Friday 24 September 2010

Catatan Harian Jendral Patton


Jendral George S. Patton, tidak bisa dibantah adalah salah seorang jendral terbesar dalam sejarah. Tidak saja dari jumlah pasukan yang pernah dikomandaninya, tapi juga karena keberhasilannya memenangkan semua medan perang besar yang dilaluinya. Dalam Perang Dunia II, perang terbesar sepanjang sejarah manusia, Jendral Patton yang memimpin Tentara Ketiga (satu satuan Tentara terdiri dari beberapa Korps sementara satu Korps terdiri dari beberapa Divisi dengan satu divisi beranggotakan sekitar 10.000 personil) Amerika berhasil menekuk pasukan Jerman dan sekutunya di berbagai medan perang, mulai dari Afrika Utara, Italia, Perancis, Benelux, dan terakhir di jantung pertahanan Jerman sendiri. Patton adalah jendral pertama sekutu yang menyentuh kota Roma dan Berlin, dua benteng terkuat Jerman dan sekutunya.

Patton adalah satu dari segelintir jendral Amerika yang memiliki gelar kehormatan "Master of the Sword" yang diberi hak untuk menyandang pedang komando. Ia juga diberi kehormatan untuk merancang sendiri baju seragamnya. Selain itu Patton juga mantan atlet olimpiade di nomor atletik, renang dan menembak. Di bidang militer, keahlian istimewanya adalah altileri tank di mana ia menemukan beberapa taktik dan strategi perang tank modern. Demikian ahlinya Patton sehingga Jendral Rommel dari Jerman yang sebelumnya dikenal sangat jendral tak terkalahkan di medan perang Afrika Utara dengan julukan "Si Rubah Gurun", dibuat bertekuk lutut kepadanya.

Sebelum menyerahnya Jerman, Patton melihat sebuah peluang emas untuk memenangkan perang Dunia II secara gemilang. Selain menundukkan Jerman, Patton melihat kesempatan untuk mengalahkan tentara komunis Uni Sovyet, kekuatan yang secara pribadi dianggap sebagai ancaman Amerika di masa mendatang. Selain itu bukankah para jendral sekutu sebelumnya telah bersumpah untuk membebaskan Polandia dan Eropa dari penindasan? Dan saat itu Polandia, Jerman Timur dan Eropa Timur diduduki tentara Uni Sovyet yang kekejiannya terhadap rakyat negara yang diduduki sangat memuakkan Patton. Ingat dengan Tragedi Hutan Katyn di Polandia, dimana puluhan ribu perwira Polandia dieksekusi mati oleh tentara Uni Sovyet?

Saat itu Patton belum menyadari siapa sebenarnya regim komunis Uni Sovyet itu, yang pada dasarnya adalah sekumpulan bandit yahudi. Bila kita bariskan nama para pemimpin komunisme Uni Sovyet, maka sebagian besar dari mereka adalah yahudi. Prosentase terbesar tentunya berada di Politbiro, badan politik tertinggi Uni Sovyet. Karl Marx dan Hegel, bapak idiologi komunisme, adalah yahudi. Trio pendiri partai komunis Rusia, Lenin-Stalin-Trotsky adalah yahudi. Patton juga jauh dari informasi (saat itu) bahwa dana dan senjata penggerak Revolusi Bolshevik yang berhasil mendudukkan komunis sebagai penguasa Rusia, berasal dari para bankir yahudi yang berkantor di New York dan London.

Patton baru menyadari hal itu setelah berakhirnya perang, saat dimana para gembong yahudi dari Rusia dan Polandia merajalela di bumi Jerman yang kalah perang. Saat itu Patton baru teringat dengan tindakan pendahulunya, Jendral Grant, pemimpin tentara federasi dalam Perang Sipil Amerika tahun 1860-an, yang mengusir orang-orang yahudi di seluruh wilayah pengawasannya karena praktik-praktik amoral yang dilakukan mereka di wilayah yang baru dilanda peperangan, seperti menduduki lahan-lahan yang ditinggalkan, memborong aset-aset murah, atau memberi pinjaman uang dengan bunga mencekik leher.

Pada tgl 7 Mei 1945, dalam sebuah pertemuan di Austria, Jendral Patton berdiskusi dengan menteri urusan perang Amerika, Robert Patterson. Patton, selain tidak menaruh hormat pada perilaku tentara Uni Sovyet yang tidak menghargai para tawanan perang, juga jengkel dengan ulah mereka melanggar garis damarkasi yang memisahkan tentara Amerika dan Uni Sovyet di Jerman. Kepada Patterson, Patton menyampaikan niatnya menekuk tentara Uni Sovyet.

Dalam "Patton Papers", kumpulan catatan harian, surat menyurat dan tulisan-tulisan pribadi Jendral Patton lainnya yang dipublikasikan tahun 1947, Patton mengatakan kepada Patterson, "Mari kita tetap menjaga bayonet tentara kita tetap tajam dan sepatu mereka mengkilap (ungkapan tentang kesiapan perang), dan menunjukkan kekuatan kepada Uni Sovyet, karena hanya dengan bahasa seperti itulah mereka memahami kita," kata Patton.

"Anda memang selalu begitu Jendral. Tapi marilah kita melihat gambar yang lebih besar," jawab Patterson.

"Saya memahami kondisi sebenarnya. Tentara komunis itu berada di tempat yang jauh dari asalnya dengan sistem logistik yang lemah. Jika kita serang mereka, mungkin mereka bisa bertahan beberapa hari. Tapi setelah lima hari, berapa juta pun tentara yang mereka miliki, saya akan duduki Moskow dan memberikannya kepada Anda," kata Patton lagi.

"Jika kita tidak melakukannya, maka mungkin saja kita bisa mengalahkan Jerman. Tapi kita tidak bisa membebaskan Eropa dan itu berarti kita kalah dalam perang ini," tambah Patton lagi.

Namun sayangnya saran Patton tersebut diabaikan oleh Patterson dan para para politisi di Washington, sebagaimana juga Jendral Eisenhower, jendral salon keturunan yahudi Swedia yang menjadi komandan tertinggi tentara sekutu. Jika saja saran itu dilaksanakan, tidak ada lagi komunisme di dunia, tidak ada Perang Korea, Perang Vietnam, Perang Dingin, termasuk Peristiwa G 30 S/PKI yang membawa penderitaan umat manusia selama puluhan tahun. Sebaliknya nasib tragis justru dialami Patton. Ia meninggal oleh sebuah kejahatan konspirasi. Setelah mengalami beberapa insiden misterius, termasuk ditabrak sebuah pedati kosong yang menggelinding sendiri, mobil Patton ditabrak oleh sebuah mobil. Ia mengalami luka yang tidak terlalu serius, namun karena penanganan yang yang tidak semestinya, Patton meninggal dunia. Sementara jendral salon Eisenhower yang tidak pernah menjadi komandan tempur di lapangan, tampil sebagai pahlawan, bahkan kemudian dihadiahi jabatan Presiden Amerika.

Dalam catatan hariannya yang ditulis di bulan Mei 1945, Patton menulis kesannya terhadap tentara-tentara Sovyet. "Saya tidak pernah melihat moral tentara yang begitu buruk kecuali tentara Sovyet. Para perwiranya, dengan pengecualian beberapa orang, tampak seperti sekumpulan bandit dari Mongolia."

Patton menambahkan dalam diarinya, "Menurut pandangan saya, tentara Amerika dalam kondisi saat ini, bisa mengalahkan Rusia dengan sangat mudah. Karena mereka lemah pada kekuatan altileri, pesawat terbang dan tank, serta pengetahuan tentang peralatan-peralatan tempur itu. Sementara kita sangat ahli dalam menangani peralatan-peralatan itu. Semakin cepat kita menyerang mereka, semakin mudah kita mengalahkan mereka."

Di sisi lain, pandangan pribadinya pada orang-orang yahudi tidak kalah negatifnya, Dalam catatan pribadinya ditemukan bahwa menurut pandangannya, orang-orang yahudi adalah seburuk-buruknya manusia. Selain kejam dan culas, juga jorok luar biasa.

"Di mana saja, meskipun masih ada banyak ruangan kosong, orang-orang yahudi selalu berkumpul dalam satu ruangan dan menjadikan kamar-kamar sebagai tempat sampah. Mereka baru mau membersihkan ruangan jika ditendang pantatnya dengan ancaman senjata api. Tentu saja saya tahu arti dari "suku bangsa Israel yang hilang", yaitu hilang nilai kemanusiaannya sebagaimana mereka para keturunan pelacur itu."

Lebih jauh Patton melihat sebuah konspirasi jahat para politisi negerinya atas rakyat Jerman. Mereka berupaya mengalihkan kepemilikan secara paksa properti milik warga Jerman yang ditinggalkan atau ditinggal mati pemiliknya, kepada orang-orang yahudi. Dalam diarinya ia menulis mengenai hal itu:

"Sudah jelas, semua penyakit itu bermula dari Morgenthau (menteri urusan rehabilitasi paska perang, seorang yahudi) dan Baruch (menteri keuangan, juga yahudi) dengan dendam kesumatnya kepada rakyat Jerman. Harrison (pejabat tinggi kementrian luar negeri) dan teman-temannya berencana untuk mengusir orang Jerman dari rumahnya untuk digantikan dengan orang-orang yahudi yang terusir. Ada dua kesalahan mendasar dari kebijakan ini. Pertama kita tidak bisa menghukum seseorang berdasarkan sentimen ras. Ini mengganggu kesadaran saya sebagai Anglo-Saxon, mengusir seseorang sebagai bentuk hukuman yang sama sekali tidak berdasarkan proses hukum. Yang kedua, Harrison dan kawan-kawannya menganggap bahwa orang-orang yahudi itu adalah manusia, sementara menurut saya mereka lebih rendah dari binatang."


Perjuangan Batin Patton


Perlakuan Patton yang simpatik kepada para tawanan perang Jerman tentu saja membuat marah para bandit politisi, militer dan wartawan yahudi. Lagipula siapa yang paling ditakuti mereka selain sorang pahlawan kulit putih yang dihormati seperti Patton? Maka berbagai upaya pembunuhan kharakter pun ditujukan terhadapnya. Pada suatu saat pers membesar-besarkan sebuah peristiwa sepele ketika Patton memukul pantat seorang prajurit yang penakut, yang secara kebetulan adalah yahudi. Saking intensifnya pemberitaan atas peristiwa itu di"ledakkan" pers hingga Patton pun harus meminta maaf secara terbuka. Bahkan setelah itu semua, pers masih terus mengungkit insiden itu.

Kemudian dalam sebuah acara jumpa pers yang diadakan di Regensburg, Jerman, menyusul pengumuman menyerahnya Jerman tgl 8 Mei 1945, Jendral Patton ditanya oleh wartawan tentang perlakuan apakah yang akan dilakukan terhadap anggota satuan elit Jerman, Waffen SS. Patton yang suka bercanda dan bicara blak-blakan mengatakan dirinya tidak akan membedakan mereka dengan warga Jerman lainnya. Menurutnya, di hadapan warga Jerman, Waffen SS tidak berbeda dengan Partai Demokrat di mata rakyat Amerika. Pers pun melihat peluang bagus untuk menjatuhkan Patton dengan memblow-up seolah-olah Patton menyamakan Partai Demokrat dengan Waffen SS.

Selanjutnya Patton mendapatkan tekanan dari Eisenhower untuk memaksa ribuan penduduk Jerman meninggalkan rumahnya untuk diisi oleh lebih dari satu juta yahudi. Dengan berat hati perintah itu dilaksanakannya. Namun ia menolak keras setelah diperintahkan untuk meledakkan pabrik-pabrik Jerman yang masih berdiri sebagai skenario Morgenthau Plan menghancurkan perekonomian Jerman sekaligus balas dendam yahudi terhadap rakyat Jerman yang telah berani menghina yahudi.

Patton juga menentang keras pengiriman tawanan perang Jerman ke kamp-kamp kerja paksa di Rusia atau Perancis. Dalam suratnya kepada sang istri tertanggal 14 September 1945 ia menulis: "I am frankly opposed to this war criminal stuff. It is not cricket and is Semitic. I am also opposed to sending POW's to work as slaves in foreign lands, where many will be starved to death."

Akhirnya Patton pun mendapatkan kesadarannya, bahwa semua kekacauan dan kehancuran itu adalah ulah orang-orang yahudi. Dalam suratnya yang lain kepada istrinya Patton menulis: "I have been at Frankfurt for a civil government conference. If what we are doing (to the Germans) is Liberty, then give me death. I can't see how Americans can sink so low. It is Semitic, and I am sure of it."

Selanjutnya Patton menulis: "Hari ini kami menerima perintah untuk memberikan akomodasi khusus kepada orang-orang yahudi. Mengapa harus mereka? Mengapa tidak orang-orang Katholik, Mormons, dan sebagainya? Kami juga telah menyerahkan beberapa ratus ribu tawanan perang Jerman kepada Perancis untuk menjadi pekerja paksa. Sangatlah memalukan bahwa dahulu kita berperang untuk meraih kemerdekaan dan menghapus perbudakan, dan kini kita justru melakukan praktik penjajahan dan perbudakan."

Setelah mengunjungi kota Berlin yang hancur lebur pada tgl 21 Juli 1945, ia menulis surat kepada sang istri. "Berlin, berikan blues-mu. Kami telah menghancurkan satu ras unggul dan menggantikannya dengan orang-orang barbar Mongolia. Dan seluruh Eropa akan menjadi komunis. Saya mendengar banyak kabar bahwa selama minggu pertama Sovyet menduduki Berlin, mereka memperkosa semua wanita yang didapati dan menembak mereka yang lari."

Akhirnya Patton menyadari bahwa Amerika dan Inggris telah menghancurkan satu-satunya bangsa Eropa yang telah berdiri teguh menentang dominasi yahudi untuk kemudian membiarkan Eropa jatuh ke dalam cengkeraman bandit-bandit komunis yahudi.

Patton tahu bahwa apa yang dilakukan pemerintahnya terhadap warga Jerman tidak kalah keji dari apa yang dilakukan Uni Sovyet. Pemboman besar-besaran terhadap kota Dresden yang merupakan kota tujuan pengungsi sipil Jerman, atau pembunuhan sistematis terhadap ratusan ribu tawanan perang Jerman dengan membiarkan mereka hidup tanpa atap, alas dan sanitasi selama berbulan-bulan, adalah beberapa contoh selain kerja paksa.

Sebagai seorang patriot, Patton tentu saja muak dengan semua yang dilihatnya. Untuk itu ia telah membuat rencana sendiri untuk melawan. Dalam suratnya kepada sahabatnya, Jendral Harbord, yang telah berada di Amerika, Patton menulis, "Inilah pikiran saya saat ini. Setelah selesainya tugas saya sekitar setahun lagi, saya akan mengundurkan diri, bukan pensiun, karena dengan pensiun saya masih menyandang kewajiban moral sebagai seorang perwira untuk tunduk kepada pemerintah. Selanjutnya saya akan melakukan melakukan perlawanan, bukan perlawanan terbatas yang tidak sesuai dengan teori militer saya. Tunggulah sampai saya melakukan perlawanan habis-habisan."

Sayangnya niat Patton tidak kesampaian, sebuah kecelakaan konspiratif telah merenggut nyawanya sebelum rencananya terealisasi.


=========
Catatan blogger: saya telah mempost artikel tentang pembunuhan konspiratif Jendral Patton di blog ini sebelumnya. Silahkan buka di sini: http://cahyono-adi.blogspot.com/2009/05/pembunuhan-jendral-patton-dan-kekejian.html

No comments: