Friday, 9 September 2016

Poros Zio-Anglo Amerika yang Tengah Meredup

Indonesian Free Press -- Pada 1 September lalu roket Space-X yang mangangkut satelit Amos-6 buatan Israel milik perusahaan sosial media terbesar Facebook, meledak saat hendak diluncurkan ke luar angkasa di fasilitas peluncuran roket Cape Canaveral, Florida, Amerika.

Ini adalah peristiwa 'biasa', karena sebelumnya telah ada sejumlah roket yang meledak saat diluncurkan. Namun kali ini peristiwa ini menjadi 'viral' di dunia maya karena keberadaan obyek terbang tidak dikenal, alias UFO, yang terbang tepat di atas roket tersebut saat meledak. Media-media independen, termasuk Veterans Today yang sangat kredibel, turut meramaikan spekulasi ini. Media mapan Rusia Sputnik News berusaha meredam viral dengan menyebutkan bahwa UFO yang nampak di gambar yang beredar hanyalah seekor burung besar. Namun dengan cepat klaim ini dimentahkan, karena dari sekuen gambar yang tampak, benda misterius ini terbang dengan kecepatan hingga 3.000 mil per-jam dan tidak ada seekor burung pun yang terbang hingga kecepatan seper-sepuluh kecepatan itu.

Veterans Today melaporkan bahwa, bahkan badan luar angkasa Amerika NASA sendiri menempatkan UFO sebagai faktor probabilitas penyebab meledaknya roket dan satelit tersebut. Roket meledak karena batere lithium yang menjadi sumber energi internal roket terkena paparan sinar laser yang ditembakkan oleh UFO. Demikian editor Veterans Today menyebutkan.

Dua hari kemudian, Sabtu (3 September) petang, terjadi peristiwa yang tidak pernah dialami oleh seorang presiden Amerika. Saat itu, Presiden Barack Obama diharuskan keluar dari pesawat kebesarannya melalui pintu darurat tanpa penyambutan karpet merah oleh para pejabat Cina, saat ia datang untuk mengikuti KTT G-20 di Cina.

Ketika pengawal Obama protes kepada pejabat Cina yang ada, mereka hanya mendapatkan bentakan, "Ini negeri kami Cina, bukan Amerika!".

Peristiwa ini diberitakan bahkan oleh media-media mapan Amerika seperti New York Times. Mengutip seorang diplomat Mexico, media Inggris terkemuka, The Guardian, Minggu (4 September) menyebutkan bahwa yang terjadi adalah Amerika tengah 'dikerjai' oleh Cina, untuk menunjukkan kepada Amerika bahwa di mata Cina Amerika adalah lemah.

Kemudian, minggu lalu, organisasi kaum Kristen Lutheran terbesar Amerika, ELCA, merilis pernyataan kecaman keras terhadap pendudukan Israel di Palestina sehingga memaksa Wapres Joe Biden bersuara keras terhadap ELCA.

"Diserukan kepada seluruh anggota, kongregasi, synods, badan-badan dan bishop untuk mendesak para politisi, senator dan pejabat untuk melakukan aksi-aksi bahwa, demi tetap mendapatkan bantuan Amerika, Israel harus memenuhi standar HAM internasional seperti disebutkan dalam konstitusi Amerika, menghentikan pembangunan dan perluasan pemukiman (ilegal) di Jerusalem Timur dan Tepi Barat, menghentikan pendudukan wilayah Palestina, dan mendukung pendirian negara Palesta merdeka; serta mendesak seluruh anggota gereja, kongregasi, synods, dan badan-badan untuk menyerukan Presiden Amerika untuk mengakui negara Palestina dan tidak mencegah aplikasi negara Palestina untuk menjadi anggota penuh PBB.” Demikian pernyataan ELCA.

Hal ini bersamaan dengan semakin kerasnya suara-suara publik dunia menentang pendudukan Israel di wilayah Palestina, maraknya gerakan boikot Israel dan pengakuan negara Palestina oleh parlemen dan pemerintah negara-negara barat. Baru-baru ini bahkan terjadi sebuah viral media sosial ketika seorang anggota parlemen Belanda menolak jabat tangan dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

Ditambah dengan gagalnya proyek zionis-Amerika di Suriah dan Irak, serta semakin berpengaruhnya poros Rusia-Cina-Iran, sebenarnya apa yang sedang terjadi?

Kita hanya bisa melihat sebuah fenomena, bahwa tengah terjadi 'arus balik', meminjam istilah Pramoedya Anant Toer dalam sebuah novel sejarahnya yang sangat menarik, tentang fenomena global dimana terjadi perubahan 'kutub' kekuasaan. Bila dalam novel Pramoedya disebutkan perubahannya dari negara-negara selatan (Islam) menuju negara-negara utara (Eropa), maka kali ini dari poros Zio-Anglo-America ke poros Rusia-Cina-Iran.

Tentang bagaimana dan mengapa terjadi 'arus balik' ini, James Preston PhD baru saja menulis tulisan bersambung yang sangat menarik di Veterans Today, berjudul 'Subjects and Serfs of the Lesser Gods'. Tulisan ini berbau esoterik-supranatural bahkan fiksionis, namun juga sangat rasional. Mudah-mudahan IFP mendapat kesempatan untuk menerjemahkannya nanti.(ca)

3 comments:

Kasamago said...

'Subjects and Serfs of the Lesser Gods ,mnrik bgt utk sgera diterjemahkan.

Si UFO apkah mainan dr luar ato dr amrik sndiri ??

Endro Badrun said...

Kalau itu dari Amerika sendiri apa untung dan ruginya ?? Apakah "tangan2" tuhan mulai menyentuh kesombongan zionis dan "hukuman" akan segera diterapkan sesuai nubuwat kitab suci?? Sangat menarik sekali .....

Anonymous said...

apakah perancangan jahat mereka, ternyata Allah menggagalkan---telah tersurat