Wednesday, 4 September 2013

MENGAPA OBAMA "MENGKERET"?

Setelah berkoar-koar tentang kepastian serangan militer terhadap Syria, Presiden Amerika Barack Obama tiba-tiba saja "mengkeret" dengan mengatakan bahwa keputusan menyerang Syria harus mendapat persetujuan terlebih dahulu dari badan legislatif (Congress).

Apa yang sebenarnya terjadi? Bukankah dahulu Amerika tidak memerlukan dukungan Congress untuk menyerang Afghanistan, Irak dan Libya? Bahkan persetujuan DK PBB pun tidak diperlukannya. Jawabannya tidak lain adalah keteguhan sikap sekutu-sekutu Syria Hizbollah, Iran dan Rusia untuk membela Syria mati-matian.

Ceritanya terjadi sebelum peristiwa serangan senjata kimia di pinggiran Damaskus tgl 21 Agustus lalu yang diduga kuat dilakukan oleh agen-agen Israel dan Saudi, atau setelah kemenangan beruntun pasukan regim Syria di Qusayr, Homs dan Latakia dan tengah dalam posisi offensif terhadap posisi-posisi pemberontak di sekitar Damaskus.

Melihat ancaman kekalahan total pemberontak yang sudah di depan mata, para diplomat Amerika, Eropa dan Saudi pun sibuk melakukan pendekatan kepada Rusia dan Iran untuk membujuk mereka menghentikan dukungannya kepada pemerintah Syria. Kepada Rusia, kepala inteligen Saudi Pangeran Bandar menawarkan konsesi ekonomi yang menggiurkan ditambah ancaman pengerahan teroris untuk mengacaukan keamanan domestik Rusia. Sementara kepada Iran, Jeffrey Feltman, mantan diplomat senior Amerika yang bekerja untuk PBB menawarkan penghentian sanksi ekonomi dan imunitas bagi program nuklir Iran.

Kepada Rusia juga ditawarkan untuk menentukan sendiri pengganti Bashar al Assad sebagai presiden jika yang bersangkutan berhasil digulingkan. Namun bujukan-bujukan yang disertai ancaman itu tidak menggoyahkan sikap Rusia dan Iran. Maka Amerika dan sekutu-sekutunya beralih ke rencana alternatif, yaitu serangan militer.

Untuk memberi jalan bagi pilihan tersebut, dilakukanlah operasi inteligen yang oleh senator Amerika Ron Paul, disebut operasi "false flag", berupa serangan senjata kimia di Ghouta dan beberapa kawasan lain di luar kota Damaskus. Hanya satu jam setelah serangan itu, media-media massa barat sudah mengekspos insiden tersebut disertai tuduhan regim Syria sebagai pelaku serangan disusul kemudian oleh kecaman bertubi-tubi oleh para pejabat barat kepada regim Syria, ketika penyelidikan bahkan belum dimulai.

Pada saat yang sama Amerika pun kembali mengirimkan diplomat-diplomatnya untuk membujuk Rusia dan Iran sebelum rudal-rudal ditembakkan. Namun lagi-lagi gertakan itu gagal menggoyahkan keduanya. Bahkan meski Amerika meningkatkan gertakannya dengan mengirim kapal-kapal perangnya mendekati Syria. Rusia justru membalas dengan mengirim 3 kapal perangnya ke Syria. Sementara Hizbollah dan Iran tidak berhenti mengingatkan keseriusan mereka membela Syria. Syria sendiri meyakinkan sekutu-sekutunya bahwa mereka siap mempertahankan dirinya mati-matian.

Pada kondisi ini Amerika justru terjebak dalam situasi sulit. Menyerang berarti harus menghadapi resiko yang tidak diinginkan, yaitu perang yang meluas yang tidak bisa lagi dikendalikan Amerika. Namun mengumumkan pembatalan serangan tentu akan mempermalukan Presiden Obama dan para pejabat Amerika. Maka Amerika berusaha meyakinkan Rusia dan Iran bahwa yang akan dilakukan hanyalah "serangan terbatas" untuk mencegah militer Syria kembali menggunakan senjata kimia. Dan yang terakhir adalah pengumuman Obama untuk menunggu keputusan Congress.

Apa yang membuat Amerika "kecut" adalah sikap teguh sekutu-sekutu Syria. Selain mengirim kapal-kapal perang ke Syria, Rusia sejak bulan Mei lalu telah meningkatkan pasukannya dalam kondisi siaga perang regional, dan bahkan akan meningkatkannya menjadi siaga perang global jika Amerika dan sekutu-sekutunya menyerang Syria. Bocoran-bocoran informasi inteligen (kemungkinan sengaja dibocorkan Rusia untuk memberi peringatan kepada musuh) juga mengungkapkan bahwa Rusia telah bersiap melakukan serangan besar-besaran terhadap Saudi Arabia. Sementara Hizbollah memobilisasikan kekuatannya sembari melakukan persiapan guna terciptanya koordinasi militer yang efektif dengan militer Syria.

Terbukti sudah bahwa ternyata kini Amerika bukan lagi kekuatan yang ditakuti.



REF:
"The Full Story on Why Obama Backed Down on Syria"; Ibrahim al-Amin; Al Akhbar; 2 September 2013

4 comments:

abu bakar said...

2 utusan dikatakan dihantar ke iran
feltman, utk merasuah iran agar jgn mendukung syria, balasannya sekatan terhadap iran akan dicabut,
sultan qaboos yg kedua..tak tahu apa yang dibuatnya, feltman musuh sejati hizullah,pecinta israel...rasuah lagi

Herwin Irawan said...

analisa praktis tetapi tepat

abu bakar said...

betulkah?

Raptor f22 ditembak kerana menguji sistem pertahanan syria

www.southlebanon.org/?p=87063

hieppies said...

Rusia dan china sudah tahu "Berkawan" dgn amerika / saudi...

Bisnis mereka ga akan bisa berjalan dengan lama dan damai...

Ujung-ujung rugi...

dan tahu karakternya "Semau Gue"...
hahahahaha...