Senin, 16 September 2013

KONFLIK MILITER AMERIKA-RUSIA TELAH TERJADI

IRAN PASTIKAN DAPATKAN RUDAL S-300 RUSIA


"Menghantam Damaskus sama dengan menghantam Moskow, dan kami telah menghilangkan kalimat "telah menembak jatuh 2 rudal" dalam pernyataan resmi kami demi menjaga hubungan bilateral dan menghentikan eskalasi. Maka dari itu, Anda harus segera mempertimbangkan kembali kebijakan-kebijakan, pendekatan-pendekatan dan kehendak-kehendak Anda terkait krisis Syria sebagaimana Anda harus percaya bahwa Anda tidak bisa mengabaikan keberadaan kami di kawasan Laut Tengah."

Demikianlah ancaman yang disampaikan kepala dinas inteligen Rusia kepada mitranya di Amerika perihal ditembak jatuhnya 2 rudal balistik Amerika oleh sistem pertahanan udara Rusia beberapa waktu lalu. Perkataan itu lah yang sebenarnya menjadi dasar "mundur"-nya Amerika dan sekutu-sekutunya dari rencana menyerang Syria, setelah menyadari bahwa Rusia telah siap mati membela sekutunya itu.

Sebagaimana telah ditulis di blog ini pada tgl 3 September lalu (lihat di sini) telah terjadi insiden peluncuran 2 rudal ballistik di Laut Mediterania yang mengarah ke Syria. Namun sampai saat itu masih simpang siur, siapa sebenarnya yang telah menembakkan rudal-rudal itu dan untuk tujuan apa, serta bagaimana "nasib" kedua rudal itu. Blog ini menyebutkan rudal-rudal itu ditembakkan oleh kapal selam Israel dengan maksud untuk memancing intervensi militer Amerika terhadap Syria. Namun informasi yang lebih valid menyebutkan hal yang berbeda. Israel tidak tahu-menahu mengenai rudal-rudal itu, yang ternyata ditembakkan dari pangkalan NATO di Spanyol. Radar-radar canggih Rusia segera berhasil melacak rudal-rudal itu dan rudal-rudal pencegat S-300 atau Alexander yang ditempatkan di Syria atau di kapal-kapal perangnya di Laut Mediterania, menembaknya di udara sebelum mencapai sasaran. Selanjutnya Rusia menggunakan insiden itu untuk menekan Amerika hingga membatalkan rencana serangan militer terhadap Syria.

Dan seperti terlihat kemudian, satu demi satu pemimpin barat mengundurkan diri dari rencana serangan terhadap Syria. Demi menyelamatkan muka Amerika, Rusia pun mengajukan proposal penyerahan senjata kimia Syria yang langsung disetujui Amerika dan semua negara barat. Hanya para pemberontak Syria, Turki dan negara-negara Arab badui saja yang masih sempat berteriak-teriak: "serang Syria!", namun segera diam setelah Liga Arab pun akhirnya menyetujui usulan Rusia.

Bagi Rusia, "kesalahan berujung kekalahan Amerika" itu dipergunakan untuk memperkuat posisinya di Timur Tengah. Selain penambahan armada kapal perang di Laut Mediterania, Rusia juga dipastikan mempercepat pengiriman rudal-rudal S-300 ke Syria dan melanjutkan kembali pengiriman rudal yang sama ke Iran yang sempat dibatalkan.


Namun demikian dunia tidak boleh terlena dengan perkembangan "positif" yang terjadi dalam konflik Syria karena insiden penembakan rudal balistik tersebut di atas masih menyimpan misteri yang lebih besar. Apakah Presiden Obama sendiri yang memerintahkan penembakan itu, atau adanya sabotase yang dilakukan unsur-unsur inteligen dan militer Amerika pro-Israel yang sangat menginginkan terjadinya serangan Amerika terhadap musuh-musuh utama Israel, yaitu Iran dan Syria? Konflik internal di kalangan pengambil kebijakan Amerika ini sempat mencuat ke permukaan dengan dipecatnya Direktur CIA Jendral Petraeus beberapa waktu lalu. Petraeus diduga memimpin sekelompok pejabat inteligen dan militer Amerika yang didukung para politisi dengan tujuan menyabotase pemerintahan demi memaksa Amerika menyerang Iran. Misinya sama seperti serangan WTC tahun 2001 yang sukses "memaksa" Presiden George W Bush untuk melancarkan kampanye "Perang Terorisme".



RUDAL S-300 IRAN

Sementara itu dikabarkan Presiden Rusia Vladimir Putin telah menyetujui untuk mengirimkan rudal-rudal S-300 ke Iran, 3 tahun setelah dibatalkan karena desakan Amerika dan PBB.

Menurut laporan media Rusia Kommersant hari Rabu (11/9), Rusia setuju untuk memenuhi permintaan Iran untuk melanjutkan transaksi pembelian rudal-rudal tersebut senilai $800 juta. Selain rudal-rudal itu, Rusia dan Iran juga sepakat untuk membangun satu reaktor nuklir lagi di Bushehr. Menurut Kommersant kedua pihak direncanakan akan menyelesaikan kontrak tersebut minggu ini, tepatnya saat Putin bertemu dengan Presiden Iran Hassan Rouhani dalam pertemuan negara-negara Asia Tengah di Kyrgyzstan.

Pembelian rudal-rudal S-300 oleh Iran dan Syria telah membuat Israel dan Amerika ketakutan karena mengancam keseimbangan militer di kawasan tersebut dan membuat Israel dan Amerika berada pada posisi tidak menguntungkan. Bulan lalu Rusia menunda pengiriman komponen rudal-rudal tersebut ke Syria karena Syria mengalami kesulitan pembayarannya. Rusia direncanakan akan menyelesaikan pengiriman sistem pertahanan udara tercanggih di dunia itu tahun depan, meski Presiden Bashar al Assad pada bulan Mei lalu mengklaim Syria telah memiliki senjata itu.

Dengan daya jangkau hingga 200 kilometer dan kemampuan mendeteksi dan menembak jatuh belasan sasaran sekaligus, Israel jelas-jelas ketakutan dengan senjata ini karena secara efektif membuat Israel kehilangan keunggulan udaranya sampai pada titik dimana Israel tidak mampu lagi menerbangkan pesawat terbangnya di beberapa wilayah udara Israel sendiri. Selain itu Rusia juga akan segera menyerahkan 12 pesawat tempur MiG-29M/M2 yang dipesan Syria sejak tahun 2007.

Bulan Mei lalu Israel dan Amerika mendesak Rusia untuk tidak mengirim senjata-senjata canggih itu ke Syria, namun ditolak Rusia dengan alasan senjata-senjata itu bersifat defensif.



REF:
"Truth of US-Russia Confrontation - Aggression was over the Moment those Two Missiles were Fired"; Daoud Rammal; As-Safir; 12 September 2013

"US deployed nuke force before Syria crisis"; Gordon Duff; Veterns Today; 7 September 2013

"Russia to supply S-300 anti-aircraft missiles to Iran"; Jerusalem Post; 12 September 2013

3 komentar:

abu bakar mengatakan...

israel akan jadi sasaran jika syria diserang,sasaran sang bijaksana

ikhsan cahyo mengatakan...

,,aliansi suriah,iran,china rusia,hizbullah,iraq,,akan meluluh lantak kan israel,,dg hujan rudal,,jika amerika nekad serang suriah,,

Adam Fahmi mengatakan...

Pandainya amerika dia tidak menyerang syiria secara langsung melainkan dengan mengadu dombanya dengan sebangsanya sendiri.