Monday, 14 December 2015

Dimana Para Ulama Pembela Jokowi?

Indonesian Free Press -- Selama pilpres kemarin saya saya sering terlibat 'perselisihan' dengan teman-teman 'pecinta ahlul bait' karena perbedaan pilihan capres. Saya memilih Prabowo Subiyanto sementara sebagian besar teman-teman yang mengaku 'pecinta ahlul bait' itu memilih Jokowi.

Bagi saya tidak masalah adanya perbedaan pilihan tersebut. Namun saya sangat menyayangkan bahwa teman-teman 'pecinta ahlul bait' membawa-bawa 'bendera' ahlul bait dalam urusan ini. Sebagian dari mereka bahkan mengklaim Jokowi sebagai seorang keturunan 'ahlul bait' meski tanpa bukti-bukti yang valid.

Bagi saya 'ahlul bait' terlalu suci untuk disandingkan dengan Jokowi, yang bagi saya sudah jelas bukan pribadi yang berakhlak baik. Ia telah berbohong tentang jabatan Walikota dan Gubernur dengan meninggalkan tanggungjawabnya bagitu saja demi memenuhi hasrat berkuasanya yang besar. Fenomena kemunculannya yang tidak wajar juga sudah menjadi tanda yang sangat jelas bagi saya bahwa ia dikendalikan 'penguasa jahat di balik layar' sebagaimana menjadi perhatian saya di blog ini. Apalagi dengan tindakannya yang suka mengacung-ngacungkan simbol 'el diablo sign' atau 'tanduk setan', cukup sudah bagi saya untuk tidak begitu menyukainya.

Sunday, 13 December 2015

Saudi Kelabakan Cari Jalan Keluar dari Yaman

Indonesian Free Press -- Sembilan bulan sudah Saudi Arabia dan koalisi Arab yang dipimpinnya, termasuk Mesir dan Sudan, melancarkan serangan gencar ke Yaman dengan tujuan mendudukkan kembali mantan presiden Mansour Hadi ke tampuk kekuasaan. Sudah lebih dari 2.000 prajuritnya tewas dan lebih dari Rp1.000 triliun dihabiskan Saudi Arabia untuk mewujudkan ambisinya itu, namun semuanya jauh dari harapan. Sebaliknya, Saudi kini terancam oleh invasi pasukan Yaman yang telah menduduki sebagian wilayah perbatasan kedua negara.

Menurut Ali al-Ahmed, Direktur Institute for the [Persian] Gulf Affairs (IGA) yang berbasis di Washington, Amerika. Saudi Arabia kini tengah berusaha keras untuk meninggalkan konflik Yaman, tanpa harus kehilangan muka. Hal inilah yang menyebabkan disepakatinya gencatan senjata yang akan dimulai pada tanggal 14 Desember dan diikuti dengan perundangan damai yang digelar di Genewa atas inisiatif PBB.

Padahal selama ini Saudi selalu mengabaikan seruan masyarakat internasional untuk mengakhiri aksi barbarnya di Yaman yang telah menewaskan ribuan warga sipil tak berdosa dan menghancurkan infrastruktur Yaman.

Saturday, 12 December 2015

Suriah dan Fenomena 'The Empire Strikes Back'

Indonesian Free Press -- 'The Empire Strikes Back' adalah judul salah satu sekuel film fenomenal Star War.

Namun di dunia nyata 'The Empire Strikes Back' merupakan fenomena sejarah yang terus terjadi berulang-ulang. Dalam setiap perjuangan menentang ketidak adilan, kekuatan status quo yang merasa terancam akan berusaha menggagalkan perjuangan dengan melakukan serangan balik. Dalam sejarah Islam hal ini tampak pada peristiwa Perang Uhud, dimana kaum musrik Quraisy Makkah menyerang orang-orang Muslim di sebuah tempat bernama Bukit Uhud setelah sebelumnya mereka kalah dalam Perang Badar. Peristiwa ini juga terjadi dalam Perang Sipil Amerika tahun 1862 ketika pasukan Konfederasi menginvasi wilayah Maryland dan hampir menduduki ibukota Washington. Adapun dalam Perang Dunia II 'fenomena' yang sama terjadi dalam Perang Kursk di Rusia dan Perang Bulge di Belgia ketika pasukan Jerman melancarkan serangan balik di front timur dan barat.

Ketika Rusia mulai melancarkan operasi militernya di Suriah pada tanggal 30 Oktober lalu, Rusia secara efektif menghancurkan rencana zionis internasional untuk menggulingkan pemerintahan Bashar al Assad dan memecah belah Suriah menjadi beberapa negara sektarian yang lemah, sekaligus menghancurkan blok perlawanan anti-Israel yang dimotori Suriah dan Iran serta Hizbollah dan kelompok-kelompok perjuangan Palestina.

Friday, 11 December 2015

Abaikan Perjanjian Nuklir, Iran Terus Kembangkan Kekuatan Militer

Indonesian Free Press -- Di bawah perjanjian nuklir dengan negara-negara maju yang tertuang dalam Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) yang ditandatangani di Wina pada 14 Juli lalu, Iran dilarang mengembangkan senjata ballistik selama 8 tahun dan dilarang membeli senjata konvensional dari negara lain selama 5 tahun. Namun, dalam beberapa waktu terakhir Iran tampak mengabaikan hal ini.

Pertama adalah pembelian sistem pertahanan udara S-300 Rusia. Pembelian senjata yang kontraknya ditandatangani tahun 2007 ini telah dibekukan oleh Rusia tahun 2010 lalu, namun sejak bulan April lalu setelah dicairkan kembali oleh Presiden Rusia Vladimir Putin, setelah Iran mencapai kesepakatan dasar dengan negara-negara maju tentang program nuklirnya. Kini pembelian senjata itu telah mulai direalisasikan.

Kedua adalah ujicoba rudal-rudal ballistik Iran yang terus berlangsung. Terakhkir seperti dilaporkan IFP adalah peluncuran rudal .Ghadr-110 pada tanggal 21 November lalu. (Lihat di sini).

Ketiga adalah rencana Iran membeli tank-tank utama modern Rusia T-90.

Wednesday, 9 December 2015

Hizbollah Tewaskan 9 Militan Al-Nusra

Indonesian Free Press -- Kelompok Hizbollah menewaskan sembilan anggota kelompok teroris Al Nusra dan seorang komandannya dalam sebuah serangan di dekat kota Arsal, di dekat perbatasan Suriah.

Situs berita al-Manar melaporkan, Rabu (9 Desember) bahwa para pejuang Hizbollah menyerang konvoi kelompok al-Nusra Front yang tengah berjalan di jalan raya di luar kota Arsal, Lebanon. Kota itu sendiri berjarak sekitar 124 kilometer di sebelah timur laut ibukota Lebanon, Beirut.

"Para pejuang Hizbollah membidik konvoi Al-Nusra Front yang membawa komandannya, Abu Firas al-Jubbeh... setelah sebelumnya mengamati dengan seksama pergerakan konvoi itu," tulis Al Manar.

Dalam serangan itu Jubbeh langsung tewas bersama tiga pengawalnya. Lima orang anggota Al Nusra lainnya tewas ditembak ketika berusaha menolong Jubbeh. Tembak-menembak juga melibatkana tentara Lebanon yang juga mengincar kelompok al-Nusra di wilayah itu.


Al Nusra adalah organisasi di bawah Al Qaida yang menjadi bagian dalam pemberontakan di Suriah yang telah berlangsung sejak tahun 2011 dan menelan nyawa lebih dari 200 ribu warga Suriah.

Iran Luncurkan Rudal Ballistik Pembawa Nuklir

Indonesian Free Press -- Iran berhasil meluncurkan rudal ballistik jarak menengah Ghadr-110 dalam ujicoba yang dilakukan di dekat Teluk Oman. Demikian laporan Fox News, Senin (7 Desember).

Para pejabat inteligen Amerika menyebutkan ujicoba itu dilangsungkan pada 21 November lalu di dekat kota pelabuhan Chabahar di provinsi Balochistan yang berbatasan dengan Pakistan dan di pinggiran Teluk Oman.

Rudal Ghadr-110 memiliki jangkauan hingga 2.000 km dan dipercaya mampu membawa hululedak nuklir. Rudal itu merupakan pengembangan dari rudal  Shahab 3, dan mirip dengan rudal presisi tinggi yang diujicoba pada 10 Oktober lalu yang mengundang kecaman sejumlah anggota Dewan Keamanan PBB.

"Amerika sangat khawatir dengan peluncuran rudal ballistik Iran baru-baru ini," kata Samantha Power, Dubes AS untuk PBB, usai peluncuran pada tanggal 10 Oktober lalu.

Tuesday, 8 December 2015

Penembakan Pesawat Tempur Rusia Blunder Besar Erdogan

Indonesian Free Press -- Tanggal 24 November lalu dunia dikejutkan oleh peristiwa penembakan pesawat tempur Rusia jenis SU-24 oleh pesawat tempur Turki di perbatasan negara itu dengan Suriah.

Dalam peristiwa itu pilot pesawat Rusia itu tewas ditembak pemberontak Suriah saat bergelantung di bawah parasutnya, sedangkan co-pilotnya berhasil diselamatkan oleh pasukan khusus Suriah yang bekerjasama dengan pasukan khusus Hizbollah di bawah komando jendral legendaris Iran, Soleiman.

Turki beralasan penembakan itu disebabkan pesawat Rusia tersebut telah melanggar wilayah udara Turki dan dianggap mengancam keamanan Turki. Klaim tersebut dibantah Rusia maupun Suriah yang menganggap pesawat tersebut tidak melanggar wilayah udara Turki, apalagi melakukan ancaman keamanan terhadap Turki.

Rusia bereaksi keras atas insiden tersebut. Presiden Vladimir Putin menyebut aksi itu sebagai aksi 'menikam dari belakang oleh kaki tangan teroris'. Dan seiring kengototan Turki yang menolak meminta ma'af, Rusia melakukan sejumlah aksi balasan yang 'cepat, tepat dan tegas'. Hanya beberapa jam setelah insiden itu Putin memerintahkan pengiriman sistem pertahanan udara paling canggih di dunia S-400 di Latakia, Suriah. Ini masih ditambah dengan kehadiran kapal perang terbesar Rusia 'Moskva' yang dilengkapi sistem pertahanan udara S-300 di lepas pantai Latakia.

Monday, 7 December 2015

“Papa Minta Saham” Mengungkap Kecurangan di Pilpres 2014

Indonesian Free Press -- Isi lengkap rekaman pembicaraan antara Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Maroef Sjamsoeddin, Ketua DPR RI, Setya Novanto dan pengusaha M Riza Chalid ternyata juga berisi tentang kecurangan pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla (Jokowi-JK) di Pilpres 2014 lalu.

Hal itu diungkapkan Wakil Ketua Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) dari Fraksi Gerindra, Sufmi Dasco Ahmad, sebagaimana dilaporkan situs  Pojoksulsel.com, Kamis (3 Desember).

Menurut Dasco Ahmad isi lengkap pembicaraan tidak hanya tentang pencatutan nama presiden dan wakil presiden oleh Setya Novanto, tetapi juga persoalan lain yang lebih dahsyat.

“Ini kalau dibuka tidak hanya masalah etik, tapi akan lebih dahsyat, akan ditemukan kecurangan pilpres yang bisa berujung impeachment,” kata Dasco.

Dia menegaskan, beberapa pembicaraan terkait kecurangan Pilpres 2014 oleh Jokowi-JK antara lain pemalsuan dana kampanye, sumbangan kampanye liar, pembelian suara pemilih di Papua lewat sistem noken, dan pengerahan Binmas kepolisian untuk mengarahkan pilihan masyarakat.

Iran Juga akan Bangun Pangkalan Udara dan Armada Tempur di Suriah

Indonesian Free Press -- Menyusul kabar tentang rencana Rusia membangun pangkalan udara baru di Suriah, media Kuwait Al-Rai melaporkan bahwa Iran juga bakal membangun pangkalan udara di Suriah yang diperkuat dengan dua skuadron tempur SU-25 yang dikenal sebagai pesawat serbu darat.

Mengutip laporan itu media Israel Jerusalem Post pada hari Minggu (6 Desember) menyebutkan bahwa skuadron tempur Iran itu akan ditempatkan di pangkalan udara Tiyas (T4) di dekat kota Homs, berdekatan dengan pangkalan udara Al-Shayrat yang akan digunakan sebagai pangkalan udara baru Rusia. (Lihat laporannya di sini)

Sementara itu media 'Lebanese NOW' yang juga melaporkan tentang pangkalan udara Rusia, melaporkan, "Partisipasi Iran (di Suriah) akan bertambah besar dengan adanya persiapan bagi kedatangan dua armada udara Iran."

Laporan itu berdasar keterangan sumber-sumber terpercaya koalisi Rusia, Iran, Irak, Suriah dan Hezbollah yang membangun ruang komando di Damaskus dan Baghdad. Menurut laporan itu Iran dan Rusia telah sepakat bahwa Rusia akan bertanggungjawab atas pemeliharaan dan perbaikan pesawat-pesawat Iran yang merupakan pesawat buatan Rusia. Rusia juga menyediakan persenjataan dan sistem peluncuran bagi pesawat-pesawat tempur Iran.

Sunday, 6 December 2015

Rusia akan Bangun Pangkalan Udara Baru di Suriah

Indonesian Free Press -- Rusia dikabarkan akan membangun pangkalan udara kedua di Suriah untuk menambah daya serangnya terhadap kelompok-kelompok pemberontak Suriah. Pangkalan udara ini berada di dekat kota Homs, yaitu pangkalan udara Shaayrat. Demikian laporan Business Insider tanggal 3 Desember lalu, dengan mengutip sejumlah sumber terpercaya di Suriah, .

Pangkalan udara baru ini dipercaya akan menampung helikopter-helikopter serang selain pesawat tempur. Rusia dikabarkan juga bakal mengirim helikopter tempur terbaiknya ke Suriah, Kamov Ka-52 'Alligator' dan Mil Mi-28N 'Night Hunter'.

"Fase persiapan bagi pangkalan udara Shaayrat telah hampir selesai. Ini akan disiapkan untuk menjadi pangkalan udara Rusia," kata sumber laporan itu seperti dilaporkan Business Insider.

Hal ini juga dibenarkan oleh kelompok pemantau konflik Suriah, Syrian Observatory for Human Rights (SOHR), yang mengatakan kepada AFP bahwa Rusia akan meningkatkan pangkalan udaranya untuk melakukan operasi udara di wilayah tengah dan timur Suriah.

'Rusia tengah membangun landasan-landasan pacu baru di pangkalan udara Shaayrat dan memperkuat wilayah di sekelilingnya untuk segera digunakan dalam operasi-operasi militer di wilayah Homs dan sekitarnya," kata Rami Abdel Rahman, pimpinan SOHR kepada AFP.