Saturday, 5 September 2009

Pakistan Kembali Menjadi Negara Jajahan. Indonesia?



Keterangan gambar: Konvoi kendaraan militer Amerika meninggalkan pelabuhan Port Qasim dan aktifitas anggota tentara bayaran Blackwater di Peshawar.


Baru-baru ini di pelabuhan Port Qasim, Pakistan sejumlah besar perlengkapan militer Amerika dibongkar. Selanjutnya dengan pengawalan ketat, perlengkapan itu diangkut ke dua kota utama Pakistan, Islamabad dan Peshawar.

Berita tersebut menambah kuat desas-desus di Pakistan bahwa Amerika, dengan dukungan regim pemerintahan Pakistan, tengah berusaha membangun pangkalan militer di Pakistan, menempatkan negara Pakistan sebagai koloni Amerika sekaligus menghancurkan pondasi negara yang telah merdeka sejak tahun 1947.

Sebelum kedatangan perlengkapan militer tersebut di Islamabad dan Peshawar telah tampak kesibukan luar biasa dari para personil kedutaan besar Amerika di Pakistan dengan kendaraan militer jeep Hummer. Amerika kini tengah membangun kedutaan besar baru yang lebih mirip sebagai benteng di Islamabad, tidak jauh dari pusat pemerintahan Pakistan.

Selain itu beberapa sumber inteligen militer Pakistan juga menyebutkan kedatangan 1.000 personil marinir Amerika plus tentara bayaran Blackwater untuk mengamankan proyek-proyek pembangunan kedutaan besar dan empat konsulat Amerika di Pakistan.

Meski tidak ada penjelasan resmi dari pemerintah Amerika maupun pemerintah Pakistan, namun pembangunan besar-besaran kantor kedutaan besar Amerika dan kantor-kantor konsulat serta kedatangan personil dan perlengkapan militer Amerika secara besar-besaran tidak bisa diartikan lain kecuali bahwa Pakistan telah mulai jatuh menjadi negara koloni Amerika, bukan lagi negara berdaulat penuh sebagaimana diperjuangkan para pendiri bangsa.

Gambar di atas menunjukkan sejumlah jeep Hummer militer Amerika keluar dari pelabuhan Port Qasim, Karachi. Gambar tersebut diambil secara diam-diam oleh inteligen Pakistan tgl 19 Agustus lalu. Gambar satunya lagi adalah aktifitas personil tentara bayaran Blackwater di Peshawar.

Bukti semakin tingginya aktivitas militer Amerika di Pakistan adalah ditangkapnya empat orang bersenjata otomatis yang diduga kuat adalah anggota tentara bayaran Blackwater, di ibukota Islamabad. Keempat personil tersebut ditangkap di sektor G-9 Islamabad tgl 29 Agustus. Meski memiliki kartu keanggotaan sebagai staff kedutaan Amerika, membawa senjata otomatis di tempat umum adalah tindakan terlarang.

Keempatnya ditangkap oleh polisi yang menghentikan kendaraan mereka dan memeriksanya. Setelah menjalani interogasi di pos polisi, keempatnya dilepaskan kembali setelah dua perwira tentara tiba dan mengancam para polisi dengan konsekwensi berbahaya jika tidak melepaskan mereka.

Keberadaan personil militer Amerika yang beroperasi secara aktif di Pakistan telah menjadi isu menarik akhir-akhir ini. Keberadaan mereka sering menimbulkan masalah, terutama dengan cara mereka mengemudi di jalan raya yang ugal-ugalan dan tingkah polah mereka yang kasar.

Baru-baru ini di Islamabad terjadi dua insiden yang melibatkan personil Amerika tersebut. Dalam kedua kasus itu personil diplomatik bersenjata Amerika itu menghina secara verbal maupun fisik polisi Pakistan. Karena indiden tersebut media-media massa Pakistan bahkan menurunkan tulisan menuntut pengusiran para personil diplomatik bersenjata Amerika dari Pakistan. Namun pemerintah Pakistan yang sangat pro-Amerika menolak mengambil tindakan apapun.

Dalam aktifitasnya, Amerika telah merekrut para pensiunan militer Pakistan secara diam-diam. Seorang profesor yang aktif menentang program nuklir Pakistan, juga telah direkrut sebagai konsultan. Secara moral dan hukum seorang pegawai atau personil militer dilarang menjadi pegawai pemerintahan asing. Namun dalam kasus pemerintahan Pakistan yang lemah, hal ini terjadi secara massal.

Ada analisis yang menyebutkan bahwa kehadiran militer Amerika di Pakistan dengan payung isu terorisme merupakan keinginan para politisi Pakistan yang khawatir kehilangan kekuasaan. Paska pemilu tahun 2008 gairah publik terhadap pemerintahan sipil terasa menurun tajam, terutama setelah terjadinya berbagai polemik politik di antara para politisi. Kegagalan pemerintah menghentikan aksi-aksi militer Amerika atas warga Pakistan di perbatasan Afghanistan juga menambah ketidak percayaan publik terhadap pemerintahnya. Hal ini tentunya menjadi alasan kuat kemungkinan terjadinya aksi kudeta militer terhadap pemerintah. Kekhawatiran itulah yang menjadi alasan mereka mengundang Amerika.

Amerika telah menghabiskan hampir $1 miliar untuk membangun kedutaannya di Islamabad. Jika selesai, gedung ini akan menjadi gedung kedutaan Amerika paling besar di dunia, mengalahkan kedutaan besarnya di Baghdad yang menghabiskan dana $700 juta. Ironisnya para politisi, baik kubu pemerintah pimpinan Presiden Zardari maupun kubu oposisi pimpinan mantan PM Nawaz Sharif diam seribu bahasa atas pembangunan gedung kedutaan yang luar biasa besar itu.

Mungkinkah hal seperti itu juga terjadi di Indonesia?

Sebagai warga negara yang menghormati para pahlawan pejuang kemerdekaan, tentu saya sangat menolak hal seperti itu terjadi di Indonesia. Tapi saya juga harus realistis, pemerintahan kita saat ini, sebagaimana pemerintahan sebelumnya paska Reformasi adalah pemerintahan yang lemah. Jangankan menghadapi Amerika, menghadapi Malaysia, GAM, OPM dan perusuh Timor Leste saja kita "keok".

Apalagi jika mengingat pidato kemenangan Presiden SBY yang disampaikan dalam bahasa Inggris. Saya khawatir beliau akan lebih banyak melayani Amerika dibandingkan rakyatnya sendiri sebagaimana mereka lebih memilih melayani para pemilik Bank Century dibandingkan rakyat.

Siapa Memberitahu Guiliani



Keterangan gambar: Rudy Giuliani suka bertingkah aneh dan berdandan sebagai wanita adalah kesukaannya. Tidak ada lain selain bahwa yang bersangkutan mengidap penyakit kejiwaan.


"Saya turun ke lokasi musibah dan membangun markas di 75 Barkley Street, bersama Komisaris Polisi, Komisaris Pemadam Kebakaran, dan Kepala Unit Manajemen Darurat. Kami tengah bekerja di sana saat diberitahu bahwa World Trade Center akan runtuh. Dan WTC benar-benar runtuh sebelum kami benar-benar keluar dari gedung. Jadi kami terperangkap di dalam gedung selama 10 sampai 15 menit sebelum berhasil keluar, berjalan ke utara dan membawa beberapa orang bersama kami."

Itu adalah pernyataan Walikota New York Rudolph Guiliani saat diwawancarai program ABC News Broadcast pada hari terjadinya Tragedi WTC 11 September 2001.

Hal itu menimbulkan pertanyaan besar. Siapa yang memberitahu bahwa WTC akan runtuh dan mengapa ia tahu bahwa WTC akan runtuh?

Tidak ada dalam sejarah sebuah gedung pencakar langit runtuh karena kebakaran. Bahkan seandarinya WTC terbakar hebat selama sehari semalam setelah ditabrak oleh tiga pesawat jet, WTC tidak akan runtuh karena memang dirancang demikian adanya.

Pengakuan Guiliani membuktikan bahwa gedung WTC sengaja diruntuhkan oleh siapa yang hanya Guiliani tahu. Guiliani memang membantah telah membuat pengakuan seperti itu meski terlalu banyak saksi dan bukti-bukti yang tidak dapat dibantah. Bahwa ia membantah, itu hanya menambah panjang daftar "dosa" Guiliani yang telah disandangnya sejak ia lahir.


Sejarah Kriminal Keluarga Guiliani

Michael Bernard Mukasey (Jaksa Agung semasa Presiden George W Bush) telah menjadi jaksa wilayah di New York selama lima tahun saat Guiliani terpilih sebagai walikota New York tahun 1994. Ia tentu tahu bahwa Giuliani adalah putra dari Harold Giuliani, seorang penjahat kawakan di kawasan Brooklyn sejak tahun 1930-an.

Harold Giuliani pernah menjalani hukuman penjara selama 18 bulan karena aksi perampokan bersenjata yang terjadi tahun 1934. Sebagaimana ditulis oleh Wayne Barrett dalam buku berjudul "Rudy," Harold Giuliani merupakan debt collector bagi praktik rentenir yang dilakukan saudara iparnya.

Adalah tidak masuk akal seandainya Michael Mukasey, seorang yahudi orthodox yang pernah meresmikan berdirinya menorah (simbol yahudi berupa tempat lilin) raksasa di depan Gedung Putih tidak mengetahui catatan hitam keluarga Guiliani yang telah dikenal luas di kalangan penegak hukum New York. Apalagi Mukasey dikenal sebagai pengamat sejarah kriminal New York. Ia pernah menulis artikel berseri di New York Times mengenai organisasi-organisasi kriminal New York yang dijalankan oleh orang-orang keturunan Italia pada tahun 1970-an. Tentu saja ia menyembunyikan fakta bahwa para mafia Italia itu hanyalah mitra yunior dari para penjahat keturunan yahudi seperti keluarga Bronfman sang raja minuman keras, dan Meyer Lansky serta Bugsy Siegel sang pendiri kota judi dan hiburan Las Vegas.

Demikian juga tidak masuk akal jika Alvin K. Hellerstein, yahudi orthodox lainnya yang menjadi jaksa wilayah New York atau Michael Chertoff, juga seorang yahudi orthodox yang bekerja sama dengan Guiliani sebagai asisten jaksa pada tahun 1980-an. Mukasey, Hellerstein dan Chertoff adalah tulang punggung Presiden George W Bush Jr dalam bidang hukum.

Begitulah sistem hukum dan politik Amerika bekerja. Pejabat dan kriminal bergandengan tangan di bawah payung yahudi.

Thursday, 3 September 2009

Paradoks Sejarah PD II



"Orang-orang yahudi itu, saya melihatnya sangat egois. Selama mereka mendapatkan perlakuan khusus, mereka tidak peduli berapapun jumlah warga etnis lain yang menjadi korban perang. Dan setelah mereka kuat kembali, tidak ada yang bisa menandingin mereka dalam hal kekejaman, tidak juga Hitler dan Stalin, dalam memperlakukan musuhnya."(Presiden Amerika Truman dalam satu catatan hariannya).



Sejarah adalah apa yang ditulis oleh penguasa. Kalimat tersebut sangat bijaksana karena memaparkan kenyataan sembari memberi kita ruang untuk belajar dari fakta-fakta sejarah secara fair untuk menjalani kehidupan dunia yang lebih baik di masa mendatang.

Kalimat itu juga sangat tepat untuk menggambarkan mitos perang dunia kedua yang ditulis di buku-buku sejarah dan ditayangkan dalam film-film fiksi maupun dokumenter, sebagai sebuah kebenaran. Sementara fakta yang sebenarnya justru berkebalikan.

Dari pelajaran sejarah yang kita terima kita mendapat gambaran bahwa:

* Tentara dan rakyat Jerman adalah kejam dan tidak berperikemanusiaan.
* Jerman berperang atas dasar chauvanisme (kebanggaan negara/ras yang berlebihan).
* Tentara sekutu memperlakukan musuhnya dengan baik.
* Amerika dan sekutu berperang untuk membela kebebasan bangsa-bangsa di dunia.
* Yahudi adalah golongan etnis yang paling menderita karena perang.

Namun kebusukan dan kejahatan tidak mungkin dapat disembunyikan selamanya. Gambaran-gambaran tersebut di atas adalah sangat bertolak belakang dengan kenyataan. Namun karena Amerika dan sekutunya adalah pemenang perang dan menjadi penguasa, maka sejarah ditulis menurut versi mereka.

Saya akan paparkan dua hal yang bertentangan dengan apa yang ditulis oleh buku-buku sejarah:

"Amerika, Inggris dan Perancis, dua tahun setelah berakhirnya perang, terus-menerus melanggar perjanjian Palang Merah Internasional dengan perlakuan mereka yang di luar peri kemanusiaan terhadap para tawanan perang" (Palang Merah Internasional)

"Tentara Jerman, bahkan di saat-saat menegangkan menjelang kekalahan mereka, memperlakukan para tawanan perang dengan baik sesuai dengan Konvensi Jenewa." (Lieutenant Newton L. Marguiles, U.S Assistant Judge Advocate)

Selama puluhan tahun tak terhitung film telah dibuat mengenai perang dunia II, Nazi Jerman dan holocoust. Sebut saja beberapa film terakhir: “The Reader,” “Valkyrie,” “Defiance” dan “The Boy in the Striped Pajamas”. Baru-baru ini juga telah beredar film populer dengan tema yang sama berjudul “Inglorious Basterds” yang disutradarai oleh Quentin Tarantino ---saya pernah menyukai filmnya "Pulp Fiction" yang dibintangi Uma Thurman dan John Travolta.

Film ini membongkar kebohongan seputar mitos perang dunia II. Bercerita tentang sekelompok tentara yahudi Amerika yang dipimpin oleh seorang letnan (diperankan oleh aktor Brad Pitt) yang membalas dendam kepada orang-orang Jerman di wilayah Perancis dalam perang dunia II. Dalam aksinya mereka melakukan tindakan-tindakan keji kepada para korbannya.

Aktor yahudi (dan seperti biasanya juga homosek, bisa dilihat dari bentuk mulutnya pada gambar di atas yang lebar seperti karet) Eli Roth menjadi aktor utama dalam film ini, memberikan komentarnya tentang film ini, "ide tentang balas dendam adalah seperti orgasme yang didapatkan dengan memukuli anggota Nazi hingga mati. Peran utama saya memukuli nazi hingga mati. Itu adalah hal yang menyenangkan bagi saya. Orang tua saya sangat kuat mendidik saya tentang holocoust."

Sementara itu sang produser, Lawrence Bender kepada Tarantino mengatakan, "sebagai produser, saya berterima kasih kepada Anda. Dan sebagai orang yahudi, saya berterima kasih, "motherf–ker" (istilah kotor yang dipopulerkan oleh orang yahudi), karena film ini adalah film "f–king" impian yahudi.”

Sementara itu ADL (Anti Defamation League, LSM yahudi paling berpengaruh di Amerika) dalam statemennya mengatakan, "film ini adalah penggambaran yang tepat mengenai kebaikan dan kejahatan dan juga merupakan suatu upaya tanpa henti untuk mengalahkan kejahatan yang dalam hal ini diperankan oleh Hitler dan para pendukungnya."


John Sack dan Solomon Morel

“Inglorious Basterds” adalah fiksi, namun buku "An Eye for an Eye: The Untold Story of Jewish Revenge Agaist German" adalah fakta. Buku karangan John Sack itu menceritakan bagaimana orang-orang yahudi melakukan pembalasan kepada orang-orang Jerman, baik tentaranya maupun warga sipilnya.

Orang-orang yahudi melakukan aksi balas dendamnya dengan berbagai cara, termasuk pemerkosaan sistematis terhadap para wanita dan anak-anak Jerman. Sack memperkirakan korban yang tewas karena aksi balas dendam tersebut mencapai 60.000 hingga 80.000 orang.

Sack, kebetulan seorang yahudi juga, mewancarai seorang wanita yahudi yang selamat dalam perang dunia II bernama Lola. Menurut Lola kaumnya, orang-orang yahudi memperlakukan orang-orang Jerman jauh lebih kejam dibandingkan perlakuan tentara Jerman terhadap orang yahudi.

"Terima kasih Tuhan, tidak ada yang mencoba memperkosa kami. Orang-orang Jerman melarang hal itu. Namun hal itu justru dialami oleh para wanita Jerman di penjara tempat saya ditahan di Gleiwitz”.

Segera setelah terbitnya buku "An eye for an eye ...", pemerintah Polandia, negeri di mana testimoni Lola terjadi, melakukan penyidikan. Seorang yahudi yang diduga kuat terlibat dalam aksi balas dendam yang keji bernama
Solomon Morel, melarikan diri ke Israel. Israel menolak mengekstradisi Morel ke Polandia untuk menghadapi pengadilan.

Penerbit-penerbit besar menolak menerbitkan buku Sack, dan media-media massa besar menolak untuk mereview buku tersebut setelah dipublikasikan oleh sebuah penerbit independen. John Sack pun langsung dikucilkan oleh komunistas yahudi dan dicap sebagai anti-semit.

Media massa, penerbit dan organisasi-organisasi yahudi menentang buku karangan Sack karena telah memperlihatkan sisi gelap yahudi yang memungkinkan munculnya kesadaran massa anti-yahudi yang berujung pada aksi-aksi penumpasan terhadap yahudi sebagaimana pernah terjadi di masa lalu. Sebaliknya mereka dengan semangat mendukung film fiksi buatan Tarantino.

Buku karangan Sack tentu saja tidak dimaksudkan untuk memicu anti-semitisme karena ia sendiri orang yahudi. Ia hanya ingin memperlihatkan bahwa yahudi bukan golongan manusia istimewa yang bebas dari kejahatan terhadap manusia lain.

Eli Roth, yahudi homosek yang tampak jelas dari bentuk mulutnya yang melebar seperti karet, dalam gambar promosi film "Inglourious Basterds" tampak membawa pemukul baseball yang digunakannya untuk memukul kepala para tawanan Jerman hingga pecah. Dengan bangga Eli Roth memuji film yang mempromosikan tindakan kekerasan itu sebagai “pornografi yahudi” dan “orgiastic.” Dua film terdahulu Roth, "Cabin Fever" dan "Hostel" juga mempromosikan kekerasan terhadap manusia, termasuk adegan pemotongan alat kelamin.

Ironisnya, orang Jerman yang dituduh keji, tidak pernah memproduksi film yang mengkampenyekan kekerasan sebagaimana dilakukan oleh orang-orang yahudi. Jadi siapa sebenarnya yang sakit jiwa? Nazi Jerman atau yahudi?

John Sack telah membuka tabir kekejian yahudi terhadap orang-orang Jerman paska perang dunia II. Tabir lebih besar telah tersusun sepanjang jaman, tentang kekejian orang-orang yahudi. Bagaimana dengan puluhan juta orang kristen Rusia, Polandia dan Ukraina yang dibantai oleh regim komunis yahudi Uni Sovyet? Bagaimana dengan ribuan orang Palestina yang dibantai oleh regim yahudi Israel? Bagaimana dengan pengakuan jaksa Edward Van Roden dalam pengadilan terhadap para prajurit Jerman yang dituduh sebagai penjahat perang, di Dachau tahun 1949?

Jaksa Amerika anggota Komisi Simpson U.S. Army itu mengungkapkan bahwa dari 139 prajurit Jerman yang menjadi tertuduh, sebanyak 137 orang telah mengalami penyiksaan keji sebagai tawanan perang berupa perusakan organ seksual mereka sehingga mengalami cacat permanan yang tidak bisa disembuhkan.

Charles F. Wenersturm, seorang hakim Amerika yang menjadi hakim dalam pengadilan Nuremberg yang mengadili para penjahat perang Jerman, mengundurkan diri setelah melihat fakta-fakta kekejian orang yahudi terhadap orang Jerman paska perang yang oleh media massa Amerika dan barat justru dipuji sebagai "keadilan".

Lalu bagaimana dengan 6.000 warga Palestina yang disiksa tentara Israel setiap tahun? Pembunuhan massal atas warga Palestina di Sabra dan Shatilla, Qana, Jenin, Gaza dan pembersihan etnis di Tepi Barat?

Film sadis, jorok dan keji ini telah mendapatkan promosi dan pujian besar-besaran media massa (genggaman yahudi) di seluruh dunia. Hal itu membuktikan betapa kuatnya pengaruh yahudi atas dunia. Membuka tabir di balik film ini juga akan membuka tabir kejahatan mereka yang menebarkan kerusakan di seluruh penjuru dunia, terutama di Palestina, Irak, Afghanistan, Somalia dan kini tengah mempersiapkan kerusakan lainnya dengan menyerang Iran.

Membela sang Durjana, Menghujat sang Mulia


Sebagai bentuk kecintaanku kepada keluarga Rosulullah sebagaimana diperintahkan Allah dalam Al Qur'an: "Katakanlah (Muhammad): Aku tidak meminta upah atas seruanku kecuali kasih sayang kepada keluargaku" (QS 42:23), aku memberi nama anak-anakku nama-nama ahlul bait. Anak pertama kuberi nama "Muhammad", anak kedua "Fathimah", dan anak ketiga "Ali".

Sebaliknya aku tidak habis pikir ketika tetanggaku, seorang pengikut jamaah yang menamakan diri "salafi" (aku lebih suka menganggapnya sebagai wahabi, satu sekte yang didirikan oleh orang yahudi untuk menghancurkan Islam secara diam-diam. Mereka telah menghancurkan semua situs sejarah Islam termasuk rumah Rosulullah, dan nyaris saja menghancurkan makam nabi Muhammad kalau tidak diprotes keras oleh umat Islam dari seluruh dunia termasuk dari Indonesia. Sekte ini sekarang memegang kekuasaan di Arab Saudi dan menjadi sekte resminya kerajaan Saudi), menamakan anaknya dengan nama "Jazid". Tidakkah ia tidak tahu bahwa Jazid adalah nama seorang durjana yang telah membunuh Hussein, cucu kesayangan Rosulullah di Karbala? Tidakkah ia juga tidak tahu kalau Jazid pulalah yang bertanggungjawab dalam Tragedi Hurrah, yaitu penyerbuan yang disertai penjarahan, pembunuhan dan pemerkosaan massal terhadap dua kota suci Makkah dan Madinah?

Pernah saya memancing pembicaraan dengannya tentang Jazid bin Muawiyah. Saya utarakan apa yang saya ketahui mengenai sosok Jazid. Dengan gigih ia membela Jazid sebagai sosok yang "alim". Menurutnya Jazid tidak bersalah dalam peristiwa pembunuhan Hussein karena yang membunuh adalah bawahannya tanpa sepengetahuan dirinya. Sedangkan mengenai Tragedi Hurrah ia menolak peristiwa itu pernah terjadi meski peristiwa itu tertulis dalam buku-buku sejarah klasik Islam.

Masya Allah, seorang durjana terbesar dalam sejarah umat Islam masih tetap dibela oleh orang yang mengaku Islam.

Memang sebagai seorang raja, Jazid tidak perlu repot-repot menghunuskan pedang untuk membunuh lawan-lawan politiknya. Hanya moron (lebih bodoh dari idiot) yang percaya hal seperti itu. Tapi peristiwa pembunuhan Hussein mutlak menjadi tanggungjawab Jazid, hatta jika ia tidak memerintahkan pembunuhan itu. Diamnya dia terhadap pembunuh Hussein telah membuktikan keterlibatannya dalam peristiwa itu. Apalagi jika memang dialah yang menjadi dalang pembunuhan itu sebagaimana banyak ditulis oleh buku-buku sejarah.

Bagaimana kita tidak percaya Jazid melakukan tindakan keji memerintahkan pembunuhan Hussein dengan memenggal kepalanya, mengaraknya kepala jenazah dari Irak ke Damaskus, dan memukuli muka Hussein dengan tongkat di hadapan orang-orang? Neneknya, Hindun, bahkan telah melakukan tindakan yang tidak kalah keji: memakan jantung Hamzah bin Abdul Muthalib yang tidak lain adalah kakek Hussein dan paman Rosulullah.

Semua tindakan keji kepada keluarga Rosulullah itu tidak lain adalah dilandasi oleh dendam keluarga yang telah diwarisi selama puluhan tahun yang menghinggapi keluarga Bani Umayah. Orang akan sulit menerima alasan dendam keluarga bisa membuat seseorang berlaku keji, bahkan kepada keluarga Rosulullah yang disucikan Allah, jika tidak memahami adat dan budaya bangsa Arab di masa lalu.

Bangsa Arab adalah bangsa nomaden, kecuali beberapa kabilah yang tinggal di kota-kota seperti Mekkah, Madinah dan Thaif. Di antara kabilah-kabilah tersebut tidak ada seorang penguasa yang menjadi kepala pemerintahan, sementara bangsa-bangsa beradab lain di sekitar Arab tidak terlalu peduli dengan keberadaan bangsa ini karena kondisi geografis, sosial dan ekonomi bangsa Arab yang tidak menarik untuk dikuasai. Hukum yang berlaku di antara bangsa Arab adalah hukum rimba. Seorang bangsawan sebuah kabilah dalam sekejab bisa menjadi budak setelah kafilahnya dirampok oleh kabilah-kabilah nomad.

Menghadapi kondisi seperti itu, orang-orang Arab secara ilmiah melakukan "pertahanan diri" dengan memupuk rasa persatuan berdasarkan kabilah atau keluarga sehingga jika satu orang anggota kabilah mendapat serangan, seluruh anggota kabilah akan membelanya mati-matian. Hal ini membuat warga dari kabilah lain berfikir dua kali untuk melakukan sebuah tindakan agresif.

Pada masa-masa sebelum kelahiran Rosulullah, kota Mekkah telah diwarnai dengan persaingan diam-diam antara kabilah Bani Muthalib/Hasyim dengan Bani Umayah. Persaingan ini berkaitan dengan jabatan kehormatan yang disandang oleh pemimpin kabilah yang diangkat menjadi penjaga Ka'bah. Selama berpuluh tahun jabatan ini dipegang oleh pemuka kabilah Bani Muthalib/Hasyim yang memang dikenal sebagai keluarga yang jujur, bersahaja namun tegas. Sementara Bani Umayah yang lebih pragmatis menguasai perekonomian melalui beberapa anggota keluarganya yang sukses menjadi pedagang, seperti Abu Sufyan dan Usman bin Affan.

Ada satu kisah menarik mengenai oportunisme dan pragmatisme Abu Sufyan, dan itu mungkin yang mendasari ia dan keluarganya termasuk istrinya, Hindun, putranya, Mu'awiyah dan cucunya, Jazid, masuk Islam setelah tidak ada pilihan lain menyusul jatuhnya kota Mekah ke tangan Islam. Paska perang Hunain di mana pasukan Islam mendapatkan harta rampasan perang yang melimpah, Abu Sufyan mendapat bagian ekor unta. Tanpa malu-malu ia meminta bagian untuk anaknya, Mu'awiyah. Nabi pun menambahnya dengan 100 ekor unta lagi. Namun itu pun masih kurang. Ia meminta tambahan lagi untuk cucunya, Jazid. Permintaan ini pun dikabulkan Rosul.

Persaingan antara keluarga Bani Muthalib/Hasyim dengan Bani Umayyah tersebut semakin keras setelah kedatangan Rosulullah dengan agama barunya, Islam. Keluarga Bani Umayah dikenal sebagai penentang utama Rosulullah sementara keluarga Bani Muthalib/Hasyim menjadi pelindung Rosulullah. Meski terdapat beberapa pengecualian seperti Usman bin Affan yang menjadi pendukung Rosulullah dan Abu Lahab, paman Rosul yang justru memusuhi Rosul, namun secara umum kedua keluarga memiliki sikap yang bertentangan dalam hal penyiaran Islam.

Permusuhan berdasarkan sentimen keluarga tersebut begitu hebatnya mengalahkan ikatan-ikatan lainnya. Perlu diketahui bahwa Rosulullah adalah menantu dari Abu Sufyan. Namun kebencian keluarga membuat ikatan perkawinan seolah menjadi tanpa arti. Abu Sufyan memerintahkan putrinya, Ummu Habibah, untuk bercerai dengan Rosul, namun Ummu Habibah tetap memilih menjadi istri Rosul.

Rosulullah dan Ali bin Abu Thalib sebagaimana kita ketahui adalah anggota kabilah Bani Muthalib/Hasyim, dan Muawiyah serta Jazid adalah anggota kabilah Bani Umayah.

Persaingan tersebut semakin massif setelah umat Islam mengangkat senjata melawan orang-orang khafir Quraisy dari Mekkah. Dalam peperangan-peperangan yang terjadi antara keduanya, Bani Umayah dengan Abu Sufyan sebagai pemimpinnya, selalu menjadi tulang punggung pasukan orang-orang Quraisy. Sementara Bani Muthalib/Hasyim dengan ikonnya Hamzah bin Abdul Muthalib dan Ali bin Abi Thalib, tampil sebagai pelindung Rosulullah yang paling tangguh.

Fenomena seperti itu tampak jelas dalam drama Perang Badar. Ketika perang akan dimulai dan pasukan Islam dan kafir Quraisy sudah berhadap-hadapan, tiga orang Quraisy tampail ke muka dan menentang duel. Ketika tiga orang Anshar (penduduk asli Madinah) tampil ke muka untuk melayani tantangan, orang-orang Quraisy, ketiga orang Quraisy tersebut menolak dan meminta Rosulullah mengirimkan tiga orang anggota keluarganya untuk melayani tantangan mereka. Maka Rosulullah memerintahkan tiga kerabatnya, Hamzah, Ali, dan Abu Ubaidah untuk berperang tanding.

Dan Perang Badar menjadi ladang pembantaian pertama Bani Umayah oleh Bani Thalib/Hasyim yang menimbulkan bara api dendam yang hebat. Dan di antara anggota Bani Thalib/Hasyim Ali adalah orang yang paling banyak membunuhi anggota Bani Umayyah.

Ironisnya selain membela sang durjana, Jazid maupun ayahnya Mu'awiyah yang telah memberontak kepada khalifah Ali bin Abi Thalib yang sah dan dikutuk Rosulullah sebagai orang yang tidak pernah bisa kenyang perutnya, sebagian umat Islam dengan gigih mengkafirkan Abu Thalib.

Ia adalah paman Rosul yang telah membela Rosulullah dengan nyawanya sehingga memungkinkan Rosulullah melaksanakan dakwahnya dan Islam berkembang di antara penduduk Mekkah. Tidak ada orang yang lebih berjasa membela Islam selain beliau. Pembelaannya kepada Muhammad sudah menjadi bukti kuat bahwa beliau telah beriman kepada Islam. Bahkan berdasarkan banyak riwayat, Abu Thalib telah beriman kepada kerosulan Muhammad S.A.W saat Rosul belum resmi diangkat menjadi nabi.

Riwayat itu menyebutkan ketika Abu Thalib dan Rosul melakukan perjalanan dagang ke Syria, mereka berjumpa dengan serang pendeta nasrani yang melihat tanda-tanda kenabian Rosulullah berdasarkan kitab suci yang dianutnya. Saat itu sang pendeta memberitahukan tentang kenabian Rosulullah menyarankan kepada Abu Thalib untuk melindunginya terhadap orang-orang musrik dan orang-orang yahudi. Abu Thalib yang telah melihat keistimewaan ahlak Rosul sejak kecil percaya sepenuhnya dengan ramalan pendata nasrani tersebut dan berjanji akan melindungi Rosul dengan nyawanya. Janji itu ditepatinya hingga ia meninggal dunia. Tidak ada alasan lain yang membuat Abu Thalib mengambil keputusan untuk membela Rosulullah dengan taruhan nyawanya kalau bukan karena keimanan yang kuat. Jika tidak, ia akan seperti Abu Lahab yang justru memusuhi Rosulullah, atau Abbas bin Abdul Muthalib yang lepas tangan terhadap nasib Rosulullah.

Apa kita berani mempertaruhkan hak kita atas surga dengan membuat tuduhan kafir terhadap Abu Thalib? Atas dasar apa kita berani mengkhafirkan orang yang paling berjasa terhadap Islam? Berdasar riwayat-riwayat hadits? Atau karena beliau tidak sholat dan tidak berjihad? Dan kalaupun beliau juga berkompromomi dengan orang-orang mushrik Quraisy dalam hal ibadah dan mu'amalah, bukankah hal itu diperbolehkan dalam kondisi umat Islam yang masih lemah? Bahkah bagi orang-orang muslim yang terancam, Allah mengijinkan mereka untuk mengikrarkan kekhafiran selama hati mereka tetap beriman sebagaimana dilakukan Ammar bin Yasir, budak keluarga Abu Sufyan.

Ammar bin Yasir, yang tidak tahan dengan siksaan keluarga Abu Sufyan, akhirnya "pura-pura" keluar dari Islam demi menyelamatkan nyawanya. Ketika ia mengadu kepada Rosulullah, beliau mendoakan Ammar dan kemudian turunlah ayat yang membolehkan orang bersiyasah dengan pura-pura murtad, dan hatinya tetap Islam. Namun tidak demikian nasib kedua orang tua dan saudara Ammar. Mereka meninggal secara mengenaskan karena siksaan keluarga Abu Sufyan.

Mengenai alasan terakhir saya jelaskan bahwa saat Abu Thalib meninggal, belum ada perintah untuk sholat apalagi berjihad. Perintah sholat diberikan setelah nabi menjalani Isra' Mi'raj yang terjadi setelah kematian Abu Thalib. Sedangkan perintah berjihad terjadi jauh setelah kematian Abu Thalib, yaitu setelah ummat Islam berhijrah ke Madinah. Pada saat itu bahkan Rosulullah hanya bisa membujuk pengikutnya yang mendapat siksaan hebat dari orang-orang musrik Quraisy untuk bersabar.

Adapun mengenai hadits perlu diketahui bahwa kumpulan hadits yang dibuat oleh para ulama ahli hadits terjadi tiga abad setelah kematian Rosulullah. Di antara selang waktu itu telah muncul puluhan ribu hadits palsu yang beredar luas di tengah-tengah umat Islam. Para ulama hadits memang telah bekerja keras untuk menyaring hadits-hadits itu, namun bias tetap saja terjadi. Apalagi karena adanya faktor politis dimana penguasa memaksakan hadits-hadits yang ditulis agar sesuai dengan keinginannya.

Dan hadits pengkhafiran Abu Thalib tentu sangat disukai penguasa yang memusuhi ahlul bait, karena dengan demikian mendelegitimasi klaim ahlul bait. Para ahlul bait adalah keturunan Ali bin Abu Thalib dan putri Rosulullah Fathimah az-Zahra. Dengan kafirnya Abu Thalib yang merupakan ayah Ali, maka kedudukan Ali menjadi agak lemah di mata ummat.


Catatan:
Berikut ini adalah contoh kesalahan yang terdapat pada kitab Shahih Bukhari Muslim, kita yang oleh umat Islam Sunni legitimasinya dianggap hanya kalah oleh Al Qur'an.


Kitab-kitab Hadis Standar Sunni Dalam Bahaya!
Posted on Juni 20, 2009 blog inilah jalanku

by Ibnu Jakfari

Tidak syak lagi bahwa ajaran Islam dibangun di atas dua pilar utama; Al Qur’an dan Sunnah! Al Qur’an adalah qath’iul wurûd (sudah pasti dan terbukti datangnya dari sisi Allah SWT), kendati dalam dalâlah/petunjuknya bersifat dzanni (masih terbukanya beberapa penafsiran tentangnya). Sedangkan Sunnah Nabiwiyah kita terima dalam kualitas dzanniyah, yang rawan pemalsuan, kekeliruan dan penyelewengan. Sebagaimana dari sisi dalâlah-nya juga banyak yang bersifat dzanniyah.[1]

Berangkat dari kenyataan ini, adalah keharusan atas para ulama untuk menyeleksi dengan teliti semua riwayat yang memuat klaim Sunnah agar kita dapat menemukan Sunnah yang shahihah dari tumpukan riwayat-riwayat yang mengklaim memuat Sunnah!


Dan karena produk-produk palsu atas nama Sunnah Nabi saw. telah membanjiri ‘Pasar Hadis’ maka tidaklah heran jika banyak ‘Ahli Hadis’ yang tertipu dan kemudian menganggapnya sebagai Sunnah yang sedang mereka cari![2] Mereka mengoleksinya dalam kitab-kitab kebanggaan mereka dan generasi berikutnya menganggap produk palsu itu sebagai Sunnah Nabi Muhammad saw.; sumber kedua ajaran Islam yang murni! Kitab-kitab hadis yang diyakini penulisnya sebagai hanya memuat hadis-hadis shahih sekali pun ternyata tidak selamat dari rembesan hadis-hadis palsu atau hadis-hadis bermasalah!

Namun demikian sebagian pihak mengklaim dengan nada menantang bahwa apa yang dilakukan para Muhaddis Sunni telah mencapai puncak ketelitian dalam menyeleksi hadis-hadis, dan puncak dari usaha itu adalah dibukukannya enam kitab hadis Shahih, khususnya Shahih Bukhari dan Shahih Muslim!

Dalam kesempatan ini saya tidak sedang meragukan “kerja ngotot” mereka dalam menyaring hadis, akan tetapi sekedar mempertanyakan sejauh mana kesuksesan usaha tersebut! Sebab pada kenyataannya masih terlalu banyak hadis bermasalah yang lolos seleksi dan masuk dalam kategori hadis sehat, sementara ia mengandung penyakit!

Mungkin hal itu diakibatkan oleh dahsyatnya produk-produk palsu yang diikemas dengan kemasan menarik dan menipu sehingga bukan hal mudah membedakannya dari Sunnah yang Shahihah! Atau diakibatkan ketidak akuratan alat seleksi yang mereka pergunakan! Atau karena sebab lain! Wallahu A’lam.

Hadis-hadis bermasalah itu menyebar hamper dalam semua bab dan tema agama, dari tema akidah, syari’at (fikih), akhlak, sejarah para nabi as., sejarah Nabi Muhammad saw. dll.

Di bawah ini saya berharap ada jawaban memuaskan dari mereka yang membanggakan hasil usaha slektif para Ahli Hadis Sunni, yang dianggapnya telah mencapai puncaknya! Berbeda dengan dunia hadis Syi’ah yang masih amboradul, serba tidak matang, tak mengenal liku-liku sanad riwayat dan rentang kepalsuan! Saya berharap teman-teman tersebut mmeberikan jawaban ilmiah tentang hadis-hadis bermasalah riwayat Bukhari dean Muslim atau salah satu dari keduanya di bawah ini. Dan sengaja saya batasi telaah saya pada dua kitab tershahih setelah Al Qur’an itu mengingat:

A) Kedua kitab tersebut adalah telah mendapat kepercayaan luas di kalangan tokoh-tokoh Ahlusunnah sebagai Ashahhu kutubi ba’da itabillah/kitab tershahih setelah Kitabullah!

B) Dengan melibatkan kitab-kitab hadis level dua dikhawatirkan akan makin mempermarah keadaan. Sebab dalam kitab-kitab tersebut terdapat banyak hadis yang mengerikan untuk diungkap, walaupun dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim juga banyak hadis yang tidak kalah bermasalahnya!

Postur Nabi Adam as. Sama dengan Postur Allah SWT!
Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Nabi saw. bersabda:

“Allah menciptakan Adam atas bentuk/shûrah-Nya, panjangnya enam puluh hasta. Dan ketika Dia menciptakannya, Dia berfiman, ‘Pergilah dan ucapkan salam kepada para malaikat yang sedang duduk itu dan dengarkan jawaban mereka, karena ia adalah ucapan salammu dan salam keturunmu. Maka Adam mengucapkan: “Salam atas kalian.” Lalu mereka menjwab: “Salam dan rahmat Allah atasmu.” Para malaikat itu menambah kata rahmat Allah. Maka setiap orang yang masuk surga akan berpostur seperti Adam. Dan setelahnya ciptaan berkurang (mengecil) ukurannya sehingga seperti sekarang ini.”

(HR. Shahih Bukhari, Kitab al Isti’dân, Bab Bad’u as Salâm dan Shahih Muslim, Kitab al Jannah wa Shifatu Na’îmiha, Bab Yadkhulul Jannah Aqwâmun…)

Hadis di atas dengan redaksi lain, dari Abu Hurairah dari Nabi saw. :

“Jika seorang dari kalian memukul saudaranya hendaknya ia menghindari memukul wajah, sebab sesungguhnya Allah menciptakan Adam atas bentuk/shûrah-Nya.”

(HR Shahih Muslim, Bab an Nahyu ‘An Dharbil Wajhi/larangan memukul wajah)

Ibnu Jakfari Berkata:

Maha suci Allah dari menyerupai makhluk-Nya!

Ada kekhawatiran bahwa Abu Hurairah menimba ucapan itu dari Guru Besar yang bernama Ka’ab al Ahbâr; seorang pendeta Yahudi yang berpura-pura memeluk Islam dan kemudian menyebarkan ajaran yahudiyah di tengah-tengah kaum Muslimin dan sempat memikat kekaguman sebagian sahabat, seperti Abu Hurairah yang kemudian menjadi murid setia yang rajin menjajahkan kepalsuan bualannya!

Sebab bulalan palsu seperti itu termuat dengan kentalnya dalam Al Kitab; Penjanjian Lama, Kitab Kejadian:1:27:

Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambarann-Nya, menurut gambaran Allah diciptakan-Nya dia.”[4]

Dan pada Kitab Kejadian 5:1:

“Pada waktu manusia itu diciptakan oleh Allah, dibuat-Nyalah dia menurut rupa Allah.”

Para penafsir Al Kitab kebingungan dalam mengahadapi ayat-ayat di atas, dan akhirnya mereka terpaksa mempelesetkan maknanya agar tidak memberi makna materistis bagi Dzat Allah. Mereka mengartikan bahwa yang dimaksud dengannya adalah bahwa Allah menciptakan manusia menyerupai Allah dalam kesucian/kekudusannya.[5]

Sepereti Anda ketahui bahwa tasfir yang dipilih dalam kamus tersebut adalah demi menghindar dari tajsîs/meyakini Allah berpostur seperti makhluk-Nya. Tetapi anehnya mereka yang mengadopsi tekas Al Kitab dan kemudian menamakannya sebagai sabda Nabi sauci Muhammad saw. letah melangkah lebih jauh dengan menutup semua pintu usaha untuk menakwilkannya dengan selain makna posturisasi Allah. Maha suci Allah dari pensifatan mereka, seperti yang dapat Anda saksikan dalam riwayat kedua yang saya sebutkan dari riwayat Imam Muslim!


Jika Tinggi Ada 60 Hasta, Berapa Lebar Badannya?

Saranya sah-saha saja jika ada yang usil dan ingin tahu berapa sebenarnya lebar badan Nabi Adam as. sebab beliau addalah ayah kita semua. Di sini al ‘Aini –pensyarah Shahih Bukhari- memberikan jawaban pasti bahwa lebar badan Adam; ayah umat manusia adalah tujuh hasta! Hanya tujuh hasta! Tidak lebih dan tidak kurang![6]

Edialkah prawakan seperti itu? Panjang 60 hasta, lebar 7 hasta!

Jika panjang/tinggi Adam itun 60 hasta itu mkeniscayakan tulang tengkoraknya sepanjang 2 hasta. Tapi anehnya sepanjang penemuan vosil dan kerangka manusia pra sejarah sekalipunn tidak pernah ditemukan tengkorak manusia seperti itu! Apa yang ditemukan para iilmuan tidak jauh beda besarnya dengan tengkorak manusia sekarang/modern. Tidak pula ternah ditemukan ada kerangka manusia setinggi 60 hasta!

Selain itu, jika benar apa yang dikatakan Abu Hurairah bahwa tinggi Adam as. adalah 60 hasta maka sermestinya tebal badannya mencapai 17,7 hasta. Sebab manusia normal, lebar badan mestinya adalah 2/7 dari tinggi badannya!

Jika benar bahwa lebar badan Adam as. itu 7 hasta maka semestinya tingginya adalah 24,5 hasta bukan 69 hasta!

Jadi di hadapan ucapan Abu Hurairah itu hanya ada dua plihan;

A) Abu Hurairah salah dalam memberikan gambaran postur Nabi Adam as.!

B) Adam as. memang diciptakan tidak Fi Ahsani taqwîm/sebaik-baik bentuk penciptaan. Postus Adam as. terlalu ramping, tidak serasi antara tinggi dan lebar!


Allah SWT Memamerkan Betis Indah-Nya
Di antara hadis-hadis Shahih Bukhari dan Muslim terkait dengan masalah tauhid dan sifat Allah SWT yang perlu mendapat sorotan adalah hadis yang mengatakan bahwa: “Kelak di hari kiamat ketika para pengyembah selain Allah telah dipertemukan dengan sesembahan mereka…. Sehingga setelah selesai dan tidak tersisa melainkan mereka yang menyembah Allah; baik yang shaleh maupun yang durja. Datanglah Allah Rabbul ‘Alâmin daalam tampilan lain yang lebih rendah dari tampilan yang pernah mereka kenal di dunia dahulu, lalu Allah berfirman kepada mereka, “Apa yang kalian nanti? Semua telah mengikuti sesembahan yang dahulu mereka sembah.” Maka mereka menjawab, “Orang-orang telah meninggalkan kami di dunia di saat kami sangat membutuhkan mereka, kami tidak menemani mereka. Kami sedang menanti Tuhan yang dahulu kami sembah.” Lalu Allah berfirman, “Aku-lah Tuhan kalian.” Maka mereka berkata, ‘Kami tidak pernah menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun. Dua atau tiga kali mereka ucapkan.

Dalam riwayat lain: “Maka datanglah Dzat Yang Maha Perkasa dalam bentuk selain bentuk yang dahulu mereka saksikan pertama kali, lalu Dia berkata, “Aku-lah Tuhan kalian.” Maka mereka berkata, “Engkau Tuhan kami?”…

Dalam riwayat lain, mereka berkata menolak, “Kami berlindung darimu!.”

Maka Allah berfiman, “Adakah tanda antara kalian dan Dia dengannya kalian mengenal-Nya?” Mereka berkata, “Ya, ada. Betis.” Maka Allah menyingkap betis-Nya. Maka bersujudlah semua orang Mukmin, adapun orang yang dahulu menyembah-Nya karena riya’ dan mencari pamor tidak bias bersujud, setiap kali mereka hendak bersujud punggung mereka menajdi seperti papan dan mereka tertelungkup… “

(Shahih Bukhari, Kitab at Tauhid, Bab Qaulullah –Ta’ala- Wujûhun Yaumaidzin Nâdzirah, hadsi no.7439 dan beberapa tempat lainnya di antaranya: Kitab at Tafsîr, Bab Qaulihi Innallaha Lâ Yadzlimu Mitsqâla Dzarratin, hadis no.4581 dan baca juga Shahih Muslim Bab Ma’rifah Tharîq ar Ru’yah).

Dalam riwayat-riwayat tersebut dikatakan bahwa (1) Umat manusia kelak di hari kiamat akan melihat Allah dengan mata telanjang! Sebagiamana sebelumnya mereka juga pernah melihat-Nya hanya saja dalam tampilan dan bentuk lain yang berbeda dengan bentuk di hari kiamat. Dan hal itu tentunya meniscayakan adanya cahaya yang menyambung antara mata dan Dzat Allah! (2) Memandang Allah SWT drngan mata telanjang ternyata tidak terbatas hanya bagi kaum Mukminin saja, akan tetapi Allah juga akan dilihat oleh kaum munafikin! (3) Allah memiliki bentuk yang terdiri dari bagian-bagian dan berlaku padanya apa yang berlaku atas meteri seperti berpindah tempat, bergerak dan menempati ruang, serta akan tampil untuk di permukaan dan diliaht mata telanjang! (4) Allah tampil daalam rupa dan bentuk yang bermacam-macam. (5) Dan ketika Allah tampil di hari kiamat dalam bentuk dan rupa lain yang tidak mereka kelal sebelumnya, maka mereka meminta agar Allah menampakkan tanda pengenal yaitu betis! Akhirnya Allah menyingkap betis-Nya dan mereka pun mengenali-Nya lalu merreka bersujud!

Itu artinya, andai Allah tidak memperkenalkan jati diri-Nya dengan menyingkap betis-Nya pastilah kaum Mukminin di hari kiamat itu tidak akan mengenal-Nya. Maha suci Allah dari menyerupai makhluk-Nya!


Betis Allah!

Masalah penetapan adanya betis Allah SWT. yang Allah singkap itu terkait dengan ayat 42 surah Nûn, karena itu, Bukhari menyebutkan hadis ini pada tafsir surah Nûn Bab Yauma Yuksyafu ‘An Sâqin, sebagai tafsir dari ayat tersebut! Oleh sebab itu kami akan menelaah maksud ayat tersebut walau secara ringkas.

“Pada hari betis disngkapkan…. “

Ayat tersebut dalam rangkaian ayat-ayat yang berbicara tentang kedahsyatan kejadian di hari kiamat. Kaum kafir diminta untuk mendatangkan sesembahan mereka untuk menolong dan menyelamatkan mereka! Kapan? “Pada hari betis disngkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud, maka mereka tidak kuasa.” Yang dimaksud dengan betis disingkapkan adalah menggambarkan keadaan yang sedang ketakutan dan kedahsyatan yang sangat!

Tafsir ini telah dinukil dari para pembesa Salaf, seperti Ibnu Abbas, hasan al Basrhi, Mujahid, Qatadah dan Sa’id ibn Jubair. Baca ketarangan mereka dalam: Fathu al Bâri,18/307.

Akan tetapi, Bukhari memaknai kata sâqin dengan arti betis dan dikaitan dengan Dzat Allah SWT.; betis Allah!!

Dan akibat menerima tanpa seleksi hadis Bukhari di atas, sebagian orang berkeyakinan bahwa Allah SWT punya betis yang kelak pada hari kiamat akan disingkap sebagai tanda pengenal kepada kaum Mukminin!!

Mengepa terjadi penyelewengan dalam memahami makna ayat di atas? Jawabnya jelas! Karena Bukhari; Imam Ahli Hadis telah meriwayatkannya demikian!

Sementara salah satu pangkal kesalahan itu terletak pada adanya kesalahan pada penukilan teks sebenarnya! Imam Bukhari meriwayatkannya dengan redaksi demikian:

“Tuhan kami menyingkap betis-Nya, maka bersujudlah semua orang mukmin dan mukminah….” (HR. Bukari, Kitab at Tafsîr, Bab Yauma Yuksyafu ‘An Sâqin, hadis no.4919)

Sepertinya terjadi kesalahan dalam redaksi itu yang kemudian menyebabkan kekacauan akidah tentang sifat Allah SWT.

Coba Anda perhatikan redaksi dalam ayat Al Qur’an di atas! Ia hanya menyebutkan kata: ????dan dalam bentuk nakirah. Ia berkata, “Pada hari betis disngkapkan.” Tidak ada sebutan bahwa Allah menyingkap betis-Nya, sehingga ia sama sekali tidak terkait dengan sifat Allah! Akan tetapi, ketika kita memerhatikan riwayat Bukhari kita temukan bahwa Allah yang menyingkap betis-Nya! Betis Allah!!

Karenanya salah seorang tokoh agung Ahli Hadis Sunni bernama Isma’ili menegaskan bahwa pada redaksi riwayat Bukhari di atas terjadi kesalahan! Yang shahih adalah tanpa kata ganti orang ketiga: ?? pada kata: ??????, sebab redaksi terakhir ini sesuai dengan redaksi Al Qur’an. Dan tidak lah terbayangtkan bahwa Allah punya organ badan sebab yang demikian itu menyerupkan-Nya dengan makhluk-Nya, sementara Allah tidak menyerupai makhlu-Nya! Demikian ditegaskan al Isma’ili.[7]

Jadi dalam hemat al Isma’ili, Bukhari salah dalam menukil atau meriwayatkan redaksi hadis yang salah!

Akankah para ulama Sunni lainnya berbesar hati seperti al Isma’il?

Penutup:

Selain dua contoh kasus di atas, masih banyak lainnya! Mudah-mudahan Allah memberikan taufiq kapada saya untuk membeberkan kasud-kasus lainnya dalam kesempatan mendatang. Amîn.

Dan semoga kenyataan ini menjadi bahan renungan bagi para pecinta Sunnah Nabi saw. dan kami menanti sikap ilmiah (bukan ocehan kosong) dari para pemerhati!

Dan jika kitab tershahih Ahlusunnah sedemikian rentangnya dari kepalsuan, maka apa bayakan kita terhadap kitab-kitab hadis lainnya yang dari sisi kualitas jauh di bawah Shahih Bukhari dan Shahih Muslim?!

----------------------------------------------------------------------------
[1] Tentunya tidak menutup kenyataan bahwa di antara ayat-ayat Al Qur’an ada yang qathi petunjuknya sebagaimana di antara Sunnah ada yang qathi juga wurûd-nya.
[2] Qadhi Abu Bakar ibn al Arabi meriwayatkan dalam syarahh at Turmudzi dari Ibnu Hubâb bahwa Malik telah meriwayatkan seratus ribu hadis. Ia menghimpunnya dalam Muwaththa’ sebanyaak sepuluh ribu, kemudian ia terus-menerus menyocokkannya dengan Al Qur’an dan Sunnah dan menguji kualitasnya dengan atsâr dan akhbâr, sehingga ia kembali (hanya menerima) lima ratus hadis saja.”


[3] http://hadith.al-islam.com/Display/Display.asp?Doc=0&Rec=9299.

[4] Al Kitab,diterbitankan OLEH LEMBAGA AL KITAB INDONESIA – JAKARTA 1985.

[5] Baca Kamus al Kitab al Muqaddas, pada kata Adam.

[6] ‘Umdah al Qâri,22/229.

[7] Baca Fathu al Bâri,18/308.

Tuesday, 1 September 2009

Keajaiban Ekonomi Cina: Pemerintah Menguasai Perbankan


Definisi awal uang: sebuah alat pengukur nilai dan alat tukar menukar barang. Tidak lebih. Tapi definisi ini telah berubah di jaman modern ini. Uang adalah komoditi yang bisa diperdagangkan. Dan karena uang tidak dapat dikonsumsi dan hanya memberikan manfaat sebagai alat ukur dan alat tukar menukar, maka perdagangan uang hanya mungkin dengan dua motif, spekulasi alias judi dan motif riba (rentenir).

Dengan dua fungsi fundamental itu: judi dan riba, industri perbankan berkembang dengan luar biasa pesat mengalahkan sektor-sektor ekonomi lainnya. Apabila Anda mencari perusahaan-perusahaan terbesar dalam hal asset dan keuntungannya, carilah bank, bukan perusahaan pembuat mobil, komputer, pesawat terbang, atau pembuat jalan dan jembatan. Dan jika Anda mencari menantu: pilihlah bankir, akuntan, pengacara, dan profesional yang terkait dengan industri perbankan, karena merekalah orang-orang yang gajinya paling tinggi.

Bank tidak pernah membuat pesawat terbang, mobil dan sepatu. Mereka hanya membantu orang untuk membuat pesawat terbang, mobil dan sepatu. Tapi keuntungan yang diperoleh bank jauh lebih besar dibandingkan perusahaan pembuat pesawat, mobil dan sepatu. Gaji para bankir jauh lebih tinggi dibandingkan profesi lainnya. Konon ruang kerja direktur bank BUMN lebih mewah dari hotel bintang 5. Gaji Gubernur Bank Indonesia bahkan lebih tinggi dibandingkan presiden yang memiliki tugas dan tanggungjawab lebih besar dan merupakan pejabat pilihan rakyat.

Saya hanya melihat sebuah ironi ketidak adilan yang tidak semestinya terjadi. Selain itu perbankan modern, dengan motif spekulasi dan ribanya telah membuat ekonomi tidak berjalan optimal dan penuh gejolak.

Saya membayangkan jika perbankan murni menjalankan fungsi aslinya sebagai penjaga likuiditas perekonomian tanpa diwarnai motif spekulasi dan riba. Tentu perekonomian akan berjalan lancar karena setiap kebutuhan likuiditas akan terpenuhi dan menjamin berputarnya roda ekonomi yang secara alami akan berjalan stabil dan mantap. Tidak ada dana yang mengendap karena setiap terjadi hal tersebut, perbankan memiliki mekanisme untuk menyalurkannya ke dunia usaha. Ketika terjadi hambatan perputaran likuiditas, baik karena faktor alam maupun kerusakan infrastruktur, atau karena adanya praktik spekulasi, maka pemerintah turun tangan dengan memperbaiki hambatan tersebut.

Para bankir mendapatkan gaji sesuai dengan profesional lainnya. Dunia usaha tidak pernah kekurangan modal. Pekerja mendapatkan gaji sesuai produktifitas perusahaan. Perekonomian berjalan optimal. Dan kondisi seperti ini hanya terjadi di Cina, negeri di mana pemerintah menguasai perbankan, bukan sebaliknya sebagaimana di negara-negara modern lainnya.

Saya lalu membandingkannya dengan perbankan Indonesia. Di saat perekonomian mengalami kontraksi karena kurangnya likuiditas akibat adanya krisis finansial global, perbankan tetap mempertahankan suku bunga yang tinggi sehingga likuiditas tetap seret. Bahkan ketika pemerintah gembar-gembor meminta pengertian perbankan untuk menurunkan suku bunga, mereka tidak bergeming.

Ketika Amerika dan negara-negara barat lainnya harus mengeluarkan talangan triliunan dolar untuk mensubsidi sektor perbankan yang kolaps dan diiringi dengan krisis ekonomi global, ekonomi Cina tetap tumbuh secara ajaib dengan tingkat pertumbuhan 8%. Bagaimana mungkin hal itu terjadi sementara dunia mengalami resesi dan semua negara mengurangi importnya? Bukankah ekonomi Cina tertumpu pada ekspor?

Ekonomi Richard Wolff memberikan komentarnya tentang Cina sbb: "Saat ini kita memiliki situasi krisis keuangan global. Dimana-mana, komsumsi merosot. Dimana-mana orang mengurangi pembelian barang, termasuk barang-barang dari Cina. Lalu bagimana di suatu masyarakat yang sangat tergentung pada perekonomian dunia, mereka mempunyai pertumbuhan ekonomi yang pesat? Pasar saham mereka 100% lebih tinggi, tak tertandingi di belahan dunia manapun terutama Amerika dan Eropa. Bagaimana itu terjadi? Untuk memahami apa yang dikatakan orang-orang Cina, Anda harus percaya bahwa dalam hitungan bulan, paling lama setahun, mereka mampu mentranformasikan ekonomi mereka dari ekonomi berbasis ekspor menjadi ekonomi berbasis industri domestik. Negara lain memerlukan waktu setidaknya satu dekade untuk melakukan itu."

Bagaimana kebijakan stimulus Cina bisa berjalan dengan baik dan mendorong ekonomi tumbuh optimal, sementara di negara lain hal itu hanya menjadi kado segelintir pemilik modal perbankan tanpa mempengaruhi sektor riel? Jawabannya sederhana. Cina berhasil mengatur perbankannya mengikuti pertumbuhan sektor riel. Perbankan bekerja melayani publik, bukan pemilik modal. Tidak ada motif spekulasi untuk mendapatkan keuntungan cepat dan besar namun dengan resiko besar pula. Tidak ada dana-dana mengendap sebagaimana juga tidak banyak terjadi kredit macet.

Samah El-Shahat, doktor ekonomi yang bekerja untuk stasiun televisi Al Jazeera Inggris, dalam satu artikel yang ditulisnya tgl 10 Agustus lalu berjudul “China Puts People Before Banks” menulis: "Cina adalah sebuah entitas ekonomi maju dimana dikotomi antara sektor keuangan dengan sektor riel tidak terjadi. Kedua sektor tumbuh bersama-sama dan ini berkat kebijakan pemerintah mengendalikan sektor perbankan. Cina tidak membiarkan sektor perbankan tumbuh sedemikian kuat dan berpengaruh sedemikian kuat sehingga dapat mengganggu kebijakan ekonomi pemerintah. Dalam kalimat sederhana, pemerintah lebih suka melayani rakyatnya dan menempatkan kepentingan rakyat di atas kepentingan individu dan kelompok tertentu. Dan itulah sebabnya perbankan Cina mampu menyalurkan kreditnya kepada rakyat dan dunia usaha dengan tingkat yang sangat tinggi."

Apa yang disebut dengan krisis keuangan global pada dasarnya adalah krisis modal. Dan di Cina, berbeda dengan negara lain, kredit mengalir bebas, tidak hanya ke sektor keuangan namun juga ke sektor industri dan pemerintah daerah. Bank-bank BUMN menyalurkan kreditnya besar-besaran dengan daya serap tinggi dari pemerintah daerah dan perusahaan-perusahaan milik pemerintah. People’s Bank of China memperkirakan total kredit yang disalurkan selama semester pertama tahun ini mencapai $1.08 trilion, 50% lebih besar dari seluruh kredit yang disalurkan pada tahun 2008. Bank sentral Amerika juga menyediakan booming kredit, namun semuanya untuk sektor keuangan, meninggalkan sektor riel kekeringan likuiditas.

El-Shahat menambahkan, "Di Amerika dan Inggris, sektor keuangan juga mengalami booming, sementara kehidupan rakyat justru menjadi lebih buruk, pengangguran tinggi, bisnis tutup, dan pengambilalihan rumah kreditan tetap berlangsung. Wall Street (sektor keuangan) dan Main Street (sektor riel) hidup di planet yang berbeda. Di Amerikda dan Inggris, bank telah meraup dana masyarakat dan dana talangan dari pemerintah dan bank sentral hanya untuk memperbaiki struktur keuangannya sendiri daripada menyalurkannya untuk kredit masyrakat. Bank-bank telah merampok dana masyarakat dan pemerintah tidak melakukan tindakan apapun untuk menghentikannya. Dalam kenyataannya pemeerintah justru sengaja membiarkan hal itu terjadi."

Sementara itu dengan cadangan devisanya yang luar biasa besar karena kebijakan ekonominya yang efektif dan efisien, Cina sangat kuat menghadapi goncangan ekonomi yang selalu disebabkan oleh ulah spekulan. Krisis moneter Asia Timur tahun 1997, serta hancurnya pasar saham Jepang tahun 1990, serta krisis-krisis ekonomi lainnya disebabkan para spekulan yang mampu mempermaikan nilai tukar uang dengan menggunakan variabel produk-produk derivatif. Negara-negara yang mengalami krisis mencoba mempertahankan kestabilan dengan menggelontorkan likuiditas dengan menggunakan cadangan devisanya. Namun karena cadangan devisanya yang relatif kecil dibandingkan kekuatan para spekulan, langkah tersebut sia-sia belaka dan justru membuat ekonomi domestik semakin hancur.

Namun siapa yang bisa mengoyahkan ekonomi Cina yang memiliki cadangan devisa hingga triliunan dolar? Sekedar catatan cadangan devisa Indonesia hanya sekitar 60 miliar dolar.

Stabilitas ekonomi Cina disebabkan pemerintah yang mampu mengendalikan sektor perbankannya. Ini dimungkinkan karena pemerintah -lah yang memiliki sebagian besar bank-bank besar di Cina. Dan hal ini sangat ironis, karena kondisi seperti itulah yang lebih mendekati kondisi ideal. Sistem komunisme Cina sistem yang ideal?

Cina bukanlah negara komunis sebagaimana ditulis dalam buku-buku teori politik. Meski tetap mengandalkan pemerintahan yang sentralistis, mereka juga memberi kesempatan rakyatnya untuk berusaha serta menarik investor asing untuk menanamkan modalnya di Cina. Pemimpin Cina Deng Xiaoping, yang membuka Cina untuk investor asing sejak tahun 1978, pernah berkata: "tidak peduli apa warna kucing sepanjang bisa menangkap tikus. Apa saja sebutan sistem ekonomi Cina, yang pasti mereka mampu menciptakan iklim usaha dan pertumbuhan ekonomi yang mantap dan stabil.

Di sisi lain Amerika, sang pionir kapitalisme, justru tenggelam dalam sistem yang disebut "sosialisme untuk orang-orang kaya". Ketika industri bangkrut, rakyat dibiarkan berkubang dalam kesulitan. Namun saat perbankan bangkrut, rakyat harus menanggungnya dengan dana talangan sementara para bankir tetap berlenggang meneruskan praktik spekulasinya.

Bagaimana dengan Indonesia? Dengan kebijakan talangan BLBI dan talangan untuk Bank Century, Indonesia jelas meniru Amerika.

Monday, 31 August 2009

Amerika Tetap "Tunduk" pada Israel


Akhir-akhir ini media massa dan pengamat internasional "digairahkan" oleh adanya "ketegangan" diplomatik antara pemerintah Amerika dengan Israel. Ketegangan ini telah sampai pada satu titik terpanas dimana Israel "terpaksa" harus menarik diplomatnya dari Amerika karena membuat pernyataan kontroversial. Namun jauh dari pengamatan, Amerika tetap menjadi "pelayan" Amerika dan drama ketegangan diplomatik tersebut tidak lebih dari sebuah "panggung sandiwara" diplomasi.

Baru-baru ini media-media massa Israel melaporkan kunjungan dua pejabat keamanan tertinggi Amerika, Penasihat Keamanan Nasional Jendral Jim Jones dan Menhan Robert Gates ke Israel. Media-media Israel melaporkan bahwa salah satu "pesan" yang dibawa kedua pejabat tersebut adalah jaminan kepada Israel bahwa Amerika dalam waktu delapan minggu akan melakukan "tindakan keras" terhadap Iran seperti yang diinginkan Israel. Dan "tindakan keras" tersebut sangat boleh jadi kesediaan Amerika membantu Israel menyerang Iran.

Hal ini tentu sangat bertolak belakang dengan komentar-komentar maupun langkah kebijakan politik luar negeri Presiden Barack Obama terhadap Iran. Berbeda dengan pendahulunya, Barack Obama telah membuka kontak langsung dengan Iran yang mencuatkan harapan konflik Amerika-Israel dengan Iran soal isu nuklir Iran dapat diselesaikan secara diplomasi.

Berbeda dengan pendahulunya pula, Obama juga bersikukuh menuntut Israel menghentikan pembangunan pemukiman yahudi di wilayah pendudukan di Palestina, sebagai prasyarat perdamaian Israel-Palestina.

Namun dengan adanya laporan dari media massa Israel tersebut di atas, harapan terjadinya perdamaian timur tengah dan dunia tampaknya semakin jauh saja. Apalagi jika melihat sikap para pejabat di sekeliling Presiden Obama sendiri seperti Wapres Joe Biden yang terang-terangan mendukung Israel atas rencananya menyerang Iran.

Dan melihat kengototan Israel tentang isu senjata nuklir Iran, perang tampaknya tidak mungkin lagi dielakkan. Sanksi apapun, baik diplomatik maupun ekonomi tidak akan mempengaruhi kebijakan nuklir Iran. Sejarah telah membuktikan berbagai sanksi yang telah dilakukan Amerika terhadap lawan-lawan politiknya tidak pernah membuahkan hasil dan justru berujung perang. Sebagai contohnya sanksi Amerika terhadap Jerman, Jepang dan Italia sebelum Perang Dunia II, dan sanksi Amerika terhadap Saddam Hussein sebelum Perang Teluk.

Dan bila perang benar-benar terjadi, baik Amerika, Iran maupun negara-negara di seluruh dunia akan menderita karena dampaknya. Hanya Israel yang bertepuk tangan karena melihat lawan tangguhnya, Iran, hancur diserbu Amerika dan sekutunya. Amerika sudah babak belur di Irak dan Afghanistan. Satu lagi perang besar melawan Iran dipastikan akan membawa kehancuran lebih dalam bagi Amerika. Bukan tidak mungkin, rakyat Amerika sendiri akan "memberontak" terhadap pemerintahnya sendiri sebagaimana mereka lakukan dalam masa Perang Vietnam.

Dan seperti biasa media-media massa yang de facto dikuasai oleh orang-orang yahudi, berperan besar menggiring opini publik demi terjadinya peperangan sebagaimana mereka lakukan dahulu dalam Perang Krim, Perang Dunia I, Perang Dunia II dan Perang Irak.

Media massa barat bersatu padu mendukung tuduhan Iran berupaya membuat senjata nuklir. Mereka bekerja bahu-membahu dengan para pejabat sekeliling Barack Obama pendukung perang termasuk menlu Hillary Clinton. Dan Congress? Seperti biasa mereka tidak mau pusing memikirkan perang sebagaimana amanat konstitusi yang menetapkan Congress lah yang berhak menyatakan perang kepada negara lain. Seperti biasanya mereka cukup memberikan restu kepada pemerintah untuk berbagai kebijakan perang yang dilakukan Amerika.

Pada tgl 30 Juli lalu misalnya Congress mengeluarkan undang-undang yang melarang perusahaan-perusahaan melakukan perdagangan minyak Iran. Senator Joseph Lieberman dari Connecticut bahkan tengah menyusun draft undang-undang pelarangan impor minyak dari Iran. Rancangan undang-undang yang disusun Lieberman itu telah mendapat dukungan 67 senator, dan secara de facto, jika benar-benar diundangkan, menjadi deklarasi perang kepada Iran.

Media-media massa Israel juga menyebutkan adanya beberapa draft UU lainnya yang diperuntukkan sebagai sanksi terhadap Iran, seperti UU pelarangan asuransi perdagangan dengan Iran yang membuat Iran bakal mengalami kesulitan melakukan perdagangan secara internasional. Kapal-kapal dan pesawat-pesawat terbang berbendera Iran mungkin juga bakal dilarang berlabuh atau mendarat di negara-negara barat.

Semangat mengebu-ngebu Amerika untuk menyerang Iran dengan alasan nuklir sebagaimana diharapkan Israel tentunya bertentangan dengan logika sehat. Iran adalah negara anggota IAEA (International Atomic Energy Agency) yang menandatangani pakta anti penyebaran senjata nuklir. Selain itu, pengembangan nuklir Iran juga selalu mendapat pengawasan organisasi tersebut. Di sisi lain, Israel, satu-satunya negara Timur Tengah yang memiliki senjata nuklir, bukan anggota IAEA dan sudah barang tentu tidak menandatangani pakta anti penyebaran senjata nuklir selain pengembangan nuklirnya di luar kontrol masyarakat internasional. Dengan kata lain nuklir Israel adalah ilegal dan nuklir Iran adalah legal.

Selain itu tuduhan Iran tengah mengembangkan senjata nuklir jauh dari kenyataan. Beberapa penyidikan yang dilakukan IAEA tidak menemukan bukti terhadap tuduhan tersebut. Bahkan lembaga-lembaga inteligen Amerika sendiri telah menyatakan Iran tidak dalam kondisi mengembangkan senjata nuklir.
But the facts tell us otherwise. Terakhir, yaitu bulan lalu, US State Department’s Bureau of Intelligence and Research (INR) mengeluarkan pernyataan bahwa tidak ada bukti Iran tengah mengembangkan senjata nuklir. Lebih tepatnya laporan itu berbunyi, "…no evidence that Iran has yet made the decision to produce highly enriched uranium, and INR assesses that Iran is unlikely to make such a decision for at least as long as international pressure and scrutiny persist."

Maka menjadi pertanyaan mengapa para politisi Amerika dengan genderang perang media massa terus menuduh Iran tengah mengembangkan senjata nuklir dan mengancam akan menyerang negara tersebut. Jawaban pertanyaan tersebut tidak lain adalah karena saat ini, setelah tumbangnya Saddam Hussein, Iran merupakan lawan Israel paling tangguh, dan karenanya harus dihancurkan.

Kita akan segera melihat Presiden Barack Obama sama dengan presiden-presiden pendahulunya, sebagai budak yahudi.

Sunday, 30 August 2009

ANTARA MULYANI DAN BERNANKE



Indonesian Free Press -- Saat tulisan ini di buat di dunia perbankan tanah air tengah terjadi sebuah tragedi yang disebabkan oleh sebuah kejahatan sistematis yang melibatkan pejabat keuangan, manajemen perbankan dan para pemilik modal. Tragedi itu adalah pemberian talangan kepada Bank Century oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani senilai Rp 6,7 triliun.

Belajar dari krisis monenter 1997 dan krisis finansial global tahun lalu saya sudah memperkirakan krisis likuiditas Bank Century akan diakhiri dengan pemberian dana talangan oleh pemerintah. Maka sempurnalah sudah sebuah skendario kejahatan sistematis besar-besaran dengan nilai kejahatan yang luar biasa besar. Setelah dana masyarakat dikeruk secara massif, masyarakat pula yang harus menalanginya.

Dengan Rp 4 triliun saja Indonesia bisa membangun jembatan Suramadu yang super megah. Dengan Rp 6,7 triliun jalan lintas Sumatera yang di banyak titik berlubang bak kubangan kerbau (apalagi jalan lintas di pulau lain), bisa disulap menjadi mulus. Cina sudah membangun jalur kereta api ke pegunungan Himalaya sementara Indonesia yang lebih dahulu merdeka dan memiliki kekayaan alam yang melimpah, tidak memiliki jalan raya antar propinsi yang layak kecuali di Pulau Jawa.

Ada satu pola penanganan dalam modus kriminal ini. Tingkat pertama adalah dengan menahan manajemen dengan alasan kesalahan manajemen. Tingkat kedua, jika ternyata penanganan tingkat pertama gagal menghentikan kasus karena jumlah yang dikuras terlalu banyak dan kerusakan pada struktur keuangan bank terlalu parah, adalah dengan menahan para pejabat keuangan eselon I (dirjen atau direktur bidang Bank Indonesia) dan mantan pejabat keuangan setingkat menteri/Gubernur BI. Tingkat ketiga, jika tekanan publik terlalu kuat, adalah dengan menahan para pejabat keuangaan setingkat menteri, tentunya setelah diberhentikan dari jabatannya. Tingkat keempat adalah menahan para pemilik modal perbankan. Namun biasanya penanganan kasus ini hanya menyentuh tingkat ketiga karena pada tingkat keempat pemilik modal telah melarikan diri ke Singapura, surganya para koruptor Indonesia dan negeri dimana dinas inteligen Israel memiliki markas besar operasional untuk kawasan Asia.

Friday, 28 August 2009

PENGARUH YAHUDI DI INDONESIA


Pada bulan September 2005 lalu Presiden SBY tersudut oleh rumor yang menyebutkan adanya pertemuan antara menlu Indonesia dengan menlu Israel di New York di sela-sela agenda sidang umum PBB. “Tidak ada yang gelap, karena, sekali lagi, kita ingin membantu perjuangan bangsa dan rakyat Palestina,” kata Presiden SBY.

Namun Presiden SBY tidak pernah menjelaskan agenda dan hasil-hasil pertemuan tersebut. Ia juga tidak menjelaskan hubungan pertemuan tersebut dengan keputusannya membatalkan rencana kunjungan ke Palestina yang sudah diumumkan sebelum pertemuan itu. Lagipula peranan apa yang diharapkannya dapat dimainkan oleh Indonesia dalam proses perdamaian Israel-Palestina? Kekuatan-kekuatan besar dunia seperti Amerika, Rusia dan Uni Eropa saja tidak dapat berkutik di bawah ketiak Israel dalam konteks proses perdamaian Timur Tengah.

Di sisi lain akhir-akhir ini publik dikejutkan dengan berita tentang adanya penjualan senjata buatan Pindad yang diselundupkan ke Filipina oleh para pedagang senjata gelap Israel.

Dua kisah di atas hanya sepenggal fakta dari fenomena kuatnya pengaruh Yahudi di Indonesia. Hal itu boleh saja dibantah mengingat selama ini secara resmi kebijaksanaan politik luar negeri Indonesia menganggap Israel sebagai musuh. Namun fakta paling sederhana seperti ketergantungan Indonesia kepada lembaga-lembaga keuangan internasional yang notabene dimiliki Yahudi adalah fakta yang tidak bisa dibantah tentang betapa kuatnya pengaruh Yahudi di Indonesia.

Berikut ini adalah fakta-fakta tentang adanya hubungan Indonesia-Israel:
1. Adanya hubungan dagang resmi antara Indonesia-Israel yang disahkan melalui SK Menperindag tahun 2001.
2. Hadirnya delegasi resmi Israel pada sidang World Tourism Organization di Bali tahun 1993.
3. Adanya pertemuan antara Presiden Soeharto dan Perdana Menteri Israel Yitzak Rabin di Jakarta tahun 1993.
4. Adanya kunjungan delegasi Kadin Indonesia ke Israel tahun 2006 yang direstui oleh Wapres Jusuf Kalla.
5. Adanya pertemuan antara Menlu Hasan Wirajuda dengan menlu Israel Silvan Shalom di New York tahun 2005.
6. Keanggotaan (mantan) Presiden Gus Dur dalam Yayasan Shimon Peres.
7. Pengangkatan Henry Kissinger (dedengkot yahudi internasional) sebagai penasihat Presiden Gus Dur.
8. Kepemilikan aset-aset nasional oleh Yahudi baik langsung maupun tidak langsung di beberapa perusahaan swasta strategis seperti SCTV, TEMPO, INDOSAT, BHAKTI INVESTAMA dll.
9. Adanya peralatan-peralatan militer milik TNI buatan Israel.
10.Adanya beberapa sinagog atau rumah ibadah Yahudi di beberapa tempat di Indonesia yang masih eksis sampai sekarang.

Namun fakta-takta tersebut di atas hanya sebuah fenomena gunung es atas pengaruh Yahudi di Indonesia. Pengaruh Yahudi di Indonesia sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu dan mencakup bidang yang sangat luas hingga mencapai level kekuasaan tertinggi di negeri ini. Beberapa fakta dan situs sejarah, organisasi-organisasi dan figur-figur terkenal hingga simbol-simbol kenegaraan ternyata adalah Yahudi, atau di bawah pengaruh Yahudi.

Penulis akan sedikit membahas tentang simbol negara sebagai bentuk pengaruh Yahudi karena hal ini merupakan esensi dari pengaruh Yahudi terhadap sebuah negara. Pengaruh Yahudi di Amerika misalnya dapat dilihat dari gambar mata uang dollar dimana simbol “bintang Daud” berada di atas simbol “burung elang botak” yang merupakan maskot Amerika asli.

Adapun simbol negara “burung Garuda” juga dapat ditelusuri asal-usulnya sebagai simbol Yahudi. Pemilihan simbol “burung Garuda” sendiri sebagai lambang negara adalah sebuah kontroversi karena hanya ditentukan oleh segelintir orang saja tanpa memperhatikan aspirasi mayoritas rakyat Indonesia. “Burung Garuda” memang ada dalam mitologi Hindu yang pernah menjadi agama mayoritas Indonesia di masa lalu, namun pada masa kemerdekaan, Hindu tidak lagi memiliki pengaruh yang signifikan.

Agama Islam sendiri sebagai agama mayoritas rakyat Indonesia setelah era Hindu juga tidak mengenal simbol “burung Garuda”. “Burung Garuda” juga tidak pernah benar-benar ada karena hanya sebuah mitos, berbeda dengan burung elang botak yang merupakan binatang asli Amerika. Karena bukan simbol asli bangsa Indonesia maka tidak ada lain simbol “burung Garuda” mengadopsi simbol-simbol kebudayaan asing yang memang memuja-muja simbol “burung mirip Garuda”, yaitu Yahudi yang gerakan Fremasonry-nya sangat berpengaruh sampai saat ini.

Pengaruh Yahudi di Indonesia dimulai pada abad 18 melalui gerakan perkumpulan rahasia Vritmetselarij atau Freemasonry yang berkembang di kalangan elit Indonesia baik di kalangan orang-orang Belanda maupun pribumi: pejabat, bangsawan, pengusaha, ilmuwan, seniman/sastrawan dan kalangan intektual lainnya. Gerakan tersebut selanjutnya berkembang menjadi beberapa cabang seperti Himpunan Theosofi, Moral Rearmemant Movement (MRM) dan Ancient Mystical Organization of Ancient Mystical Organization of Sucen Cruiser (Amorc) dan sebagainya.

Sebagaimana telah disebutkan dalam Protocol Zion, gerakan mason ini dimaksudkan untuk mengendalikan kalangan elit goyim (non-Yahudi) sehingga secara tidak sadar bekerja untuk mewujudkan misi Yahudi menguasai dunia. Gerakan ini berhasil memikat kalangan elit di Indonesia karena mengajarkan nilai-nilai idealisme seperti kebebasan, demokrasi, kemanusiaan, kesetaraan gender dan sebagainya. Apalagi setelah mereka yang menjadi anggota perkumpulan kemudian mendapatkan beberapa fasilitas dan kemudahan yang mampu mengangkat karier dan prestige mereka.

Di Indonesia gerakan ini berhasil membangun beberapa loji (loge) atau tempat perkumpulan seperti di Jakarta, Surabaya, Palembang, Semarang, Yogyakarta, Banda Aceh, Medan, Padang, Makasar dan sebagainya. Namun pembangunan loji di Pekalongan gagal karena resistensi masyarakat setempat yang menolak adanya ritual pemujaan setan yang dilakukan di loji.

Beberapa figur terkemuka yang terpengaruh dengan gerakan tersebut adalah Pangeran Ario Notodirodjo, DR Sutomo dan Raden Adipati Tirto Kusumo yang ketiganya adalah ketua perkumpulan Boedi Utomo; DR Radjiman Widiodiningrat yang menjadi Ketua Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia dan anggota BPUPKI; seniman terkenal Raden Saleh; Sultan Pontianak Abdul Rahman; keluarga Pakualaman dan Hamengkobuwono dll. Selain itu tokoh-tokoh nasional seperti H Agus Salim dan Achmad Subarjo mengaku pernah menjadi penganut theosofi.

Kembali ke soal lambang “burung Garuda”. Orang-orang yang merancang simbol “burung Garuda” sebagai simbol negara adalah Sultan Hamid II, Ki Hajar Dewantoro dan Muhammad Yamin. Ketiganya adalah pengikut gerakan Vrijmeselarij dan Theosofi. Sedangkan Presiden Soekarno yang menetapkan simbol “burung Garuda” sebagai lambang negara juga berada dalam pengaruh Fremasonry melalui ayahnya yang merupakan anggota Perhimpunan Theosofi Surabaya.

Penganut faham nasionalisme yang pernah menjadi komprador pemerintah pendudukan Jepang, membubarkan Masyumi, memenjarakan tokoh-tokoh Islam dan mengkhianati rakyat Aceh ini mengatakan: "Kami mempunyai sebuah perpustakaan yang besar di Surabaya yang diselenggarakan oleh perkumpulan Theosofi. Bapakku seorang theosof, karena itu aku boleh memasuki peti harta ini, dimana tidak ada batasnya bagi orang yang miskin. Aku menyelam lama sekali di dalam dunia kebatinan ini. Dan di sana aku bertemu dengan orang-orang besar. Buah pikiran mereka menjadi buah pikiranku. Cita-cita mereka adalah pendirian dasarku."

Saat ini pengaruh yahudi sangat kuat terasa di balik fenomena homonisasi dan pornografi serta pornoaksi yang banyak didorong oleh media massa nasional, terutama televisi. Anda mungkin mengira si SP adalah pemilik stasiun televisi M dan koran M, atau si CT pemilik stasiun televisi T, si DI pemilik jaringan koran terbesar di Indonesia J, atau si AB pemilik televisi O. Saya katakan, salah besar. Mereka tidak lebih dari "high paid professional", sebagaimana Donald Trump menjadi profesional bayaran dari Tibor Rosenbaum, Baron Edmond de Rothschild, William Mellon Hitchcock, Meyer Lansky dan David Rockefeller para pemilik Resort International, satu jaringan hotel dan tempat hiburan terbesar di dunia.

Pengaruh yahudi juga sangat terasa di kalangan Islam Liberal dan kalangan sosial demokrat Indonesia. Ketika Sydney Jones, pimpinan International Crisis Center, dicekal oleh pemerintah Indonesia semasa pemerintahan Presiden Megawati, beberapa tokoh Islam Liberal dan sosial demokrat ramai-ramai melakukan demonstrasi mendukung Sydney Jones. Di antara mereka adalah Nurcholis Madjid, Alwi Shihab, Gunawan Muhammad, T Mulya Lubis dll. Padahal, boleh bertaruh dengan menjilat pantat, Sydney Jones adalah agen Mossad/CIA. Dan sebagaimana tipikal orang yahudi, ia homoseks. Dalam sebuah wawancara dengan Tabloid Opini Sydney mengaku pernah berhubungan serius dengan seorang pria dan nyaris menikah. "Untung tidak jadi," katanya.

Kepahlawanan Palsu


Pernah melihat film "Saving Private Ryan" khan?. Film peraih Oscar karya sutradara yahudi, Steven Spielberg ini menampilkan satu adegan di taman makam pahlawan dimana sang tokoh utama memberikan penghormatan kepada rekan-rekannya yang tewas menjalankan tugas. Di latar depan tampak batu nisan berbentuk salib, lambang agama kristen, dan bintang Daud lambang agama yahudi. Adegan ini diulang dua kali, di bagian awal dan akhir film. Ini memberikan kesan kuat bahwa di samping orang kristen, orang yahudi juga banyak berjasa kepada negara Amerika.

Namun benarkah demikian?

Kepahlawanan di medan perang dan pengakuan atas kepahlawanan itu merupakan dasar dari banyak kebudayaan di dunia. Kebudayaan Yunani diwarnai dengan kepahlawanan Achilles. Kebudayaan Romawi diwarnai dengan kepahlawanan Julis Caesar, Octavianus, kebudayaan Islam diwarnai dengan kepahlawanan Ali bin Abi Thalib, Salahuddin, kebudayaan Helenisme diwarnai oleh kepahlawanan Alexander, kebudayaan Inggris Raya diwarnai dengan kepahlawanan Laksamana Nelson, dlsb. Bagi sebagian orang kepahlawanan dapat diartikan juga kekuasaan.

Dan demi kepahlawanan pula orang-orang yahudi sering melakukan tipudaya sebagaimana kebiasaan di bisnis industri keuangan yang mereka ciptakan dan jalankan.

Sebagai contoh, dalam masa pemerintahan Presiden Bill Clinton, Larry Lawrence, seorang yahudi bekas dubes Amerika untuk Swiss, meninggal dunia. Kolega Lawrence yang juga berdarah yahudi, Richard Helbrooke yang menjadi asisten menteri luar negeri, meminta kepada Bill Clinton untuk memakamkan Lawrence di makam pahlawan Arlington National Cemetery.

Angkatan Darat yang mengetahui permohonan itu kemudian mencari bukti-bukti yang mendasari kelayakan Lawrence, pemilik Hotel Del Coronado di San Diego tempat Bill Clinton sering berlibur, untuk dimakamkan di taman makam pahlawan. Mereka tidak menemukan bukti apapun. Tapi Bill Clinton tetap menginjinkan pemakaman Lawrence di Arlington National Cemetery, bahkan menghadiri pemakamannya.

Namun cerita kepahawanan Larry Lawrence tidak sehebat cerita tentang Sgt. David Rubitsky yang menjadi tentara Amerika di Papua dalam perang dunia II saat Jepang menyerang. Sebuah artikel yang ditulis Joseph Farah melaporkan: seorang diri Rubitsky mempertahankan garis pertahanan dengan semua senjata yang dimiliki. Ia menghabiskan waktu selama 21 jam untuk berperang, termasuk sembilan jam dalam pengepungan. Saat bala bantuan akhirnya tiba, mereka menghitung Rubitsky telah membunuh 500 sampai 600 tentara Jepang.

Rubitsky telah mencoba keras untuk mendapatkan penghargaan Congressional Medal of Honor namun ditolak karena alasan yang menurutnya anti-semitisme. Anti-Defamation League (ADL) dan organisasi yahudi lainnya dengan dukungan media massa dengan gigih membela Rubitsky. Karena tekanan tersebut, termasuk sebuah resolusi yang ditandatangani oleh 92 anggota Congress, pada tahun 1987 Angkatan Darat melakukan penelitian terhadap masa dinas Rubitsky sebagai tentara. Namun setelah selama dua tahun lebih melakukan penelitian secara intensif, tidak ditemukan bukti kepahlawanan Rubitsky. Pada tgl 8 Desember 1989 permohonan Rubitsky untuk mendapatkan medali penghargaan Congress akhirnya ditolak. Namun itu semua terjadi setelah bertahun-tahun polemik di media massa seputar kepahlawanan Rubitsky.

Saya pernah melihat dua film yang mencoba menggambarkan kepahlawanan orang-orang yahudi, yaitu "Blackhawk Down" dan juga film "Saving Private Ryan". Dalam kedua film itu digambarkan seorang dengan ciri yahudi: hidung bengkok dan rambut hitam agak keriting (lucunya kedua adegan film berbeda itu diperankan orang yang sama), berjalan tanpa takut menantang terjangan hujan peluru lawan.

Dalam buku "Rulers and Ruled in the US Empire: Bankers, Zionists and Militants", James Petras mencatat bahwa kurang dari 0,2 persen dari tentara Amerika yang bertugas di Irak adalah berdarah yahudi. Bahkan yang 0,2 persen itu tidak bertugas di garis depan.

Apa yang dilakukan yahudi dengan menghalalkan semua cara untuk meraih keinginannya dan enggan melakukan pekerja keras adalah sesuai dengan apa yang difirmankan Allah dalam Quran. Dalam salah satu surat Allah menggambarkan bagimana orang-orang yahudi menolak melakukan jihad dan memilih duduk-duduk. "Kamu saja yang berperang bersama Tuhan. Kami akan duduk menunggu," kata orang-orang yahudi saat diperintahkan untuk berperang merebut "negeri yang dijanjikan".

Saya pernah mendengar cerita bahwa para tentara Israel mempunnyai kebiasaan menempatkan para komandan di depan dan menolak berperang jika komandannya berada di belakang. Sangat boleh jadi cerita itu benar.

Sifat-sifat seperti itu pulalah yang membuat mereka kalah melawan Hizbollah dan Hamas di medan perang. Dan setelah mengetahui kelemahan itu, Iran pun tidak gentar menghadapi Israel yang mengancam akan menyerang fasilias nuklirnya. Israel tidak akan tahan berperang selama setengah tahun non-stop.

Tuesday, 25 August 2009

Lebih Jauh Tentang Bisnis Ilegal Organ Manusia


Dalam sebuah film laris Turki berjudul "Valley of the Wolves" digambarkan seorang dokter Amerika berdarah yahudi di penjara Abu Ghraib Irak, membedah hidup-hidup seorang tawanan Irak. Kemudian ia membungkus beberapa organ dalam tawanan itu dan memasukkannya ke sebuah kendaraan yang bertuliskan: "Ke Tel Aviv (kota terbesar Israel)".

Fakta, bukan film fiksi, yang mirip dengan adegan film tersebut baru saja dirilis di sebuah surat kabar besar Swedia, Aftonbladet, tentang para pemuda Palestina yang diburu oleh tentara "paling bermoral di dunia" Israel untuk diambil organ dalamnya. Laporan tersebut menggemparkan masyarakat dunia yang masih memiliki moral dan mempunyai akses informasi tentunya.

Anda mungkin menganggap sepele berita tentang para rabbi yahudi di New Jersey dan New York yang ditangkap beberapa waktu lalu karena praktik perdagangan organ manusia. Anda mungkin juga hanya membaca sepintas karya sastrawan besar Shakespearre "Saudagar dari Venesia", tentang seorang rentenir yahudi yang meminta bayaran berupa sayatan daging korbannya yang tidak dapat membayar hutangnya. Tapi Anda tidak akan memandang sepele jika Anda masih memiliki hati nurani dan mengerti bahwa praktik-praktik biadab seperti itu telah berlangsung ribuan tahun dan masih terjadi saat ini di negeri "pilihan Tuhan", Israel.

Donald Boström, seorang fotografer Swedia yang menjalankan tugasnya di Tepi Barat Palestina tahun 1992, atas informasi dari beberapa personil keamanan PBB di sana mengikuti petualangan tentara Israel di Tepi Barat. Tentara-tentara tersebut menangkap beberapa pemuda Palestina dan mengembalikan jasadnya lima hari kemudian dalam kondisi tersayat dari perut hingga tenggorokan. Organ dalam jenasah-jenasah itu telah menghilang.

Para orang tua korban mengetahui dengan pasti apa yang dialami anak-anak mereka. "Anak-anak kami telah menjadi korban donor paksa. Mereka hilang selama beberapa hari untuk dikembalikan di tengah malam, dalam keadaan mati dan tersayat. Mengapa mereka membiarkan jenasah mereka selama lima hari sebelum kami dapat menguburkannya? Apa yang terjadi dengan jenazah-jenazah itu? Mengapa mereka melakukan autopsi, tanpa persetujuan kami, saat penyebab kematiannya sangat jelas? Mengapa jenasah mereka dikembalikan malam hari dengan pengawalan tentara? Mengapa seluruh area ditutup selama penyerahan jenasah dan aliran listrik dimatikan?"

Pertanyaan-pertanyaan itu terus menghantui Bostrom. Ia mengambil beberapa gambar jenasah tersebut kemudian menyelundupkannya keluar Tepi Barat. Setelah kembali ke Swedia ia menawarkan cerita mengerikan tersebut ke koran Dagens Nyheter yang ternyata dimiliki oleh keluarga Bonnier yang berdarah yahudi. Dagens Nyheter menolak mempublikasikan laporan tersebut, namun koran lainnya Aftonbladet, menerimanya. Laporan itu diterbitkan dua kali. Yang terakhir terbit tgl 23 Agustus lalu dengan judul headline di halaman muka "Mamma har aldlrig slutat lida, aldrig".

Israel menanggapi laporan itu dengan histeria massal. Mereka bersama kekuatan yahudi internasional menekan pemerintah Swedia untuk mengutuk laporan itu dan menangkap penulisnya untuk dipaksa meminta ma'af. Dubes Swedia di Israel, salah satu anggota keluarga Bonnier yang memiliki jaringan surat kabar, TV dan bioskop di Swedia, mengecam laporan tersebut dengan keras.

Namun untuk memenuhi harapan Israel tanpa mempermalukan Swedia sendiri tidaklah mungkin mengingat SWedia adalah negara penganut kebebasan berpendapat. Di sisi lain para redaktur Aftonbladet bersikukuh dengan hak mereka menyiarkan tamuan mereka dan menyerukan diadakannya penyidikan internasional atas kasus perdagangan organ ilegal tersebut.

Menlu Swedia Carl Bildt, atas tekanan yahudi internasional menulis di sebuah blog bahwa “artikel seperti itu akan mendorong anti-semitisme, dan provokasi bertentangan dengan hukum Swedia". Bagaimana pun karena reaksi pemerintah Swedia yang "lunak" menurut pandangan Israel, kemarahan justru semakin hebat di Israel.

Adalah mudah bagi Israel dan yahudi untuk menebarkan tuduhan-tuduhan kotor atas laporan jurnalisme itu, namun menjawabnya adalah persoalan lain. Fakta-fakta itu sangat mengganggu, dan tuduhan Israel menjadi pedagang ilegal organ manusia telah lama terdengar. Ada banyak laporan mengenai hal itu yang tidak dapat diabaikan begitu saja selain laporan dari Aftonbladet.

Anggota parlemen Israel dari etnis Arab Ahmed Tibi dan Hashem Mahmid pernah melontarkan tuduhan bahwa institut Abu Kabir yang menangani kedokteran forensik telah melakukan pengambilan organ-organ dalam mayat Palestina tanpa ijin keluarganya. Mereka mengatakan bahwa para dokter Palestina seringkali mengajukan protes karena mendapatkan mayat warga Palestina telah hilang organ dalamnya.

Sebuah media Israel juga pernah membuat laporan pada tahun 2007 lalu bahwa tiga remaja Palestina terbunuh di dekat kamp Khan Younes di Jalur Gaza, dan tubuhnya dikembalikan kepada keluarganya dalam kondisi hancur akibat otopsi, enam hari kemudian. Terkadang Israel bahkan sama sekali tidak mengembalikan mayat korbannya dan hanya menguburkannya diam-diam di suatu kuburan rahasia.

Berikut ini adalah berbagai laporan internasional tentang praktik-praktik otopsi dan perdagangan ilegal organ manusia yang dilakukan Israel.

* Turki, Jerussalem Post: Seorang profesor Israel, Zaki Shapira, ditangkap di Turki karena melakukan otopsi ilegal dan menjual organ-organ tubuh manusia. .
* Afrika Selatan, New York Times: Satu jaringan perdagangan organ manusia beroperasi antara Afrika Selatan hingga Brazil.

* Brazil: Seorang perwira tentara Israel, Gedalya Tauber, ditangkap karena memawarkan sejumlah uang kepada para warga miskin Brazil, untuk ditukar dengan organ tubuh.

* Ukraina, Jerusalem Post: seorang warga Israel ditangkap karena melakukan praktik jual-beli organ manusia di Ukraina.


Warga yahudi Israel banyak sekali terlibat dalam bisnis organ manusia karena Israel adalah negara satu-satunya di dunia yang turut terlibat langsung dalam
bisnis ini, selain juga melegalkan kegiatan ini dilakukan. Dan karena banyaknya komunitas yahudi, banyaknya doktor keturunan yahudi di berbagai negara yang sama-sama memiliki moral yang rendah, kegiatan ini menjadi sebuah jaringan internasional.

Moral yang rendah ini ditunjukkan oleh koran Israel, The Marker, yang pernah memuat opini seorang pengacara Israel tentang bisnis ini. "Organ hanya sekedar komoditi, maka bisa dibeli dan dijual di pasar terbuka sebagaimana komoditi lainnya," tulis opini tersebut.

Namun moral yang rendah tersebut ternyata telah mendapat justifikasi agama karena kitab Talmud membolehkan praktik-praktik tersebut. Seorang rabbi terkemuka Israel, Yitzhak Ginzburg, dalam kotbahnya pernah mengatakan, "seorang yahudi berhak mengambil jantung goyim (binatang ternak, maksudnya non yahudi) jika memerlukannya. Karena kehidupan seorang yahudi jauh lebih berharga daripada kehidupan goyim sebagaimana hidup seorang goyim lebih berharga dibandingkan kehidupan binatang."

Perbedaan antara organ yang dibeli atau dirampas tidak banyak berarti dalam hal ini. Jika organ manusia hanyalah komoditi, maka tentu boleh saja mengambilnya dari orang-orang Palestina, sama seperti bolehnya merampas rumah dan pohon olive berusia ratusan tahun ataupun pohon citrus milik orang-orang Palestina.

Provokasi sebagaimana ditutuhkan menlu Swedia Carl Bildt adalah mudah, namun tidak mudah bagi moron (lebih bodoh dari idiot) seperti Carl Bildt, untuk melihat bahwa Israel, yang tidak segan-segan meremukkan tulang tangan dan kaki orang Palestina, menumpahkan bom napalm di taman kanak-kanak Palestina, atau menembaki binatang di dalam kerangkeng kebun binatang Kota Gaza, merampas organ dalam pemuda-pemuda Palestina untuk sekeping uang. Tuntutan Aftonbladet untuk diadakannya penyidikan internasional sangatlah beralasan: jika Israel tidak merasa bersalah dengan membunuhi ribuan orang Palestina, mereka semestinya tidak merasa takut menghadapi penyidikan internasional. Namun kenyataannya Israel bahkan menolak mengijinkan tim penyidik internasional untuk melakukan penyidikan atas Tragedi Jenin tahun 2002 dan Gaza (2009) dimana ribuan rakyat Palestina dibunuh secara keji oleh Israel.

Yang ditakuti Israel sebenarnya adalah munculnya kesadaran massal masyarakat dunia untuk menghentikan dominasi yahudi. Orang-orang yahudi menguasai sebagian besar media massa besar di dunia bukan untuk kesenangan maupun profit semata, namun untuk mempengaruhi opini publik. Ini juga terjadi di Swedia (dan jangan naif dengan berfikir mereka tidak melakukannya di Indonesia) dimana mereka menguasai jaringan surat kabar, majalah, penerbitan, bahkan industri film. Media massa ini secara aktif mempromosikan agenda-agenda yahudi: persamaan ras (untuk membuat ras-ras lain lemah), neo liberalisme, komodifikasi, imigrasi, menghancurkan kemakmuran negara demi kekayaan orang-orang yahudi.

Israel dan Yahudi bekerja keras agar semua berita mengenai konflik timur tengah berada dalam kontrol mereka. Beberapa tahun lalu koran independen Swedia, Ordfront, membuat laporan yang mengejutkan publik Swedia yang tidak pernah berfikir orang-orang Yahudi mengontrol media massa mereka dan selama bergenerasi-generasi membentuk pola pikir mereka. Ordfront, melaporkan bagaiman para pejabat Israel mendatangi beberapa kantor surat kabar di Swedia, bertemu dengan para editor dan wartawan menginstruksikan ini dan itu.

Kegagalan Israel dan yahudi menghentikan publikasi praktik perdagangan ilegal organ manusia yang didahului dengan panangkapan para rabbi Amerika, penghargaan kepada Mary Robinson, Desmond Tutu, dan Felicia Langer (tokoh-tokoh yang dituduh anti-semit), munculnya partai anti zionisme di Perancis, serta fenomena runtuhnya partai-partai sosialis pro yahudi di Eropa merupakan tanda-tanda perubahan. Rakyat Swedia, Perancis, Jerman, dan bahkan Amerika tidak lagi takut pada pengaruh yahudi. Bahkan Presiden Amerika Barack Obama berani membuka kontak diplomatik dengan musuh Israel, Iran, serta konsisten menuntut Israel menghentikan pembangunan pemukiman di Tepi Barat.

Transplantasi organ manusia merupakan kejahatan yang sangat keji, mendekati kanibalisme. Kejahtan ini harus dihentikan karena tubuh manusia adalah suci. Tidak ada artinya hidup lebih lama dengan organ yang dirampas dari orang lain dengan biaya yang mahal, sementara biayanya bisa digunakan untuk mengurangi kelaparan dan kemiskinan.


Inilah laporan yang dibuat Donald Bostrom yang dimuat di koran besar Swedia, Aftonbladet, baru-baru ini.


Our sons plundered for their organs
By Donald Boström

You could call me a “matchmaker,” said Levy Yitzhak Rosenbaum, from Brooklyn, USA, in a secret recording with an FBI-agent whom he believed to be a client. Ten days later, at the end of July this year, Rosenbaum was arrested and a vast, Sopranos-like, imbroglio of money-laundering and illegal organ-trade was revealed. Rosenbaum’s matchmaking had nothing to do with romance. It was all about buying and selling kidneys from Israel on the black market. Rosenbaum says that he buys the kidneys for 10,000 dollars, from poor people. He then proceeds to sell the organs to desperate patients in the States for 160,000 dollars. The accusations have shaken the American transplantation business. If they are true it means that organ trafficking is documented for the first time in the US, experts tell the New Jersey Real-Time News.

On the question of how many organs he has sold Rosenbaum replies: “Quite a lot. And I have never failed,” he boasts. The business has been running for quite some time. Francis Delmonici, professor of transplant surgery at Harvard and member of the National Kidney Foundation’s Board of Directors, tells the same newspaper that organ-trafficking, similar to the one reported from Israel, is carried out in other places of the world as well. 5-6,000 operations a year, about ten per cent of the world’s kidney transplants are carried out illegally, according to Delmonici.

Countries suspected of these activities are Pakistan, the Philippines and China, where the organs are allegedly taken from executed prisoners. But Palestinians also harbor strong suspicions against Israel for seizing young men and having them serve as the country’s organ reserve - a very serious accusation, with enough question marks to motivate the International Court of Justice (ICJ) to start an investigation about possible war crimes.

Israel has repeatedly been under fire for its unethical ways of dealing with organs and transplants. France was among the countries that ceased organ collaboration with Israel in the nineties. Jerusalem Post wrote that “the rest of the European countries are expected to follow France’s example shortly.”

Half of the kidneys transplanted to Israelis since the beginning of the 2000s have been bought illegally from Turkey, Eastern Europe or Latin America. Israeli health authorities have full knowledge of this business but do nothing to stop it. At a conference in 2003 it was shown that Israel is the only western country with a medical profession that doesn’t condemn the illegal organ trade. The country takes no legal measures against doctors participating in the illegal business - on the contrary, chief medical officers of Israel’s big hospitals are involved in most of the illegal transplants, according to Dagens Nyheter (December 5, 2003).

In the summer of 1992, Ehud Olmert, then minister of health, tried to address the issue of organ shortage by launching a big campaign aimed at having the Israeli public register for postmortal organ donation. Half a million pamphlets were spread in local newspapers. Ehud Olmert himself was the first person to sign up. A couple of weeks later the Jerusalem Post reported that the campaign was a success. No fewer than 35,000 people had signed up. Prior to the campaign it would have been 500 in a normal month. In the same article, however, Judy Siegel, the reporter, wrote that the gap between supply and demand was still large. 500 people were in line for a kidney transplant, but only 124 transplants could be performed. Of 45 people in need of a new liver, only three could be operated on in Israel.

While the campaign was running, young Palestinian men started to disappear from villages in the West Bank and Gaza. After five days Israeli soldiers would bring them back dead, with their bodies ripped open.

Talk of the bodies terrified the population of the occupied territories. There were rumors of a dramatic increase of young men disappearing, with ensuing nightly funerals of autopsied bodies.

I was in the area at the time, working on a book. On several occasions I was approached by UN staff concerned about the developments. The persons contacting me said that organ theft definitely occurred but that they were prevented from doing anything about it. On an assignment from a broadcasting network I then travelled around interviewing a great number of Palestinian families in the West Bank and Gaza - meeting parents who told of how their sons had been deprived of organs before being killed. One example that I encountered on this eerie trip was the young stone-thrower Bilal Ahmed Ghanan.

It was close to midnight when the motor roar from an Israeli military column sounded from the outskirts of Imatin, a small village in the northern parts of the West Bank. The two thousand inhabitants were awake. They were still, waiting, like silent shadows in the dark, some lying upon roofs, others hiding behind curtains, walls, or trees that provided protection during the curfew but still offered a full view toward what would become the grave for the first martyr of the village. The military had interrupted the electricity and the area was now a closed-off military zone - not even a cat could move outdoors without risking its life. The overpowering silence of the dark night was only interrupted by quiet sobbing. I don’t remember if our shivering was due to the cold or to the tension. Five days earlier, on May 13, 1992, an Israeli special force had used the village’s carpentry workshop for an ambush. The person they were assigned to put out of action was Bilal Ahmed Ghanan, one of the stone-throwing Palestinian youngsters who made life difficult for the Israeli soldiers.

As one of the leading stone-throwers Bilal Ghanan had been wanted by the military for a couple of years. Together with other stone-throwing boys he hid in the Nablus mountains, with no roof over his head. Getting caught meant torture and death for these boys - they had to stay in the mountains at all costs.

On May 13 Bilal made an exception, when for some reason, he walked unprotected by the carpentry workshop. Not even Talal, his older brother, knows why he took this risk. Maybe the boys were out of food and needed to restock.

Everything went according to plan for the Israeli special force. The soldiers stubbed their cigarettes, put away their cans of Coca-Cola, and calmly aimed through the broken window. When Bilal was close enough they needed only to pull the triggers. The first shot hit him in the chest. According to villagers who witnessed the incident he was subsequently shot with one bullet in each leg. Two soldiers then ran down from the carpentry workshop and shot Bilal once in the stomach. Finally, they grabbed him by his feet and dragged him up the twenty stone steps of the workshop stair. Villagers say that people from both the UN and the Red Crescent were close by, heard the discharge and came to look for wounded people in need of care. Some arguing took place as to who should take care of the victim. Discussions ended with Israeli soldiers loading the badly wounded Bilal in a jeep and driving him to the outskirts of the village, where a military helicopter waited. The boy was flown to a destination unknown to his family. Five days later he came back, dead and wrapped in green hospital fabric.

A villager recognized Captain Yahya, the leader of the military column who had transported Bilal from the postmortem center Abu Kabir, outside of Tel Aviv, to the place for his final rest. “Captain Yahya is the worst of them all,” the villager whispered in my ear. After Yahya had unloaded the body and changed the green fabric for a light cotton one, some male relatives of the victim were chosen by the soldiers to do the job of digging and mixing cement.

Together with the sharp noises from the shovels we could hear laughter from the soldiers who, as they waited to go home, exchanged some jokes. As Bilal was put in the grave his chest was uncovered. Suddenly it became clear to the few people present just what kind of abuse the boy had been exposed to. Bilal was not by far the first young Palestinian to be buried with a slit from his abdomen up to his chin.

The families in the West Bank and in Gaza felt that they knew exactly what had happened: “Our sons are used as involuntary organ donors,” relatives of Khaled from Nablus told me, as did the mother of Raed from Jenin and the uncles of Mahmud and Nafes from Gaza, who had all disappeared for a number of days only to return at night, dead and autopsied.

- Why are they keeping the bodies for up to five days before they let us bury them? What happened to the bodies during that time? Why are they performing autopsy, against our will, when the cause of death is obvious? Why are the bodies returned at night? Why is it done with a military escort? Why is the area closed off during the funeral? Why is the electricity interrupted? Nafes’s uncle was upset and he had a lot of questions.

The relatives of the dead Palestinians no longer harbored any doubts as to the reasons for the killings, but the spokesperson for the Israeli army claimed that the allegations of organ theft were lies. All the Palestinian victims go through autopsy on a routine basis, he said. Bilal Ahmed Ghanem was one of 133 Palestinians killed in various ways that year. According to the Palestinian statistics the causes of death were: shot in the street, explosion, tear gas, deliberately run over, hanged in prison, shot in school, killed at home et cetera. The 133 people killed were between four months to 88 years old. Only half of them, 69 victims, went through postmortem examination. The routine autopsy of killed Palestinians - of which the army spokesperson was talking - has no bearing on the reality in the occupied territories. The questions remain.

We know that Israel has a great need for organs, that there is a vast and illegal trade of organs which has been running for many years now, that the authorities are aware of it and that doctors in managing positions at the big hospitals participate, as well as civil servants at various levels. We also know that young Palestinian men disappeared, that they were brought back after five days, at night, under tremendous secrecy, stitched back together after having been cut from abdomen to chin.

It’s time to bring clarity to this macabre business, to shed light on what is going on and what has taken place in the territories occupied by Israel since the Intifada began.

Donald Boström