Sunday, 27 February 2011

TRAGEDI BEDONO DAN IRONI BANGSA INDONESIA


Saya baru saja menyaksikan film seri dokumenter "Bumi dan Manusia" yang ditayangkan stasiun televisi TVOne tgl 26 Februari lalu. Film dokumenter ini menyoroti kehidupan masyarakat Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Demak, Jawa Tengah. Yang membuat saya sangat terkesan dengan film ini adalah fenomena mengenaskan masyarakat di sana yang harus kehilangan kehidupannya karena ratusan hektar lahan sumber penghidupan mereka berupa tambak, sawah, ladang hingga perumahan mereka telah ditelan abrasi laut.

Tidak terkira kerugian dan penderitaan yang dialami masyarakat Bedono ini. Selain kehilangan sumber penghidupan, mereka juga harus menanggung kesulitan hidup yang tidak terkira. Hanya untuk sekolah, beribadah sholat di masjid, atau mengunjungi kerabat, mereka harus berbasah kuyup melintasi jalanan yang kini telah terendam air. Sebagian penduduknya, yang rumahnya telah terendam air sehingga tidak lagi bisa ditinggali, harus merelakan diri meninggalkannya dan pindah ke tempat yang lebih tinggi atau pindah ke daerah lain yang lebih jauh. Namun yang masih bisa berkompromi dengan keadaan yang menyedihkan, karena alasan ekonomi yang tidak memungkinkannya pindah ke tempat lain, harus rela menjalani kehidupan yang bagi sebagian besar orang mungkin dianggap sangat tidak manusiawi.

Yang juga membuat saya sangat terkesan dengan perasaan haru yang sangat adalah bahwa bagi mereka, bencana yang pada tahun 2000 tak pernah terbayangkan itu dianggap sebagai sebuah "bencana biasa".

"Ini semua adalah cobaan dari Tuhan," kata seorang penduduk sembari berjalan menyeberang kubangan air laut yang merendam jalan desa, saat hendak menunaikan ibadah sholat di mushola desa yang untuk mempertahankan keberadaannya telah ditinggikan pondasinya oleh penduduk.

Seorang penduduk lainnya, sembari memperbaiki jaring penangkap ikan yang telah koyak di sana-sini, dengan tersenyum mengatakan bahwa dirinya adalah bekas pengusaha tambak bandeng yang sukses. Ia dan hampir semua warga Bedono lainnya telah kehilangan berhektar-hektar tambak yang selama puluhan tahun menjadi sumber kehidupan keluarga. "Semuanya hilang ditelan laut," katanya sembari tetap tersenyum.

Padahal Desa Bedono, dahulu adalah desa yang "gemah ripah loh jinawi". Sebagian besar penduduk di sana berpenghidupan relatif makmur. "Hampir semuanya ada di sini. Selain ikan dan udang, padi, sayuran hingga buah-buahan juga banyak. Tapi semuanya kini hilang ditelan air laut," kata penduduk lainnya sembari menunjukkan bekas jalan desa yang pada tahun 2000 masih bisa dilalui mobil dan kini telah berubah menjadi aliran sungai.

Tragedi Bedono adalah sebagian kecil dari pahitnya kehidupan di negeri yang subur dan kaya dengan kekayaan alam ini. Ribuan korban Tragedi Lumpur Lapindo tentu tidak kalah mengenaskan dibanding mereka. Dan masih banyak lagi puluhan juta rakyat Indonesia yang kini harus menjalani hidupnya dengan sangat memprihatinkan. Orang-orang miskin di ibukota hingga penduduk miskin di kabupaten-kabupaten di Irian Jaya yang hanya bisa bermimpi untuk bisa memperbaiki rumahnya yang kumuh, karena harga 1 zak semen saja bisa mencapai Rp 1,5 juta akibat tidak adanya sarana transportasi ke sana, di negeri yang telah enam dekade lebih merdeka ini.

Kemudian pikiran saya berpindah ke Jakarta, tempat bermukim para politisi korup yang memimpin negeri ini dan tempat mengalirnya sebagian besar kekayaan negeri ini. Di sini para pemimpin negeri ini telah memutuskan untuk membangun gedung DPR baru senilai lebih dari Rp1 triliun lengkap dengan fasilitas hotel bintang 5, membayar uang muka pesawat kepresidenan sebesar Rp 200 miliar, membiayai renovasi rumah dinas DPRD yang nilainya hampir mencapai Rp 1 miliar tiap rumah, membayar biaya operasional kepresidenan hingga Rp700 miliar setahun, membayar biaya pengadaan furniture istana kepresidenan senilai Rp 2 miliar setahun dan baju dinas kepresidenan sebesar Rp 70 juta sebulan. Namun orang-orang itu masih belum merasa cukup. Mereka terus saja mengeluh tentang gaji mereka. Sementara untuk membiayai segala fasilitas mewah itu dipenuhi dengan berhutang kepada rentenir di luar negeri yang nilainya mencapai puluhan hingga ratusan triliun rupiah setahun dan harus ditanggung seluruh rakyat, termasuk rakyat Desa Bedono.

Dan saya hanya bisa membayangkan seandainya revolusi yang tengah bergolak di Timur Tengah itu merembet ke Indonesia.

1 comment:

rasadurian said...

Menunggu revolusi merembet ke Indonesia... .Hanya soal waktu