Sunday 25 January 2009

RAMALAN SANG WAKIL PRESIDEN


Beberapa waktu menjelang pemilu Amerika bulan November lalu, kandidat wakil presiden pasangan Barack Obama, Joe Biden, membuat “ramalan” yang mengejutkan tentang bakal terjadinya krisis global hebat yang akan terjadi tidak sampai enam bulan setelah Barack Obama terpilih menjadi presiden Amerika. Saat ini ramalan Biden tentang terpilihnya Obama telah terpenuhi. Kini kita tinggal menunggu ramalan krisis global hebat yang sangat boleh jadi jauh lebih hebat dari yang pernah kita bayangkan.

Sebagaimana ditulis ABC News tanggal 20 Oktober 2008, dalam kampanye terakhir di kota Seattle, Biden mengatakan kepada khalayak ramai: “Catat kata-kata saya. Tidak akan sampai enam bulan setelah terpilih, dunia akan menguji Barack Obama seperti menguji John Kennedy (Insiden Teluk Babi Kuba yang nyaris membawa dunia ke perang nuklir NATO melawan Pakta Warsawa). Saat ini dunia tengah menyaksikan. Kita akan segera memilih seorang senator brilian berumur 47 tahun untuk menjadi presiden Amerika. Ingat apa yang saya katakan. Hati-hati, kita akan menghadapi krisis internasional, krisis yang digerakkan, untuk menguji kematangan laki-laki ini (Obama). Saya bisa memberikan empat dari lima skenario yang mungkin bakal terjadi. (Biden menyinggung krisis Timur Tengah dan krisis dengan Rusia). Pada saat krisis itu terjadi, ia (Obama) membutuhkan dukungan Anda. Bukan bantuan keuangan, ia membutuhkan pengaruh Anda, pengaruh Anda di lingkungan sekitar Anda, untuk tetap mendukungnya. Karena saat itu apa yang kita dukung tampak tidak populer.”

Banyak pertanyaan muncul atas “ramalan” Joe Biden tersebut di atas.
Apa motif di balik pernyataan Joe Biden tersebut di atas?
• Informasi apakah yang ia miliki sehingga ia berani meramalkan dengan keyakinan tinggi tentang bakal terjadinya krisis global sebelum enam bulan masa pemerintahan Obama?
• Mungkinkah krisis yang bakal terjadi dimulai dengan peristiwa besar seperti Penyerangan WTC, atau bahkan peristiwa yang lebih hebat lagi?
• Mungkinkah peristiwa hebat pemicu krisis berupa ledakan nuklir di suatu tempat yang kemudian disalahkan kepada Iran, Syria, Rusia, Cina, atau musuh-musuh Amerika yang lain, yang dilanjutkan dengan penyerangan balasan Amerika?
• Mungkinkah krisis hebat tersebut berupa “Perang Dunia III”?

Keyakinan Joe Biden tentang krisis global mendatang tidak bisa lain bahwa ia mengetahui sebuah rencana rahasia tengah dilakukan oleh “penguasa di balik layar” untuk memicu terjadinya krisis.

Untuk menambah keyakinan ramalan Joe Biden bukanlah suatu yang mengada-ada (saat menyatakan ramalannya Joe Biden tentu tidak dalam keadaan mabuk, atau bermaksud iseng) adalah bahwa kabinet Barack Obama adalah sekumpulan elit yang tergabung dalam kelompok-kelompok rahasia yang bekerja bekerja secara simultan untuk mewujudkan pemerintahan global yang dipimpin oleh seorang pemimpin dunia. Kelompok-kelompok rahasia tersebut adalah: Trilateral Commision (TC), Council on Foreign Relation (CFR), Bilderberger Group, dan Center for American Progress. Semua organisasi itu terikat dalam satu kepentingan: memperjuangkan terbentuknya negara Israel Raya (zionisme) dan dominasi Yahudi atas dunia (jehudaisme).

Joe Biden sendiri, mantan senator sejak tahun 1979-2008, adalah seorang zionis tulen, kulit putih penjilat Yahudi. Dalam sebuah acara televisi Israel, Shalom TV, mengatakan dengan tegas, “Saya seorang zionis. Tidak harus menjadi orang Yahudi untuk menjadi seorang zionis.”


Catatan:
Saya ingin mengingatkan situasi sebelum meletusnya Perang Dunia II. Saat itu sentimen anti-Yahudi sangatlah kuat terjadi di Eropa menyusul terbongkarnya berbagai keculasan Yahudi. Kaum Yahudi pun berada di ujung tanduk, terutama setelah Hitler dan Mussolini serta para pemimpin negara Eropa Timur bersekutu untuk mengembalikan kejayaan ras kulit putih (Arian) yang hancur karena konspirasi Yahudi selama berabad-abad, sekaligus menghancurkan kekuatan Yahudi ke akar-akarnya.

Maka kaum Yahudi menjalankan skenario yang telah tercantum jelas dalam Protocol Zion: "Jika ada negara yang memusuhi Yahudi, maka Yahudi akan menyerangnya melalui negara tetangganya. Namun jika negara-negara bersekutu memusuhi Yahudi, maka Yahudi akan mengobarkan perang dunia".

Dan terjadilah skenario itu. Menggunakan tangan Polandia (tetangga Jerman), Yahudi memprovokasi Jerman dalam kasus wilayah Sudetan. Sudetan adalah wilayah Jerman yang oleh sekutu pemenang Perang Dunia I, diserahkan kepada Polandia sebagai bom waktu. Jerman yang merasa dirugikan karena wilayahnya terbelah, meminta Sudetan diserahkan kembali kepada Jerman dengan imbalan tertentu, atau setidaknya Jerman diberi keleluasaan untuk memasuki wilayah Sudetan. Awalnya Polandia bersedia negosiasi, namun kemudian menolak permintaan Jerman setelah “dikompori” Perancis dan Inggris. Jerman menyerang Polandia. Inggris dan Perancis menyatakan perang kepada Jerman. Pecahlah Perang Dunia II.

Perang Dunia menjadi momentum sangat berharga bagi Yahudi. Ia berhasil membalikkan keadaan kaum Yahudi dari kaum yang terancam penghancuran, menjadi kaum yang paling berkuasa. Melalui antek-anteknya para politisi kulit putih dan didukung sumber dana yang tak terbatas, mereka mendirikan tata dunia baru dengan organisasi-organisasi dunia yang dengan kuat namun secara diam-diam, melindungi eksistensi mereka. Mereka menentukan opini publik. Menyebarkan ketakutan terhadap sentimen anti-Yahudi. Menjadikan Amerika sebagai pelindung yang kuat bagi mereka. Pendek kata setelah Perang Dunia II mereka menguasai semua strata politik, sosial, ekonomi, dan militer dunia.

Kini sentimen anti-Yahudi kembali menguat kembali karena teknologi informasi yang canggih (terutama internet) yang telah membongkar kejahatan-kejahatan Yahudi. Kondisi ini sangat mengancam eksistensi mereka. Maka mereka memerlukan sesuatu untuk mengembalikan posisi mereka. Suatu peristiwa besar yang setara, atau bahkan lebih besar, dari Perang Dunia II.

Jadi, sehubungan dengan ramalan Joe Biden, berhati-hatilah menghadapi kondisi ke depan!

No comments: