Saturday, 31 March 2012

NINJA IRAN TUNTUT REUTERS


Seolah tanpa berhenti media-media massa barat "mengerjai" Iran. Saya masih ingat benar bagaimana ketika terjadi krisis pemilu Iran tahun 2009 dulu kantor berita terbesar Inggris, Reuters, menampilkan gambar aksi demonstrasi pendukung Presiden Ahmadinejad tapi diklaim-nya sebagai pendukung oposisi. Setelah diprotes para pembaca dengan santai Reuters hanya mengganti gambar tersebut tanpa penjelasan apalagi meminta ma'af kepada rakyat Inggris, rakyat Iran serta Ahmadinejad.

Kini kasus penghinaan kembali dilakukan Reuters terhadap rakyat Iran. Bulan lalu Reuters memberitakan tentang sekelompok atlet beladiri wanita Iran dari sebuah klub beladiri di pinggir kota Teheran. Kemudian berdasarkan wawancara dengan beberapa atlet beladiri wanita Iran, Reuters membesar-besarkannya dengan menyebut bahwa Iran telah melatih lebih dari 3.000 ninja wanita Iran untuk menjadi ninja pembunuh guna menghadapi kemungkinan invasi asing terhadap Iran. Berita tersebut kemudian diikuti oleh media-media massa Inggris lainnya dan menjadi bahan berita menarik di seluruh Inggris.

Media-media massa Iran yang mengetahui masalahnya kemudian mengkritik Reuters, namun Reuters menolak meminta ma'af. Maka para atlet beladiri wanita Iran pun mengajukan tuntutan hukum kepada Reuters. Menurut para atlet wanita tersebut dengan menyebut mereka sebagai pembunuh, kharater mereka telah dirusak oleh Reuters.

Menurut atlet yang diwawancarai Reuters, jurnalis Reuters mengajukan pertanyaan: apa yang akan dilakukan jika Iran diserang musuh asing? "Wanita dari Reuters mengajukan satu pertanyaan kepada saya, apa yang akan saya lakukan jika Iran diserang musuh? Saya percaya semua orang di dunia akan membela negaranya jika diserang musuh. Namun ia membalikkan kalimat kami untuk membuat kami menjadi seperti para pembunuh dalam judul utama berita mereka," kata Khatereh Jalilzadeh kepada Press TV.

“Kami mengajukan tuntutan karena para wanita yang berlatih Ninjutsu hanya menikmatinya sebagai olahraga. Ini hanya masalah menjaga kebugaran fisik namun Reuter telah berbohong tentang kami," tambahnya.

Atlet wanita lainnya menambahkan bahwa berita yang dibuat Reuters telah membuat masalah bagi karier olahraga mereka. "Ini telah menghalangi peluang kami mengikuti turnamen internasional di negara lain karena Reuters masih dianggap sebagai sumber berita terpercaya. Pada titik ini tidak ada yang bisa mereka lakukan untuk untuk menghilangkan kerugian kami. Itulah sebabnya kami mengajukan tuntutan. Kami ingin seluruh dunia tahu bahwa Reuters telah berbohong tentang kami," kata Raheleh Davoudzadeh.

Akbar Faraji, yang mendirikan klub Ninjutsu di Iran lebih 22 tahun lalu mengutuk Reuters dan menyatakan murid-muridnya akan melakukan upaya hukum hingga tuntas. "Kami telah mengajukan tuntutan kepada Reuters dengan tuduhan penghinaan dan kami akan terus mengejarnya sejauh mungkin karena ini menyangkut reputasi," kata Faraji.

"Reuters telah mengumumkan kepada dunia kami sebagai pembunuh. Kebenaran harus disampaikan bahwa kami hanya sekelompok atlet. Kami berada di bawah pengawasan kementrian olahraga dan federasi olehraga beladiri," tambah Faraji.

Jurnalis Reuters yang melakukan wawancara dan menulis berita tersebut telah meninggalkan Iran sebelum pengadilan atas kasus tersebut dimulai.



Ref:
"Iranian ninjas sue Reuters for defamation of character"; Press TV; 28 Maret 2012

FASE BARU KRISIS SYRIA (2)


Tahap inilah yang sebenarnya menjadi keinginan blok BRICS (Brazil, Russia, India, China dan Afrika Selatan), yaitu memberi kesempatan pemerintah dan rakyat Syria menjalankan reformasi internal tanpa mengganggu kestabilan kawasan.

Dan tiba-tiba saja kemudian perundingan-perundingan terjadi di mana-mana dengan Koffi Annan sebagai ujung tombaknya. Laporan-laporan menunjukkan bahwa meski telah menutup kantor kedubesnya di Syria, pemerintah Amerika tetap menjalin komunikasi dengan para pemimpin regim Syria. Tokoh-tokoh agama dari gerakan Ikhwnaul Muslimin yang merupakan tulang punggung oposisi juga telah bertemu beberapa kali dengan presiden Bashar al Assad. Sementara tokoh oposisi moderat yang anti-intervensi asing kini didekati oleh para diplomat barat.

Langkah nyata pun diambil oleh para menlu Uni Eropa bulan Maret lalu dengan mengeluarkan komunike bersama menolak intervensi asing atas Syria, bahasa yang sangat dijauhi oleh mereka sampai sebulan yang lalu. Dan senada seirama Kofi Annan pun kemudian memberi peringatan keras terhadap upaya-upaya eksternal untuk mempersenjatai kubu oposisi. Dan menambah irama semakin dinamis, pejabat-pejabat Amerika pun memberikan suara yang senada.

Seorang tokoh oposisi moderat Syria yang masih menjalin komunikasi dengan pemerintah mengemukakan bahwa kelompok-kelompok oposisi berbasis di luar negeri kini saling berusaha menyatukan kekuatan di tengah "angin" yang mulai menjauhi mereka. Kini mereka seakan bungkam terhadap perkembangan di Syria, atau lebih tepat suaranya mulai tidak didengar.

"Mereka memang mendapat bantuan militer, namun tidak pernah cukup. Mereka membutuhkan jauh lebih banyak daripada yang mereka terima, dan kini negera-negara yang dulu mendukung mereka membuat langkah-langkah yang membingungkan mereka," kata tokoh oposisi tersebut.

Dan menambah situasi tidak menguntungkan kubu oposisi, pada bulan Maret lalu di tengah-tengah kemajuan besar militer pemeritah Syria merebut kantong-kantong pertahanan oposisi di Idlib, tiga tokoh utama oposisi menyatakan pengunduran diri dari Syrian National Council (SNC), organisasi payung yang membawahi kelompok-kelompok oposisi yang berbasis di luar negeri.

Dan perubahan juga terjadi di perbatasan, salah satu medan perang konflik Syria. Turki, tetangga Syria yang sangat keras menyuarakan penggantian regim Bashar al Assad, kini tidak lagi banyak mengeluarkan suaranya. Bahkan bertentangan dengan ancaman mereka untuk membentuk kawasan zona penyangga di perbatasan Syria, Turki akhirnya mengakui pernyataan itu tidak benar.

"Turki tidak akan melakukan hal-hal yang akan melanggar integritas wilayah Syria, karena hal itu justru bisa memindahkan konflik ke wilayah Turki," kata menlu Turki Ahmet Davutoglu dalam pertemuan dengan beberapa tokoh oposisi Syria baru-baru ini. Davutoglu secara tidak langsung membenarkan peringatan Bashar al Assad beberapa waktu lalu tentang kondisi demografis Turki yang mirip dengan Syria sehingga rawan terkena imbas konflik Syria. Berbeda dengan pemerintahnya yang keras menentang regim Syria, beberapa faksi politik Turki secara terang-terangan menyatakan dukungan kepada Bashar al Assad. Perlu juga menjadi catatan bahwa sebagaimana Syria negara Turki juga banyak dihuni oleh pengikut sekta Alawit, sekte Islam Sunni yang dekat dengan Shiah. Sekte inilah yang diikuti oleh Bashar al Assad dan pendukung-pendukung kuatnya.

"Insyaf"-nya Turki mungkin juga karena pengaruh Iran. Dalam kunjungannye ke Turki Januari lalu menlu Iran Ali Akbar Salehi menyindir Turki sebagai "melakukan peran berbahaya bagi kepentingan umat Islam dan Arab dengan imbalan yang tidak jelas".

Namun meski Turki telah menahan diri, ada sebagian elemen dalam pemerintahannya yang masih keras menentang Syria, sebagaimana juga sebagian elemen dalam pemerintahan Amerika dan Uni Eropa. Fakta bahwa tahun 2012 adalah tahun penting dalam pemilihan umum di Amerika dan Perancis turut mempengaruhi perubahan sikap politik Amerika dan Uni Eropa atas Syria.

Salah satu kekhawatiran yang membuat perubahan sikap barat adalah fakta bahwa mereka telah banyak mengeluarkan "energi" atas Syria, dan kini "energi" itu telah menipis. Tanpa persetujuan DK PBB barat tidak memiliki alasan untuk menyerang Syria dan harapan yang tertinggal adalah upaya non-militer. Semuanya sudah dilakukan untuk menggoyahkan regim Bashar al Assad, dubes Amerika bahkan turun tangan langsung mengkoordinir aksi-aksi demonstrasi sebelum mendapat balasan pendukung Bashar al Assad sehingga memaksanya hengkang dari Syria: pemberian sanksi, aksi-aksi demonstrasi, mempersenjatai milisi oposisi, perang siber, propaganda dan agitasi, menyuap pejabat dan tentara untuk membelot, hingga tekanan diplomatik. Namun setahun lewat tanpa tanda-tanda regim Bashar al Assad kehilangan pendukung.

Di Washington muncul kekhawatiran menyusupnya milisi-milisi militan garis keras (Salafi, Al Qaida) ke dalam kubu oposisi. Meski telah lama menjadi binaan Amerika dan Saudi, gerakan Islam garis keras ini, terutama di lapangan, kerap tidak bisa dikendalikan. Kebanyakan mereka menyusup dari Irak dan merupakan mantan gerilyawan yang kerap menyerang unit-unit militer Amerika di Irak selama pendudukan. Dengan keberadaan mereka di negara yang berbatasan dengan Israel serta ancaman Syria untuk mengorbankan perang hingga ke Israel, Amerika dan sekutunya harus berfikir ulang dengan ide menyingkirkan Bashar al Assad.

Namun ada saja figur-figur yang tidak bisa melihat kondisi nyata, mengabaikan Iran dan pengaruhnya yang semakin kuat di kawasan dan kedekatannya dengan regim Bashar al Assad (selain bahu-membahu melawan Israel di Lebanon, Syria adalah pendukung Iran dalam Perang Iran-Irak tahun 1980-1988. Kala itu Iran masih menjadi negara lemah yang terkucilkan). Salah satu pejabat tinggi Amerika yang masih terobsesi menghancurkan gerakan perlawanan anti-Israel yang dipimpin Iran adalah mantan dubes di Lebanon dan kini menjabat asisten menlu, Jeffrey Feltman.

Feltman sebagaimana Saudi Wahabiah, Qatar dan negara-negara Teluk (kecuali Uni Emirat Arab) adalah bagian dari Kelompok B yang habis-habisan menginginkan tumbangnya Bashar al Assad untuk diganti dengan regim baru yang terkooptasi Amerika. Perang di Syria telah menjadi sesuatu yang eksistensial bagi Kelompok B. Mereka telah bermain terlalu keras dan berkorban terlalu banyak (termasuk membuka kedok mereka sebagai agen zionisme) untuk bisa mereview kembali langkah mereka.

Dan saat kekuatan-kekuatan politik eksternal berupaya melakukan langkah "penyelamatan muka" atas krisis Syria, kita akan menyaksikan hal-hal menarik. Media-media massa dan LSM-LSM internasional yang pada dasarnya adalah bentukan zionisme tiba-tiba saja "menemukan" praktik-praktik tidak patut tidak patut dan unsur-unsur berbahaya dalam tubuh oposisi Syria, memberi alasan awal barat untuk meninggalkan oposisi sekaligus krisis Syria.

Kelompok B di sisi lain belum bisa "melihat realitas" dan dalam beberapa waktu ke depan masih akan menggunakan retorika dan langkah-langkah keras, setidaknya untuk menjadi daya tawar mereka bagi Kelompok B. Namun jika tidak berhati-hati Syria akan menjadi "kuburan" mereka.



Ref:
"New Phase in Syria Crisis: Dealmaking toward an Exit"; Sharmine Narwani; al-Akhbar, 21 Maret 2012

Wednesday, 28 March 2012

MENGAPA APBN HARUS DEFISIT?


Pada akhir dekade 1980-an hingga awal dekade 1990-an muncul beberapa buku heboh tentang "kawasan Asia Timur yang cemerlang", "Third Wave", "Future Shock", "Trend 2000" dan lain sebagainya. Dengan teknik pemasaran yang canggih, para penulis buku tersebut menjadi idola di negara-negara Asia Timur termasuk Indonesia. Presiden SBY pun bahkan mengaku menjadi idolanya Alfin Toffler, sang futuristik penulis "Future Shock" dan "Third Wave". Teknik promosi yang canggih juga turut mempengaruhi kebijakan ekonomi negara-negara Asia Timur, yang tergiur dengan ramalan buku-buku tersebut dengan berlomba-lomba mengadakan pembangunan besar-besaran. Tentu saja pembangunan tersebut dilakukan dengan "bantuan" perbankan dan lembaga-lembaga keuangan asing, alias berhutang.

Dan seakan sebuah konspirasi yang super canggih, hutang-hutang tersebut kebanyakan jatuh tempo pembayarannya pada akhir dekade 1990-an. Pada masa itulah kebutuhan mata uang dolar di kawasan Asia Timur sebagai mata uang untuk membayar cicilan, dipastikan akan melonjak tinggi. Namun tiba-tiba saja mata uang dolar lenyap dari kawasan Asia Timur, menimbulkan kepanikan di tengah ancaman gagal bayar negara-negara Asia Timur. Krisis moneter pun terjadi.

Singkat kata paska krisis yang menghancurkan sendi-sendi sosial ekonomi dan politik masyarakat, terjadi "keseimbangan perekonomian" baru: kurs dolar naik beberapa kali lipat dibanding mata uang negara-negara Asia Timur yang berarti juga hutang luar negera negara-negara Asia Timur secara ajaib ikut naik beberapa kali lipat. Negara-negara seperti Indonesia pun terpaksa harus melego aset-aset berharga-nya kepada kreditur untuk mengurangi beban hutangnya. Sampai kini pun sebenarnya beban krisis tersebut masih terus ditanggung rakyat Indonesia yang setiap tahun harus membayar triliunan rupiah kepada negara-negara kreditur.

PM Malaysia Mahathir Mohammad mengerti betul siapa yang bertanggungjawab terhadap krisis tersebut, yaitu para kapitalis yahudi yang sengaja memborong dolar hingga hilang dari peredaran.

Namun seakan seperti keledai yang tidak bisa mengambil pelajaran, kita terus saja melakukan kesalahan dengan membiarkan diri terjerat dalam hutang.

Saya masih tidak bisa menemukan "kebijaksanaan" di balik prinsip "anggaran berimbang" APBN yang pernah diterapkan pemerintahan Orde Baru, yaitu prinsip menghabiskan semua pendapatan pada tahun yang sama sehingga jumlah pendapatan menjadi sama dengan pengeluaran. Namun saya lebih tidak mengerti lagi "kebijaksanaan" prinsip "anggaran defisit" yang diterapkan Orde Reformasi seperti sekarang, yaitu kebijaksanaan APBN dengan menetapkan pengeluaran lebih besar dari penerimaan dan menutup defisit tersebut dengan berhutang. Karena dengan "kebijaksanaan" ini, dengan hitung-hitungan sederhana saja akan menunjukkan bahwa dalam beberapa tahun saja Indonesia tidak memiliki kekayaan apapun, sebaliknya terbenam dalam timbungan hutang yang tak terbayar hingga ke anak cucu.

Sebagai gambaran sederhana saya berikan ilustrasi sbb: 2 negara identik A dan B memiliki sumber pendapatan APBN yang sama, yaitu Rp 1.000 triliun. Negara A menerapkan prinsip anggaran defisit dengan menetapkan pengeluaran senilai Rp 1.200 triliun, sedang B menerapkan prinsip anggaran efisien dengan menetapkan pengeluaran senilai Rp 800 triliun. Dengan asumsi tidak ada perubahan pola APBN selama 10 tahun, negara A pada akhir tahun ke 10 memiliki hutang senilai Rp 2.000 triliun. Pada saat yang sama negara B justru memiliki tabungan senilai Rp 2.000 triliun.

Pada kondisi akhir ini negara A tidak lagi memiliki kekayaan sedikit pun karena total pendapatannya tidak cukup untuk membayar hutang sehingga harus terus mengandalkan pemberian hutang-hutang baru negara-negara kreditur untuk sekedar melanjutkan kehidupannya. Sebaliknya negara B adalah negara mandiri yang dengan tabungannya yang mencapai 2.000 triliun cukup untuk menaikkan tingkat kesejahteraan rakyatnya.

Jelas sekali di antara kedua negara tersebut negara yang cerdas dan negara yang idiot.

Sunday, 25 March 2012

FASE BARU KRISIS SYRIA: MENYELAMATKAN DIRI MASING-MASING


Ketika tulisan ini tengah dibuat, kampanye baru anti-Syria dilakukan media-media massa barat yang lagi-lagi diikuti sepenuhnya oleh media-media massa nasional. Yaitu mendeskreditkan istri presiden Syria Bashar al Assad. Media-media massa memberitakan kegemaran sang istri presiden yang kelahiran Inggris berbelanja barang-barang mewah lewat internet. Tidak lain untuk mendiskreditkan Bashar al Assad di hadapan rakyatnya.

Inilah cara lama untuk merebut kekuasaan dengan menghancurkan kredibilitas lawan. Pada masa Revolusi Perancis para revolusioner yahudi mendandani seorang pelacur semirip mungkin dengan permaisuri raja, Maria Antoniette, kemudian memerintahkannya melakukan tindakan-tindakan tidak terpuji. Esok harinya surat-surat kabar kala itu, ribuan pamflet dan selebaran gelap beredar luas di masyarakat berisi tulisan tentang tindakan tidak terpuji sang permaisuri. Pada kesempatan lain orang-orang yahudi mengirimi Maria Antoniette dengan perhiasan mahal. Meski sang permaisuri, seorang wanita terhormat, tidak memakan umpan dan mengembalikan barang itu, media massa memberikan julukan baru bagi sang permaisuri, yaitu "Lady Defisit", orang yang telah menghancurkan keuangan negara dengan kebiasaannya membeli barang mewah.

Mungkin itu semua adalah cara terakhir elemen-elemen politik internasional yang masih berhadap Bashar al Assad, satu-satunya pemimpin negara Arab yang masih tegak berdiri menentang Israel, untuk tumbang, setelah kampanye militer mengalami kegagalan total.

Dalam beberapa minggu terakhir telah terjadi perubahan signifikan pada beberapa pemain kunci internasional dalam krisis Syria. Momentum pun telah berubah dari "serangan habis-habisan" terhadap pemerintah Syria menjadi "investigasi rahasia" untuk mencari jalan keluar tanpa mempermalukan wajah para pemain kunci.

Jatuhnya kubu pertahanan terkuat pasukan oposisi di Baba Amr menjadi awal perubahan tersebut. Setelah Baba Amr kini tidak ada lagi penghalang berarti bagi pasukan pemerintah Syria untuk membersihkan kantong-kantong perlawanan oposisi. Jatuhnya Baba Amr hanya memberikan satu tanda bahwa "pilihan militer" telah mengalami kegagalan total.

Kini para pemain kunci internasional pun sibuk mencari jalan keluar untuk mengamankan diri. Ada dua kubu pemain kunci internasional yang berbeda dalam menyikapi perubahan tersebut. Kubu pertama terdiri dari Amerika, Inggris dan Turki hanya ingin mengakhiri petualangan mereka di Syria tanpa kehilangan muka. Kubu kedua, yang paling banyak berkorban dan paling keras perjuangannya untuk menyingkirkan Bashar al Assad, masih berharap "impian" mereka tercapai. Kubu terakhir ini adalah Arab Saudi, Qatar, Libya dan negara-negara Teluk ditambah beberapa elemen pejabat di Amerika dan Eropa.

Sebelum kejatuhan Baba Amr kedua kubu berjuang bahu-membahu dengan segala kemampuan untuk menyingkirkan Bashar al Assad. Ketika tim pemantau Liga Arab tengah bekerja Qatar sebagai ketua Liga Arab menghentikan mereka secara tiba-tiba dan memaksakan draft resolusi Liga Arab yang menyerukan pengunduran diri Bashar al Assad. Kemudian dengan mengabaikan permintaan Rusia untuk memberi kesempatan menlu Rusia bernegosiasi dengan Bashar al Assad, Liga Arab mengajukan resolusi yang sama ke Dewan Keamanan PBB. Setelah resolusi tersebut ditolak Rusia dan Cina mereka membentuk forum "Friends of Syria" untuk menjadikan oposisi sebagai wakil sah Syria di dunia internasional. Langkah ini disusul dengan berbagai kecaman terhadap Syria serta penutupan kantor-kantor perwakilan di Syria serta pengusiran staff kedubes Syria di negara mereka, semuanya demi menjaga momentum yang menyudutkan Syria. Namun semua upaya itu hancur setelah kejatuhan Baba Amr.

Perubahan yang tampak nyata adalah dengan ditunjuknya mantan Sekjend PBB Kofi Annan sebagai utusan PBB untuk mengatasi krisis Syria. Berbeda dengan sikap para pemimpin barat dan Arab serta Turki selama ini, kini tidak lagi ada retorika keras yang dibawa Annan setelah dipegangnya jabatan tersebut seperti "pergantian kekuasaan" dan sebagainya. Annan adalah "kartu as" Amerika untuk mengamankan kepentingan Amerika serta sejauh mungkin masih bisa mengakomodir kepentingan sekutu-sekutunya dalam krisis Syria hingga terselenggaranya pemilu parlementer Syria bulan Mei mendatang.


(bersambung)

PENGAKUAN ANGGITO ABIMANYU: TIDAK ADA SUBSIDI BBM (2)


Saya terkejut setelah mengetahui tulisan saya terdahulu ternyata mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat. Akibat tulisan tersebut blog ini sampai mendapat hits lebih dari 10.000 sehari dari biasanya yang hanya sekitar 700 sampai 1.000 hits. Belum lagi forward yang dikirim melalui jejaring sosial Facebook, twitter, hingga BBM, SMS dan e-mail. Dan itu masih ditambah dengan beberapa blog yang meng-copas tulisan saya, meski sayangnya beberapa di antaranya tanpa menyebutkan sumbernya, yaitu blog ini.

Maka Pak Anggito pun sampai harus mengadakan konperensi pers untuk membantah isu yang berkembang seputar dirinya terkait masalah subsidi BBM. Dalam konpers tersebut beliau membantah telah "melakukan penghitungan pendapatan migas bersama-sama dengan Kwik Kian Gie". Ia juga menyatakan bahwa "surplus pendapatan migas telah habis untuk membiayai belanja pemerintah hingga APBN defisit".

Memang Pak Anggito tidak melakukan penghitungan bersama-sama dengan pak Kwik, melainkan pak Kwik yang melakukan penghitungan, dan pak Anggito membenarkan perhitungan Pak Kwik. Sebagai mantan pejabat negara yang bertanggungjawab dalam kebijakan fiskal pemerintah, tentu Pak Anggito tahu angka-angka pendapatan migas yang tidak sepenuhnya diketahui pak Kwik. Namun sayangnya, dan ini perlu menjadi catatan kita semua, Pak Anggito sebagaimana semua pejabat keuangan pemerintah selalu tertutup dalam soal pendapatan migas. Saat mengakui adanya suplus pendapatan minyak misalnya, Anggito tidak menyebutkan berapa angkanya dan tiba-tiba menyambungnya dengan mengatakan "surplus itu sudah habis digunakan untuk membiayai APBN yang defisit".

Saya pernah menulis penghitungan pendapatan migas pemerintah di blog ini. Saya sadar penghitungan tersebut jauh dari angka sebenarnya yang disembunyikan pemerintah dan saya semakin yakin setelah sampai saat ini tidak pernah ada "counter" terhadapnya. Kalau pun ada "orang-orang pemerintah" yang membantah, dijamin pasti hanya asal tuduh "tidak valid" sebagaimana tuduhan terhadap anggota DPR dari PDI-P Rieke Dyah Pitaloka yang menulis artikel tentang "kenaikan BBM, rakyat buntung, SBY untung". Bahkan terhadap analisis-analisis Kwik Kian Gie yang sudah lama beredar di masyarakat pun pemerintah tidak pernah menanggapinya secara jujur dan terbuka.

Dan tentang "surplus itu sudah habis digunakan untuk membiayai APBN yang defisit", semakin mencerminkan sikap tidak bijaksana Anggito Abimanyu dan pemerintah. Kenapa harus dihabiskan dan kenapa harus defisit APBN?. Bukankah sikap arif dan bijaksana adalah tidak "besar pasak daripada tiang"? Negara, apapun bentuknya, secara prinsip tidak berbeda dengan entitas-entitas ekonomi lain yang lebih kecil seperti pribadi, keluarga ataupun perusahaan. Pribadi, keluarga dan perusahaan yang bijak akan menerapkan prinsip efisiensi dan efektifitas, dan bersikap "besar pasak daripada tiang" jauh dari prinsip itu.

Kemakmuran diraih dengan kerja keras dan berhemat, bukan mengumbar nafsu dengan mengandalkan pinjaman asing yang ujung-ujungnya mengantarkan seluruh rakyat menjadi jajahan asing sebagaimana kini dialami rakyat Yunani. Membangun ruangan banggar DPR senilai Rp 20 miliar, membeli pesawat kepresidenan seharga Rp 800 miliar, membiayai studi banding anggota DPR ke luar negeri bertrilyun rupiah, membayar cicilan hutang luar negeri hingga 150 triliun lebih, membangun kantor-kantor pemerintah senilai hingga ratusan miliaran bahkan triliunan, semuanya bukan kebijaksanaan bila ternyata masih ada hal-hal lain yang bisa memberikan nilai tambah perekonomian. Merevitalisasi dan rehabilitasi saluran irigasi, membangun infrastuktur dan jalan berkualitas lintas Sumatera-Kalimantan-Sulawesi-Irian, membangun jembatan Selat Sunda, membuka ladang-ladang pertanian dan perkebunan plus sarana dan prasarananya di wilayah-wilayah terpencil, mengembangkan mobil nasional dan lain-lainnya, jauh lebih penting lagi.

Ada 1.000 cara lebih bisa dilakukan pemerintah untuk mengatasi tekanan APBN akibat kenaikan harga minyak dunia tanpa harus menaikkan harga BBM. Dan kengototan pemerintah untuk menaikkan harga BBM semakin mengukuhkan pendapat masyarakat bahwa pemerintah lebih mengedepankan kepentingan asing karena dengan makin tingginya harga BBM, perusahan minyak asing akan bisa turut bermain dalam bisnis minyak di dalam negeri.

KEBOHONGAN TTG PEMBANTAIAN AFGHANISTAN


Apa yang bisa Anda simpulkan dari ketiga "fakta" berikut tentang peristiwa pembantaian massal di Kandahar, Afghanistan, hari Minggu 11 Maret 2012 lalu?

1. Pernyataan resmi Amerika bahwa pembantaian 9 anak-anak dan 7 orang dewasa itu dilakukan oleh Sersan Robert Bales seorang diri.
2. Keterangan saksi-saksi bahwa pembantaian tersebut dilakukan oleh serombongan pasukan Amerika.
3. Keterangan Robert Bales kepada pengacaranya bahwa ia mengalami "amnesia" atau lupa ingatan tentang malam terjadinya pembantaian.

Berdasarkan pengalaman masa lalu dimana pemerintahan Amerika dipenuhi dengan kebohongan, saya percaya bahwa pembantaian tersebut dilakukan oleh satu regu pembunuh "SOCOM", sementara para malam pembantian tersebut Robert Bales mendapatkan perawatan medis "cuci otak", mungkin dengan dipaksa mengkonsumsi ramuan campuran "Purple Haze" dan "Prozac" ditambah berbagai intimidasi dan penyiksaan hingga membuatnya mengalami amnesia.

Secara logika saja sangat sulit menerima keterangan pemerintah Amerika tentang Bales sebagai pelaku tunggal. Ia dituduh keluar dari pangkalannya tanpa ijin dengan mengendarai HUMVREE, dan melakukan serangkaian pembunuhan berantai dengan senapan yang dibawanya di beberapa lokasi. Ia bahkan sempat menyiramkan bensin ke sebagian mayat korbannya dan membakarnya.

Saksi-saksi yang melihat kejadian menyebutkan pembantaian dilakukan oleh satu regu pasukan yang mabuk. Namun media massa tidak menyinggung sama sekali keterangan ini melainkan mengutip seluruh keterangan pemerintah Amerika.


SATU REGU PASUKAN


Sebuah tim pencari fakta yang dibentuk oleh parlemen Afghanistan menyebutkan bahwa satu regu pasukan Amerika yang terdiri dari 15 hingga 20 orang, terlibat dalam aksi pembantian massal tersebut.

Tim tersebut terdiri dari anggota parlemen Hamidzai Lali, Abdul Rahim Ayubi, Shakiba Hashimi, Syed Mohammad Akhund dan Bismillah Afghanmal, yang semuanya berasal dari provinsi Kandahar ditambah 2 anggota parlemen dari provinsi Badakhshan serta masing-masing 1 orang dari provinsi Khost dan provinsi Farah. Tim berada di sekitar lokasi kejadian selama 2 hari, melakukan wawancara langsung dengan keluarga korban, ketua-ketua suku serta para korban selamat dan kemudian mengumpulkan bukti-bukti peristiwa di distrik Panjwai.

Anggota tim Hamidzai Lali kepada "Pajhwok Afghan News" mengatakan bahwa tim menemukan keterlibatan sekitar 15 hingga 20 tentara Amerika dalam pembantaian keji tersebut.

"Kami meneliti dengan teliti lokasi kejadian, berbicara dengan keluarga korban, orang-orang yang selamat, serta para ketua suku," katanya.

Ia menambahkan bahwa aksi pembantaian berlangsung selama 1 jam dan dilakukan secara terpisah oleh 2 kelompok pasukan di tengah malam.

"Desa-desa yang diserang berada sekitar 1,5 km dari pangkalan militer Amerika. Kami yakin seorang prajurit tidak akan bisa melakukan pembantian di 2 desa dalam waktu 1 jam. Ke 16 korban yang kebanyakan adalah wanita dan anak-anak itu dibunuh oleh 2 kelompok pasukan," kata Lali.

Lali meminta pemerintah Afghanistan, PBB dan masyarakat internasional untuk memastikan para pelaku diadili di Afghanistan sembari menyatakan kemarahannya bahwa pelaku utama pembantaian telah diterbangkan keluar Afghanistan. Ia mengingatkan bahwa rakyat yang marah atas pembantaian tersebut akan melancarkan gerakan melawan pemerintah yang dianggap gagal melindungi rakyat dan bersekongkol dengan penjajah asing.

“Jika masyarakat internasional tidak melakukan tindakan apapun untuk menghukum pelaku, maka Wolesi Jirga (dewan perwakilan rakyat tidak resmi yang terdiri dari para ketua suku dan pemuka masyarakat) akan menyatakan pasukan asing sebagai penjajah sebagaimana Uni Sovyet," kata Lali.

Presiden Hamid Karzai sendiri yang tersudut oleh peristiwa pembantaian ini telah mendesak pemerintah Amerika untuk "serius" menangani kasus ini serta meminta percepatan penarikan pasukan asing dari Afghanistan.



ALASAN TERJADINYA PEMBANTAIAN
Bagi pengamat politik yang jeli peristiwa pembantaian tgl 11 Maret lalu bisa jadi dirancang pemerintah Amerika untuk tujuan memberi "alasan" penarikan pasukan mereka dari Afghanistan tanpa mempermalukan Amerika. Dengan alasan "memenuhi kehendak rakyat Afgahnistan", mereka bisa menutupi hal yang sebaliknya, "kekalahan memalukan dan menyakitkan".

Atau bisa saja pembantaian tersebut dilakukan untuk menciptakan ketegangan baru di Afghanistan sehingga memberi alasan Amerika untuk mempertahankan pasukannya yang mungkin akan bisa digunakan untuk menyerang Iran kelak.


REF:

"Is ZOG Lying About Bale’s Afghan Spree Killing?"; incogman.net; 19 Maret 2012

"Up to 20 US troops executed Panjwai massacre"; Bashir Ahmad Naadimon; pajhwok.com; 15 Maret 2012.

Monday, 19 March 2012

LEBANON, NEGARA YANG TIDAK "BERSEJARAH"


"Negara yang tidak mempunyai sejarah tidak akan mempunyai masa depan," kata Perdana Menteri Lebanon Najib Miqati terkait penerbitan buku sejarah Lebanon baru resmi pemerintah baru-baru ini. Pada saat yang sama di berbagai tempat di Lebanon terjadi kerusuhan antara aparat keamanan dengan kelompok-kelompok yang menentang isi dalam buku sejarah tersebut.

Ya, menulis buku sejarah merupakan hal yang paling sulit dilakukan di Lebanon, negeri yang selama periode tertentu dipenuhi dengan kekacau-balauan, pembunuhan, pengkhianatan dan tindak kekerasan yang luar biasa. Negeri yang pernah dipimpin oleh orang-orang yang mencapai tujuan politiknya dengan melakukan pembunuhan brutal lawan-lawan politiknya. Sebut saja misalnya Presiden Bashir Gemayel yang membunuh rival politiknya, Tony Franjieh beserta anak dan istrinya dan kemudian membuat perjanjian damai dengan Israel setelah negeri zionis itu menduduki separoh wilayah Lebanon dan baru saja membunuhi ribuan rakyat Lebanon. Atau Samir Geagea yang membunuh PM Rashid Karami tahun 1987 dan politisi Dany Chamoun beserta anak-anak dan istrinya tahun 1978.

Bashir Gemayel memang telah tewas karena ledakan bom hampir 30 th lalu (diduga dilakukan oleh inteligen Syria yang kala itu terlibat perang melawan Israel di Lebanon), namun faksi politiknya, Phalangist, masih eksis sampai saat ini dan sempat menjadi bagian dari koalisi pemerintah sebelum pemerintahan sekarang. Samir Geagea bahkan masih hidup dan menjadi salah satu politisi berpengaruh di Lebanon saat ini. Ia pun menjadi bagian dari koalisi pemerintahan sebelum pemerintahan sekarang. Geagea telah divonis hukuman mati, namun sistem hukum yang lemah membuatnya tetap "eksis".

Perlu dicatat di sini bahwa politik benar-benar menjadi "panglima" di Lebanon dan opportunisme menjadi kebiasaan. Maka tidak heran jika Samir Geagea bisa menjadi bagian dari pemerintahan koalisi yang dipimpin oleh perdana menteri dari kelompok muslim Sunni, meski ia adalah pembunuh dari Rashid Karami, seorang pemuka muslim Sunni. Sebaliknya Bashir Gemayel dan Geagea tidak peduli jika yang mereka bunuh (Tony Franjieh dan Dany Chamoun) adalah sesama orang Kristen sebagaimana mereka.

Beruntung di Lebanon kemudian muncul gerakan Hizbollah yang kini menjadi kekuatan politik dan militer paling tangguh dan suka atau tidak suka telah menjadi penjaga "keseimbangan politik" Lebanon, terutama berkat keberhasilannya "menendang pantat" Israel hingga harus hengkang dari Lebanon. Kini tidak ada faksi politik yang berani melakukan langkah radikal seperti pembunuhan dan aksi-aksi kekerasan lain tanpa memperhitungkan kekuatan Hizbollah. Sehingga Geagea pun tidak berani mengulangi aksi brutal menyerang Gereja "Our Lady of Deliverance" hingga menewaskan 11 jemaah tak berdosa tahun 1994, meski ia kini tengah terlibat pertikaian dengan pemimpin gereja Maronite Patriah Beshara al-Rahi terkait krisis Syria. Tidak seperti pendahulunya Patriah Nasrallah Sfeir yang anti-Syria, Rahi adalah pendukung presiden Bashar al Assad, sementara Geagea dalah musuh Syria.

Namun tetap saja Geagea masih bisa mengirim ratusan orang berdemo menentang buku sejarah yang menyebutkan lembaran hitam hidupnya.

Sebuah ironi. Lebanon, tempat berkembangnya kebudayaan-kebudayaan besar dunia, kesulitan menuiskan sejarahnya sendiri.

Friday, 16 March 2012

PEMBUNUHAN RAHASIA DGN PISTOL SERANGAN JANTUNG


Kematian aneh banyak tokoh kontroversial akibat "serangan jantung" telah banyak menimbulkan pertanyaan di benak para pengamat "teori konspirasi". Mungkinkah aparat inteligan telah memiliki senjata pemicu serangan jantung mematikan?

Kematian misterius terakhir menimpa Andrew Breitbart, orang yang mengumumkan mempunyai rekaman video yang bisa "menghancurkan" karier politik Barack Obama dan akan segera dibuka ke publik. Ia meninggal akibat "serangan jantung" tgl 1 Maret lalu. Padahal dengan umur masih 40-an th dan tidak pernah memiliki catatan serangan jantung, kematian seperti itu sangat-sangat jarang terjadi. Kematian tersebut menyusul kematian serupa yang menimpa komandan HAMAS Mahmoud Mabhouh di sebuah hotel tgl 19 Januari lalu.

Di antara senjata inteligen baru yang kini menjadi perhatian para pengamat inteligen adalah pistol jarum berisi zat-zat yang memicu serangan jantung. Demikian canggih sehingga jarum yang ditembakkan langsung hancur di dalam tubuh dan melebur dalam darah bersama zat-zat pemicu serangan jantung. Dampak yang dialami penderita saat mendapat tembakan hanya seperti gigitan nyamuk, atau bahkan tidak terasa sama sekali.

"Racun pembunuh dengan cepat menyebar melalui pembuluh darah dan menimbulkan serangan jantung hebat. Dan saat kerusakan terjadi, racun tersebut dengan cepat terurai dengan sendirinya sehingga otopsi yang dilakukan hanya menemukan adanya serangan jantung biasa," ungkap Fred Burks, seorang analis inteligen kepada majalan "Examiner" (Fred Burks, "CIA secret weapon of Assassination", 29 November 2009).

Jarum kecil yang ditembakkan akan menembus pakaian, hanya menimbulkan noda merah di kulit. Jika pakaian yang digunakan cukup tebal seperti jaket kulit, ada kemungkinan korban berhasil diselamatkan. Setelah itu korban akan menderita gatal-gatal di area tembakan sebelum akhirnya terkulai karena serangan jantung.

Kini diyakini pistol jarum pemicu serangan jantung mematikan telah digunakan dinas-dinas inteligen "pionir" seperti Mossad dan CIA. Senjata kecil itu gampang disembunyikan dan ditembakkan. Di tengah-tengah keramaian dan oleh agen inteligen terlatih, senjata itu tidak menimbulkan kecurigaan saat ditembakkan.

"Saat jarum mematikan itu masuk ke dalam tubuh, individu yang menjadi target mungkin merasa seperti mendapat gigitan nyamuk, atau bahkan tidak merasakan dampak apapun. Jarum beracun itu kemudian hancur saat masuk ke dalam tubuh," papar Burks selanjutnya.

Menurut Burks, informasi awal tentang senjata rahasia ini sebenarnya terjadi dalam suatu sidang Komisi Senat yang membahas praktik-praktik ilegal CIA tahun 1975. Namun senjata rahasia ini hanya satu dari beberapa senjata rahasia lainnya yang dibahas dalam sidang yang secara resmi disebut sidang "Komite Khusus Senat untuk Mempelajari Operasi Inteligen Pemerintah."

Kini, 37 tahun kemudian, senjata seperti itu tentu jauh lebih canggih dari yang dibahas dalam sidang senat Amerika.



Ref:
"Heart Attack Homocides in Disguise"; Deborah Dupre; incogman.net; 4 Maret 2012

"More Thoughts on the Death of Andrew Breitbart"; James Buchanan; davidduke.com; 1 Maret 2012

Tuesday, 13 March 2012

BETON PINTAR IRAN UNTUK BOM PINTAR AMERIKA


Di tengah gencarnya pemberitaan tentang bom pintar Amerika yang konon mampu menghancurkan semua bunker beton bawah tanah yang dibuat Iran, diam-diam Iran mengembangkan "beton pintar" untuk mengatasi ancaman tersebut.

Sebuah artikel di situs "Aggravate Research" milik Aggravate Industries, Iran, sebagaimana dikutip oleh situs "Press TV" tgl 12 Maret lalu menyebutkan tentang pengembangan material “ultra-high performance concrete” (UHPC) atau beton super kuat yang merupakan salah satu material paling keras di dunia.

Menurut sumber tersebut UHPC kini telah menjadi perhatian serius Amerika sebagaimana program pengembangan nuklir Iran. Dan sebagaimana teknologi nuklir, pembuatan UHPC membutuhkan teknologi yang sangat maju.

"Berbeda dengan beton biasa, beton buatan Iran dicampur dengan bubuk "quartz" dan serat khusus yang mengubahnya menjadi beton super kuat yang tahan terhadap tekanan tinggi," tulis laporan tersebut.

Dengan teknologi ini beton buatan Iran merupakan material canggih yang berguna bagi kemajuan peradaban yang dengannya berbagai bangunan konstruksi besar seperti jembatan, dam, terowongan, saluran pembuangan bisa dibuat lebih kuat dan tahan lama. Terlebih lagi material baru ini juga memiliki sifat menyerap polusi. Dan laporan tersebut tentu saja juga menyebutkan aplikasi teknologi ini bagi fasilitas-fasilitas nuklir Iran yang kini menghadapi ancaman serangan Amerika dan Israel.

Menurut laporan tersebut menhan Amerika Leon Panetta baru-baru ini menyatakan kekhawatirannya terhadap kemungkinan terjadinya konflik militer dengan Iran dimana bom-bom pintar Amerika tidak bisa menghancurkan fasilitas-fasilitas nuklir Iran yang berada di bawah tanah. Hal itu, demikian menurut laporan tersebut, karena Panetta sudah mengetahui bahwa Iran telah melindungi fasilitas-fasilitas nuklir bawah tanahnya dengan UHPC. Dalam wawancaranya dengan "The Wall Street Journal" tgl 26 Januari Panetta mengumumkan bahwa pengembangan masih harus dilakukan untuk meningkatkan daya hancur bom pintar Amerika.

Bom pintar yang dimaksud adalah bom penghancur bunker yang dikenal dengan nama Massive Ordnance Penetrator (MOP) seberat 30.000 pon atau sekitar 15 ton. Menurut "Wall Street Journal" beberapa tes yang dilakukan menunjukkan bom-bom tersebut tidak bisa menghancurkan semua fasilitas nuklir Iran.”



REF:
"Iran ‘smart concrete’ to protect N-sites from US bunker busters"; Press TV – March 12, 2012

PENGAKUAN ANGGITO ABIMANYU: TIDAK ADA SUBSIDI BBM


Akhirnya Pak Anggito Abimanyu, salah satu fundamentalis neo-liberal Indonesia yang selalu bersikeras menaikkan harga BBM dengan alasan "mengurangi beban subsidi BBM", mengakui bahwa tidak ada subsidi dalam BBM. "Masih ada surplus penerimaan BBM dibanding biaya yang dikeluarkan," katanya dalam acara talkshow di TVOne hari Senin (13/3), terkait rencana kenaikan harga BBM akibat kenaikan harga BBM dunia. Anggito menjadi salah satu narasumber bersama Kwik Kian Gie dan Wamen ESDM.

Mungkin Anggito tidak akan pernah memberikan pengakuan seperti itu kalau saja tidak karena ada Kwik Kian Gie yang telah lama menyampaikan pendapatnya bahwa isu "subsidi" adalah pembohongan publik, dan pendapat itu diulangi lagi dalam acara talkshow tersebut di atas.

Pengakuan tersebut menunjukkan dengan sangat-sangat gamblang bahwa isu "subsidi" yang selama ini digembar-gemborkan pemerintah sebagai alasan kenaikan harga BBM adalah sebuah "pembohongan". Sebagaimana pengakuan Anggito, tidak ada subsidi BBM, bahkan ketika saat ini harga BBM dunia mencapai $120 per-barrel.

Meski dalam blog ini pernah saya kupas secara mendetil mengenai penghitungan biaya dan penerimaan BBM oleh pemerintah, saya ingin kembali mereview-nya secara sederhana. Jika pemerintah mengambil BBM secara cuma-cuma dari dalam bumi Indonesia dan kemudian mengekplorasinya dengan biaya $20 per-barrel, sementara harga minyak dunia tidak pernah di bawah biaya produksi tersebut, darimana munculnya subsidi? Hanya orang bodoh moron idiot yang masih percaya pada bualan soal "subsidi" tersebut.

Meski terlambat dan menunjukkan dirinya sebagai pengkhianat rakyat dan pengkhianat nuraninya sendiri selama menjadi pejabat negara (kini Anggito bukan lagi pejabat pengambil kebijakan ekonomi), pengakuan Anggito (mantan dosen saya waktu mahasiswa) sebenarnya menjadi koreksi "kebijakan pemerintah" dalam soal BBM. Namun alih-alih pemerintah terus saja menggunakan isu "subsidi" imaginatif untuk melegitimasi rencana kenaikan harga BBM, termasuk dalam iklan sosialisasi kenaikan harga BBM yang saat ini gencar ditayangkan di televisi.

Dalam diskusi tersebut Anggito memang tetap mendukung rencana kenaikan harga BBM, namun kini dengan alasan yang lebih rasional, tidak lagi menggunakan imajinasi "subsidi", melainkan demi mengurangi beban APBN. Dan inilah yang mestinya menjadi dasar kebijakan pemerintah, mengurangi beban APBN tanpa harus menipu rakyat.

Baik, kalau hanya mengatasi "tekanan" APBN ada banyak cara untuk mengatasinya tanpa harus menyengsarakan rakyat sebagaimana kebijakan menaikkan harga BBM. Bisa mengintensifkan penerimaan pajak yang selama ini lebih banyak "beredar" di "pasar gelap pajak" sebagaimana ditunjukkan dalam kasus Gayus Tambunan. Bisa dengan mengintensifkan pencegahan tindak korupsi sehingga dana APBN yang banyak bocor bisa diarahkan ke pos-pos yang produktif. Cara lainnya adalah meningkatkan produksi BBM sehingga penerimaan pajak BBM meningkat. Dan tentu saja adalah pengelolaan APBN yang efektif dan efisien.

Ada 1.000 cara lebih bisa dilakukan pemerintah untuk mengatasi tekanan APBN akibat kenaikan harga minyak dunia tanpa harus menaikkan harga BBM.