Wednesday, 30 November 2016

Amerika Berusaha Membunuh PM Irak dengan Rudal

Indonesian Free Press -- Amerika menembakkan rudal ke markas komando milisi populer Hashd al-Shaabi (PMU) hanya beberapa saat setelah perdana menteri Haider al-Abadi bertemu dengan para komandan PMU. Diduga hal itu adalah kesengajaan Amerika untuk menghancurkan rencana penyatuan PMU dengan tentara nasional Irak.

Seperti dilaporkan Veterans Today, 26 November, penembakan rudal itu terjadi di markas PMU di bandara Tal Afar Mosul yang baru dibebaskan dari kelompok ISIS, hari Kamis (24 November). Beberapa orang mengalami luka-luka akibat penembakan itu.

Penyelidikan tengah dilakukan untuk memastikan penanggungjawab insiden ini. Namun bukti awal menunjukkan rudal yang ditembakkan adalah rudal yang dikendalikan dengan laser yang tidak ditembakkan dari posisi ISIS. Juga diketahui rudal itu jatuh tepat 1,5 meter dari tenda yang ditempati PM Haider. Drone-drone Amerika juga diketahui terbang di atas posisi tenda tersebut beberapa saat sebelum serangan.

PMU mendesak Amerika untuk memberikan penjelasan atas insiden itu sebelum hasil penyelidikan diumumkan.

Sementara itu pada hari Sabtu (26 November) parlemen Irak akhirnya menyetujui penggabungan milisi Hashd al-Shaabi dengan tentara nasional Irak. Ketua MPR Irak Ammar Hakim memuji langkah itu sebagai peristiwa nasional yang penting.

Langkah ini dipandang sebagai kemenangan politik Iran mengingat bahwa milisi Hashd al-Shaabi adalah organisasi yang dibidani dan dibesarkan oleh Iran sehingga dianggap sebagai representasi Iran. Berhasil memainkan peran penting dalam peperangan melawan kelompok teroris ISIS setelah tentara Irak gagal membendung kebangkitan kelompok ini tahun 2014 hingga bisa menduduki Mosul dan sebagian besar wilayah barat dan utara Irak, Hashd al-Shaabi dianggap sebagai ancaman bagi negara-negara musuh dan pesaing Iran. Turki dan kelompok Kurdi yang mayoritas Sunni, juga tidak menginginkan Hashd al-Shaabi dilibatkan dalam pembebasan Mosul.

Dalam laporannya Veterans Today juga menyebutkan PMU berhasil membebaskan 400 warga sipil Iraq yang ditawan dan dijadikan sebagai tameng hidup oleh ISIS di barat Tal Afar. PMU juga berhasul membebaskan tiga desa di wilayah itu dan membunuh sejumlah besar anggota ISIS.

Dalam operasi 'gabungan' pembebasan Mosul, PMU kebagian tempat untuk memotong jalur suplai ISIS di barat Mosul dan menyerang Mosul dari arah selatan. Sementara itu tentara Irak menyerang Mosul dari timur. Sementara milisi Kurdi Peshmerga melancarkan serangan dari utara.

Media Al Mumeria News melaporkan pasukan Irak meledakkan sebuah pabrik di desa al-Zawiya di selatan Mosul, dimana para teroris menempatkan 200 bom perangkap. Sementara sebuah drone Irak berhasil meledakkan kendaraan taktis kelompok ISIS di desa yang sama. Sebuah sumber lokal menyebutkan PMU berhasil menembak jatuh drone milik ISIS di Tal Afar.

Sejumlah laporan menyebutkan bahwa ISIS telah menghentikan aliran air dari wilayah-wilayah yang dibebaskan di tepi barat Sungai Tigris.


Dimana Baghdadi
Berkaitan dengan perang pembebasan Mosul yang tengah berlangsung, keberadaan pemimpin ISIS Abu Bakr al-Baghdadi menjadi sesuatu yang menarik. Diyakini ia masih berada di Mosul dan bersembunyi di bawah tanah, demikian kata komandan milisi Kurdi Fuad Hussein.

"Baghdadi masih berada di sana (Mosul). Jika ia tewas, maka seluruh sistem ISIS akan hancur," kata Hussein kepada Veterans Today.

Sampai saat ini belum pernah muncul tokoh ISIS yang dianggap sebagai calon pengganti Baghdadi, dan hal ini menjadi faktor rapuhnya struktur organisasi ISIS.

Sejumlah media independen melaporka, Baghdadi bersembunyi dalam kondisi stress berat. Ia dikabarkan telah menghukum mati beberapa pembantu dekatnya karena khawatir mereka akan berkhianat dan melaporkan keberadaannya kepada musuh-musuh ISIS. Ia juga dikabarkan membawa bom kesana kemari dan siap meledakkannya pada saat tersudut.(ca)

1 comment:

Kasamago said...

Yg pasti ISIS smkin terpojok di Irak.. disisi lain, pngaruh Iran semkin mapan di ranah politik dan militer..