Tuesday, 15 February 2011

Antara Kairo dan Jerussalem


Gilad Atzmon; "Cairo and Jerusselem"; gilad.co.uk; 12 Februari 2011


"Ini adalah kekuatan moral dari tindakan tanpa kekerasan," demikian komentar pertama Presiden Barack Obama mengenai Revolusi Mesir yang baru saja berlangsung. Namun masih belum jelas siapa figur "tanpa kekerasan" versi Mesir sebagaimana Mandela di Afrika Selatan, Gandhi di India, atau Martin Luther King. Tidak lain karena rakyat Mesir sendiri yang telah mengejahwantahkan gerakan tanpa kekerasan tersebut.

Jerusalem (Israel), zionis, dan beberapa elemen gerakan "kiri" telah berupaya menghancurkan citra muslim, Islam dan Arab selama berpuluh tahun. Kini rakyat Mesir (dan juga Tunisia; blogger) telah membuktikan bagaimana Islam yang cinta damai itu sebenarnya.

Tidak seperti revolusi-revolusi di barat yang dipenuhi dengan gelimangan darah, di Kairo jutaan kaum muslim harus rela menunggu dengan sabar selama 18 hari untuk memastikan pesan moralnya didengarkan oleh penguasa tiran. Hari demi hari, mereka berdiri di jalan-jalan menunjukkan kesabaran sekaligus keteguhan hati. Lima kali sehari mereka berdoa (sholat) bersama, memenuhi kewajibannya tetap terjaga. Itu semua mengingatkan kita bahwa Islam berasal dari kata "salaam" yang maknanya adalah "damai", tanpa kekerasan.

Rakyat Mesir tanpa bisa dibantah telah menjadi "pembawa misi" kedamaian Islam. Hanya dalam waktu dua minggu mereka telah berhasil menghancurkan penyakit "Islamophobic" yang dihembuskan para zionis. Dalam waktu singkat tersebut mereka juga telah menanamkan benih-benih harapan di dalam hati kita semua. Mereka sebenarnya telah mengingatkan kita mengenai makna sebenarnya tentang demokrasi dan kebebasan.

Mesir, negara Arab terbesar dan paling berpengaruh, baru saja sukses meluncurkan gerakan demokrasinya kemarin. Sebagaimana kita ketahui, demokrasi di dunia Arab adalah berarti Islam. Minggu ini masyarakat barat telah mendapatkan kesempatan untuk menemukan sebuah keimanan yang dipenuhi harmoni dengan kedamaian (Islam; blogger). Dalam beberapa hari terakhir, masyarakat Eropa dan Amerika secara ajaib disadarkan dari penyakit "Islamophobic". Ketakutan tentang Islam dan muslim telah tersingkir. Banyak dari kita yang menyambut baik pilihan rakyat Mesir: Islam, salam dan Persaudaraan Muslim (Ikhwanul Muslimin).

Dua hari yang lalu James Clapper, Direktur National Intelligence Amerika cukup berani untuk mengaku bahwa Ikhwanul Muslimin adalah sebuah kelompok "yang sangat heterogen, yang mencari tujuan sosial daripada politik, yang dalam mencapai tujuannya menjauhi cara-cara kekerasan.”

Jika ada yang tidak bisa memahami fenomena ini, Amerika telah menghabiskan waktu enam bulan lebih untuk mengamandemenkan kebijakan luar negeri berbau zionisnya. Amerika hanya memiliki waktu yang sangat sempit untuk mendapatkan sekutu baru di Timur Tengah. Bagi Amerika dan Eropa ini adalah masalah hidup dan mati.

Dalam beberapa bulan mendatang para memimpin barat harus menyesuaikan diri dengan kenyataan baru. Saya pikir bahwa, meski masih dipengaruhi secara kuat oleh lobi-lobi zionis yahudi, mereka akan mengakui secara terbuka tentang kekuatan dan keindahan Islam. Mereka akan berupaya "mengambil hati" satu miliar warga muslim di seluruh dunia. Dan untuk itu mereka harus cepat bertindak.

Sementara dalam beberapa hari mendatang, Israel harus menghadapi kenyataan pahitnya. Mereka berada dalam kondisi sebagaimana api yang akan padam. Negara yahudi tidak bisa dipungkiri adalah entitas yang berbahaya, dan kita hanya bisa berdoa dalam kehancurannya itu tidak menyeret dunia dalam kehancuran juga. Bagi mereka yang tidak memahami, Israel telah menumpuk kekuatan yang sangat menghancurkan (nuklir; blogger). Lebih jauh, pilihan untuk "tijitibeh" atau mati satu mati semua adalah salah satu ajaran moral mereka yang diajarkan di kitab-kitab suci. Samson dan Masada adalah dua contoh nyata dari hal itu.

Adalah lebih baik jika mengakui pada diri sendiri bahwa, tidak seperti Kairo, Jerussalem secara inheren adalah "kekerasan". Kondisi seperti ini sudah tentu sangatlah rapuh. Tantangan terbesar para pemimpin dunia saat ini adalah secara damai "membubarkan" negara Israel sehingga mereka tidak lagi memiliki kesempatan lagi untuk merealisasikan impuls-impuls jahatnya.

1 comment:

Wan said...

Alhamdulillah. Semoga "mereka" semakin paham pada Islam yang sebenar. Salam, sam !!!