Thursday, 14 October 2010

Sang Terpilih (2)



Keterangan gambar: lukisan tentang upacara inisiasi sebuah organisasi rahasia


Saat jam menunjukkan angka 12 malam dan para wanita telah lama meninggalkan ruangan, tiba-tiba muncullah dua orang wanita muda cantik berpakaian minim yang memegang kunci mobil. Wanita itu menyerahkan kunci mobil itu, yang ternyata adalah kunci mobil sport Ferrari seri terbaru, kepada Subagyo. Saat ia dilanda kebingungan, sang senator tuan rumah menghampirinya dan mengatakan kepadanya, mobil itu boleh dibawa kemanapun, beserta wanita cantik yang menyerahkan kuncinya. Dan saat ia dilanda kebingungan antara segera membawa pergi "buah segar yang ranum" itu atau menolaknya mengingat ia adalah seorang anak kiai yang dikenal cukup alim, putra sang senator sudah menyeretnya keluar menuju mobil Ferrari yang telah menanti di depan rumah. Tidak lama kemudian mereka berempat telah meluncur membelah kota New York.

Singkat cerita, pagi harinya Subagyo mendapati dirinya berada di sebuah kamar hotel mewah, di samping tubuh molek seorang wanita cantik.

Subagyo sangat menyesali apa yang telah menimpa dirinya semalam. Pikirannya kembali ke tanah air dimana Lastri, istrinya setia menunggu kepulangannya. Yah, mereka memang sepasang pengantin baru. Memang tidak secantik wanita yang tergolek di sampingnya itu, bahkan menurutnya bokong Lastri kelewat besar dengan hidung besar bertahi lalat di ujungnya. Namun Lastri, tipikal wanita negerinya, adalah wanita setia. Di samping itu ia anak seorang jendral terkenal di negerinya yang turut berjasa membuat Subagyo diterima di akademi militer. Hanya saja karena kelewat idealis, karier mertuanya berakhir tragis. Ia dipecat setelah berani menampar seorang pengusaha keturunan Cina yang secara kurang ajar datang ke istana negara bercelana kolor. Karena ternyata sang pengusaha cina itu ternyata besannya presiden Indungsia.

"Aku tidak ingin bernasib sama," gumam Subagyo setiap kali mengingat nasib calon mertuanya itu.

Tekad "tidak ingin hidup miskin" memang sangat kuat di dalam batin Subagyo. Itulah sebabnya ia tidak berlama-lama menyesali perzinahannya dengan "pelacur profesional New York pembawa kunci mobil". Bukankah kini terbuka peluang besar untuk menjadi pejabat penting di Indungsia setelah ia menyelesaikan pendidikannya? Ia hanya sedikit merasa khawatir kalau-kalau adegan percintaannya di kamar hotel itu ternyata direkam oleh orang-orang yang ingin memperalatnya sebagaimana biasa dilakukan dinas inteligen Amerika, juga dinas inteligen Israel, Mossad.

Kembali ke sosok George Soros, Jendral Subagyo sebenarnya membenci setengah mati pria yahudi askenazi ini. Ialah yang telah menghancurkan ekonomi Indonesia dan ekonomi negara-negara Asia Timur lainnya waktu terjadi krisis moneter tahun 1997. Jauh sebelumnya ia juga telah menghancurkan ekonomi negara-negara Eropa Timur. Dan dari puing-puing kehancuran itu, ia mengeruk keuntungan yang tiada tara.

Dalam kasus krisis moneter tahun 1997, Soros memborong dolar di pasar uang negara-negara Asia Timur hingga membuat dolar menjadi langka. Akibatnya nilai tukar dolar langsung melonjak karena di samping terjadi kelangkaan, permintaan dolar juga sedang tinggi karena negara-negara di kawasan tersebut membutuhkan mata uang itu untuk membayar hutang jangka menengah yang jatuh tempo. Semuanya terkait juga dengan apa yang dilakukan para penulis yahudi seperti Alvin Toffler, yang pada akhir dekade 1980-an dan awal 1990a-an memprovokasi negara-negara Asia Timur untuk melakukan pembangunan besar-besaran guna mengantisipasi munculnya "jaman keemasan Asia Timur" yang digembar-gemborkan Toffler dan teman-temannya. Sayangnya demi menggenjot pembangunan itu negara-negara Asia Timur harus mengandalkan hutang dari bankir-bankir Eropa dan terutama Amerika. Dan saat mereka membutuhkan dolar untuk membayar hutangnya, Soros sudah duluan memborongnya dan baru bersedia menjual kembali dengan kurs baru yang telah melonjak berkali-kali lipat. Bisa dibayangkan berapa besar keuntungan Soros dengan tindakannya itu.

Namun semua itu belum berakhir. Ketika perekonomian negara-negara Asia Timur, khususnya Indonesia, hancur tanpa terjadi peperangan atau bencana alam, George Soros datang kembali menawarkan "bantuan" yang sebenarnya adalah pemerasan. Dengan agak memaksa, Soros, dengan menggunakan bendera IMF tentunya, menawarkan pinjaman untuk mengatasi kesulitan keuangan negara-negara yang dilanda krisis dengan syarat Indonesia menjual murah BUMN-BUMN dan aset-aset strategis lainnya kepada para "investor" yang sebenarnya kaki tangan bankir yahudi.

Itulah permainannya. Sangat jelas dan gamblang. Dan sudah terjadi berkali-kali dalam sejarah manusia. Soros, para bankir serta Alfin Toffler, semuanya yahudi.

Namun bukan itu semua yang membuat Jendral Subagyo sangat membenci Soros. Melainkan sikap angkuhnya itulah yang membuat Subagyo sangat membencinya. Bayangkan saja, pernah tengah malam ia meneleponnya untuk menanyakan sesuatu yang tidak terlalu urgen. Keangkuhan lebih jelas lagi tercermin pada gaya bicara serta tingkah lakunya.

Bersambung .........

Cerita Tentang 2 "Wanita"


Dari: "A Tale of Two Women", John Kaminski, Incog Man, 11 Oktober 2010


Ini cerita ironis tentang dua wanita. Seorang berbicara jujur dan hidupnya hancur. Sementara satunya lagi pembohong, namun justru "diangkat" menjadi wanita terhormat. Yang pertama adalah Helen Thomas, wartawati senior di Gedung Putih, yang kedua Elena Kagan, hakim Mahkamah Agung Amerika.

Selama 67 tahun, Helen Thomas mampu menciptakan standar konsistensi dan kejujuran yang tinggi di antara para jurnalis yang berada di Gedung Putih. Sedemikian tinggi sehingga sehingga selama bertahun-tahun terakhir, ia selalu mendapat kesempatan pertama untuk mengajukan pertanyaan kepada Presiden dalam tiap acara jumpa pers. Bahkan ia mendapatkan jatah tempat duduk paling depan lengkap dengan papan namanya.

Namun dalam sekejab kariernya berantakan, hanya karena Helen mengatakan kebenaran. Seorang rabbi (pemuka agama yahudi) muda dengan camcorder di tangan, mencegatnya saat Helen berjalan menuju sebuah acara pertemuan di Washington. "Ada komentar tentang Israel?", tanya rabbi tersebut kepada Helen.

Dengan gaya bicaranya yang seadanya, Helen menjawab, "Katakan pada mereka untuk pergi dari Palestina."

Sang rabbi kaget mendengar jawaban lugas tersebut dan mengeluh, “Oooh!” Helen pun melanjutkan komentarnya. “Ingat, orang-orang (Palestina) itu dijajah (Israel).

“Jadi kemana selanjutnya orang-orang Israel harus pergi?", tanya sang rabbi.

"Polandia, Jerman, Amerika, atau tempat lainnya."

Rabbi David F. Nesenoff kemudian memposting video tersebut di dalam website rabbilive.com, ditambah pernyataan bahwa enam juga orang yahudi telah dibunuh di rumahnya serta mempertanyakan kredibilitas Helen Thomas.

Orang-orang yahudi di seluruh dunia pun berteriak-teriak marah atas pernyataan Helen. Akibatnya Helen pun terpaksa harus membuat pernyataan maaf dan harus kehilangan pekerjaannya.

Nasib yang berkebalikan terjadi pada Elena Kagan, bekas pengacara lesbian berdarah yahudi yang baru saja diangkat sebagai hakim agung meski terbukti telah melakukan kebohongan di hadapan Mahkamah Agung menyangkut isu aborsi. Kagan, bandit yahudi pembohong yang tidak mengerti nilai-nilai kemanusiaan karena hidupnya dipenuhi obsesi kebutuhan seks sesama jenis itu kini menjadi wanita terhormat. Sementara Helen yang telah mengatakan kebenaran justru tersingkir dari pekerjaannya.

Inilah ironi demokrasi barat. Demokrasi tidak lebih sebagai alat kepentingan orang-orang yahudi untuk meraih kekuasaan, dan setelah tujuannya tercapai, orang-orang yahudi itu mencampakkan demokrasi ke tong sampah untuk diganti menjadi fascisme atau komunisme.

Grassfire Nation, sebuah LSM telah menulis laporan dengan judul: “Bagaimana Kagan Memanipulasi Sains untuk Mempromosikan Aborsi". Isi laporan itu di antaranya menyebutkan sbb:

We now know that Elena Kagan corrupted a scientific finding that was presented before the Supreme Court. Her corruption caused the Supreme Court to rely on faulty science and extend the brutal practice of partial-birth abortion for many years. Kagan’s corruption of evidence exposes her as a far-left political activist whom former Surgeon General C. Everett Koop says is unfit for the Supreme Court.”

Di hadapan para anggota Komisi Hukum Senat Kagan menyanggah peranannya dalam kasus manipulasi data sains untuk mendukung undang-undang legalisasi aborsi yang dipersoalkan. Menurutnya ia tidak memiliki kewenangan untuk mengubah data sains. Namun meski para anggota senat maupun pers korup Amerika "menyembunyikan" kasus ini dari perhatian publik. Bukti nyata berupa memo yang ditandatangani Kagan menunjukkan perintahnya untuk melakukan manipulasi.

Sedikit menyinggung masa lalu Kagan saat menjadi Dekan di Harvard Law School antara tahun 2003-2009, ia adalah aktifis penting dari gerakan homoseksual yang dilakukan melalui lembaga yang dipimpinnya. Ia gencar mengkampanyekan teori "queer legal” (perkawinan sesama jenis) serta mendirikan “Lesbian Gay Bi Transgender Law Clinic" yang kegiatan utamanya memberikan pelatihan dan pendidikan mengenai polygamy, sadomasochism (seks dengan kekerasan) serta pedhopilia (seks dengan anak kecil).

Untuk menunjukkan betapa hancurnya moral dan ikatan sosial di Amerika, Kagan bukan satu-satunya pejabat publik yang memiliki "penyakit" penyimpangan orientasi seks. Masih ada hakim agung Sotomayor yang juga seorang lesbian, serta senator Barney Frank seorang gay dan pelaku pedhopilia dan lain sebagainya. Tidak hanya itu, Presiden Obama dan kastaf Gedung Putih Rahm Emmanuel (mantan penari balet yang pernah menjadi tentara Israel) diduga kuat adalah pasangan gay. Dan jika Obama dianggap sebagai orang yahudi karena darah yang mengalir dari ibunya, semua pejabat publik itu adalah orang yahudi.

Edward Gibbon dalam bukunya yang terkenal, "Rise and Fall of the Roman Empire" mengatakan, kerajaan Romawi runtuh karena adanya "konspirasi" dan "dekadensi moral" rakyat yang menghancurkan ikatan-ikatan sosial hingga ke tingkat paling rendah, yaitu perkawinan. Tampaknya hal serupa tengah terjadi di Amerika.

Kendala Baru Menghadang Dilma Rousseff



Keterangan gambar: catatan kriminal Dilma


Minggu yang lalu, di koran nasional terbesar, saya membaca sebuah tulisan tentang prospek kandidat presiden Brazil Dilma Rousseff memenangkan pemilihan presiden mendatang. Tipikal koran "pencuci otak" yang ditulis wartawan liberal idiot pengagum ilusi "kesetaraan gender". Meski hampir memakan setengah halaman, tulisan itu sama sekali mengabaikan masa lalu Dilma sebagai kader komunis, putri seorang imigran yahudi dari Bulgaria yang pernah terlibat dalam berbagai aksi kriminal dan terorisme. Ia pernah beberapa kali merampok bank, menyerang kantor polisi dan kantor gubernur, dan membunuh seorang warga Amerika.

Sebagaimana diramalkan, Dilma yang didukung Presiden Lula da Silva dari Partai Buruh, memenangkan pemilihan putaran pertama tgl 3 Oktober lalu. Dilma patut berterima kasih pada para wartawan liberal idiot serta rakyat kebanyakan yang terlena dengan ilusi "semuanya baik-baik saja" selama masih bisa nonton drama televisi, sepakbola dan ngerumpi lewat fb dan blackberry.

Namun Dilma dan Lula harus kecewa karena gagal memenangkan pemilihan satu putaran karena hanya memperoleh 46% suara dan harus mengikuti putaran kedua akhir bulan ini. Beberapa faktor menjadi penyebab gagalnya Dilma meraih ambisinya menjadi Presiden Brazil dalam satu putaran pemilu sebagaimana diprediksikan beberapa jajak pendapat. Penyebab pertama adalah terbongkarnya skandal korupsi yang melibatkan orang-orang dekatnya di kesekrariatan negara yang dipimpin Dilma. Namun penyebab lainnya adalah isu aborsi yang merupakan hal sensitif di negeri yang mayoritasnya berpenduduk katholik anti-aborsi. Meski berusaha berbohong kepada rakyatnya dengan membantah dirinya sebagai pendukung aborsi, sebuah video di Youtube! membongkar kebohongan tersebut.

Adalah pastor Paschoal Piragine Jr dari Curitiba's Baptist Church yang mempublikasikan video yang membuktikan Dilma sebagai seorang pendukung aborsi. Video tersebut menyebar luas bak wabah di Brazil. Salah satu dari beberapa versi video pastor Paschoal bahkan telah diunduh oleh lebih dari 3 juta orang. Semua versi video pastor Paschoal diperkirakan telah diunduh oleh lebih dari 5 juta orang. Pesan video tersebut sangat jelas dan tegas: Dilma akan mengubah kejahatan menjadi hukum di Brazil.

Mungkin video tersebut bukan penyebab mutlak kegagalan Dilma meraih kemenangan, namun tentu saja menjadi salah satu faktornya. Dan satu hal pasti: seorang pemberani bisa melakukan "perubahan".

Tuesday, 12 October 2010

Sang Terpilih



Keterangan gambar: Calon raja Inggris, Pangeran Harry, dalam sebuah upacara inisiasi suatu organisasi rahasia


Jendral Subagyo termenung memikirkan apa yang baru saja diterimanya dari pertemuan dengan "komisi" yang diadakan di sebuah hotel mewah di kawasan Manhattan, New York. Atas permintaan George Soros, ia sebagai calon presiden Indungsia yang telah dilantik menjadi anggota "organisasi" sejak menjadi peserta pendidikan di West Point, 30 tahun lalu, ia harus menjalani "fit and proper test" yang diadakan "komisi tertinggi organisasi". Dari George Soros pula ia tahu bahwa semua presiden Indungsia harus menjalani test seperti ini.

George Soros adalah salah seorang di antara anggota "komisi tertinggi". Meski George Soros tidak pernah mengatakannya, Jendral Subagyo tahu, ada ia dan para anggota "komisi" lainnya sebenarnya bekerja untuk orang-orang yang kedudukannya lebih tinggi di "organisasi". Desas-desus menyebutkan, orang-orang di belakang layar itu adalah para bankir yahudi dari Eropa dan Amerika yang dipimpin oleh salah seorang anggota keluarga Rothschild. Kekayaan mereka bahkan menjadikan Bill Gates dan Warren Buffet bagaikan pengemis di hadapan mereka. Bukankah Gill Gates dahulu pernah mengemis-ngemis pekerjaan kepada IBM, salah satu cicit perusahaan anggota komisi? Namun tentunya demi menjaga kerahasiaan mereka, Bill Gates dan Warren Buffet-lah yang diorbitkan media massa sebagai orang-orang terkaya di dunia. Dan untungnya Bill Gates dan Warren "Tukang Tipu" Buffet menikmati gelar yang diberikan kepada mereka sebagai orang-orang paling kaya di dunia. Sebagaimana juga Mukesh Ambani. Bahkan saking bangganya namanya disebut sebagai salah seorang terkaya di dunia oleh Forbes, Mukesh, turunan prajurit Alengka dalam mitologi Hindu itu, langsung "unjuk gigi" dengan membangun rumah pribadi setinggi gedung 60 tingkat dengan harga mencapai 1 miliar dolar di Bombay. Padahal lebih dari separoh penduduk di negerinya tinggal di gubuk-gubuk reyot dan kolong jembatan.

Testnya sendiri tidak terlalu sulit, hanya menjawab apakah bersedia melakukan "ini" dan "itu" setelah dilantik menjadi presiden kelak. Itu saja. Namun "ini" dan "itu" di sini adalah menyangkut nasib 250 juta rakyat Indungsia. "Ini" dan "itu" di sini berarti bisa membawa rakyat Indonesia bertambah makmur. Namun sayangnya dari analisis singkat sang Jendral, semua itu hanya membawa kesengsaraana rakyat. Contoh paling gamblang adalah permintaan "organisasi" untuk menghapuskan sama sekali subsisi BBM di Indungsia. Maksudnya adalah agar harga BBM menyamai harga internsional sehingga perusahaan-perusahaan minyak asing bisa menambah keuntungan bisnis minyaknya di Indonesia. Padahal selama ini sama sekali tidak ada subsidi BBM yang dikeluarkan pemerintah untuk rakyat. Perusahaan minyak di Indungsia mengambil minyak gratis dari perut bumi, menyulingnya dengan biaya 10 dolar per-barrel, dan menjualnya dengan harga 50 dolar per-barrel. Dengan total produksi mencapai 1 juta barrel per-hari, perusahaan minyak itu untung 40 juta dolar per-hari, atau 14.6 miliar dolar setahun, alias 145 triliun rupiah setahun. Pemerintah sendiri hanya mendapatkan pajaknya sebesar 10% dari keuntungan itu.

Tapi bahkan keuntungan sebesar itu dirasa masih kurang. Maka dengan alasan pengurangi subsisi, harga minyak akan dinaikkan lagi. Padahal subsidi di sini hanya sebuah ilusi belaka. Seolah-oleh karena harga minyak internasional mencapai 70 dolar per-barrel, pemerintah menanggung subsidi 20 dolar per-barrel, yaitu selisih harga minyak internasional dengan harga minyak dalam negeri. Padahal kenyataannya pemerintah dan perusahaan minyak tetap menikmati keuntungan besar, tidak peduli berapa tinggi harga minyak internasional. Dan anehnya, rakyat tenang-tenang saja menghadapi "kegilaan" ini. Tentu saja ini semua berkat "mantra" media massa yang dihembuskan para politisi, birokrat, dan para pengamat ekonomi. Ia tahu, para politisi, birokrat dan pengamat, termasuk para "wartawan senior" itu adalah para "yunior"-nya di "organisasi".

Mengingat "organisasi", pikirannya kembali ke masa 30 tahun lalu saat menjadi peserta pendidikan di akademi militer paling terkenal di dunia, West Point. Ia yang memiliki IQ tinggi meski sering gamang dalam mengambil keputusan, adalah taruna lulusan terbaik akademi militer di Indungsia. Dan karena adanya hubungan militer antara Indungsia dan Amerika, ia dan 9 taruna terbaik lainnya, sebagaimana 10 taruna terbaik lainnya setiap tahun, berhak mengikuti pendidikan di West Point.

Pada suatu hari, Subagyo yang saat itu masih Letnan, menghadiri sebuah pesta yang diadakan keluarga teman kuliahnya dari Amerika yang merupakan anak dari seorang senator terkenal. Saat pertama datang di Amerika, ia sudah mengalami "culture shock" yang luar biasa. Maklum ia hanya anak desa dari Capitan, meski orang tuanya cukup terpandang sebagai seorang kiai. Namun dalam pesta itu ia mengalami "culture shock" yang jauh lebih hebat.

Bersambung ...........

Monday, 11 October 2010

PEMBERONTAKAN NIKA


Dari segelintir kerajaan besar di dunia dalam sejarah yang bebas dari infiltrasi orang-orang yahudi dan karenanya mampu bertahan hingga 1.000 tahun lebih, adalah kerajaan Byzantium. Demi menghindarkan negara dari infiltrasi destruktif orang-orang yahudi, kerajaan Byzantium melakukan pembatasan ketat terhadap orang-orang yahudi dengan melarang mereka aktif di bidang ekonomi, militer dan politik serta pendidikan. Demikian ungkap sastrawan besar sekaligus sejarahwan dan politisi, Ezra Pound, dalam sebuah essainya. (Bagi yang belum mengenal Ezra Pound, beliau adalah pelopor aliran modernisme dalam dunia seni dan sastra. Melalui tangannya lah lahir beberapa sastrawan besar peraih Nobel seperti TS Elliot, WB Yeats, Ernest Hemingway, dll. Muridnya yang lain, Eustace Mullins, terkenal sebagai pembongkar konspirasi jahat di balik pembentukan bank sentral Amerika).

Namun ada satu periode dimana orang-orang culas haus kekuasaan (tipikal orang-orang yahudi) yang tidak pernah peduli dengan kepentingan orang lain, nyaris menghancurkan Byzantium dalam satu peristiwa yang disebut Pemberontakan Nica di abad 6 Masehi.

Peristiwanya diawali dengan kondisi yang sama saat kerajaan Romawi mengalami krisis kekuasaan yang berujung pada keruntuhannya. Kepemimpinan negara (kaisar) yang lemah, birokrasi yang korup, dan sekelompok orang asing (yahudi) yang menguasai sumber-sumber ekonomi dan menggunakan kekuasaan itu untuk menghisap kekayaan rakyat sebagaimana lintah sehingga muncullah kesenjangan sosial-ekonomi yang tinggi. Pada saat yang sama, orang-orang yahudi tersebut menebarkan kerusakan moral yang menghancurkan ikatan-ikatan sosial hingga tingkat terendah, yaitu keluarga.

Orang-orang kaya, bangsawan, pejabat negara dan pengusaha, terjerembab dalam kehidupan hedonisme yang bahkan masih belum terpuaskan dengan pesta-pesta mewah dan pesta seks massal. Sementara rakyat kebanyakan, sebagian demi menjaga mereka tetap jinak, sengaja dihibur dengan pertunjukan gladiator yang dari waktu ke waktu semakin liar dan keji. Padahal oleh pendiri Byzantium, kaisar Konstantin, pertunjukan warisan Romawi tersebut telah dihapuskan.

Tidaklah berlebihan jika karena peran yang menonjol orang-orang yahudi sebagai perusak tatanan sosial itu membuat mereka sebelum itu telah diusir dari Chartago (Libya sekarang) dan Alexandria (Mesir sekarang). Orang-orang Romawi dan Yunani juga masih ingat betul dengan apa yang telah dilakukan orang-orang yahudi dalam peristiwa Pemberontakan Maccabee pada abad pertama sebelum masehi. Setelah berhasil merebut beberapa kota di kawasan Laut Tengah dan Palestina, orang-orang yahudi membantai secara keji orang-orang Romawi dan Yunani di luar batas kemanusiaan kala itu. Bagi orang-orang Yunani dan Romawi yang mati digantung di tengah lapangan atau di pinggir-pinggir jalan, mereka masih lebih beruntung dibanding saudara-saudaranya yang disalib dan disula (ditusuk duburnya dengan tombak hingga ke tenggorokan) hidup-hidup, atau dimutilasi badannya untuk kemudian direbus, ususnya digunakan untuk ikat pinggang dan kulitnya untuk pembalut badan.

(Peristiwa pemberontakan Maccabee ini kemudian diperingati umat yahudi sebagai Hari Raya Chanukkah, dimana pada hari itu mereka mendirikan menorah (tempat lilin yang menjadi simbol Israel) di mana-mana dan menyalakannya bersama-sama. Beberapa waktu lalu beberapa pengurus daerah Muhamaddiyah mengadakan kunjungan ke Israel dan mendapatkan kehormatan menghadiri Hari Raya Chanukkah dan turut menyalakan menorah).

Pemberontakan Nika (disebut demikian karena para pemberontak terus menerus memekikkan teriakan "Nika!", pekikan kemenangan yang biasanya diteriakkan penonton saat menonton pertunjukan gladiator), selain faktor-faktor tersebut di atas, juga terjadi karena beberapa faktor fundamental lainnya: perpecahan politik yang tajam antara golongan hijau dan biru (merujuk pada warna pintu gerbang di hyppodrome yang menjadi markas dua tim pertujukan gladiator). Faktor lainnya adalah perbedaan keyakinan (keimanan) kaisar Justinianus dan permaisuri Theodora yang condong ke Kristen monotheis dengan masyarakat kebanyakan yang mayoritas condong ke trinitas. Selain itu masih ada satu faktor lainnya yang tidak kalah penting, yaitu kebencian rakyat terhadap permaisuri yang berasal dari kasta paling rendah dan hina, yaitu golongan pelacur.

Peristiwanya diawali pada saat diadakan pesta pertunjukan gladiator yang diadakan selama 12 hari berturut-turut. Pada hari kedelapan, golongan hijau yang selama kepemimpinan Justinianus menjadi golongan oposisi karena Justinianus sendiri adalah pendukung golongan biru, mengadukan nasib mereka yang ditindas oleh golongan biru. Namun karena komunikasi yang “luput” antara jurubicara golongan biru dengan jurubicara kaisar, kebencian golongan hijau terhadap kaisar dan regim penguasanya bertambah besar. Tidak hanya itu, karena menyinggung keimanan masyarakat mayoritas, golongan biru pun menjadi marah kepada kaisar. Pada hari itu juga rakyat memberontak.

Kaisar Justinianus adalah mantan jendral perang yang pemberani, meski untuk disebut sebagai raja besar sebagaiman tertulis di buku-buku sejarah, terasa sangat berlebihan. Ia beruntung karena pada masa pemerintahannya dibantu oleh Jendral Bellisarius yang berhasil mengalahkan Kerajaan Parsi dan memperluas wilayah Byzantium. Ia juga dibantu oleh Tribonianus, ahli hukum yang berhasil merancang sistem hukum yang konprehensif dan efisien yang kemudian diberinama Codex Justinianus, seuai nama sang Kaisar. Sedangkan kemegahan Kathedral Sancta Sophia (kini menjadi masjid Aya Sophia) yang menjadikan nama Justinianus harum, dibuat oleh arsitek kerajaan, Anthemius.

Kala harus menghadapi rakyatnya sendiri yang memberontak, Justinianus merasa gamang dan tidak bisa mengambil keputusan yang tepat hingga kemudian kepemimpinan diambil alih oleh permaisuri Theodora.

Theodora, salah satu wanita paling cerdas dalam sejarah manusia. Merangkak dari posisi sosial paling rendah dan hina sebagai anak pelacur kelas rendahan, hingga mampu memikat hati seorang kaisar dan diangkat menjadi permaisuri. Tidak hanya itu, karena kecerdasannya, Justinianus bahkan rela membagi kekuasaan dengan Theodora hingga ia tidak hanya menjadi seorang permaisuri, tapi juga seorang Maharani.

Demikian juga saat terjadi pemberontakan Nika, Justinianus yang gamang, mengambil keputusan untuk melakukan eksodus. Namun Theodora melihat hal itu sebagai tindakan bunuh diri. Sekali ia dan suaminya melarikan diri dari istana, mereka akan hidup sebagai pelarian dengan peluang untuk kembali menjadi penguasa sangatlah kecil karena rakyat sudah mengangkat kaisar baru.

Maka, tanpa sepengetahuan Justinianus, Theodora memerintahkan dua jendral kepercayaannya, Bellisarius dan Mundus, melakukan aksi militer paling nekad dan spektakuler, yaitu menyerang pemberontak yang kekuatannya jauh lebih besar meski memiliki kedisiplinan rendah. Dengan hanya 1.500 pasukan, Bellisarius dan Mundus menyerang 90.000-an pemberontak yang terkonsentrasi di hyppodrome mengadakan upacara pengangkatan seorang kaisar baru.

Setelah bertempur selama hampir satu jam, pasukan yang dikirim Theodora memang berhasil membunuh ribuan pemberontak, sebagian besar dengan panah beranak mata khusus. Tapi karena jumlahnya yang tidak seimbang, pada akhirnya pasukan Maharani tidak lagi memiliki kekuatan untuk bertahan dan menunggu saat terakhir mereka semua dibantai rakyat pemberontak yang marah. Namun pada saat itu terjadi keberuntungan yang ajaib. Ternyata Theodora yang jeli melihat kondisi, telah cukup lama melakukan gerakan inteligen untuk memecah belah golongan hijau dan biru. Dan pada saat pasukan kerajaan nyaris habis, para agitator yang dibayar Theodora melakukan tugasnya menanamkan kecurigaan masing-masing golongan terhadap golongan lawannya. Akhirnya, pada saat mereka nyaris berhasil menjalankan aksi pemberontakannya, mereka saling bunuh-bunuhan sendiri. Pada hari itu, 90-ribuan pemberontak tumpas di dalam hyppodrome.

Setelah peristiwa itu, Justinianus semakin menjauh dari urusan pemerintahan untuk diambil alih oleh Theodora, meski secara resmi Justinianus masih menjabat sebagai kaisar. Justinianus meninggal pada tahun 585 masehi dalam kondisi lanjut usia, sedang Theodora meninggal terlebih dahulu pada tahun 548 dalam usia 45 tahun. Saat meninggal Justinianus dan Theodora adalah pemeluk Kristen Monotheis.

Sunday, 10 October 2010

Gertakan Yahudi untuk Obama


Tidakkah Anda heran dengan "fenomena" mundurnya para penasihat yahudi Presiden Barack Obama? Mereka adalah penasihat masalah lingkungan hidup Van Jones, penasihat ekonomi Laurence Summers dan Christina Romer, direktur anggaran Gedung Putih Peter Orzsag, penasihat keamanan Jendral Jones, penasihat politik David Axelrod, serta orang paling dekat Obama setelah istrinya yang diangkat sebagai kepala staff gedung putih, Rahm Emmanuel.

Mengingat "orang dalam Gedung Putih" adalah asset paling berharga orang-orang yahudi dalam mengendalikan negara Amerika, mundurnya orang-orang itu tentunya menimbulkan pertanyaan besar. Apalagi jika disertakan pula fakta mengejutkan lainnya, tidak hadirnya delegasi Israel saat Barack Obama berpidato di depan Sidang Umum PBB bulan lalu. Ada apa dengan ini semua?

Para analis politik cerdas dengan cepat akan menyimpulkan, orang-orang yahudi tengah memberikan pesan peringatan kepada Obama: kami, orang-orang yahudi telah meninggalkan Anda, dan Anda tanggung sendiri akibatnya nanti! Tidak lama setelah peringatan itu Obama sudah merasakan dampak pahitnya: sebuah acara seremonial di Gedung Putih menjadi kacau balau karena sistem komputer yang digunakan untuk mengecek identitas para tamu undangan tidak bekerja dengan benar. Boleh taruhan, sistem komputer itu dibuat di Israel sebagaimana sistem keamanan bandara-bandara dan pelabuhan-pelabuhan di Amerika.

Namun tentunya konsekwensi pahit tidak akan sesederhana itu. Boleh jadi ia akan seperti Bill Clinton yang menjadi bulan-bulanan media massa dan aparat penegak hukum karena skandal seksnya dengan Monica Lewinsky (seorang wanita yahudi, sangat boleh jadi agen Mossad) dibongkar. Atau seperti Presiden Nixon yang dipaksa mundur setelah rekaman teleponnya disadap dan dibocorkan ke media massa. Namun paling serius adalah seperti Presiden Kennedy atau beberapa presiden Amerika lainnya yang ditembak mati dan diracun.

Baik Bill Clinton, Nixon maupun Kennedy mendapatkan perlakuan tersebut di atas karena telah "melewati batas" kepentingan Israel. Bill Clinton terus mendesak Israel untuk menaati Perjanjian Oslo yang mewajibkan Israel mengembalikan wilayah-wilayah pendudukan, menghentikan pembangunan pemukiman yahudi serta mengakomodasi pembentukan negara Palestina. Nixon adalah seorang presiden yang dianggap sangat anti-semit. Sedangkan Kennedy, selain memaksa Israel menghentikan program nuklirnya juga telah mengeluarkan perintah kepada departemen keuangan untuk mencetak uang kertas sendiri berdasarkan cadangan emas dan perak pemerintah, terlepas dari uang kertas buatan bank sentral milik para bankir bandit yahudi.

Lalu apa kesalahan Barack Obama? Tak lain karena ia terus mendesak Israel untuk menghentikan pembangunan pemukiman yahudi di wilayah pendudukan (hal yang sangat rasional. Bagaimana mungkin seorang penengah bisa dipercaya jika membiarkan satu pihak yang bersengketa terus menerus melakukan pelanggaran terhadap pihak lainnya). Sebab lainnya adalah keengganannya melakukan tindakan lebih keras (militer) atas program nuklir Iran. Hal ini sekali bukan tanpa dasar. Beberapa aksi demonstrasi di Israel diwarnai dengan aksi pengutukan terhadap Obama dan menyebutnya sebagai "Fir'aun Baru". Seorang pejabat tinggi Israel bahkan menyebut Obama sebagai: "keturunan budak yang tidak tahu diri dan harus disadarkan dengan lecutan cambuk".

Mungkin Anda mengira semua berita itu berlebihan. Tidak sama sekali. Saat wapres Joe Biden berkunjung ke Israel beberapa waktu lalu, seorang menteri "meludahi mukanya" dengan membuat pernyataan provokatif bahwa Israel akan meneruskan pembangunan pemukiman yahudi di wilayah pendudukan. Ketika Biden mengunjungi museum holocoust, tiba-tiba lampu dimatikan. Dan terakhir yang paling kasar adalah tindakan provokatif Perdana Menteri Nethanyahu dengan merusak cindera mata yang sedianya akan diberikan kepada Biden.

Bangsa yahudi telah belajar bahwa menempatkan orang-orangnya di pusat-pusat kekuasaan adalah satu langkah strategis untuk meraih kekuasaan. Mereka telah belajar dari Nabi Yusuf di jaman Fir'aun Mesir, atau Esther di jaman Cyrus Agung di Persia. Meninggalkan posisi-posisi strategis sebagaimana Rahm Emmanuel dkk di Gedung Putih, tidak mungkin dilakukan kecuali mereka telah tahu bahwa "sesuatu yang besar" akan segera terjadi.

Tuesday, 5 October 2010

Al Qaida dan Tragedi WTC, Konspirasi Paling Kotor



Keterangan gambar: Pemimpin Al Qaida dengan latar belakang simbol Israel.


Sampai lima tahun yang lalu, saya masih seorang "liberal idiot", yang percaya dengan cerita tentang teroris Al Qaida yang menghancurkan menara kembar WTC di New York tahun 2001, yang masih suka ikut demo sambil membawa bunga, suka melakukan "malam renungan" dengan lilin menyala di tangan, serta menyukai acara "Oprah Wimfrey Show" dan "Penganugerahan Oscar" (bila dilanjutkan mungkin saja saya juga menjadi pendukung Barack Obama serta pengagum Sri Mulyani). Saat itu saya, sarjana dari kampus paling elit di Indonesia, sudah melewati periode hidup sebagai wartawan senior di dua media massa berbeda dan telah menghadapi kehidupan rumah tangga dengan satu orang anak. Saat terjadinya Tragedi WTC, saya baru selesai membaca buku "By Way of Deception" karya Victor Ostrovsky, buku terbaik tentang Mossad dan tipu dayanya. Pun demikian, saya masih percaya semua omongan George W Bush tentang Al Qaida dan peranannya dalam Tragedi WTC.

Saya baru mulai terdorong untuk berfikir lebih kritis tentang Tragedi WTC, setelah seorang teman yang adalah seorang wartawan senior, dalam sebuah percakapan di Masjid Agung, Medan, nyeletuk tentang tragedi WTC: "Bohong semua itu. Itu hanya alasan untuk menguasai sumber minyak di Kaukasus."

Bagaikan sumbatan di dalam pipa yang dilepaskan sehingga mendorong seluruh air di dalam pipa mengalir, demikian pula celetukan teman itu mendorong pikiran saya untuk berfikir secara simultan. Pikiran pertama saya adalah: mengapa sistem pertahanan udara yang sangat canggih sama sekali tidak bereaksi atas serangan udara yang dilancarkan teroris? Saya ingat betul bagaimana Uni Sovyet tahun 1960-an, dengan sistem pertahanan udaranya yang masih jauh lebih sederhana dibandingkan Amerika tahun 2000-an, mampu menembak jatuh pesawat mata-mata U2 Amerika yang terbang jauh lebih tinggi dan lebih cepat dibandingkan pesawat-pesawat jet komersial.

Kemudian saya berfikir, bukankan Osama bin Laden adalah agen CIA yang sangat boleh jadi masih tetap menjadi agen rahasia CIA, dan dalam tragedi WTC menjalankan peran sebagai tersangka pelaku demi menjustifikasi kebohongan tragedi WTC dan kebijakan "War on Terror" Amerika?

Lalu pikiran saya mengalir terus dan satu per satu menemukan berbagai alasan untuk mempercayai bahwa tragedi WTC adalah pekerjaan dinas intelegen Amerika sendiri, salah satunya adalah fakta bahwa menara kembar WTC jatuh seperti gedung yang roboh karena "pemboman terukur" yang menjadi teknik standar untuk meruntuhkan gedung pencakar langit tanpa merusak gedung-gedung di sekitarnya. Jika pun ada sebuah gedung pencakar langit yang roboh karena kebakaran, dan faktanya tidak pernah terjadi hal demikian, mestinya robohnya gedung itu ke samping karena tidak mungkin besi-besi penopang gedung mencapai titik muai secara bersamaan.

Selanjutnya, seiring berjalannya waktu, semakin banyak bukti-bukti yang saya dapat tentang kebohongan tragedi WTC dan "industri terorisme" yang digelar Amerika dan diikuti negara-negara bonekanya seperti Indonesia. Misalnya saja rekaman CCTV yang menunjukkan sebuah rudal penjelajah (dilihat dari ukurannya) yang menghujam gedung Pentagon. Bukti lainnya adalah ditemukannya meterial super thermite di dalam reruntuhan gedung WTC. Material inilah yang menjadi penyebab reruntuhan gedung WTC terus terbakar hingga berbulan-bulan dan membuat besi-besi pilar memuai hingga mencair. Hal terakhir ini tidak mungkin bisa disebabkan oleh bahan bakar pesawat yang cepat terbakar habis, bahkan mungkin dalam hitungan detik setelah terjadi ledakan saat pesawat menabrak gedung.

Namun bukti paling gamblang adalah rekaman runtuhnya gedung WTC 7, gedung 47 tingkat (di Jakarta termasuk gedung tertinggi), meski tidak pernah terkena hantaman pesawat atau bahkan sekedar hantaman reruntuhan gedung kembar WTC. Runtuhnya gedung ini sama sekali tidak disebutkan dalam laporan resmi penyidikan pemerintah Amerika menyusul tragedi tersebut, pun tidak pernah disebutkan di media-media massa. Berani bertaruh, sebagianb besar Anda pun tidak pernah mendengar hal ini.

Dan setelah itu pun semua, bukti-demi bukti mengalir tanpa henti yang semuanya semakin menguatkan keyakinan saya bahwa tragedi WTC adalah sebuah "inside job" atau "false flag". Mulai dengan berita tentang tertangkapnya lima agen Mossad yang tengah merekam peristiwa tragedi WTC (Dancing Israelis), pemilik hak leasing gedung WTC berdarah yahudi yang mendapatkan asuransi miliaran dolar, operator bandara-bandara Amerika yang ternyata perusahaan swasta milik warga Israel, Menhan Donald Rumsfeld yang membuat pernyataan sehari sebelum tragedi bahwa triliunan dolar anggaran pertahanan Amerika tidak bisa dipertanggungjawabkan penggunaannya, keberadaan Benjamin Netanyahu dan Ehud Barak di Jew York pada saat terjadinya tragedi WTC, juru bicara Al Qaida yang ternyata adalah seorang yahudi putra seorang tokoh zionis Amerika, hingga baru-baru ini beredar video tentang orang nomor dua Al Qaida, Ayman al-Zawahiri, yang berpidato dengan latar belakang gambar simbol "bintang Daud" Israel. Memang benar kata pepatah lama bahwa kebohongan membongkar kebohongannya sendiri.

Kini marilah kita "nikmati" drama lawakan tidak lucu yang bernama "Serangan WTC". Menurut keterangan pemerintah Amerika, serangan ini dilakukan oleh sekelompok teroris Arab. Dengan bersenjatakan pisau "cutter" dengan mulus mereka menguasai empat pesawat jet komersial yang tengah mengudara. Kemudian dengan "modal" kursus singkat belajar pilot pesawat kecil, para terosis melakukan manuver yang tidak bisa dilakukan para pilot jet komersial paling profesional sekalipun. Secara ajaib mereka bahkan berhasil menghindar dari sistem pertahanan udara Amerika yang paling canggih di dunia. Kemudian secara simultan mereka menghantam menara kembar WTC dan Gedung Pentagon. Satu pesawat lagi jatuh di Pensylvania, dikabarkan karena adanya perlawanan "yang sangat terlambat" dari puluhan penumpang terhadap beberapa terosis bersenjata pisau cutter yang secara ajaib lolos dari proses screening di bandara.

Kemudian hanya sekitar satu jam setelah menerima hantaman pesawat, dua menara kembar WTC runtuh dengan cara yang ajaib, disusul sekitar enam jam kemudian Gedung WTC 7 yang juga runtuh meski tanpa pernah mendapatkan serangan.

Lebih ajaib lagi, semua operasi teroris yang bahkan tidak pernah terbayangkan penulis cerita film "Mission Impossible" itu, demikian menurut keterangan resmi pemerintah Amerika, dirancang dan digerakkan dari dalam sebuah gua di Afghanistan. Dan seakan masih kurang ajaib, Osama bin Laden yang dikabarkan sebagai sang sutradara di dalam gua, selama bertahun-tahun berhasil mengelakkan diri dari pengejaran aparat keamanan Amerika dan sekutu-sekutunya. Tidak hanya itu, ia masih bisa dengan leluasa mengeluarkan pernyataan-pernyataan pers.

Coba tebak, apa pernyataan pers terakhir Osama bin Laden? Ia berkampanye tentang "Global Warming", bisnis baru para penguasa dunia di balik layar. Dengan isu ini negara-negara di dunia diharuskan melakukan kebijakan "pencegahan pemanasan global" dengan menggunakan dana pinjaman lembaga-lembaga keuangan internasional yang harus dikembalikan oleh rakyat seluruh dunia melalui pajak yang mereka bayarkan. Meski isu ini secara sains masih mengandung kontroversi, secara efektif berhasil mengeruk kekayaan seluruh masyarakat di dunia demi keuntungan bankir-bankir internasional yahudi. Sementara Al Gore, orang yang dijadikan aktor untuk memainkan bisnis ini, cukup mendapatkan beberapa juta dolar yang baru-baru ini digunakannya untuk membeli sebuah mansion mewah.

Mungkin setelah Osama menjadi jubir kampanye "Global Warming", Al Gore tidak lagi dibutuhkan, dan suatu saat mengalami kecelakaan misterius yang merenggut nyawanya. Di jaman kemudahan informasi seperti sekarang ini, hal itu bukan lagi sebuah "teori konspirasi".

Sunday, 3 October 2010

Mobil Listrik Iran dan Jepang



Keterangan gambar: mobil hybrid produksi Iran


Saya selalu mengagumi negara-negara yang senantiasa melakukan terobosan untuk mensejahterakan rakyatnya karena bosan melihat para pemimpin negeri sendiri lebih banyak berfikir untuk kesenangan diri sendiri daripada kesejahteraan rakyatnya. (Halo Pak SBY, bagaimana dengan kabar ttg anggaran pakaian presiden yang mencapai Rp 70 juta per-bulan dan furniture mencapai 2,5 miliar setahun? Kalau memang tidak benar, mengapa tidak menuntut balik LSM yang menjadi wistle blower berita ini, sebagaimana Anda menuntut orang yang telah menfitnah Anda sebagai pelaku poligami?).

Saya mengagumi Jepang yang mempelopori pengoperasian kereta api super cepat pertama di dunia pada tahun 1964, karena meski dengan kecepatan biasa sekalipun, kereta api adalah moda transportasi massal yang paling efisien sampai saat ini, di samping juga ramah lingkungan. Saya mengagumi Cina yang telah mengoperasikan kereta api tercepat di dunia (kecepatan operasional mencapai 350 km per-jam dan rata-rata mencapai 310 km/jam, bukan kecepatan eksperimental yang dicatat oleh kereta api TGV Perancis) dan membangun jalur kereta api hingga ke Lhasa di puncak Himalaya, hingga mendorong perekonomian Cina semakin maju di samping harga diri bangsa Cina yang semakin tinggi karena memiliki teknologi sipil dan perkereta-apian paling maju di dunia. Saya juga mendengar China tengah merencanakan mengoperasikan bus raksasa yang bisa mengangkut ratusan orang sekali angkut yang prinsip kerjanya meniru container crane.

Sementara para pemimpin Indonesia hanya pintar berwacana: jembatan Selat Sunda, jalan tol Trans Sumatera, Kalimantan, Irian, dan Sulawesi, dlsb. Kalau pun ada terobosan seperti bus Trans Jakarta misalnya, dilakukan dengan setengah hati sehingga Jakarta masih saja macet dan penuh polusi. Beberapa antek kepentingan bisnis mobil dan minyak bahkan sempat mencoba menghambat pembangunan Trans Jakarta, dengan isu penghijauan kawasan Pondok Indah, atau isu kemacetan yang justru ditimpakan kepada Trans Jakarta. Pemda Jakarta bahkan rela merugi puluhan miliar dengan menunda pengoperasian dua jalur Trans Jakarta meski infrastuktur dan busnya telah tersedia. Proyek monorail yang telah memasuki tahap pembangunan konstruksi pun dihentikan di tengah jalan dengan kerugian yang ditanggung tidak sedikit nilainya.

Kini SBY bahkan mewacanakan pemindahan ibukota yang berani bertaruh hingga masa jabatannya berakhir, tidak akan pernah jelas di mana nantinya ibukota baru yang dimaksud SBY. Atau kalau pun kemudian telah mulai dibangun, dibiarkan mangkrak sebagaimana monorail.

Sekitar tiga tahun lalu saya pernah berdebat dengan seorang bloger terkenal di blognya yang pernah menjadi blog paling banyak dikunjungi di Indonesia. Sang bloger ternyata "pro-status quo", bagitu saya menyebutnya, atau para bloger barat menyebutnya "stupid liberal", "ignorant", "braindead", "brainwashed" dll. Sebenarnya saya lebih senang menyebutnya "useful idiots" sebagaimana sebutan Stalin kepada orang-orang kulit putih na'if pendukung komunisme. Mereka adalah orang-orang yang mencurigai orang-orang yang kritis dan terbuka pikirannya sebagai "paranoid" atau "conspiracy theorist". Singkat kata kami berdebat soal efisiensi mobil listrik, di mana saya berpendapat mobil listrik lebih efisien dan performanya tidak kalah dibanding mobil bahan bakar fosil, sementara sang blogger berpendapat sebaliknya.

Saat itu sebenarnya saya masih belum mendapatkan informasi tentang mobil listrik buatan Jepang yang mampu berlari hingga 350 km/jam. Saya juga belum mendapatkan informasi tentang Tesla Roadster, mobil listrik yang mampu berlari hingga kecepatan 250 km/jam sepanjang 350 km non-stop. Mobil ini bahkan tidak kalah performancenya dibanding mobil-mobil sport mewah seperti Porche, Ferrari atau Lamborghini, karena Tesla Roadster mampu mencapai kecepatan 100 km/jam hanya dalam waktu 3,7 detik. Tentu saja Tesla Roadster lebih nyaman karena tidak mengeluarkan bunyi ledakan di dalam mesinnya sebagaimana mobil berbahan bakar fosil. Dan satu lagi, Tesla Roadster jauh lebih ramah lingkungan karena tidak mengeluarkan asap.

Baru-baru ini saya membaca berita tentang pengoperasian mobil taxi berbahan bakar listrik di Jepang serta produksi mobil hybrid oleh Iran. Dalam hal ini saya merasakan sebuah kontradiksi dengan keadaan di tanah air. Jepang adalah negara produsen mobil berbahan bakar fosil terbesar di dunia, sementara Iran adalah salah satu produsen bahan bakar fosil terbesar di dunia. Secara logika, mereka tidak terlalu membutuhkan mobil irit bahan bakar karena bertentangan dengan kepentingan ekonomi mereka. Jika mobil mobil listrik atau mobil hybrid menggantikan mobil berbahan bakar fosil, maka Jepang akan mengalami kerugian. Demikian juga Iran yang minyaknya menjadi kurang laku. (Oh ya, Iran diam-diam ternyata memiliki perusahaan pembuat mobil sendiri yang dalam satu tahun mampu memproduksi 700.000 mobil. Ini tentunya menjadi sumbangsih besar kesejahteraan rakyat Iran, karena industri ini menyerap tenaga kerja yang tidak sedikit serta tentunya keuntungan berupa devisa dari mobil yang diekspor, atau minimal menghemat devisa karena tidak perlu mengimpor). Tapi para pemimpin kedua negara berfikir sehat: mobil bahan bakar fosil adalah "barang kotor" yang harus segera dibuang karena polutan dan boros.

Lalu saya membandingkannya dengan keadaan di Indonesia. Saya melihat dari hari ke hari kota-kota besar di Indonesia semakin penuh sesak dengan kendaraan motor yang mengakibatkan kemacetan dan polusi udara. Secara ekonomi kondisi ini juga sangat merugikan karena banyaknya bahan bakar yang terbuang percuma. Mohon ma'af kalau saya berfikir, pemerintah memang tidak pernah bermaksud mengurangi jumlah kendaraan bermotor untuk digantikan dengan sarana transportasi publik yang nyaman, aman dan murah, karena berarti berkurang fee dan komisi yang mereka terima dari para pebinis mobil dan BBM.

LEBANON YANG KEMBALI MEMANAS


Bagi saya, kondisi politik Lebanon sangat menarik untuk diamati. Konstalasi politik negeri ini sangat dinamis dengan intensitas yang sangat tinggi. Lebih menarik lagi bagi saya karena perpolitikan Lebanon terpecah dalam dua kubu yang sangat ekstrem perbedaannya, satu kubu protagonis pembela integritas nasional dan kubu lainnya pembela kepentingan Amerika-Israel.

Kubu protagonis adalah partai-partai politik yang tergabung dalam kelompok oposisi yang terdiri dari Hizbollah (Shiah), Amal (Shiah), Free Patriotic Movement (Kristen), Marada (Kristen), Partai Sosialis Syria (sosialis sekuler) dan beberapa partai kecil lainnya. Sementara kubu lawannya adalah partai-partai koalisi yang memegang kursi pemerintahan yang ditulangpunggungi oleh partai Future Movement (Sunni), Phalangist (Kristen), Lebanon Force (Kristen) dan beberapa partai lainnya yang lebih kecil.

Sampai setahun yang lalu kubu pemerintah masih diperkuat dengan partainya kelompok Druze (sekte agama yang mencampurkan kayakinan Islam dengan Kristen) yang cukup besar di bawah kepemimpinan Walid Jumblatt yang dikenal oportunis sejati. Namun dalam setengah tahun terakhir, Jumblatt menunjukkan kecenderungan berpaling ke kubu oposisi. Namun koalisi pemerintah masih tetap kuat karena didukung oleh dua pimpinan agama terbesar di Lebanon, yaitu Patriach Kristen Orthodox dan Mufti Sunni.

Politik Lebanon tidak hanya diwarnai dengan perbedaan faham politik seperti nasionalis-sosialis, tapi lebih penting lagi adalah perbedaan faham agama, yaitu Kristen Orthodok, Islam Sunni, Islam Syiah dan Druze. Namun di antara kelompok-kelompok agama itu sendiri terpecah dalam partai-partai yang berseberangan. Misalnya saja antara partai-partai Kristen seperti Free Patriotic Movement dan Marada yang berpihak pada kubu oposisi, sementara Lebanon Force dan Maronit berpihak pada regim penguasa. Sementara itu kelompok Druze sendiri tidak bisa dipegang arah politiknya. Suatu masa berpihak pada kubu pemerintah, dan di waktu lainnya menyeberang ke kubu oposisi.

Intensitas politik yang sangat tinggi tersebut dikarenakan Lebanon adalah "buffer zone" antara negara-negara Arab dengan negara agressor Israel. Israel yang bernafsu meluaskan wilayah teritorialnya, setidaknya politiknya, di Lebanon, dengan dukungan Amerika dan regim-regim oportunis Arab seperti Arab Saudi, Yordania, dan Mesir, selalu mendapatkan perlawanan gigih dari sebagian rakyat Lebanon. Sebagian rakyat lainnya rela menjual integritasnya untuk kepentingan asing hanya demi untuk berkuasa.

Seolah tak pernah berhenti ketegangan politik yang tinggi di Lebanon akhir-akhir ini kembali menguat menjelang diumumkannya putusan pengadilan internasional untuk kasus pembunuhan mantan Perdana Menteri Rafiq Hariri (Special Tribunal for Lebanon, STL), yang tewas dalam serangan bom pada tahun 2005. Meski belum diputuskan, namun beredar desas-desus yang sangat kuat bahwa pengadilan tersebut akan membuat keputusan yang mendeskreditkan Hizbullah dalam kasus pembunuhan tersebut dengan menetapkan sekelompok anggota Hizbollah sebagai pelaku pembunuhan.

Hal tersebut tentunya sangat dikhawatirkan akan membuat konflik politik di Lebanon memanas kembali setelah sempat reda sejak tahun 2008. Pada tahun itu terjadi bentrokan bersenjata antara milisi kubu pemerintah melawan oposisi yang dipimpin Hizbullah dimana milisi oposisi berhasil mengalahkan milisi pemerintah (angkatan bersenjata berada di pihak netral) dan membuat perdana menteri saat itu, Fuad Siniora, membatalkan keputusan yang memicu bentrokan bersenjata, yaitu upaya merampas jaringan telekomunikasi milik Hizbollah yang telah berjasa mengantarkan Hizbollah memukul mundur pasukan Israel dalam Perang Lebanon tahun 2006.

Sebagaimana keputusan Fuad Siniora untuk merampas jaringan komunikasi Hizbollah di tahun 2008, penetapan Hizbollah sebagai pelaku pembunuhan Rafiq Hariri sangat kental berbau politis akibat pengaruh Amerika dan Israel. Dan sebagaimana tahun 2008, Lebanon kembali menghadapi ancaman perang saudara karena Hizbollah, sebuah organisasi sosial-politik-militer terkuat di Lebanon, serta sekutu-sekutunya tentu tidak akan tinggal diam.

Namun sepertinya Perdana Menteri saat ini, Sa'ad Hariri, tidak akan berbeda sikap dengan pendahulunya, Siniora, dalam berurusan dengan Hizbollah dan Israel. Artinya ia akan memusuhi Hizbollah dan secara tidak langsung, mengikuti agenda Israel yang dijalankan Amerika. Saad Hariri juga adalah putra almarhum Rafiq Hariri dan sebagaimana Fuad Siniora dan perdana menteri-perdana menteri sebelumnya berasal dari kalangan Sunni (konstitusi Lebanon menetapkan perdana menteri berasal dari golongan Sunni, presiden dari golongan Kristen, dan ketua parlemen dari golongan Syiah, sementara panglima angkatan bersenjata secara konvensi berasal dari golongan Kristen).

Memang keputusan belum diambil oleh STL, namun desas-desus kuat sudah menunjukkan bahwa Hizbolal-lah yang akan disalahkan kasus dalam kematian Rafiq Hariri meski Hizbollah sendiri telah menyerahkan bukti-bukti kuat yang menunjukkan Israel sebagai dalang dalam peristiwa itu berdasarkan rekaman gambar kegiatan pesawat mata-mata Israel yang berada di sekitar lokasi pembunuhan Rafiq Hariri beberapa sebelumnya serta beberapa saat sebelum sebuah bom meledakkan mobil yang ditumpangi Rafiq. Indikasi keterlibatan Israel semakin kuat setelah terbongkarnya jaringan mata-mata Israel di Lebanon yang melibatkan seorang jendral Lebanon. Lagipula pihak yang paling diuntungkan dengan kematian Rafiq adalah Israel, yaitu dengan hengkangnya pasukan Syria dari Lebanon.

Adapun indikasi kuat yang menunjukkan bakal dituduhnya Hizbollah sebagai pelaku pembunuhan Hariri, di antaranya adalah:
1. Artikel di harian Jerman Der Spiegel berdasarkan informasi rahasia pejabat STL yang menyebutkan Hizbollah bakal ditetapkan sebagai pelaku pembunuhan.
2. Pernyataan Dubes Perancis untuk Lebanon bahwa "dunia belum kiamat, meski mungkin nanti Hizbollah dinyatakan bersalah dalam kematian Rafiq Hariri."
3. Mundurnya 10 pejabat STL secara berturut-turut, diduga kuat karena tidak tahan dengan tekanan politik yang mereka terima.
4. Pernyataan Kepala Staff Angkatan Bersenjata Israel, Jendral Gabi Ashkenazi bahwa STL bakal menetapkan Hizbollah sebagai pelaku pembunuhan Hariri.
5. Pernyataan Sekjen Hizbollah, Sheikh Hassan Nasrallah, bahwa dirinya telah mendapatkan informasi langsung dari Perdana Menteri Sa'ad Hariri bahwa STL akan menetapkan beberapa anggota Hizbollah sebagai pelaku pembunuhan Rafiq Hariri. Pernyataan Nasrallah tersebut dibantah oleh beberapa anggota partai Sa'ad Hariri, namun Sa'ad sendiri tidak mengeluarkan bantahan apapun yang mengindikasikan pernyataan tersebut benar adanya.

Kini, menjelang pengumuman STL yang masih belum pasti kapan dilakukan, situasi politik kembali mendidih. Beberapa politisi kubu pemerintah telah membuat pernyataan yang menyudutkan Hizbollah. Di antaranya anggota parlemen Mohamad Kabbara yang menyatakan bahwa "Hizbollah telah mengincar beberapa pemimpin Sunni Lebanon". Sebelumnya anggota parlemen Ammar Houri juga membuat pernyataan yang sama.

Hizbollah sendiri telah mengingatkan lawan-lawan politiknya untuk tidak memanaskan situasi dengan pernyataan-pernyataan yang tendensius. Dalam pernyataan politiknya menanggapi pernyataan-pernyataan provokatif dari kubu pemerintah itu Hizbollah hanya menyatakan bahwa Hizbollah "tidak akan membiarkan perpecahan menginfiltrasi Lebanon". Kecaman lebih keras justru dinyatakan para politisi kubu oposisi, di antaranya Jendral Michael Aoun dari Free Patriotic Movement yang mengatakan regim yang berkuasa dipenuhi dengan kebohongan dan keculasan, "para pembohong yang melanggar hukum."

Menurut Aoun Amerika dan Israel ingin menghancurkan Hizbollah agar terlaksananya agenda Israel untuk menaturalisasi pengungsi Palestina di Lebanon. "Mereka ingin membunuh gerakan perlawanan terhadap Israel (kubu oposisi) yang telah menjadi batu sandungan agenda Israel. Hal pertama yang diinginkan Israel adalah menaturalisasi pengungsi Palestina (menjadikan pengungsi Palestina sebagai warganegara Lebanon agar Israel terlepas dari kewajiban moral terhadap para pengungsi Palestina yang telah diusir dari wilayah pendudukan). Namun selama ada gerakan perlawanan, tidak akan pernah ada naturalisasi," kata Aoun dalam sebuah pidato di wilayah Jezzine, beberapa hari lalu.

"Kita telah dituduh melakukan konspirasi melawan negeri kita sendiri, tidak lain karena kita memegang teguh semua perkataan kita," tambah Aoun.

Sementara itu Walid Jumblatt, pendukung kubu pemerintah yang kini berbalik arah, mengatakan dirinya memilih untuk tidak mengakui keberadaan STL, institusi bentukan PBB namun dibiayai oleh Lebanon dengan para pejabat tingginya didominasi dari barat.

Sedangkan Presiden Michel Sleiman, yang selama menjabat sebagai panglima angkatan bersenjata hingga menjadi presiden berhasil menjaga netralitas, dalam pidatonya di depan Sidang Umum PBB minggu lalu mengatakan, rakyat Lebanon berhak melakukan apapun untuk merebut kembali wilayahnya yang masih diduduki Israel. Hal ini merujuk pada persenjataan Hizbollah yang sering dijadikan sasaran tembak oleh Amerika dan sekutu-sekutunya. Padahal justru dengan senjata itulah Hizbollah berhasil merebut kembali wilayah Lebanon Selatan dari pendudukan Israel. Dengan senjata itu pulalah Hizbollah berhasil memukul mundur invasi Israel ke Lebanon tahun 2006.

Mengenai STL, secara tidak langsung Sleiman mengingatkan bahwa Lebanon tidak akan menerima apapun yang bertentangan dengan aspirasi rakyat Lebanon. "Lebanon will not accept any solution in the Middle East if it contradicts its supreme national interests," kata Sleiman dalam pidatonya.

Hizbollah sendiri tampak tidak terlalu terganggu dengan desas-desus yang menyudutkannya perihal keputusan STL tentang pembunuhan Sa'ad Hariri. Mengenai hal itu Hizbollah dalam pernyataan resminya mengatakan akan menunggu pembicaraan diplomatik segitiga Lebanon-Syria-Saudi yang dalam pernyataan awalnya berjanji akan mengusahakan agar STL terhindar dari politisasi.

We are waiting for the outcome of Arab, and particularly Saudi, efforts in light of the Lebanese-Syrian-Saudi commitment to seek ways to keep the STL away from politicization and unfair accusations,” kata Deputi Sekjen Hizbollah, Sheikh Naim Qassem kepada koran Kuwait Al-Rai, Kamis (30/9).

Hizbollah akan menganggap STL telah dipolitisasi jika tidak mempertimbangkan fakta-fakta yang menunjukkan keterlibatan Israel dalam pembunuhan Hariri, serta jika saksi-saksi yang telah memberikan keterangan palsu tidak dipenjara. Menanggapi kemungkinan terburuk yang bakal dihadapi Hizbollah, Naim Qassem mengeluarkan ancamannya, bahwa tuduhan STL terhadap Hizbollah akan ditanggapi sama dengan invasi Israel ke Lebanon.

Perlu difahami bahwa selama bertahun-tahun STL telah bekerja berdasarkan keterangan saksi-saksi palsu yang telah menuduh Syria sebagai dalang pembunuhan Hariri. Dengan berbagai tuduhan tersebut, yang disertai aksi-aksi politik kubu pemerintah, pasukan Syria yang berdasarkan mandat Liga Arab ditempatkan di Lebanon untuk menjaga keamanan, terpaksa harus meninggalkan Lebanon dan membiarkan Lebanon tanpa pelindung dari serbuan Israel. Benar saja, setahun setelah penarikan pasukan Syria, pada tahun 2006 Israel menyerbu Lebanon, menyangka tidak akan mendapatkan perlawanan berarti. (Saya masih ingat tulisan Victor Ostrovsky di bukunya By Way of Deception, yaitu tentang olok-olok tentara Israel terhadap Lebanon, bahwa untuk mengalahkan Lebanon Israel cukup mengerahkan pasukan korps musiknya).

Kini setelah pasukan Syria hengkang dari Lebanon, terbukti bahwa saksi-saksi yang dihadirkan dalam sidang-sidang STL adalah saksi palsu. Kesaksian palsu itu tidak hanya membuat Syria dipermalukan dan terusir dari Lebanon dengan cara yang tidak menusiawi, empat perwira tinggi militer Lebanon juga harus menjalani kehidupan pahit di dalam penjara selama bertahun-tahun dengan tuduhan bersekongkol dengan Syria.

Ketika Israel menyerbu Lebanon paska hengkangnya pasukan Syria, mereka ternyata membuat kekeliruan besar. Hizbollah mampu mengejutkan Israel dan memukul mundur Israel hingga kembali ke perbatasan semula. Puluhan tank Israel hancur dan ratusan prajuritnya tewas dalam pertempuran yang memalukan pasukan Israel yang mengklaim sebagai "pasukan paling hebat dan paling bermoral di dunia" tersebut. Jika dalam perang tahun 1982 Israel berhasil menduduki separoh lebih wilayah Lebanon serta mengepung ibukota Beirut hanya dalam waktu satu minggu, dalam perang tahun 2006 pasukan Isreal tidak pernah bisa masuk lebih dari 5 km dari perbatasan. Padahal pada tahun 1982 Israel tidak hanya menghadapi pasukan PLO yang lebih kuat dari Hizbollah secara kuantitas, namun juga kekuatan perlawanan Lebanon lainnya. Pada tahun 2006, Hizbollah, sekolompok milisi yang terdiri dari beberapa ribu personil dengan persenjataan ringan namun memiliki integritas dan kedisiplinan tinggi, sendirian, mengalahkan Israel.

Dengan menyalahkan Hizbollah dalam kasus kematian Hariri, Israel dan Amerika tentu berharap tuntutan untuk melucuti persenjataan Hizbollah terkabul sehingga Israel akan lebih leluasa lagi untuk melanjutkan ambisinya menguasai Lebanon.


Pelajaran Tahun 1982


Pada tahun 1983, Israel nyaris mendapatkan pijakan yang sempurna di Lebanon paska aksi militernya atas negara itu tahun 1982. Setelah berhasil mengusir pasukan perlawanan PLO dari Lebanon, pada tahun 1983 pemerintahan boneka Israel di Lebanon bawah kepemimpinan Presiden Amin Gemayel, menyetujui perjanjian damai dengan Israel dengan membiarkan sebagian wilayah Lebanon diduduki Israel.

Kelompok-kelompok perlawanan dan kaum nasionalis Lebanon tentu saja menentang perjanjian tersebut. Mereka pun membunuh Gemayel dan memaksa penggantinya membatalkan perjanjian tersebut. Sementara pasukan Amerika dan Perancis yang ditempatkan di Lebanon dengan payung PBB demi mengamankan kepentingan Israel di Lebanon, dihancurkan oleh bom mobil sehingga harus meninggalkan Lebanon dengan memalukan.

Namun meski upaya-upaya Isreal menguasai Lebanon, secara militer maupun politik, mengalami kegagalan, Israel tidak pernah mengendurkan ambisinya. Dan kini Israel memiliki kesempatan itu dengan menggunakan tangan STL.

"Jika tuduhan terhadap Hizbollah benar-benar dilakukan, ini akan menjadi awal dari invasi Israel-Amerika sebagaimana invasi tahun 1982. Setiap invasi akan mendapatkan perlawanan yang setimpal. Tujuan invasi Israel tahun 1982 adalah perjanjian damai yang merugikan Lebanon, demikian juga invasi tahun 2006 dan invasi mendatang. Saat Lebanon mendapatkan invasi, maka kami berkewajiban mempertahankan negeri ini," kata anggota parlemen dari Hizbollah, Nawaf Moussawi dalam wawancara televisi, Rabu (29/9).

Tuesday, 28 September 2010

INFILTRASI DI SEMUA LINI


Sekitar dua tiga tahun yang lalu saya mendapatkan kesempatan untuk turut serta dalam gerakan dakwah pengembangan ekonomi syariah di Indonesia. Di antara yang telah saya lakukan adalah menjadi organiser acara “Syariah Fair” di Kota Medan tahun 2007 yang cukup sukses. Meski agak heran pada fakta bahwa gerakan ini justru banyak didominasi oleh para pelaku ekonomi ribawi, dengan ikhlas saya menjalani aktifitas ini. Termasuk waktu saya berusaha mendorong teman-teman Masyarakat Ekonomi Syariah Batam untuk mengikuti jejak teman-temannya di Medan mengadakan kegiatan yang serupa dengan “Syariah Fair”, meski untuk itu saya harus mengalami kerugian finansial yang cukup besar.

Saya baru berfikir untuk menghentikan aktifitas ini dan menggantinya dengan “dakwah” lainnya yang lebih “realitistis”, yaitu menulis opini di media massa dan membuat blog ini, setelah saya berkesempatan berdiskusi secara langsung dengan seorang “tokoh nasional” ekonomi syariah Indonesia yang tidak akan saya sebutkan namanya. Pertemuan ini terjadi di sela-sela acara diskusi ekonomi syariah yang diselenggarakan di Hotel Grand Antares, Medan, tahun 2008.

Berbanding 180 derajat dengan keyakinan saya bahwa pemerintah memegang peran sentral dalam menggerakkan perekonomian, sang tokoh nasional ekonomi syariah ini justru berpendapat sama dengan pendapat para penggagas ekonomi kapitalis neoliberal yang mengharamkan peran pemerintah dalam perekonomian. Sang tokoh bahkan berani menyebutkan dasar hukumnya, yaitu sebuah hadits shahih yang anehnya ia sendiri tidak hafal. Setelah menyaksikan bahwa gerakan ekonomi syariah Indonesia dikuasi oleh gank Bank Indonesia teman-teman-nya Aulia Pohan dan Miranda Goeltom yang akhlak dan moralnya jauh dari Islami, pendapat tokoh nasional ini, yang saya tahu juga alumnus “pesantren” perbankan ribawi, membuat saya memutuskan untuk “out”.

Saya ingin memberikan ilustrasi yang masuk akal tentang pentingnya peran pemerintah dalam pere-konomian. Dalam sebuah negara yang perekonomiannya terbelakang, kewajiban pertama pemerintah adalah “menggerakkan” perekonomian dengan menggali potensi ekonomi yang belum diberdayakan dan membangun infrastruktur agar potensi-potensi ekonomi yang ada bisa diolah. Dalam kasus di Indonesia misalnya, dengan membangun infrastuktur di daerah-daerah yang kaya potensi alamnya untuk diolah, seperti Kalimantan dan Irian. Dengan adanya infrastruktur masyarakat secara otomatis akan menggerakkan perekonomian dengan mengolah sumber daya alam yang selama ini terpendam karena isolasi. Bahkan meski pemerintah kemudian berdiam diri, masyarakat sendiri yang akan “bergerak” mengolah sumber daya ekonomi yang ada, apalagi jika pemerintah juga aktif “bergerak”, misalnya membangun unit-unit usaha yang melibatkan masyarakat seperti perkebunan dengan pola PIR, atau minimal mendorong sektor perbankan untuk mencurahkan kreditnya bagi usaha masyarakat. Di sinilah dimulai peran pemerintah selanjutnya, yaitu melakukan “penataan” atau regulasi. Dimulai dengan menata sektor perbankan yang pro-usaha kecil masyarakat, pemerintah selanjutnya berkewajiban menata sistem distribusi agar produksi barang dan jasa yang dihasilkan masyarakat (pengusaha kecil dan besar) bisa didistribusikan secara merata sehingga tidak timbul gejolak harga, atau adanya kekurangan barang dan jasa pada waktu-waktu tertentu.

Di sini peran yang lebih besar pemerintah sangat diperlukan. Selain memelihara infrastuktur yang layak sehingga barang dan jasa bisa didistribusikan dengan lancar, pemerintah juga harus bisa menjadi stock buffer, yang mampu menyerap dan mendistribukan barang dan jasa dengan lancar dan merata. Ini bisa dilakukan dengan membangun pusat-pusat pergudangan di beberapa daerah, bahkan jika perlu membangun jaringan toko terutama di daerah-daerah terpencil yang masyarakatnya masih sangat terbelakang demi menjamin semua masyarakat bisa mendapatkan barang dan jasa dengan harga yang terjangkau.

Selama ini kita menyaksikan adanya disparitas harga barang dan jasa yang tinggi antar daerah. Sebagai contoh di daerah pegunungan Jayawijaya Papua, masyarakat beberapa kabupaten di daerah ini harus mengeluarkan uang hingga Rp 1,5 juta hanya untuk membeli satu sak semen. Luar biasa ketidak adilan yang terjadi karena pemerintah telah membiarkan daerah ini terpencil. Selain itu kita juga menyaksikan fenomena kenaikan harga barang-barang yang tidak wajar karena adanya praktik spekulasi (penimbunan barang) oleh para distributor. Dengan adanya peran pemerintah sebagai stock buffer, praktik-praktik penimbunan yang menyengsarakan masyarakat ini dijamin tidak akan terjadi.

Saya ingin sedikit membuka mata masyarakat mengenai hal ini. Indonesia adalah negara penghasil minyak sawit terbesar di dunia. Para petani sawit menerima pembayaran sawit mereka dengan harga yang relatif murah. Tapi sebaliknya mereka kemudian harus membayar minyak goreng yang diproduksi dari sawit yang mereka tanam dengan harga sangat tinggi. Dan meskipun produksi sawit para petani tidak pernah anjlok, minyak goreng di pasaran seringkali menghilang dari peredaran. Hal serupa juga terjadi di produk-produk lainnya. Semua ini terjadi tidak lain karena adanya praktik spekulasi yang dibiarkan pemerintah bagitu saja sehingga masyarakat menderita sementara para spekulan, distributor yang biasanya berafiliasi dengan produsen besar, mendapatkan keuntungan berlipat-lipat.

Dengan majunya masyarakat, peran pemerintah mungkin saja dikurangi secara gradual. Toko-toko di daerah terpencil boleh saja diprivatisasi kepada masyarakat daerah tersebut. Tapi memprivatisasi unit-unit usaha atau jaringan distribusi yang strategis (berskala besar dan keberadaannya sangat vital) perlu melalui kajian mendalam dan pengawasan ketat yang bisa menjamin semua itu tidak jatuh ke tangan orang-orang serakah yang mendapatkan keuntungan dari penderitaan masyarakat.

Saya baru saja searching di internet dan melihat sebuah gambar yang mengagetkan saya. Paus Paulus II mengenakan simbol salib terbalik (inverted cross) dan salib bengkok (bent cross) dalam upacara-upacara keagamaan. Padahal kedua simbol tersebut adalah simbol anti-kristus (penyembah setan) yang selama ratusan tahun diperangi oleh para pengikut kristen. Dengan simbol-simbol itu terbukalah fakta bahwa gereja tertinggi kristen pun telah jatuh ke tangan para penyembah setan.

Bila saat ini Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) dipimpin oleh orang-orang Bank Indonesia, saya tidak heran jika suatu saat nanti organisasi ini dipimpin oleh Aulia Pohan, Miranda Goeltom, atau bahkan Boediono sang dalang skandal Bank Century. Ini karena orang-orang yahudi penyembah setan pun telah menginfiltrasi gerakan ekonomi syariah Indonesia.

Oh ya, mengenai Miranda Goeltom kita melihat satu hal yang menyayat rasa keadilan. Bagaimana mungkin KPK mendakwa dan bahkan menahan orang-orang dengan tuduhan menerima suap darinya, sementara mereka membiarkan Miranda tetap “tak tersentuh”. Setelah keberhasilan Sri Mulyani dan Boediono melepaskan tang¬gung¬jawab hukum dalam kasus Bank Century, sekali lagi ini menunjukkan besarnya pengaruh yahudi di Indonesia.

Siapa bilang KPK itu bersih bak malaikat?