Saturday, 11 March 2017

MASIHKAH NU SEBAGAI ORGANISASI KEAGAMAAN?

Oleh: KH A. Musta’in Syafi’i*

Indonesian Free Press -- Keputusan pemuda NU Jakarta dalam Pilgub DKI untuk NETRAL. Identik dengan para kyainya di jajaran Syuriah yang hingga kini membisu soal ini. Tak heran, siapa dulu dong bapaknya?

Artinya:
1. Rupanya, Penguasa NU sekarang tidak menganggap NASHBUL IMAM sebagai bagian dari agama, sehingga tidak masalah umat nahdliyin dipimpin nonmuslim. Lalu apa gunanya kyai sebagai pewaris Nabi? Pernahkah nabi, para sahabat, tabi’in, al-salaf al-shalih, kyai-kyai pendiri NU membiarkan nonmuslim menguasai umat Islam? Sebagai muslim, penjajah ditumpas bukan semata karena membela negara, tapi lebih karena agama. Makanya ada istilah perang SABIL, RESOLUSI JIHAD dll. Pejuang yang gugur dihukumi syahid, tanpa dimandikan, tanpa dikafani, tanpa dishalati.

2. Nashbul Imam adalah masalah agama yang sangat serius. Karena pemimpin ialah penentu kebijakan yang berdampak besar pada rakyat. Jika pemimpin nonmuslim menentukan kebijakan yang merugikan Islam/umat Islam, demi Allah- mereka yang memilih dia berdosa, termasuk yang membiarkan tanpa fatwa agama, apalagi tim suksesnya.


3. Netral, memangnya NU itu KPU? Jika para cagub seiman, wajar jika NU netral. Tapi ini beda. Isu SARA dilarang jika untuk memprovokasi, memfitnah, merendahkan dll. Tapi apa salahnya, apa yang dilanggar bila muslim memilih pemimpin seiman dan menolak yang tidak seiman tanpa merendahkan keimanan yang lain. Adalah hak bagi setiap warga memilih pemimpin sesama suku, tanpa merendahkan suku lain. Sesama ras, tanpa memfitnah ras yang lain atau sesama adat tanpa menghina adat lain. Itu hak berdemokrasi.

4. Sangat memprihatinkan jika NU hanya vokal soal tahlilan, yasinan, ziarah kubur yang diganggu. Tapi tidak punya nyali memberi fatwa politik yang agamis & demokratis. Padahal ini masalah besar terkait kemaslahatan umat baik di dunia lebih-lebih di akhirat. Hanya muslim minimalis (musailim) yang memandang politik hanya masalah dunia. Sadarilah, tercatat 65 kali perang (ghazwah & sariyah) selama periode Nabi demi memaslahatkan umat via kekuasaan (politik).

5. Sekelas Syuriah NU tidak mungkin tidak mengerti ini. Bisunya mereka pasti ada sesuatu yang amat dahsyat hingga menyebabkan amanat agama mereka tersandera. Dan umat sudah tahu hal itu dari omongan mereka sendiri (?).

6. Kyai Syuriah NU bukanlah kyai pesanan, bukan pula kyai jadian yang dijadikan oleh para broker politik. Kyai Syuriah adalah benar-benar ulama pewaris Nabi yang dipilih secara mukhlis dan bersih dari sum’ah dan ambisi sehingga memiliki sifat syaja’ah yang terpuji, selalu “YAKHSYA ALLAH” dan tidak “YAKHSYA AL-NAS”. Harusnya, Kyai Syuri’ah NU bukan Kyai yang diperalat broker politik.
Kyai NU adalah Kyai yang mukhlis, ikhlas, tidak beramal untuk diperdengarkan. Memiliki sifat syaja’ah, berani karena Allah dan (membela) Rasulullah. Selalu Yakhsya Allah, hanya takut pada Allah, tidak Yakhsya Al Naas, takut pada manusia, celaan orang-orang yang mencela.***


*KH A. Musta’in Syafi’i, Ponpes Madrasatul Qur’an Tebuireng, Jombang

8 comments:

Endro Badrun said...

Takut kehilangan menteri karena merupakan parpol islam yang medapatkan jatah menteri terbanyak ??

Endro Badrun said...
This comment has been removed by the author.
Anonymous said...

setelah KH Ma'ruf Amin dibully oleh tim pengacara ahok, LBP, Pangdam dan Kapolda mendatangi rumah KH. Ma'ruf Amin..apakah mereka bertiga datang ke rumah KH. Ma'ruf Amin untuk meminta maaf atas kelakuan tim pengacara ahok???..kalau saya sih ga yakin mereka bertiga datang untuk meminta maaf..menurut saya, mereka bertiga datang menemui KH. ma'ruf Amin untuk berbicara "sesuatu" dengan tujuan agar KH. Ma'ruf Amin menjadi jinak

Anonymous said...

Sebagai aturan main ya NU tak salah kalo kita paksakan isu agama ya salah Indonesia bukan negara Islam .Dan hak itu di jamin undang undang aturan main yg di buat umat Islam sendiri.kenapa kita menjual jual agama .Padahal aturan main yg kita buat sudah jelas.jangan paksa Islam .Untuk tidak konsisten .Dalam Islam terima secara kaffah .Atau tidak sama sekali .Tak bisa setengah setengah
.NU tau itu.DAN KH MA.RUF AMIN DALAM SIDANG JELAS TAK ADA HAK NON MUSLIM MEMBAHAS SURAT AL MAIDAH APA LAGI BUKAN TOKOH AGAMA.KALO PENDETA OKELAH MUNGKIN MENG ANALISIS PERBANDINGAN AGAMA .Namun aturan akhlak kita salah .Karna Islam melarang menghalalkan segala cara .Jangan paksa Islam untuk munafik..Kita mayoritas Islam buat aturan main pemilu dan kepemimpinannya .Dan Allah tak akan Redho.

Anonymous said...

indonesia bukan negara islam, tapi tidak ada larangan untuk memasukan nilai-nilai islam dalam bernegara dan tidak ada larangan pula bagi tokoh islam untuk terjun dalam dunia politik mengamalkan ajaran islam dalam berpolitik..ada cacat logika yang berkembang di masyarakat yang perlu diluruskan, logika tersebut adalah: agama itu suci, politik itu kotor, jadi jangan campur adukan keduanya..logika ini cacat karena sebenarnya politik itu pada dasarnya netral, artinya bisa bersih dan bisa kotor, yang kotor bisa dibersihkan, sebaliknya yang bersih bisa dikotorkan..tujuan dari hadirnya nilai-nilai islam dan tokoh-tokoh islam dalam politik adalah untuk membersihkan politik yang kotor agar menjadi bersih, tidak ada yang korup, munafik dsb..

Mey Darisman said...

Beda pendapat itu rahmat,tpi merasa paling benar itu bahaya..apa islam yg tidak mau mensholatkan sesama karena beda pilihan yg benar?,apa islam yg suka menghujat karena beda pemahaman yg benar?apa islam yg arogan yg suka memaksakan kehendak yg paling benar?..hanya Allah yg maha mengetahui dan berhak menilai umatnya...hiduplah saling menghargai dan menghormati...

Mey Darisman said...

Beda pendapat itu rahmat,tpi merasa paling benar itu bahaya..apa islam yg tidak mau mensholatkan sesama karena beda pilihan yg benar?,apa islam yg suka menghujat karena beda pemahaman yg benar?apa islam yg arogan yg suka memaksakan kehendak yg paling benar?..hanya Allah yg maha mengetahui dan berhak menilai umatnya...hiduplah saling menghargai dan menghormati...

Riki Nurmansyah said...

Semua komentar kau itu menohok ke jidat kau sendiri