Thursday, 6 October 2011

1983, KEKALAHAN MEMALUKAN AMERIKA DI LEBANON


Tahun 1983 adalah tahun kemenangan Israel yang sangat gemilang. Menyusul invasinya terhadap Lebanon tahun 1982, Israel sukses mengusir musuh yang memusingkannya dengan berbagai serangan ke Israel, gerilyawan PLO, dari Lebanon. Tidak hanya itu, Israel juga sukses memaksa pemerintah Lebanon yang dipimpin pemimpin oportunis, Presiden Amin Gemayel, menandatangani perjanjian damai yang memberi hadiah Israel sebagian besar wilayah Lebanon sebagai wilayah pendudukan. Dan selanjutnya, demi menjaga kemenangan itu, Amerika dan Perancis mengirimkan pasukannya dengan kedok "penjaga perdamaian PBB".

Namun kemenangan itu buyar seketika setelah Amin Gemayel dibom oleh rakyatnya sendiri yang kecewa kepadanya. Hancurnya kemenangan Israel itu semakin besar setelah barak pasukan Amerika dan Perancis dibom oleh pejuang Lebanon yang menimbulkan korban militer sangat besar sehingga memaksa kedua negara menarik pasukannya dari Lebanon. Dan seolah kesialan yang terus menimpa, para pejuang Lebanon di bawah "kepemimpinan" Hizbollah berhasil mengusir Israel dari sebagian besar wilayah Lebanon yang diduduki.

Pemboman barak pasukan Amerika dan Perancis di Beirut, Lebanon, terjadi tgl 23 Oktober 1983, saat dua buah truk bermuatan bom menerobos barak kedua pasukan yang berada di tempat terpisah. Serangan beruntun itu menewaskan 299 pasukan Amerika dan Perancis. Organisasi Jihad Islam mengklaim sebagai pelaku pemboman.

Korban di barak militer Amerika adalah 220 marinir, 18 personil AL dan 3 pasukan AD ditambah 50 pasukan lainnya mengalami luka-luka. Sejak perang Iwo Jima dalam Perang Dunia II, serangan itu menjadikan korban terbesar korps Marinir Amerika dalam sehari operasi militer dan menjadi serangan mematikan terbesar terhadap pasukan Amerika sejak Perang Dunia II. Kekuatan ledakan yang menghancurkan barak militer Amerika itu setara dengan kekuatan ledakan 5.400 kg TNT.

Sementara dalam serangan terhadap barak pasukan Perancis, dua menit setelah serangan di barak militer Amerika, 58 pasukan payung Perancis tewas dan 15 lainnya mengalami luka-luka, menjadikannya serangan paling mematikan terhadap pasukan Perancis sejak Perang Kemerdekaan Aljazair.

Meski dibantah oleh pemerintah Amerika dan Perancis, tidak bisa dipungkiri serangan itu menjadi penyebab ditariknya pasukan kedua negara di Lebanon.

Para pengamat percaya, serangan tersebut disebabkan oleh kebencian rakyat Lebanon kepada pasukan asing Amerika dan Perancis. Kebentian itu terutama melanda kaum Muslim dan Druze (satu sekte agama yang menggabungkan keyakinan Islam dan Kristen, banyak terdapat di Lebanon), terlebih lagi kaum Muslim Shiah yang kebanyakan tinggal di daerah Beirut Barat dan sekitar airport tempat di mana markas pasukan asing itu berada.

Mereka melihat dengan jelas "pasukan perdamaian" itu sama sekali tidak membawa perdamaian. Mereka turut campur dalam pertempuran dalam Perang Sipil yang tengah berkecamuk di Lebanon, dengan memihak kepada kelompok-kelompok pasukan pro-Israel, seperti milisi Maronite Katholik. Kebencian itu semakin memuncak setelah pasukan Armada VI Amerika menembakkan bom-bomnya ke kawasan ke kawasan milisi anti-Israel di pegunungan Shuf, menewaskan banyak warga sipil Lebanon. Pasukan Perancis juga tidak kalah agresif. Sebulan sebelum serangan atas barak militer Amerika dan Perancis, pasukan Perancis melakukan serangan udara besar-besaran atas kawasan Lembah Bekaa.

Hal ini sebenarnya menimbulkan kekhawatiran di kalangan perwira Amerika yang berfikir sportif, bahwa Amerika tidak lagi dipercaya sebagai "pasukan perdamian" dan lebih berperan sebagai "pasukan pendudukan", sehingga memicu serangan balasan.

Pemimpin gerakan Amal Shiah, Nabih Berri, yang awalnya mendukung kehadiran pasukan perdamaian asing, meminta Amerika dan Perancis meninggalkan Lebanon dan menuduh mereka telah melakukan pembantaian terhadap warga sipil Lebanon serta menciptakan "iklim kekerasan" terhadap warga Shiah. Kelompok Jihad Islami mengancam pasukan keamanan internasiongl, bahwa "bumi akan bergetar kecuali pasukan asing meninggalkan Lebanon pada tahun baru 1984."

Dibutuhkan waktu berhari-hari bagi upaya evakuasi korban pemboman, karena para pekerja penyelamat terus mendapat serangan dari penembak-penembak jitu lokal. Seorang penembak jitu itu di antaranya adalah seorang gadis remaja berumur 18 tahun yang akhirnya tewas ditembak pasukan keamanan. Para korban pemboman selanjutnya diterbangkan ke kapal USS Iwo Jima yang berlabuh di lepas pantai Lebanon. Sebagian lainnya diterbangkan ke rumah sakit militer Inggris di Cyprus dan rumsah sakit militer Amerika di Jerman.

Setelah pemboman itu beberapa kelompok Muslim Shiah mengklaim sebagai pelaku serangan. Salah satunya, Free Islamic Revolutionary Movement, bahkan memberikan identitas pelaku serangan, yaitu Abu Mazen dan Abu Sijaan.

Setelah bertahun-tahun penyidikan, Amerika menyimpulkan serangan tersebut dilakukan oleh kelompok Hizbollah yang kala itu masih berupa gerakan bawah tanah. Hizbollah dengan dukungan Syria dan Iran juga dianggap bertanggungjawab atas serangan terhadao kedubes AS di Beirut, bulan April 1983. Hizbollah baru mendeklarasikan diri sebagai sebuah organisasi pada tahun 1985. Baik Hizbollah maupun Iran serta Syria menolak tuduhan itu.

Pada tahun 1985 sebuah pengadilan Amerika secara diam-diam menjatuhkan hukuman kepada Imad Mughniyah, pemimpin Hizbollah, sebagai dalang serangan atas barak militer Amerika dan Perancis. Mughniyah meninggal tahun 2008 di Damaskus dalam sebuah serangan bom mobil yang diduga kuat dilakukan Mossad dan CIA.

Penulis Lebanon, Hala Jaber mengklaim Iran dan Syria terlibat dalam serangan dengan memberikan bantuan kepada tersangka, Imad Mughniyeh dan Mustapha Badredeen. Jaber menulis:

"Imad Mughniyeh dan Mustapha Badredeen menjadi pelaku operasi yang didukung Syria dan Iran. Mughniyeh adalah orang yang pernah mendapat latihan dari satuan Force 17 PLO. Misi mereka adalah mengumpulkan informasi dan rincian tentang kedubes Amerika dan merancang sebuah rencana untuk menjamin maksimalnya dampak serangan tanpa meninggalkan jejak. Pertemuan-pertemuan digelar di kedubes Iran di Damaskus. Mereka terkadang ditemui oleh dubes Iran untuk Syria, Hojatoleslam Ali-Akbar Mohtashemi, yang memainkan peran penting dalam pembiayaan Hizbollah. Dengan bantuan beberapa pejabat senior inteligen Syria, rencana akhir disiapkan. Kendaraan dan bahan peledak disiapkan di Lembah Bekaa yang berada di bawah pengawasan pasukan Syria."

Banyak analis yang percaya Iran memegang peran kunci dalam serangan tersebut. Motivasinya adalah balasan terhadap dukungan Amerika kepada Irak dalam Perang Iran-Irak yang berlangsung sejak tahun 1980 hingga 1988. Kala itu Amerika baru saja memberikan kredit pembelian senjata kepada Irak senilai $2.5 miliar, dan pada saat yang sama membekukan penjualan senjata ke Iran. Beberapa minggu sebelum serangan Iran memperingatkan Amerika bahwa tindakan mempersenjatai musuk Iran akan mendapat balasan setimpal.


RESPON AMERIKA
Amerika telah melakukan tindakan "pengecut" dengan membunuhi warga sipil Lebanon hingga menyebabkan serangan terhadap pasukannya yang mematikan. Namun menanggapi serangan itu Amerika melakukan tindakan tidak kalah "pengecut". Setidaknya para pejuang Lebanon telah melakukan serangan terhadap sasaran militer, tidak seperti Amerika dan Perancis.

Sebagai respon atas serangan tersebut AL Amerika melakukan pemboman besar-besaran ke wilayah Pegunungan Shauf tgl 9 Januari 1984, termasuk dengan menggunakan kapal penjelajah terbesar di dunia kala itu, USS New Jersey. Pada tgl 8 Februari USS New Jersey menembakkan hampir 300 bom ke posisi milisi Druze dan tentara Syria di Lembah Bekaa, Beirut Timur. Ini adalah pemboman laut besar-besaran Amerika sejak Perang Korea, menewaskan ratusan warga Lebanon, kebanyakan Shiah dan Druze.

Perancis juga melakukan serangan terhadap posisi yang dicurigai sebagai lokasi pasukan Pengawal Revolusi Iran di Lembah Bekaa. Pasukan elit Iran itu memang secara diam-diam diterjunkan ke Lebanon, terutama membantu milisi Hizbollah dan Amal Shiah sekutunya. Presiden Amerika dan Perancis juga telah menyetujui serangan terhadap kediaman tokoh Shiah Sheik Abdullah di Baalbek serta lokasi-lokasi milisi Shiah dan Pengawal Revolusi Iran. Namun menhan Casper Weinberger berhasil mencegah keputusan itu, khawatir dengan pembalasan Iran dan Syria mengingat keterlibatan mereka atas serangan barak militer Amerika-Perancis masih belum bisa dipastikan.

Sebelumnya pada bulan Desember 1983, pesawat-pesawat tempur Amerika dari kapal induk USS John F. Kennedy dan USS Independence melakukan serangan terhadap posisi pasukan Syria.

Selain itu dinas inteligen Amerika, CIA, juga melakukan aksi balas dendam sendiri. Pada tgl 8 Maret 1985, sebuah truk berisi bom meledak di Beirut, membunuh lebih dari 80 orang dan melukai lebih dari 200 lainnya, hampir semuanya warga sipil. Ledakan terjadi di dekat blok apartemen tempat tinggal Sheikh Mohammad Hussein Fadlallah, seorang ulama Shiah yang dianggap sebagai pemimpin spiritual Hizbollah. Meski dibantah Amerika, serangan itu diyakini publik sebagai serangan terorisme CIA.

Fadhallah mengatakan, "Mereka mengirimi saya surat dan saya mendapatkan pesan mereka, dan sebuah tanda di bekas bangunan yang hancur bertuliskan: buatan Amerika."

Robert Fisk, seorang wartawan senior, juga mengklaim agen CIA-lah yang telah meletakkan bom dan bukti-bukti keterlibatan itu dituliskannya di sebuah artikel di koran Washington Post.



PENARIKAN PASUKAN AMERIKA
Takut menghadapi serangan susulan terhadap pasukannya, Amerika segera menarik pasukannya dari Beirut dan memindahkannya ke atas kapal-kapal perang di lepas Pantai Lebanon. Pada tgl 7 Februari 1984, Presiden Reagan memerintahkan pasukan Marinir memulai penarikan dari Lebanon yang selesai dilakukan pada tgl 26 Februari 1984. Empat bulan kemudian seluruh pasukan perdamaian internasional ditarik dari Lebanon.

Di sisi lain, mundurnya Amerika dari Lebanon setelah serangan atas barak militernya justru meningkatkan citra Hizbollah. Meski Hizbollah secara resmi menolak terkait serangan tersebut, namun tampak di mata publik sebagai pelakunya, setidaknya setelah kelompok ini memuji-muji "dua martir mujahidin yang telah menimbulkan kerugian hebat bagi Amerika, yang tidak pernah dialami Amerika sejak Perang Vietnam". Hizbollah dianggap sebagai "ujung tombak perjuangan jihad muslim menentang pendudukan asing."



MALANGNYA AMERIKA
Penderitaan Amerika akibat serangan tersebut semakin parah setelah menyadari bahwa Israel, sekutu utama yang mana Amerika berkubang darah membelanya di bumi Lebanon, tidak membagi informasi intelegennya yang bisa mencegah serangan itu terjadi.

Tentu saja Israel membantah tuduhan tersebut. Namun sudah menjadi pengetahuan umum di kalangan inteligen internasional bahwa Israel tidak bisa dipercaya dalam kerjasama inteligen. Sebagaimana dikatakan mantan menhan Amerika Robert Gates belum lama ini bahwa Israel adalah "sekutu yang buruk" yang "pelit dalam membagi informasi inteligen".

Casper Weimberger sekalu menteri pertahanan kala itu, hingga sekarang tidak mengetahui pasti pelaku serangan atas barak militer Amerika dan Perancis tahun 1983. Dalam sebuah wawancara tahun 2001 ia mengatakan, "Kita masih belum memiliki pengetahuan nyata tentang pelaku pemboman itu."

Mantan agen Mossad, Victor Ostrovsky, dalam bukunya yang sangat terkenal, "By Way of Deception" menyatakan bahwa Mossad sebenarnya mengetahui informasi mengenai rencana serangan tersebut, namun mereka sangaja menyembunyikan informasi itu dan tidak membaginya dengan inteligen Amerika. Menurut Victor pimpinan Mossad kala itu, Nahum Admoni menganggap tidak perlu membagi informasi kepada Amerika karena kewajiban Mossad hanya melindungi kepentingan Israel, bukan Amerika. Lebih jauh Victor menambahkan bahwa di kalangan perwira intel Israel terdapat pandangan bahwa, "jika Amerika telah memutuskan untuk terjun di Lebanon, maka biarkanlah merasakan sendiri pahitnya."

Untuk memahami hal ini memang diperlukan pengetahuan mengenai kharakter dan watak orang-orang yahudi. Dengan kecerdasan dan kekuasaannya yang dimiliki, orang-orang yahudi memang cenderung tidak menghargai orang lain (non yahudi), bahkan termasuk terhadap sekutu terpercayanya sekalipun. Terkadang hal itu menjadi "keisengan" mereka untuk mempermainkan orang lain, hanya untuk menunjukkan keunggulan mereka atas orang lain.

Maka kita bisa menyaksikan dedengkot Al Qaida Ayman Al-Zawahiri berpose di depan kain bermotif simbol negara Israel, Bintang Daud. Boleh jadi itu ketidak sangajaan. Namun sangat boleh jadi itu memang kesengajaan orang-orang Mossad untuk menunjukkan kepada semua orang bahwa mereka-lah yang sebenarnya pengendali segalanya.


Sumber: "1983 Beirut barracks bombing"; Wikipedia.

KALAH DI AFGHANISTAN, AS DEKATI UZBEKISTAN


Pemerintah Amerika kini tengah berupaya mendapatkan ijin Congress untuk memberikan bantuan ekonomi dan militer kepada diktator Uzbekistan yang memiliki catatan hitam pelanggaran HAM, Presiden Karimov. Para pengamat percaya, langkah tersebut merupakan satu indikasi kuat Amerika berupaya mencari jalan aman penarikan pasukannya dari Afghanistan. Dengan kata lain, Amerika dan sekutunya telah kalah dalam Perang Afghanistan.

Bahkan presiden George "Dubya" Bush, Jr. menghentikan kerjasama dengan Karimov setelah ia membantai rakyatnya sendiri di Andijan tahun 2005. Karimov patut berterima kasih kepada nabi pujaan orang-orang liberal idiot, Barack Obama. Namun sayangnya dengan mempromosikan regim diktator semacam Karimov, Amerika dan sekutunya tidak mendapatkan apa yang menjadi tujuannya dalam jangka panjang. Seperti Mubarak dan diktator sekutu lainnya, ia hanya menunggu waktu untuk tumbang dan melahirkan ketidakstabilan baru di kawasan. Namun dengan mendesaknya keadaan, seluruh pertimbangan rasiona diabaikan.

Setelah menduduki Afghanistan selama 10 tahun dengan 180.000 pasukan kini berada di sana plus dana miliaran dollar yang dikucurkan setiap tahunnya, Amerika dan sekutunya bahkan tidak sanggup menguasai sepenuhnya ibukota Kabul. Serangan-serangan gerilyawan Afghanistan yang semakin sering terjadi di Kabul, terakhir serangan terhadap Kedubes Amerika dan Konsulat Inggris di Kabul, cukup membuktikan bahwa Amerika dan sekutunya telah kalah.

Menyadari kekalahan, kini satu-satunya pikiran Amerika dan sekutunya adalah menarik ribuan personil militer dan perlengkapannya yang luar biasa besar yang tidak mungkin diangkut melalui udara kecuali dengan jalan darat. Melalui Pakistan bukanlah ide yang baik, karena konvoi akan menjadi sasaran empuk gerilyawan di Celah Bolan dan Khaiber sebagaimana pasukan Inggris dan Sovyet yang mundur dari Afghanistan di masa lalu. Jadi mereka harus melalui Uzbekistan. Dan untuk itu Amerika harus menyuap Karimov.


Sumber:
"Losing Afghanistan, Losing Central Asia"; Craig Murray; craigmurray.org; 20 September 2011

PICU KEKHAWATIRAN, AS KIRIM BOM PENGHANCUR BUNKER KE ISRAEL


Kalangan inteligen dan para pemimpin negara-negara Timur Tengah kini dalam kondisi ketegangan yang meningkat tajam menyusul bocornya berita tentang pengiriman bom penghancur bunker bawah tanah Amerka ke Israel. Pengiriman ini dianggap semakin meningkatkan kemungkinan serangan Israel terhadap Iran yang dikhawatirkan mengobarkan peperangan lebih luas di kawasan Timur Tengah. Kekhawatiran itu bahkan terjadi di Israel sendiri.

Surat kabar terbesar Israel, Haaretz beberapa hari terakhir menulis laporan mengenai pengiriman bom tersebut dan implikasinya terhadap keamanan Israel.

"Netanyahu mungkin akan menyerang Iran," kata seorang narasumber Haaretz.

"Netanyahu harus dicegah untuk menyerang Iran," kata narasumber lainnya.

Israel sebenarnya telah menerima pengiriman 55 bom penghancur bunker GBU-28 Hard Target Penetrators itu secara rahasia tahun 2009. Namun meski ambisi Netanyahu yang diketahui publik sangat besar untuk menyerang Iran, masih tertahan selama ini, terutama karena adanya penentangan dari publik dan sebagian pejabat militer dan inteligen Israel sendiri. Namun, kemungkinan serangan itu tetap besar.

Meir Dagan, mantan direktur Mossad yang pensiun Januari lalu mengatakan, para komandan militer yang menentang rencana serangan terhadap Iran kini telah dipecat atau pensiun. Dari 18 mantan kepala staff angkatan bersenjata yang masih hidup, 8 di antaranya menyatakan penentangannya terhadap serangan Iran. Di antara mereka adalah Yuval Diskin yang terakhir menjabat sebagai Direktur General Security Service, serta Letjend Gabi Ashkenazi, mantan panglima angkatan bersenjata yang baru saja pensiun tahun ini. Selain itu 6 mantan kepala staff lainnya tidak bersedia menyatakan pendapatnya.

Hanya 2 orang yang mendukung rencana itu, Menhan Ehud Barak (yang juga mantan PM) serta Moshe Yaalon, yang kini menjadi menteri urusan Hubungan Strategis kabinet Netanyahu.

Dagan, yang dikenal keras terhadap lawan-lawan Israel, telah menyampaikan penentangannya secara terbuka terhadap rencana serangan atas Iran dengan menyebutnya sebagai "hal paling bodoh yang pernah saya dengar.” Menurut Dagan dengan serangan itu Netanyahu dan Barak akan memerosokkan Israel ke dalam petualangan militer yang berbahaya yang akan memicu perang besar di kawasan dan bisa mengancam eksistensi Israel sendiri.

"Saya memutuskan untuk berbicara karena saat saya masih aktif, Diskin, Ashkenazi dan saya bisa mencegah setiap petualangan berbahaya. Kini saya takut tidak ada lagi yang bisa mencegah Bibi (Netanyahu) dan Barak,” kata Dagan kepada pers beberapa waktu lalu.

“Netanyahu sangat serius dengan keinginannya itu (untuk menyerang Iran). Dan dalam persiapannya ia telah menyingkirkan berbagai penentangan di kalangan pejabat keamanan. Beberapa pejabat di lingkaran kekuasaan bahkan menyebutkan misi penyerangan itu sebagai tugas suci: menyerang Iran sebelum musim hujan," kata seorang narasumber di Haaretz.

Israel telah mendesak Amerika untuk memberikan rudal-rudal GBU-28 sejak tahun 2005, namun Amerika khawatir Israel akan menjual teknologinya ke Cina. Bahkan presiden Bush telah memberikan sanksi kepada perusahaan penjual teknologi ke Cina itu. Namun Obama menyetujui permintaan Israel itu sejak menjabat sebagai presiden. Meski demikian, baik Bush dan Obama menentang rencana serangan Israel terhadap Iran.

Pada tgl 18 November 2009, sebuah informasi yang bocor menyebutkan adanya pertemuan antara komandan bersenjata Israel-Amerika. "Kedua pihak membicarakan rencana pengiriman GBU-28 ke Israel, menetapkan bahwa pengiriman itu harus dilakukan secara rahasia untuk mencegah kesan pemerintah Amerika membantu Israel menyiapkan serangan atas Iran."

Adalah bukan kebetulan kalau seminggu kemudian Netanyahu membekukan pembangunan pemukiman yahudi selama 10 bulan atas permintaan Obama demi melanjutkan proses perdamaian Palestina-Israel.

Lalu mengapa pengiriman tersebut bocor ke publik? Ada beberapa kemungkinan. Pertama adalah Amerika ingin menyenangkan Israel dengan membuatnya merasa lebih aman. Kedua adalah untuk menggertak Iran agar segera menghentikan program nuklirnya setelah mengetahui Israel memiliki senjata yang bisa menghancurkan fasilitas nuklir mereka. Adapun alasan lainnya lagi adalah agar Obama mendapat dukungan komunitas yahudi dalam kampanye kepresidenan tahun depan.

Yang pasti, meski hubungan diplomatik Israel-Amerika terasa tegang akhir-akhir ini terkait proses perdamaian Israel-Palestina yang selalu dimentahkan Israel, hubungan militer kedua negara justru semakin kuat.

Sunday, 2 October 2011

Iran, Rusia, China Bangun Sistem Pertahananan Rudal Bersama


Berbagai sumber inteligen, terutama di Iran, mengungkapkan bahwa Iran bersama-sama dengan Cina dan Rusia kini tengah mengkaji pembangunan sistem pertahanan rudal bersama sebagai tandingan atas pembangunan sistem sejenis oleh Amerika dan NATO.

Sebagaimana dilansir oleh media massa Iran, "Kayhan", minggu lalu, sumber informasi tersebut menyebutkan alasan yang mendasari pemikiran pembangunan sistem pertahanan rudal bersama Iran-Cina-Rusia. Ketiga negara menyimpulkan pembangunan sistem pertahanan rudal Amerika dan NATO di Eropa Timur dan Turki serta rencana mengembangkan sistem sejenis di Korea dan Jepang merupakan ancaman langsung terhadap Cina dan Rusia meski para pejabat Amerika dan NATO menyatakan pembangunan itu ditujukan kepada Iran dan Korea Utara.

Cina adalah negara terakhir blok Iran-Rusia-Cina yang menyadari ancaman tersebut setelah Amerika merencanakan pembangunan sitem pertahanan rudal di Korea dan Jepang. Para analis Rusia dan Iran telah lebih dahulu menyadari ancaman tersebut, diekspresikan dalam kunjungan Menhan Rusia Nikolai Patrushev ke Iran baru-baru ini.

Beberapa sumber menyebutkan utusan Rusia untuk NATO, Dmitry Rogozin, yang akan berkunjung ke Iran awal bulan ini kemungkinan akan mengadakan pembicaraan dengan pajabat-pejabat Iran perihal rencana tersebut.

Para pengamat militer percaya dengan isu tersebut mengingat adanya perkembangan signifikan di antara Iran, Rusia dan Cina dalam teknologi sistem pertahanan udara. Pembangunan sistem seperti itu bukan lagi masalah bagi mereka.


Sumber:
"Iran, Russia, China Mulling Joint Missile Sheild"; Tehran Times; 25 September 2011

MEARSHEIMER-ATZMON VS ZIONIS


Tidak ada diskusi ilmiah yang lebih ramai saat ini di kalangan intelektual barat daripada tentang yahudi, zionisme dan teori konspirasi. Meski orang-orang yahudi telah berupaya keras untuk menutup-nutupi dominasi jahat mereka terhadap umat manusia, semua itu terungkap dengan cara-cara yang tidak mereka duga. Di antaranya buku "Wandering Who" yang ditulis oleh Gilad Atzmon. Siapa sangka, Gilad, seorang zionis tulen dan mantan anggota angkatan bersenjata Israel itu akan menjadi seorang pembela Palestina yang anti-Israel/zionisme/yahudi.

“Gilad Atzmon telah menulis buku yang mengagumkan dan provokatif tentang identitas yahudi di dunia modern. Ia menunjukkan betapa asimilasi dan liberalisme telah membuat orang-orang yahudi dalam diaspora mengalami kesulitan yang semakin meningkat untuk menjaga identitas keyahudian mereka yang kuat. Para pemimpin yahudi yang panik, tulis Gilad, kemudian berubah menjadi penganut zionisme (ketaatan buta kepada Israel) dan mengobarkan trauma bahwa bencana bakal menimpa kembali pada orang-orang yahudi, demi menjaga orang-orang yahudi bersatu dan tetap berbeda dengan orang-orang non-yahudi di sekeliling mereka. Sebagaimana ditunjukkan Gilad, strategi ini telah gagal dan membuat banyak orang-orang yahudi putus asa dan marah. Buku ini tidak hanya harus dibaca oleh orang-orang yahudi, namun juga oleh orang-orang yahudi," demikian komentar Profesor John Mearsheimer (salah seorang penulis buku tentang lobi yahudi Amerika yang menggemparkan kalangan intelektual beberapa waktu lalu), yang menulis komentar di buku "Wandering Who".

Seperti biasa, orang-orang yahudi zionis (Atzmon dan Mearsheimer adalah orang-orang yahudi anti-zionisme, prosentase mereka sangat-sangat kecil di antara orang yahudi) di seluruh dunia melakukan kampanye besar-besaran dan sistematis untuk mendeskreditkan karya ilmiah tersebut. Dan seperti biasa pula kampanye itu sangat kotor dan keji. Namun sebagaimana kegagalan kampanye mereka mendeskreditkan Rachel Ray dan kafiyeh ---host televisi terkenal Rachel Ray pernah diprotes orang-orang yahudi karena mengenakan kafiyeh (kain selendang khas Palestina) dalam iklan sebuah produk makanan. Demikian kuat protes itu hingga memaksa Rachel Ray meminta ma'af dan iklan tersebut ditarik dari peredaran. Namun kafiyeh justru semakin mendunia, menjadi mode yang diikuti oleh semua kalangan di seluruh dunia, termasuk para selebritis Hollywood. Saya tidak tahu apakah Rachel orang yahudi, yang pasti nama itu diambil dari salah satu kitab sucinya orang Yahudi yang disucikan pula oleh orang-orang Kristen yaitu Perjanjian Lama---. mereka juga gagal mendeskreditkan Gilad dan karyanya.

Salah satu yahudi zionis yang menyerang karya Gilad Atzmon adalah Jeffrey Goldberg. Alih-alih memberikan argumentasi ilmiah serta fokus pada isi tulisan Gilad, Jeffrey melakukan tuduhan-tuduhan pribadi yang sama sekali tidak ilmiah, seperti tuduhan anti-semit, pengikut teori konspirasi, neo-nazi, penolak-holocoust dlsb. Padahal dalam bukunya Gilad menulis:

"Pada saat saya muda, saya juga merasa trauma dengan holocoust. Pada th 1970-an banyak dari para korban selamat holocoust yang menjadi bagian dalam kehidupan sosial kami. Mereka menjadi tetangga kami, kami bertemu dalam acara-acara pertemuan keluarga, di kelas-kelas, di panggung politik, di toko ujung jalan. Tatto angka-angka berwarna gelap di lengan mereka yang putih tidak pernah hilang, selalu menimbulkan efek yang mengerikan. Namun hal itu juga, internasionalisasi makna holocoust, yang menjadikan saya penentang kuat Israel dan keyahudian. Holocoust-lah yang membuat saya kemudian menjadi pendukung teguh hak-hak rakyat Palestina, perlawanan (terhadap Israel), hak kembali rakyat Palestina ke tanah airnya."

Dan ironisnya Jeffrey Goldberg, seorang mantan penjaga kamp konsentrasi Israel atas tahanan politik Palestina, menuduh Gilad sebagai "pecinta Hitler" dan penolak "mitos" holocoust. Pada akhir dekade 1980-an dan pada saat terjadi peristiwa Intifada I, Jeffrey, seorang remaja yahudi Amerika, terbang ke Israel untuk mengabdi kepada ibu pertiwi. Ia bergabung ke dalam angkatan perang Israel dengan tugas menjadi penjaga penjara yang menampung tahanan politik rakyat Palestina.

Meski percaya holocoust benar-benar terjadi (berbeda dengan kalangan revisionis yang menolak holocoust dan menganggapnya sebagai tipuan yahudi), Gilad menuding holocoust telah disalahgunakan oleh kalangan yahudi, yaitu untuk menjustifikasi kebrutalan Israel atas rakyat Palestina serta untuk membungkam mereka yang kritis terhadap Israel. Gilad juga menganggap holocoust bukan peristiwa yang lebih istimewa dari peristiwa-peristiwa tragedi kemanusiaan lainnya.

Lebih jauh Gilad menulis: "Benar bahwa saya, dari perspektif idiologi, menganggap Israel jauh lebih jahat dari Nazi Jerman. Dan, karena berbeda dengan Nazi Jerman dalam hal bangsa Israel yang lebih demokratis, rakyat Israel turut terlibat dalam kejahatan negaranya."

Gilad Atzmon yang kini tinggal di Inggris sebagai musisi jazz dan penulis, selain aktifitasnya sebagai pembela hak-hak rakyat Palestina, dengan lantang mengaku sebagai yahudi pembenci yahudi. Namun ia tidak malu, karena hal ini merupakan sebuah tradisi lama dimana orang-orang yahudi yang sadar dengan kejahatan kaumnya, menjadi pembenci bangsanya sendiri. Termasuk di dalam daftar ini adalah filsuf Karl Marx dan Spinoza. Gilad percaya yahudi bukan "bangsa terpilih" yang harus dipandang lebih istimewa dari bangsa-bangsa lainnya.



Sumber:
"Mearsheimer Responds to Goldberg’s Latest Smear"; Stephen M. Walt; thetruthseeker.co.uk; 26 September 2011

SYRIA BERJAYA, TURKI PECUNDANG


Keterangan gambar: ribuan pendukung regim Bashar Al Assad membentangkan bendera Syria berukuran raksasa. Tidak pernah dimuat di media-media massa barat dan variannya di seluruh dunia termasuk Indonesia.


Syria akan selamat dari upaya penghancuran yang dilakukan aliansi Amerika-Israel-Arab, dan sebaliknya Turki akan menjadi pecundang. Demikian komentar politisi senior Lebanon, pimpinan blok Al-Chagila Assembly, Zaher Khatib, dalam wawancara dengan situs almanarcom..lb bulan lalu.

Menurut Khatib Turki telah memainkan agenda tersembunyi dengan tindakannya "berseteru" dengan Israel. Hal itu, menurutnya hanya tipuan untuk meningkatkan image Turki di mata negara-negara muslim di dunia, sekaligus meningkatkan tekanannya kepada Syria. (Catatan blogger: Turki hanya menurunkan tingkat hubungan diplomatiknya dengan Israel setelah Israel menolak meminta ma'af setelah serangan terhadap kapal Turki Mavi Marmara. Sementara terhadap Syria yang tidak pernah merugikannya, Turki memutuskan total hubungan diplomatiknya).

Yang membuat Khatib yakin dengan prediksinya adalah adanya perubahan perimbangan kekuatan baru di kawasan ini di mana kekuatan anti Amerika-Israel telah menjadi pemenang.

Menurutnya Syria menjadi sasaran aliansi zionis-regim-regim Arab oportunis karena perlawanannya terhadap agenda dominasi zionis-Amerika di kawasan itu. Namun Syria, bersama Lebanon telah menjadi satu kekuatan politik yang solid menghadapi Israel dan Amerika sebagaimana mereka bersatu dalam perlawanannya terhadap kolonialisme Perancis.


ASSAD KOOPERATIF, NAMUN ....

Menurut Khatib Presiden Syria Bashar al Assad telah memenuhi tuntutan reformasi, namun kampanye penghancuran Syria terus saja terjadi, mengungkapkan agenda sebenarnya dari kampanye itu, yaitu penggantian regim berkuasa Syria dengan regim baru yang "kooperatif" dengan kepentingan zionis-Amerika.

Di antara program reformasi yang telah dijalankan Assad adalah pencabutan status darurat, penerapan undang-undang pemilihan umum baru, serta penerapan undang-undang pers yang demokratis, beberapa program yang masih menjadi impian di negara-negara Arab oportunis seperti Saudi Wahabiah, Kuwait, Qatar, Bahrain, Yaman dan lain-lainnya. Khalid juga mengingatkan bahwa Assad telah mengadakan dialog nasional dengan kalangan oposisi.


PERIMBANGAN KEKUATAN KAWASAN MENDUKUNG SYRIA

Sembari mengingatkan bahwa jumlah rakyat Syria yang menentang pemerintahan Assad relatif kecil dibandingkan 23 juta rakyat Syria, Syria akan tetap solid menghadapi kampanye penghancuran yang dilakukan aliansi zionis-Arab opportunis. Selain aliansi rakyat Syria dengan rakyat Lebanon dalam perlawanannya terhadap zionis Israel, secara eksternal Syria juga masih mendapat dukungan beberapa kekuatan internasional seperti Iran, Rusia, Cina, India, Brazil, dan Venezuela.


TURKI HANYA "BERSOLEK"

Menurut Khatib perseteruan yang dilancarkan Turki terhadap Israel hanyalah sandiwara belaka untuk meningkatkan image Turki. Hal ini dibuktikan oleh fakta bahwa peristiwa serangan Israel atas kapal Mavi Marmara yang menjadi pemicu perseteruan Turki-Israel sudah terjadi setahun lebih, sementara selama itu Turki tidak melakukan tindakan nyata apapun. Keputusan Turki untuk "berpura-pura" berseteru dengan Israel juga bersamaan dengan kesepakatan Turki untuk mengijinkan pembangunan sistem pertahanan rudal NATO di wilayahnya, hal yang membuat image Turki memburuk di mata negara-negara muslim kecuali dipoles dengan sandiwara perseteruan dengan Israel.

Khatib menyatakan bahwa dalam hal ini Turki bermaksud menjalankan agenda barat untuk menjadikan Turki sebagai "pengawas" terhadap negara-negara Arab dan dunia Islam.

"Turki tidak akan mendapatkan apa-apa kecuali kekecewaan," kata Khatib.


Sumber:
"Khatib: Syria Will Not Fall… Turkey Will Lose!", almanar.com.lb; 8 September 2011

TURKI BURU PEMBUNUH PENUMPANG MAVI MARMARA DI ISRAEL


Para pejabat inteligen Turki telah mengirimkan ke Kejaksaan Agung daftar nama 174 warga Israel, sebagian besar tentara, yang terlibat dalam pembunuhan atas warga Turki penumpang kapal Mavi Marmara tahun 2010. PM Israel Benjamin "Bibi" Netanyahu berada di urutan teratas daftar itu sebagai orang yang paling bertanggungjawab. Demikian laporan media massa Turki Sabah, Senin (25/9).

Koran Turki lainnya, Zaman, bahkan menambahkan bahwa inteligen Turki juga telah melakukan operasi di Israel untuk melacak nama-nama tersebut.

Pemerintah Turki membantah telah meminta badan inteligen negara, National Intelligence Organization (MIT) melakukan operasi inteligen di Israel. Namun deputi Jaksa Agung mengkonfirmasi bahwa seorang pengacara dari organiser flotilla bantuan Gaza dimana Mavi Marmara bergabung, telah menyerahkand daftar nama para tersangka pembunuhan Mavi Marmara kepada kejaksaan Agung Turki, dan kini tengah dalam pembahasan mendalam.

Komisi Turkel yang dibentuk pemerintah Turki untuk menyelidiki tragedi Mavi Marmara telah meminta kepada penuntut militer bukti-bukti material terkait dengan insiden tersebut. Komisi juga meminta dibukanya file-file terkait dengan kemungkinan terjadinya pelanggaran hukum perang akibat adanya korban sipil dan tewas dan luka-luka.

Menurut laporan Sabah, para tersangka serangan Mavi Marmara teridentifikasi dari foto-foto dan gambar rekaman kejadin yang beredar di berbagai media massa.

"Hampir seluruh serdadu Israel yang terlibat dalam pembunuhan 9 warga Turki dan melukai 30 lainnya, telah teridentifikasi," demikian bunyi laporan Sabah.

Sementara itu pemerintah Israel telah menolak permintaan otoritas hukum Turki untuk mengeluarkan daftar individu-individu yang terlibat dalam operasi militer Israel atas Mavi Marmara yang berbuah pada tewasnya 9 warga Turki dan seorang warga Amerika keturunan Turki itu. Ini memaksa inteligen Turki bekerja keras untuk mencari identitas mereka. Situs jejaring sosial Facebook dan Twitter bahkan digunakan untuk upaya itu.

Tim penyidik Turki telah meneliti daftar nama anggota pasukan komando elit AL Israel, Shayetet 13, yang diduga terlibat dalam aksi kekerasan tersebut yang menewaskan 9 warga Turki. Mereka juga telah mencocokkan identitas mereka dengan gambar-gambar yang beredar di media massa. Lebih jauh juga telah meneliti korespondensi yang dilakukan para serdadu yang diduga terlibat demi mengkonfirmasi keterlibatan mereka. Daftar nama yang dikirimkan IHH selaku organiser flotilla, tentu saja menjadi pertimbangan penting.


Lieberman dan Barak Juga Masuk Daftar

Menurut laporan Sabah, para jaksa Turki bermaksud akan meminta otoritas hukum Israel untuk memverifikasi apakah daftar nama 174 tersangka, termasuk 140 foto mereka, benar-benar terlibat dalam insiden berdarah tersebut. Di antara mereka yang diduga menjadi pengambil keputusan tertinggi penyerangan tentara Israel atas Mavi Marmara, masuk dalam daftar teratas. Selain Netanyahu, juga menlu Avigdor Lieberman serta menhan Ehud Barak.

"Seluruh anggota kabinet Israel turut bertanggungjawab atas keputusan itu," lapor Sabah.

Lebih jauh laporan Sabah menyebutkan nama-nama lain para pejabat Israel yang terlibat, di antaranya mantan panglima angkatan bersenjata Gabi Ashkenazi, mantan kastaf AL Eliezer Marom, mantan kepala inteligen militer Amos Yadlin.


Sumber: ynetnews.com; 26 September 2011

AIR MATA BUAYA PARA POLITISI AS



Mantan presiden AS, Bill Clinton, terkenal dengan kepandaiannya bersandiwara. Pada upacara pemakaman menteri perdagangan dalam kabinetnya, Ron Brown, ia tampak bergurau dengan orang-orang di sekitarnya. Namun setelah menyadari dirinya tengah disorot kamera, ia langsung mengubah mimik sedih lengkap dengan air mata yang menetes dari matanya.

(Ron Brown adalah menteri yang pada saat kematian tengah tersandung kasus korupsi dan menjalani pemeriksaan oleh penyidik federal. Ia sempat berkoar bahwa ia tidak ingin "tenggelam sendirian", mengisyaratkan akan menyeret bosnya, Bill Clinton. Sehari kemudian ia tewas dalam kecelakaan pesawat terbang secara misterius).

Hal hampir sama dilakukan Bill Clinton pada upacara penghargaan kepada korban Tragedi WTC Penerbangan 93 tgl 11 September lalu. Namun kali ini ia tidak menjadi aktor sandiwara sendirian. Ia ditemani penggantinya George "Dubya" Bush Jr dan istrinya Laura Bush serta para politisi Amerika lainnya. Mereka beramai-ramai mengeluarkan air mata buaya. Hanya saja George Bush tidak seahli Clinton. Ia tampak kesulitan mengeluarkan mimik sedih-nya. Mungkin karena kutukan nuraninya sendiri terhadapnya sebagai salah satu aktor utama pelaku kejahatan Tragedi WTC.

Namun inilah tragedi yang sebenarnya, saat para penjahat muncul sebagai pehlawan dan media massa melaporkan itu semua tanpa mengajukan sedikit pun pertanyaan tentang berbagai keanehan yang melingkupi peristiwa Tragedi WTC 10 tahun lalu.

Wednesday, 28 September 2011

HADAPI TURKI, ISRAEL BENTUK PAKTA PERTAHANAN DENGAN YUNANI


Mengantisipasi ancaman militer Turki, Israel membangun pakta pertahanan bersama Yunani, musuh tradisional Turki. Pakta tersebut diam-diam telah ditandatangani kedua negara pertengahan September lalu, pada saat Turki mengerahkan angkatan udara dan lautnya di kawasan timur Laut Tengah.

Sumber-sumber inteligen terpercaya menyebutkan pakta tersebut disetujui setelah pembicaraan telpon intensif antara PM Israel Benjamin Netanyahu dengan PM Yunani George Papandreou, Rabu malam 14 September lalu. Sebelumnya Netahnyahu telah meminta persetujuan kabinetnya melalui sidang khusus kabinet yang diperluas dengan 8 pejabat penting lainnya.

Dalam pembicaraan itu PM Yunani menyampaikan kekhawatirannya atas pergerakan militer Turki di wilayah yang berdekatan dengan wilayah Yunani. Di antaranya adalah pergerakan armada laut Turki di perairan Laut Aegean dan Laut Tengah bagian timur. Ia terutama terkejut dengan peningkatan aktifitas pesawat-pesawat pengintai Turki di sekitar pulau Kastelorizo, timur Laut Tenah yang hanya berjarak 2 km dari pantai Turki. Pesawat-pesawat mata-mata itu dikawal pesawat temur.

Yunani khawatir dengan serangan Turki atas pulau berpenghuni kurang dari 1.000 jiwa itu. Israel sendiri mensinyalir serangan Turki atas pulau-pulau Yunani merupakan strategi militer Turki untuk menyerang ladang minyak dan gas Israel yang terletak antara Israel dan Siprus. Papandreou mengatakan Turki mampu melakukan serangan dadakan atas Yunani, terutama atas pulau-pulau Yunani yang berdekatan dengan wilayah Turki.

Turki akan beralasan bahwa Israel dan Siprus tidak berhak menduduki dan mengeksploitasi sumber-sumber minyak dan gas di perairan timur Laut Tengah (sebuah kawasan kaya minyak yang dikenal dengan sebutan Block 12) tanpa persetujuan Siprus Turki (Republik Turki Siprus Utara). Turki juga mendukung klaim Lebanon atas ladang-ladang minyak itu. Perundingan antara Lebanon dan Cyprus atas masalah ini mengalami kebuntuan setelah Lebanon menolak keterlibatan Israel yang dianggap telah merampok wilayahnya.

Menurut sumber inteligen dalam tahap awal Israel akan menempatkan angkatan laut dan udaranya di dua pangkalan militer di Yunani. Dinas inteligen kedua negara juga telah saling berbagi informasi.

Sebelum adanya pakta ini, Israel hanya bisa menyerang Turki dari negerinya sendiri. Namun dengan adanya pakta ini Israel bisa menyerang Turki dari belakang.

Pada 12 September lalu Turki mendiktekan 2 kondisi yang harus dipatuhi Israel untuk menghindari perang:

1. Kapal-kapal Isrel dilarang melakukan aksi militer terhadap kapal-kapal Turki yang berlayar ke Gaza.

2. Kapal-kapal perang Isrrael yang melintasi 12 mil laut dari perairan Israel akan dihadang oleh oleh kapal perang Turki yang telah mendapat perintah untuk melumpuhkan persenjataan kapal Israel.

Ancaman itu tidak hanya mencakup kapal-kapal yang berlayar ke Gaza, namun juga wilayah ladang minyak yang diklaim Israel yang terletak 60 mil dari lepas pantai Israel.

Pemerintah Israel sejauh ini tidak menanggapi "ancaman" Turki. Menanggapi pergerakan militer Turki tgl 14 September lalu pemerintah Israel menyatakan akan berupaya "menahan diri".

Amerika dan NATO menanggapi serius perkembangan politik dan militer antara Turki, Israel, Yunani dan Siprus. Namun Israel dan Yunani memutuskan melakukan langkah tanpa meminta persetujuan Amerika, karena mereka menyadari bahwa ancaman Turki sangat serius.


SUMBER:
"Israeli-Greek defense pact invoked versus Turkish naval and air movements"; DEBKAfile; 15 September 2011

TEROR KARTEL NARKOBA UNTUK RAKYAT MEXICO


Ulah geng-geng narkoba Mexico sudah di luar kendali. Ribuan orang tewas setiap tahunnya karena ulah mereka meski pemerintah Mexico sudah habis-habisan berusaha menghancurkan mereka dengan mengerahkan puluhan ribu aparat keamanan dan tentara untuk memerangi mereka. Terima kasih pada senjata-senjata yang dijual oleh inteligen Amerika dan Israel kepada geng-geng narkoba itu.

Dan yang membuat keadaan semakin menyedihkan adalah bahwa geng-geng narkoba itu tidak hanya membunuh orang-orang yang dianggap mengancam bisnis mereka, mereka menggunakan pembunuhan itu sebagai senjata terror. Pembunuhan-pembunuhan yang mereka lakukan dilakukan dengan cara-cara biadab dan di luar perikemanusiaan. Namun untuk kali ini mereka sasaran khusus: para aktifis jejaring sosial yang aktif menyuarakan kampanye anti geng narkoba.

Pada tgl 14 September lalu para aktifis jejaring sosial anti-narkoba mendapat pesan khusus dari geng-geng narkoba, yaitu berupa potongan tubuh manusia yang digantung di bawah jembatan di wilayah Nuevo Laredo, dengan pesan khusus tertulis di atas plakard.

"Ini akan terjadi pada siapa saja yang menuliskan kata-kata mainan di internet. Anda sebaiknya memperhatikan ini karena kami akan menemukan Anda," demikian pesan yang tertulis di potongan mayat itu.

Pesan itu memberikan dampak mengerikan pada saat jejaring sosial internet menjadi media yang ampuh untuk menyuarakan aspirasi masyarakat menentang penggunaan narkoba serta tingkah para anggota geng narkoba. Di beberapa bagian negeri itu, ancaman serius geng-geng narkoba cukup untuk menghentikan suara media massa lokal, bahkan aparat keamanan setempat. Sudah menjadi keseharian di Mexico bahwa geng-geng narkoba itu membunuh korban dan membuang mayatnya yang telah dimutilasi di tempat-tempat umum yang bisa dilihat sasaran mereka, termasuk di depan kantor polisi atau kantor media massa. Mereka juga sering menggantung korbannya di bawah jembatan. Korban-korban itu tidak hanya rakyat sipil, namun juga wartawan, aparat penegak hukum, termasuk jendral AD yang memimpin unit khusus pemberantasan narkoba.

Para blogger yang sering membagi informasi tentang peredaran obat terlarang telah lama mendapat ancaman pembunuhan. Namun inilah kali pertama ancaman ditujukan kepada para aktifis situs jejarang sosial seperti Twitter dan Facebook.

Tidak ada saksi mata atas aksi biadab geng narkoba yang telah menggantung mayat korbannya di jembatan Nuevo Laredo sehingga hampir mustahil untuk mengadili pelakunya.

Masih belum jelas apakah dua mayat korban mutilasi yang tergantung itu adalah aktifis jejaring sosial yang sering menyuarakan kampanye anti narkoba karena biasanya mereka menggunakan nama samaran.

Dalam plakard yang terikat pada mayat tersebut tertulis dua blog yang dianggap memusuhi geng narkoba, yaitu blog "Al Rojo Vivo" dan "Blog del Narco". Terdapat tanda "Z" dalam plakard itu, kemungkinan menunjukkan nama geng narkoba yang beroperasi di wilayah itu, yaitu geng Zetas.

Blog del Narco adalah blog yang khusus mempostingkan berita-berita dan artikel tentang kejahatan narkoba di Mexico. Penulisnya tidak diketahui namanya.

Dalam forum "Al Rojo Vivo" dimana orang bisa menuliskan komentar dengan nama tersembunyi, seseorang menulis: "Jangan takut untuk mengutuk kejahatan ini. Adalah mustahil bagi mereka untuk menemukan kita. Mereka hanya menakut-nakuti masyarakat."

Seorang Twitter menuliskan komentarnya: "Cukup! Jika kita bungkam sekarang, kita akan kehilangan kemenangan yang telah kita raih selama ini. Kinilah saatnya kita menunjukkan kepada mereka apa yang telah kita lakukan."

Laporan resmi pemerintah Mexico menyebutkan sampai bulan Januari lalu lebih dari 34.000 orang tewas selama kampanye anti-narkoba yang dilancarkan Presiden Felipe Calderon sejak Desember 2006. Laporan-laporan lain menyebutkan angka yang lebih tinggi.


Sumber:
"Bodies hanging from bridge in Mexico are warning to social media users"; Mariano Castillo; CNN.com; 15 September 2011