Tuesday, 5 November 2013

Piagam Anugerah, dan Iran

Aisyah Fadiya* - De Ngaden Awak Bisa


Mungkin hiruk pikuk SARA, pertikaian yang hampir tidak ada habisnya antar pemeluk agama (dalam hal ini Islam dan Kristen) membuat kita terlupa dengan apa yang dipesankan Rasulullah saww jauh sebelum kita lahir. Begitu pula dengan yang disampaikan dengan gamblang di dalam Al-Qur’an (Al-Maidah:82)

"Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya kami ini orang Nasrani”. Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri."

Mengingat kembali Piagam Anugerah

Nabi Muhammad saww pernah menulis surat kepada biarawan gereja Catherine Monastery. Surat beliau saww kepada biarawan gereja ini telah dibuktikan keasliannya oleh ilmuwan sejarah, dan kini disimpan di gereja St. Catherine’s Monastery, Bukit Sinai, Mesir. Surat berjudul “Piagam Anugerah” itu diberikan Nabi Muhammad kepada seorang delegasi Kristen yang mengunjungi Nabi pada tahun 628 di Madinah.

Berikut ini terjemahan dalam bahasa Inggris atas dokumen tersebut:

“This is a message from Muhammad ibn Abdullah, as a covenant to those who adopt Christianity, near and far, we are with them.
Verily I, the servants, the helpers, and my followers defend them, because Christians are my citizens; and by Allah! I hold out against anything that displeases them.
No compulsion is to be on them.
Neither are their judges to be removed from their jobs nor their monks from their monasteries.
No one is to destroy a house of their religion, to damage it, or to carry anything from it to the Muslims’ houses.
Should anyone take any of these, he would spoil God’s covenant and disobey His Prophet. Verily, they are my allies and have my secure charter against all that they hate.
No one is to force them to travel or to oblige them to fight.
The Muslims are to fight for them.
If a female Christian is married to a Muslim, it is not to take place without her approval. She is not to be prevented from visiting her church to pray.
Their churches are to be respected. They are neither to be prevented from repairing them nor the sacredness of their covenants. No one of the nation (Muslims) is to disobey the covenant till the Last Day (end of the world).”


Terjemahan dalam bahasa Indonesia :


Ini adalah pesan dari Muhammad ibn Abdullah, sebagai perjanjian bagi siapapun yang menganut Kekristenan, jauh dan dekat, bahwa kami mendukung mereka.

Sesungguhnya saya, para pelayan, para penolong, dan para pengikut saya membela mereka, karena orang-orang Kristen adalah penduduk saya; dan karena Allah! Saya bertahan melawan apapun yang tidak menyenangkan mereka.

Tidak ada paksaan yang dapat dikenakan pada mereka. Sekalipun oleh para hakim-hakim mereka, maka akan dikeluarkan dari pekerjaan mereka maupun dari para biarawan-biarawan mereka, maka akan dikeluarkan dari biara mereka.

Tidak ada yang boleh menghancurkan rumah ibadah mereka, atau merusaknya, atau membawa apapun daripadanya ke rumah-rumah umat Islam.

Jika ada yang mengambil hal-hal tersebut,maka ia akan merusak perjanjian Allah dan tidak menaati Rasul-Nya. Sesungguhnya, mereka adalah sekutu saya dan mendapatkan piagam keamanan melawan apapun yang mereka benci.

Tidak ada yang dapat memaksa mereka untuk bepergian atau mengharuskan mereka untuk berperang.

Umat Islam wajib bertempur untuk mereka.

Jika ada perempuan Kristen menikahi pria Muslim, hal ini tidak dapat dilakukan tanpa persetujuan perempuan itu. Dia tidak dapat dilarang untuk mengunjungi gerejanya untuk berdoa.

Gereja-gereja mereka harus dihormati. Mereka tidak boleh dilarang memperbaikinya dan menjaga perjanjian-perjanjian sakral mereka.

Tidak ada dari antara bangsa (Muslim) yang boleh tidak mematuhi perjanjian ini hingga Hari Akhir (akhir dunia).

Iran, contoh negara ideal yang patuh terhadap isi Piagam Anugerah
Kalau saya mengangkat sisi ideal Iran versi orang Iran, mungkin itu adalah hal yang lumrah dan tidak istimewa. Namun jika membaca sebuah pernyataan dari orang yang bukan dari Iran, sungguh saya sangat tergetar dan terharu.

Apa suara rakyat Suriah (Kristen) tentang Iran?

Perawan Maria di Republik Islam Iran
Di mana Anda dapat menemukan syariat (Islam) sejati dan Hukum Nasional
Dan keindahan Islam (?)

Ada lebih dari 700 gereja di Iran. Iran bukanlah Arab Saudi dimana agama Kristen dilarang (penyebarannya). Orang Kristen merasa aman di Iran, mereka hidup berdampingan dengan saudara-saudara Muslim mereka. Iran menghormati Alkitab suci seperti bagaimana mereka menghormati Al-Qur'an

Pernyataan dari seorang yang beragama Kristen di Suriah:

"Hidup Republik Islam Iran. Hidup Hizbullah. Saya akan berjuang untuk Iran seperti bagaimana saya akan berjuang untuk tanah air saya, Suriah. Terima kasih kepada Republik Islam Iran yang telah (membantu) melindungi orang Kristen di Suriah sementara (Kristen) barat mendukung pembunuhan orang-orang Kristen di Suriah."



*Blogger, pemerhati masalah-masalah sosial dan kulinter Indonesia.
Tulisan-tulisannya bisa dilihat di daftar referensi atau di sini http://aisyah-fadiya.blogspot.com/

2 comments:

dian adi said...

menarik sekali bung, betapa nabi saw begitu toleran terhadap umat nasrani.,
yang ingin saya tanyakan bung, bagaimana pendapat bung adi terhadap perang salib (crusade) yg katanya, sebelum perang juga dipicu oleh adanya aksi perusakan gereja?

cahyono adi said...

to Dian.
Trims for sharing.
Sepengetahuan saya perang salib sama sekali bukan karena masalah pengrusakan gereja. Perang ini menyangkut dimensi yg jauh lebih besar, yaitu kakhawatiran umat Kristen Eropa dgn kemajuan Islam. Perang ini dilancarkan oleh orang-orang Kristen Eropa terhadap kedudukan Islam di Palestina terutama Jerussalem. Kerajaan Bizantium sendiri yg Kristen dan berdekatan dengan Palestina, juga orang-orang Kristen yg beada di Palestina sama sekali tidak terlibat, karena mereka tidak merasa terancam oleh Islam yg terbuksi sangat toleran. Sebaliknya terjadi pertempuran antara pasukan Kristen Eropa dengan pasukan Bizantium sendiri.