Friday, 6 July 2012

ISRAEL RACUNI ARAFAT?

Tidak bisa dinafikan bahwa inilah racun paling jahat dan mematikan dalam sejarah umat manusia: polonium 210. Arsenik yang pada jaman dahulu sebut "mampu membunuh dewa" sekalipun tidak ada artinya dibandingkan racun terakhir ini. Racun ini memberi dampak mengerikan bagi orang yang menelannya: kematian perlahan-lahan dan menyakitkan. Dan selain membunuh, racun itu akan mengendap di dalam tubuh korbannya dan tidak akan hilang hingga ribuan tahun.     
                               
Racun ini kini kembali menjadi bahan pemberitaan dunia terkait rencana penyelidikan kembali kematian pemimpin Palestina Yasser Arafat yang diduga kuat akibat racun ini. Sementara Israel, musuh abadi Arafat, diduga kuat sebagai pelakunya, atau setidaknya sebagai dalangnya.

Israel memang telah membantah rumor tersebut. Pada tahun 2004, Silvan Shalom, menlu Israel kala itu membantah rumor tersebut sebagai “scandalous and false”. Namun fakta-fakta berbicara lain yang membuat telunjuk harus diarahkan ke Israel. Tidak ada negara yang mempunyai motif sebesar Israel untuk membunuh Arafat. Sebelumnya Israel telah mengepung, menyerbu rumah Arafat dan mengancamnya, menuduhnya sebagai dalang aksi-aksi kekerasan di Palestina, dan setelah peristiwa pemboman bunuh diri yang menewaskan 15 warga Israel th 2003 memutuskan untuk "melenyapkan"-nya. Bahkan kepala Shin Bet, dinas keamanan Israel, yaitu Avi Dichter mengatakan kepada media Israel bahwa "membunuh Arafat lebih baik daripada mengucilkannya".

Minggu lalu suatu institut Swiss yang meneliti pakaian bekas Arafat menemukan sesuatu yang mengejutkan, yaitu keberadaan zat polonium-210, zat yang sama yang telah membunuh mata-mata Rusia, Alexander Litvinenko di London tahun 2006. Jika kematian Arafat mengarahkan telunjuk ke Isreal, kematian Litvinenko mengarahkan telunjuk ke Israel dan para oligarch yahudi Rusia.

Membunuh dengan cara meracun dengan zat radioaktif yang tidak hilang selama ribuan tahun tentu tidak pernah ada di benak orang kebanyakan. Namun tentu saja tidak bagi orang-orang Israel, orang-orang yang kemungkinan besar pertama menggunakan potasium sebagai racun pembunuh sebelum bangsa-bangsa lain. Tidak lain karena orang-orang yahudi memiliki kecenderungan untuk melakukan sesuatu yang "paling", termasuk paling kontroversial. Mereka juga memiliki kecenderungan untuk "mengolok-olok" orang-orang non-yahudi yang disebutnya sebagai "goyim" alias "binatang ternak". Dan membunuh musuh besar mereka dengan racun paling jahat tentu cukup untuk memuaskan mereka. Dan selanjutnya mereka berkata kepada seluruh manusia: "kami memang yang melakukannya, lalu mau apa?"

Namun yang paling menarik dari kematian Arafat dan menjadikannya hikmah yang tidak ternilai adalah bahwa perdamaian dengan Israel ternyata tidak memberikan apapun bagi Arafat dan bangsa Palestina dan justru sebaliknya. Arafat telah memberikan konsesi paling berat yang bisa diberikannya, yaitu mengakui keberadaan bangsa Israel yang telah merampok tanah Palestina dan mengusir bangsanya dengan harapan Israel mau membiarkan rakyat Palestina kembali ke negerinya dan hidup damai dengan orang-orang yahudi.

 
Ref:
"Did Israel Nuke Arafat?"; Gilad Atzmon; gilad.co.uk; 6 JulI 2012

1 comment:

Said Iskandar said...
This comment has been removed by the author.