Friday, 21 September 2012

KEMENANGAN JOKOWI

Beberapa waktu yang lalu saya melihat sebuah film cerita di layar televisi sebuah stasiun tv swasta. Fim-nya tentang seorang raja perkasa nan bijaksana dari sebuah negeri di Skandinavia. Saya tidak tahu apakah itu legenda atau bukan. Suatu saat sang raja berhasil membunuh seekor monster mengerikan berbentuk setengah manusia yang telah meneror negerinya. Namun penderitaan rakyat negeri itu belum berakhir karena kemudian muncul monster baru yang lebih mengerikan. Sang Raja pun memburu moster baru tersebut ke sarangnya. Namun yang ditemukannya adalah seorang wanita sangat cantik yang kemudian mengaku sebagai ibu dari monster pertama yang dibunuh raja. Sang wanita cantik yang ternyata adalah iblis wanita kemudian menawarkan persekutuan dengan raja dengan janji akan menjadikan sang raja sebagai raja di raja dengan kekuasaan dan kekuatan yang jauh lebih besar dari yang telah dimilikinya. Syarat perjanjian adalah sang raja bersedia tinggal bersama sang iblis betina semalam saja. Dan sebagai tanda perjanjian adalah pusaka sang raja ditahan oleh iblis betina. Selama pusaka itu di tangan iblis betina, maka perjanjian itu masih berlaku.

Tergiur oleh kekuasaan, sang Raja pun setuju. Dan setelah menunaikan kewajibannya ia kembali ke negerinya. Kepada rakyatnya ia mengaku telah membunuh monster yang diburunya dan pusaka kerajaan yang dibawanya hilang dalam pertarungan. Tidak lama kemudian ia pun mendapatkan apa yang diimpikannya, kerajaannya tumbuh menjadi kerajaan besar yang meliputi negeri-negeri lain di sekitarnya. Namun setelah bertahun-tahun menikmati kemasyuran sebagai raja besar yang dipuja-puji rakyatnya dan dikagumi musuh-musuhnya, tiba-tiba muncul bencana baru, yaitu kemunculan monster baru lagi yang mengobrak-abrik negerinya. Bahkan tentara raja yang lebih besar pun tidak mampu menghentikan kebuasan sang monster. Namun ada yang lebih mengejutkan sang raja, yaitu ditemukannya pusaka kerajaan oleh seorang rakyatnya. Saat itu juga sang raja teringat dengan perjanjiannya dengan iblis betina.

Maka, di usianya yang sudah senja namun masih tetap perkasa, sang raja pun memburu monster tersebut. Dan setelah melalui pertarungan hebat, sang raja berhasil membunuhnya. Kali ini sang raja mengalami luka hebat yang akhirnya mengantarkan kepada kematiannya. Sementara itu sebelum mati, sang monster berubah wujud menjadi manusia yang wajahnya mirip sang raja. Saat itu juga raja sadar bahwa monster tersebut adalah anaknya hasil hubungannya dengan iblis betina.

Di bagian akhir cerita, pengganti raja yang tidak lain adalah sahabat dekat sang raja yang selalu menemani raja ke mana pun, termasuk saat memburu monster-monster, didatangi oleh seorang wanita cantik yang tidak lain adalah iblis betina. Sang raja baru tampak terpesona dengan kecantikan sang iblis betina.
Pesan dari film itu adalah bahwa manusia selalu mendapat godaan iblis, dan godaan paling berat adalah kekuasaan. Siapapun bisa tergoda oleh bujukan iblis, bahkan seseorang yang arif dan bijaksana sekalipun sebagaimana sang raja dalam cerita tersebut di atas. Dan tatkala ia tergoda, saat itu pula ia telah terjerumus dalam dosa yang membawa bencana.

Film tersebut kembali muncul ke ingatan saya setelah melihat kemenangan Jokowi sebagai Gubernur Jakarta. Ketika saya membaca sebuah tulisan tentang keterkaitannya dengan sebuah organisasi penyembahan berhala (freemasons) melalui istrinya (secara fisik istri Jokowi memang tampak bukan asli Jawa yang biasanya berwajah bundar, berhidung pesek dan berkulit gelap), saya masih berusaha untuk tidak terlalu mempercayai. Apalagi setelah melihat programnya yang cerdas, yaitu membagi-bagikan kartu jaminan pendidikan dan kesehatan gratis (membuktikan selama ini sebagian besar anggaran-anggaran pemerintah lebih banyak digunakan untuk hal-hal yang kurang tepat), saya jadi simpati kepadanya. Namun setelah melihat tingkah polahnya mengacung-ngacungkan tanda "tanduk setan", terutama dalam iklan kampanyenya, saya menjadi yakin 95% bahwa ia telah terperangkap dalam godaan "iblis", "Big Brother", "dajjal" atau sebutan lainnya, dan karenanya semua kebaikannya telah runtuh dengan sendirinya.

Meski demikian segala kemungkinan bisa terjadi. Mungkin saja ia tidak mengetahui arti simbol "tanduk setan" yang diacung-acungkannya dan hanya mengikuti instruksi tim suksesnya. Semoga demikianlah adanya, dan Jokowi adalah pemimpin yang arif dan bijaksana. Kita tunggu "buah" yang bakal dihasilkannya.

4 comments:

Fuad Tahir said...

Kalau tidak salah, cerita legenda tsb sudah difilmkan dengan judul "Beowulf".

cahyono adi said...

Trims. Memang itu judul film-nya. Tapi sy belum tahu kalau itu sebuah legenda atau hanya imaginasi pengarang film. Kalau ada info tlg disharing.

Maul Evant said...

mudah2an jokowi tidak termasuk dalam lingkungan dajjal israel dan antek2nya.

putut wicaksono said...

tenang saja pak cahyono adi..suatu saat bila anda bisa bertanya langsung kepada jokowi tentang arti acungan jarinya tsb. smoga jawabanya tetep sama dngn yg disampaikan saya (karena dalam suatu acara, saya berkesempatan menanyakan hal tsb.) dan smoga jawaban lugu dari jokowi benar apa adanya..jokowi: "saya juga tidak tau artinya, karena acungan tsb. kelihatan gaul, tp yen emang ada yg ndak suka ataupun nyrempet ke hal2 golongan tertentu, mending tak lereni ae acungan kui.."