Senin, 13 Agustus 2012

BERAPA BANYAK SEBENARNYA KORBAN PEMBERONTAK SYRIA?

Apa yang sebenarnya terjadi dalam pertempuran yang kini tengah terjadi di Syria, tidak bisa diketahui dengan pasti. Pertama karena media-media massa lokal Syria telah diisolasi oleh "cyber attack" yang dilancarkan inteligen barat. (Coba akses situs online kantor berita Syria, SANA, dengan menggunakan mesin pencari GOOGLE maupun YAHOO, dipastikan akan gagal). Sementara laporan media-media barat, semakin banyak orang yang menyadari, dipenuhi dengan kebohongan.

Di sisi lain media-media lokal Syria sendiri tentu menyembunyikan angka-angka kerugian yang dialami pemeritah Syria. Kemungkinan juga mereka  menyembunyikan fakta-fakta tentang aksi-aksi "balas dendam" tentara dan rakyat Syria pendukung pemerintah, terhadap para pemberontak yang telah membunuhi, memperkosa dan merampok rakyat sipil Syria yang tak berdosa.

Mari kita sedikit berandai-andai. Dalam peristiwa "Perang Pembebasan Damaskus" yang dilancarkan pemberontak tgl 18 Juli lalu, diperkirakan terdapat belasan ribu personil pemberontak ambil bagian dalam aksi yang berhasil digagalkan pasukan pemerintah tersebut --- seorang perwira Saudi yang tertawan oleh pasukan Syria menginformasikan bahwa terdapat sekitar 20.000 tentara pemberontak dalam serangan itu. Dari jumlah tersebut di atas katakanlah 80% di antaranya berhasil melarikan diri dari Damaskus untuk membangun basis baru di Aleppo. Berarti ada 20% yang tewas atau tertawan oleh pasukan pemerintah dan milisi pendukung pemerintah. Angka 20% tersebut berarti sekitar 4.000 orang tentara pemberontak, yang kemungkinan besar semuanya telah tewas, karena mereka yang tertawan kemungkinan besar dieksekusi sebagai bentuk balas dendam. Dalam Islam, hukum qishas berlaku.
Bahkan angka 20% itu kemungkinan terlalu kecil, karena dalam sebuah pertempuran sengit biasanya hanya sebagian kecil dari pihak yang kalah yang bisa menyelamatkan diri. Saya mencontohkan Perang Stalingrad dalam Perang Dunia II dimana sekitar 300.000 tentara Jerman menyerbu Stalingrad. Setelah dikalahkan tentara Rusia, "hanya" sekitar 90.000 tentara Jerman, atau kurang dari 30% yang selamat dari kematian dan menjadi tawanan perang. Sisanya sebanyak 70%, tewas.

Lalu disusul kemudian oleh episode "Perang Aleppo" yang tidak kalah mengerikan dimana pemberontak lagi-lagi dikalahkan dan lari tercerai berai.

Pemberontak tentu tidak ingin angka korban sebenarnya di pihak mereka terpublikasikan karena akan menghancurkan moral mereka. Demikian pula pihak Syria tentu tidak ingin dicap sebagai penjahat perang dengan membantai tawanan musuh, karena akan memberi alasan barat untuk melakukan intervensi langsung.

Betapa besar kebencian tentara dan rakyat Syria terhadap pemberontak cukup ter-refleksikan oleh tulisan Thomas Bancroft-Hinchley di media online "Pravda.ru" berjudul "Aleppo: Conflicting stories and the Truth" tgl 10 Agustus. Meski tidak mengalami sendiri kekejian pemberontak, Thomas Bancroft-Hinchley menganggap para pemberontak sebagai: "sekitar 75%-nya adalah tentara bayaran asing, pembunuh, mantan SAS (tentara khusus Inggris), mantan tentara khusus Perancis, tukang perkosa dari Libya, tukang siksa, dan sebagainya."

"Dan ma'af mengganggu kesenangan lagi, namun Aleppo tidak bisa direbut para teroris itu. Kenyataannya bahkan jauh berbeda, mereka terdesak dari segala arah. Mereka benar-benar terkepung rapat, tanpa suplai makanan dan senjata. Basis utama mereka di distrik Salahuddin telah bersih dari keberadaan mereka. Sebagian berhasil melarikan diri. Allahu Akbar! Tikus-tikus itu pun mencukur bersih wajah mereka untuk menyembunyikan identitas. Secara pasti, mereka telah dihancurkan!" tulis Thomas Bancroft.



Ref:
"Iraqi Official Reveals Cooperation between MKO, Baath Party Ringleaders"; Fars News Agency, 11 Agustus 2012.

"Aleppo: Conflicting stories and the Truth"; Thomas Bancroft-Hinchley; Pravda.ru; 10 Agustus 2012

2 komentar:

moncho negoro mengatakan...

sampai saat ini saya masih mengikuti perkembangan suriah,dan memang susah mendapatkan berita yang sebenarnya dari suriah karna kalo saya baca dari berbagai media,rasanya saya gak percayalagi pada pemberitaan bbc voa dll,saya terus mencari situs pembanding dari media2 tersebut,ahirnya saya menemukan di blognya bang yono ini,terus udate yang terbaru bang yono

cahyono adi mengatakan...

okey, trims