Saturday, 16 October 2010

Sang Terpilih (3)


Keterangan gambar: El Diablo Sign


Kesombongan dan keangkuhan memang watak dasar orang yahudi. Bahkan para pemandu wisata di pegunungan Himalaya maupun di taman margasatwa Serenggeti Tanzania, tahu hal itu. Mereka mengenal orang-orang yahudi dari keangkuhan mereka sebagaimana jorok serta pelitnya mereka memberikan tips.

Jangankan kepada goyim, alias binatang ternak, julukan orang yahudi untuk orang-orang bukan yahudi. Kepada sesama yahudi saja mereka saling berlagak. Orang yahudi sephardin mengejek yahudi ashkenazi dengan julukan "kike" dan orang yahudi ashkenazi mengejek yahudi falasha sebagai budak. Persaingan antara orang-orang yahudi sephardin dengan ashkenazi bahkan berujung pada Perang Krim dan Perang Dunia I karena niat orang-orang yahudi ashkenasi Jerman membangun jalur kereta api Berlin-Baghdad mengancam dominasi laut orang-orang yahudi sephardin Inggris. Baru setelah Napoleon dan Hitler mengancam kepentingan bisnis mereka, orang-orang yahudi itu bersatu.

Sebenarnya orang-orang yahudi itu bukan orang yahudi yang sebenarnya sebagai keturunan Ibrahim, Musa dan Daud. Orang-orang yahudi sephardin dan ashkenazi adalah keturunan orang-orang Khazar yang berasal dari sekitar Laut Kaspia. Sedangkan orang-orang yahudi falasha adalah orang-orang kulit hitam keturunan Ratu Sheba dari Ethiopia. Orang-orang yahudi keturunan Ibrahim yang sebenarnya justru orang-orang Palestina.

Oh ya, Subagyo memang banyak membaca sejarah orang-orang yahudi karena suatu peristiwa yang sangat penting dalam hidupnya. Tidak lama setelah peristiwa pesta di rumah senator yang berakhir di ranjang sebuah hotel dengan seorang pelacur, Subagyo mendapat undangan untuk mengikuti sebuah "acara yang sangat eksklusif", demikian teman Subagyo yang anak senator terkenal itu menyebutnya. "Hanya orang-orang penting dan pilihan saja yang bisa mengikuti acara ini," kata teman Subagyo.

Ternyata Subagyo "dipaksa" menjalani inisiasi (perploncoan) sebagai anggota sebuah organisasi freemason. Awalnya ia menolak saat diharuskan berpakaian wanita dan bertingkah laku seperti monyet. Namun setelah diperlihatkan video rekaman perselingkuhannya dengan pelacur di hotel tempo hari, ia tidak punya pilihan lain. Apalagi setelah sang senator kemudian menjanjikan untuk menjadikan Subagyo sebagai orang nomor satu di Indungsia.

Saat ditanya mengapa dirinya yang dipilih, sang senator menjawab bahwa Subagyo memiliki darah suci yahudi yang diturunkan dari Snouck Horgronje.

Orang Indungsia tentu tidak banyak yang tahu bahwa setelah kolonialis Belanda berhasil menundukkan orang-orang Islam yang militan di sebuah propinsi yang menolak dijajah, Snouck Horgronje kembali ke negeri asalnya dengan meninggalkan beberapa istri dan anak-anak. Setibanya di Belanda ia kembali memeluk agama Katholik. Jasadnya pun kini berbaring di pemakaman Katholik. Namun sebenarnya ia tidak pernah betul-betul memeluk Katholik, karena diam-diam ia tetap melakukan ritual-ritual penyembahan berhala sebagaimana dilakukan leluhurnya.

Apa yang membuat Jendral Subagyo termenung setelah menjalani "fit & propher test" adalah karena ia diharuskan melakukan selebrasi "el diablo sign" saat berpidato menyambut kemenangan pemilihan presiden. "Organisasi" memang menjamin ia akan memenangkan pemilihan presiden dalam satu putaran. Tentu saja karena peralatan komputer yang digunakan komisi pemilihan umum dibuat di Israel, sebagaimana juga alat-alat penghitungan suara yang digunakan di Amerika dan negara-negara barat lainnya.

Menurut perhitungan Subagyo, terlalu beresiko melakukan tanda "el diablo". Karena internet, kini sudah terlalu banyak orang awam yang tahu kalau tanda itu hanya dilakukan oleh para penyembah berhala. Dan resiko itu, di Indungsia khususnya, sangat besar mengingat fanatisme agama rakyat yang masih sangat tinggi. Subagyo ingat bagaimana orang-orang komunis, yang tidak lain adalah binaan "organisasi", dibantai rakyat tahun 1960-an setelah terbongkar kedoknya.

Maka ia mengusulkan cara lain untuk menunjukkan kesetiaannya pada "organisasi".

Bersambung ........

No comments: