Monday, 11 April 2016

Rusia Sukses Konservasi Harimau Amur

Indonesian Free Press -- Rusia berhasil dalam melaksanakan konservasi Harimau Amur (Harimau Siberia) sehingga populasi harimau di dunia meningkat untuk pertama kalinya setelah berpuluh-puluh tahun terancam.

Bersama-sama dengan keberhasilan konservasi harimau di India dan  Nepal, jumlah harimau di dunia mengalami peningkatan, demikian seperti laporan World Wildlife Fund (WWF) yang dikutip Sputnik News, Senin (11 April).

Di Rusia sendiri, yang menjadi habitat bagi sekitar 95% Harimau Amur di dunia, jumlah harimau ini meningkat dari 360 menjadi 433 ekor. Namun di beberapa tempat lain yaitu di kawasan Asia Tenggara, jumlah harimau mengalami penurunan. Fakta-fakta ini akan dipaparkan di forum 'International Forum on the Preservation of Wild Tigers' (IFPWT) yang akan digelar di New Delhi, tahun ini.

Dalam pertemuan IFPWT terakhir di St. Petersburg tahun 2012, seluruh negara-negara peserta bertekad untuk meningkatkan jumlah harimau di dunia dari 3.200 ekor menjadi 6000 pada tahun 2022. Saat ini tujuan itu telah sebagian tercapai. Selain Harimau Amur di Rusia yang meningkat dari 360 menjadi 433, di Nepal jumlah Harimau Bengal naik dari 121 menjadi 198, dan di Bhutan Harimau Bengal naik dari 75 menjadi 103.

Sunday, 10 April 2016

Rusia Tuduh Turki Terlibat Konflik di Nagorno-Karabakh

Indonesian Free Press -- Perdana Menteri Rusia Dmitry Medvedev menuduh Turki terlibat dalam konflik di wilayah Nagorno-Karabakh.

"Ada satu negara yang berharap mendapatkan keuntungan dari konflik di Nagorno-Karabakh demi posisinya di Timur Tengah dan atas Rusia… Semua konflik pada saat tertentu bisa menjadi faktor untuk mengambil keputusan politik. Maka saya tidak bisa mengesampingkan bahwa ada faktor-faktor yang mempengaruhi sebuah konflik dari luar negeri. Anda berbicara tentang Turki. Faktor Turki mungkin ada, setidaknya karena Turki telah menyatakan posisinya (atas konflik Nagorno-Karabakh)," kata Medvedev kepada wartawan, Sabtu (9 April).

"Adalah lebih baik menjaga situasi aman daripada menumpahkan darah," kata Medvedev.

Medvedev juga mengecam Presiden Turki Tayyep Erdogan yang telah memprovokasi konflik dengan pernyataan-pernyataannya, daripada menyerukan perdamaian. Hal ini setelah Erdogan menyatakan dukungan kepada Azerbaijan dan menuduh Rusia berpihak dalam konflik Nagorno-Karabakh.

Saturday, 9 April 2016

STL, Konspirasi Lain Zionis Terhadap Hizbollah yang Gagal (2)

Indonesian Free Press -- Sebelum STL dibentuk, pembunuhan Rafiq Hariri ditangani oleh pengadilan sejenis, yaitu United Nations International Investigation Commission (UNIIIC). Namun kewenangan UNIIIC terbatas pada pengumpulan bukti-bukti dan membantu otoritas penegak hukum Lebanon dalam melakukan penyelidikan.

Sesuai dengan agenda politik zionis internasional dan dengan melalui penyelidikan sesat yang melibatkan saksi-saksi palsu, UNIIIC menyasar kepada Suriah dan para pejabat Lebanon sekutu Suriah. Hasilnya empat pejabat keamanan Lebanon ditangkap karena tuduhan keterlibatan pembunuhan Hariri.

Penyidikan UNIIIC, bersama-sama dengan kampanye anti Suriah yang dilakukan media massa dan pejabat-pejabat barat dan PBB, dan ditambah aksi-aksi massa anti-Suriah di Lebanon yang dilakukan kelompok-kelompok politik pro-Saudi Arabia/Amerika, berhasil memaksa Suriah untuk menarik seluruh pasukannya di Lebanon, yang berada di Lebanon sejak tahun 1980-an atas mandat Liga Arab untuk menjaga ketertiban dan integritas Lebanon setelah invasi Israel tahun 1982.

Penarikan pasukan Suriah membuka pintu bagi Israel untuk menyerang Lebanon tahun 2006 dengan tujuan menghancurkan infrastruktur Hizbollah. Gagal dengan serangan Israel, konspirasi zionis internasional kemudian memaksa pemerintahan Fuad Siniora yang pro-Saudi/Amerika untuk memprovokasi Hizbollah dengan menyita jaringan telekomunikasi milik Hizbollah, yang sangat vital untuk menghadapi Israel.

Friday, 8 April 2016

Istana Erdogan 4X Lebih Besar dari Versailles dan 30X dari Gedung Putih

Indonesian Free Press -- Raja Louis XVI dan Permaisuri Maria Antoneitte dihukum mati oleh rakyat Perancis dalam Revolusi tahun 1789, karena gaya hidup mereka yang boros dan super mewah. Namun dibandingkan Presiden Turki Tayyep Erdogan, raja dan permaisuri Perancis itu tidak ada apa-apanya.

Seperti dilaporkan Sputnik News hari Jumat (8 April), Erdogan kini tengah membangun kompleks tambahan untuk istananya dengan nilai $230 juta atau sekitar Rp 3 triliun. Padahal istana Erdogan sendiri sebelum dibangun kompleks tambahan, ukurannya sudah mencapai empat kali istana Versailles tempat tinggal Raja Louis dan Maria Antoneitte dan 30 kali lebih luas dari istana Gedung Putih tempat tinggal Presiden Amerika. Secara keseluruhan istana Erdogan dibangun dengan uang rakyat Turki senilai $7 miliar atau sekitar Rp100 triliun.

Menurut arsitek Turki, Tezcan Karakus Candan, biaya sebenarnya dari pembangunan tersebut lebih besar dari yang dikatakan pemerintah. Sementara pembangunan itu sendiri melanggar undang-undang.

“Biaya untuk kompleks tambahan yang bersebelahan dengan istana presiden akan melampaui 650 juta Lira Turki (hampir $230 juta) seperti yang diumumkan,” kata Candan, Ketua Chamber of Architects Turki kepada Sputnik News.

Istana Erdogan sendiri, yang diberi nama Aksaray, dibangun dengan biaya $750 juta atau sekitar Rp 1 triliun. Ditambah disain interior dan fasilitas-fasilitas terkait lainnya, istana ini menelan biaya sekitar $7 miliar, demikian Sputnik News. Istana ini dibangun di atas Ataturk Forest Farm di kawasan Bestepe, yang merupakan kawasan konservasi dimana dilarang dibangun bangunan.

Thursday, 7 April 2016

HARIMAU PEMANGSA TALLA DES


Indonesian Free Press -- SEMUA perburuan binatang pemangsa manusia yang dilakukan Jim Corbett dimotivasi oleh keingi­nan­nya untuk menolong sesa­ma manusia yang menderita oleh keberadaan binatang pe­mang­sa. Tentu saja ada motivasi lainnya, yaitu kemasyuran yang diperolehnya karena keberhasilannya membunuhi bina­tang-bi­na­tang pemangsa manusia yang termasyur seperti Ha­rimau Cham­­pawat, Macan Tutul Rudraprayag dan Macan Tutul Pa­nar. Na­mun tidak ada satupun dari belasan perburuan itu yang di­motivasi oleh keinginan mengakhiri hidup, sebagaimana da­lam perburuan Harimau Talla Des.
Bagi penggemar film tentu sudah pernah melihat film ‘Dances With Wolves’ yang dibintangi oleh aktor terkenal Kevin Cost­ner dan menjadi salah satu film yang paling banyak meraih peng­hargaan Oskar pada awal dekade 1990-an. Dalam film ini digambarkan bagaimana Letnan John Dunbar yang berputus asa dengan penyakit infeksi yang mengancam kakinya untuk di­amputasi, memutuskan untuk melakukan misi ‘bunuh diri’ de­ngan bertugas di wilayah terpencil yang berbatasan dengan wi­layah suku Indian Sioux yang ganas. Demikian juga dengan Jim Cor­bett dalam perburuan ini. Putus asa dengan penyakit infeksi di telinganya yang tidak bisa disembuhkan, Jim me­mutuskan untuk memburu Harimau Tella Des yang selama de­lapan tahun diketahui telah memangsa sekitar 150 orang.
Pa­da saat Jim berangkat dari rumahnya di Nainital, ia tengah ke­hilangan pendengaran dan penglihatan di telinga dan mata se­belah kirinya. Infeksi gendang telinga kirinya juga mem­bu­atnya ia tidak bisa menggerakkan lehernya, dan setiap langkah yang dibuatnya menimbulkan rasa sakit di kepalanya. Ini belum ter­masuk asupan makanan yang kurang akibat kesulitan me­ngu­nyah, membuat kondisi fisik Jim Corbett sangat tidak layak un­tuk melakukan perburuan, terlebih terhadap harimau yang te­lah me­mangsa 150 orang.

Skandal Kotor Bernama 'Panama Papers'

Indonesian Free Press -- Minggu lalu situs Veterans Today melaporkan tentang agen dinas rahasia Turki, Sawash Yeldiz, dalam interogasi yang dilakukan kelompok Popular Party of Kurdistan (PPK) yang menangkapnya, mengungkapkan kaitan antara Presiden Erdogan dengan serangan Brussels.

Akibat informasi ini, Sekretaris Jendral European Department for Security and Information (DESI), Haissam Bou Said, yang dianggap bertanggungjawab atas bocornya informasi ini, diancam oleh inteligen Israel yang diduga terlibat dalam serangan Brussels.

Ini adalah konekuensi nyata atas bocornya sebuah informasi yang sensitif. Dalam banyak kasus lain, puluhan atau bahkan ribuan, orang-orang dibunuh secara misterius karena dianggap membocorkan informasi penting.

Dalam minggu ini dunia digemparkan oleh skandal 'Panama Papers', yaitu bocornya informasi tentang orang-orang atau lembaga yang terlibat dalam bisnis keuangan dengan konsultan keuangan Mossack Fonseca yang berbasis di Panama, Amerika Latin. Dan meski bocornya informasi tersebut memiliki konsekuensi luas, termasuk kredibilitas Mossack Fonseca, perusahaan ini dengan santai berdalih bahwa mereka hanya menjadi korban peretasan. Tidak ada informasi tentang siapa yang melakukan peretasan.

Bagi yang sedikit saja faham tentang teknologi informasi, setiap tindakan peretasan selalu meninggalkan jejak. Dan jika Mossack Fonseca serius, mereka akan memburu peretas tersebut 'sampai titik darah penghabisan'. Dibantu oleh negara-negara dan tokoh-tokoh yang turut dirugikan oleh bocornya informasi tersebut, keberadaan peretas tersebut tidak akan lama untuk diketahui.

Wednesday, 6 April 2016

Rusia akan Bentuk Satuan Garda Nasional Berkekuatan 430.000 Personil

Indonesian Free Press -- Presiden Rusia Vladimir Putin, hari Selasa kemarin (5/4) mengumumkan rencana pembentukan pasukan Garda Nasional yang akan bertugas menangani masalah terorisme, kejahatan terorganisir dan menjaga ketertiban sosial.

Seperti dilaporkan Sputnik News, Rabu (6/4), pengumuman itu disampaikan Putin dalam pertemuan dengan para pejabat keamanan Rusia. Satuan paramiliter baru ini dibentuk di luar Kementrian Dalam Negeri yang juga memiliki pasukan serupa, Internal Troops, namun keduanya akan bekerjasama dengan erat. Kementrian Dalam Negeri juga membawahi kepolisian.

Tugas Garda Nasional, sebut Putin, mencakup tugas-tugas yang pernah diemban oleh unit OMON dan SOBR, pasukan khusus gerak cepat yang tugasnya menjaga ketertiban sosial dan membantu polisi menangani situasi darurat. Namun, tugas khusus Garda Nasional mencakup juga menangani masalah terorisme, menjaga fasilitas-fasilitas vital dan mencegah konflik bersenjata institusi-institusi bersenjata domestik. Satuan ini juga bertanggujawab menjaga keamanan perbatasan.

Tuesday, 5 April 2016

STL, Konspirasi Lain Zionis Terhadap Hizbollah yang Gagal

Indonesian Free Press -- The Special Tribunal for Lebanon (STL), atau disebut juga sebagai 'Pengadilan Hariri', adalah pengadilan internasional khusus yang dibentuk untuk menangani kasus pembunuhan Rafik Hariri, mantan perdana menteri Lebanon yang tewas bersama 22 orang lain oleh serangan bom pada tanggal 14 Februari 2005.

Meski disebut sebagai 'Pengadilan Hariri', pengadilan ini sebenarnya lebih tepat disebut sebagai 'Pengadilan Hizbollah' karena motif politik di baliknya untuk menghancurkan kelompok perlawanan anti-Israel tersebut.

Untuk mengetahui hakikat pengadilan ini sebagai alat kepanjangan zionis internasional kita harus melihat latar belakang pembentukannya. Sebelum insiden bom yang menewaskan Hariri, Lebanon adalah sekutu sangat dekat dengan Suriah. Tidak hanya kedekatan politik sebagai sesama negara Arab yang terancam oleh keberadaan Israel, kedua negara memiliki hubungan kultural dan sosial yang erat. Saking dekatnya, ada partai politik cukup kuat di Lebanon yang menggunakan nama Suriah: Syrian Social Nationalist Party.

Secara politik, mayoritas kekuatan politik di Lebanon adalah sekutu Suriah. Pada saat itu pejabat Presiden, Ketua Parlemen, panglima angkatan bersenjata, kepala kepolisian, dan sebagian besar menteri adalah sekutu Suriah. Ditambah keberadaan Hizbollah sebagai sekutu militer Suriah melawan Israel, maka persekutuan Lebanon dan Suriah seakan menjadi 'batu karang' di hadapan zionis internasional.

Namun, untungnya bagi zionis, mereka juga memiliki sekutu di Lebanon, melalui kelompok-kelompok politik yang dekat dengan Saudi Arabia, Amerika dan Perancis sebagai negara bekas penjajah Lebanon yang secara kultural dan politik sangat berpengaruh di Lebanon, terutama di kalangan elit negara itu dan di kalangan orang-orang Kristen. Latar belakang inilah yang melahirkan STL.

Monday, 4 April 2016

Sentil Tokoh Reformis, Khamenei Tegaskan Masa Depan Iran Tergantung pada Kekuatan Rudal

Indonesian Free Press -- Pemerintahan Presiden Rouhani bisa saja mengklaim berhasil memaksa Amerika dan sekutu-sekutunya untuk menerima program nuklir Iran sekaligus mencabut sanksi ekonomi. Namun dengan implementasi yang masih belum sepenuhnya berjalan dan ancaman-ancaman sanksi yang terus dikeluarkan Amerika, pernyataan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Khamenei sangat patut dihargai tinggi.

"Mereka yang percaya bahwa masa depan Iran tergantung pada negosiasi dan bukan rudal, maka mereka adalah bodoh atau pengkhianat," kata Khamenei di situs resminya hari Rabu (30 Maret).

“Jika Republik Islam Iran mengejar negosiasi daripada kekuatan pertahanan, maka Iran sudah harus menyerah pada negara lemah," tambahnya.

Pernyataan ini tampak sekali ditujukan pada mantan Presiden Akbar Hashemi Rafsanjani, tokoh yang diketahui sebagai pemimpin kelompok 'moderat', yang minggu lalu mengatakan di akun Twitternya bahwa "masa depan Iran ada pada dialog, bukan rudal". Presiden Rouhani juga termasuk dalam kelompok 'moderat', yang dalam peta politik Iran terlibat persaingan sengit dengan kelompok 'garis keras' yang dipimpin Khameini. Kelompok moderat menghendaki pendekatan dialog dengan Amerika sementara kelompok garis keras menolak dialog selama Amerika tidak mengubah kebijakan politiknya di Timur Tengah.

Friday, 1 April 2016

Bagaimana Turki dan Konspirasi Imperium-Zionis Menghancurkan Brussels

Indonesian Free Press -- Hanya berselang beberapa hari setelah Presiden Turki Thayyep Recep Erdogan mengingatkan tentang serangan teroris di jantung Eropa, beberapa bom meledak di kota Brussels, ibukota Uni Eropa, menewaskan lebih dari 30 orang dan melukai ratusan orang.

Mengapa Erdogan bisa meramalkan dengan tepat serangan tersebut?

Tentu saja ia tahu, karena Turki memang terlibat dalam serangan itu.

Menurut laporan wartawan senior dan pengamat inteligen Gordon Duff, di situs Veterans Today, tanggal 25 Maret lalu,  tersangka pelaku serangan, Barkouri, adalah agen inteligen yang direkrut Turki saat bergabung dengan pemberontak Suriah di Raqqah. Setelah direkrut, ia dilepaskan ke Belanda dengan pesawat komersial.

Di Belanda, Barkouri 'diamankan' ICTS, perusahaan jasa keamanan milik warga Israel yang menangani bandara bandar-bandara utama di Eropa. Ia sama dengan teroris Umar Farouk, yang diterbangkan ICTS dengan maskapai Northwest nomor penerbangan 253 di Amsterdam pada Hari Natal 2009, tanpa tiket dan passport, di kursi Kelas Utama.

Ya, teroris Barkouri yang berpassport Belgia, ditangkap inteligen Turki di Suriah. Namun ia tidak dipenjara, bahkan diterbangkan dengan pesawat komersial ke Belanda untuk melakukan aksi terorisme di Belgia.