Saturday, 15 September 2012

SENJATA MAKAN TUAN UNTUK SANG DUBES

Senjata makan tuan, mungkin adalah istilah yang tepat untuk menggambarkan kematian tragis dubes Amerika untuk Libya, Chris Stevens, dalam kerusuhan anti-Amerika di Benghazi, 11 September lalu. Chris adalah salah seorang yang bertanggungjawab atas terjadinya revolusi di Libya yang akhirnya menewaskannya.

Chris Stevens tewas dalam aksi kerusuhan memprotes film anti-Islam yang dibuat oleh para zionis Amerika di kantor konsulat Amerika di Benghazi. Aksi protes berubah menjadi kekerasan bersenjata ketika para demonstran menembakkan senjata api dan roket ke kantor konsulat, kemudian membakarnya. Chris tewas bersama 3 staff konsulat Amerika, 5 orang lainnya menderita luka-luka serius. Ia tewas hanya 4 bulan setelah menduduki jabatan duta besar.

Stevens adalah pejabat yang menjadi "utusan" Amerika bagi para pemberontak Libya sejak kerusuhan meletus di Libya Februari tahun lalu, dimana Amerika dan NATO membantu pemberontak menumbangkan regim Khadaffi yang telah berkuasa 40 tahun lebih. Pemberontak bahkan kemudian menembak mati Khadaffi yang tertangkap, di tengah-tengah keramaian di siang hari bolong tanpa pengadilan. Namun para pemberontak pula-lah yang diduga kuat terlibat dalam aksi penyerangan yang mengakibatkan tewasnya Stevens.

"Saya terkesan melihat rakyat Libya bangkit untuk menyuarakan tuntutan hak-haknya," kata Stevens dalam video perkenalan yang dirilis oleh deplu Amerika setelah ia dilantik menjadi dubes untuk Libya pada Mei 2012 lalu.
"Kini dengan senang hati saya kembali ke Libya untuk meneruskan pekerjaan besar yang telah kita mulai, membangun hubungan yang solid antara pemerintah Libya dan Amerika, membantu Anda semua, rakyat Libya, meraih cita-cita," tambahnya.

Dalam video tersebut Stevens yang lancara berbahasa Arab dan Perancis itu menceritakan dirinya tumbuh besar di California dan lulus dari University of California at Berkeley. Ia mendeskripsikan bagaimana ia jatuh cinta dengan Timur Tengah dan Afrika Utara setelah menjadi relawan Peace Corps selama 2 tahun dengan bekerja sebagai guru bahasa Inggris di daerah pegunungan Atlas, Marokko. Selanjutnya ia diterima sebagai staff kemenlu Amerika dengan tugas pertama di Jerussalem, disusul kemudian Damaskus, Kairo dan Riyadh.

Namun tugas paling lamanya adalah di Libya, dimana ia pernah bekerja sebagai wakil utusan khusus antara tahun 2007 hingga 2009, tidak lama setelah Amerika memulihkan hubungannya dengan regim Khadaffi.

Hingga kini kematian Stevens masih menyimpan sejumlah pertanyaan. Misalnya, mengapa ia berada di Benghazi saat terjadinya kerusuhan, dan bukan di posnya di Tripoli. Beberapa spekulasi pun merebak perihal penyebab kematian Stevens. Misalnya saja tentang persaingan politik internal Libya antara faksi-faksi Benghazi (anti- Khadaffi) melawan faksi-faksi Tripoli (eks loyalis Khadaffi). Apalagi karena kerusuhan terjadi saat rakyat Libya tengah mengadakan pemilihan perdana menteri baru. Namun tidak kalah populernya adalah tentang persaingan politik di Amerika antara kubu pro-Obama (Demokrat) melawan anti-Obama (Republik). Kematian seorang pejabat negara seperti Stevens tentu mencoreng kredibilitas Barack Obama.

Namun satu hal penting adalah bahwa kerusuhan berdarah seperti yang telah menewaskan duta besar Amerika tentu tidak akan terjadi jika negara stabil seperti selama dalam pemerintahan Khadaffi.



TERORIS BINAAN AMERIKA

Banyak pakar dan politisi yang memperingatkan pemerintah Amerika bahwa menggunakan kelompok-kelompok teroris untuk menumbangkan regim-regim tiran di Timur Tengah tidak akan memberikan hasil yang memuaskan. Namun Amerika terlalu bersemangat untuk mengganti regim-regim yang tidak disukainya, tanpa berfikir jauh siapa yang bakal menggantikannya.

Mereka percaya buta dengan anggapan bahwa mereka yang menentang regim orotiter seperti Mubarak dan Khadaffi adalah para "pejuang kemerdekaan", "pembela demokrasi" dan sebagainya. Kenyataannya adalah sebuah ironi bagi Amerika.

Dalam berbagai aksi protes menentang pembuatan film anti-Islam "Innocence of Moslems" akhir-akhir ini, para militan Islam menyerbu kantor-kantor diplomatik Amerika, menurunkan dan membakar bendera Amerika, kemudian menggantinya dengan bendera Al Qaida. Di Benghazi, di mana Amerika dan sekutu-sekutunya menggunakan Al Qaida dan kelompok-kelompok teroris lainnya untuk menumbangkan Khadaffi, para demonstran bahkan menembaki kantor konsulat Amerika dengan roket sebelum menjarah isinya dan terakhir membakarnya. Tampak sekali mereka tidak mau "berterima kasih" pada Amerika yang telah membantu mereka melawan Khadaffi, sebagaimana perkiraan para pajabat Amerika.

Selama bertahun-tahun pemerintah dan media Amerika berteriak-teriak bahwa Al Qaida adalah teroris musuh bersama. Namun dalam gerakan-gerakan revolusi Arab yang melanda sejak tahun lalu Amerika tanpa malu-malu bekerjasama dengan Al Qaida dan kelompok-kelopmpok teroris lainnya.

Berikut adalah tulisan kantor berita Inggris "Reuters" tentang insiden kantor konsulat Amerika di Benghazi:

"Serangan tersebut dipercaya dilakukan oleh Ansar al-Sharia, sebuah kelompok Sunni model Al Qaida yang aktif beroperasi di Benghazi. Saksi-saksi mata menyebutkan aksi penyerangan juga dilakukan oleh kabilah-kabilah, milisia dan kelompok-kelompok bersenjata lainnya.

Kendaraan-kendaraan kelompok Ansar al-Sharia datang pertama kali pada saat dimulainya kerusuhan, dan kemudian pergi setelah terjadinya penyerangan. Para demonstran bertebaran ke dalam kompleks konsulat mencari orang-orang Amerika, mereka hanya mencari orang Amerika untuk ditangkap."

Dan ini adalah pernyataan mantan pajabat CIA Bruce Riedel tentang para pemberontak anti-Khadaffi:

"Tidak ada lagi keraguan bahwa turunan Al Qaida di Libya, Libyan Islamic Fighting Group, adalah bagian dari pemberontak Libya. Mereka-lah musuh terbesar Khadaffi dan markas mereka di Benghazi. Yang masih belum jelas adalah, seberapa banyak pemberontak yang adalah anggota Al Qaida/Libyan Islamic Fighting Group, 2 persen atau 80 persen?"

Para pemimpin pemberontak Libya bahkan berterus terang bahwa sebagian besar dari mereka adalah para pemberontak yang menyerang tentara Amerika di Irak. Dan berikut adalah tulisan di harian "Telegraph" Inggris:

"Abdel-Hakim al-Hasidi, pemimpin pemberontak Libya yang bertempur melawan pasukan koalisi di Irak, kini berada di garis depan melawan pemerintahan Khadaffi."

Jadi kita melihat Amerika mempersenjatai orang-orang yang telah memerangi mereka di Irak dan mendukung mereka di Libya. Orang-orang itulah yang telah membunuh dubes Amerika setelah menyeretnya dari kantornya ke jalanan dalam keadaan pingsan sebagaimana seekor binatang. Sekedar catatan: orang-orang yang sama yang didukung Amerika itu kini berada di Syria untuk menumbangkan pemerintahan Bashar al Assad.



Ref:
"US envoy killed in attack had hailed Libya revolt"; AFP; 12 September 2012

"Thanks Obama - The Terrorists You Used To Topple Regimes In Egypt And Libya Are Now Attacking Our Embassies"; Michael; The American Dream; 12 September 2012    

2 comments:

Namina Sae said...

Bos maaf minta izin copas mau saya muat di fb thanks

cahyono adi said...

No problem