowi berkuasa. Apakah ada kesamaan? Sepertinya iya. Sebab Jokowi sudah membuat kebijakan yang sangat memberikan ruang pada Cina untuk:
1. Menjadi investor proyek infrstruktur
2. Menjadikan pekerja Cina sebagai pelaksana proyek infrastruktur tersebut
3. Memberikan hak asing untuk memmiliki properti di Indonesia
Di Balik Samaran, Israel Ujicoba Bom Nuklir Mini
Indonesian Free Press -- Dengan dalih ingin mengetahui efek dari bom nuklir mini, atau biasa disebut 'dirty bomb', Israel melakukan 20 peledakan ujicoba bom sejenis di sebuah padang pasir di selatan negara itu. Demikian media Israel Haaretz melaporkan, 8 Juni lalu.
Menurut Haaretz, penelitian tentang efek 'dirty bom' itu telah berlangsung selama 4 tahun dan darinya disimpulkan bahwa bom jenis ini menghasilkan tingkat radiasi yang rendah. Menurut para peneliti Israel, tingkat radiasi yang ditimbulkan tidak sampai tingkat membahayakan kesehatan manusia.
Perlu dicatat, laporan 'Haaretz' ini mengkonfirmasi sejumlah laporan media-media independen tentang penggunaan bom sejenis dalam sejumlah serangan Israel di negara-negara target, termasuk dalam sebuah serangan udara di Yaman baru-baru ini, serta sejumlah serangan udara Israel di Suriah.
Tentang serangan bom nuklir mini di Yaman silakan klik disini: http://www.veteranstoday.com/2015/05/29/how-israel-was-busted-nuking-yemen/. Tentang serangan serupa di Suriah klik di sini: http://www.presstv.ir/detail/2013/05/10/302772/was-syria-nuked/
Tidak hanya itu, mantan kepala BIN Jendral ZA Maulani juga mensinyalir serangan Bom Bali I juga menggunakan bom jenis ini. Apalagi dengan adanya sejumlah laporan mengenai keberadaan kapal perang Amerika di Bali, beberapa saat sebelum serangan tersebut terjadi.
“Hanya mikro nuklir yang memiliki efek ledakan seperti itu, bukan RDX apalagi TNT. Dan mikro nuklir yang ada di dunia ini hanya diproduksi di instalasi nuklir Dimona, milik Israel,” kata ZA Maulani seperti dikutip situs media tanah air.
Menurut Haaretz, penelitian tentang efek 'dirty bom' itu telah berlangsung selama 4 tahun dan darinya disimpulkan bahwa bom jenis ini menghasilkan tingkat radiasi yang rendah. Menurut para peneliti Israel, tingkat radiasi yang ditimbulkan tidak sampai tingkat membahayakan kesehatan manusia.
Perlu dicatat, laporan 'Haaretz' ini mengkonfirmasi sejumlah laporan media-media independen tentang penggunaan bom sejenis dalam sejumlah serangan Israel di negara-negara target, termasuk dalam sebuah serangan udara di Yaman baru-baru ini, serta sejumlah serangan udara Israel di Suriah.
Tentang serangan bom nuklir mini di Yaman silakan klik disini: http://www.veteranstoday.com/2015/05/29/how-israel-was-busted-nuking-yemen/. Tentang serangan serupa di Suriah klik di sini: http://www.presstv.ir/detail/2013/05/10/302772/was-syria-nuked/
Tidak hanya itu, mantan kepala BIN Jendral ZA Maulani juga mensinyalir serangan Bom Bali I juga menggunakan bom jenis ini. Apalagi dengan adanya sejumlah laporan mengenai keberadaan kapal perang Amerika di Bali, beberapa saat sebelum serangan tersebut terjadi.
“Hanya mikro nuklir yang memiliki efek ledakan seperti itu, bukan RDX apalagi TNT. Dan mikro nuklir yang ada di dunia ini hanya diproduksi di instalasi nuklir Dimona, milik Israel,” kata ZA Maulani seperti dikutip situs media tanah air.
Subscribe to:
Posts (Atom)









