Wednesday, 7 September 2016

Presiden Duterte Sebut Barack Obama 'Anak Pelacur'

Indonesian Free Press -- Presiden Filipina Rodrigo Duterte kembali membuat panas pera pejabat Amerika. Setelah bulan lalu mengejek Dubes Amerika sebagai 'Anak Pelacur', tidak tanggung-tanggung, kali ini ia bahkan menyebut Presiden Barack Obama dengan julukan yang sama.

Seperti dilaporkan International Business Times, 5 September, Duterte, mengingatkan Barack Obama untuk tidak campur tangan dalam urusan 'perang melawan obat-obatan terlarang' yang dilancarkannya yang mengakibatkan ratusan orang, sebagian besar para pengedar obat-obatan, tewas.

Menjawab pertanyaan wartawan tentang reaksinya atas kritikan Barack Obama atas aksi 'pembunuhan-pembunuhan di luar hukum' yang dilakukan pemerintah Filipina terhadap para pengedar obat-obatan, Duterte mengatakan, "Anak pelacur (Obama), saya bersumpah di hadapannya.”

Sebelum bertolak ke Laos untuk menghadiri KTT Asean-Amerika, Duterte mengatakan, "Saya adalah presiden sebuah negara berdaulat dan kami sudah lama berhenti sebagai sebuah koloni. Siapakah dia (Obama) mau melawan saya? Sebenarnya, Amerika memiliki banyak pertanyaan yang harus dijawab. Semua orang memiliki catatan mengerikan tentang pembunuhan-pembunuhan di luar hukum."

Karena perkataan itu, Presiden Obama menolak bertemu Duterte dalam pertemuan. Duterte pun, melalui jubirnya, menyatakan permohonan ma'af atas perkataan tersebut.

Pada Agustus lalu Duterte menyebut Dubes Amerika untuk Filipina sebagai 'homosek anak pelacur' dan mengejek Senator Leila De Lima karena kasus cinta gelapnya.

Duterte benar-benar memenuhi janji kampanyenya untuk memerangi total perdagangan narkoba. Bahkan meski PBB dan sejumlah pemimpin barat mengecam tindakan kerasnya yang mengakibatkan ratusan orang tewas. Dalam KTT di Laos ia juga gagal bertemu Sekjend PBB Ban Ki-moon at the summit in Laos.

Seperti dilaporkan Reuters, Duterte mengatakan, “Banyak orang akan terbunuh hingga pengedar terakhir tersingkir dari jalanan. Hingga pengedar narkoba terakhir tewas, kita tidak akan berhenti memburunya.”

Kemudian pada 31 Agustus Duterte mengatakan, “Kita harus mengerti masalahnya terlebih dahulu sebelum bicara tentang HAM.”

Menurut data kepolisian Filipina, setidaknya 2.000 orang tewas selama kampanye pemberantasan obat terlarang sejak Duterte naik ke kursi kepresidenan Mei lalu. Separo dari mereka tewas dalam operasi kepolisian, sisanya tewas karena tembak-menembak dengan orang tak dikenal.

Duterte adalah walikota Davao selama 10 tahun sejak 1988, diselingi keanggotaan di parlemen sebelum menjadi walikota lagi tahun 2001. Ia dikenal dengan julukan “Si Penghukum” karena ketegasannya melawan kejahatan. Ia pernah mengancam akan 'membunuh 100.000 penjahat dan melemparkan mayatnya di Teluk Manila'. Ia bahkan bersumpah akan menghukum mati anaknya sendiri jika terlibat dalam perdagangan narkoba. Pada Mei lalu ia memenangkan pemilihan Presiden dan disumpah untuk jabatan enam tahun.

Dalam kampanyenya, Duterte berkata: “Lupakan hukum dan HAM. Jika saya berhasil menjadi presiden, saya akan melakukan apa yang saya lakukan sebagai walikota. Kamu para pengedar narkoba, berhentilah dan jangan melakukan apapun. Berhentilah, karena saya akan membunuhmu.”(ca)