Tuesday, 7 January 2014

Fakta Jokowi... Antara Cerita Fiksi Dan Penghargaan Imitasi Untuk Genjot Pencitraan

Dicopas dari:
radennuh; suaranews.com; 8 Januari 2014



Ketika pilkada DKI putaran kedua berlangsung pada Juli 2012 lalu, sempat muncul berita mengagetkan mengenai fakta sebenarnya kondisi hidup dan tingkat kesejahteraan rakyat Kota Solo, yang jaun berbeda dengan pemberitaan hasil rekayasa tim sukses Jokowi. Fakta kemiskinan yang membelenggu sebagian rakyat Solo ditutupi dengan cerita – cerita fiksi dan penghargaan imitasi untuk menggenjot citra Jokowi.

Sokongan dana kampanye yang luar biasa besar, berasal dari berbagai kalangan terutama komunitas cina dan konglomerasi cina, mampu menutupi semua kondisi mengenaskan dan kenyataan sebenarnya seputar kinerja buruk Jokowi selaku walikota Solo dan kemiskinan yang menjerat warga Solo.

Namun kini, sesuai pengakuan Walikota Solo FX Hadi Rudyatmo sendiri yang banyak dimuat media lokal, kenyataan pahit derita rakyat miskin Solo selama dipimpin Jokowi kurang lebih 7 tahun mulai mencuat ke permukaan.

Kota Surakarta di Jawa Tengah yang dikenal dengan nama Solo akan memerlukan 2 dekade untuk menghapuskan kemiskinan dengan keterbatasannya khususnya sejak jumah penduduk yag berada di bawah garis keiskinan telah meningkat dalam kurun waktu 4 tahun terakhir, menurut penjelasan seorang pejabat setempat.

Sekretaris Wilayah Tim Koordinasi untuk Penghapusan Kemiskinan (TKPKD) Shemmy Samuel Rory menyatakan untuk tahun 2010 saja terdapat 125 ribu rakyat yang berada di bawah garis kemiskinan dari jumlah penduduk 500 ribu. Angka ini meningkat terus menjadi 130 ribu (2011), 133 ribu (2012) dan 163 ribu (2013).

“Surakarta memerlukan waktu penuh satu generasi untuk menghapuskan kemiskinan,” demikian Shemmy.

Shemmy menambahkan, meskipun jumlah resmi penduduk ota Surakarta yang berada di bawah garis kemiskinan sejumlah 160 ribu namun angka yang riel mencapai 190 ribu. Ini belum termasuk anak-anak yang baru lahir yang sering turut menambah penduduk miskin di kota asal Jokowi itu.

“Idealnya, jumlah penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan dapat dikurangi 1 persen setiap tahun, tetapi sulit untuk benar-benar menghapus kemiskinan dalam waktu 20 tahun,” jelas Shemmy

Dia juga mengingatkan agar pemerintahan kota Surakarta jangan gampang berpuas diri dengan program penghapusan kemiskinan yang ada dan tidak mengukur keberhasilan hanya dari kacamata anggaran yang dikeluarkan.

Sedang Walikota Surakarta FX Hadi Rudyatmo secara terpisah menyatakan bahwa memang benar-benar terdapat rakyat yang belum terjangkau oleh program penghapusan kemiskinan pemerintahan kota. Rudy setuju dengan evaluasi dan pemetaan kembali agar terus dilakukan untuk memstikan tidak seorangpun yang berada di bawah garis kemiskinan terlewatkan.

Rudy menyatakan Pemkot Solo telah menargetkan 7 % pengurangan kemiskinan di tahun 2014, satu persen lebih rendah daripada angka tahun yang lalu.

“Saya kira target ini cukup realistis untuk tahun 2014,” kata Rudy.

Tahun lalu Pemkot menjalankan 5 program untuk mengurangi kemiskinan. Di dalamnya termasuk bantuan pendidikan untuk penduduk Surakarta (BPMKS), pemeliharaan kesehatan (PKMS), bantuan beras untuk orang miskin (Raskinda), penguburan gratis, dan program kesejahteraan sosial.

Tahun yang lalu, sektor pendidikan menerima dana sebesar Rp 23 milyar dalam APBD untuk program BPMKS, yang menarget lebih dari% 35 penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan.

Sektor kesehatan menerima alokasi anggaran Rp. 7,9 milyar untuk PKMS sementara untuk program Raskinda dihabiskan dana Rp. 2 milyar untuk membantu 17.500 penduduk. Sedang untuk program penguburan gratis, Pemkot mengalokasikan dana sebesar Rp 71,5 juta, sementara untuk program Bansos dialokasikan dana Rp. 300 juta.

Kesimpulannya, Walikota Solo Rudyatmo kini berjuang keras mengurangi jumlah kemiskinan warga Solo paska ditinggal pergi Jokowi yang sekarang sibuk mematut – matut diri menjadi calon presiden di Jakarta, sedangkan rekam jejaknya yang begitu hitam pekat di Solo sudah mulai terbuka dan diketahui rakyat banyak.

Kondisi faktual seputar Jokowi perlu diungkap secara luas agar diketahu rakyat Indonesia di tengah-tengah gencarnya gejolak di PDIP yang menekan, mendesak bahkan memaksa Megawati bersedia mengumumkan Jokowi secara resmi sebagai calon presiden yang diusung PDIP pada tanggal 10 Januari 2014 atau bertepatan dengan peringatan hari ulang tahun / hari
lahir PDIP.

Megawati yang kini sedang dikepung dari delapan penjuru mata angin oleh kelompok pendukung Jokowi dan para kolaboratornya, perlu memperkokoh keyakinannya bahwa ” kekuatan hitam di belakang Jokowi adalah musuh nyata PDIP dan NKRI”, yang berencana tidak hanya bersatu padu dalam konspirasi menggolkan ‘Boneka Jokowi’ untuk kepentingan pemilu 2014, tetapi juga berupaya menggusur trah Soekarno dari perpolitikan PDIP atau kudeta terhadap Megawati dan pembersihan partai dari unsur keluarga Bung Karno.

Agenda tersembunyi kelompok pendukung Jokowi yang sekarang mudah terbaca itu, menyebabkan mereka tidak peduli pengumuman resmi Sekjen PDIP Tjahjo Kumolo (jubir bu Mega) yang menegaskan PDIP hanya akan mengumumkan capres usungan PDIP paling cepat pada April 2014 atau setelah perhitungan suara hasil pemilu diumumkan.

Semua media pers, memuat hasil survei abal-abal (karena hasilnya berbeda drastis), ada yang bilang Jokowi didukung 62 persen, tetapi ada pula yang bilang 27 persen) kita tidak tahu yang mana yang kredibel. Ini juga dibenci bu Mega, kok nada media ini seragam kompak, padahal biasanya sulit menjual berita PDIP kepada media.

Lebih parah lagi, aksi – aksi bernada mengancam perpecahan partai, seperti ancaman pembentukan PDIP versi Jokowi atau ancaman keluar dari PDIP yang dilontarkan oleh segelintir orang yang tak dikenal tetapi mengaku sebagai kader PDIP tulen.

Mengapa kini begitu gencar, Kompas, dan semua media mainstream kini total mendukung Jokowi. CSIS yang biasanya netral dan akurat, tetapi kini gencar sekali mendukung PDIP, begitu pula dengan Jakarta Post, yang biasanya akurat, namun kini di jajaran top wartawannya bahkan di tingkat editorial mendesak-desak Megawati untuk mengumumkan Jokowi. Ada apa? Megawati jelas sangat paham gejala apa yang sedang terjadi.

Kadang Megawati disebutkan tersenyum – senyum sendiri menyaksikan rekayasa opini melalui pemberitaan media massa bayaran yang memuat berita konyol tak masuk akal seperti : Jokowi tidak jadi capres, golput akan mencapai 75%, Seluruh rakyat membutuhkan Jokowi, Jokowi jadi presiden sudah kehendak Tuhan, bahkan sampai ada berita yang menyebutkan Jokowi sebagai titisan atau penjelmaan Bung Karno.

Pemuatan berita – berita konyol seperti itu, mau tidak mau harus diakui cukup menghibur dan membuat Megawati tertawa terbahak – bahak. Sangat mungkin, media – media massa itu terpaksa memuat berita “ajaib dan spektakuler” di seputar diri Jokowi untuk membuat Megawati terkesan sehingga mau menyetujui pencapresan Jokowi.

Maksud dan tujuan kelompok pendukung Jokowi terkait nasib bangsa dan negara ini ke depan, sudah dipahami dari sejak awal oleh Megawati. Sangat kasat mata terlihat begitu besarnya uang bermain di belakang tim Jokowi. Untuk apa? tidak usah menjadi pakar atau analis jempolan, di era “semua bayar” sekarang ini uang memainkan peranan sentral, terutama dalam rangka menciptakan Jokowi dari seorang yang biasa – biasa saja, menjelma menjadi super hero dengan ratusan labeling pemujaan terhadap dirinya.

No free lunch”, kata politisi. Inilah yang terjadi, dukungan dengan triliunan rupiah itu bukan “something for nothing” tetapi “something for ‘something’”. Apa itu? Megawati telah menjawabnya sendiri.

Berita di atas yang kami kutip dari Jakarta Post, sangat berbeda dengan pendapat jajaran pimpinan redaksi Jakarta Post, karena tidak semua wartawan dapat dibayar. Masih banyak wartawan yang jujur, memegang teguh kode etik jurnalistik dan tujuan kebenaran pers sebagai pilar demokrasi.

Meskipun kecil skala pemberitaannya, namun kami anggap penting, sesuai dengan misi kami untuk mengungkapkan kebenaran, betapapun kami dianggap ‘menantang arus’. Seperti kata orang orang Batak yang memegang falsafah “Habonaran do Bona” artinya kebenaran itu hakiki, pada akhirnya terungkap jika manusia memegang nurani. Nurani kebenaran itu tidak bisa dibantah, meskipun sekarang kurang populer di tengah-tengah maraknya pemberitaan dan dukungan kepada Jokowi yang semua diciptakan sama seragam memuja – muja Jokowi dengan sejuta alasan tak masuk akal dan menghina kecerdasan bangsa Indonesia.

Kami tidak ingin negeri indah ini tergadai karena kebohongan dan berbagai konspirasi yang ada di belakangnya siap untuk merampok, meluluhlantakan dan menghancurkan NKRI, apalagi berkaitan untuk memilih pimpinan nasional pasca SBY yang memerlukan pemimpin sejati yang tidak sekadar blusukan dan pencitraan ‘kejujuran, apa adanya” karena memang ‘tidak jujur’ dan ‘tidak apa adanya’ jika kita berpegang pada kebenaran.


10 comments:

MasMaoe said...

saya membaca ini sebagai framing issue, yang sangat wajar terjadi dalam kontestasi politik...

ismahli zain said...

dukunglah capres yang bisa menegakkan syariat islam selama dia memimpin...figur pemimpin yang taat beragama dan takut dosa...
'sungguh terlalu..'kalo kita sampai memilih orang kafir sebagai pemimpin
begitulah maksud bang haji rhoma saat menyampaikan dakwah menjelang pemilihan cagub dan cawagub jakarta yang akhirnya dimenangkan oleh jokowi ahok(kafir)..
apakah nanti kita akan memilih capres atw cawapres yang kafir lagi..?
wallahualam bis showab

Indra Pamungkas said...

jangan mengkafirkan orang, apakah anda tahu persis pak jokowi itu kafir?
hanya Allah yang berhak menilai siapa yang kafir dan siapa yang bukan kafir.

newbie2013 said...

22% dari 100% bukanlah angka yg buruk. Berarti ada 78% warga solo yg memiliki kehidupan yang layak bukan bgitu ?

Riza Ahmad NN said...

yang 25% penghasilan di bawah berapa perbulan, bekerja di sektor apa?
miskin ga bisa makan, sekolah, akses kesehatan dan tempat tinggal, atau yang ga bisa beli rumah/mobil?
komparasi tingkat kemiskinan sebelum dan sesudah jokowi bagaimana?

Ecoo Nzr said...

Cara bicara menjelek jelekan orang lain bukanlah cara berbicara seorang muslim

Feri Ugalz said...

namanya juga plesetan politik...
cuma retorika, ngga ada data ngga ada fakta.

ada lagi yg bilang kapar-kapir... udh ngerasa semua ibadahnya diterima?
apa elu yg paling suci jadi bisa bilang orng lain kapir?

Arif Puryanto said...

dilihat dulu apa yg akan dikerjakan beliau dijakarta, apa memang semudah yg dibayangkan atau hanya sebuah pencitraan.
bekerjalah sekuatmu, dan jangan berhenti sebelum selesai. jangan sampai berhenti ditengah jalan dengan alasan ada tanggungjawab yg lebih besar.

untuk forum umum jangan sampai membawa- bawa keyakinan (agama), ada forum tersendiri. pakailah logika dan argumen yg lebih bijak.



Agan jengkol said...

tiap ane post comment knape hilang trs setelah bbrapa hari yaaah,....????

Ipan Mr said...

ssstt ini ane ada bocoran cara ngalahin "kedigjayaan" bung jokowi, semoga berhasil yah.
cekidot! http://news.detik.com/read/2014/01/15/095655/2467314/103/1/resep-manjur-menumbangkan-keperkasaan-jokowi