Friday, 27 September 2013

CERITA DARI MALULA

Malula adalah sebuah desa kuno yang mayoritas dihuni oleh orang-orang Kristen Orthodok dan Katholik. Dianggap sebagai simbol kekristenan Syria, inilah desa dimana bahasa Aramic, bahasa yang digunakan Yesus (Nabi Isa AS) sehari-hari, masih digunakan oleh penduduknya baik yang beragama Kristen maupun Islam. Karana itu pulalah maka Unesco kini tengah mempertimbangkannya untuk menjadi salah satu "Warisan Dunia".

Melihat kehidupan sehari-hari orang-orang Kristen Orthodok yang saleh, Anda mungkin mengira mereka sebagai orang Islam. Para wanitanya berjilbab dan laki-lakinya berpenutup kepala dan berbaju longgar. Mereka sembahyang dengan rukuk dan sujud. Mereka berpuasa 40 hari. Mereka bersunat dan mengharamkan babi. Mereka juga berwudhu sebelum sembahyang. Injil yang mereka baca juga berhuruf Arab. Mereka marah jika dituduh meniru orang-orang Islam karena menganggap apa yang mereka lakukan itu telah dilakukan nenek moyang mereka jauh sebelum kedatangan Islam. Mereka memegang teguh 10 perintah Tuhan yang diberikan kepada Nabi Musa, seperti larangan mencuri, berzinah dan berbohong.

Saya (blogger) bahkan pernah membaca salah satu ayat dalam Injil yang menyebutkan bahwa nabi Isa AS (Yesus) memerintahkan ummatnya untuk mengatakan "Jika Tuhan Menghendaki" (Insya Allah dalam Islam) jika hendak berjanji. Maka saya percaya dengan klaim mereka.

Tahun 2005 yang lalu saya berkenalan dengan seorang pendeta Kristen Orthodok Syria yang saya undang untuk menjadi salah seorang narasumber acara diskusi Novel "The Da Vinci Code" yang saya "organize" di Kota Medan. Dalam acara diskusi yang berlangsung panas di antaranya dengan seorang Kristolog IAIN Sumut, sang pendeta akhirnya mengakui bahwa Yesus bukanlah Tuhan. Ternyata perbedaan pandangan tersebut hanyalah mengenai penafsiran kata "Anak Tuhan" di dalam Injil yang bahkan oleh orang-orang yahudi sendiri yang mengerti benar makna kata "Anak Tuhan" itu (karena Yesus dan Injil sebenarnya diturunkan kepada orang-orang yahudi) menganggapnya sebagai sebuah metamorfosa belaka untuk menyebutkan orang-orang yang dicintai Tuhannya. Adapun dalam hal ibadah, sebenarnya hampir tidak ada perbedaan mendasar antara Islam dan Kristen "murni".

Dan orang-orang itulah yang kini tengah mengalami penderitaan di Malula akibat konflik bersenjata yang melanda negeri yang dahulu aman dan tenteram itu.

“Dahulu kami hidup damai, namun kini mereka (pemberontak) ingin menyingkirkan kami orang-orang Kristen dari negeri ini. Kami berdoa agar Tuhan mengalahkan mereka dan menendang mereka keluar," kata Antoinette Taaleb, warga Kristen Malula kepada wartawan "Russia Today" baru-baru ini.

Antoinette mempunyai 3 anggota keluarga yang tewas dibunuh para muhahilin Syria. Diperkirakan ratusan warga Malula telah tewas oleh kebiadaban para mujahilin, tidak saja orang-orang Krisen namun juga orang-orang Islam. Sebagian besar lainnya yang jumlahnya mencapai ribuan orang, terpaksa meninggalkan kota dan menjadi pengungsi. Selain pembunuhan dan penculikan bermotif mendapat uang tebusan, para mujahilin juga memaksa orang-orang Kristen untuk berpindah keyakinan.

Baru-baru ini beredar gambar seorang wanita separoh baya penganut Kristen yang diikuat tangan dan kakinya di tiang sebuah bangunan di pinggir jalan. Ia tampak telah tewas atau pingsan. Di dekat kakinya terdapat tulisan yang memerintahkan orang-orang yang lewat untuk memukuli atau melemparinya dengan batu. Kesalahannya adalah karena ia menolak untuk berpindah keyakinan.

Saat ini Malula menjadi salah satu "titik api" dalam konflik Syria. Sejak pemberontak menyerang kota ini awal September lalu, berkali-kali penguasaan kota ini telah berpindah tangan dari tentara pemerintah ke pemberontak atau sebaliknya. Saat ini sebagian besar kota telah dikuasai pasukan pemerintah, namun usaha untuk membersihkan kota ini dari para pemberontak mengalami kesulitan karena kondisi kota yang dikelilingi tebing-tebing tinggi yang memiliki ribuan gua. Para penembak jitu pemberontak menggunakan gua-gua itu sebagai tempat persembunyian sembari menebar terror terhadap tentara dan penduduk kota.

"Jika mereka mengklaim memerangi Assad, apakah Assad tinggal di Malula? Tujuan mereka bukan Assad, melainkan mendirikan khilafah di seluruh Timur Tengah dengan bantuan negara-negara asing. Mereka telah menghancurkan negara-negara dan rakyat di kawasan ini. Ini bukan tentang regim (Bashar al Assad). Saya telah tinggal selama 40 tahun dengan aman, kini "pergantian regim" hanya tujuan kecil dari tujuan-tujuan mereka lainnya.”



REF:
"Tales from village-turned-battlefield: Maaloula siege survivors talk"; Russia Today; 20 September 2013

4 comments:

Anton pristiwanto said...

to saudara Adi memang Yesus melalui penerusnya yaitu adik kandung Yesus, Yakobus mengajarkan mengucapkan kata "Insya Allah". Hal ini bisa kita lihat di kitab Yakobus 4:15 yang berbunyi : sebenarnya kamu harus berkata "jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan akan berbuat ini dan itu" saya mempunyai alkitab tahun 1963 dan kalimat "jika Tuhan menghendakinya" masih tertulis "insya Allah".

rio3n4 said...

Dengan bersatunya zionis & wahabi, kiamatpun tak kan lama lagi..

rio3n4 said...

Dengan bersatunya zionis & wahabi, kiamatpun tak kan lama lagi..

abu bakar said...

musuh kemanusian membunuh semua agama mereka kaum dari abad petengahan memusuhi sesiapa yang bukan dari mereka,apakah ini perjuangan agama seandainya sasaranya Damascus mereka mereka pergi ke Maloula, semuanya takkan selamat dari senjata takfiri, bongkarkan kejahatan mereka sebelum bahaya itu datang menimpa kita dan kaum yang tak bersalah...dunia harus bertindak