Sunday, 15 May 2016

Pemberontak Dikabarkan Berencana Rebut Kembali Palmyra, Rusia Siaga

Indonesian Free Press -- Keberhasilan merebut kembali kota Palmyra dari tangan pemberontak teroris bulan Maret lalu menjadi kemenangan yang sangat strategis nilainya di mata pemerintah Suriah dan juga Rusia. Terlebih bari Rusia, kemenangan di Palmyra, kota yang mayoritas warganya penganut Kristen Orthodok seperti Rusia, menjadi simbol kemenangan Rusia di Suriah. Tidak heran jika Rusia mau menggelar konser musik di kota itu.

Namun, kemenangan itu kini terancam dan menjadi tamparan keras bagi Suriah dan Rusia karena para pemberontak dikabarkan tengah melakukan persiapan serius untuk merebut kembali kota ini. Sialnya, secara geografis, kota ini sulit untuk dipertahankan kecuali dengan pengerahan kekuatan militer. Dan hal itu akan menjadi tugas berat bagi Rusia.

Seperti laporan The Veterans Today, 14 Mei lalu, sejumlah sumber 'terpercaya' memperkirakan adanya serangan mendadak besar-besaran oleh para pemberontak ke Palmyra.

"Pertempuran-pertempuran sengit antara pasukan pemerintah dan ISIS tengah berlangsung yang merupakan bagian dari serangan besar pemberontak untuk merebut Palmyra, sejak Suriah merebut kota ini dengan bantuan Rusia," tulis Veterans Today mengutip pernyataan Direktur Syrian Observatory for Human Rights, Rami Abdel Rahman, baru-baru ini.

Pertempuran kini berlangsung di dekat sebuah pangkalan udara militer, 45 mil selatan Palmyra.

Upaya pemberontak untuk merebut kembali Palmyra sangat masuk akal, karena akan menjadi simbol kekalahan telak regim Suriah dan pendukungnya, Rusia. Demikian laporan itu menyebutkan.

Setahun lalu, ketika ISIS tengah mempersiapkan serangan untuk merebut kota ini, banyak ahli yang mengatakan bahwa kota ini relatif mudah direbut, namun sulit untuk dipertahankan lama. Mereka benar, pada bulan Mei 2015, ISIS merebut kota ini tanpa banyak kesulitan. Namun kurang dari setahun kemudian pasukan |Suriah dan Rusia berhasil mengusir mereka.

"Palmyra sebenarnya sebuah oasis di padang pasir, yang mudah dikucilkan dari komunikasi, namun terlalu banyak pasukan dibutuhkan untuk mempertahankan wilayah di sekitarnya. Tidaklah mudah bagi pasukan pemerintah dan pendukung-pendukungnya untuk mempertahankan wilayah ini pada saat-saat berbahaya sekarang ini," tambah laporan itu.

Namun Rusia menjamin bahwa Palmyra tidak akan jatuh ke tangan pemberontak lagi.

"Baik kota Palmyra maupun jalan raya penghubung (Homs-Palmyra) di bawah pengawasan penuh kami. Pesawat-pesawat tempur juga dilibatkan untuk melindungi kota strategis ini. Para ahli kami terus bekerja di sana," kata pejabat Kemenhan Rusia kepada Veterans Today.

Pasukan Suriah tengah terlibat dalam pertempuran sengit, terutama di sekitar Aleppo, tidak memiliki cukup sumber daya untuk mempertahankan Palmyra jika diserang. Namun, bagi Rusia, Palmyra menjadi simbol kekuatan Rusia.

"ISIS telah meningkatkan offensifnya dan masih jauh dari kekalahan total," kata Grigory Kosach professor dari Department of History, Political Science and Law at the Russian State University for the Humanities, kepada media Rusia Kommersant.

“Pada saaat yang sama, Rusia yang telah menjadikan Palmyra sebagai simbol kemenangan, telah mempertaruhkan segalanya di sana. Ia tidak bisa menerima kekalahan dan kehilangan muka. Ini berarti Rusia akan terseret semakin dalam tahap baru yang lebih serius di Suriah yang tidak bisa diprediksi dampaknya," tambah Kosach.

"Militer Rusia di Suriah lebih besar dari yang diduga dan tidak akan kemana-mana," lapor Fredrick Pleitgen di CNN, 10 Mei 2016 lalu.

Blog ini akan menulis tentang kekuatan Rusia dan Iran di Suriah, insya Allah segera.(ca)