Saturday, 26 December 2015

Amerika Evakuasi Komandan ISIS dan Israel dari Ramadi

Indonesian Free Press -- Masih ingat dengan kabar tertangkapnya seorang perwira Israel oleh milisi-milisi Shiah Irak beberapa waktu lalu? (Silakan baca di sini)

Kini kembali muncul kabar bahwa Amerika mengevakuasi beberapa perwira Israel bersama-sama sejumlah komandan kelompok teroris ISIS dari kota Ramadi menjelang kajatuhan kota itu ke pasukan pemerintah dan milisi pendukung pemerintah Irak, baru-baru ini.

"Seorang komandan pasukan milisi sukarela (Hashd al-Shaabi) membuka informasi tentang sebuah 'plot' Amerika untuk mengevakuasi para pemimpin ISIL dari kota Ramadi, pada saat pasukan Irak dan milisi rakyat tengah menyelesaikan pertempuran atas kelompok teroris itu," tulis media Iran Fars News Agency (FNA), 24 Desember lalu.

Menurut laporan itu sempat terjadi hambatan dalam operasi pembebasan kota Ramadi dan Fallujah, karena campur tangan Amerika. Demikian ungkap komandan batalion milisi Imam Khamenei, Haidar al-Hosseini al-Ardavi, kepada FNA hari Kamis (24 Desember).

“Tampak bahwa Amerika hendak mengevakuasi para komandan teroris itu secara diam-diam dengan helikopter dari Ramadi ke tempat-tempat lain yang tidak diketahui," tambah komandan tersebut.

Laporan tersebut memang tidak menyebutkan keberadaan personil militer dan agen-agen inteligen Israel, namun Gordon Duff, editor senior Veterans Today, memastikan keberadaan personil-personil Israel itu bersama para komandan ISIS.

Dalam laporan di Veterans Today pada tanggal yang sama, Duff menyebutkan adanya 'laporan-laporan yang valid' (confirmed reports) yang menyebutkan adanya “exfiltration” seorang perwira tinggi Amerika, sebuah kelompok inteligen (household name) yang menyamar sebagai wartawan militer yang berada di Suriah dan Irak selama berminggu-minggu. Mereka memimpin operasi militer ISIS di kedua negara.

Orang-orang Amerika itu, yang bekerja di bawah perusahaan kontraktor keamanan CIA, diketahui kemudian sebagai anggota-anggota kelompok fundamentalis Kristen yang mempercayai ramalan 'akhir jaman' sebagaimana kelompok ISIS.

Duff menyebutkan bahwa pada tangggal 16 Mei Amerika melancarkan operasi inteligen di Suriah untuk menghancurkan bukti-bukti keterlibatan Amerika dengan ISIS di Suriah, termasuk membunuh para saksi anggota ISIS. Operasi itu mendompleng operasi militer Suriah yang tengah menghancurkan konvoi ISIS yang melarikan diri.

Gordon Duff, yang telah lama sangat mempercayai adanya operasi inteligen CIA-Mossad di Suriah dan Irak yang berlawanan dengan kebijakan Presiden Barack Obama, menyebutkan dinas inteligen NSA yang berada di bawah kendali Presiden berhasil mengetahui keberadaan kelompok inteligen 'nakal' itu dari penyadapan komunikasi. Informasi itu kemudian dibocorkan kepada inteligen Suriah. Berdasar informasi inilah pasukan komando Suriah menghancurkan sel inteligen 'gelap' Amerika itu di Distrik Al Amr, Deir en Zor. Pada saat bersamaan sebuah tim Delta Force Amerika terbang dari pangkalan Amerika di Anbar barat, Irak, untuk menuntaskan operasi 'penghilangan jejak' Amerika di tempat itu.(ca)

3 comments:

Anonymous said...

seperti operasi penghapusan bukti-- setelah false flag operation permainan licik kaum munafik

wangad saefudin said...

mungkin dari dulu AS slalu pake tak tik licik tukang tambal ban ea,, yg menyebar ranjau dan segera memperbaikinya dengan keuntungan dapat order end terlihat sebagai pahlawan.. hhee ni asumsi saya kayaknya...

kasamago.com said...

Sayang, Delta Force tak bertemu Al Quds Force. Adu tangguh antar special Forces

http://kasamago.com/