Sunday 10 June 2018

Rusia Sukses Ujicoba Rudal S-500

Indonesian Free Press -- Rusia dikabarkan berhasil melakukan ujicoba sistem pertahanan udara terbarunya, S-500. Senjata baru ini berhasil menembak sasaran pada jarak 300 mil, lebih jauh dari rekor sebelumnya sejauh 250 mil yang pernah dicatat oleh sistem pertahanan udara S-400.

CNBC News adalah media Amerika pertama yang melansir kabar tersebut dengan menyebutkan sumbernya dari inteligen Amerika yang berurusan dengan teknologi militer Rusia. Selanjutnya kabar ini diperkuat oleh laporan situs militer The War Zone, 24 Mei lalu. Namun tidak disebutkan lokasi dan waktu dari ujicoba tersebut.


"Sistem pertahanan udara ini dilaporkan berhasil menembak jatuh sasaran pada jarak 300 mil (480 km). Ini adalah keberhasilan pemecahan rekor yang mengindikasikan perkembangan signifikan program ini, yang telah berkali-kali mengalami penundaan sebelumnya," tulis The war Zone.

"Jika sistem ini benar-benar telah dioperasikan maka akan meningkatkan kemampuan pertahanan (anti-access and area denial capabilities) Rusia di Eropa, Asia Timur dan dimanapun, meski harus tertunda beberapa tahun," tambah The War Zone.

Sistem pertahanan udara yang dikenal dengan sebutan Triumfator-M atau  Prometheus ini diketahui telah mengalami perkembangan aktif sejak tahun 2009, namun belum banyak diketahui kemampuan sebenarnya. Namun, media-media Rusia mengklaim senjata ini akan bisa menembak sasaran pada jarak 370 mil (590 km). Senjata ini diklaim mampu menembak segala bentuk senjata lawan sekaligus, mulai dari pesawat terbang, drone, peluru artileri, rudal jelajah hingga rudal ballistik. Yang terakhir adalah sasaran paling sulit karena terbang ke sasaran dengan kecepatan hipersonik (di atas 5.000 km per-jam). Rusia juga mengklaim senjata ini bisa melecak pesawat-pesawat siluman (stealth) lawan tanpa kesulitan, dan menembaknya jatuh. Kemampuan serupa diklaim Rusia untuk rudal-rudal pendahulunya, S-300 dan S-400.

Menurut The War Zone, S-500 mirip dengan sistem pertahanan udara THAAD (Terminal High Altitude Area Defense) Amerika yang bakal dipasang di semenanjung Korea, namun dengan banyak kelebihan. Karena THAAD hanya digunakan untuk menangkal rudal ballistik dan hanya efektif saat rudal lawan berada di titik tertinggi, dimana saat itu kecepatannya berkurang signifikan.

Diperkirakan juga Rusia akan membangun S-500 versi angkatan laut yang bisa ditempatkan di kapal-kapal perang Rusia. Dua varian S-500, 77N6-N dan 77N6-N1 diarahkan sebagai pertahanan kapal perang, sebagaimana Aegis milik Amerika.

The War Zone menyebut bahwa militer Rusia telah memesan setidaknya 5 batere S-500 untuk dioperasikan tahun 2020 mendatang.(ca)

1 comment:

Kasamago said...

Akan lebih mematikan bila S500 digunakan untuk pre emptive strike bukan sebatas defence..