Friday 3 April 2009

LOBI YAHUDI YANG SEMAKIN TELANJANG


Di tengah-tengah meningkatnya sentimen anti-Yahudi di negara-negara barat khususnya Amerika menyusul aksi biadab Israel di Gaza serta terbongkarnya praktik-praktik keculasan orang-orang Yahudi di sektor keuangan sebagaimana kasus Bernard Madoff, lobi Yahudi semakin menampakkan kebusukannya.

Dua lembaga yahudi Amerika, AJC (American Jewish Committee) dan ADL (Anti Demafation League) kini gencar menekan pemerintah Amerika cq Kejaksaan Agung untuk menghentikan proses hukum kasus spionase yang dilakukan dua pejabat AIPAC (American-Israeli Public Affairs Committee, lembaga kajian yahudi di Amerika), Steve Rosen dan Keith Weissman. Sejak tahun 2005 kedua orang yahudi tersebut menjalani proses penyidikan kasus spionase karena melanggar UU Spionase dengan menyelundupkan dokumen-dokumen rahasia ke Israel.

"Tuduhan (kepada dua orang pejabat AIPAC) tersebut menciptakan efek yang tidak menyenangkan," kata Executive Director AJC David Harris dalam pernyataan resmi organisasinya minggu lalu. "Berdasarkan fakta-fakta yang telah diumumkan sejauh ini, kami berharap pemerintah mengkaji kembali kasus ini dan mempertimbangkan untuk tidak meneruskan kasus ini," tambahnya.

Kasus ini muncul ke permukaan sejak diberitakan oleh koran New York Times pada tahun 2004. Larry Franklin, seorang analis politik Timur Tengah di Defense Intelligence Agency, juga turut diperiksa karena turut membantu pencurian data rahasia berkaitan dengan kebijakan politik pemerintah Amerika atas Iran tersebut.

ADL baru-baru ini juga mengumumkan isi surat yang mereka kirimkan ke deputi Jaksa Agung September tahun lalu. Isi suratnya adalah mendesak kejaksaan agung untuk mengkaji kembali tuduhan dan penyidikan kasus tersebut.

"Kami mendukung pemerintah untuk melindungi keamanan informasi negara. Namun demikian tuduhan dalam kasus ini tidak diperlukan dalam kaitan perlindungan keamanan informasi negara," demikian salah satu bunyi surat tersebut.

Lembaga-lembaga yahudi di Amerika telah lama mendapat sorotan para analis karena perannya yang lebih membela kepentingan Israel daripada Amerika sendiri. Mereka secara membabi-buta membela orang-orang yahudi yang telah merugikan kepentingan Amerika sebagaimana dalam kasus Jonathan Pollard. Meski telah terbukti menjadi mata-mata Israel dan dijatuhi hukuman penjara, organisasi-organisasi yahudi tidak pernah jemu mendesak pemerintah Amerika untuk membebaskannya.

Dalam situasi sekarang ini dimana orang-orang yahudi tengah menjadi sorotan negatif karena perannya dalam praktik-praktik kotor bisnis keuangan yang mendorong terjadinya krisis keuangan global plus kekejian vulgar yang diperlihatkan Israel atas Gaza awal tahun ini, tingkah laku AJC dan ADL semakin menyulut sentimen anti-Yahudi.

"ADL telah nampak nyata menjadi salah satu pilar propaganda Israel di Amerika, sebagaimana dinyatakan sendiri oleh media massa Israel. Mereka melakukan kegiatan mata-mata, mengeluarkan daftar hitam, mengkompilasi file-file yang beredar yang dianggap mengkritik ataupun merugikan tindakan-tindakan Israel, dan lain-lain," tulis ilmuwan Noam Chomsky dalam bukunya Necessary Illusions.

"Apa-apa saja yang telah dilakukannya dimaksudkan untuk menghancurkan setiap sikap oposisi yang ditujukan kepada kebijakan politik Israel, termasuk penolakan mereka untuk mengikuti standar politik umum," tambah Chomsky.

Sementara itu AIPAC, lembaga lobi yahudi paling kuat di Amerika, juga banyak mencatat sejarah hitam di masa lalu. Sebagai contoh pada tahun 1992 ketua organisasi tersebut, David Steiner dikritik keras oleh masyarakat setelah membual tentang pengaruhnya terhadap kebijakan politik Amerika untuk lebih menguntungkan Israel. David dengan bangga membongkar lobi yang dilakukannya terhadap pemerintahan Presiden Bill Clinton atas penunjukan pejabat direktur National Security Agency.

"AIPAC secara de facto adalah agen pemerintahan asing (Israel) yang kesuksesannya tergantung pada kemampuannya memberikan "imbalan" terhadap kandidat politisi yang mendukung agenda mereka, dan menghukum mereka yang menentangnya," tulis profesor John Mearsheimer dari University of Chicago dan profesor Stephen Walt dari Harvard University dalam buku mereka yang terkenal: "The Israel Lobby and U.S. Foreign Policy".

Mantan presiden President Jimmy Carter juga pernah mengeluarkan tuduhan bahwa AIPAC selalu melakukan tekanan kepada pejabat publik dan politisi untuk menjalankan agenda mereka.

Kepentingan yahudi di Amerika selama ini tertolong dengan sikap "tidak peduli" atau lebih tepatnya "kebodohan" rakyat Amerika sendiri. Sebagaimana ditulis Michael Moore dalam bukunya "Stupid White Men" sebanyak 40 juta warga Amerika masih buta hurup dan 100 juta lainnya tidak pernah membaca berita di media massa. Mereka lebih mengerti gambar tatoo di tubuh Britney Spears dan cemilan kesukaan Oprah Wimfrey daripada nama para pejabat publik mereka sendiri. Bahkan saking na'if-nya mereka menyangka orang-orang Yahudi beragama Islam.

Namun bagimana pun kebusukan tidak dapat disembunyikan selamanya. Kini fenomena anti yahudi di Amerika sudah mulai terasa meski tidak sebesar di Eropa.

No comments: