Tuesday, 27 December 2016

Pembunuh Dubes Rusia Diketahui Dekat dengan Qatar

Indonesian Free Press -- Pembunuh Dubes Rusia di Turki, Mevl├╝t Mert Altintas diduga kuat memiliki kedekatan dengan pemerintah Qatar setelah terbongkar bahwa ia seringkali pergi ke negara itu paska kudeta gagal bulan Juli lalu.

Seperti dilaporkan FARS News, Senin (26 Desember), Altintas telah terbang ke Qatar beberapa kali sebelum insiden penembakan Dubes Rusia minggu lalu.

"Media Turki Zaman mengutip sejumlah sumber di Ankara melaporkan bahwa Altintas melakukan beberapa kunjungan ke Qatar setelah kudeta gagal di Turki. Polisi Turki juga menyebutkan bahwa Altintas terbang ke Qatar sebanyak dua kali pada bulan Agustus. Ia juga terbang ke Qatar pada bulan Oktober dan November," tulis FARS.

Menurut laporan itu tujuan kunjungan-kunjungan itu belum diketahui, namun polisi Turki tengah menyidiknya. Di antara penyidikan itu adalah meminta keterangan para pejabat Qatar.

Media yang dekat dengan pemerintah Turki, Daily Sabah juga  telah melaporkan hal ini di situs resmi sebelumnya, namun  kemudian menarik laporan itu. Adapun Zaman adalah media milik oposisi dan dikenal dekat dengan lawan Presiden Erdogan yang berada di pengasingan, Fethullah Gulen.

Penyidikan awal yang dilaporkan Zaman juga mengungkapkan bahwa pembunuh Dubes Rusia tersebut pernah bertempur di Suriah tahun 2015 bersama kelompok teroris Fatah al-Sham Front (al-Nusra Front). Diketahui juga bahwa Altintas telah membunuh beberapa prajurit Suriah selama pertempuran. Pembunuhan-pembunuhan itu telah diketahui oleh pejabat Turki yang terlibat dalam konflik di Suriah.

Sejak terlibat dalam konflik Suriah, Altintas menunjukkan perilaku agressif dan keinginan untuk melakukan pembunuhan-pembunuhan lainnya.

“Ia juga mengungkapkan keinginan-keinginan melakukan pembunuhan, namun tidak mengungkapkan sasarannya,” tulis laporan itu.

Sebelum melakukan penembakan terhadap Dubes Rusia, Altintas yang adalah anggota kepolisian khusus Turki, meminta ijin kepada atasannya untuk bertugas di Kedubes Rusia dan mulai melakukan pengamatan terhadap calon korbannya, tambah 'Zaman'. Selain itu, ia juga pernah bertugas mengawal Erdogan sebanyak delapan kali sejak kudeta gagal 15 Juli lalu. Ia berada di ring-2 selama pengawalan terhadap Erdogan, tulis wartawan Hurriyet Abdulkadir Selvi.

Dubes Andrey Karlov ditembak saat memberikan pidato di acara pameran foto bertema 'Rusia di Mata Turki' di Ankara awal pekan lalu. Mevlut Mert Altintas diketahui melepaskan delapan tembakan ke tubuh Karlov sebelum ia ditembak mati oleh polisi Turki.

Sementara itu Qatar dikenal sebagai pendukung kelompok teroris al Nusra dan pada November lalu mengumumkan akan tetap memberikan dukungan kepada para pemberontak Suriah meski Amerika menghentikan bantuannya.(ca)

No comments: