Thursday, 15 October 2015

Bila Rudal-Rudal Jelajah Rusia Mengusir Kapal Induk Nuklir Amerika

Indonesian Free Press -- "Mungkin orang akan menganggap pernyataan saya sebagai berlebihan, namun mungkin saja ini bukan sesuatu yang kebetulan, bahwa hanya 2 hari setelah peluncuran rudal-rudal jelajah Kalibr-class oleh kapal-kapal perang Rusia di Danau Kaspia minggu lalu, kapal induk Amerika USS Theodore Rossevelt tiba-tiba ditarik dari Teluk Parsi."

Demikian tulis wartawan senior Mexico Jalife-Rahme di koran Le Jornada, seperti dilansir media Rusia Sputnik News, Rabu (14 Oktober). Rahme mengutip komentar analis politik Rusia Rostislav Ishchenko, tentang peluncuran rudal-rudal jelajah Rusia ke posisi-posisi kelompok teroris Suriah minggu lalu. Menurut analisis Ishchenko, peluncuran rudal-rudal jelajah itu telah membuat shock para pejabat keamanan Amerika, termasuk para analis militer internasional.

"Rusia telah mengakhiri dominasi global angkatan laut Amerika," tambah Rahme dalam tulisannya.

Untuk pertama kalinya Rusia menunjukkan kemampuan melancarkan serangan rudal jelajah jarak jauh (jarak Laut Kaspia ke Suriah mencapai 1.500 km dan Kalibr-class diklaim Rusia memiliki daya jangkau hingga 2.500 km) tanpa terdeteksi oleh radar-radar Amerika. Sementara kapal-kapal yang meluncurkan rudal tersebut adalah kapal-kapal kecil dengan ukuran sekitar 1.000 ton saja. Hal ini mengakibatkan Amerika merasa 'telanjang' dan tidak berdaya di hadapan Rusia dan dengan terburu-buru langsung menarik kapal induk Rossevelt dari Teluk Parsia dan membiarkan kawasan itu tanpa penjagaan satu kapal induk pun.

Padahal selama ini setidaknya ada 1 hingga 2 kapal induk Amerika berada di perairan Teluk Parsia dalam upaya Amerika memberikan 'perlindungan' kepada sekutu-sekutu Arabnya dari 'ancaman' Iran. Kapal induk USS Theodore Roosevelt yang mengangkut 65 pesawat tempur dan 5.000 personil militer telah berada di Teluk Parsia sejak bulan April lalu untuk membantu kampanye militer anti-ISIS di Irak dan Suriah.

Amerika sendiri mengatakan bahwa selanjutnya operasi serangan udara anti-ISIS kini dilakukan oleh pesawat-pesawat dari pangkalan udara NATO di Turki. Namun dengan penarikan Rossevelt itu terjadi penurunan operasi udara Amerika secara signifikan.

Setelah serangan Rusia itu kini semua armada laut Rusia dianggap sebagai ancaman potensial bagi dominasi laut Amerika. Kini para pengambil kebijakan keamanan Amerika harus mengkaji kembali rencana militer mereka.

"Aksi tersebut telah menunjukkan kepada dunia bahwa untuk menghancurkan musuh-musuhnya Rusia tidak perlu berada di dekat Laut Mediterania, Rusia bisa melakukannya dari Teluk Parsia, dari Selat Channel, lepas pantai Norwegia, Atlantik utara atau Samudra Pasifik.

Para perencana pertahanan Amerika sebelumnya memperkirakan bahwa Rusia membutuhkan setidaknya 100 rudal jelajah yang ditembakkan bersama-sama oleh seluruh kapal dan kapal selam armada Utara dan Armada Pasifik. Akibatnya, sementara Amerika masih memiliki setidaknya 9 kapal induk lagi Rusia telah kehilangan sebagian besar kekuatan lautnya.

Namun apa yang dilakukan oleh kapal-kapal flotilla (armada kecil) Laut Kaspia, yang terletak di danau terpencil antara benua Asia dan Eropa, membuktikan bahwa Rusia bisa melancarkan serangan mematikan dari jarak ribuan kilometer.(ca)

2 comments:

gogo said...

Realisasi : Kecil Namun Mematikan

-Kasamago.com

ganar calibra said...

Rusia Memberikan Pesan Kepada As dan NATO.

Kapal Sekelas Korvet Saja Mampu Membawa Rudal Jelajah Jarak 2500Km Dengan Akurasi Yang Tinggi Tanpa Terdeteksi Radar As di Turki dan Yordania.

Apa Lagi Dari Kapal Yang Ukurannya Lebih Besar dan Lebih Banyak Persenjataannya Seperti Kapal Frigate, Kapal Perusak, Kapal Selam dan Kapal Jelajah.

Kapal Selam Nuklir Russia Yuri Dolgoruky dari Kelas Borey Mampu Membawa Rudal ICBM Nuklir Bulava (Rudal Antar Benua) Dengan Jarak 10.000km.