Tuesday, 28 March 2017

Pembantaian Mosul oleh Amerika Diduga Kuat Disengaja

Indonesian Free Press -- Dugaan terjadinya pembantaian di Mosul dilakukan secara sengaja oleh koalisi pimpinan Amerika mengemuka setelah diketahui warga dilarang pergi sebelum terjadinya pemboman oleh pesawat-pesawat Amerika.

Seperti dilaporkan media Inggris The Guardian, Selasa (28 Maret, warga Mosul barat mendapat perintah untuk tidak meninggalkan kota sebelum terjadi pemboman yang menewaskan lebih dari 150 warga sipil pekan lalu. INformasi ini diperoleh daria Amnesty International yang melakukan penelitian paska terjadinya pemboman tersebut.

"Koalisi pimpinan Amerika mengakui bahwa militer Amerika yang bertanggungjawab atas pemboman tanggal 17 Maret di wilayah Mosul barat. Warga mengaku setidaknya 150 warga sipil tewas. Para pejabat Amerika belum mengkonfirmasi hal ini tapi telah melakukan penyelidikan," tulis The Guardian.


Menurut Jubir Pentagon (Denhan Amerika) Kolonel JT Thomas, Senin (27 Maret) seperti ditulis dalam laporan itu, pihaknya tengah melakukan pengkajian terhadap lebih dari 700 gambar pemboman tersebut untuk memastikan adanya korban sipil.

Pejabat Amnesty International Donatella Rovera mengatakan, “Fakta bahwa otoritas Irak berulangkali meminta warga untuk tetap tinggal di rumah daripada melarikan diri, mengindikasikan bahwa pasukan koalisi seharunya tahu bahwa aksi pemboman itu bakal menimbulkan korban jiwa sipil yang besar."

Menurut Rovera aksi Amerika itu terindikasi sebagai pelanggaran hukum kemanusiaan internasional yang bisa menyeret pelakunya menjadi penjahat perang.

"Bukti-bukti yang berhasil dikumpulkan di lapangan menunjukkan pola yang mengagetkan dari serangan udara koalisi pimpinan Amerika, yang menghancurkan rumah-rumah dengan seluruh isinya," kata Amnesty International dalam laporannya.

Pasukan Irak mulai operasi pembebasan Mosul barat pada Oktober tahun lalu setelah berbulan-bulan persiapan. Pada Januari lalu Irak mendeklarasikan terbebasnya seluruh wilayah Mosul timur.

Para aktifis telah mengingatkan risiko terjadinya korban sipil mengingat tingginya kepadatan penduduk di wilayah Mosul barat, selain lebih banyak digunakannya serangan udara dan artileri dalam operasi pembebasan.

Dalam operasi pembebasan di kota-kota lainnya seperti Ramadi dan Fallujah, warga sebelumnya telah dievakuasi. Diperkirakan terdapat 1 juta penduduk yang masih berada di kota ketika operasi pembebasan dimulai. Saat ini PBB memperkirakan terdapat 400.000 warga yang terperangkap.

Beberapa waktu lalu media dan para pejabat Barat ramai-ramai menuduh Rusia membunuhi warga sipil di Aleppo. Namun, saat ini mereka semua seperti bungkam.(ca)

2 comments:

Riki Nurmansyah said...

Semoga Allah membalas dgn pedih semua orang2x yg bertanggung jawab atas tragedi ini.amin

Anonymous said...

Kejahatan demi kejahatan Amerika tak tau itu pemerintah nya atau bukan minyak lebih berharga dari nyawa keserakahan ketamakan suatu saat bertemu dan saling membantai kita seharusnya konsolidasi benahi perlahan tapi pasti seleksi demi seleksi akan mendapatkan yg tersisa yg tulus demi negara dan bangsa Islam harus berbenah kondisi stabil Irak Suriah dan Yaman tanah berkah di peruntukan org yg sabar dan tabah