Friday, 29 November 2013

PERJANJIAN NUKLIR IRAN, JALAN DAMAI ATAU PERANG?

Baru 2 hari perjanjian nuklir Iran ditandatangani oleh pihak-pihak yang terlibat dalam perundingan di Genewa, namun "perselisihan" antara Amerika dan Iran sudah terjadi kembali.

Pada hari Selasa (26/11) Iran mengecam intepretasi perjanjian yang dirilis Amerika melalui situs resmi Gedung Putih dengan menyebutnya sebagai pernyataan pers yang "invalid".

“Apa yang telah dirilis oleh situs resmi Gedung Putih sebagai "lembar-lembar nyata" merupakan intepretasi sepihak dari teks sebenarnya yang ditandatangani di Geneva dan sebagian dari penjelasan dan kalimatnya bertentangan dengan teks "Joint Plan of Action", dan disayangkan lembaran-lembaran itu telah diterjemahkan dan dirilis oleh beberapa media massa sebagai Perjanjian Genewa, yang sebenarnya tidak benar,” kata jubir kemenlu Iran Marziyeh Afkham di Teheran, Selasa (26/11).

"Perselisihan" kecil itu sontak membuat "kesadaran" saya kembali tergugah, bahwa sebuah "konspirasi" kemungkinan telah dijalankan dalam perundingan nuklir Iran tersebut. Pikiran saya pun kembali ke sekitar bulan September dan Oktober, ketika Amerika secara tiba-tiba membatalkan rencana serangan militer terhadap Syria yang telah dipublikasikan besar-besaran. Sebulan kemudian Presiden Barack Obama menelpon Presiden Iran Hassan Rouhani dalam satu momen yang dianggap sebagai "momen paling penting tahun ini". Dilanjutkan kemudian dengan ke-aktifan Amerika dalam perundingan nuklir Iran di Genewa yang ditandatangani Minggu lalu (24/11).

Semua itu pun secara efektif berhasil mengubah Amerika, dari sosok yang gila perang, menjadi pecinta perdamaian nomor satu di dunia.

Kemudian muncul sebuah artikel di blog Land Destroyer yang dimuat ulang di situs thetruthseeker.co.uk tgl 27 November 2013, atau sehari setelah pernyataan pers kemenlu Iran tersebut di atas. Artikel itu berjudul "Nuclear Deal With Iran Prelude to War, Not “Breakthrough”" yang ditulis oleh kolumnis Tony Cartalucci. Dalam tulisan itu dicantumkan satu teks dari laporan tahun 2009 lembaga kajian yang dekat dengan kalangan neokonservatif Amerika, Brookings Institution, berjudul “Which Path to Persia?”:

“…any military operation against Iran will likely be very unpopular around the world and require the proper international context—both to ensure the logistical support the operation would require and to minimize the blowback from it. The best way to minimize international opprobrium and maximize support (however, grudging or covert) is to strike only when there is a widespread conviction that the Iranians were given but then rejected a superb offer—one so good that only a regime determined to acquire nuclear weapons and acquire them for the wrong reasons would turn it down. Under those circumstances, the United States (or Israel) could portray its operations as taken in sorrow, not anger, and at least some in the international community would conclude that the Iranians “brought it on themselves” by refusing a very good deal.”

Secara ringkas teks tersebut menyebutkan bahwa "untuk memerangi Iran diperlukan satu kondisi yang dipercayai oleh publik dunia bahwa Amerika telah memberikan kepercayaan yang tulus kepada Iran mengenai program nuklirnya, namun dikhianati oleh Iran yang ternyata berambisi untuk memiliki senjata nuklir".

Ditulis tahun 2009, ketika US bersama Saudi Arabia dan Israel tengah aktif mempersiapkan serangan terhadap sekutu utama Iran, Syria, dengan menggunakan unsur-unsur teroris Al Qaeda. Serangan itu merupakan serangan pendahuluan untuk melemahkan Iran sebelum serangan langsung terhadap Iran akhirnya tidak bisa dielakkan.

Isu tentang senjata nuklir Iran sebenarnya tidak berdasar sama sekali. Program nuklir Iran sepenuhnya dalam pengawasan IAEA untuk keperluan damai. Sama seperti program nuklir damai di negara-negara lain. Bahkan beberapa negara lain yang secara diam-diam memiliki senjata nuklir tanpa persetujuan PBB, aman tidak tersentuh: Jepang, Brazil, Afrika Selatan, Korea Utara, Pakistan, India dan Israel. Namun isu senjata nuklir Iran diperlukan Amerika karena Iran, yang salah satu landasan idiologinya adalah pembebasan Palestina dari pendudukan Israel, dianggap sebagai musuh nyata bagi dominasi Amerika-Israel.

Jadi buat apa, setelah bersusah payah selama bertahun-tahun menciptakan ketegangan isu senjata nuklir Iran, Amerika tiba-tiba saja mau repot-repot berdamai dengan Iran?



REF:
"Nuclear Deal With Iran Prelude to War, Not “Breakthrough”"; Tony Cartalucci; Land Destroyer; 26 November 2013

"Iran Strongly Rejects Text of Geneva Agreement Released by White House"; Fars News Agency; 26 November 2013

2 comments:

edi TarwoTo said...

masih ingatkah anda dialog ini beberapa bulan lalu:
"Saya tidak tahan Netanyahu, dia pembohong," kata Sarkozy
Obama, (mungkin) menyadari bahwa mikrofon di ruang pertemuan mereka telah diaktifkan, memungkinkan wartawan di lokasi terpisah untuk mendengarkan dengan terjemahan simultan.
namun oba tetap menimpali
"Kau muak dengan dia, tapi aku harus berurusan dengan dia bahkan lebih sering daripada Anda," jawab Obama, menurut juru Prancis.
tugas yang bisa kita lakukan adalah berdoa dan bekerja

cahyono adi said...

Ketiganya mungkin saja hanya menjalankan satu "skenario besar", namun tetap saja terdapat dinamika-dinamika tidak terduga yg menarik di antaranya. Itulah "seni berkuasa" bagi para "king makers": menciptakan beberapa pihak yg saling bermusuhan namun pada dasarnya semuanya memiliki tuan yang sama.