Thursday, 19 July 2012

AMERIKA MESTINYA BELAJAR DARI IRAN


(PENGALAMAN PERANG IRAN-IRAK 1980-1988)




Antara tahun 1980 hingga 1988 bangsa Iran mengalami "cobaan" yang luar biasa berat. Tetangganya yang lebih kuat militernya, Irak, dengan dibantu ramai-ramai oleh negara-negara Arab (kecuali Syria yang membantu Iran), Amerika dan negara-negara barat lain, menyerbu Iran secara besar-besaran. Tidak hanya senjata konvensional yang digunakan Irak, namun juga senjata kimia yang dipasok negara-negara barat. Tidak hanya itu. Selain harus menghadapi perang darat melawan Irak, Iran juga harus melayani perang laut dan udara melawan Amerika di Teluk Persia. Semuanya itu harus dihadapi Iran hanya setahun setelah revolusi menggulingkan regim Shah Reza Pahlevi yang telah menguras kekuatan bangsa Iran di tengah-tengah kondisi ekonomi yang parah karena embargo Amerika dan sekutu-sekutunya.

Perang ini adalah perang konvensional antar-negara terbesar sejak Perang Korea. Setengah juta orang kehilangan nyawa dan jutaan lainnya mengalami luka-luka dan kerugian ekonomi yang mencapai triliunan dollar. Ini juga perang modern pertama dimana senjata kimia digunakan secara massif. Irak berulangkali menembakkan senjata-senjata kimianya ke kota-kota dan pangkalan-pangkalan militer Iran, dan kemudian mengalihkannya ke kota-kota Kurdi.

Secara militer semestinya Iran telah kalah. Angkatan Lautnya nyarus tumpas di tangan AL Amerika yang jauh lebih superior. Kota-kotanya dan infrastrukturnya hancur tidak saja oleh senjata konvensional, tapi juga oleh senjata kimia Irak. Blokade dan embargo yang dikenakan barat juga membuat ekonomi Iran nyaris lumpuh. Tapi Iran terus melawan dengan gigih hingga berhasil memukul mundur pasukan agresor Irak dan balik menduduki sebagian wilayah Irak. Tidak hanya itu, Iran juga sukses menjalankan perang asimetris dengan menggunakan sekutunya milisi Hizbollah dan Amal yang berhasil mengusir pasukan Amerika, Perancis dan Israel di Lebanon. Melalui sekutu-sekutunya itu pula Iran sukses besar memenangkan perang inteligen melawan Amerika.

Pusing oleh penculikan-penculikan agen-agen rahasianya di Lebanon oleh Hizbollah dan Amal, Amerika terpaksa secara rahasia meminta bantuan Iran untuk membebaskan mereka. Iran meminta syarat diberikan kompensasi senjata-senjata anti-tank untuk mengatasi kekurangan senjata akibat embargo barat. Amerika setuju, namun Iran mempermainkannya bagai seekor kucing memainkan tikus. Setelah senjata-senjata dikirimkan, Iran tidak memenuhi semua keinginan Amerika. Jaringan inteligen Amerika di Lebanon yang menjadi pusat kegiatan inteligen mereka di Timur Tengah tetap hancur dan beberapa agen seniornya dieksekusi Hizobollah. Sebaliknya dengan senjata-senjata kiriman Amerika itu Iran akhirnya berhasil memukul mundur Irak dan balik menginvasi Irak. Selanjutnya Amerika yang gelap mata setelah dipermainkan Iran, menembak membabi buta pesawat sipil Iran di atas Teluk Parsia dan menewaskan seluruh penumpangnya.

Semua ini adalah sebuah episode sejarah yang dikenal sebagai skandal "Iran Contra". Bagi Iran tentu saja ini bukan skandal melainkan kemenangan gemilang. Sebagaimana kata kastaf Amerika Jendral Dempsey dan kastaf Israel Benny Gantz, Iran berperang dengan cerdik dan rasional.

Sementara itu Irak, dari negara agresor berubah menjadi negara yang wilayahnya diduduki Iran, dengan menanggung malu akhirnya menawarkan gencatan senjata. Namun baru setelah Irak mengancam akan menembakkan senjata kimianya ke Teheran dan kota-kota besar Iran lainnya, Iran bersedia melakukan gencatan senjata.

Perang Iran-Irak ternyata menjadi malapetaka perkepanjangan Amerika. Irak, sekutunya, melihat Amerika telah mengkhianatinya dalam skandal Iran-Contra, kemudian menyerang Kuwait tahun 1990 dan memaksa Amerika dan sekutu-sekutunya bersamai-ramai mengeroyok Irak tahun 1991 dan 2003. Dan akhirnya pada tahun 2011 Amerika didepak dari Irak. Kini Iran dan Irak justru menjadi sekutu.

Sebaliknya bagi Iran, perang membuat mereka mampu mengkonsolidasi diri, mananamkan jiwa militansi dan semangat jihad pada seluruh warga negaranya sekaligus menghancurkan virus-virus "oposisi" dan antek-antek Amerika di dalam negeri. Iran juga membuktikan bahwa mereka bukan bangsa yang mudah diintimidasi dan didikte oleh Amerika. Maka terkait dengan konflik program nuklir Iran, Amerika seharusnya belajar dari pengalamannya dalam Perang Iran-Irak. Yaitu bahwa Iran bakal memberikan malapetaka besar bagi Amerika. Sebagaimana kata pemimpin tertinggi Iran Ayotollah Ali Khamenei, Iran telah tumbuh 100 lebih kuat.



Sumber:
"The Last Time We Fought Iran"; Bruce Riedel; The Daily Beast; 6 Juli 2012

2 comments:

Deny Dewan said...

Hidup iran..ALLAH penolongmu..

Yudie Bernafas said...

HIDUP IRAN, CALON KEKUATAN DUNIA, DAN CALON KEKUATAN ISLAM, JANGANLAH ENGKAU SEPERTI NEGARA ARAB YG MENJADI PELAYAN AMERIKA & ISRAEL, JADILAH DIRIMU SENDIRI SEPERTI SEJARAHMU, KEKUATAN PERSIA, BANGKITLAH PERSIA BANGKITLA IRAN !!!