Saturday, 18 January 2014

Parlemen Eropa Tolak Penghormatan untuk Sharon

Para anggota parlemen Eropa menolak mengheningkan cipta selama semenit untuk kematian Ariel Sharon. Mengutip situs berita Palestina Press, dilaporkan bahwa parlemen Eropa menyebut kebiadaban Sharon membantai rakyat Palestina sebagai alasan penolakan tersebut.

Dalam rapat pembukaan parlemen yang berlangsung di Prancis, seorang anggota parlemen partai liberal radikal meminta agar hadirin mengheningkan cipta selama semenit untuk menghormati Ariel Sharon. Permintaan ini kontan membuat marah wakil Republik Cheko. Ia berkata bahwa permintaan ini tak bisa diterima karena Sharon bertanggung jawab atas pembantaian ribuan orang Palestina. Perdebatan verbal ini membuat Martin Schulz, Ketua Parlemen Eropa, memutuskan untuk menolak mengheningkan cipta selama semenit bagi Sharon.

Para petinggi zionis, khususnya Sharon, dibenci begitu rupa hingga para anggota parlemen Eropa sekalipun enggan mengheningkan cipta untuknya. Menarik diketahui bahwa setelah Sharon dikuburkan, harian Israel, Maariv, baru-baru ini menulis bahwa berlawanan dengan harapan para pejabat tinggi Israel, ribuan warga Israel memboikot upacara penguburan ini.

Menanggapi kematian Sharon, Washington Post menulis bahwa berbalik dengan sangkaan orang-orang Israel, bukan warga Palestina saja yang gembira atas kematian Sharon dan merayakannya, tapi di Israel sendiri, banyak orang Yahudi yang juga turut bersuka cita.

Perlu diketahui bahwa Sharon adalah algojo pembantaian di Sabra dan Shatila. Ia dikenal dengan julukan ini karena telah membantai ribuan orang Palestina dan Arab di selatan Beirut dan di tempat-tempat lainnya di Lebanon selama serbuan Israel tahun 1982. Pada tanggal 11 Januari 2014, dalam usia 85 tahun, ia pun tewas setelah 8 tahun mengalami koma.

Selain warga Palestina yang bermukim di Gaza, Tepi Barat, dan tanah-tanah pendudukan, sejumlah orang Yahudi yang tinggal di tanah-tanah pendudukan juga bersukacita atas kematian Sharon karena telah membongkar puluhan pemukiman ilegal yahudi pada tahun 2005, meski selama kepemimpinannya jumlah pemukiman ilegal yahudi di wilayah pendudukan mengalami kenaikan pesat. Mereka menyebutnya sebagai pelajaran bagi para petinggi Zionis yang berani “kurang ajar” terhadap para pemukim yahudi.

Organisasi dan kelompok-kelompok pendukung HAM menyayangkan kematian Sharon karena Algojo Sabra dan Shatila ini dikuburkan tanpa diadili terlebih dahulu.


Rezim Zionis Balas Memanggil Para Dubes Eropa

Sementara itu menyusul dipanggilnya dubes-dubes Israel di sejumlah negara Eropa, sebagai protes atas dilanjutkannya pembangunan pemukiman Yahudi, kemenlu rezim Zionis Israel balas memanggil para dubes negara-negara tersebut di Israel.

Menurut laporan ISNA, yang dinukil dari harian berbahasa Ibrani  Yedioth Ahronoth, Evigdor Lieberman, Menlu Israel, pada hari Jumat (16/1), memanggil dubes Inggris, Prancis, Italia, dan Spanyol sebagai protes atas kebijakan “cari muka” Uni Eropa terhadap Israel. Tindakan ini dilakukan Lieberman sebagai balasan atas tindakan serupa yang dilakukan negara-negara tersebut, sebagai protes mereka atas pembangunan pemukiman Yahudi di tanah pendudukan.

Dalam laporan ini disebutkan, dalam pertemuan dengan para dubes negara-negara terpenting Uni Eropa ini, Lieberman menyatakan sikap Israel terkait kebijakan para pemimpin negara-negara tersebut. Para pejabat rezim Zionis yang murka atas kebijakan itu, mengecam Uni Eropa karena telah bertindak untuk “mencari muka”, alih-alih berusaha mewujudkan perdamaian.

Sehubungan dengan ini, PM Israel, Benyamin Netanyahu, menyebut Uni Eropa sebagai “tukang pamer” dan menuduh mereka menggunakan standar ganda terhadap Israel.



Keterangan: tulisan asli dari situs liputanislam.com tgl 18 Januari 2014

2 comments:

ibnu Taher said...

eropa saja menjadi sekutu 'abadi'israel ogah kasih penghormatan, apalagi dunia internasional yg msh peduli akan perdamaian dn keadilan

heri said...

israel hanyalah kanker di dunia yg hrs dibersihkan,..tidak ada negara bernama israel..yg ada adalah palestina...