Friday 14 February 2020

Ancaman Halu Erdogan Perihal Idlib

Indonesian Free Press -- Ancaman Presiden Turki Reccep Erdogan untuk menyerang Suriah jika tidak menghentikan offensif ke Idlib dianggap halu oleh pejabat Suriah. Sementara mantan Dubes Inggris di Suriah menganggap operasi militer Turki untuk menghentikan offensif Suriah dan sekutu-sekutunya sebagai 'missi imposibel'.

Seorang pejabat militer Suriah kepada kantor berita Rusia Sputnik News menyebut ancaman Erdogan adalah ucapan yang dikeluarkan oleh orang yang tidak mengerti realitas di lapangan.

"Sumber kami mengatakan bahwa pernyataan tersebut (Erdogan) hanya bisa dilakukan oleh orang yang tidak mengetahui perkembangan, dan mengancam akan menyerang tentara Suriah setelah tentara Turki dan proksi-proksinya mengalami pukulan telak," tulis Sputnik News.


Menurut sumber tersebut pemerintah Suriah melaksanakan tugas konstitusi nasional untuk memerangi terorisme di Suriah dan membuka jalur kemanusiaan bagi keluarnya warga sipil sementara militan-militan dukungan Turki mencegah warga sipil keluar dan bahkan menggunakan mereka sebagai 'tameng hidup'. 

“Republik Arab Suriah menegaskan kembali bahwa setiap kehadiran pasukan Turki di wilayah Suriah adalah ilegal dan pelanggaran nyata hukum internasional. Rejim Turki bertanggungjawab penuh atas konsekuensi dari pengiriman pasukan mereka.”

Sebelumnya pada hari yang sama (Rabu 13 Feb) Erdogan mengatakan bahwa militer Turki akan menyerang pasukan Suriah melalui udara dan darat jika Suriah melukai pasukan Turki.

Langkah Turki untuk mencegah pasukan Suriah membebaskan wilayah Idlib dari para militan dengan mengirim pasukan besar-besaran ke provinsi ini mengundang kecaman sekutu-sekutu Suriah, terutama Iran dan Rusia yang bersama Turki pernah membuat 'Kesepakatan Astana'. Ini adalah perjanjian untuk menghentikan konflik berdarah di Idlib dengan mengijinkan Turki mengerahkan sejumlah pasukan dan mendirikan pos-pos penjagaan di Idlib, namun Turki diwajibkan untuk membantu menghancurkan kelompok-kelompok teroris di wilayah itu.

Pada hari Rabu Jubir pemerintah Rusia Dmitry Peskov menuduh Turki telah gagal untuk mengeliminasi kelompok-kelompok teroris di Suriah sebagaimana kesepakatan bersama.

“Semua kelompok (teroris) itu melancarkan serangan pasukan Suriah dan fasilitas-fasilitas militer Rusia,” katanya.

Kemenlu Rusia juga turut mengecam Turki. 

“Alasan nyata dari krisis ini sayangnya adalah kegagalan Turki untuk memisahkan oposisi moderat dengan para teroris,” demikian pernyataan Kemenhan Rusia, Rabu.

Minggu lalu konvoi militer Turki yang tengah bergerak ke Idlib diserang oleh 'pesawat misterius', mengakibatkan sejumlah tentara Turki tewas dan belasan kendaraan militer hancur. Tidak ada yang mengklaim melakukan serangan sehingga muncul spekulasi Rusia-ah yang telah menyerang konvoi tersebut. Veterans Today juga melaporkan hal ini.

Sementara Kemenlu Iran menyebut langkah Turki di Idlib hanya menguntungkan teroris.

Sementara itu mantan Dubes Inggris untuk Suriah Peter Ford mengatakan kepada Sputnik bahwa langkah Presiden Recep Tayyip Erdogan yang disebutnya sebagai  langkah “adventurism” akan memukul balik pasukan Turki di Idlib, khususnya jika pesawat-pesawat Turki melanggar wilayah udara Suriah yang dijaga Rusia.

“Idlib, basis terakhir pemberontak, kini telah mencapai klimak terakhir,” kata Ford kepada Sputnik.

Ford mengatakan bahwa Turki akan menunjukkan sikapnya dengan mencegah Suriah merebut Idlib dari pemberontak dukungan Turki. Namun hal itu berbahaya bagi Turki. Selain dukungan Rusia, pasukan Suriah jauh lebih berpengalaman daripada Turki. 

"Tentara Turki kurang berpengalaman dibandingkan Suriah yang telah berlatih keras selama delapan tahun peperangan,” kata Ford.

Militer Turki tidak pernah berperang melawan (militer negara) manapun kecuali melawan kelompok-kelompok bersenjata Kurdi, kata Ford. Di tambah lagi hubungan Erdogan dengan militer Turki yang kurang harmonis membuat Erdogan kurang leluasa untuk memaksa mereka berperang. Ford menyebut hal itu sebagai 'mission impossible'.

Sementara itu militer Suriah mengumumkan telah merebut 1.200 km persegi wilayah Idlib dari para pemberontak dan menguasai sepenuhnya jalan raya M4 dan M5 yang menghubungkan perbatasan Yordania, Hama hingga Aleppo. Hal ini semakin membuat mobilitasi pasukan Suriah dan koalisinya (terutama Iran dan Hizbollah) semakin lancar dan sebaliknya membuat para pemberontak semakin tersudut.(ca)

No comments: