Monday, 26 December 2016

Kisah Heroik Pasukan RPKAD Memburu PKI di Solo

Indonesian Free Press -- Setelah menumpas G30S di Jakarta, Pasukan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) bergerak ke Jawa Tengah. Salah satu kota sasaran RPKAD adalah Solo yang saat itu menjadi salah satu basis PKI.

RPKAD mulai memasuki Solo sekitar akhir Oktober 1965. Kedatangan komandan RPKAD Kolonel Sarwo Edhie Wibowo dan pasukannya disambut aksi mogok kerja Serikat Buruh Kereta Api (SBKA, underbow PKI) di Stasiun Solo Balapan.

Mereka hanya duduk-duduk di pinggir rel. Kereta dari Yogyakarta, Semarang, Madiun dan tujuan lain tertahan di Solo.

Kolonel Sarwo pun berdialog dengan para buruh tersebut. Wartawan Senior Hendro Subroto melukiskan peristiwa itu dalam buku 'Perjalanan Seorang Wartawan Perang' yang diterbitkan Pustaka Sinar Harapan.

Sarwo yang berkaca mata hitam berteriak: "Siapa yang mau mogok, berkumpul di sebelah kiri saya."

Hening. Tak ada yang bergerak. Sarwo berteriak lagi. "Siapa yang tidak mau mogok supaya berkumpul di sebelah kanan saya. Saya beri waktu lima menit!"

Ternyata semua pekerja itu berkumpul di sebelah kanan Sarwo. Tak ada satu pun yang berdiri di kiri. "Lho ternyata tidak ada yang mau mogok. Kalau begitu jalankan kereta api," kata Sarwo.

Para pekerja itu bergerak ke pos masing-masing. Mogok kerja berakhir, kereta pun berjalan kembali.

Di Jawa Tengah, pasukan ini juga kerap melakukan 'show of force'. Mereka konvoi keliling kota dengan panser dan puluhan truk pasukan RPKAD. Para prajurit melambai-lambaikan tangan dengan ramah pada masyarakat yang semula takut. Strategi itu berhasil, rakyat menyambut sementara para pendukung G30S mulai ciut.

Selain konvoi, Sarwo juga berorasi di rapat umum yang dihadiri ribuan massa. Sarwo mencoba menggerakan rakyat agar berani melawan PKI.

"Siapa yang bersedia dipotong lehernya dibayar seribu rupiah?" teriak Sarwo. Massa terdiam.

"Sepuluh ribu rupiah?" Massa masih diam.

"Seratus ribu? Sejuta? Sepuluh juta?" lanjut Sarwo pada massa yang terdiam.

"Jika dibayar Rp 10 juta saja kalian tidak mau dipotong lehernya, jangan berikan leher kalian secara gratis pada PKI. Kalian lawan PKI. Jika kalian takut, ABRI berada di belakang kalian. Jika kalian merasa tidak mampu, ABRI bersedia melatih," kata Sarwo disambut sorak sorai massa.

Ucapan Sarwo Edhie benar-benar dilakukan. RPKAD melatih pemuda-pemuda maupun aktivis ormas antikomunis. Rakyat ikut bangkit melawan PKI.

Merekalah yang kelak menjadi jagal bagi para anggota PKI, atau simpatisan, atau orang yang dituding sebagai PKI. Sejarah kemudian mencatat pembantaian massal terjadi di Jawa Tengah dan sebagian Jawa Timur. Sarwo Edhie mencatat korban tewas tak kurang dari 3 juta orang.***

3 comments:

Kasamago said...

Perang Asimetris dan Proxy War tlh marak dijlnkn sejak dlu

Danial Rusdi said...

Sungguh mengerikan itulah konflik horizontal yang jadi korban orang yang lugu sungguh celaka karena ketidak tahuannya atau cara RPkAd membasmi sesama bangsa tanpa harus capek capek ngeluarkan energi cuma sesal kemudian Hanya Allah sebelum meninggal Sarwo Edhie menyesal dan sempat setengah koma mengutuk atasan yg memerintahkannya cukup lama makanya Habibi waktu tahun 1998 bersyukur tidak terjadi konflik yang memakan banyak jiwa banding kan kalau dulu jumlah penduduk 50 juta hilang 3 juta kalo 250 juta hilang 15 juta belum yg bunuh diri akibat terkucil dan di sisihkan tak terhitung jumlahnya

Danial Rusdi said...

Mungkin di mata manusia kita di sebut pahlawan namun di. Hadapan Allah kita seorang pecundang konflik di Jakarta yg hanya waktu beberapa jam dan korban jendral yg tak di kawal haruskah di tebus dgn tiga juta orang yg tak tahu menahu konflik di ibukota haruskah mereka tinggal di seluruh republik ini yg menanggungnya dan rakyat saling bunuh dan ada yg bunuh diri kita tahu waktu itu rakyat kita banyak buta huruf sungguh tragis makan saja sudah banyak istilah pak Karno horas nah habis beras makan gabah tak ada beras makan bulgur apa saja di makan mulai talas gading ubi beras murah tapi tak ada mohon maaf kita tak membela PKI namun ini kenyataan dan tragedi bangsa yg korban rakyat yg lugu bangsa sendiri .Kita ibarat gong yg di tabuh tengahnya yg menonjol yg bergetar seluh tubuh gong sungguh dahsyat semoga Allah mengampuni aktor penyebab pembantaian sesama rakyat