Sunday, 2 October 2011

MEARSHEIMER-ATZMON VS ZIONIS


Tidak ada diskusi ilmiah yang lebih ramai saat ini di kalangan intelektual barat daripada tentang yahudi, zionisme dan teori konspirasi. Meski orang-orang yahudi telah berupaya keras untuk menutup-nutupi dominasi jahat mereka terhadap umat manusia, semua itu terungkap dengan cara-cara yang tidak mereka duga. Di antaranya buku "Wandering Who" yang ditulis oleh Gilad Atzmon. Siapa sangka, Gilad, seorang zionis tulen dan mantan anggota angkatan bersenjata Israel itu akan menjadi seorang pembela Palestina yang anti-Israel/zionisme/yahudi.

“Gilad Atzmon telah menulis buku yang mengagumkan dan provokatif tentang identitas yahudi di dunia modern. Ia menunjukkan betapa asimilasi dan liberalisme telah membuat orang-orang yahudi dalam diaspora mengalami kesulitan yang semakin meningkat untuk menjaga identitas keyahudian mereka yang kuat. Para pemimpin yahudi yang panik, tulis Gilad, kemudian berubah menjadi penganut zionisme (ketaatan buta kepada Israel) dan mengobarkan trauma bahwa bencana bakal menimpa kembali pada orang-orang yahudi, demi menjaga orang-orang yahudi bersatu dan tetap berbeda dengan orang-orang non-yahudi di sekeliling mereka. Sebagaimana ditunjukkan Gilad, strategi ini telah gagal dan membuat banyak orang-orang yahudi putus asa dan marah. Buku ini tidak hanya harus dibaca oleh orang-orang yahudi, namun juga oleh orang-orang yahudi," demikian komentar Profesor John Mearsheimer (salah seorang penulis buku tentang lobi yahudi Amerika yang menggemparkan kalangan intelektual beberapa waktu lalu), yang menulis komentar di buku "Wandering Who".

Seperti biasa, orang-orang yahudi zionis (Atzmon dan Mearsheimer adalah orang-orang yahudi anti-zionisme, prosentase mereka sangat-sangat kecil di antara orang yahudi) di seluruh dunia melakukan kampanye besar-besaran dan sistematis untuk mendeskreditkan karya ilmiah tersebut. Dan seperti biasa pula kampanye itu sangat kotor dan keji. Namun sebagaimana kegagalan kampanye mereka mendeskreditkan Rachel Ray dan kafiyeh ---host televisi terkenal Rachel Ray pernah diprotes orang-orang yahudi karena mengenakan kafiyeh (kain selendang khas Palestina) dalam iklan sebuah produk makanan. Demikian kuat protes itu hingga memaksa Rachel Ray meminta ma'af dan iklan tersebut ditarik dari peredaran. Namun kafiyeh justru semakin mendunia, menjadi mode yang diikuti oleh semua kalangan di seluruh dunia, termasuk para selebritis Hollywood. Saya tidak tahu apakah Rachel orang yahudi, yang pasti nama itu diambil dari salah satu kitab sucinya orang Yahudi yang disucikan pula oleh orang-orang Kristen yaitu Perjanjian Lama---. mereka juga gagal mendeskreditkan Gilad dan karyanya.

Salah satu yahudi zionis yang menyerang karya Gilad Atzmon adalah Jeffrey Goldberg. Alih-alih memberikan argumentasi ilmiah serta fokus pada isi tulisan Gilad, Jeffrey melakukan tuduhan-tuduhan pribadi yang sama sekali tidak ilmiah, seperti tuduhan anti-semit, pengikut teori konspirasi, neo-nazi, penolak-holocoust dlsb. Padahal dalam bukunya Gilad menulis:

"Pada saat saya muda, saya juga merasa trauma dengan holocoust. Pada th 1970-an banyak dari para korban selamat holocoust yang menjadi bagian dalam kehidupan sosial kami. Mereka menjadi tetangga kami, kami bertemu dalam acara-acara pertemuan keluarga, di kelas-kelas, di panggung politik, di toko ujung jalan. Tatto angka-angka berwarna gelap di lengan mereka yang putih tidak pernah hilang, selalu menimbulkan efek yang mengerikan. Namun hal itu juga, internasionalisasi makna holocoust, yang menjadikan saya penentang kuat Israel dan keyahudian. Holocoust-lah yang membuat saya kemudian menjadi pendukung teguh hak-hak rakyat Palestina, perlawanan (terhadap Israel), hak kembali rakyat Palestina ke tanah airnya."

Dan ironisnya Jeffrey Goldberg, seorang mantan penjaga kamp konsentrasi Israel atas tahanan politik Palestina, menuduh Gilad sebagai "pecinta Hitler" dan penolak "mitos" holocoust. Pada akhir dekade 1980-an dan pada saat terjadi peristiwa Intifada I, Jeffrey, seorang remaja yahudi Amerika, terbang ke Israel untuk mengabdi kepada ibu pertiwi. Ia bergabung ke dalam angkatan perang Israel dengan tugas menjadi penjaga penjara yang menampung tahanan politik rakyat Palestina.

Meski percaya holocoust benar-benar terjadi (berbeda dengan kalangan revisionis yang menolak holocoust dan menganggapnya sebagai tipuan yahudi), Gilad menuding holocoust telah disalahgunakan oleh kalangan yahudi, yaitu untuk menjustifikasi kebrutalan Israel atas rakyat Palestina serta untuk membungkam mereka yang kritis terhadap Israel. Gilad juga menganggap holocoust bukan peristiwa yang lebih istimewa dari peristiwa-peristiwa tragedi kemanusiaan lainnya.

Lebih jauh Gilad menulis: "Benar bahwa saya, dari perspektif idiologi, menganggap Israel jauh lebih jahat dari Nazi Jerman. Dan, karena berbeda dengan Nazi Jerman dalam hal bangsa Israel yang lebih demokratis, rakyat Israel turut terlibat dalam kejahatan negaranya."

Gilad Atzmon yang kini tinggal di Inggris sebagai musisi jazz dan penulis, selain aktifitasnya sebagai pembela hak-hak rakyat Palestina, dengan lantang mengaku sebagai yahudi pembenci yahudi. Namun ia tidak malu, karena hal ini merupakan sebuah tradisi lama dimana orang-orang yahudi yang sadar dengan kejahatan kaumnya, menjadi pembenci bangsanya sendiri. Termasuk di dalam daftar ini adalah filsuf Karl Marx dan Spinoza. Gilad percaya yahudi bukan "bangsa terpilih" yang harus dipandang lebih istimewa dari bangsa-bangsa lainnya.



Sumber:
"Mearsheimer Responds to Goldberg’s Latest Smear"; Stephen M. Walt; thetruthseeker.co.uk; 26 September 2011